My Ex

My Ex
Mati Rasa dan Gejolak hati



Nadine melempar ponselnya kemudian dia menendang semua yang ada di atas kasurnya dengan kesal karena kebodohannya sendiri.


”harga diri gua ya ampun......!!!!!!! mati ajalah sana...bodoh banget!!!” dia tetap mengutuk perbuatannya yang telah mempermalukan dirinya sendiri.


Ponselnya berdering beberapa kali, membuat Nadine mau tak mau mengambilnya lagi karena penasaran.


From: Arka


‘hei, kenapa pakai pp itu?’


‘tolong ganti dong’


‘kita kan udahan Dine’


‘Clarissa tiba-tiba nelfon gua nangis-nangis’


‘dia marah sama pp lu’


‘ganti ya, kita baru aja akur lagi’


‘sekarang dia marah lagi,’


‘mau bujuk dia tuh susah’


Rentetan pesan dari Arka membuat Nadine kesal bukan main. Segitunya belain tuh cewek, cuih!, Nadine menahan ucapannya agar tak mengumpat lagi. Ia sengaja memasang foto mereka untuk memancing perhatian Arka, padahal dia sendiripun lupa kalau Clarissa bisa melihatnya, karena Nadine tak pernah ingat satu kontak dengan Clarissa.


Nadine mengetik balasan dengan cepat, hatinya benar-benar panas.


From: Nadine


‘serah gua lah, wa wa gua, pp gua yang punya’


‘suka suka gualah’


Balas Nadine emosi.


Arka membaca balasan Nadine mulai kesal, dia mendecak sebal dengan ulah Nadine. Sedari tadi dia masih belum mendapat balasan dari Clarissa. Clarissa adalah perempuan yang susah dibujuk ketika marah, dan itu sering kali membuat Arka geram dan terkadang marah balik pada Clarissa, baru lah perempuan itu mau mendengar Arka, lain dengan Nadine yang mudah luluh.


From: Arka


‘tolonglah...pahami, ganti aja pp nya pakai yang lain’


Nadine mendesis sebal. Enak aja, gumam Nadine tak terima.


‘GA MAU PP PUNYA GUA TERSERAH GUA!’ Nadine membalas dengan sangat emosi.


‘ok titik’ balasan terakhir Arka sebelum dia memblokir kontak Nadine.


Nadine kaget bukan main, karena setelahnya dia tidak bisa mengirim pesan balasan lagi, semua ceklis satu, last seen Arka tak terlihat lagi, dan Nadine tau kalau kontaknya sudah diblokir Arka. Nadine tersenyum miris dengan perlakuan Arka padanya.


“sialan! Lu pikir lu siapa...” amuk Nadine memandang ponselnya.


Disisi yang lain Arka masih berkutat untuk meluluhkan Clarissa, semua pesannya tak ada yang dibalas, berkali-kali telfonnya diabaikan begitu saja.


“oh ayolah...” ucapnya frustasi, baru saja mereka berbaikan, sekarang sudah bertengkar lagi.


***


Nadine mulai merasa tak enak hati, ia mulai berfikir untuk meminta maaf, tapi meminta maaf pada Arka tak akan bisa, karena dia sudah diblokir. Nadine membuka kontak Clarissa dan mulai mengetik mengirim pesan untuknya.


To: Clarissa


‘aku minta maaf, jangan bertengkar dengan Arka, kasian dia.’


‘sudah kuganti fotonya, maaf’


Nadine mengehela nafas berat, dia tak suka begini. Nadine terlalu emosi, harusnya dia bisa lebih kalem dan elegan, bukan bar-bar begini. ‘Nadine bodoh’ umpatnya pada diri sendiri. Lama Clarissa membalas pesannya.


From: Clarissa


‘sudahlah, kalian kan sudah putus. Tolong jangan ganggu Arka lagi’


‘jangan dekati dia lagi, jangan cari dia lagi, jangan hubungi dia lagi’


‘dan jangan berteman dengan dia lagi’


Nadine mengerutkan keningnya bingung dengan balasan itu. Nadine menggigit bibirnya gusar.


From: Nadine


‘iya gua minta maaf, santai aja dong mbak’


‘lagian dia juga udah block no gua’


Nadine mulai tak sabar, dia bodo amat dengan perasaan perempuan itu, menurutnya dia egois sekali setelah ‘merebut’ Arka sekarang malah marah-marah begitu. padahal yang korban disini siapa? Arka duluan yang mendekati Nadine, tanpa tau hubungan nya dengan Clarissa. Nadine merasa ini tidak adil, sebab setelah dia membuang Arka begitu saja.


Sekarang seenak jidat datang lagi yang bilang ‘masih mau kembali’. Nadine benar-benar tak suka dengan perempuan satu ini.


‘lebih baik lo resign aja, terus pindah kek kemana, jauh jauh dari Arka, gua ga tenang kalo lu masih deket-deket sama dia, sebab kalian pernah pacaran. Dan lo juga masih mau kan sama Arka.’


Nadine membaca pesan itu dengan mata membulat, jantungnya berpacu keras....ia sangat marah dengan kata-kata Clarissa.


“WHAT THE F*CK, SIALAN JUGA NI CEWEK,!” amuk Nadine.


“dasar ga tau diri, udah dibuang sekarang dipungut lagi, yang harusnya marah kan gua, kalo mau ngusir ga gitu caranya mbak”


“cewek gila!”


Nadine mengomel didepan ponselnya seperti orang gila, ia tak terima dengan perkataan Clarissa.


From: Nadine


‘maaf ya kakak, kalo mau ngusir, lu suruh aja Arka balik kampung jangan kerja disini lagi, jangan ngusir gua, jahat juga ya lo’


Nadine benar-benar tak suka dengan perempuan ini, terlihat jelas dari sorot matanya.


From: Clarissa


‘sorry gua ga maksud kasar, gua trauma sama orang ketiga, karena ortu gua juga begitu,’


Nadine membacanya tanpa berniat membalas lagi, dia membacanya dengan tatapan ‘bodo amat’.


***


Satu minggu ini, Nadine benar-benar merasa kehilangan. Yang tadinya setiap hari selalu ada sapaan Arka, setiap malam selalu dengan setia mendengarkan ocehannya di telfon. Kini semua sudah tiada. Ponsel Nadine berubah menjadi mati total, seolah kehilangan fungsinya. Menyedihkan, gumam Nadine pada dirinya sendiri.


Tak dipungkiri dia merasa sedikit bersyukur karena minggu ini mereka lain shift, Arka masuk malam, dan Nadine masuk siang. Nadine bersyukur karena mendapat sedikit ruang untuk menjauh dari Arka. Perasaannya masih amburadul bahkan terasa lebih parah dari apapun. Nadine pun tak lagi bisa menghubungi Arka karena lelaki itu masih memblokir no nya.


Sedari tadi Nadine hanya membuka messenger membaca chat yang dikirim Arka, masih dengan embel-embel ‘sayang’ dan tak lupa dengan banyak sekali emoticons hati dan cium.


Nadine menghela nafas untuk yang kesekian kalinya, seolah bernafas pun menjadi hal yang berat untuknya saat ini. Dadanya masih terasa sangat sesak. Setiap kali ia melihat Arka online di messenger, Nadine begitu serius memperhatikan, hatinya sangat gundah. Ia berkali kali meremas-remas jemarinya karena gugup. Dia sangat rindu dengan lelaki itu, dan dia tak bisa bohong soal itu.


Seharian kerja terasa begitu lama, seolah tiada akhirnya. Nadine pulang ke apartement dengan keadaan yang sangat kacau. Tak pernah seorang Nadine begini sebelumnya hanya karena putus dengan lelaki. Ini gila.


Sedari tadi ia hanya melihat ponselnya bolak balik mengecek sosmed yang dia sendiri pun tau, Arka tak akan merespon apa-apa. Lelaki itu tak akan peduli dengannya lagi sekarang.


Nadine keluar dari lift, tapi ia enggan untuk langsung menuju pintu tempat tinggalnya, ia berbelok ke balkon. Diam disana memandangi lampu-lampu dari atas sini membuatnya sedikit terhibur. Dia melamun sangat lama merasakan angin malam membelai pipinya lembut.


Ia benar-benar merindukan Arka. Ingin sekali ia pergi ke hadapan lelaki itu dan memeluknya, seandainya bisa....seandainya keadaan tak menjadi serumit ini. Seandainya saja....


Nadine menangis dalam diam, meratapi nasib hatinya. Meratapi kerinduan yang tak bertuan ini. Sesekali ia usap air matanya. Jujur dadanya sesak sekali...sangat, seolah dia kehabisan oksigen. Ada sesuatu yang sangat berat, tiba-tiba ia membayangkan Arka yang sedang ber-telfon ria dengan Clarissa, yang harusnya masih dengan dirinya. Membuat Nadine benar-benar sesak. Ia menyentuh dadanya dan mengusapnya pelan.


“ya Allah...aku merindukannya, apakah engkau marah padaku karena hatiku terlalu condong pada manusia? Hingga kau ambil dia dariku?” ucap Nadine tanpa suara, mengadu pada sang pemilik hati, ia meremas bajunya menahan sesak di dada, menatap langit malam dengan nanar.


Begini kah rasanya patah hati? Seolah semua mati...


***


Hari demi hari Nadine lalui dengan cara yang sama, bahkan dia terus berperang dengan hatinya.


‘sudahlah, dia memang tak pantas untuk mu, dia tak layak untuk kau fikirkan lagi’


‘berhenti lah meratap dan lihat kedepan’


‘jangan sibuk memikirkan dia yang malah sibuk dengan orang lain’


Semua suara dari fikirannya bergema memberinya motivasi dan nasehat-nasehat untuk dirinya sendiri. Tapi tak begitu dengan hatinya, hatinya tetap berkata.


‘mata boleh lupa dengan siapa yang ia lihat, tapi hati tak pernah lupa dengan siapa yang ia cinta’


Nadine berusaha fokus dengan pekerjaannya, tapi mengingat ucapan hatinya sendiri, ia merasa sadar. Arka memang tak pernah lupa dengan Clarissa, batinnya. Itu sudah cukup membuatnya hilang mood seharian ini. Nadine mengusap wajahnya. Apa yang ia khawatirkan telah terjadi.


Flasback*


Hari itu, hari Sabtu. Nadine duduk berdua dengan Arka, ketika jam istirahat tengah hari. Setelah berbincang cukup lama, Arka mulai membahas sesuatu yang sangat sensitive.


“yang, inget ga sama status gue beberapa hari lalu?” tanya Arka memulai topik baru.


Nadine menerawang sebentar, ia ingat di hari rabu, Arka membuat status di WhatsApp yang menurutnya sedikit ambigu. Kurang lebih bunyinya seperti ini.


‘2.48 am, ku insomnia memikirkan dirimu, membuatku gundah, ada apa gerangan?’


Nadine ingat, karena ia sempat membalas status Arka, menanyakan apa yang ia pikirkan tentang dirinya. Mungkin Nadine sedikit ge-er merasa status itu untuk dirinya, wajar. Karena ia pacar Arka.


“iya inget ko, emang lu mikirin apa?” tanya Nadine mengulang pertanyaannya tempo hari.


Arka tersenyum seolah minta maaf padanya,


“sorry yang, gue rasa gue ga bisa bohongin lu, tapi....itu status bukan buat lu,” ucapan Arka berhasil membuat Nadine kebingungan.


“terus, kalau bukan buat gue, lu lagi mikirin siapa?”


“Clarissa,” mendengar jawaban Arka membuat nafas Nadine tercekat, jantungnya terasa dihantam benda besar tanpa aba-aba. Nadine berusaha menyembunyikan perasaannya didepan Arka, berekspresi setenang mungkin.


“terus?” tanya Nadine, suaranya sedikit serak


Arka terlihat menghela nafas panjang dan memikirkan jawabannya, ia meraih tangan Nadine menggenggamnya seolah takut gadis itu menghilang dari hadapannya sekarang ini.


“gue...gue masih kepikiran dia....” suara Arka menggantung, membuat jantung Nadine tak karuan. Nadine memandang Arka dengan sangat dalam menunggu kalimatnya selesai.


“sejujurnya, gue masih sayang sama dia, dan .... gue masih kepikiran buat nunggu dia, kalau dia misalnya mau balik lagi ke gue....” ucapan Arka terputus ketika Nadine menarik tangannya secara paksa dari genggaman Arka. Arka tersentak dan memandang Nadine dengan cemas, takut kalau-kalau Nadine marah. Nadine menarik nafas panjang. Menegakkan punggungnya dan menatap Arka lurus-lurus.


“dengerin gua baik-baik Arka.” Tegas Nadine memotong ucapan Arka.


“gue sayang sama lu tulus, gue juga tau mungkin lu belum sepenuhnya move on dari cewe itu, tapi kalau boleh jujur, gua ga bisa nerima yang separuh hati, kalau emang lu masih berharap di balik sama lu, biar gue yang mundur,” ucapan Nadine sukses membuat Arka geram, ia marah dengan Nadine.


Arka hanya mencurahkan apa yang ada dalam pikirannya, apa yang mengganggunya pada kekasihnya. Tapi Nadine malah salah faham karena ia memotong ucapan Arka.


Flashback end*


‘itukan hanya kalau semisalnya...bukan fakta,


lagipula kan faktanya gue sama lu sayang’.


Hari terus berganti, tak terasa sudah satu minggu Nadine tak bertemu Arka tak menghubunginya juga. Dan minggu ini, mereka harus satu shift. Setiap pagi Arka pasti datang ketempat nya untuk mengambil sample barang, mengecek dan membuat laporan. Itu artinya mereka akan bertemu.


Nadine begitu risau, dia tak tenang sama sekali. Setelah putus, apakah Arka akan tetap bersikap biasa padanya seolah tak ada yang terjadi? Nadine faham betul dengan sifat Arka yang sangat pandai menyembunyikan perasaannya, seolah semua baik baik saja.


Arka bukan tipe yang heboh bila sesuatu mengguncang dirinya, terbukti dengan sampai seminggu ini, belum ada yang tau kalau mereka putus, padahal banyak dari rekan-rekan kerjanya yang tau kalau mereka adalah pasangan.


Nadine bekerja dengan sangat tidak tenang, sesekali ia melirik, takut kalau Arka lewat ketempat nya, ia bingung bagaimana harus berekspresi. Jujur saja, Nadine tak bisa menahan mimik mukanya. Jika ia suka akan nampak jelas di wajahnya, jika ia benci pun sama begitu.


Tapi ternyata apa yang dikhawatirkannya tidak terjadi sama sekali. Arka tidak datang mengambil sample seperti biasa. Ini aneh, apakah Arka sedang menghindari Nadine?


"Erika, lu liat Arka lewat ga?” Nadine penasaran karena sedari tadi ia memang tak melihat Arka, padahal harusnya kalau dia masuk kerja, Nadine pasti melihatnya.


“eemm engga deh, kenapa?” ucap Erika yang masih sibuk dengan pekerjaannya.


“menurut lu dia bakal dateng ketempat gue apa engga? Apa dia sengaja ga ambil sample ditempat gue?” tanya Nadine menebak nebak,


“maksudnya dia ngehindar gitu? Taruhan sama gue Ka, dia pasti ngehindar,” ucap Erika percaya diri.


Nadine tetap penasaran, masa iya cuma tempat gua yang dia skip, fikir Nadine. Tapi ternya sampai sore pun Arka tak kunjung ada. Nadine merasa risau, apa Arka tak masuk kerja?


Nadine berdiri dari tempat kerjanya dan mengambil kartu toilet, ia merasa harus break sejenak.


Nadine tak ada pikiran apa apa sekarang ia berjalan dengan setengah melamun, tiba di persimpangan jalan. Nadine terkejut bukan main, ia berpapasan dengan orang yang ia sama sekali tak ingin ia lihat.


Arka menatap Nadine dengan terkejut, begitu pula Nadine. Untuk beberapa detik yang canggung, mata mereka salling bertemu menghentikan langkah keduanya. Nadine tau Arka pasti akan menyapanya atau setidaknya akan tersenyum padanya, karena Arka adalah tipe yang ramah, sekalipun ia tengah benci seseorang dia akan tetap menyapa atau melempar senyum.


Dan nadine tau itu, ia dengan cepat berbelok menghindari Arka, dan memandang Arka dengan kebencian.


Nadine sangat membenci mantan kekasihnya itu. Hatinya masih sakit.


.....


Pagi ini Nadine merasa tubuhnya pegal semua, selain karena beban pekerjaan yang dia lakukan hampir setiap hari, ditambah lagi beban perasaannya...hadeuh...terkadang Nadine begitu lelah menghadapi perasaannya yang masih sulit dia kendalikan. Hatinya masih bergejolak, ibarat samudra yang tengah badai, ombaknya belum juga reda.


Nadine menghela nafas berat menyemangatinya untuk tetap tenang selama seminggu ini, pasalnya dia memang akan terus melihat Arka di tempat kerja karena mereka masih satu shift. Nadine seperti biasa memasang earphone dan memutar sebuah lagu untuk menemaninya diperjalanan menuju tempat kerjanya pagi ini.


Lagu mulai terdengar sayup sayup di telinganya, Nadine termenung menatap keluar jendela mobil, melihat pemandangan di pagi hari.


Terlalu sadis caramu


Menjadikan diriku


Pelampiasan cintamu,


Agar dia kembali, padamu...


Tanpa peduli sakitnya aku...


Tega niannya cacramu


Menyingkirkan diriku, dari percintaan ini


Agar dia kembali padamu


Tanpa peduli sakitnya aku


Semoga tuhan membalas semua yang terjadi kepadamu, suatu saat nanti....


Nadine merinding mendengar alunan lagunya, seolah mewakili perasaannya untuk Arka. Kamu memang sadis Arka, batin Nadine miris.


Tak lama ia sampai ditempat kerja, setelah melewati gerbang, Nadine seperti biasa langsung pergi ke kantin untuk sarapan, karena ia memang hampir tidak pernah sarapan sebelum pergi kerja.


Nadine mengambil piringnya, lalu memilih menu sarapan satu persatu. Ia mengambil lontong sayur untuk menu sarapannya karena ia bosan dengan nasi goreng. Sekilas Nadine menangkap sebuah bayangan dari kejauhan, bayangan itu berjalan menuju kantin. Nadine kenal betul dengan sosok itu, Nadine meliriknya sekilas untuk memastikan apa yang ia lihat dengan ekor matanya.


Hampir ia menjatuhkan piringnya, jantungnya serasa terpental untuk dua detik. Nadine langsung pergi mencari bangku menghindari bertatapan apalagi berhadapan dengan Arka ditempat menu.


Nadine makan dengan gelisah, ia sengaja memilih tempat duduk yang menghadap pintu keluar kantin supaya ia bisa fokus makan tanpa harus curi-curi pandang pada Arka. Nadine tau dia walaupun dia sangat menghindari Arka, tapi ia tak bisa membohongi hatinya yang tetap tak bisa menjauh dari sosok Arka.


Nadine menyelesaikan acara saparan nya dengan lebih cepat dari sebelumnya, dia sangat tidak ingin jika ditempat menyimpan piring kotor ia harus berendengan dengan Arka. Nadine melirik sekilas ke arah dimana Arka biasa duduk, Nadine terlonjak kaget karena ternya Arka sedari tadi memperhatikannya dan itu membuat pandangan mereka bertemu.


Nadine merutuki kelakuan bodohnya untuk yang kesekian kalinya.


***


Nadine terlihat gusar ketika jam menunjukan hampir pukul 9 pagi, karena itu artinya Arka akan segera datang ketempat nya untuk mengambil sample barang.


Hampir setiap detik Nadine melihat kiri dan kanan mencari sosok Arka yang kemungkinan akan segera ia lihat. Hatinya sangat tidak tenang, satu sisi ia ingin menemui Arka, tapi di sisi lain ia pun enggan untuk berdekatan dengan Arka, hatinya masih belum siap, tapi ia juga rindu.


Arka tiba-tiba datang disaat Nadine melamun, membuat Nadine langsung menatapnya karena kaget tiba-tiba sudah disampingnya. Arka pun menatapnya dengan terkejut karena respon Nadine padanya.


Situasi macam apa ini, rasanya gua pengen menghilang sekarang juga, batin Nadine merasa situasi super awkward sekarang ini.


Nadine memalingkan pandangannya dengan cepat, tak berniat mengelurkan suara, dan menganggap tiada siapa-siapa ditempatnya.


Arka langsung mengambil sample barang tanpa menyapa Nadine sedikitpun, membuat Nadine bingung sendiri. Karena biasanya, Arka akan datang sambil berkata,


“selamat pagi bos, saya mau ambil sample,” tapi sapaan itu sudah tiada lagi sekarang, hanya menjadi kenangan.


Arka tak berlama-lama ditempat Nadine, dia sama sekali tak bersuara. Setelah mengambil barang, Arka langsung pergi begitu saja.


Nadine menghela nafas memandang punggung Arka yang menjauh dari tempatnya, hatinya hanya bisa menjerit memanggil Arka, ingin sekali ia berkata “Arka, Nadine rindu...” tapi semua itu hanya tertahan dibibirnya tanpa ada yang ia ucapkan.


Ia membenci situasi yang seperti tadi. ‘yaudah sih, putus mah putus aja, ga usah diem-dieman kaya gitu.’ Batin Nadine merasa tak nyaman. Nadine hanya ingin hubungannya baik dan menjadi teman biasa, agar ia bisa nyaman ditempat kerja tanpa ada perasaan canggung yang membuatnya killing me inside seperti tadi.


Dahulu kau adalah yang paling jelas dimataku, paling bersinar ketika yang lain terlihat kabur. Tapi sekarang kau lah yang paling kabur dimataku.


“Habis putus , musuhan. Kalau gak musuhan, ya kaya orang ga pernah kenal gitu. Padahal, dulu pernah saling membahagiakan. Adaa??” sindir Erika melihat kelakuan Nadine dan Arka.


Nadine hanya tersenyum miris menanggapi ucapan rekan kerjanya itu. Tak berniat menanggapi, Nadine kembali melanjutkan pekerjaannya.


I hurt so deep inside.


***


Rabu


Hari ketiga dalam satu Minggu ini. Nadine berusaha untuk tetap cooling down. Arka masih memblokir nomor Nadine, membuat Nadine semakin merindu, disatu sisi gengsinya sangat tinggi, tak akan seorang Nadine mengucap ‘rindu’ pada mantannya. Bisa hancur lebur harga dirinya.


Arka datang mengambil sample seperti biasa, tapi bedanya hari ini ia membuat semuanya berjalan lebih lambat dari kemarin. Dia benar-benar memperhatikan Nadine dengan lekat seolah ingin Nadine membalas tatapannya. Tapi Nadine masih dengan egonya, ia sama sekali tak melirik Arka. Tak ada percakapan sama sekali diantara keduanya. Membuat suasana sangat tidak nyaman.


Tanpa sengaja pandangan mereka akhirnya bertemu, Arka tersenyum dengan ragu, ia takut jika Nadine mengabaikannya dan memalingkan mukanya seperti yang sudah sudah. Arka tau betul Nadine menghindarinya, karena seorang Nadine tak akan berbuat begitu padanya jika bukan sengaja menghindar.


Nadine nampak ragu untuk membalas senyum Arka, ia hanya menganggukkan kepalanya menanggapi Arka. Namun Arka semakin melebarkan senyumannya mendapat respon Nadine yang menurutnya adalah lampu hijau untuk mengakhiri perang dingin ini.


Baik Arka ataupun Nadine, keduanya sama-sama tidak menyukai situasi seperti ini, mereka ingin semua biasa saja dan berjalan dengan normal. Hanya satu sekatnya, Nadine dan egonya yang besar.


Melihat Arka tersenyum begitu lebar, membuat Nadine terperangah, dia hampir saja tak bisa menahan senyuman bahagianya, karena sudah beberapa hari ini ia merindukan sosok Arka yang ramah. Nadine memalingkan mukanya berpura-pura fokus kerja menyembunyikan senyumannya. Dia benar-benar jaim luar biasa. Tidak ada dimata dicari-cari, ada didepan mata dia abaikan setengah mati.


Jam istirahat Nadine membuka pesan masuk di ponselnya, ada sebuah pesan dari Nouval, adik lelaki Nadine.


‘ka, lu putus sama Arka?’ Nadine bingung kenapa adiknya bisa tau, karena seingatnya ia belum bercerita apa-apa dengan Nouval.


‘tau dari mana lu?’ tanya Nadine tanpa basa-basi.


‘liat aja di pp whatapp nya foto berdua sama cewek, tapi ceweknya bukan lu,’ lapor Nouval.


‘ohh, iya udah putus, coba lu kirim screenshootnya gua pengen liat, soalnya no gua diblokir,’


Tak menunggu lama sebuah pesan masuk datang, Nadine membukanya dengan tangan gemetar dan hati yang kacau. Terlihat jelas bahwa Arka memasang fotonya dan Clarissa. Nadine merasa hatinya begitu ngilu, Nadine memperhatikan wajah keduanya yang terlihat mirip.


Kata orang kalau jodoh itu wajahnya mirip. Nadine teringat perkataan temannya. Nadine tersenyum miris, ‘jodoh ya?’


‘tapi yaudahlah apa yang terjadi terjadilah, mungkin ini memang yan terbaik. Coz i can’t stuck in the moment, keep moving on, right?’ lagi-lagi Nadine menguatkan hatinya. Rasanya luka yang kemarin belum kering, masih harus ditambah luka baru. Menyedihkan memang disaat dia telah bersama yang lain, tapi dirimu masih saja meratap.


Tapi ada sesuatu yang membuat Nadine penasaran, Arka tak pernah lembur semenjak putus dengannya, padahal Nadine tau Arka adalah pekerja yang rajin, jarang sekali dia tidak ambil lembur, kecuali ada urusan yang mendesak. Seperti ketika Nadine merajuk ingin Arka menemaninya, maka Arka akan dengan senang hati melayaninya dan ia selalu berkata,


‘kamu lebih penting dari lemburan,’ membuat Nadine tak bisa menyembunyikan rasa senangnya. Tapi...itu hanyalah kenangan yang tak akan terulang lagi.


***


Jum’at


Hari terakhir dalam minggu ini, akhirnya Nadine bisa bernafas lebih lega untuk tidak melihat Arka untuk seminggu ke depan. Nadine merasa benar-benar perlu space untuk bisa akur lagi dengan Arka, atau setidaknya bersikap normal lagi. Terlebih setelah Nadine tau tentang foto profil Arka kemarin.


Pagi ini Nadine sangat terkejut sekaligus senang karena, ya kalian tau lah. Nadine hampir setiap saat men-stalk whatapp dan sosmed Arka. Tiba-tiba whatapp Arka terlihat online. Mata Nadine berkedip-kedip dengan cepat memastikan dia tak salah lihat. Ada rasa gugup dan senang ketika melihat Arka online. Tapi Nadine tak mungkin mengirimi Arka pesan, dia sangat gengsi padahal rindunya bukan main.


Nadine memancing Arka dengan menulis sebuah status, dan tak lama Arka melihat status Nadine, membuatnya tak bisa berhenti untuk menaikan sudut bibirnya. Dia masih merespon, batin Nadine senang. Sejujurnya Nadine sempat takut kalau Arka akan membencinya karena masalah dia yang memasang foto yang membuat Clarissa marah hari ini, sampai Arka memblokir nomor Nadine.


Nadine merasa ada lampu hijau untuknya, ia ingin memperbaiki hubungannya dengan Arka. Dia ingin semua normal-normal saja.


10a.m


Nadine tersentak ketika mencium aroma parfum ia tau betul aroma siapa ini, dark temptation, aroma Arka. Bahkan Nadine ingat dulu ia pernah meminta parfum Arka untuk disimpannya, yang sampai sekarang pun masih ia simpan di kamarnya.


Jantung Nadine berdetak cepat, dia menghentikan aktifitasnya bekerja, memperlambat gerakannya. Dan benar saja tak lama Arka datang dengan Jimy, Nadine menatapnya heran. Tak biasanya ia datang berdua. Kali ini yang mengambil sample bukan Arka, tapi Jimy. Nadine sedikit kecewa.


Arka hanya menunggu Jimy selesai dengan tugasnya. Tapi Nadine tau, Arka diam-diam memperhatikannya.


Ketika Jimy mendekat, Nadine baru sadar kalau aroma itu berasal dari Jimy, karena Arka tak pernah sampai mandi parfume begini. Nadine memutar bola matanya merasa kesal. Entah kesal karena apa.


***


Jam kerja telah habis saatnya pulang dan bersantai di rumah. Hujan turun lumayan deras, membuat Nadine basah dari ujung kepala sampai kaki. Ketika semua teman-temannya berlari menuju gerbang untuk pulang, Nadine memilih berjalan cepat. Karena menurutnya berlari atau tidak tetap sama saja ia akan kehujanan dan membuatnya basah, daripada harus berlari dan beresiko jatuh karena licinnya air hujan, lebih baik ia berjalan saja.


Nadine melihat dari kejauhan Arka sudah berteduh di gerbang, memperhatikannya dari jauh. Nadine pura-pura tak melihatnya. Sesampainya di gerbang, menunggu jemputan datang, Nadine memilih untuk meladeni teman-temannya dan bercanda, tertawa saja. Padalah Arka ada tepat satu meter darinya, memperhatikannya dengan pandangan yang sulit dijelaskan.


“kalau dia masih mau temenan yaudah, gua ok aja. Ga usah terlalu dipikirin, karena itu bukan hal yang harus dipikirin juga,” bisik Nadine pada dirinya sendiri.


Sepulangnya dari tempat kerja Nadine langsung mandi, dia tak mau kena demam karena kehujanan. Nadine berbaring di kasurnya, ia tak bisa bohong kalau ia semakin rindu dengan Arka. Nadine memandangi foto-foto mereka yang begitu banyak dalam galeri Nadine.


Setiap foto menyimpan kenangan, dan satu persatu kenangan itu menyerangnya tanpa henti, membuatnya sedikit jengah, tapi tetap tak ingin berhenti. Beginilah kalau dibodohi perasaan. Sudah tau tiada guna masih juga terus dilakukan.


Nadine hanya bisa mencurahkan perasaanya di status, karena ia tak berani menyampaikannya langsung pada Arka, Nadine menulis..


‘rindu...’


ia menyertakan sebuah foto yang ia ambil di halte depan apartemen Arka.


Arka melihat status Nadine, hatinya sendiri masih belum rela melepas Nadine. Sejujurnya, Arka sendiri masih sakit hati dengan keputusan Nadine, dan ia masih belum bisa menerima Clarissa kembali, karena luka yang Clarissa buat dulu masih membekas dihatinya.


Arka merasa hampa, setiap kali Clarissa menghubunginya, selalu ada alasan untuk menolaknya, seolah enggan meladeninya lagi. Hatinya sama kacaunya dengan Nadine. Tapi ia sendiri tak tau apa yang harus ia lakukan sekarang. Arka merindukan Nadine. Arka sangat sadar kenapa Nadine bersikap demikian, ia tau Nadine terluka karena dirinya.


****