
Setelah selesai, seperti biasa
mereka berdoa bersama dan keluar ruangan, menuju ruang operasi. Dhika sudah
berganti pakaian dengan pakaian operasinya, dan berjalan ke wastafel untuk
mencuci kedua tangannya. Disana juga Thalita tengah mencuci kedua tangannya.
Mereka berdiri berdampingan dengan fokus mencuci kedua tangan mereka
masing-masing tanpa bersuara sedikitpun. Thalita beranjak terlebih dulu tanpa
mengatakan apapun.
"Welcome to back home," gumamDhika membuat Thalita berhenti
berjalan dan menengok ke arah Dhika.
"Maaf Dokter, apa anda mengatakan
sesuatu?" tanyaThalita.Dhika hanya tersenyum manis dan berjalan melewati Thalita.
Thalitapun akhirnya mengikuti Dhika memasuki ruang operasi.
Kini mereka semua sudah siap diposisinya
masing-masing.
"Operasi sudah bisa dimulai, Dokter," ucap Claudya.
"Ayo kita sembuhkan pasien," ujarDhika bersemangat membuat Dokter
yang lain saling beradu pandang heran, kecuali Thalita yang berdiri di hadapan Dhika.
Dhika mulai melakukan pembedahan
pada tubuh pasien. Setelah terbuka lebar dan menampakan organ tubuh pasien, Dhika
melakukan pencangkokan pada jantung pasien. Dhika mulai menjahit setiap sisi
jantung dibantu oleh Thalita.
Hari ini sungguh hari yang sangat
menyenangkan bagi Dhika, wanita pujaannya ada di hadapannya, wanita yang dia
tunggu kedatangannya selama sepuluh tahun lamanya. Wanita yang sangat dia
cintai.
"Pedal," Seru Dhika, dan Susterpun
menyerahkan alat pendetak jantung itu. Dhika langsung memasangkan alat itu
disekitar jantung.
"Isi 50 joule" ujarDhika. "Shock!"
Deg...Jantung pasien langsung berdetak dalam satu sentakan.
"Detak jantungnya normal, kita sudah
berhasil,"
ujarClaudya, saat melihat frekuensi detak jantung pasien pada layar di hadapannya.
Semua Dokter tersenyum senang dan mengucapkan syukur.
Setelahnya, Dhika melakukan
langkah terakhir operasi dan memberi plester besar pada dada bekas operasi
pasien. Pasien dibawa oleh empat Dokter lainnya keluar ruang operasi untuk
menempatkannya dikamar inap. Thalita hendak keluar dari ruang operasi Seraya
melepas masker dimulutnya dan penutup kepalanya, sehingga membuat rambut
panjangnya tergerai indah. Dhika yang hendak keluar dari ruang operasi juga
sehingga membuat mereka berPapasan di ambang pintu. Keduanya saling bertatapan
cukup lama, sampai akhirnya Thalita melangkah keluar ruangan terlebih dahulu
meninggalkan Dhika yang masih mematung di tempatnya.
***
Keesokan harinya pagi-pagi sekali
Dhika datang ke rumah sakit menggunakan mobil sportnya. Dhika sedikit berlari
menuju ruang UGD, karena baru saja di hubungi kalau ada pasien yang butuh
pertolongannya.
Sesampainya di UGD, terlihat Thalita
tengah memeriksa pasien wanita paruh baya itu. Dan memasangkan beberapa
peralatan medis ditubuh pasien.
"Bagaimana keadaannya?" tanyaDhika
mencoba fokus pada pasien, karena jujur saja Dhika tidak mampu lagi menatap
mata Thalita yang begitu dingin.
"Keadaannya sudah membaik, tadi dia
pingsan saat diantar kesini. Detak jantungnya tidak stabil," jelas Thalita membuat Dhika
mengangguk paham. Seperti biasa Dhikaselalu menempelkan telapak tangannya pada dada
pasien dan menutup matanya. Cukup lama, Dhikapun membuka matanya kembali dan
pandangannya langsung terpaut dengan wanita cantik berjas Dokter di hadapannya
yang tengah menatapnya juga.
"Bagaimana?" tanyaThalita
menyadarkan Dhikayang terbuai dengan mata hitam bulat Thalita.
"Kita harus melakukan CT-Scan pada
pasien, paru-parunya membengkak." Jawab Dhika membuat Lita mengangguk
paham dan menarik blangkar yang pasien tempati, dibantu oleh Dhika. Keduanya
sedikitpun.
Sesampainya diruang lab CT-Scan, Dhika
mulai melakukan CT-Scan pada pasien dibantu oleh Thalita dan seorang Suster
yang bertugas disana.
Hasilnya muncul di layar computer
yang berada di ruangan itu. "Paru-parunya
bengkak dan rusak,"
gumamThalita.
"Iya, itu akibat dari pecandu rokok.
Kita harus melakukan operasi segera sebelum terjadi kebocoran," ujarDhika.
"Tapi tidak ada wali yang
mengantarkannya, Dok." Seru Thalita. "Dia datang sendiri kesini, dan pingsan
dilobby rumah sakit. Bahkan belum ada yang membayar administrasinya," jelas Thalita. “Dan tidak ada telepon genggamnya.”
"Baiklah, tetap saja lakukan operasinya.
Masalah administrasi biar nanti saya yang urus, yang penting pasien ini selamat,"SeruDhika kembali memindahkan
tubuh pasien ke blangkarnya. Thalita menatap Dhikadengan tatapan yang tidak bisa
diartikan.
'Kamu tidak pernah berubah sama
sekali, selalu berusaha menolong orang lain' batinLita
menatap Dhika.
***
Dhika baru saja keluar dari
operasi, disusul oleh tiga orang Dokter sambil mendorong blangkar pasien. Tak
lama Thalita keluar ruang operasi, dan melepas masker dan penutup rambutnya,
membuat rambut indahnya tergerai bebas. Thalita merapihkan semua rambutnya
menjadi satu dan saat akan memakaikan ikat rambut pada rambutnya, seseorang berkata
yang membuatnya mematung.
"Biarkan tergerai," ucap seseorang dengan lembut
membuat Thalita menatap ke arah suara itu, dimana di hadapannya Dhika tengah
berdiri. Setelah mengucapkan itu Dhika berlalu pergi meninggalkan Thalita yang
masih mematung.
Ingatan Thalita kembali ke
sepuluh tahun yang lalu, dimana Dhika selalu saja menyuruhnya untuk selalu
menggerai rambut indahnya. Bahkan terkadang Dhika sendiri yang suka merapihkan
rambut Thalita. Thalita mencoba mengenyahkan pikirannya itu dan melanjutkan
mengikat rambutnya.
***
Pagi
itu, Thalita
tengah memeriksa kondisi pasien perempuan yang kemarin melakukan operasi,
ditemani oleh dr. Claudya.
"Dr. Thalita, aku lihat
sepertinya anda sudah mengenal dekat dr. Dhika," Seru Claudya membuat Thalita
menghentikkan aktivitasnya yang sedang memeriksa pasien mengguNakan
stetoschopenya. "Apa
sebelumnya kalian sudah saling mengenal?"
"Kami satu kampus, aku
adalah adik tingkatnya,"
jawab Thalita datar dengan kembali sibuk memeriksa pasiennya.
"Benarkah? tetapi aku
melihat ada kejanggalan
dari cara dr. Dhika menatap anda,"
ujarClaudya begitu penasaran.
"Saya tidak tau dr. Claudya, lebih baik
anda fokus dengan pasien ini sebelum ditegur dr. Dhika nantinya. Daripada harus
mencari tahu urusan pribadi oranglain,"
sindir Thalita tersenyum sinis sambil melepaskan stethoscope dari kedua
telinganya dan mengalungkannya ke leher jenjangnya.
Setelahnya Thalita langsung beranjak pergi
meninggalkan Claudya dengan membawa berkas pasien. Claudya hanya mendengus
sinis ke arah Thalita yang berlalu pergi.
"Aku yakin, ada sesuatu diantara kalian," gumamClaudya.
***