My Ceo

My Ceo
Episode 53



Saat ini Lita tengah duduk disofa


yang ada di ruangan Dhika,


sebelumnya Lita sudah menghubungi Dhika dan Dhika memintanya untuk menunggunya di ruangan Dhika karena kebetulan Dhika tengah memeriksa beberapa


pasien. Lita menatap ruangan Dhika yang terlihat bersih dan rapi, pandangannya


terarah ke arah meja kebesaran Dhika. Entah ada dorongan dari mana, Lita berjalan


mendekati meja dan berjalan ke dekat kursi kebesaran Dhika. Pandangannya langsung terarah


ke arah pigura yang terpajang indah di meja kerja Dhika. Dimana seorang gadis yang


tengah memakai gaun berwarna pink yang terlihat sangat cantik, dengan rambutnya


yang disanggul dan ditata secantik mungkin menyisakan beberapa helai rambut


yang terjuntai ke bawah.  Di sampingnya seorang lelaki dengan tuxedo hitamnya


dan terlihat sangat gagah juga sangat tampan. Terpancar kebahagiaan dari wajah


keduanya. Lita sangat mengetahui siapa orang yang ada difoto itu, dan saat


acara apa foto itu di abadikan. Itu adalah foto Dhikadan Lita saat mereka bertunangan


dulu, kebahagiaan yang terpancar dari wajah keduanya sangat jelas, tetapi itu


merupakan akhir kebahagiaan mereka berdua dan awal dari malapetaka yang


menyebabkan semuanya menjadi seperti ini. Lita ingin mengambil pigura itu


tetapi tanpa sengaja lengannya menyenggol laptop di hadapannya membuat layar


itu menyala dan memperlihatkan media player yang sepertinya baru diputar.


Disana terpangpang jelas wajah Thalita yang terlihat sangat pucat. Dengan


tangan yang bergetar, Lita menekan spasi membuat video berdurasi 3 menit itu


berputar. Mata Lita berkaca-kaca mengingat saat dia merekam video itu.


'Ternyata dia masih menyimpan


semuanya, tapi apa yang terjadi? Bukankah dia sudah menikah dengan kak Natasya?' batinLita.


Lita mendengar derap langkah


seseorang, membuatnya segera menghentikan  video itu dan berjalan menuju sofa. Baru saja Lita mendaratkan pantatnya


di atas sofa, pintu ruangan terbuka, dan muncullah.


"Maaf sudah membuatmu menunggu lama," ucap Dhika.


"Tidak apa-apa," jawab Lita sinis, Lita tidak


ingin memandang Dhika.


Ia tidak ingin Dhikamenatapnya tengah berkaca-kaca.


Dhika lalu duduk disofa yang


bersembrangan dengan Lita.


"Ada apa?" tanyaDhika lembut.


"Saya datang ingin


menanyakan perihal penyakit pasien bernama Rahma," ucap Litato the point.


"Gadis itu..." gumamDhika. "Kemarilah."


Dhika berdiri menuju computer yang berjajar disudut


ruangannya. Dhika mulai mengotak atik computer


itu sehingga muncullah organ tubuh manusia yang bernama paru-paru di layar komputer itu.


Thalita sudah berdiri di sampingDhika menatap ke arah Komputer. Thalita terdiam memperhatikan


setiap sudut organ pernafasan yang muncul di tiga layar kOmputer itu.


"Kankernya sudah menyerang


paru-paru dan mulai menyebar ke ruas jantung kirinya." ucap Dhika menunjukkan gambar yang berada


di layar komputer


sebelah kanannya. "kamu lihat Lita, ini arteri pulmonalis dan aorta. Kankernya sudah menyebar ke sana.”


"Pasien ini termasuk pasien


DNR,"


tambah Dhika.


"Apa tidak ada jalan lain


untuk menolongnya?" tanyaLita tetap fokus menatap layar computer.


"Ada, mungkin jalur operasi.


Tapi tingkat keberhasilannya sangat rendah," ucap Dhika. "Jika terjadi Serangan


jantungpun, kita tidak boleh melakukan CPR.”


"Jadi kita akan biarkan dia


mati begitu saja, tanpa melakukan apapun?" tanyaLita sedikit tersulut


emosi.


"Itu lah inti dari aturan


untuk pasien DNR" ujarDhikamembuat Thalita terdiam, bagaimana caranya dia


menolong adik kecilnya itu. Lita tidak mampu melihatnya semakin menderita.


"Ada apa Lita?" Dhika selalu tau setiap gerak gerik Lita.


"Tidak apa-apa, aku pergi." Lita berlalu pergi meninggalkan Dhikayang masih penuh tanya.


***


FLASHBACK ON


Lita tengah duduk di ayunan komplek perumahan yang


di tinggali keluarga Rahma. Lita sangat bersyukur keluarga Rahma menerimanya


dengan senang hati, padahal Lita masih dalam tahap penyembuhan selepas operasi


ginjalnya.


"Kak Lita," teriakan seorang anak kecil


membuyarkan lamunannya.


"Hai Sayang, kemarilah..." ucap Lita,


Rahma berjalan mendekati Lita dan duduk di ayunan yang berada di samping Lita.


"Kamu sudah pulang sekola?" tanya Lita


tersenyum.


sebuah cita-cita dan bertanya ke semua murid, apa cita-cita kami," ujar


Rahma antusias.


"Oya? Lalu apa cita-cita kamu?" tanya


Lita antusias mendengarkan.


"Aku bercita-cita menjadi seorang Guru,"


ucapnya dengan ceria.


"Umm,, kenapa?" tanya Lita penasaran.


"Karena menurut aku, seorang Guru itu sangat


mulia. Dia adalah seorang pahlawan tanpa tanda jasa," ujarnya.


"Aku sangat ingin menjadi seorang guru dan


bisa mengajarkan murid-muridku dengan pengetahuan yang aku punya," ujar


Rahma.


"Cita-cita yang sangat mulia, Cantik."


ujar Lita mengelus rambut Rahma dengan sayang. "Kakak doain semoga


cita-cita mulia kamu tercapai yah, Amin," ujar Lita.


"Amin. Kalau cita-cita Kakak apa?" tanya


Rahma antusias.


"Cita-cita Kakak, umm... apa yah."


Thalita berpikir keras. "Sebenarnya dari kecil Kak Lita punya cita-cita


ingin menjadi Dokter, Kakak ingin membantu orang-orang dan menyembuhkan


mereka," ujar Lita mengingat keinginannya sejak dia kecil.


"Wah, cita-cita Kakak juga sangat


mulia," Seru Rahma.


"Iya, tapi kayaknya cita-cita Kakak gak bisa


ke capai," keluh Lita menatap lurus ke depan.


"Kenapa Kak?" tanya Rahma heran.


"Beasiswa Kakak dari kampus di cabut sepihak,


Kakak juga dalam keadaan tidak sehat," ucap Lita lirih, hatinya teriris


mengingat kejadian itu. Dimana dirinya di fitnah dan harus di cabut beasiswanya


dari kampus impiannya.


Rahma turun dari ayunannya dan berdiri di samping


Lita yang melamun. Di genggamnya tangan Lita yang berada di atas pangkuan,


membuat Lita menatap ke arah Rahma.


"Kakak jangan putus asa, Rahma yakin Kakak


bisa mencapai cita-cita Kakak. Allah gak tidur Kak, dia pasti akan bantu kita


untuk menggapai apa yang kita inginkan. Kakak harus yakin kepada-Nya," ucap


Rahma tersenyum membuat Lita menatap Rahma dengan tatapan berkaca-kaca.


"Kakak tau kan, aku mengidap kanker paru-paru


dari sejak aku lahir. Tapi aku gak mau menyerah begitu saja. Meskipun


keseharianku harus di bantu obat-obatan dan suntikan dari Dokter, tapi aku gak


mau menyerah. Aku akan tetap berusaha menggapai cita-cita aku," ucap Rahma


penuh tekad dan semangat.


"Kamu masih kecil, tapi pemikiran kamu


sungguh dewasa dan sangat tegar. Kakak merasa malu denganmu," ucap Lita


membelai kepala Rahma.


'Bahkan sakit yang aku derita tidak separah yang


dia derita. Tapi semangat hidupnya sangat besar, berbeda denganku yang sudah di


ujung keputusasaan,' batin Lita.


"Kakak harus gapai cita-cita Kakak, jadi


suatu hari nanti saat Kakak sudah menjadi Dokter. Kakak bisa menyembuhkan


aku," ucapnya antusias membuat Lita tersenyum.


"Kakak janji sama kamu, Kakak akan gapai


cita-cita Kakak untuk menyembuhkan kamu Sayang." Lita memeluk Rahma.


Flashback Off


Air mata Lita


luruh mengingat saat Rahma menyemangatinya untuk bangkit kembali. Anak berumur


8 tahun begitu bersemangat untuk hidup tanpa memperdulikan penyakit yang terus


menggerogoti tubuhnya.


"Aku


harus bisa menyembuhkannya, bagaimanapun caranya. Aku harus melakukan


sesuatu," gumam Lita.


"Apa


jalan operasi akan berhasil?" gumamnya.


Kepalanya terasa pening


memikirkan cara untuk menyembuhkan Rahma, karena Lita juga menyadari bahwa


jalan operasi tidak akan menutup kemungkinan akan gagal. Di sisi lain, Lita


sangat ingin membantu Rahma, sesuai janjinya dulu. Tapi di sisi lain tidak ada


jalan apapun untuk membantunya menyelamatkan Rahma. Keadaan ini sangat


mempersulitnya.


Keadaan


Darurat, Ruang 115