
Author Pov
Saat ini Keysa bersama Felix dan Ibu Rani tengah duduk bersantai di ruang keluarga. Ibu Rani beranjak mengambil pigura Keysa bersama kembarannya.
"Tidak Deeva, ibu tidak pernah menjual kamu ataupun menjadikan kamu jaminan. TIDAK PERNAH!" ucap ibu seketika diiringi tangisannya membuat Keysa dan Felix sama-sama mengernyitkan dahinya.
"Ibu....." panggil Keysa lirih.
"Tidak Deeva, ibu tidak pernah mau melibatkanmu dalam masalah itu, tapi-" ucapannya terhenti, ia menengok ke arah Keysa dan Felix dengan tangisannya.
"22 tahun yang lalu ibu melahirkan seorang putri kembar yang sangat cantik. Kamu dan Adeeba adalah permata dalam kehidupan ibu dan ayah kamu. Tapi kondisi Deeba kritis saat itu, dia menelan banyak air ketuban saat melahirkan. Tapi kamu baik-baik saja, dokter bilang kakaknya melindungi adiknya hingga dia yang kritis." ujar ibu lirih menatap ke kebun dengan pandangan kosong. Keysa mengernyitkan dahinya kaget mendengar penuturan ibunya barusan.
"1 tahun berlalu, Deeba sudah tidak mengeluh sakit lagi. Tapi tubuhnya sangat kecil, dia sulit untuk makan. Bahkan ASIpun dia tidak mau, hanya susu formula yang dia minum. Berbeda denganmu yang terlihat sehat dan semakin montok. Hingga setelah 6 bulan berlalu, Deeba sering menangis dan seperti susah bernafas. Bahkan nafasnya sempat berhenti tiba-tiba membuat ayah dan ibu ketakutan. Saat kami memeriksanya ke rumah sakit di Bandung, dokternya bilang kalau Deeba hanya sesak nafas. Kami kembali kerumah dan mengurusi kalian." ujar ibu mengambil nafasnya.
"Tapi semakin lama, keadaannya semakin sulit. Bahkan dia sempat muntah darah, di sana ibu dan ayah membawa ke rumah sakit di Jakarta. Dan dokter bilang, kalau paru-parunya bocor karena terjadi kerusakan saat dia baru dilahirkan." Keysa membelalak lebar mendengar penuturan Ibunya. Ia tidak menyangka sesuatu terjadi pada Kakaknya. "Dokter bilang dia harus segera dioperasi, karena kalau dibiarkan. Paru-parunya bisa pecah."
Keysa paham sekarang kenapa Ibu dan Ayahnya meminjam uang dari Papa angkatnya.
"Ibu dan ayah kebingungan saat itu, bagaimana caranya kami mencari uang untuk biaya operasi yang sangat besar itu. Bahkan ibu sudah tidak bisa meminjam lagi uang ke perusahaan, karena sebelumnya ibu sudah meminjamnya berkali-kali untuk biaya pengobatan Deeba." Seketika air mata Keysa luruh membasahi pipinya. Ia bisa bayangkan bagaimana sulitnya keadaan Ibu dan Ayahnya saat itu.
"Ibu menemui Pak Mahesya untuk meminjam uang. Tapi sungguh di luar dugaan, pak Mahes mau meminjamkan uang itu, asal kamu diberikan kepadanya untuk dijadikan anak. Ibu dan ayah menolak, ibu tidak mau melibatkan kamu dalam hal ini. Kami berdua mencoba mengumpulkan uang dengan bekerja siang dan malam. Ayahmu bekerja menjadi satpam di sebuah perusahaan dan malamnya dia memperbaiki beberapa barang elektronik dan bekerja di bengkel miliknya. Sedangkan ibu bekerja menjadi penjual kue keliling, ibu juga selain bekerja di perkebunan, ibu menjadi buruh cuci baju dan menjahit. Ibu dan Ayah banting tulang untuk mengumpulkan uang itu, tetapi masih sangat belum cukup. Hingga sesuatu terjadi, papa kamu dipecat dari kantornya." Rani menangis terisak mengingat kenangan terpahit yang dia alami.
"Ibu dan ayah semakin kebingungan, hingga ayah bilang kalau dia akan memenuhi keinginan pak Mahes. Ibu dengan lantang menolaknya, ibu tidak ikhlas menyerahkan kamu.hikzz....." Keysa semakin menangis mendengarnya, ia beranjak mendekati Rani dan merangkul pundaknya seakan memahami bagaimana berat dan sulitnya saat itu.
"Ibu dan ayah bertengkar hebat saat itu, ibu tidak rela kalau untuk menyelamatkan satu putri, ibu harus mengorbankan putri yang lainnya." Keysa memeluk tubuh Rani dengan isakannya.
"Hingga suatu hari, Deeba kembali muntah darah dan dokter bilang kalau kondisinya semakin kritis, dia harus segera di operasi dan tidak bisa menunggu lagi. Disana ibu dilemma, siapa yang harus ibu perjuangkan dan selamatkan. Ibu gak tau harus bagaimana, hingga ayahmu bilang kalau kita harus menyelamatkan Deeba, dia yang lebih membutuhkan kami. Apalagi pak Mahes orang kaya dan ayah kamu yakin, kamu akan di urus dengan baik oleh pak Mahes dan hidup kamu bisa lebih enak dan bahagia."
"Ibu akhirnya hanya bisa pasrah dan menyerahkanmu kepada pak Mahes saat itu. Pak Mahes memberikan uang yang kami minta, bahkan lebih. Tapi ternyata tuhan berkata lain, Deeba meninggal saat operasi, dia tidak bisa di tolong. Dan akhirnya ibu kehilangan kedua putri ibu, ibu kehilangan permata ibu,, hikzzzz......" isakannya semakin menyayat hati, Keysa tak mampu lagi membendung tangisannya. Ia merasakan rasa sakitnya yang Rani rasakan saat itu. Sesungguhnya ibu angkatnya alias istri pak Mahes tidak pernah menyayanginya bahkan sampai dia meninggal.
"Ibu marah besar kepada ayah saat itu, dan ayah tidak bisa berbuat apa-apa. Setelah selesai pemakaman Deeba, kami kembali menemui pak Mahes untuk bernegosiasi dan berharap pak Mahes akan mempertemukan ibu dengan kamu. Tapi pak Mahes bersikeras tidak mengijinkan kami untuk menemui kamu, pak Mahes menganggap hutang kami lunas dan kesepakatan di antara kami sudah tidak ada lagi. Kamu adalah putrinya, dan dia tidak ingin kami menemui kamu lagi. Hikz.....hikz......"
"Berkali-kali ibu dan ayah mencoba datang kerumah pak Mahes, dan mengintip kamu yang sedang di jaga oleh babysister. Melihat kamu dari kejauhan, membuat hati ibu tenang dan rasa rindu ibu terobati. Kami hampir setiap hari mengunjungi kamu dan hanya melihat kamu dari kejauhan hingga usia kamu 8 tahun. Kamu tumbuh menjadi seorang anak yang cantik dan pintar, bahkan ibu slalu mencari informasi ke sekolahan kamu. Ibu sangat bahagia dan bangga mendengar kamu sangat pintar dan selalu menjadi siswa unggulan di sekola. Tetapi pak Mahes mengetahui kalau ayah dan ibu sering mengikutimu dan memperhatikanmu dari kejauhan. Pak Mahes membawa kamu pindah dari rumah itu dan ibu gak tau kamu di bawa kemana."ucapnya lirih.
"Ayah dan ibu terus mencarimu, hingga kecelakaan itu terjadi. Kecelakaan yang menewaskan ayah kamu. Ibu merasa kesepian, ibu kehilangan segalanya. Tapi pesan ayah yang menguatkan ibu untuk terus bertahan hidup." Rani menengok ke arah Keysa dengan tatapan menyakitkan. "Ayah berkata bawa kembali putri kita Deeva, dia yang akan menemanimu di sini. Dan aku akan pergi menemui Deeba. Sampaikan maafku pada putri kita Deeva. Karena aku, dia yang menjadi korban. Ayah berkata itu sebelum dia menghembuskan nafasnya yang terakhir." Rani menundukkan kepalanya, Keysa semakin menangis mendengarnya. Hatinya merasa sangat sakit sekali mendengar penuturan sang ibu.
"14 tahun berlalu, ibu kembali bertemu dengan pak Mahes. Ibu berkali-kali datang kerumahnya untuk meminta bertemu denganmu. Meskipun selalu di tolak dan di halangi oleh beberapa bodyguard, ibu tetap bersikeras datang kerumah pak Mahes bahkan ke kantornya untuk bertemu denganmu. Hingga terakhir kali ibu datang, pak Mahes bilang kamu mengalami kecelakaan dan meninggal dunia." Rani membelai pipi Keysa yang sudah basah karena air mata.
"Kamu tau Keysa, saat itu hidup ibu sangat hancur....hikzzzzz....hikzzz... hidup ibu sudah tidak ada artinya lagi. Apalagi saat pak Mahes memperlihatkan makam kamu. Harapan ibu pupus sudah, janji ibu ke ayah kamu sudah hilang..hikzzzz....hikzz... ibu tidak sanggup lagi untuk hidup di dunia ini, ibu tidak mampu bertahan lagi. Ibu tidak bisa menjalani lagi hidup yang kejam ini, hidup sebatang kara tanpa ada keluarga...hikzzzz,," Rani menangis meraung-raung membuat Keysa kembali memeluknya.
"Ibu......hikzz......hikzzz....maafkan aku.....maaf karena terlambat mengetahui semuanya..... hikzzzz....hikzzz....maafin aku yang sudah berpikir negative tentang ayah dan ibu...hikzzzzz."isaknya.
Rani mengelus kepala Keysa dengan lembut dan mengecupnya. Setelah mulai tenang, Keysa melepaskan pelukannya. "Setelah ini, kita akan selalu bersama-sama dan tidak akan pernah terpisah lagi." Ucapnya, 'Setidaknya sampai waktuku habis. Aku ingin selalu bersama Ibu.'
"Iya Nak, kita tidak akan pernah terpisah lagi. Ibu tidak akan meninggalkanmu lagi seperti dulu." Keysa menampilkan senyumannya pada Ibu Rani.
***
Keysa berdiri di depan rumah ibu Rani yang cukup luas halamannya tanpa ada pagar. Ia menatap ke arah bintang-bintang di langit dengan tangan yang di lipat didadanya. Hingga seseorang datang dan menyampirkan jaket hitam miliknya di tubuh Keysa, membuat Keysa menengok kearanya sekilas dan kembali menatap ke langit.
"Bagaimana perasaanmu?" Tanya seseorang yang tak lain adalah Felix.
"Sangat bahagia," ucapnya berkaca-kaca. "Setidaknya aku bisa pergi dengan tenang setelah ini."
"Apa maksud kamu,"
"Felix, aku-"
"Tidak Key, kamu tidak akan kemana-mana. Aku tidak akan pernah membiarkannya." Ucap Felix penuh penekanan seraya memalingkan wajahnya.
"Terima kasih," ucap Keysa menampilkan senyumannya.
"Hmm,"
"Kamu tidak ingin menengok ke arahku." Goda Keysa membuat Felix ke arahnya.
"Please, jangan mengatakan itu lagi. Aku sangat takut," ucapnya membuat Keysa tersenyum.
"Terima kasih untuk semuanya." Keysa memeluk tubuh Felix yang masih berdiri kaku. Hingga tak lama Felixpun membalas pelukan Keysa dengan sangat erat.
Sesungguhnya hatinya sangat ketakutan, mendengar penuturan Keysa membuatnya gelisah dan semakin ketakutan. Ia belum siap melepaskan Keysanya, ia sangat belum siap.
"Jangan katakan apapun pada Ibu," bisik Keysa.
"Kenapa?"
"Aku tidak mau membuatnya sedih, aku mohon jangan katakan apapun padanya."
"Hm,"
"Berjanjilah Felix."
"Aku berjanji."
***
"Bangun gadis cantik, sudah siang." ujar seseorang dengan suara yang lembut dan hangat, membuat Keysa tersenyum dan membuka matanya.
"Pagi Bu," Keysa beranjak dan menghampiri ibunya yang baru saja membuka gordeng kamar. Ia memeluk tubuh ibu dari belakang dan mencium pipi kanannya.
"Pagi sayang, ayo cepat sana kamu cuci muka dan mandi. Kita sarapan bersama-sama," ujar ibu dengan senyum yang hangat.
"Oke Bu,, muachh." Keysa kembali mencium pipi ibunya dan berlari keluar kamar hendak menuju kamar mandi.
Keysa menguap lebar sambil berjalan ke kamar mandi, matanya terasa sangat berat dan masih mengantuk, ia terus saja menguap. Hingga...
Duk
"Aduh," Keysa mengelus keningnya yang baru saja menabrak sesuatu yang keras.
"Siapa yang nyimpen tembok disini, sih." gerutunya kesal sambil mengelus keningnya.
"Ck,, dasar bodoh. Kebiasaan lama tidak pernah hilang." ucapan seseorang mampu membuat mata Keysa melotot sempurna. Di hadapannya ada Felix yang baru saja keluar dari kamar mandi, Felix terlihat sudah memakai celana jeansnya tetapi dadanya masih terekspos jelas tanpa sehelai benangpun. Beberapa bulir air jatuh dari rambutnya. "Tutup mulutmu, nanti ada lalat yang masuk." ucapnya santai membuat Keysa yang tersadar akan tingkah konyolnya dan segera menutup rapat mulutnya.
"Yak....kenapa tidak pakai baju," teriak Keysa saat kesadarannya sudah kembali.
"Bajuku basah, aku tidak bawa baju lain lagi." jawab Felix santai.
Felix mengangkat dagu Keysa membuatnya mendongakkan kepalanya menatap Felix. Felix mendekatkan wajahnya ke kening Keysa membuat Keysa salting dan gugup. Dia pikir Felix akan menciumnya tetapi ternyata hanya memeriksa dan meniup pelan keningnya.
Tindakannya itu mampu membuat bulu roma Keysa meremang, jantungnya berdegup sangat kencang sekali, hingga suaranya mampu terdengar oleh Keysa dan darahnya berdesir hebat. Apalagi posisi wajahnya sangat dekat dengan dada telanjang di hadapannya dan aroma mint dari nafas Felix mampu menerpa wajahnya. Tubuh keysa terasa sangat kaku dan mendadak sulit sekali untuk bergerak.
"Bernafaslah, sebelum kamu pingsan," bisik Felix tepat di telinganya, Keysa baru sadar kalau sejak tadi dia menahan nafasnya. Keysa segera melepas elusan tangan Felix dari keningnya dan mundur selangkah, mencoba menstabilkan detak jantungnya. Berkali-kali Keysa menelan salivanya sendiri.
"Sepertinya kamu harus kembali cek up jantung kamu ke dokter Dhika, kedengarannya tidak normal." ucap Felix menahan tawanya dan berlalu pergi. Keysa yang baru mecerna ucapan Felix.
"Aaaaaaaa," teriaknya menutup wajahnya sendiri, betapa malunya dia.
Keysa berlari memasuki kamar mandi dan bersembunyi di balik pintu kamar mandi. Dia memegang dadanya dan terus mencoba menstabilkan detak jantungnya. Ini entah karena belum minum obat atau memang jantungnya senang sekali meloncat-loncat seperti ini.
"Bodoh kamu Keysa, kenapa aku selalu memalukan diri sendiri dihadapan Felix." gerutunya seraya mengibas-ngibaskan wajahnya yang masih terlihat merah dengan tangannya.
***
Keysa membantu ibu Rani membuat brownis di dapur. "Setelah selesai memasukkan semua adonannya, kamu masukan ke dalam oven yah sayang."
"Baik Bu," Keysa berjalan membawa nampan dan memasukkannya ke dalam oven. Setelah itu ia juga membuat cheesecake untuk Felix, special.
30 menit sudah berlalu, brownis dan cheesecake sudah siap di santap. Keysa menghias cheesecake dengan indah dan cantik.
"Aromanya tercium sampai ke depan." ucap Felix yang baru datang membuat ibu dan Keysa menengok ke arahnya.
"Sini Nak, Deeva sudah membuat brownis dan cheesecake buat kamu." ucap Ibu.
"Tidak memasukan cabe atau racun kan ke dalamnya kan?" goda Felix yang sudah berdiri di antara Keysa dan ibu Rani.
"Yak....kamu ini sangat menyebalkan, aku sudah cape-cape membuatkannya." sewot Keysa membuat ibu terkekeh. Felix memang senang sekali menggodanya.
"Ya siapa tau kan." Kekehnya seraya mengusap kepala Keysa. "Aku coba yah," Felix mengambil sendok dan memotong cheesecake di hadapannya, lalu mecicipinya.
"Hmmmmm." Keysa terlihat penasaran dengan komentar Felix
Felix menatap Keysa yang penuh harap. "Rasanya kurang manis,"
"Masa sih?" Tanya Keysa sedikit kecewa.
"Tapi kalau kamu yang nyuapinnya, pasti rasanya akan sempurna." goda Fellix membuat Keysa merona dan ibu terkekeh.
"Kamu memang pintar membuat putri ibu merona," ujar ibu Rani seraya memotong brownis menjadi beberapa bagian.
"Dasar tukang gombal," cibir Keysa memalingkan wajahnya yang masih terlihat rona merah.
"Cobain ini brownisnya masih hangat." ibu menyuapi Felix.
"Ini sempurna Ibu." Felix menikmatinya.
"Ibu,,,kenapa cuma pria tukang gombal ini yang ibu suapi. Kenapa aku tidak?" protes Keysa.
"Baiklah,, ini buat putri Ibu yang cantik." ibu Rani hendak menyuapi Keysa tetapi di dahului Felix. Felix menjulurkan lidahnya ke arah Keysa seraya merangkul ibu Rani.
Felix menjulurkan lidahnya ke arah Keysa membuatnya kesal.
Hanya ini yang bisa Felix lakukan untuk Keysanya, menggodanya dan selalu membuatnya bahagia.
Setidaknya Felix ingin melupakan waktu singkat yang mereka miliki....