
Saat ini Lita tengah duduk disofa
yang ada di ruangan Dhika,
sebelumnya Lita sudah menghubungi Dhika dan Dhika memintanya untuk menunggunya di ruangan Dhika karena kebetulan Dhika tengah memeriksa beberapa
pasien. Lita menatap ruangan Dhika yang terlihat bersih dan rapi, pandangannya
terarah ke arah meja kebesaran Dhika. Entah ada dorongan dari mana, Lita berjalan
mendekati meja dan berjalan ke dekat kursi kebesaran Dhika. Pandangannya langsung terarah
ke arah pigura yang terpajang indah di meja kerja Dhika. Dimana seorang gadis yang
tengah memakai gaun berwarna pink yang terlihat sangat cantik, dengan rambutnya
yang disanggul dan ditata secantik mungkin menyisakan beberapa helai rambut
yang terjuntai ke bawah. Di sampingnya seorang lelaki dengan tuxedo hitamnya
dan terlihat sangat gagah juga sangat tampan. Terpancar kebahagiaan dari wajah
keduanya. Lita sangat mengetahui siapa orang yang ada difoto itu, dan saat
acara apa foto itu di abadikan. Itu adalah foto Dhikadan Lita saat mereka bertunangan
dulu, kebahagiaan yang terpancar dari wajah keduanya sangat jelas, tetapi itu
merupakan akhir kebahagiaan mereka berdua dan awal dari malapetaka yang
menyebabkan semuanya menjadi seperti ini. Lita ingin mengambil pigura itu
tetapi tanpa sengaja lengannya menyenggol laptop di hadapannya membuat layar
itu menyala dan memperlihatkan media player yang sepertinya baru diputar.
Disana terpangpang jelas wajah Thalita yang terlihat sangat pucat. Dengan
tangan yang bergetar, Lita menekan spasi membuat video berdurasi 3 menit itu
berputar. Mata Lita berkaca-kaca mengingat saat dia merekam video itu.
'Ternyata dia masih menyimpan
semuanya, tapi apa yang terjadi? Bukankah dia sudah menikah dengan kak Natasya?' batinLita.
Lita mendengar derap langkah
seseorang, membuatnya segera menghentikan video itu dan berjalan menuju sofa. Baru saja Lita mendaratkan pantatnya
di atas sofa, pintu ruangan terbuka, dan muncullah.
"Maaf sudah membuatmu menunggu lama," ucap Dhika.
"Tidak apa-apa," jawab Lita sinis, Lita tidak
ingin memandang Dhika.
Ia tidak ingin Dhikamenatapnya tengah berkaca-kaca.
Dhika lalu duduk disofa yang
bersembrangan dengan Lita.
"Ada apa?" tanyaDhika lembut.
"Saya datang ingin
menanyakan perihal penyakit pasien bernama Rahma," ucap Litato the point.
"Gadis itu..." gumamDhika. "Kemarilah."
Dhika berdiri menuju computer yang berjajar disudut
ruangannya. Dhika mulai mengotak atik computer
itu sehingga muncullah organ tubuh manusia yang bernama paru-paru di layar komputer itu.
Thalita sudah berdiri di sampingDhika menatap ke arah Komputer. Thalita terdiam memperhatikan
setiap sudut organ pernafasan yang muncul di tiga layar kOmputer itu.
"Kankernya sudah menyerang
paru-paru dan mulai menyebar ke ruas jantung kirinya." ucap Dhika menunjukkan gambar yang berada
di layar komputer
sebelah kanannya. "kamu lihat Lita, ini arteri pulmonalis dan aorta. Kankernya sudah menyebar ke sana.”
"Pasien ini termasuk pasien
DNR,"
tambah Dhika.
"Apa tidak ada jalan lain
untuk menolongnya?" tanyaLita tetap fokus menatap layar computer.
"Ada, mungkin jalur operasi.
Tapi tingkat keberhasilannya sangat rendah," ucap Dhika. "Jika terjadi Serangan
jantungpun, kita tidak boleh melakukan CPR.”
"Jadi kita akan biarkan dia
mati begitu saja, tanpa melakukan apapun?" tanyaLita sedikit tersulut
emosi.
"Itu lah inti dari aturan
untuk pasien DNR" ujarDhikamembuat Thalita terdiam, bagaimana caranya dia
menolong adik kecilnya itu. Lita tidak mampu melihatnya semakin menderita.
"Ada apa Lita?" Dhika selalu tau setiap gerak gerik Lita.
"Tidak apa-apa, aku pergi." Lita berlalu pergi meninggalkan Dhikayang masih penuh tanya.
***
FLASHBACK ON
Lita tengah duduk di ayunan komplek perumahan yang
di tinggali keluarga Rahma. Lita sangat bersyukur keluarga Rahma menerimanya
dengan senang hati, padahal Lita masih dalam tahap penyembuhan selepas operasi
ginjalnya.
"Kak Lita," teriakan seorang anak kecil
membuyarkan lamunannya.
"Hai Sayang, kemarilah..." ucap Lita,
Rahma berjalan mendekati Lita dan duduk di ayunan yang berada di samping Lita.
"Kamu sudah pulang sekola?" tanya Lita
tersenyum.
sebuah cita-cita dan bertanya ke semua murid, apa cita-cita kami," ujar
Rahma antusias.
"Oya? Lalu apa cita-cita kamu?" tanya
Lita antusias mendengarkan.
"Aku bercita-cita menjadi seorang Guru,"
ucapnya dengan ceria.
"Umm,, kenapa?" tanya Lita penasaran.
"Karena menurut aku, seorang Guru itu sangat
mulia. Dia adalah seorang pahlawan tanpa tanda jasa," ujarnya.
"Aku sangat ingin menjadi seorang guru dan
bisa mengajarkan murid-muridku dengan pengetahuan yang aku punya," ujar
Rahma.
"Cita-cita yang sangat mulia, Cantik."
ujar Lita mengelus rambut Rahma dengan sayang. "Kakak doain semoga
cita-cita mulia kamu tercapai yah, Amin," ujar Lita.
"Amin. Kalau cita-cita Kakak apa?" tanya
Rahma antusias.
"Cita-cita Kakak, umm... apa yah."
Thalita berpikir keras. "Sebenarnya dari kecil Kak Lita punya cita-cita
ingin menjadi Dokter, Kakak ingin membantu orang-orang dan menyembuhkan
mereka," ujar Lita mengingat keinginannya sejak dia kecil.
"Wah, cita-cita Kakak juga sangat
mulia," Seru Rahma.
"Iya, tapi kayaknya cita-cita Kakak gak bisa
ke capai," keluh Lita menatap lurus ke depan.
"Kenapa Kak?" tanya Rahma heran.
"Beasiswa Kakak dari kampus di cabut sepihak,
Kakak juga dalam keadaan tidak sehat," ucap Lita lirih, hatinya teriris
mengingat kejadian itu. Dimana dirinya di fitnah dan harus di cabut beasiswanya
dari kampus impiannya.
Rahma turun dari ayunannya dan berdiri di samping
Lita yang melamun. Di genggamnya tangan Lita yang berada di atas pangkuan,
membuat Lita menatap ke arah Rahma.
"Kakak jangan putus asa, Rahma yakin Kakak
bisa mencapai cita-cita Kakak. Allah gak tidur Kak, dia pasti akan bantu kita
untuk menggapai apa yang kita inginkan. Kakak harus yakin kepada-Nya," ucap
Rahma tersenyum membuat Lita menatap Rahma dengan tatapan berkaca-kaca.
"Kakak tau kan, aku mengidap kanker paru-paru
dari sejak aku lahir. Tapi aku gak mau menyerah begitu saja. Meskipun
keseharianku harus di bantu obat-obatan dan suntikan dari Dokter, tapi aku gak
mau menyerah. Aku akan tetap berusaha menggapai cita-cita aku," ucap Rahma
penuh tekad dan semangat.
"Kamu masih kecil, tapi pemikiran kamu
sungguh dewasa dan sangat tegar. Kakak merasa malu denganmu," ucap Lita
membelai kepala Rahma.
'Bahkan sakit yang aku derita tidak separah yang
dia derita. Tapi semangat hidupnya sangat besar, berbeda denganku yang sudah di
ujung keputusasaan,' batin Lita.
"Kakak harus gapai cita-cita Kakak, jadi
suatu hari nanti saat Kakak sudah menjadi Dokter. Kakak bisa menyembuhkan
aku," ucapnya antusias membuat Lita tersenyum.
"Kakak janji sama kamu, Kakak akan gapai
cita-cita Kakak untuk menyembuhkan kamu Sayang." Lita memeluk Rahma.
Flashback Off
Air mata Lita
luruh mengingat saat Rahma menyemangatinya untuk bangkit kembali. Anak berumur
8 tahun begitu bersemangat untuk hidup tanpa memperdulikan penyakit yang terus
menggerogoti tubuhnya.
"Aku
harus bisa menyembuhkannya, bagaimanapun caranya. Aku harus melakukan
sesuatu," gumam Lita.
"Apa
jalan operasi akan berhasil?" gumamnya.
Kepalanya terasa pening
memikirkan cara untuk menyembuhkan Rahma, karena Lita juga menyadari bahwa
jalan operasi tidak akan menutup kemungkinan akan gagal. Di sisi lain, Lita
sangat ingin membantu Rahma, sesuai janjinya dulu. Tapi di sisi lain tidak ada
jalan apapun untuk membantunya menyelamatkan Rahma. Keadaan ini sangat
mempersulitnya.
Keadaan
Darurat, Ruang 115