My Ex

My Ex
Bab 44



Setelah masuk ke dalam kamarnya. Dengan penuh semangat Ivy bercerita pada Mom Arneta kemana saja ia pergi seharian kemarin. Sementara Sasha menaruh semua barang-barang milik Ivy yang dibelikan oleh Nyonya Anna dan Tuan Lio.


"Mom, do you hear me?" tanya Ivy dengan kesal, karena Mom Arneta sejak tadi diam saja seperti tak mendengar ceritanya.


Arneta yang tengah melamun langsung mengusap wajah putri cantiknya dengan perasaan bersalah. Karena memang sejak tadi tidak mendengar cerita Ivy, karena sibuk memikirkan kejadian kemarin malam di mana Lio menyebut nama masa kecilnya. Ditambah dengan perasaannya yang terasa rumit setelah melihat Anna mencium Lio.


"Maaf sayang, tadi Ivy cerita apa?"


Ivy yang kesal, mau tidak mau mengulang ceritanya sembari memperlihatkan semua mainan yang dibeli oleh uncle Lio dan aunty Anna untuknya.


Sementara Arneta hanya diam melihat semua barang-barang mahal tersebut, apalagi saat melihat raut wajah putrinya yang terlihat bahagia.


"Ivy, mom ingin bertanya sesuatu?" sela Arneta, karena teringat akan perkataan Lio yang mengatakan jika putrinya telah menerima pria tersebut sebagai Daddynya. "Apa Ivy bahagia tinggal di sini?"


Ivy menganggukkan kepala, tanpa mengalihkan tatapan matanya dari mainan yang sedang dibukanya.


"Menurut Ivy, Uncle Lio baik tidak?"


Ivy menganggukkan kepalanya kembali.


"Ivy sayang Uncle Lio?"


Ivy tidak langsung menjawab pertanyaan tersebut. Gadis kecil itu memilih menatap Mom Arneta dengan tatapan ragu..


"Apa boleh?"


Deg


"Apa boleh Ivy memanggil Uncle Lio Daddy?" tanya Ivy dengan kepala menunduk.


Dan lagi-lagi pertanyaan putrinya itu membuat Arneta terkejut. Kini ia semakin yakin kalau apa yang dikatakan Lio memang benar, kalau putrinya telah menerima pria itu sebagai Daddynya.


"Tentu saja sayang, bukankah Uncle Lio memang Daddy kandung Ivy."


Mendapatkan persetujuan dari Mommy nya, Ivy pun langsung berteriak bahagia.


"Hore, akhirnya Ivy punya Daddy sungguhan," teriaknya sambil memeluk boneka pemberian Dad Lio.


Melihat putrinya yang begitu bahagia, Arneta bingung harus bersikap bagaimana. Di satu sisi ia bahagia karena putrinya begitu senang memiliki Lio sebagai daddy kandungnya, namun di satu sisi lainnya ia merasa sedih karena itu artinya Ivy akan lebih mudah dipisahkan darinya.


"Mommy tahu, setiap malam saat Ivy sudah tertidur. Daddy Lio selalu masuk ke kamar Ivy untuk mengucapkan selamat malam dengan sebuah ciuman dan pelukan. Daddy juga bilang sayang Ivy," cerita Ivy panjang lebar.


Arneta yang terkejut menatap tak percaya pada putrinya.


"Bagaimana Ivy tahu? Bukankah Ivy sudah tertidur?" tanya Arneta untuk memastikan apa benar yang diucapkan putrinya.


"Ivy terbangun saat dicium, tapi Ivy pura-pura tertidur karena takut Dad Lio marah," jawabnya dengan jujur. "Daddy juga bilang maaf, tapi Ivy tidak tahu maaf untuk apa."


Ya, walaupun ia tidak tahu arti dari perkataan Dad Lio, tapi Ivy lega sudah menceritakan semuanya pada Mom Arneta. Karena sejak kemarin ia ingin menceritakan itu semua tapi selalu takut.


Sementara itu Arneta yang masih terkejut hanya bisa terdiam. Sungguh ia tidak menyangka seorang Lio Richard yang berhati dingin, dan tidak menyukai anak kecil bisa bersikap hangat pada putri mereka.


Karena dari apa yang dilihatnya setiap hari, pria itu selalu bersikap dingin dan berbicara seperlunya saja pada Ivy. Tapi ternyata di balik sikap dingin itu, Lio benar-benar menyayangi Ivy meskipun secara diam-diam. Pantas saja Ivy bisa menerima pria tersebut, bahkan begitu bahagia saat diperbolehkan memanggil Lio dengan sebutan Daddy.