My Ex

My Ex
Senjata Kai



Hari ini Askara telah mengumpulkan beberapa orang yang terlibat dalam sekelompok orang yang sedang bermain di perusahaan. Selain Shela dan juga Bagas, ada juga seorang manager keuangan sudah tertangkap tangan oleh Askara dengan sebuah bukti yang jelas. Bahwa ada satu orang yang menjabat sebagai seorang direktur. Satu-satunya orang kepercayaan Askara. Dan hari ini tanpa rasa perikemanusiaan Aksara memutuskan untuk memberhentikan para tikus nakal yang tidak tahu diri. Sudah diberikan hati malah Ingin mencuri jantungnya. Sungguh sebuah tindakan yang sangat tidak terpuji.


"Dengan berat hati aku tidak bisa memelihara tikus-tikus nakal seperti kalian. Beruntunglah kalian karena aku tidak melaporkan kalian kepada polisi," kata Askara kepada tikus hasil tangkapannya.


Tidak ada yang berani untuk mengucapkan satu kata. Semua hanya terdiam merasa sangat malu karena apa yang mereka lakukan selama ini telah diketahui oleh bosnya secara langsung. Termasuk pelecehan yang dialami oleh Asha.


"Namun, meskipun begitu kalian tetap harus bertanggung jawab dengan apa yang telah kalian lakukan! Segera bersihkan nama Asha, atau berita ini akan menyebarluaskan. Terlebih kamu Shela! Aku rasa kamu adalah otak dibalik semua kejahatan ini."


Saat ini tubuh Shela bergemetar dengan hebat. Sebenarnya Shela tidak ikut dalam pencucian dana perusahaan. Dia hanya memanfaatkan orang-orang untuk menyingkirkan Asha.


"Maa ... maafkan saya, Pak. Saya memang bersalah tetapi saya tidak turut dalam pencucian dana perusahaan. Saya berani bersumpah, saya tidak ikut dengan mereka." Shela berbicara dengan gugup.


"Lalu apa tujuannya bergabung dalam kegiatan mereka? Bukankah saat ini jabatan pekerjaanmu sudah bagus?"


Kepala Shela menunduk. Sungguh dirinya sangat takut untuk memberikan sebuah jawaban kepada Askara.


"Shela, bisa kamu jelaskan alasan mengapa kamu begitu tega menyuruh orang untuk melecehkan seseorang? Bukankah kamu juga seorang wanita? Bagaimana jika kejadian itu menimpa kamu? Apa yang akan kamu lakukan? Aku yakin kamu akan frustasi dan akan menjadi gila. Jangan pikir aku tidak tahu apa yang telah kamu lakukan kepada Asha. Selain menyuruh orang untuk melecehkan, kamu juga membawaku dan Asha ke kamar hotel. Kamu kira aku tidak tahu akan hal itu?" Askara menjeda ucapannya untuk mengambil nafas.


"Apakah harus aku jelaskan jika kamu adalah orang yang telah menyebarkan foto Asha dan kamu juga orang yang telah memfitnah Kaisar. Bahkan kamu juga mengompori beberapa orang untuk mendepak Kaisar dari perusahaan ini. Sayangnya kamu kamu sedang kurang beruntung karena aku sudah mengetahui semuanya," tandas Askara.


"Ta .. tapi saya terpaksa melakukannya, Pak. Saya diancam oleh adik Anda. Jika saya tidak menuruti perintahnya maka dia akan menyebarluaskan aib saya. Saya hanya korban, Pak," jelas Shela.


Askara tersenyum tipis kearah Shela. Bahkan sekalipun Shela tidak mengatakan jika Karina ikut andil dalam masalah ini, Askara tetap menaruh rasa curiga kepada Karina, karena hanya dia satu-satunya orang yang tidak menyukai Asha.


"Tetap saja kamu bersalah, Shela! Mulai hari ini kamu sudah bukan karyawan di perusahaan ini. Kalian semua dipecat dengan tidak hormat. Jika tidak setuju silakan ajukan banding dan hubungi pengacara ku!"


Bagi Askara tidak rugi untuk mengeluarkan orang-orang yang tidak bermanfaat di dalam perusahaan. Bahkan orang-orang seperti ini memang patut untuk dibasmi sebelum menjadi sebuah virus. Kini Askara sedikit bisa bernafas karena telah menyingkirkan tikus yang bersemayam di perusahaan. Tinggal mengurus Karina yang tidak tahu diri.


🌼🌼🌼


Karena telah berhasil menguak jika kejahatan yang tersembunyi, Kaisar mendapat apresiasi dari Askara. Kini dia diberikan cuti selama satu minggu. Betapa bahagianya Kaisar bisa mendapatkan cuti tanpa harus memohon terlebih dahulu. Satu Minggu bagi Kaisar akan serasa seperti 1 tahun jika dia menghabiskan masa cutinya bersama dengan Kania. Tidak ingin membuang waktu cutinya begitu saja, Kai berinisiatif untuk mengajak Kania liburan.


"Tapi bagaimana dengan pekerjaanku, Kai?" tanya Kania saat Kai mengungkapkan keinginannya untuk liburan.


"Kamu ambil cuti juga dong, Kan!"


"Tapi ambil cuti secara mendadak itu tidak bisa, Kai? Bos aku pasti nggak akan memberikan cuti untukku."


"Kamu tenang aja aku yang akan berbicara pada Bosmu. Aku punya bos Askara yang bisa menanganinya," ujar Kaisar.


"Nah ... ide bagus itu, Kai! Sekali-kali punya Bos itu dimanfaatin kan? Oke, jika Askara yang maju aku percaya dia bisa menyelesaikannya. Gak kayak kamu!"


Sesuai dengan ide yang mengalir, Kai langsung meminta bantuan bosnya untuk memintakan izin cutinya Kania.


"Hah? Kamu masih waras yang belum gila kan, Kai? Yang benar saja kamu menyuruhku untuk memintakan cuti Kania? Kania itu bukan karyawanku, Kai. Mana bisa aku membantunya." Askara mendengkus kasar saat mendengar permintaan Kai.


"Siapa bilang tidak bisa? Tentu saja bisa Bos, karena perusahaan tempat Kania bekerja itu dibawah naungan perusahaan kita. Itu sama aja, Bos masih memiliki wewenang untuk memberikan izin. Ayolah Bos, temui bosnya Kania dan mintakan izin cuti Kania, Bos," rengek Kaisar.


"Hei ... kamu jangan durhaka kepada bosmu, ya! Mana ada seorang bos dipaksa untuk mengemis!" protes Askara.


"Ayolah Bos. Kali ini aja, ya. Please"


"Tidak! Itu sama saja menjatuhkan harga diriku, Kai. Aku tidak mau!" tolak Aksara.


"Tapi Bos..." Kai memasang wajah kesalnya. "Sudahlah jika bos tidak mau, aku bujuk saja Asha." Seketika Kai menjulurkan lidahnya seolah sedang mengejek Askara.


"Kai! Jangan macam-macam kamu, ya!" teriak Askara saat melihat Kai telah berlari meninggalkan ruang kerjanya.


"Apa hubungannya dengan Asha, coba!" gerutu Askara.


Kai tersenyum lebar saat dihidangkan secangkir kopi untuknya. Tidak mungkin seorang Asha akan menolak keinginannya, secara dia sudah menganggap Kania sebagai keluarganya sendiri. Dengan mengiba kepada Asha sama artinya membuka jalan agar bosnya mengabulkan keinginannya. Saat ini kelemahan Askara ada pada Asha. Tidak mungkin Askara menolak keinginan Asha. Jika sampai berani, itu sama saja Askara memilih untuk tidur di luar.


"Ada apa, Kai? Mengapa tiba-tiba datang kesini? Lalu dimana Kara?" tanya Asha


Kai menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sambil nyengir Kai berkata, "Em.. itu Sha." Kai menjeda ucapannya.


"Apa, Kai?" Asha merasa tidak sabar untuk mendengar cerita dari Kaisar.


"Itu Sha. Sebenarnya bos Askara memberikan aku izin cuti selama satu minggu dan aku ingin menggunakannya untuk liburan bersama dengan Kania. Tapi kamu kan tahu sendiri kalau Kania itu gak bisa mengajukan cuti secara dadakan. Nah, jadi kedatanganku ke sini itu mau minta tolong bujuk pak bos agar mau memintakan izin cuti untuk Kania. Karena jika bos Aksara yang meminta izin, pasti akan di acc. Secara itu perusahaan ada dibawah naungan perusahaan milik pak Bos," jelas Kai panjang lebar.


Asha hanya mengangguk pelan. "Jadi kenapa kamu gak ngomong sendiri sama Kara. Kan dia ada di kantor," ujar Asha.


"Nah, masalahnya itu pak bos gak mau bantuin, Sha. Kamu tahu sendiri kan untuk mendapatkan waktu cuti itu tidaklah mudah. Ini mumpung bos masih waras dan selama ini aku juga belum pernah membawa Kania berlibur, Sha. Masa kamu juga akan tega sih? Padahal Kania juga udah gak sabar bisa liburan bareng, lho."


Semenjak Asha terdiam. Tidak ada salahnya untuk membantu Kai. Toh dia akan membahagiakan Kania. "Baiklah, aku akan bantu kamu untuk membujuk Kara."


Kai melebarkan senyumnya. Tidak salah lagi dia bisa memanfaatkan Asha. "Serius Sha? Kamu pastikan ya kalau dia akan turun tangan."


"Siap."


Dalam hati Kai berteriak dengan riang. Memangnya hanya Askara saja yang bisa mengancam dirinya dengan jurus andalan. Kini Kai juga punya jurusan dalam untuk menundukkan bosnya.