
Semuanya
tengah menikmati makan malam bersama di taman belakang rumah Dewi. Semua
anak-anak sudah tertidur pulas dan kini hanya tinggal para orangtua. Tak lama
datang suami Elza yang bernama Jackson.
"Malam
semua..." sapa Jack yang baru datang.
"Malam
Jack." jawab semuanya.
"Hai
Sayang, maaf aku terlambat." Jackson mengecup kening Elza dan duduk di
sampingnya. "Eh ada pak Dokter juga, apa kabar Dhik?" sapa Jack.
"Baik,
Jack." jawab Dhika.
"Guys,,
ini barbequenya udah mateng. Ambil sendiri yah!" teriak Irene dari tempat
pemanggangan barbeque.
"Dasar
Kaleng Rombeng, gak usah teriak-teriak. Suara cempreng lu ganggu gendang
telinga gue!" keluh Okta yang tengah mengolesi daging dengan margarin dan
bumbu dengan koas di tangannya.
"Diem lu
Gator!" jawab Irene mendengus.
"Honey…
Ini ambil daging punya kamu," teriak Irene lagi. Padahal jarak Irene
dengan Seno tidak terlalu jauh, tetapi Irene sangat suka berteriak.
"Iissshhh....
Gue sumpel juga congor lu pake koas nih," keluh Okta kesal, tetapi Irene
hanya cuek saja dan malah berjalan menghampiri Seno seakan ucapan Gator adalah
angin lalu.
Tak lama Serli
datang menghampiri Okta dengan membawa piring di tangannya.
"Yaelah,
Kaleng Rombeng ilang kini datang lagi cewek Metromini," keluh Okta,
hidupnya kenapa selalu di recoki oleh 2 wanita menyebalkan ini.
"Ngomong
apaan lu?" tanya Serli dengan nada galak.
"Gue lagi
berdoa, biar kuntilanak-kuntilanak gak pada ngerecokin gue mulu," ujar
Okta.
"Yang
mana ini yang udah mateng?" tanya Serli.
"Belum
ada," jawab Okta sibuk membulak balikan daging.
"Daritadi
lu ngapain aja sih Gator? Kenapa belum ada yang mateng?" sewot Serli.
"Heh Kun
kun Metromini, gue bukan chef lu yang harus masakin buat lu. Masak aja
sendiri!" ucap Okta sambil mengambil barbeque miliknya ke dalam piring.
"Itu buat
gue dulu," rebut Serli.
"Enak
aja, kalau lu mau, ya masak sendiri," jawab Okta.
"Buat gue
dulu, lu masak lagi." Serli menyerobot piring Okta dan pergi meninggalkan
Okta begitu saja.
"Dasar
Metromini gendeng! Seneng bener lu nyerobot makanan gue!" amuk Okta tapi
Serli cuek aja dan duduk di samping Daniel.
"Ada apa
sih Bun? Kenapa si Gator ngamuk?" tanya Daniel kepada Serli tetapi Serli
hanya mengedikkan bahunya diiringi cengengesannya karena berhasil membuat kesal
Gator.
Tak lama Okta
datang dengan membawa banyak barbeque.
"Nih
makan, kalian enak pada ghibah di sini nah gue sibuk sendiri!" keluh Okta
duduk di samping Dhika.
“Mana ada
ghibah enak, yang ada juga dosa kali,” kekeh Ratu membuat yang lain terkekeh.
“Harusnya lu
bersyukur dan gak banyak ngeluh karena terhindar dari dosa,” timpal Angga
membuat Gator mencibir.
“Lagian itu kan emang tugas lu,
Gator.” Kini Serli kembali bersuara.
"Dasar
Metromini, gue pites tau rasa lu!" gerutu Okta sebal.
"Ck,
kalian berdua kayak anak kecil aja, cekcok mulu. Gak baik kalau di liat
Verrel," ujar Daniel menengahi.
"Makanya
kalau cari bini jangan model kayak Metromini gini," ujar Okta membuat
tajam.
"Udah udah..."
Daniel mengalihkan pandangan Serli menjadi ke arahnya.
***
Dhika kembali bekerja dirumah sakit,
tadi pagi dia kembali dari Bandungdan langsung menuju ke rumah sakit. Dhika yang
sudah memakai jas putih miliknya berjalan menuju receptionist, untuk menanyakan
beberapa data pasien.
"Suster, pasien atas nama
Ny. Thalita diruang UGD kembali kejang-kejang," ucap Perawat laki-laki itu
membuat Dhikaterpaku ditempatnya.
"Saya akan hubungi Dokter Jhon
segera,"
jawab Suster itu dan terlihat menghubungi seseorang.
"Kamu bilang siapa tadi nama
pasiennya?" tanyaDhikamenatap ke arah Perawat laki-laki itu.
"Ny. Thalita,Dokter. Dia baru masuk rumah sakit
tadi malam karena Serangan jantung,"
jawab Perawat itu.
Tanpa berpikir panjang, Dhika berlari begitu saja menuju ruang
UGD. Dhika berhenti di ambang pintu UGD dan melihat blangkar yang berisi
seorang gadis, tetapi wajahnya belum terlihat karena terhalang tirai rumah
sakit. Jantung Dhikaberpacu
dengan sangat cepat saat melangkah mendekati blangkar itu.
'Apa benar ini dia,,, apa ini
benar-benar dia... Thalitaku....' BatinDhika
terus berjalan perlahan menuju blangkar tetapi tiba-tiba seorang Dokter paruh
baya mendahuluinya dengan seorang Perawat. Dokter itu sibuk memeriksa gadis
itu, langkah Dhikaterhenti tepat diujung sisi blangkar. Wajah gadis itu masih belum jelas karena
terhalang Dokter.
Saat pasien terlihat sudah
tenang, Dokter berdiri tegak dan terlihat jelaslah wajah gadis yang tengah
terlelap itu. Dhika terpaku ditempatnya dengan tatapan yang tidak bisa
diartikan. Matanya sudah merah menahan air matanya.
'Dia......ternyata bukan Thalitaku,' batinDhika.
"DokterDhika." panggilan itu menyadarkan Dhika
dan berpaling menatap ke arahDokter paruh baya itu. "Ada apa?"
"Tidak apa-apa Dokter Jhon,
tadi saya hanya lewat saja dan melihat pasien kejang-kejang," ucap Dhikamengatur nafas dan detak
jantungnya yang hampir keluar dari tempatnya.
Setelah perbincangan singkat itu,
Dhikapun berlalu pergi meninggalkan ruangan dengan hati yang tak menentu.
'Aku pikir dia telah kembali,,
aku pikir dia kembali datang untukku' batinDhika.
Saat Dhika berjalan melewati
lift, tanpa sengaja pandangan Dhika melihat ke arah lift yang hampir tertutup. Disana
ada seorang gadis tengah berdiri dengan memainkan handphonenya. Mata Dhika melotot sempurna saat melihat
gadis itu,, tanpa pikir panjang Dhika berlari kearah lift tetapi Sayangnya lift sudah
tertutup sempurna. Berkali-kali Dhika menekan tombol lift tetapi tidak terbuka, Dhikamenatap keatas pintu lift dimana
di layar merah kecil itu menunjukkan lantai 1.
Dhika berlari menuju tangga
darurat, ia berlari seperti orang kesetanan menuruni tangga menuju lantai 1. Berkali-kali Dhika hampir jatuh, tapi tidak dia
perdulikan. Dhika terus berlari menuruni tangga. Gadis didalam lift itu keluar
dari lift dan berjalan dengan anggun menuju lobby rumah sakit, tak lama Dhikakeluar dari pintu tangga darurat
dan berlari keluar rumah sakit. Saat itu juga gadis yang dia kejar tengah
menaiki sebuah taxi dan berlalu pergi. Dhika yang melihatnya langsung berlari
mengejar taxi hingga keluar area rumah sakit.
"Thalita.!!!"
Teriak Dhika, tetapi taxi itu semakin cepat
melaju. Dengan terbatuk dengan nafasnya yang tersenggal dan peluh yang sudah
membanjiri seluruh tubuhnya. Pandangannya tak luput dari taxi yang semakin
menjauh.
"Aku yakin itu dia..... aku yakin itu
benar Thalitaku,"
gumamDhika.
"Aku akan mencarimu,Lita," ucap Dhika tersenyum
bahagia.
Dhika memasuki ruangannya dan
meneguk satu botol aqua kecil, lalu dia mengeluarkan handphonenya dan
menghubungi seseorang. Kebetulan yang menyenangkan, karena tadi di belakang
taxi itu tercetak jelas nOmor telepon dari sopir taxi itu. Dhika segera
menghubunginya dan menanyakan perihal gadis yang baru saja menumpangi mobilnya,
tetapi sopir taxi itu berkata kalau gadis itu turun di halte bus.
"Kamu tidak berubah, kamu sangat pintar
dalam hal mengecohku. Kamu tau aku akan mengejar kamu," gumamDhika. Dhika kembali menghubungi
seseorang untuk melakukan pencarian Thalita kembali.
‘Tak akan lama lagi
kita akan segera bertemu, Sayangku.’
***