
Saat ini kami sedang berkumpul di
kantin bersama-sama. Disini ada aku, Ratu, Serli, Irene dan Okta. Kami sedang
bercanda bersama, hingga Chacha dan Amel dan melewat dan dengan sengaja
menumpahkan jus strawberry pada bajuku, membuatku terpekik kaget.
“Ops, sorry” ujar Amel dengan gaya
sokpolosnya yang membuatku muak melihatnya.
“Apa maksud lu?” pekik Serli kesal. Aku
langsung berdiri dan mengelap pakaianku dengan tissue.
"Kalian lagi, dua saudara pencari
keributan. Pergi kalian berdua dari sini!" usir Okta kesal.
“Jangan ikut campur Crocodile!Ini jelas bukan kesalahan Amel,” bela Chacha.
“Heh Nenek Lampir cerewet, gue
punya mata dan gue lihat sahabat penyihir lu ini yang sengaja menyiram Lita!” bela Okta.
“Berarti mata lu katarak,
Crocodile!” ujar Chacha.
“Lu benar-benar buat gue naik darah
yah Nenek Lampir, lu bukan hanya titisan dari Penyihir jahat. Tapi lu juga
titisan unggas, udah kayak bebek saja cerewet.” ujar Okta kesal.
“Lu!!!!!” Chacha emosi dan hendak
memukul Okta tetapi di tahan oleh Okta.
“Dan sekolahkan juga tangan cantik
lu ini. Sayang sekali kan gunanya hanya buat mukulin orang aja.” Okta menghempaskan
tangan Chacha membuat Chacha semakin kesal..
"Lu bisa jaga sikap lu gak sih Cha?Gue makin gak kenal saja sama lu
sekarang,"
ujar Ratu.
"Bela saja terus wanita murahan
ini. Kalian semua belum ngerasain gimana rasa sakitnya ditusuk dari belakang
oleh seseorang yang ngakunya sahabat sendiri!" ucap Chacha tajam menatap
Ratu dan Serli. Aku
mencoba menekan hatiku yang terasa perih mendengar ucapan Chacha.
“Susah memang bicara sama Nenek
Lampir!”
ujar Okta.
“Sudahlah guys, biarin saja,” ujarku menengahi mereka yang
terlihat kesal.
"Ayo Cha, kita pergi dari sini." Amel mengajak Chacha
pergi.
“Pergi lu sono yang jauh, sekalian
pergi ke neraka jahanam.” teriak Okta terlihat kesal.
“Lu kayak cewek, Gator.”celetuk Irene membuat yang lain
terkikik.
“Gue sebel sama kedua titisan
penyihir jahat itu. Heh Lita, lu yang jadi putri saljunya kan. Siram deh
mereka sama air kobokan atau comberan biar meleleh tubuhnya,” ujar Okta kesal membuat kami
terkekeh.Kata-katanya
yang gak masuk akal itu sungguh menghibur kami.
“Ada-ada saja lu, udah ah gue ke
toilet dulu.” Akuberanjak pergi meninggalkan mereka semua.
---
Di dalam kamar mandi aku menangis
sejadi-jadinya. Aku
mengeluarkan segala kesakitan yang ada di hatiku. Ucapan Chacha begitu
menyakitkan, kita bersahabat sudah sangat lama dan dia begitu tega menilaiku
Serendah ini. Aku berusaha tegar di hadapan Serli, Ratu, dan yang lainnya, aku
tidak ingin mereka mengasihaniku. Aku tidak ingin mereka jadi ikut membenci
Chacha karena aku. Setelah merasa cukup lega, aku keluar dari toilet dan
membasuh muka mengerikanku ini. Aku harus bisa menekan sakit hati ini
dalam-dalam, aku harus menjadi wanita yang kuat dan tidak cengeng. Setelah
merasa lebih baik, akupun keluar dari toilet dan kaget saat melihat Kak Dhika
sedang berdiri tak jauh di depanku.
Dia tersenyum manis padaku,
membuatku membalas senyumannya dengan gugup. Aku berjalan mendekatinya, dan
kini sudah berdiri tepat di hadapannya.
"Pakai ini." Tiba-tiba saja Kak Dhika
memakaikan jaketnya ke tubuhku, membuatku kebingungan."Baju kamu basah dan kotor, jadi
Pakai jaket ini untuk menutupi baju kamu yang kotor." ujarnya tersenyum manis
membuatku merona mendapatkan perhatian dari Kak Dhika.
"Kebesaran yah," ia memperhatikan penampilanku, kemudian Kak Dhika mulai merapihkan jaket yang ku Pakai sehingga membuatku nyaman
memakainya dan tidak terlalu kelihatan kebesaran. "Seperti ini tidak terlalu buruk," komentarnya membuatku tersenyum
senang.
"Makasih yah Kak," cicitku dan dia hanya
tersenyum saja memandangku.
"Masih ada kelas?" tanya Dhika.
"Masih Kak, satu mata kuliah lagi," seruku.
"Baiklah, aku tunggu di ruang senat
yah. Kalau selesai kabarin," ucapnya membelai kepalaku dan berlalu pergi
dengan senyuman manisnya.
Ya Tuhan, apa yang baru saja Kak
Dhika lakukan padaku? Aku merasa terbang ke awang-awang. Dia benar-benar
berhasil mengembalikan moodku menjadi lebih baik. Aku kembali berjalan menuju
kelasku dengan sangat bahagia.
Aku berjalan menuju kelas untuk mengikuti mata kuliah terakhir, tetapi langkahku dihadang
oleh Serli, Ratu, Irene dan Okta.
"Lu gak apa-apa kan, Tha?" tanya Serli terlihat khawatir.
"Iya, gue baik-baik saja," jawabku menenangkan
mereka.
"Kayaknya yang udah bikin Lita baik, yang punya
jaket itu deh,"
ujar Okta tersenyum geli.
"Eh itu kan jaket kak Dhika," ujar Irene.
"Iya malahan jaket favoritnya Dhika," kekeh Okta. Masa sih?
"Cie..cie... yang abis ditolongin sama kak Dhika," goda Ratu membuatku malu
karena di godain mereka semua.
***
Saat
ini akudi dalam mobil Kak Dhika.Kak Dhika terlihat fokus menyetir, dan hanya
alunan musik yang menemani perjalanan kami. Sesekali Kak Dhika ikut bernyanyi mengikuti alunan musik. Suaranya memang bagus.
"Mau makan dulu?" ajak Kak Dhika.
"Gimana Kakak saja."
"Oke, kita ke café aja yah." Aku hanya mengangguk tanda setuju.
Kami sampai di café milik Kak Dhika. Dia mengajakku untuk makan bersama diruangan miliknya. Sebelum masuk ke dalam
ruangan, kami telah memesan makanan terlebih dulu.
"Ini ruangan Kakak yah, luas banget." Aku menatap ruangan Kak Dhika yang luas dengan perpaduan warna putih
tulang dan abu. Tidak banyak barang didalamnya hanya ada meja dan kursi kebesaran
milik Kak Dhika
dan juga sofa.
"Ya begitulah Tha. Terkadang aku suka tidur disini. Jadi pengen
senyaman mungkin tempatnya,"
ujar Kak Dhika.
"Lho memang Kakak gak tinggal sama orangtua
Kakak?"
"Nggak, orangtua aku tinggal di Jakarta. Aku
disini cuma tinggal di apartement saja," jawab kak Dhika.
"Oh gitu yah."
Obrolan kami terhenti saat seorang waiters datang mengantarkan pesanan kami.
"Makasih yah," ujar Kak Dhika dan waiters itupun keluar ruangan setelah
menata makanan diatas meja.
"Ayo makan dulu, Tha." Kami sama-sama duduk di
atas sofa.
"Steak tenderloin dan greentea. Kamu suka sama
makanan ini?" tanya kak Dhika.
"Iya Kak, aku suka banget. Soalnya tenderloin kan gak
ada lemaknya terus
greentea kan bagus buat tubuh."jelasku.
"Benar-benar calon Dokter, makananpun harus sehat," kekehnya membuatku merasa
malu.
"Kakak
berlebihan."
Kami pun sama-sama menikmati makan siang kami dalam keadaan diam dan sIbuk dengan makanan
masing-masing.
“Eh?” Aku kaget saat tangan Kak Dhika menyentuh sudut
bibirku.
"Ini ada sambal," ujarnyamenunjukkan noda di
“Pelan-pelan saja makannya," ujar Kak Dhika membuatku merasa salah
tingkah dan gugup. Aku hanya bisa tersenyum kecil dan menundukkan kepala fokus
dengan makananku. Duh bisa-bisanya aku buat malu.
"Lita,
sebenarnya ada masalah apa sih antara kamu sama Clarisa dan Amel? Kok kayaknya kalian sering banget berdebat
bahkan sampai berkelahi?" tanya Kak Dhikasaat kami menyelesaikan
makan siang kami.
Aku sempat kaget mendengar pertanyaan kak Dhika. Dan aku
harus menjawab apa sekarang. Perselisihan di antara kami hanya karena seorang
laki-laki. Sungguh memalukan...
"Maaf lho bukannya aku mau ikut campur, tapi
kalau kamu gak mau cerita juga tidak apa-apa kok, Tha. Gak usah bingung gitu," ujarnya.
"Apa Kakak ingin mengetahuinya?"
"Iya, kalau kamu tidak keberatan," ujar Kak Dhika dan aku pun mulai menceritakan kejadian yang menimpa
persahabatan mereka. Walau memalukan tetapi inilah faktanya.
"Chacha
sungguh kekanak-kanakan,"
ucap Kak Dhika.
"Begitulah Kak, aku juga gak paham dengan Chacha. Sebenernya aku kecewa padanya. Apalagi dia tidak mau mempercayaiku."
"Lalu apa kamu menyukai Ricky?" tanya Kak Dhika membuatku menatap ke
arahnya yang tengah menatap ke arahku.
Kebenarannya kini Chacha memang sedang dekat dengan kak
Ricky, dan aku memang sempat berharap padanya.
"Kak Ricky? Dulu aku sempat mengaguminya, karena
dia sangat baik dan sopan." Aku mengatakan yang sebenarnya aku rasakan.
"Sekarang gimana perasaan kamu sama dia?"
tanya Kak Dhika seakan
ingin tau dengan sangat jelas.
"Tetap sama, hanya mengaguminya saja."
Kini Kak Dhika hanya ber-oh saja dan tidak membahas
apapun lagi. Sebenarnya apa maksud dia menanyakan hal itu?
***
Aku baru
saja selesai memfotocopy tugas di koperasi kampus. Baru keluar dari pintu
koperasi, aku melihat Kak Ricky
tengah berjalan ke arahku.
Gawat!!! Aku takut Kak Ricky
melihatku dan menanyakan hal yang sama yaitu jawaban pernyataan dari
ungkapan cinta Kak Ricky semalam lewat pesan. Sebenarnya sudah aku jawab
kalau aku belum ingin berpacaran, tetapi sepertinya jawabanku belum memuaskan
bagi kak Ricky dan ingin mengobrol secara langsung denganku.
Tanpa
pikir panjang lagi, aku langsung mengambil arah berlawanan dengannya. Aku juga sedikit mempercepat langkahku
dan terus menoleh ke belakang takut Kak Ricky terus mengejarku..
"Lita
!!!" panggil kak Ricky. Aku berusaha tidak menghiraukannya dan terus berjalan menuju
fakultas.
Bruk
Aku bertabrakan dengan seseorang membuat tubuhku oleng dan kertas yang aku genggam terlempar ke udara. Aku
sudah memejamkan matanya saat tubuh ini hampir membentur lantai marmer, sepasang tangan kekar menahan tubuhku dengan
merengkuh pinggangku dan membuatku jatuh ke dalam pelukannya dan hangat dari
dada bidangnya..
Kedua
mata kami beradu penuh makna, kertas yang aku pegang tadi berterbangan diudara itu berjatuhan ke lantai.Aku mengerjapkan mataku beberapa kali membuat sang
penolong itu membantuku berdiri tegak.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya sang penolong melepaskan rengkuhan tangannya di pinggangku membuatku bergerak mundur menjauh
darinya. Sang
penolong ini lagi-lagi adalah kak Dhika.
"Aku
baik-baik saja,
makasih kak Dhika." Aku tersenyum malu-malu. Setelah itu aku langsung memunguti kertas yang berada dilantai
dibantu kak Dhika.
***
Aku baru saja keluar
dari kelas dan tiba-tiba seseorang menarik Paksa tanganku dan membawaku kebelakang fakultas Kedokteran.
"Lepasin aku kak Ricky!" Akuberusaha melepaskan
cengkraman tangan dari kak Ricky. Akhirnya setelah aku menghempaskan tangannya,
pegangannya terlepas.
"Kenapa kamu selalu menghindariku, Lita?
Kenapa?" tanya Ricky.
"Aku gak menghindari Kakak, aku hanya sedang
banyak tugas."
"BOHONG!"
bentaknya membuatku kaget dan ada rasa takut. Aku belum pernah
di bentak oleh seorang pria sebelumnya.
“Jawab
kenapa kamu nolak aku?" tanya Ricky.
"Aku merasa kurang cocok aja sama Kakak dan aku
juga ingin fokus pada study ku."
jawabku. "Aku
pergi dulu yah Kak."
Aku hendak berlalu pergi tetapi Ricky langsung memegang tanganku dan
membenturkan punggungku ke dinding di belakangku. Kemudian tubuhnya mengungkung
tubuhku hingga aku tidak bisa bergerak.
“Kamu mau apa?”
“Kamu pikir aku akan melepaskan kamu begitu saja, hm?”
serunya mencengkram kedua pipiku.
“Jangan
macam-macam!”
“Memangnya
kenapa? Kamu pikir aku bodoh dan mudah kamu tipu. Aku tau kamu sedang dekat
dengan Dhika si ketua senat itu. Tetapi jangan harap kamu bisa bersamanya.”
“Apa
maksudmu?”
“Kamu
hanya akan menjadi milikku, Thalita.” Senyumannya sangat menakutkan dan aku
mulai merasa sakit di pipiku yang di cengkram olehnya.
“Ck,
tidak tau malu mengusik wanita yang sudah menolakmu!” seruan itu membuatku dan
Ricky menoleh ke sumber suara.
Kak
Daniel... Kak Dhika... akhirnya....
“Lepaskan
dia, Ricky!” seru Kak Dhika penuh penekanan. Tatapannya yang tajam begitu
menakutkan seperti singa yang siap menerkam mangsanya.
Ricky akhirnya melepaskan cengkramannya.
“Apa mau
kalian, jangan ganggu urusanku!” seru Ricky.
“Come on
Man, kamu bilang urusanmu? Tapi kamu malah menyakitinya. Sayangnya aku tidak
suka melihat seorang wanita tertindas,” seru kak Daniel.
"Lu mau tau, kenapa Lita nolak lu?" Tanya kak
Dhikaberjalan mendekati kami."Karena dia cewek gue!" ucap kak Dhika seraya
menarik tanganku dan membawaku berdiri di belakang tubuhnya. Ia menjadikan
dirinya sebagai tameng untukku.
"Apa
benar kalian sudah jadian?” tanya kak Ricky melihat ke arahku dengan tatapan terluka.
"I-iya Kak," cicitku, akhirnya mengikuti sandiwara yang Kak Dhika buat.
“Sudah dengar, bukan? Jadi
sedang apa masih berdiri di sini? Pergi sana!” usir kak Daniel membuat kak
Ricky pergi meninggalkan kami bertiga.
“Kamu baik-baik saja?”
tanya kak Dhika memperhatikan aku.
“Aku baik-baik saja,
terima kasih kalian datang menolongku.”
“Jangan sungkan, dan
anggap serius saja ucapan Dhika tadi,” seru kak Daniel.
“Eh?”
“Ck, jangan di dengarkan.
Ayo aku antar kamu ke kelas,” serunya menarik pergelangan tanganku meninggalkan
kak Daniel sendirian.
***