My Ceo

My Ceo
Episode 47



Semuanya


tengah menikmati makan malam bersama di taman belakang rumah Dewi. Semua


anak-anak sudah tertidur pulas dan kini hanya tinggal para orangtua. Tak lama


datang suami Elza yang bernama Jackson.


"Malam


semua..." sapa Jack yang baru datang.


"Malam


Jack." jawab semuanya.


"Hai


Sayang, maaf aku terlambat." Jackson mengecup kening Elza dan duduk di


sampingnya. "Eh ada pak Dokter juga, apa kabar Dhik?" sapa Jack.


"Baik,


Jack." jawab Dhika.


"Guys,,


ini barbequenya udah mateng. Ambil sendiri yah!" teriak Irene dari tempat


pemanggangan barbeque.


"Dasar


Kaleng Rombeng, gak usah teriak-teriak. Suara cempreng lu ganggu gendang


telinga gue!" keluh Okta yang tengah mengolesi daging dengan margarin dan


bumbu dengan koas di tangannya.


"Diem lu


Gator!" jawab Irene mendengus.


"Honey…


Ini ambil daging punya kamu," teriak Irene lagi. Padahal jarak Irene


dengan Seno tidak terlalu jauh, tetapi Irene sangat suka berteriak.


"Iissshhh....


Gue sumpel juga congor lu pake koas nih," keluh Okta kesal, tetapi Irene


hanya cuek saja dan malah berjalan menghampiri Seno seakan ucapan Gator adalah


angin lalu.


Tak lama Serli


datang menghampiri Okta dengan membawa piring di tangannya.


"Yaelah,


Kaleng Rombeng ilang kini datang lagi cewek Metromini," keluh Okta,


hidupnya kenapa selalu di recoki oleh 2 wanita menyebalkan ini.


"Ngomong


apaan lu?" tanya Serli dengan nada galak.


"Gue lagi


berdoa, biar kuntilanak-kuntilanak gak pada ngerecokin gue mulu," ujar


Okta.


"Yang


mana ini yang udah mateng?" tanya Serli.


"Belum


ada," jawab Okta sibuk membulak balikan daging.


"Daritadi


lu ngapain aja sih Gator? Kenapa belum ada yang mateng?" sewot Serli.


"Heh Kun


kun Metromini, gue bukan chef lu yang harus masakin buat lu. Masak aja


sendiri!" ucap Okta sambil mengambil barbeque miliknya ke dalam piring.


"Itu buat


gue dulu," rebut Serli.


"Enak


aja, kalau lu mau, ya masak sendiri," jawab Okta.


"Buat gue


dulu, lu masak lagi." Serli menyerobot piring Okta dan pergi meninggalkan


Okta begitu saja.


"Dasar


Metromini gendeng! Seneng bener lu nyerobot makanan gue!" amuk Okta tapi


Serli cuek aja dan duduk di samping Daniel.


"Ada apa


sih Bun? Kenapa si Gator ngamuk?" tanya Daniel kepada Serli tetapi Serli


hanya mengedikkan bahunya diiringi cengengesannya karena berhasil membuat kesal


Gator.


Tak lama Okta


datang dengan membawa banyak barbeque.


"Nih


makan, kalian enak pada ghibah di sini nah gue sibuk sendiri!" keluh Okta


duduk di samping Dhika.


“Mana ada


ghibah enak, yang ada juga dosa kali,” kekeh Ratu membuat yang lain terkekeh.


“Harusnya lu


bersyukur dan gak banyak ngeluh karena terhindar dari dosa,” timpal Angga


membuat Gator mencibir.


          “Lagian itu kan emang tugas lu,


Gator.” Kini Serli kembali bersuara.


"Dasar


Metromini, gue pites tau rasa lu!" gerutu Okta sebal.


"Ck,


kalian berdua kayak anak kecil aja, cekcok mulu. Gak baik kalau di liat


Verrel," ujar Daniel menengahi.


"Makanya


kalau cari bini jangan model kayak Metromini gini," ujar Okta membuat


tajam.


"Udah udah..."


Daniel mengalihkan pandangan Serli menjadi ke arahnya.


***


Dhika kembali bekerja dirumah sakit,


tadi pagi dia kembali dari Bandungdan langsung menuju ke rumah sakit. Dhika yang


sudah memakai jas putih miliknya berjalan menuju receptionist, untuk menanyakan


beberapa data pasien.


"Suster, pasien atas nama


Ny. Thalita diruang UGD kembali kejang-kejang," ucap Perawat laki-laki itu


membuat Dhikaterpaku ditempatnya.


"Saya akan hubungi Dokter Jhon


segera,"


jawab Suster itu dan terlihat menghubungi seseorang.


"Kamu bilang siapa tadi nama


pasiennya?" tanyaDhikamenatap ke arah Perawat laki-laki itu.


"Ny. Thalita,Dokter. Dia baru masuk rumah sakit


tadi malam karena Serangan jantung,"


jawab Perawat itu.


Tanpa berpikir panjang, Dhika berlari begitu saja menuju ruang


UGD. Dhika berhenti di ambang pintu UGD dan melihat blangkar yang berisi


seorang gadis, tetapi wajahnya belum terlihat karena terhalang tirai rumah


sakit. Jantung Dhikaberpacu


dengan sangat cepat saat melangkah mendekati blangkar itu.


'Apa benar ini dia,,, apa ini


benar-benar dia... Thalitaku....' BatinDhika


terus berjalan perlahan menuju blangkar tetapi tiba-tiba seorang Dokter paruh


baya mendahuluinya dengan seorang Perawat. Dokter itu sibuk memeriksa gadis


itu, langkah Dhikaterhenti tepat diujung sisi blangkar. Wajah gadis itu masih belum jelas karena


terhalang Dokter.


Saat pasien terlihat sudah


tenang, Dokter berdiri tegak dan terlihat jelaslah wajah gadis yang tengah


terlelap itu. Dhika terpaku ditempatnya dengan tatapan yang tidak bisa


diartikan. Matanya sudah merah menahan air matanya.


'Dia......ternyata bukan Thalitaku,' batinDhika.


"DokterDhika." panggilan itu menyadarkan Dhika


dan berpaling menatap ke arahDokter paruh baya itu. "Ada apa?"


"Tidak apa-apa Dokter Jhon,


tadi saya hanya lewat saja dan melihat pasien kejang-kejang," ucap Dhikamengatur nafas dan detak


jantungnya yang hampir keluar dari tempatnya.


Setelah perbincangan singkat itu,


Dhikapun berlalu pergi meninggalkan ruangan dengan hati yang tak menentu.


'Aku pikir dia telah kembali,,


aku pikir dia kembali datang untukku' batinDhika.


Saat Dhika berjalan melewati


lift, tanpa sengaja pandangan Dhika melihat ke arah lift yang hampir tertutup. Disana


ada seorang gadis tengah berdiri dengan memainkan handphonenya. Mata Dhika melotot sempurna saat melihat


gadis itu,, tanpa pikir panjang Dhika berlari kearah lift tetapi Sayangnya lift sudah


tertutup sempurna. Berkali-kali Dhika menekan tombol lift tetapi tidak terbuka, Dhikamenatap keatas pintu lift dimana


di layar merah kecil itu menunjukkan lantai 1.


Dhika berlari menuju tangga


darurat, ia berlari seperti orang kesetanan menuruni tangga menuju lantai 1. Berkali-kali Dhika hampir jatuh, tapi tidak dia


perdulikan. Dhika terus berlari menuruni tangga. Gadis didalam lift itu keluar


dari lift dan berjalan dengan anggun menuju lobby rumah sakit, tak lama Dhikakeluar dari pintu tangga darurat


dan berlari keluar rumah sakit. Saat itu juga gadis yang dia kejar tengah


menaiki sebuah taxi dan berlalu pergi. Dhika yang melihatnya langsung berlari


mengejar taxi hingga keluar area rumah sakit.


"Thalita.!!!"


Teriak Dhika, tetapi taxi itu semakin cepat


melaju. Dengan terbatuk dengan nafasnya yang tersenggal dan peluh yang sudah


membanjiri seluruh tubuhnya. Pandangannya tak luput dari taxi yang semakin


menjauh.


"Aku yakin itu dia..... aku yakin itu


benar Thalitaku,"


gumamDhika.


"Aku akan mencarimu,Lita," ucap Dhika tersenyum


bahagia.


Dhika memasuki ruangannya dan


meneguk satu botol aqua kecil, lalu dia mengeluarkan handphonenya dan


menghubungi seseorang. Kebetulan yang menyenangkan, karena tadi di belakang


taxi itu tercetak jelas nOmor telepon dari sopir taxi itu. Dhika segera


menghubunginya dan menanyakan perihal gadis yang baru saja menumpangi mobilnya,


tetapi sopir taxi itu berkata kalau gadis itu turun di halte bus.


"Kamu tidak berubah, kamu sangat pintar


dalam hal mengecohku. Kamu tau aku akan mengejar kamu," gumamDhika. Dhika kembali menghubungi


seseorang untuk melakukan pencarian Thalita kembali.


‘Tak akan lama lagi


kita akan segera bertemu, Sayangku.’


***