My Ex

My Ex
Sebuah Nasihat untuk Hati yang Bergejolak



15 hari setelah putus


Nadine baru bangun, ia melihat ponselnya, membuka whatapp dan ia melihat ada status Arka di sana. Nadine langsung terduduk rasa kantuknya hilang entah kemana. Ini sangat langka, karena Arka jarang sekali membuat status. Matanya sangat fokus membaca rentetan status yang dibuat Arka.


Berikanlah jawaban


Uraikan Lah simpulan


Biar tenang jiwaku


Setelah lama kasih berlalu


Nadine termenung, ‘bukannya ini lirik lagu melayu?’ batinnya, ia kembali melanjutkan membaca status lagi.


Tidak mungkin kulupa


Perjanjian kita


Dibawah rumpun bambu


Dikala bulan sedang beradu


Nadine mulai heran, ia berkomentar,


“apaan sih, dia nulis lirik lagu?” padahal dirinya sendiri pun sering menulis lirik lagu di status untuk menyindir Arka. Nadine membaca bait terakhirnya, ia ingat dengan beberapa janji Arka dikala mereka bersama dulu.


Mengapa terjadi...perpisahan ini?


Dikala asmara melebar sayapnya


Mengapa kau pergi disaat begini dikala hatiku


Terukir namamu


Kalau memang tiada jodoh


Apalagi nak ku heboh


Aku malu pada teman, pada semuaaaa.....


Nadine terdiam, ia berfikir...


“liriknya kok kaya buat gua ya? Ah masa sih? Jangan-jangan dia nulis ini buat Clarissa lagi, kaya waktu itu, lagian kan mereka udah balikan, dan gua sama dia juga udah selesai.”


Nadine menyimpulkan, ada rasa aneh dalam hatinya, entah apa sulit untuk dijelaskan, ada rasa yang membuatnya sakit....


Mengapa terjadi...perpisahan ini????


Nadine melanjutkan bacanya, banyak Arka tulis lirik lagu ini.


Rindu....rindu serindu rindunya


Namun engkau tak mengerti,


Pilu...pilu sepilu pilunya....


Namun engkau tak peduli


Nadine merasa sakit dihatinya ketika membaca ini,


Malu...semalu-malunya...


Namun apa daya, orang tak sudi...


Mahu...semahu mahunya...


Namun apa daya, orang dah benci....


Nadine termenung lama, ia merasa seluruh lirik ini tertuju untuk dirinya, apa Arka sengaja melakukan ini? Sepagi ini? Nadine membalas status Arka, ia pun seolah membuat status balasan untuk Arka.


‘aku tak pernah benci kau, sekalipun kau lukai hatiku, it’s could be’


Tulis Nadine, dan beranjak untuk mandi bersiap pergi kerja. Kejutan di pagi hari. Selesai mandi, Nadine merasa ingin membaca status Arka lalu meng-screenshootnya, ini langka sekali.


Tapi baru saja ini membuka whatapp, status itu telah terhapus tepat beberapa detik setelah Arka melihat statusnya, seolah Arka memang sengaja menunjukkan status itu untuk dirinya.


Nadine terdiam lama dengan banyak sekali pertanyaan, tapi ia sama sekali tak berniat menanyakannya langsung, karena egonya.


Kalian tau? Apa yang membuat cinta terus bersemi tak lekang oleh waktu? Dengan sayang, memberi memberi dan memberi, tanpa berharap diberi. Dan kalian tau apa yang membuat cinta mati? Yaitu ego.


Dan inilah yang terjadi diantara Nadine dan Arka.


***


Seminggu ini Nadine sama sekali tak bertemu Arka, ini bagus untuk kesehatan mentalnya selama beberapa hari ke depan, setelah minggu lalu yang begitu menegangkan. Akhirnya Nadine bisa lebih leluasa sekarang.


Setiap jam sore, Nadine pergi ke gazebo belakang untuk duduk duduk santai. Ia ingat betul apa yang biasanya ia lakukan di sana bersama Arka tentunya. Ia merindukan suasana sore seperti itu.


Pernahkah kalian seperti ini? Terjebak dalam bayang-bayang kerinduan. Ingin berkata tapi bukan hak, tak dikatakan sesak didada. Nadine merasa dirinya berada dalam titik kebodohan yang luar biasa.


Nadine menulis sebuah lirik di statusnya,


Karena kamu seperti caffeine


Aku tak bisa tidur sepanjang malam,


Jatungku berdetak lebih cepat


Aku membencimu


Aku memcoba menjauh


Aku mencoba melupakanmu


Tapi


Tapi ku tak kuasa


Aku tak bisa melakukannya


Karena itulah kamu sangat buruk untukku,


Seperti caffeine


Nadine membiarkan statusnya dibaca Arka. Iya tau Arka akan membacanya, karena selama ini, Arka selalu melihat apa yang Nadine tulis di sosmednya. Nadine kembali membuat status di whatapp dengan penggalan dari lirik lagu.


‘Aku terkejut mengetahui aku bisa sangat terluka karenamu,’


Tulisan Nadine berhasil membuat Arka menghubunginya, Arka mengirimnya sebuah pesan singkat


From: Arka


‘Nadine, gue minta maaf, bukan maksud gue nyakitin lu kaya gini,’


Nadine mengangkat alisnya membaca pesan itu.


“dia ngehubungin gue lagi? Demi apa? Apa sih? Inikan Cuma lirik lagu,” ucap Nadine.


To: Arka


‘apa? Itu Cuma lirik lagu,’


Setelahnya Arka hanya membalasnya dengan emoticon. nadine tak berniat membalasnya lagi.


Nadine mulai jengah dengan perasaannya yang sudah sangat merepotkan menurutnya. Nadine memainkan ponselnya, membuka YouTube siapa tau ada sesuatu yang bisa menghiburnya. Ketika disaat seperti ini Nadine membutuhkan sebuah nasehat untuk dirinya.


Nadine mengetik dipencarian sebuah kata kunci ‘nasehat’, hasilnya langsung terlihat. Matanya menelusuri judul-judul yang sekiranya menarik untuk ia tonton. Matanya berhenti disebuah video berjudul ‘nasehat terbaik untukmu’. Nadine penasaran, mungkin ia memang butuh sebuah ‘nasehat terbaik untuk dirinya’ yang kini sedang gundah tak menentu.


Ia memasang earphone lalu memutar video, ia mendengarkan sebuah ceramah yang terdengar sangat ringan dengan pembahasan yang easy listening. Nadine kembali masuk ke tempat kerja, karena jam istirahat telah habis.


***


Sepulang kerja, Nadine kembali mengulang ‘nasehat’ yang iya dengar tadi sore, ia ingin menyimaknya lebih khusyuk tanpa gangguan pekerjaan. Nadine menidurkan dirinya di atas kasur, memasang earphone dan mulai mendengarkan ‘nasehat’.


Play


Sampaikanlah nasehat dengan cara yang santun dan tidak melukai perasaan yang dinasehati, pernahkah kita mendengar seseorang yang ketika dinasehati ia malah menjawab,


“apaan si lu, sok-sokan nasehatin gua” apalagi kalo yang nasehatin nya itu ‘mantan’, yang kemarin aja belum beres...ya kan...


Nadine tersenyum mendengar nasehat itu, merasa dirinya tersindir dengan apa yang dikatakan sang penasehat. Terkadang dirinya terlalu acuh dengan saran dari orang lain, dan menganggap bahwa orang lain tak berhak mengomentari apapun soal hidupnya. Nadine tersadar akan sifat egonya, padahal hakikatnya sebuah nasehat adalah sebuah kebaikan.


Ketika seseorang merasa kecewa berat, biasanya kan suka melampiaskan di status ya? ‘kau bukan segalanya bagiku’, ‘pergi sajalah kau’ atau apalah gitu bahasa-bahasa yang menunjukan kecewa berat. Atau paling ringan dia bakal bilang ‘hasbi Allah, cukup bagi saya Allah, ga butuh yang lain,’ nah kalau tiba-tiba begini nih, pasti ada sesuatu. Biasanya kalau yang abis diputusin gitu kan ya?


Nadine merasa baru saja ditampar ketika mendengar ini. Dia ingat, ketika hatinya luka kemarin, kepada siapa dia mengadu? Allah. Ketika hatinya hancur, dia baru mengingat lagi Tuhannya. Dan di juga benar-benar menunjukan kekecewaannya percis seperti yang digambarkan sang penasehat, yaitu melalui pelampiasan bahasa kecewa di status. Nadine semakin tertarik mendengarkan nasehat ini.


Nah sekarang kita akan membahas tentang kandungan surah Al-Ashr, yang dimana isinya ada ayat yang menyebutkan ‘sesungguhnya manusia itu benar-benar sungguh ada didalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman.’


Pokoknya surah Al-Ashr ini adalah jawaban dari 1001 masalah deh, mari kita telaah satu persatu maksudnya. Kenapa Allah bilang manusia itu merugi? Karena banyak dari sifat-sifat manusia yang memang merugikan.


Manusiawi kan kalau saya dendam?


Manusiawi kan kalau saya marah?


Mausiawi kan kalau saya kecewa?


Yah...manusiawi banget, karena manusia itu lemah, gampang baper, suka berkeluh kesah, dan ego.


PLAK!


Oke, Nadine tertampar lagi, mendengarkan ini seolah sang penasihat tengah berbicara dengan dirinya, seolah ia tau bahwa Nadine memang sedang baper, sedang marah, sedang kecewa akibat Arka. Nadine mulai tersadar sedikit demi sedikit, kalau dia terlalu mengandalkan sisi manusiawinya tanpa mempertimbangkan hal lain. Dia memang terlalu lemah.


Jika hanya mengandalkan sisi manusiawi, tak akan cukup untuk bahagia. Harus di upgrade menjadi mukmin. Supaya bisa lebih tahan banting.


Makanya Nabi bilang, ‘ajaban li amri mukmin’ sungguh menakjubkan urusan orang yang mukmin. Karena semua urusan orang mukmin itu baik. Kalau dia mendapat nikmat dia bersyukur, jika mendapat musibah dia bersabar.


Insan itu mudah tersinggung, mukmin? Beri maaf.


Kenapa manusia susah memaafkan kesalahan orang lain? ‘enak aja udah buat gue sakit hati gue maafin’ kan gitu ya? Karena, dia terlalu manusiawi.


Kenapa mukmin mudah memaafkan? Karena dia yakin jika dia memaafkan kesalahan orang lain, Allah maafkan dia minimal 10x kali lipat.


Emangnya kita ga butuh maaf dari Allah? Emangnya kita ga punya dosa? Belajar iman, belajar yakin sama Allah.


Orang yang beriman itu akan mudah untuk recovery sifat manusianya.


Manusia yang terlalu manusiawi itu dendam aja terus, ga bisa memaafkan MANTANNYA,


Maka jadilah orang yang mukmin terhadap mantan.


Nadine mendapat tamparan lagi bertubi-tubi, iya ingat banyak dosa yang telah ia lakukan, lantas kenapa hatinya begitu sesak hanya karena satu kesalahan Arka? Apa sebegitu sempit kah hatinya hingga insiden putus ini membuatnya langsung sesak?


Nadine merasa ia memang harus memaafkan Arka, bukankah obat bagi hati yang terluka adalah memaafkan? Bukankah caranya melepaskan diri dari sesaknya dada adalah dengan mengikhlaskan?


Nadine termenung, seberapa parah sih kesalahan Arka padanya? Sampai ia merasa sangat kecewa dan begitu marah? Apa hanya karena Arka lebih memilih Clarissa dibanding dirinya?


Allah lebih tau apa yang terbaik untukmu, bisa jadi kamu membencinya padahal ia amat baik bagimu, bisa jadi kamu menyukainya, padahal ia amat buruk untukmu.


Nadine mengingat nasehat itu lagi. Ia menarik nafas dalam-dalam, banyak sekali perasaan berkecamuk didalam dirinya. Jika memang Tuhan tidak berniat menyatukan dirinya dengan Arka, lantas kenapa mereka dipertemukan dan kenapa ada perasaan seperti ini diantara mereka.


Karena yang disuka terkadang tidak ditakdirkan bersama.


Kita tak pernah bertemu dengan orang yang salah, hanya saja terkadang ada yang menjadi teman, ada juga yang menjadi pelajaran. Semua adalah takdir Allah, bersabarlah...


Tidak akan Allah ambil sesuatu darimu kecuali akan Allah ganti dengan yang lebih baik.


“ya Allah jika memang ini jalan yang kau pilihkan untukku, hamba mohon lapangkanlah hati ini, isilah hati ini dengan kesabaran, sifat pemaaf dan keikhlasan, mudah-mudahan ada kebaikan didalamnya. Ya Allah berilah hamba pahala dalam musibah ini dan gantilah dengan yang lebih baik. Aamiin...” Nadine berdoa untuk kesembuhan hatinya.


Semenjak hari itu, Nadine begitu gemar mendengarkan nasehat. Sedikit demi sedikit ia bangkit dari rasa keterpurukan, luka dihatinya berangsur-angsur pulih. Tapi tetap saja setiap kali ia melihat Arka masih ada tatapan benci di sana, tatapan penuh penyesalan. Nadine belajar dari hari ke hari untuk memperbaharui dirinya.


The new version of Nadine


Nadine merasa dirinya semakin bersemangat, dan semakin ceria. Iya yakin, semua yang ada di dunia ini tak akan ada yang abadi. Semua akan pergi dan tak akan kembali kecuali do’a.


Manusia bisa saja meninggalkannya, manusia bisa saja mencampakkannya, tapi Allah tidak. Allah akan selalu ada untuknya, mungkin ini sudah saatnya Nadine kembali kepada Tuhannya, memperbaiki kesalahan dimasa lalu, membiarkan semua yang telah terjadi menjadi cambuk untuknya.


Sebagai pengingat atas kesalahan langkah yang ia buat. Ia memikirkan bagaimana hubungannya dengan Arka dahulu. Diam-diam hatinya mengakui kalau Allah begitu baik padanya, memisahkannya dari orang yang salah, menyelamatkannya sebelum hatinya jatuh terlalu dalam ditempat yang salah.


“Ketika hatimu terlalu berharap kepada seseorang maka Allah timpakan keatas kamu pedihnya sebuah pengharapan, supaya kamu mengetahui bahwa Allah sangat mencemburui hati yang berharap selain kepada-Nya. Maka Allah menghalangi mu dari perkara tersebut agar kamu kembali berharap kepada-Nya” -Imam Syafi’i


“terimakasih telah mengecewakan, darimu aku belajar untuk tidak berharap kepada manusia, melainkan kepada Allah,” ucap Nadine berbisik seolah ia berbicara kepada Arka, dan seolah Arka bisa mendengarkannya.


Bukankah balas dendam terbaik adalah menjadikan dirimu lebih baik?


Badai yang berkecamuk sedari beberapa hari yang lalu mulai mereda, air laut mulai bergerak dengan gelombang yang tak sekuat kemarin. Sang nakhoda bisa melayarkan kapalnya dengan lebih tenang. Langit tak lagi segelap kemarin, terlihat cahaya yang lebih terang dibalik awan.


....


Pagi ini Nadine mengambil sarapan dengan porsi yang lebih banyak dari sebelumnya. Ia merasa sangat lapar hari ini, dan energinya harus terisi penuh. Nadine menarik kursi kosong yang ada didepan Erika dan April.


“pagi!” sapa Nadine semangat


“oh, hai ka Dine,”


“pagi Dine,” balas Erika dan April berbarengan.


Keduanya berpandangan sejenak lalu memperhatikan Nadine yang mulai lahap memakan sarapannya. Pandangan keduanya seolah berkata, ‘Nadine udah sembuh?’. Bukan apa-apa, mereka tau betul apa yang terjadi pada sahabatnya ini tempo hari. Nadine yang seperti mayat hidup sudah sembuh menjadi manusia normal lagi?


“Dine, lu udah sembuh?” April membuka suara memperhatikan wajah Nadine yang lebih cerah hari ini.


“sembuh? Emangnya gue sakit apa?” Nadine menyuapkan kembali sesendok makanan kemulutnya.


“sakit apa? Sakit hatilah, yang kemarin kaya zombie ditinggal mati sang kekasih udah balik jadi manusia normal?” sindir Erika, mengingat Nadine yang sudah banyak sekali curhat tentang Arka pada dirinya.


“oh itu? Tenang aja, gue udah ga terlalu mikirin itu, lagian bagus juga gue putus sama dia, dia itu terlalu....” ucapan Nadine terpotong April.


“udeh, makan aja dulu, ga usah curhat pagi-pagi,” goda April, Erika hanya tertawa menanggapi ucapan April yang memang benar.


Nadine tersipu malu dan melanjutkan makannya.


Piring Nadine benar-benar habis tak tersisa, licin. Seperti orang yang baru makan setelah perjalan panjang yang melelahkan. April dan Erika dibuatnya melongo . ‘wah gila, si Nadine kenapa tiba-tiba berubah begini?’


Mereka ingat betul dengan Nadine yang kemarin. Jangankan bersih sampai licin begitu, habis seporsi saja Erika dan April bertaruh apakah Nadine akan bisa makan sampai setengah porsi atau menyerah di suapan ke 3.


April geleng-geleng kepala merasa heran dan takjub dengan Nadine yang sepertinya telah menemukan obat penawar untuk hatinya itu. Erika tak henti-hentinya menyemangati Nadine dengan sangat membara, ia merasa senang akhirnya Nadine bisa tersenyum dan ‘normal’ kembali.


Tapi tak hanya disitu. Dalam hati Nadine seolah ada hal yang mengganjal. Hubungannya dengan Arka yang masih sangat canggung. Nadine berusaha untuk membuka hati memaafkannya seolah kejadian kemarin bukanlah apa-apa. Tapi setiap kali ia melihat Arka, Nadine selalu merasa tegang dan tak nyaman.


Memang benar kata orang, ketemu mantan itu sama seperti ketemu setan.


Nadine ingin hubungannya baik-baik saja, tapi hatinya seolah berat untuk menerima Arka menjadi temannya, atau bahkan hanya sekedar rekan kerja. Nadine masih berat hati. Jika boleh memilih, Nadine ingin pergi menjauh dan tak lagi berjumpa Arka, mungkin ia akan menganggap semua ini hanyalah mimpi belaka.


***


Arka membereskan beberapa berkas di meja pojok, lalu menyusunya kembali ke dalam rak. Ia melanjutkan mengecek sample setiap divisi saling bergantian dari satu ke yang lainnya. Akhir-akhir ini Arka lebih diam dari biasanya, tak jarang ia melamun ketika bekerja.


“Arka, lu salah masukin data, lu ngecek gimana sih?” omel Zidan rekan satu divisinya.


Arka tak meladeni Zidan, Zidan mendecak kesal.


“heh! Ngapa sih lu, kerja banyak ngelamun, ini juga data pada kebalik, fokus dong. Lu lemes gitu kaya orang abis putus cinta aja,” ucapan Zidan pas sekali serasa seperti anak panah yang penusuk tepat pada sasaran. Arka menghentikan kegiatannya, berbalik menghadap Zidan dengan muka yang linglung entah apa yang ia fikirkan.


“hah? Apa?” ucap Arka tak fokus.


“ck, lu kenapa sih, akhir-akhir ini lu banyak ga fokus, kaya orang linglung, lu diputusin sama Nadine?”


Jleb!


Pas sekali kena di jantung Arka, membuat Arka mati kutu. Ia diam saja memandang Zidan lalu menundukkan pandangannya memilih memandangi ballpoint di tangannya, memainkannya dengan gusar. Zidan memperhatikan Arka, terkejut dengan responnya.


“Ka, lu serius? Putus?” ucap Zidan memastikan.


“hm,” Arka bergumam mengiyakan, tak sampai hati iya menjawab pertanyaan itu dengan gamblang.


“wah, kaget gua, kemaren-kemaren masih romantis aja, ga ada apa-apa tau tau putus. Ko bisa? Kapan?” Zidan penasaran, karena dia tau hubungan mereka tidak pernah ada masalah, bahkan Zidan tak pernah melihat mereka bertengkar. Arka tak berniat menjawab, dia menghembuskan nafasnya kasar.


“gua ke belakang dulu ngambil barang,” Arka langsung pergi meninggalkan Zidan, malas meladeni.


Zidan memandang punggung Arka yang pergi begitu saja, ia mengangkat bahu tak mengerti dan memilih melanjutkan pekerjaannya, terlebih lagi dia harus menyusun ulang data yang salah dimasukan Arka.


Arka pergi ke belakang, ia sengaja memilih jalan yang memang akan melintasi tempat Nadine. Ia diam-diam curi curi pandang kepada Nadine. Melambatkan langkahnya dan seolah ingin Nadine menatapnya, tapi Nadine sama sekali tak meliriknya. Arka mendesah kecewa, ia tak tau apakah Nadine memang tak melihatnya atau sengaja tak melihatnya.


Arka sampai di penyimpanan barang di rak belakang, ia mengambil map merah dan segera kembali ke tempatnya sebelum Zidan menyusulnya kebelakang. Arka dengan sengaja memutar jalan melewati tempat Nadine.


Setidaknya Nadine mau melihatnya, sekalipun ia tak akan membalas senyumannya.


Arka melambatkan langkahnya, dengan sengaja ia berhenti di tempat Erika yang notabene sebelah tempat Nadine. Arka mulai basa-basi dengan Erika, erika tanpa ada fikiran apa-apa meladeni beberapa pertanyaan Arka yang sebenarnya hanya basa basi.


Sesekali ia memperhatikan Nadine dengan ekor matanya.


Nadine sama sekali tak merespon, dia tetap fokus dengan pekerjaannya, telinganya terpasang earphone, entah apa yang sedang ia dengarkan. Arka memandang Nadine dengan kecewa. Jangankan melihatnya, meliriknya saja tidak.


Arka pergi dari tempat Erika kembali ke divisinya, kepalanya tertunduk sejenak. ‘Nadine beneran marah sama gue,’ batin Arka sedih.


Sepeninggalan Arka, Nadine membanting barang dengan kesal, membuat Erika terkejut.


“woi! Santai bu santai....bikin kaget aja lu, kenapa si,” protes Erika mengelus dadanya terkejut dengan kelakuan Nadine. Nadine sama sekali tak meladeni Erika.


“sialan, apa sih maunya, banyak tingkah!” umpat Nadine kesal dengan kelakuan Arka.


Pasalnya seharian ini Arka sudah entah berapa kali mondar-mandir di depan Nadine, membuatnya kesal.


Awalnya Nadine tak berfikir apa-apa, ketika ia tau Arka akan lewat, Nadine selalu pura-pura sibuk, mengalihkan pandangannya menjauh dari Arka. Sekali, dua kali, sampai berkali-kali seperti tadi, Nadine merasa kesal. Ia tau Arka melakukannya dengan sengaja. Sebab kalau melewati tempatnya, itu sama saja ia harus memutar jalan.


Sepulang kerja Nadine sudah stand by didepan gerbang, mengantri untuk pulang bersama pekerja lain. Nadine melangkahkan kakinya mundur beberapa langkah agar tak terlalu dekat dengan orang didepannya. Punggungnya tertahan oleh seseorang, refleks Nadine memutar badannya karena merasa sudah menabrak orang dibelakangnya.


“eh so...rry,” ucap Nadine lambat menyadari siapa yang ia senggol itu,


“eh, hai. Iya gapapa,” Arka tersenyum ramah menanggapi Nadine.


Nadine memutar bola matanya kesal, ia merasa muak dengan ekspresi Arka yang seolah tidak ada salah padanya. Nadine membuang muka, tak ingin meladeni Arka.


“dasar ga tau diri, ada ya orang yang sudah berbuat salah begitu, masih punya muka untuk nyapa pake ekspresi watados begitu,” gumam Nadine sangat sangat pelan.


Nadine tak habis fikir, setelah Arka membangun harapnya, lalu tiba-tiba meninggalkannya, dan sekarang pergi dengan perempuan lain, menghancurkan hatinya begitu saja, sekarang dengan tanpa bersalah masih dengan tak tau dirinya memandangnya dengan senyuman begitu?


Arka terkejut dengan respon Nadine, yang memandang Arka seolah telah melihat hal paling menjijikkan di dunia. Arka tak mengerti, bukan itu respon yang ia inginkan. Nadine sama sekali tak pernah se’galak’ ini sebelumnya, padahal ia hanya berniat ramah, Arka tak ingin berlama-lama ‘perang dingin’ seperti ini seolah ia sedang bermusuhan dengan Nadine. Tapi sepertinya Nadine sudah membencinya, menolaknya dengan mentah-mentah.


***


Nadine bersimpuh setelah melaksanakan shalat Isya’, dia merenung cukup lama, mengingat-ingat beberapa nasehat yang telah ia dengar tempo hari. Nadine menghela nafas gusar, ia sama sekali tak ingin bersikap seperti itu pada Arka, tapi ketika melihat Arka, Nadine seperti melihat kesalahan-kesalahannya dahulu, dan itu membuat perasaannya sangat tak tergambarkan.


Ingin sekali rasanya Nadine bersikap normal normal saja seperti Arka yang bersikap ‘tidak punya salah’, tapi Nadine tak bisa begitu. Ia terlalu jujur dengan perasaannya.


Tidak akan masuk surga orang yang bermusuhan dengan saudaranya dan sengaja memutus tali silaturahim.


Maafkan kesalahan orang lain, maka Allah akan maafkan kamu,


Ketika kalian sedang bermasalah dengan seseorang, ga usah mikir siapa salah siapa benar, tapi siapa yang duluan mau minta maaf/memaafkan.


Nadine termenung begitu lama, tak pernah Nadine merasa seberat ini untuk memaafkan seseorang, tapi rasanya ia belum luluh juga. Rasanya ia juga ingin Arka merasakan apa yang ia rasa. Dicampakkan lalu ditinggalkan dan lebih memilih yang lain. Nadine menghela nafas merasa lelah.


Tapi di satu sisi ia sangat tak nyaman dengan situasi seperti ini, terlebih mereka masih di satu tempat kerja. Masih untung Clarissa tak satu tempat kerja juga, jika mereka bertiga satu tempat, rasanya Nadine lebih baik memilih pergi sejauh jauhnya dari pada melihat mantan dengan pasangan barunya. Tiba-tiba ia teringat dengan ucapan sang penasihat diakhir nasehatnya.


Kalau kita ada masalahnya sama mantan gimana? Aga aga berat ya?


Apa perlu kita menyambung silaturahim dengan mantan?


GA PERLU....kenapa? dia Cuma masa lalu, udah lupain aja, sekarang fokus aja minta ampun sama Allah atas dosa-dosa pacaran kita dimasa lalu. Mudah-mudahan Allah memaafkan kita.


Kenapa lupain aja ga usah bangun hubungan baik lagi? Karena walaupun niat kita baik, tapi niat kita baik ditunggangi syaitan. Emang mau masih dibayang-bayangi mantan, terus baper lagi, padahal dia udah sama yang lain, kan itu tuh ga enak banget ya?


Nadine sangat setuju dengan nasehat itu, hatinya menyetujui itu. Sepertinya itu memang pilihan terbaik. Karena dengan begitu ia bisa lebih menjaga perasaannya, dan ia juga tak ingin ada hati yang terluka lagi, baik itu diantara dirinya, Arka atau Clarissa sekalipun.


Lagipula selagi Arka masih notice dengannya, tak menjauhinya dan tak membencinya, Nadine merasa itu sudah cukup. Memang apalagi yang iya bisa harapkan dari hubungan yang telah rusak seperti ini?


Karena hati itu hanya akan condong pada satu arah, tidak mungkin pada dua arah. Jika condong ke timur, maka ia akan menjauh dari barat, dan begitu pula sebaliknya tidak mungkin condong kedua-dua arah disaat yang bersamaan.


Nadine berusaha menerima takdirnya, ia harus tau posisinya.


***


“Nad, lu dipanggil leader, langsung aja ke mejanya,” ucapan Johan di pagi hari ketika Nadine baru saja menyimpan tasnya di loker.


“oh?! O..oke ntar gue ke sana,” Nadine merasa aneh, ada apa sepagi ini bos sudah memanggilnya.


Sepanjang jelan ia memikirkan alasan bosnya mencarinya sepagi ini.


Meja bos terlihat lurus ada didepan matanya, semakin dekat ia melihat Bos Sam semakin jelas. Tapi ada sesuatu yang aneh, Sam memandangnya dengan tatapan yang tajam mengintimidasi. Perasaan Nadine mulai tak enak, ada apa nih?, batin Nadine tak tenang.


“pagi bos, tadi panggil saya?” tanya Nadine setenang mungkin, ia merasa ada sesuatu yang tak beres.


“iya, duduk.” Sam menunjuk kursi didepan mejanya. Nadine langsung duduk menurut.


“jadi, langsung aja. Alasan kamu saya panggil pagi-pagi begini untuk minta jawaban kamu. Kemarin saya cek hasil kerja kamu, saya mau tanya...kamu selalu cek barang ga sebelum kamu kerja?” Sam mulai mengintrogasi Nadine, membuatnya gugup.


“eeenngh, cek...memang ada apa Pak?” tanya Nadine mulai was-was.


“kalau kamu cek, kenapa bisa laporan ini ada di saya?” Sam menyodorkan selembar kertas kehadapan Nadine.


Nadine membacanya dengan teliti. Tertera di sana kesalahan yang telah ia buat yang menjadi alasan kenapa ia dipanggil bos sepagi ini.


“coba jelaskan kalau memang kamu cek barang kenapa bisa kamu gabungkan barang model right dengan model left, apa kamu tak tau model? Semua barang yang ada didaftar salah pasang. Nadine, sudah berapa kali saya peringatkan kamu kalau kerja wajib untuk cek barang, kalau sudah begini siapa mau tanggung jawab? Kalau hanya ada satu dua kesalahan saya masih bisa sembunyikan, tapi kalau sudah ada satu daftar begini bagaimana saya harus sembunyikan? Kita semua akan dapat masalah kalau sudah begini,” Sam menjamu Nadine di pagi hari dengan rentetan komplain di pagi hari, membuat mood Nadine sudah rusak di pagi hari yang cerah ini.


“karena ini sudah pelanggaran yang serius, maaf Nadine saya tidak bisa menolong kamu, saya harus keluarkan surat peringatan. Dan mungkin ini akan berakibat pada bonus kamu di bulan depan.” Ucap Sam sembari menyodorkan selembar formulir peringatan yang harus Nadine isi.


Tanpa banyak kata, Nadine hanya diam mendengarkan dan mengamati formulir yang disodorkan kepadanya. Wah, mampus gue. Batin Nadine.


“sebenarnya kenapa kamu bisa sampai salah begitu? Sampai ada satu daftar pula?” tanya Sam penasaran, karena walaupun Nadine sering membuat kesalahan tapi tak pernah sampai satu daftar begini.


“saya juga tak tau Pak, mungkin saya sedang banyak pikiran, akhir-akhir ini saya memang merasa lelah juga karena sulit tidur.” Aku Nadine, memang tak sepenuhnya salah.


“memang apa sih yang membuatmu banyak fikiran sampai-sampai tak fokus begitu, heran saya. Ini, kamu isi ya formulir itu, karena mau tak mau kamu tetap harus mendapat hukuman karena perbuatan mu yang merugikan perusahaan.” Ucap Sam.


Nadine mau tak mau mengisi formulir itu, ini pagi yang benar-benar buruk, hancur sudah reputasi kerjanya karena ini. Kesalahannya ini memang bukan yang pertama, tapi kalau sudah begini pasti akan ada efek di bonusnya nanti, atau parahnya di akan mendapat pantauan dari atasannya, dan ini adalah kabar buruk.


‘pagi yang hebat ya Nadine’ sindirnya pada diri sendiri karena kebodohannya.


Setelah itu Nadine bekerja seperti biasa, tapi kali ini ia benar-benar fokus. Bahkan ia sama sekali tak menyadari Arka yang mondar-mandir ketempat nya. Ia terlalu sibuk hari ini. Arka memperhatikan Nadine diam-diam, iya tau ada yang tak beres dari gadis itu. Nadine bekerja dengan sangat hati-hati tak seperti biasanya.


Karena merasa diperhatikan, Nadine mengangkat kepalanya dan tak sengaja pandangannya bertemu dengan Arka, membuat keduanya langsung dilanda kecanggungan. Arka melempar senyum pada Nadine dan mengangkat tangannya hendak melambai, tapi Nadine dengan cepat memalingkan pandangannya kembali menunduk dan melakukan pekerjaannya lagi.


‘hgg sialan, please lah, jangan buat mood tambah jelek,’ batin Nadine.


Nadine menulis sebuah status di whatapp-nya


‘ya Allah lindungilah hamba dari godaan syaitan yang terkutuk, baik dari golongan jin maupun dari golongan MANUSIA’