My Ceo

My Ceo
Episode 60



Aku


ikut liburan bersama dengan Serli dan Brotherhood, dan itu mampu membuatku


sedikit meluPakan permasalahanku dengan Chacha.


Kini aku bersama


Serli dan Brotherhood pergi menuju pantai Sawarna di Banten. Kami pergi


menggunakan mobil minibus VW berwarna biru. Aku masih merasa begitu canggung


dengan semua orang yang ada di sini. Serli juga terlihat sibuk mengobrol dengan


pacarnya. Aku memilih terdiam menatap keluar jendela.


Pikiranku


melayang kembali ke kejadian kemarin dimana Chacha menghinaku habis-habisan. Di


bilang aku tidak sakit hati, itu bohong besar. Aku sangatlah sakit hati dengan


ucapan dan tuduhan Chacha. Apalagi hinaan itu di ucapkan oleh sahabatku yang


begitu aku sayangi. Rasanya aku di tusuk oleh tulang di dalam tubuhku sendiri.


Aku juga tidak menyangka bahwa aku begitu rendah di mata Chacha, sampai dia


sama sekali tidak mempercayaiku. Apa cinta harus sampai membutakan orang


seperti ini?


“Lita…” Aku menoleh


saat merasakan sentuhan di pundakku. Ternyata Serli yang kembali duduk di


sampingku. Tadi dia sempat pindah tempat dulu ke tempatnya kak Daniel. “Lu


nangis?” tanya Serli membuatku kaget dan aku baru sadar ternyata pipiku sudah


basah karena air mata.


“Ah ini-“ Aku


bergegas menghapus air matanya dan tersenyum ke arahnya.


“Lu masih kepikiran


ucapan si Chacha kemarin yah?” tebak Serli. “Si Chacha itu memang sangat


keterlaluan.”


Serli terlihat


menghela nafasnya. Aku tidak ingin mengatakan apapun lagi, rasanya sesak di


dada ini menyumpat kerongkonganku hingga aku tidak any berbicara lagi.


Tak terasa kami pun


telah sampai di tempat tujuan. Mobil masuk ke area penginapan, dan kami semua


turun dari dalam mobil dengan membawa tas kami masing-masing.


“Gue pesen 4 kamar,”


ucap kak Angga. “Dan semuanya berdampingan.”


“Apa boleh gue


sekamar sama Irene?” tanya kak Seno.


“NO!” ucap semua


orang, dan aku hanya any terkekeh melihat ekspresi kesal kak Seno.


“Dewi, Elza sama


Irene tidur di kamar 201, ini kartu kamar kalian,” ucap kak Dhika menyerahkan


kartu kamar ke tangan kak Elza. “Thalita dan Serli di kamar 202, ini kunci


kalian.” Dia menyerahkan kartu ke tanganku.


“Lalu Seno dan Angga


di kamar no 204.” Kak Dhika menyerahkan kartu ke tangan kak Angga. “Gue, Gator


dan Daniel di kamar no 203.”


Setelah pembagian


kartu kamar, kami semua berjalan bersama memasuki lift menuju kamar kami.


Aku


dan Serli masuk ke dalam kami. Aku meletakkan tas ransel yang aku gendong di


atas meja sudut.


“Gue


mandi duluan yah Tha,” seru Serli.


“Iya.”


Serli


masuk ke dalam kamar mandi, dan aku memutuskan buka pintu penghubung menuju


balkon. Aku berjalan menuju balkon kecil itu, pemandangan di depanku adalah


hamparan pasir putih dan lautan luas yang begitu indah. Team Brotherhood memang


paling pintar dalam memilih tempat.


Angin


terasa begitu menyejukkan menerpa wajahku, menusuk ke kulitku. Aku berpegangan


pada pagar pembatas. Posisiku ada di lantai 6, lumayan tinggi.


“Bagus


bukan pemandangannya?” ucapan seseorang membuatku menoleh ke sumber suara.


“Kak


Dhika?” gumamku saat melihatnya berada di balkon kamarnya yang ada di samping


kamarku dengan bersandar ke daun pintu dan tangan yang di lipat di dada.


Sungguh elegant dan mempesona.


“Iya


Kak, pemandangannya sangat indah.” Aku hanya tersenyum kecil. Jujur saja aku


merasa malu dan canggung berhadapan dengannya.


“Hei Lita!” teriak


Okta keluar dari balik pintu melambaikan tangannya membuatku tersenyum ke


arahnya.


“Lita, kenapa lu


sendirian? Dimana si Metromini?” tanya Okta.


“Metromini?” Aku


mengernyit bingung mendengar nama yang di sebutkan oleh Okta.


“Itu si Serli.”


Serli di panggil


Metromini? Ada ada saja.


“Oh Serli, dia sedang


mandi.”


“Lu gak keluar?”


tanya Okta dan aku hanya menggelengkan kepala.


“Dhik, ajakin keluar


kek,” ujar Okta menyenggol lengan kak Dhika.


Eh apa sih maksudnya


Okta ini…


“Gue mau tidur, baru


juga sampe.” Kak Dhika tamPak terganggu dan memilih masuk ke kamar. Entah


kenapa aku merasa kecewa melihat sikap kak Dhika? Apa aku terlalu berharap?


Astaga


Lita, kamu harusnya sadar diri.


Sore hari kami semua


berjalan-jalan di pantai Legon Pari yang sangat indah apalagi di waktu senja


seperti ini. Aku berjalan menabrak air ombak, rasanya sejuk sekali kaki ini


saat bersentuhan dengan air laut. Memang benar sih pantai itu kadang any


membuat kepala lebih adem dan lebih jernih. Aku merasa lebih baik saat sudah


berada di sini.


“Tha,


ayo kita ke atas batu karang itu,” seru Serli menarik tanganku mengikuti yang


lain menuju ke batu karang besar itu. Katanya di sana lebih indah menatap


sunset.


Kami


sudah sampai di atas batu. Pandangan kami semua tertuju pada langit yang merah


kekuningan.


“Indah banget.” Aku


sangat terpesona melihat keindahan langit yang berubah warna menjadi merah


kekuning-kuningan dan matahari yang sedikit demi sedikit turun.


Matahari


pun sudah terbenam sempurna dan langit berubah menjadi gelap. Azdan magrib


sudah berkumandang beberapa menit yang lalu.


“Gue balik duluan


yah.” Seru kak Dhika membuka pembicaraan setelah lama kami semua terdiam


membisu.


“Bukannya kita mau


makan malam?” tanya kak Elza.


“Gue solat magrib


dulu, ntar gue nyusul deh,” ucap kak Dhika.


“Aku juga mau solat


“Ya sudah bareng aja


sama Dhika,” ucap  kak Daniel.


“Emang lu gak solat


Niel?” tanya kak Dhika terlihat heran.


“Bentaran lagi, lu


aja sama Lita duluan,” Entah kenapa ekspresi kak Daniel seperti memiliki maksud


tertentu.


“Iya kalian berdua


aja duluan,” kini kak Dewi yang bersuara dan terlihat jelas semuanya memiliki


maksud tertentu. Htanya kak Elza dan kak Angga yang terlihat acuh.


“Kalau


gitu, Lita duluan yah.” Aku berjalan meninggalkan mereka semua, malas


berlama-lama. Apalagi melihat kak Dhika yang seperti enggan berjalan bersamaku.


Ah, mungkin memang aku yang terlalu percaya diri.


“Tunggu sebentar,


kamu cepet banget jalannya.” Seruan itu membuatku menoleh ke sampingku,


ternyata kak Dhika yang kini berjalan di sampingku.


“Waktu magrib sangat


terbatas Kak, jadi aku harus cepat,” jawabku dan terus berjalan untuk segera


sampai ke kamar penginapan.


“Apa aku membuatmu


tersinggung?” tanya kak Dhika.


“Emm, enggak kok Kak.


Kenapa aku harus tersinggung?” aku berusaha memalingkan wajahku untuk tidak


menatap ke arahnya.


“Baguslah kalau


begitu,” ucapnya dan kami berjalan memasuki pengiapan.


“Aku akan solat di


mesjid, kamu mau ke kamar?” tanya kak Dhika.


“Sepertinya aku-“


“Solat di mesjid


saja, jadi nanti setelah solat kita bisa langsung menuju restaurant untuk makan


malam bersama.”


“Baiklah.” Kamipun


berjalan menuju mesjid.


Aku menunggu kak


Dhika yang masih berdzikir di dalam mesjid. Aku duduk di teras mesjid, banyak


orang yang berlalu lalang masuk dan keluar mesjid setelah melaksanakan solat.


“Hei,” aku menoleh ke


sampingku saat mendengar suara seseorang. Kak Dhika kini duduk di sampingku.


Wajahnya terlihat bercahaya, dan semakin tampan saja. Aku segera memalingkan


wajahku karena tidak ingin semakin mempesona dan terlihat konyol.


“Ayo kita ke


restaurant,” serunya yang aku jawab dengan anggukan kepala.


Kamipun berjalan


berdampingan menuju restaurant.


“Awas…!”


“Eh…?”


Seseorang baru saja


menabrak tubuhku, aku di tarik oleh kak Dhika dan sekarang posisi kami begitu


intim. Aku berada di dalam pelukannya dan tatapan kami terpaut satu sama lain.


Mata coklat tajam


itu…


Entah kenapa


begitu mengintimidasiku dan membuatku merasa terhipnotis.


“Kamu tidak apa-apa?”


tanya kak Dhika membuatku berpaling dan segera menjauh darinya.


“Aku.. aku baik baik


saja. Terima kasih Kak.” Aku berjalan terlebih dulu meninggalkannya. Aku


merasa jantungku berdebar semakin cepat.


***


Aku tengah berdiri di balkon kamar, tak lama Serlipun menyusul keluar dan


berdiri di sampingku.


“Di sini sangat indah yah,” ucap Serli membuatku mengangguk setuju.


“Kalau saja Chacha dan Ratu juga ikut pasti tambah seru.” Aku hanya bisa


tersenyum kecil membayangkan itu.


“Ck,.. masih aja lu harepin dia,” gerutu Serli terlihat tidak suka.


“Memang kenapa, mereka kan sahabat kita.”


“Udahlah Tha, Chacha bukan sahabat yang baik buat kita. cuma gara-gara


cowok, dia sampai mutusin persahabatan kita,” ucap Serli.


“Iya sih, si Gilang memang brengsek. Sampe sekarang aja terus ngehubungin


gue.” Aku sangat membencinya juga merasa jijik padanya.


“Tha,,”


“Hmm”


“Menurut lu, kak Dhika gimana?” tanya Serli membuatku menoleh ke arahnya.


“Iya menurut lu, kak Dhika gimana orangnya?”


“Dia baik.” Ya, dia memang baik walau masih sangat misterius, rasanya sulit


untuk bisa dekat dengannya.


“cuma baik aja?” sewot Serli. Dia kenapa?


“Iya, terus gue harus jawab apa dong?”


“Au ah gelap!” sewot Serli memanyunkan bibirnya membuatku tertawa. Sungguh


lucu...


“Dia tampan, lucu dan sangat mempesona.” Aku berbisik di telinga Serli.


“Cie cie... jadi?” goda Serli kembali tersenyum menggoda.


“Jadi apa? Ya gak jadi apa-apa.” Aku mengedikkan bahu.


“Kalau dia nembak lu, lu harus terima dia yah.” Ucap Serli antusias.


“Ih apaan sih lu, gue belum kepikiran ke sana. Yang ada gue lagi mikirin


tes buat masuk ke Fakukltas Kedokteran entar.” Serli ini ngomong apa sih. Mana


mungkin kak Dhika nembak aku.


“Yaelah, tanpa belajar dan dipikirin juga, lu pasti lulus kok.” Jawab


Serli.


“Lu pikir gue manusia super bisa sehebat itu.”


“Lu kan alien dari planet Pluto,” ledek Serli nyebelin.


“Ih apaan sih lu.” Aku memukul pelan lengannya. “Lagian yah, mana mau kak


Dhika sama gue. Gue jauh banget dari levelnya.”


“Jangan pesimis gitu dong, lu harus percaya diri. Lagian lu cantik kok Lita


Sayang,” ujar Serli seakan menghiburku.


“Di mimpi gue aja kali kak Dhika nembak gue.” Mustahil sekali itu sampai


jadi kenyataan.


“Cie..cie ternyata ada yang kepikiran terus,” goda Serli. Ih makin


nyebelin.


“Jujur aja kali kalau memang suka, gue dukung 1000% kok,” goda Serli


membuatku semakin malu.


“Ciee,,, itu pipi udah kayak kepiting rebus aja,” goda Serli sambil


tertawa.


“Ih apaan sih lu! Awas yah.” Aku menutup wajahnya dengan kedua tanganku


karena kesal.  Dia menghindariku sampai


aku harus mengejarnya, dan saling tertawa saat aku mendapatkannya dan


menggelitiknya.


Karena merasa lelah, kamipun merebahkan tubuh kami di atas ranjang seraya


menatap langit-langit kamar.


“Ser, lu jadinya mau masuk ke Universitas mana?” tanyaku.


“Sama kayak lu, tapi gue mau ambil jurusan Desain Interior,” jawab Serli.


“Lu yakin?” Aku menoleh ke arahnya yang ada di sampingku.


Serli mengangguk pasti. “Lu tau kan gue hobby menggambar.”


“Bagus deh, jadi kita bisa satu kampus lagi meskipun akan beda kelas dan


fakultas.” Serli mengangguk setuju.


Kemudian Serli mulai menceritakan mengenai dirinya dan


Daniel sampai kami sama-sama terlelap.