My Ceo

My Ceo
Episode 64



Saat ini kami sedang berkumpul di


kantin bersama-sama. Disini ada aku, Ratu, Serli, Irene dan Okta. Kami sedang


bercanda bersama, hingga Chacha dan Amel dan melewat dan dengan sengaja


menumpahkan jus strawberry pada bajuku, membuatku terpekik kaget.


“Ops, sorry” ujar Amel dengan gaya


sokpolosnya yang membuatku muak melihatnya.


“Apa maksud lu?” pekik Serli kesal. Aku


langsung berdiri dan mengelap pakaianku dengan tissue.


"Kalian lagi, dua saudara pencari


keributan. Pergi kalian berdua dari sini!" usir Okta kesal.


“Jangan ikut campur Crocodile!Ini jelas bukan kesalahan Amel,” bela Chacha.


“Heh Nenek Lampir cerewet, gue


punya mata dan gue lihat sahabat penyihir lu ini yang sengaja menyiram Lita!” bela Okta.


“Berarti mata lu katarak,


Crocodile!” ujar Chacha.


“Lu benar-benar buat gue naik darah


yah Nenek Lampir, lu bukan hanya titisan dari Penyihir jahat. Tapi lu juga


titisan unggas, udah kayak bebek saja cerewet.” ujar Okta kesal.


“Lu!!!!!” Chacha emosi dan hendak


memukul Okta tetapi di tahan oleh Okta.


“Dan sekolahkan juga tangan cantik


lu ini. Sayang sekali kan gunanya hanya buat mukulin orang aja.” Okta menghempaskan


tangan Chacha membuat Chacha semakin kesal..


"Lu bisa jaga sikap lu gak sih Cha?Gue makin gak kenal saja sama lu


sekarang,"


ujar Ratu.


"Bela saja terus wanita murahan


ini. Kalian semua belum ngerasain gimana rasa sakitnya ditusuk dari belakang


oleh seseorang yang ngakunya sahabat sendiri!" ucap Chacha tajam menatap


Ratu dan Serli. Aku


mencoba menekan hatiku yang terasa perih mendengar ucapan Chacha.


“Susah memang bicara sama Nenek


Lampir!”


ujar Okta.


“Sudahlah guys, biarin saja,” ujarku menengahi mereka yang


terlihat kesal.


"Ayo Cha, kita pergi dari sini." Amel mengajak Chacha


pergi.


“Pergi lu sono yang jauh, sekalian


pergi ke neraka jahanam.” teriak Okta terlihat kesal.


“Lu kayak cewek, Gator.”celetuk Irene membuat yang lain


terkikik.


“Gue sebel sama kedua titisan


penyihir jahat itu. Heh Lita, lu yang jadi putri saljunya kan. Siram deh


mereka sama air kobokan atau comberan biar meleleh tubuhnya,” ujar Okta kesal membuat kami


terkekeh.Kata-katanya


yang gak masuk akal itu sungguh menghibur kami.


“Ada-ada saja lu, udah ah gue ke


toilet dulu.” Akuberanjak pergi meninggalkan mereka semua.


---


Di dalam kamar mandi aku menangis


sejadi-jadinya. Aku


mengeluarkan segala kesakitan yang ada di hatiku. Ucapan Chacha begitu


menyakitkan, kita bersahabat sudah sangat lama dan dia begitu tega menilaiku


Serendah ini. Aku berusaha tegar di hadapan Serli, Ratu, dan yang lainnya, aku


tidak ingin mereka mengasihaniku. Aku tidak ingin mereka jadi ikut membenci


Chacha karena aku. Setelah merasa cukup lega, aku keluar dari toilet dan


membasuh muka mengerikanku ini. Aku harus bisa menekan sakit hati ini


dalam-dalam, aku harus menjadi wanita yang kuat dan tidak cengeng. Setelah


merasa lebih baik, akupun keluar dari toilet dan kaget saat melihat Kak Dhika


sedang berdiri tak jauh di depanku.


Dia tersenyum manis padaku,


membuatku membalas senyumannya dengan gugup. Aku berjalan mendekatinya, dan


kini sudah berdiri tepat di hadapannya.


"Pakai ini." Tiba-tiba saja Kak Dhika


memakaikan jaketnya ke tubuhku, membuatku kebingungan."Baju kamu basah dan kotor, jadi


Pakai jaket ini untuk menutupi baju kamu yang kotor." ujarnya tersenyum manis


membuatku merona mendapatkan perhatian dari Kak Dhika.


"Kebesaran yah," ia memperhatikan penampilanku, kemudian Kak Dhika mulai merapihkan jaket yang ku Pakai sehingga membuatku nyaman


memakainya dan tidak terlalu kelihatan kebesaran. "Seperti ini tidak terlalu buruk," komentarnya membuatku tersenyum


senang.


"Makasih yah Kak," cicitku dan dia hanya


tersenyum saja memandangku.


"Masih ada kelas?" tanya Dhika.


"Masih Kak, satu mata kuliah lagi," seruku.


"Baiklah, aku tunggu di ruang senat


yah. Kalau selesai kabarin," ucapnya membelai kepalaku dan berlalu pergi


dengan senyuman manisnya.


Ya Tuhan, apa yang baru saja Kak


Dhika lakukan padaku? Aku merasa terbang ke awang-awang. Dia benar-benar


berhasil mengembalikan moodku menjadi lebih baik. Aku kembali berjalan menuju


kelasku dengan sangat bahagia.


Aku berjalan menuju kelas untuk mengikuti mata kuliah terakhir, tetapi langkahku  dihadang


oleh Serli, Ratu, Irene dan Okta.


"Lu gak apa-apa kan, Tha?" tanya Serli terlihat khawatir.


"Iya, gue baik-baik saja," jawabku menenangkan


mereka.


"Kayaknya yang udah bikin Lita baik, yang punya


jaket itu deh,"


ujar Okta tersenyum geli.


"Eh itu kan jaket kak Dhika," ujar Irene.


"Iya malahan jaket favoritnya Dhika," kekeh Okta. Masa sih?


"Cie..cie... yang abis ditolongin sama kak Dhika," goda Ratu membuatku malu


karena di godain mereka semua.


***


Saat


ini akudi dalam mobil Kak Dhika.Kak Dhika terlihat fokus menyetir, dan hanya


alunan musik yang menemani perjalanan kami. Sesekali Kak Dhika ikut bernyanyi mengikuti alunan musik. Suaranya memang bagus.


"Mau makan dulu?" ajak Kak Dhika.


"Gimana Kakak saja."


"Oke, kita ke café aja yah." Aku hanya mengangguk tanda setuju.


Kami sampai di café milik Kak Dhika. Dia mengajakku untuk makan bersama diruangan miliknya. Sebelum masuk ke dalam


ruangan, kami telah memesan makanan terlebih dulu.


"Ini ruangan Kakak yah, luas banget." Aku menatap ruangan Kak Dhika yang luas dengan perpaduan warna putih


tulang dan abu. Tidak banyak barang didalamnya hanya ada meja dan kursi kebesaran


milik Kak Dhika


dan juga sofa.


"Ya begitulah Tha. Terkadang aku suka tidur disini. Jadi pengen


senyaman mungkin tempatnya,"


ujar Kak Dhika.


"Lho memang Kakak gak tinggal sama orangtua


Kakak?"


"Nggak, orangtua aku tinggal di Jakarta. Aku


disini cuma tinggal di apartement saja," jawab kak Dhika.


"Oh gitu yah."


Obrolan kami terhenti saat seorang waiters datang mengantarkan pesanan kami.


"Makasih yah," ujar Kak Dhika dan waiters itupun keluar ruangan setelah


menata makanan diatas meja.


"Ayo makan dulu, Tha." Kami sama-sama duduk di


atas sofa.


"Steak tenderloin dan greentea. Kamu suka sama


makanan ini?" tanya kak Dhika.


"Iya Kak, aku suka banget. Soalnya tenderloin kan gak


ada lemaknya terus


greentea kan bagus buat tubuh."jelasku.


"Benar-benar calon Dokter, makananpun harus sehat," kekehnya membuatku merasa


malu.


"Kakak


berlebihan."


Kami pun sama-sama menikmati makan siang kami dalam keadaan diam dan sIbuk dengan makanan


masing-masing.


            “Eh?” Aku kaget saat tangan Kak Dhika menyentuh sudut


bibirku.


"Ini ada sambal," ujarnyamenunjukkan noda di


“Pelan-pelan saja makannya," ujar Kak Dhika membuatku merasa salah


tingkah dan gugup. Aku hanya bisa tersenyum kecil dan menundukkan kepala fokus


dengan makananku. Duh bisa-bisanya aku buat malu.


"Lita,


sebenarnya ada masalah apa sih antara kamu sama Clarisa dan Amel? Kok kayaknya kalian sering banget berdebat


bahkan sampai berkelahi?" tanya Kak Dhikasaat kami menyelesaikan


makan siang kami.


Aku sempat kaget mendengar pertanyaan kak Dhika. Dan aku


harus menjawab apa sekarang. Perselisihan di antara kami hanya karena seorang


laki-laki. Sungguh memalukan...


"Maaf lho bukannya aku mau ikut campur, tapi


kalau kamu gak mau cerita juga tidak apa-apa kok, Tha. Gak usah bingung gitu," ujarnya.


"Apa Kakak ingin mengetahuinya?"


"Iya, kalau kamu tidak keberatan," ujar Kak Dhika dan aku pun mulai menceritakan kejadian yang menimpa


persahabatan mereka. Walau memalukan tetapi inilah faktanya.


"Chacha


sungguh kekanak-kanakan,"


ucap Kak Dhika.


"Begitulah Kak, aku juga gak paham dengan Chacha. Sebenernya aku kecewa padanya. Apalagi dia tidak mau mempercayaiku."


"Lalu apa kamu menyukai Ricky?" tanya Kak Dhika membuatku menatap ke


arahnya yang tengah menatap ke arahku.


Kebenarannya kini Chacha memang sedang dekat dengan kak


Ricky, dan aku memang sempat berharap padanya.


"Kak Ricky? Dulu aku sempat mengaguminya, karena


dia sangat baik dan sopan." Aku mengatakan yang sebenarnya aku rasakan.


"Sekarang gimana perasaan kamu sama dia?"


tanya Kak Dhika seakan


ingin tau dengan sangat jelas.


"Tetap sama, hanya mengaguminya saja."


Kini Kak Dhika hanya ber-oh saja dan tidak membahas


apapun lagi. Sebenarnya apa maksud dia menanyakan hal itu?


***


Aku baru


saja selesai memfotocopy tugas di koperasi kampus. Baru keluar dari pintu


koperasi, aku melihat Kak Ricky


tengah berjalan ke arahku.


            Gawat!!! Aku takut Kak Ricky


melihatku dan menanyakan hal yang sama yaitu jawaban pernyataan dari


ungkapan cinta Kak Ricky semalam lewat pesan. Sebenarnya sudah aku jawab


kalau aku belum ingin berpacaran, tetapi sepertinya jawabanku belum memuaskan


bagi kak Ricky dan ingin mengobrol secara langsung denganku.


Tanpa


pikir panjang lagi, aku langsung mengambil arah berlawanan dengannya. Aku juga sedikit mempercepat langkahku


dan terus menoleh ke belakang takut Kak Ricky terus mengejarku..


"Lita


!!!" panggil kak Ricky. Aku berusaha tidak menghiraukannya dan terus berjalan menuju


fakultas.


Bruk


Aku bertabrakan dengan seseorang membuat tubuhku oleng dan kertas yang aku genggam terlempar ke udara. Aku


sudah memejamkan matanya saat tubuh ini hampir membentur lantai marmer, sepasang tangan kekar menahan tubuhku dengan


merengkuh pinggangku dan membuatku jatuh ke dalam pelukannya dan hangat dari


dada bidangnya..


Kedua


mata kami beradu penuh makna, kertas yang aku pegang tadi berterbangan diudara itu berjatuhan ke lantai.Aku mengerjapkan mataku beberapa kali membuat sang


penolong itu membantuku berdiri tegak.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya sang penolong melepaskan rengkuhan tangannya di pinggangku membuatku bergerak mundur menjauh


darinya. Sang


penolong ini lagi-lagi adalah kak Dhika.


"Aku


baik-baik saja,


makasih kak Dhika." Aku tersenyum malu-malu. Setelah itu aku langsung memunguti kertas yang berada dilantai


dibantu kak Dhika.


***


Aku baru saja keluar


dari kelas dan tiba-tiba seseorang menarik Paksa tanganku dan membawaku kebelakang fakultas Kedokteran.


"Lepasin aku kak Ricky!" Akuberusaha melepaskan


cengkraman tangan dari kak Ricky. Akhirnya setelah aku menghempaskan tangannya,


pegangannya terlepas.


"Kenapa kamu selalu menghindariku, Lita?


Kenapa?" tanya Ricky.


"Aku gak menghindari Kakak, aku hanya sedang


banyak tugas."


"BOHONG!"


bentaknya membuatku kaget dan ada rasa takut. Aku belum pernah


di bentak oleh seorang pria sebelumnya.


“Jawab


kenapa kamu nolak aku?" tanya Ricky.


"Aku merasa kurang cocok aja sama Kakak dan aku


juga ingin fokus pada study ku."


jawabku. "Aku


pergi dulu yah Kak."


Aku hendak berlalu pergi tetapi Ricky langsung memegang tanganku dan


membenturkan punggungku ke dinding di belakangku. Kemudian tubuhnya mengungkung


tubuhku hingga aku tidak bisa bergerak.


“Kamu mau apa?”


            “Kamu pikir aku akan melepaskan kamu begitu saja, hm?”


serunya mencengkram kedua pipiku.


            “Jangan


macam-macam!”


            “Memangnya


kenapa? Kamu pikir aku bodoh dan mudah kamu tipu. Aku tau kamu sedang dekat


dengan Dhika si ketua senat itu. Tetapi jangan harap kamu bisa bersamanya.”


            “Apa


maksudmu?”


            “Kamu


hanya akan menjadi milikku, Thalita.” Senyumannya sangat menakutkan dan aku


mulai merasa sakit di pipiku yang di cengkram olehnya.


            “Ck,


tidak tau malu mengusik wanita yang sudah menolakmu!” seruan itu membuatku dan


Ricky menoleh ke sumber suara.


            Kak


Daniel... Kak Dhika... akhirnya....


            “Lepaskan


dia, Ricky!” seru Kak Dhika penuh penekanan. Tatapannya yang tajam begitu


menakutkan seperti singa yang siap menerkam mangsanya.


            Ricky akhirnya melepaskan cengkramannya.


            “Apa mau


kalian, jangan ganggu urusanku!” seru Ricky.


            “Come on


Man, kamu bilang urusanmu? Tapi kamu malah menyakitinya. Sayangnya aku tidak


suka melihat seorang wanita tertindas,” seru kak Daniel.


"Lu mau tau, kenapa Lita nolak lu?" Tanya kak


Dhikaberjalan mendekati kami."Karena dia cewek gue!" ucap kak Dhika seraya


menarik tanganku dan membawaku berdiri di belakang tubuhnya. Ia menjadikan


dirinya sebagai tameng untukku.


"Apa


benar kalian sudah jadian?” tanya kak Ricky melihat ke arahku dengan tatapan terluka.


"I-iya Kak," cicitku, akhirnya mengikuti sandiwara yang Kak Dhika buat.


“Sudah dengar, bukan? Jadi


sedang apa masih berdiri di sini? Pergi sana!” usir kak Daniel membuat kak


Ricky pergi meninggalkan kami bertiga.


“Kamu baik-baik saja?”


tanya kak Dhika memperhatikan aku.


“Aku baik-baik saja,


terima kasih kalian datang menolongku.”


“Jangan sungkan, dan


anggap serius saja ucapan Dhika tadi,” seru kak Daniel.


“Eh?”


“Ck, jangan di dengarkan.


Ayo aku antar kamu ke kelas,” serunya menarik pergelangan tanganku meninggalkan


kak Daniel sendirian.


***