My Ceo

My Ceo
Episode 50



Setelah selesai, seperti biasa


mereka berdoa bersama dan keluar ruangan, menuju ruang operasi. Dhika sudah


berganti pakaian dengan pakaian operasinya, dan berjalan ke wastafel untuk


mencuci kedua tangannya. Disana juga Thalita tengah mencuci kedua tangannya.


Mereka berdiri berdampingan dengan fokus mencuci kedua tangan mereka


masing-masing tanpa bersuara sedikitpun. Thalita beranjak terlebih dulu tanpa


mengatakan apapun.


"Welcome to back home," gumamDhika membuat Thalita berhenti


berjalan dan menengok ke arah Dhika.


"Maaf Dokter, apa anda mengatakan


sesuatu?" tanyaThalita.Dhika hanya tersenyum manis dan berjalan melewati Thalita.


Thalitapun akhirnya mengikuti Dhika memasuki ruang operasi.


Kini mereka semua sudah siap diposisinya


masing-masing.


"Operasi sudah bisa dimulai, Dokter," ucap Claudya.


"Ayo kita sembuhkan pasien," ujarDhika bersemangat membuat Dokter


yang lain saling beradu pandang heran, kecuali Thalita yang berdiri di hadapan Dhika.


Dhika mulai melakukan pembedahan


pada tubuh pasien. Setelah terbuka lebar dan menampakan organ tubuh pasien, Dhika


melakukan pencangkokan pada jantung pasien. Dhika mulai menjahit setiap sisi


jantung dibantu oleh Thalita.


Hari ini sungguh hari yang sangat


menyenangkan bagi Dhika, wanita pujaannya ada di hadapannya, wanita yang dia


tunggu kedatangannya selama sepuluh tahun lamanya. Wanita yang sangat dia


cintai.


"Pedal," Seru Dhika, dan Susterpun


menyerahkan alat pendetak jantung itu. Dhika langsung memasangkan alat itu


disekitar jantung.


"Isi 50 joule" ujarDhika. "Shock!"


Deg...Jantung pasien langsung berdetak dalam satu sentakan.


"Detak jantungnya normal, kita sudah


berhasil,"


ujarClaudya, saat melihat frekuensi detak jantung pasien pada layar di hadapannya.


Semua Dokter tersenyum senang dan mengucapkan syukur.


Setelahnya, Dhika melakukan


langkah terakhir operasi dan memberi plester besar pada dada bekas operasi


pasien. Pasien dibawa oleh empat Dokter lainnya keluar ruang operasi untuk


menempatkannya dikamar inap. Thalita hendak keluar dari ruang operasi Seraya


melepas masker dimulutnya dan penutup kepalanya, sehingga membuat rambut


panjangnya tergerai indah. Dhika yang hendak keluar dari ruang operasi juga


sehingga membuat mereka berPapasan di ambang pintu. Keduanya saling bertatapan


cukup lama, sampai akhirnya Thalita melangkah keluar ruangan terlebih dahulu


meninggalkan Dhika yang masih mematung di tempatnya.


***


Keesokan harinya pagi-pagi sekali


Dhika datang ke rumah sakit menggunakan mobil sportnya. Dhika sedikit berlari


menuju ruang UGD, karena baru saja di hubungi kalau ada pasien yang butuh


pertolongannya.


Sesampainya di UGD, terlihat Thalita


tengah memeriksa pasien wanita paruh baya itu. Dan memasangkan beberapa


peralatan medis ditubuh pasien.


"Bagaimana keadaannya?" tanyaDhika


mencoba fokus pada pasien, karena jujur saja Dhika tidak mampu lagi menatap


mata Thalita yang begitu dingin.


"Keadaannya sudah membaik, tadi dia


pingsan saat diantar kesini. Detak jantungnya tidak stabil," jelas Thalita membuat Dhika


mengangguk paham. Seperti biasa Dhikaselalu menempelkan telapak tangannya pada dada


pasien dan menutup matanya. Cukup lama, Dhikapun membuka matanya kembali dan


pandangannya langsung terpaut dengan wanita cantik berjas Dokter di hadapannya


yang tengah menatapnya juga.


"Bagaimana?" tanyaThalita


menyadarkan Dhikayang terbuai dengan mata hitam bulat Thalita.


"Kita harus melakukan CT-Scan pada


pasien, paru-parunya membengkak." Jawab Dhika membuat Lita mengangguk


paham dan menarik blangkar yang pasien tempati, dibantu oleh Dhika. Keduanya


sedikitpun.


Sesampainya diruang lab CT-Scan, Dhika


mulai melakukan CT-Scan pada pasien dibantu oleh Thalita dan seorang Suster


yang bertugas disana.


Hasilnya muncul di layar computer


yang berada di ruangan itu. "Paru-parunya


bengkak dan rusak,"


gumamThalita.


"Iya, itu akibat dari pecandu rokok.


Kita harus melakukan operasi segera sebelum terjadi kebocoran," ujarDhika.


"Tapi tidak ada wali yang


mengantarkannya, Dok." Seru Thalita. "Dia datang sendiri kesini, dan pingsan


dilobby rumah sakit. Bahkan belum ada yang membayar administrasinya," jelas Thalita. “Dan tidak ada telepon genggamnya.”


"Baiklah, tetap saja lakukan operasinya.


Masalah administrasi biar nanti saya yang urus, yang penting pasien ini selamat,"SeruDhika kembali memindahkan


tubuh pasien ke blangkarnya. Thalita menatap Dhikadengan tatapan yang tidak bisa


diartikan.


'Kamu tidak pernah berubah sama


sekali, selalu berusaha menolong orang lain' batinLita


menatap Dhika.


***


Dhika baru saja keluar dari


operasi, disusul oleh tiga orang Dokter sambil mendorong blangkar pasien. Tak


lama Thalita keluar ruang operasi, dan melepas masker dan penutup rambutnya,


membuat rambut indahnya tergerai bebas. Thalita merapihkan semua rambutnya


menjadi satu dan saat akan memakaikan ikat rambut pada rambutnya, seseorang berkata


yang membuatnya mematung.


"Biarkan tergerai," ucap seseorang dengan lembut


membuat Thalita menatap ke arah suara itu, dimana di hadapannya Dhika tengah


berdiri. Setelah mengucapkan itu Dhika berlalu pergi meninggalkan Thalita yang


masih mematung.


Ingatan Thalita kembali ke


sepuluh tahun yang lalu, dimana Dhika selalu saja menyuruhnya untuk selalu


menggerai rambut indahnya. Bahkan terkadang Dhika sendiri yang suka merapihkan


rambut Thalita. Thalita mencoba mengenyahkan pikirannya itu dan melanjutkan


mengikat rambutnya.


***


Pagi


itu, Thalita


tengah memeriksa kondisi pasien perempuan yang kemarin melakukan operasi,


ditemani oleh dr. Claudya.


"Dr. Thalita, aku lihat


sepertinya anda sudah mengenal dekat dr. Dhika," Seru Claudya membuat Thalita


menghentikkan aktivitasnya yang sedang memeriksa pasien mengguNakan


stetoschopenya. "Apa


sebelumnya kalian sudah saling mengenal?"


"Kami satu kampus, aku


adalah adik tingkatnya,"


jawab Thalita datar dengan kembali sibuk memeriksa pasiennya.


"Benarkah? tetapi aku


melihat ada kejanggalan


dari cara dr. Dhika menatap anda,"


ujarClaudya begitu penasaran.


"Saya tidak tau dr. Claudya, lebih baik


anda fokus dengan pasien ini sebelum ditegur dr. Dhika nantinya. Daripada harus


mencari tahu urusan pribadi oranglain,"


sindir Thalita tersenyum sinis sambil melepaskan stethoscope dari kedua


telinganya dan mengalungkannya ke leher jenjangnya.


 Setelahnya Thalita langsung beranjak pergi


meninggalkan Claudya dengan membawa berkas pasien. Claudya hanya mendengus


sinis ke arah Thalita yang berlalu pergi.


"Aku yakin, ada sesuatu diantara kalian," gumamClaudya.


***