
Aku
ikut liburan bersama dengan Serli dan Brotherhood, dan itu mampu membuatku
sedikit meluPakan permasalahanku dengan Chacha.
Kini aku bersama
Serli dan Brotherhood pergi menuju pantai Sawarna di Banten. Kami pergi
menggunakan mobil minibus VW berwarna biru. Aku masih merasa begitu canggung
dengan semua orang yang ada di sini. Serli juga terlihat sibuk mengobrol dengan
pacarnya. Aku memilih terdiam menatap keluar jendela.
Pikiranku
melayang kembali ke kejadian kemarin dimana Chacha menghinaku habis-habisan. Di
bilang aku tidak sakit hati, itu bohong besar. Aku sangatlah sakit hati dengan
ucapan dan tuduhan Chacha. Apalagi hinaan itu di ucapkan oleh sahabatku yang
begitu aku sayangi. Rasanya aku di tusuk oleh tulang di dalam tubuhku sendiri.
Aku juga tidak menyangka bahwa aku begitu rendah di mata Chacha, sampai dia
sama sekali tidak mempercayaiku. Apa cinta harus sampai membutakan orang
seperti ini?
“Lita…” Aku menoleh
saat merasakan sentuhan di pundakku. Ternyata Serli yang kembali duduk di
sampingku. Tadi dia sempat pindah tempat dulu ke tempatnya kak Daniel. “Lu
nangis?” tanya Serli membuatku kaget dan aku baru sadar ternyata pipiku sudah
basah karena air mata.
“Ah ini-“ Aku
bergegas menghapus air matanya dan tersenyum ke arahnya.
“Lu masih kepikiran
ucapan si Chacha kemarin yah?” tebak Serli. “Si Chacha itu memang sangat
keterlaluan.”
Serli terlihat
menghela nafasnya. Aku tidak ingin mengatakan apapun lagi, rasanya sesak di
dada ini menyumpat kerongkonganku hingga aku tidak any berbicara lagi.
Tak terasa kami pun
telah sampai di tempat tujuan. Mobil masuk ke area penginapan, dan kami semua
turun dari dalam mobil dengan membawa tas kami masing-masing.
“Gue pesen 4 kamar,”
ucap kak Angga. “Dan semuanya berdampingan.”
“Apa boleh gue
sekamar sama Irene?” tanya kak Seno.
“NO!” ucap semua
orang, dan aku hanya any terkekeh melihat ekspresi kesal kak Seno.
“Dewi, Elza sama
Irene tidur di kamar 201, ini kartu kamar kalian,” ucap kak Dhika menyerahkan
kartu kamar ke tangan kak Elza. “Thalita dan Serli di kamar 202, ini kunci
kalian.” Dia menyerahkan kartu ke tanganku.
“Lalu Seno dan Angga
di kamar no 204.” Kak Dhika menyerahkan kartu ke tangan kak Angga. “Gue, Gator
dan Daniel di kamar no 203.”
Setelah pembagian
kartu kamar, kami semua berjalan bersama memasuki lift menuju kamar kami.
Aku
dan Serli masuk ke dalam kami. Aku meletakkan tas ransel yang aku gendong di
atas meja sudut.
“Gue
mandi duluan yah Tha,” seru Serli.
“Iya.”
Serli
masuk ke dalam kamar mandi, dan aku memutuskan buka pintu penghubung menuju
balkon. Aku berjalan menuju balkon kecil itu, pemandangan di depanku adalah
hamparan pasir putih dan lautan luas yang begitu indah. Team Brotherhood memang
paling pintar dalam memilih tempat.
Angin
terasa begitu menyejukkan menerpa wajahku, menusuk ke kulitku. Aku berpegangan
pada pagar pembatas. Posisiku ada di lantai 6, lumayan tinggi.
“Bagus
bukan pemandangannya?” ucapan seseorang membuatku menoleh ke sumber suara.
“Kak
Dhika?” gumamku saat melihatnya berada di balkon kamarnya yang ada di samping
kamarku dengan bersandar ke daun pintu dan tangan yang di lipat di dada.
Sungguh elegant dan mempesona.
“Iya
Kak, pemandangannya sangat indah.” Aku hanya tersenyum kecil. Jujur saja aku
merasa malu dan canggung berhadapan dengannya.
“Hei Lita!” teriak
Okta keluar dari balik pintu melambaikan tangannya membuatku tersenyum ke
arahnya.
“Lita, kenapa lu
sendirian? Dimana si Metromini?” tanya Okta.
“Metromini?” Aku
mengernyit bingung mendengar nama yang di sebutkan oleh Okta.
“Itu si Serli.”
Serli di panggil
Metromini? Ada ada saja.
“Oh Serli, dia sedang
mandi.”
“Lu gak keluar?”
tanya Okta dan aku hanya menggelengkan kepala.
“Dhik, ajakin keluar
kek,” ujar Okta menyenggol lengan kak Dhika.
Eh apa sih maksudnya
Okta ini…
“Gue mau tidur, baru
juga sampe.” Kak Dhika tamPak terganggu dan memilih masuk ke kamar. Entah
kenapa aku merasa kecewa melihat sikap kak Dhika? Apa aku terlalu berharap?
Astaga
Lita, kamu harusnya sadar diri.
Sore hari kami semua
berjalan-jalan di pantai Legon Pari yang sangat indah apalagi di waktu senja
seperti ini. Aku berjalan menabrak air ombak, rasanya sejuk sekali kaki ini
saat bersentuhan dengan air laut. Memang benar sih pantai itu kadang any
membuat kepala lebih adem dan lebih jernih. Aku merasa lebih baik saat sudah
berada di sini.
“Tha,
ayo kita ke atas batu karang itu,” seru Serli menarik tanganku mengikuti yang
lain menuju ke batu karang besar itu. Katanya di sana lebih indah menatap
sunset.
Kami
sudah sampai di atas batu. Pandangan kami semua tertuju pada langit yang merah
kekuningan.
“Indah banget.” Aku
sangat terpesona melihat keindahan langit yang berubah warna menjadi merah
kekuning-kuningan dan matahari yang sedikit demi sedikit turun.
Matahari
pun sudah terbenam sempurna dan langit berubah menjadi gelap. Azdan magrib
sudah berkumandang beberapa menit yang lalu.
“Gue balik duluan
yah.” Seru kak Dhika membuka pembicaraan setelah lama kami semua terdiam
membisu.
“Bukannya kita mau
makan malam?” tanya kak Elza.
“Gue solat magrib
dulu, ntar gue nyusul deh,” ucap kak Dhika.
“Aku juga mau solat
“Ya sudah bareng aja
sama Dhika,” ucap kak Daniel.
“Emang lu gak solat
Niel?” tanya kak Dhika terlihat heran.
“Bentaran lagi, lu
aja sama Lita duluan,” Entah kenapa ekspresi kak Daniel seperti memiliki maksud
tertentu.
“Iya kalian berdua
aja duluan,” kini kak Dewi yang bersuara dan terlihat jelas semuanya memiliki
maksud tertentu. Htanya kak Elza dan kak Angga yang terlihat acuh.
“Kalau
gitu, Lita duluan yah.” Aku berjalan meninggalkan mereka semua, malas
berlama-lama. Apalagi melihat kak Dhika yang seperti enggan berjalan bersamaku.
Ah, mungkin memang aku yang terlalu percaya diri.
“Tunggu sebentar,
kamu cepet banget jalannya.” Seruan itu membuatku menoleh ke sampingku,
ternyata kak Dhika yang kini berjalan di sampingku.
“Waktu magrib sangat
terbatas Kak, jadi aku harus cepat,” jawabku dan terus berjalan untuk segera
sampai ke kamar penginapan.
“Apa aku membuatmu
tersinggung?” tanya kak Dhika.
“Emm, enggak kok Kak.
Kenapa aku harus tersinggung?” aku berusaha memalingkan wajahku untuk tidak
menatap ke arahnya.
“Baguslah kalau
begitu,” ucapnya dan kami berjalan memasuki pengiapan.
“Aku akan solat di
mesjid, kamu mau ke kamar?” tanya kak Dhika.
“Sepertinya aku-“
“Solat di mesjid
saja, jadi nanti setelah solat kita bisa langsung menuju restaurant untuk makan
malam bersama.”
“Baiklah.” Kamipun
berjalan menuju mesjid.
Aku menunggu kak
Dhika yang masih berdzikir di dalam mesjid. Aku duduk di teras mesjid, banyak
orang yang berlalu lalang masuk dan keluar mesjid setelah melaksanakan solat.
“Hei,” aku menoleh ke
sampingku saat mendengar suara seseorang. Kak Dhika kini duduk di sampingku.
Wajahnya terlihat bercahaya, dan semakin tampan saja. Aku segera memalingkan
wajahku karena tidak ingin semakin mempesona dan terlihat konyol.
“Ayo kita ke
restaurant,” serunya yang aku jawab dengan anggukan kepala.
Kamipun berjalan
berdampingan menuju restaurant.
“Awas…!”
“Eh…?”
Seseorang baru saja
menabrak tubuhku, aku di tarik oleh kak Dhika dan sekarang posisi kami begitu
intim. Aku berada di dalam pelukannya dan tatapan kami terpaut satu sama lain.
Mata coklat tajam
itu…
Entah kenapa
begitu mengintimidasiku dan membuatku merasa terhipnotis.
“Kamu tidak apa-apa?”
tanya kak Dhika membuatku berpaling dan segera menjauh darinya.
“Aku.. aku baik baik
saja. Terima kasih Kak.” Aku berjalan terlebih dulu meninggalkannya. Aku
merasa jantungku berdebar semakin cepat.
***
Aku tengah berdiri di balkon kamar, tak lama Serlipun menyusul keluar dan
berdiri di sampingku.
“Di sini sangat indah yah,” ucap Serli membuatku mengangguk setuju.
“Kalau saja Chacha dan Ratu juga ikut pasti tambah seru.” Aku hanya bisa
tersenyum kecil membayangkan itu.
“Ck,.. masih aja lu harepin dia,” gerutu Serli terlihat tidak suka.
“Memang kenapa, mereka kan sahabat kita.”
“Udahlah Tha, Chacha bukan sahabat yang baik buat kita. cuma gara-gara
cowok, dia sampai mutusin persahabatan kita,” ucap Serli.
“Iya sih, si Gilang memang brengsek. Sampe sekarang aja terus ngehubungin
gue.” Aku sangat membencinya juga merasa jijik padanya.
“Tha,,”
“Hmm”
“Menurut lu, kak Dhika gimana?” tanya Serli membuatku menoleh ke arahnya.
“Iya menurut lu, kak Dhika gimana orangnya?”
“Dia baik.” Ya, dia memang baik walau masih sangat misterius, rasanya sulit
untuk bisa dekat dengannya.
“cuma baik aja?” sewot Serli. Dia kenapa?
“Iya, terus gue harus jawab apa dong?”
“Au ah gelap!” sewot Serli memanyunkan bibirnya membuatku tertawa. Sungguh
lucu...
“Dia tampan, lucu dan sangat mempesona.” Aku berbisik di telinga Serli.
“Cie cie... jadi?” goda Serli kembali tersenyum menggoda.
“Jadi apa? Ya gak jadi apa-apa.” Aku mengedikkan bahu.
“Kalau dia nembak lu, lu harus terima dia yah.” Ucap Serli antusias.
“Ih apaan sih lu, gue belum kepikiran ke sana. Yang ada gue lagi mikirin
tes buat masuk ke Fakukltas Kedokteran entar.” Serli ini ngomong apa sih. Mana
mungkin kak Dhika nembak aku.
“Yaelah, tanpa belajar dan dipikirin juga, lu pasti lulus kok.” Jawab
Serli.
“Lu pikir gue manusia super bisa sehebat itu.”
“Lu kan alien dari planet Pluto,” ledek Serli nyebelin.
“Ih apaan sih lu.” Aku memukul pelan lengannya. “Lagian yah, mana mau kak
Dhika sama gue. Gue jauh banget dari levelnya.”
“Jangan pesimis gitu dong, lu harus percaya diri. Lagian lu cantik kok Lita
Sayang,” ujar Serli seakan menghiburku.
“Di mimpi gue aja kali kak Dhika nembak gue.” Mustahil sekali itu sampai
jadi kenyataan.
“Cie..cie ternyata ada yang kepikiran terus,” goda Serli. Ih makin
nyebelin.
“Jujur aja kali kalau memang suka, gue dukung 1000% kok,” goda Serli
membuatku semakin malu.
“Ciee,,, itu pipi udah kayak kepiting rebus aja,” goda Serli sambil
tertawa.
“Ih apaan sih lu! Awas yah.” Aku menutup wajahnya dengan kedua tanganku
karena kesal. Dia menghindariku sampai
aku harus mengejarnya, dan saling tertawa saat aku mendapatkannya dan
menggelitiknya.
Karena merasa lelah, kamipun merebahkan tubuh kami di atas ranjang seraya
menatap langit-langit kamar.
“Ser, lu jadinya mau masuk ke Universitas mana?” tanyaku.
“Sama kayak lu, tapi gue mau ambil jurusan Desain Interior,” jawab Serli.
“Lu yakin?” Aku menoleh ke arahnya yang ada di sampingku.
Serli mengangguk pasti. “Lu tau kan gue hobby menggambar.”
“Bagus deh, jadi kita bisa satu kampus lagi meskipun akan beda kelas dan
fakultas.” Serli mengangguk setuju.
Kemudian Serli mulai menceritakan mengenai dirinya dan
Daniel sampai kami sama-sama terlelap.