
Tidak ada lagi yang bisa disembunyikan. Satu persatu terungkap begitu saja. Mungkin ini adalah sebuah takdir. Dimana ketidaksengajaan menjadi sebuah berkah untuk Askara karena bisa bertemu dengan Asha dan mengetahui kebenaran yang tidak pernah dia ketahui selama ini.
Tanpa diketahui ternyata Asha pernah keguguran dan harus berjuang untuk melunasi sisa hutang yang dimilikinya. Pantas saja tubuh Asha hanya tinggal tulang, ternyata selama ini Asha bekerja keras hingga dia tidak peduli dengan dirinya sendiri.
Malam ini Askara sengaja membawa Asah ke atap rumah untuk melihat langit yang terbentang luas dengan taburan bintang yang gemerlap gemerlap menghiasi malam. Semelir angin menyentuh kulit, membuat Asha terus menggosok lengannya karena terasa dingin.
Askara yang menyadari langsung memberikan sebuah peluang hangat dari belakang.
"Sha, aku tahu tidak mudah melewati waktu tiga tahun seorang diri. Jika aku bisa memutar waktu aku ingin menggantikan posisimu saat itu agar anak kita tidak pergi." ucap Askara dengan pelan.
"Sha kali ini izinkan aku untuk menebus semuanya. Menikahlah denganku."
Tubuh Asha membeku. Dia merasa sangat terharu dengan permintaan Askara yang sering mengajaknya menikah lagi. Tapi Asha masih takut jika sewaktu-waktu Askara akan dijatuhkan lagi. Asha tidak mau usaha Askara selama ini hancur begitu saja hanya karena dirinya.
"Sha, jika kamu masih cinta, tolong jangan tolak permintaanku. Aku ingin membahagiakanmu, seperti janjiku dahulu. Kamu jangan pikirin Ibu dan Karina yang tidak suka dengan hubungan kita, karena saat ini aku bisa menanganinya. Sha, menikahlah denganku."
"Kara aku—" Belum sempat Asha melanjutkan ucapannya, suara kembang api telah memecahkan keheningan malam.
Asha dann Askara terpana dengan pemandangan yang sedang dilihatnya. Entah siapa yang meluncurkan kembang api ke udara, tetapi dengan ada kembang api suasana yang dirasakan oleh dua insan terasa lebih romantis. Terlebih Askara yang baru saja meminta Asha untuk menikah lagi dengannya.
"Kara, apakah ini adalah bagian dari rencanamu," tanya Asha.
"Tidak. Aku saja tidak tahu siapa yang meluncurkan kembang api itu," jawab Askara.
"Lalu siapa. Sepertinya ada orang dibawah sana, deh! Awas lepaskan dulu pelukan kamu!" Asha berusaha untuk melihat siapa yang menghidupkan kembang api di udara.
"Enggak. Aku enggak mau melepaskan pelukan ini sebelum kamu memberikan jawaban kepadaku." Askara malah menerapkan pelukannya.
"Jika aku tidak mau bagaimana?"
Tubuh Askara membeku. Tangannya pun perlahan mulai melepaskan pelukannya. Sebisa mungkin Askara tetap tenang meskipun hatinya tercabik-cabik.
"Jika kamu tidak mau, aku bisa apa? Aku tidak bisa memaksakan kehendakku, meskipun aku sangat menginginkannya. Ah, lupakan saja apa yang aku katakan tadi, Sha." Askara terlihat kecewa. Dengan langkah dirinya menjauh dari Asha.
"Jika aku mengatakan mau, bagaimana?" tanya Asha selanjutnya.
Saat itu juga Askara langsung menoleh kearah Asha. "Maksud kamu apa, Sha? Kamu mau mempermainkan perasaanku?"
"Apakah kamu sedang mengerjaiku, Sha?" Kedua alis Askara langsung menaut.
Asha menahan tawanya karena melihat Askara yang sudah mengambil kesimpulan, padahal dirinya saja belum memberikan jawabannya iya atau tidak.
"Astaga Kara, kenapa kamu bisa berpikir seperti itu? Aku hanya ingin meminta pendapatmu. Memangnya salah? Tidak kan?"
"Berati jawaban kamu mau kan? Iya kan?" desak Askara.
Tak ada jawaban dari Asha. Diamnya seseorang pertanda juga orang tersebut menyetujuinya.
Bibir Askara tersenyum lebar. Langkahnya pun kembali mendekati Asha yang masih membisu. "Katakan iya atau tidak?"
Sepertinya melupakan rasa sakit dan menciptakan lagi sebuah kebahagiaan yang tertunda bukanlah sesuatu yang buruk. Terlebih sama-sama saling mencintai. Jika batu karang saja bisa terkikis, lalu bagaimana dengan hati seseorang tidak bisa terkikis? Semua itu butuh waktu dan proses. Tidak selamanya kejahatan akan terus bertahta Adakalanya seseorang berubah untuk menjadi lebih baik. Asha percaya jika setelah ini dia bisa memenangkan hati ibunya Askara dan juga hatinya Karina. Hanya butuh waktu dan usaha saja.
Dengan hati yang kuat Asha pun langsung menjawab pertanyaan Askara. "Iya."
"Apa Sha? Aku gak dengar," kata Askara yang ingin mendengarkan jawaban Asha sekali lagi .
"Iya, Kara. Aku mau menikah lagi denganmu."
Bersama dengan itu, kembang api meletus lagi di udara. Keduanya sama-sama terkejut. Namun, saat Asha ingin melihat untuk memastikan siapa pelakunya, Askara langsung mencegahnya.
"Udah biarkan aja enggak usah dilihat."
Akhir dari penantian panjang kini berbuah manis. Dua insan yang pernah berpisah kini memutuskan untuk kembali merangkai kisah cinta, meskipun akan ada banyak masalah yang akan dihadapi dikemudian hari.
Malam yang indah menjadi sebuah saksi akan sebuah kesepakatan untuk melanjutkan kisah cinta yang putus ditengah jalan. Di bawah sinar rembulan dua insan masih ingin menghabiskan malam mereka di atap rumah. Melihat banyaknya bintang yang menghambur luas di angkasa.
"Sha, berjanjilah padaku untuk selalu jujur kepadaku. Jangan pergi dan menghilang lagi Aku tidak mau kehilanganmu untuk yang kedua kalinya. Apakah kamu bisa berjanji padaku?"
"Iya. Aku berjanji."
🌼🌼🌼