My Ceo

My Ceo
Episode 29



Happy Reading


-------------------------------------------------------------


Keysa mengerjapkan matanya berkali-kali, cahaya dari lampu ruangan menusuk ke dalam retina matanya. Ia perlahan membuka matanya saat aroma khas rumah sakit begitu menyengat indra penciumannya.


Keysa memegang kepalanya, dan melepas alat bantu pernafasan yang menghalangi hidung dan mulutnya. Ia menengok ke kanan dan kirinya tetapi tak ada siapapun.


Hingga pintu terbuka dan menampakan seseorang. "Kau sudah sadar," ucap seseorang itu.


Keysa berangsur hendak bangun tetapi di tahan seseorang yang tak lain adalah Dhika. "Jangan dulu bangun, kondisimu belum membaik."


"Sudah berapa lama aku disini? lalu bagaimana dengan papa?" tanya Keysa dengan suara yang lemah.


"Kamu disini sudah 3 hari. Papa kamu masih belum pulih," ucap Dhika membuat Keysa menangis dalam diam.


"Kenapa cobaan seakan tak ingin pergi dari hidupku, Dhika." ucapnya lirih, Dhika berdiri di samping brangkar menatap ke arah Keysa yang menatap kosong langit langit ruangan.


"Kenyataan baru ini membuatku ingin mengakhiri hidupku, hikzzz" isaknya memalingkan wajahnya.


"Kamu ngomong apa sih Key, ini bukan akhir dari segalanya." ucap Dhika.


"Kamu mudah mengatakannya. Bagaimana kalau kamu yang mengalaminya, Dhika. Kenyataannya Felix adalah kakak seayahku, hikzzz" isak Keysa semakin menjadi membuat Dhika melongo kaget.


"Apa?" tanya Dhika.


"Alasannya meninggalkanku karena aku adalah adiknya, dimana kami tidak akan pernah bersatu." isaknya semakin menjadi. "AKu harus apa sekarang?"


Dhika tak mampu berkata apapun, ia hanya menatap Keysa yang menangis sejadi-jadinya. "Aku merasa duniaku sudah hancur saat ini, bagaimana mungkin pria yang begitu aku cintai adalah kakakku sendiri." isaknya semakin menjadi.


"A-aku harus bagaimana Dhika? aku harus apa?" tangisnya pecah membuat Dhika mau tak mau memeluk Keysa ke dalam pelukannya.


Keysa menumpahkan segala beban dan tangisannya di dada bidang milik Dhika. Saat bersamaan juga Felix masuk ke dalam ruangan dan langkahnya terhenti melihat Dhika dan Keysa tengah berpelukan begitu intim.


Felix memalingkan wajahnya saat merasakan rasa sakit di dadanya seperti di rajam sesuatu yang tajam. Felix kembali menatap mereka berdua, ia merasa matanya memanas dan rasa sesak di dadanya semakin menjadi. Perlahan, Felix mundur dan keluar dari dalam ruangan itu.


Felix menyandarkan punggungnya di dinding dekat pintu dengan perasaan yang begitu hancur dan terluka, ia belum bisa menerima kenyataan ini. Kenyataan Keysa sebagai adiknya dan harus merelakannya dengan pria lain. Felix tidak bisa melakukan itu.


***


Siang itu Felix tetap menunggu di luar ruangan Keysa, tanpa ingin masuk ke dalam. Ia seakan ingin memberi ruang untuk dirinya dan juga Keysa.


Tak lama Devan datang bersama Remon dan Clara. Mereka segera menghampiri Felix dan menanyakan Keysa. Felix tak menjawabnya hanya mengatakan kalau di belakangnya adalah ruangan Keysa. Mereka bertigapun masuk ke dalam dengan sesekali melirik ke arah Felix yang begitu dingin dan datar.


Keysa duduk di atas brangkar dengan wajah pucat dan lesunya. "Key," panggilan itu menyadarkannya.


Keysa menengok ke arah mereka bertiga dan tersenyum kecil, Clara langsung menghamburkan pelukannya pada Keysa dan menanyakan keadaannya.


"Gue baik baik saja," ucap Keysa saat melepas pelukannya.


"Kamu serius baik-baik saja, Key? Ada apa sebenarnya, kamu bahkan mengacuhkan telponku." ucap Devan dengan nada khawatir.


"Aku baik-baik saja, aku hanya kelelahan saja." ucap Keysa masih memasang senyumannya.


"Key, Felix berada di luar." ucap Clara membuat Keysa terdiam di tempatnya. Ya, dia tau kalau dari dua hari yang lalu saat ia baru saja siuman, Felix memang berada di luar ruangannya tanpa ingin masuk ke dalam.


"Aku tau," ucap Keysa.


"Apa dia menyakitimu lagi?" tanya Devan dan dengan segera Keysa menggelengkan kepalanya.


"Semuanya baik-baik saja, Van." ucap Keysa.


Mengalirlah pembicaraan mereka bertiga mengenai beberapa hal. Devan terus memperhatikan wajah Keysa yang jauh dari kata baik-baik saja.


***


Malam menjelang, Keysa duduk di atas kursi roda yang ia arahkan menuju jendela kaca besar yang menampilkan jalanan ibu kota di ruang rawatnya. Pandangannya kosong ke depan, Keysa memikirkan ucapan Dhika mengenai kondisi sang papa, bahkan pengacarannya Daniel juga sudah menjelaskan mengenai perusahaan yang semakin menurun dan bahkan kacau. Papanya masih belum sadarkan diri. Semuanya sudah jelas, kalau Reno di balik semua ini. Reno begitu terobsesi dengan perusahaan papanya. Tetapi mereka belum bisa menangkap Reno karena bukti belum terkumpul.


Tak berbeda jauh, diluar ruanganpun Felix duduk dengan pandangan kosong ke depan, ia bahkan tak beranjak sedikitpun dari tempat duduknya. Wajahnya sudah terlihat kacau dan pucat, bulu-bulu halus tumbuh di rahangnya yang tegas dan kokoh. Pandangannya kosong ke depan. Ucapan Dhika tentang kondisi Keysa terus memenuhi pikirannya. Felix ingin bertindak, tetapi ia tidak tau harus bagaimana. Keadaan menyudutkan dan menyulitkan dirinya.


Keysa menengok ke arah pintu dimana ia tau kalau Felix berada di luar kamar, ia menggerakan rodanya mendekati pintu. Ia tidak ingin membukanya, ia hanya berdiam di balik pintu dengan mengusap daun pintu diiringi tangisannya. Kata-kata Felix kembali terngiang di telinganya mengenai status mereka yang sebenarnya.


Kakak seayah...


Keysa menangis di balik pintu, hatinya terasa sangat sakit. Sejujurnya ia membutuhkan Felix berada disisinya, menguatkannya dan mampu menemaninya. Keysa takut tuhan mengambil nyawanya saat ini juga, sebelum ia mampu menerima status mereka. Sebelum ia melihat wajah Felix.


Ia menutup mulutnya sendiri menahan isakannya karena tidak ingin Felix mendengarnya. Keysa sungguh tak sanggup lagi dengan semuanya, ia lelah....


Ia ingin marah dengan takdir yang begitu menyakitkan ini, ia ingin mengakhiri segalanya. Ia tidak sanggup melihat Felix sebagai kakaknya,, ia tidak sanggup.


Felix sesekali mengusap matanya yang basah, sudah kesekian kalinya air mata itu luruh tanpa ia minta. Tetapi ia tak mampu melakukan apapun selain diam membisu.


***


Pagi-pagi sekali, Keysa melakukan terapi bersama Dhika. Semuanya berjalan dengan lancar, dan Dhika kembali mengantar Keysa ke dalam ruangannya. Dhika mendorong kursi roda yang di tempati Keysa, tak ada yang mengeluarkan suara. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.


Langkah Dhika terhenti saat melihat Felix berdiri di depannya, Dhika menyadari tatapan terluka dari mereka berdua.


"Apa kamu ingin berbicara dengannya,?" bisik Dhika menyadarkan Keysa dan ia terlihat langsung memalingkan wajahnya ke arah lain.


"Tidak," jawab Keysa, "Bawa aku kembali ke dalam ruanganku."


Dhikapun hanya bisa menghela nafasnya dan kembali berjalan mendorong kursi roda yang di tempati Keysa melewati Felix yang masih menatapnya tanpa berkata apapun.


Di dalam ruangan, Dhika membantu Keysa untuk istitahat. Perlahan Keysapun terlelap saat Dhika sudah memberikan obat padanya.


Dhika berjalan keluar ruangan dan terlihat Felix hendak berlalu pergi meninggalkan area rumah sakit.


"Felix," panggilan itu membuat Felix menghentikan langkahnya. Dhika berjalan mendekati Felix yang terlihat berdiri dengan memasukan kedua tangannya ke dalam saku celananya. "Bisa kita mengobrol sebentar?"


"Aku akan ke restaurant depan, kalau kau mau kita bisa mengobrol disana." ucap Felix


"Baiklah,"


Keduanya berjalan tanpa berbicara menuju ke restaurant depan.


Mereka kini sudah duduk berhadapan di dalam restaurant, Felix memesan kopi hitam dan juga roti. Sedangkan Dhika memilih memesan Capucino.


"Bagaimana kondisinya?" tanya Felix tanpa menatap ke arah Dhika, ia terlihat menatap ke arah roti di depannya dengan rasa enggan.


"Kondisinya mulai membaik, hanya saja dia tetap harus melakukan operasi untuk sembuh total," ucap Dhika menyeduh minumannya.


"Apa itu akan berhasil 100%?"


"30%," ucapan Dhika membuat Felix menghela nafasnya dan kembali menyimpan sendok yang baru saja akan dia suapkan ke dalam mulutnya. Ia memilih meneguk kopi hitamnya yang pahit.


"Ada apa?" tanya Felix dengan kernyitan di dahinya.


Dhikapun mulai menjelaskan perihal keadaan Mahesya yang sekarang ini sedang dalam persembunyian. Dhika juga menjelaskan tentang kondisi perusahaan yang semakin kacau karena ulah Reno dan tangan kanan Pak Mahes yang bekerjasama untuk menghancurkan perusahaannya.


"Keysa bersikeras ingin mempertahankan perusahaan papanya dan juga mengembalikannya ke semula. Dia tidak ingin hasil jerih payah papanya begitu saja di renggut orang jahat seperti mereka," ucap Dhika.


Felix terdiam sesaat, ia terlihat mengepalkan kedua tangannya erat hingga memutih. Dhika dapat merasakan aura gelap menguasai Felix.


"Aku ingin bertemu pengacara Keysa," ucap Felix


"Akan ku atur," Jawab Dhika


***


Seminggu sudah berlalu, Keysa mulai khawatir karena Felix sudah tak pernah datang lagi ke rumah sakit. Berbagai macam pikiran negative memenuhi kepalanya. Keysa juga merasa sangat merindukan Felix.


Karena Dhika mengatakan kondisinya sudah membaik, Keysa memutuskan untuk pergi menemui Felix. Untuk kali ini saja, Keysa ingin memeluk Felix.


"Kamu mau kemana, Key?" tanya Devan saat melihat Keysa yang memakai jaketnya.


"Kerumah Felix atau kantornya," ucap Keysa datar.


"Untuk apa lagi, Key?" tanya Devan tetapi Keysa tidak menjawabnya dan bergegas pergi.


"Mau sampai kapan kamu mendiamkan aku seperti ini, Key?" ucap Devan membuat Keysa mengurungkan niatnya untuk pergi.


"Maaf" ujar Keysa


"Dengar, Felix....." Devan terdiam sesaat. "dia bukan orang yang tepat untukmu," ucap Devan.


"Kenapa?" tanya Keysa menatap ke arah Devan yang berada di sisi kirinya.


"Kamu tau jawabannya Key, dia kakak kandung kamu sendiri. Ingat itu Key, perasaan kamu ini hanya akan membuat kamu semakin terluka" ucap Devan menatap Keysa.


"Benar" jawab Keysa datar


"Berhentilah. Itu hanya akan menyakiti hatimu. Dia kakak kandung kamu dan wanita yang dia cintai hanya Bella" ucap Devan menciutkan kembali hati Keysa.


"Aku tau itu!!" teriak keysa. "tapi.... Aku tidak bisa menahan diri. Aku tau status kita sebagai saudara kandung dan mungkin yang dia cintai hanya Bella" ucap Keysa mulai melemah. "Tapi aku tidak bisa menahan perasaanku padanya. Aku pikir kamu benar, perasaan ini hanya sesaat seperti halnya dengan Reno. Dan akan menghilang dengan seiring waktu berlalu. Aku terus mencoba untuk melupakannya. Tapi...." Keysa memejamkan matanya dan menghapus air matanya yang kembali jatuh membasahi pipi. Hatinya terasa sakit dan begitu sesak.


"Tapi... Semakin keras aku mencoba melupakannya, semakin sering dia ada dipikiran dan hatiku" ucap Keysa menatap Devan dengan tatapan terluka. "Dan aku tidak bisa berhenti menangis, mengingat hal itu." tambah Keysa. "maafkan aku,, Aku tidak mau menyakitimu lagi, Devan," tambah Keysa hendak beranjak tapi Devan kembali memegang lengan Keysa.


"Jangan pergi" ucap Devan lirih


"Aku mohon, biarkan aku pergi. Kamu akan bisa mendapatkan yang lebih baik dariku." ucap Keysa memembalas tatapan sendu Devan. "Aku mohon" tambah Keysa membuat Devan akhirnya melepaskan genggaman tangannya dan Keysa langsung berlalu pergi.


Keysa sampai di depan rumah Felix. Dengan menguatkan diri, Keysapun berjalan memasuki rumah Felix. Keysa berjalan masuk ke dalam hingga sampai di ruang tamu dan terlihat Felix tengah berhadapan dengan seorang wanita sexy.


"Bella" gumam Keysa. Keysa masih berdiri ditempatnya tak jauh dari Felix dan Bella. Hatinya semakin terluka dan sakit melihat Bella bersama Felix, pantas Felix tak kembali datang ke rumah sakit.


"Felix aku mohon" pinta Bella


"Pergi" ucap Felix masih tenang


"Kamu jadi dingin seperti ini sama aku gara-gara sekretaris bodohmu itu" teriak Bella


"Aku bilang pergi" ucap Felix penuh penekanan.


"Gak Felix sebelum kamu menuhin keinginanku" ucap Bella


"Jangan gila Bella, sekarang pergi dari rumahku" ucap Felix lagi membuat Bella menghela nafasnya dan beranjak pergi tetapi langkahnya terhenti saat melihat Keysa berdiri di dekat pintu. Bella segera menghampiri Keysa,


Plak


"Dasar wanita ******" Bella menampar pipi Keysa dengan sangat keras membuat Keysa meringis kesakitan.


"Bella" Felix tersulut emosi dan menarik tangan Bella dengan kasar, lalu mendorong tubuhnya keluar rumah membuatnya tersungkur ke lantai.


"Felix, kamu tega lakuin ini sama aku" ucap Bella tidak percaya. Tetapi Felix tidak menghiraukannya dan segera menutup pintunya.


Blammmm


Keysa kaget melihat sikap kasar Felix kepada Bella. "Kenapa datang kesini? Bukankah kamu masih sakit?" tanya Felix terdengar dingin.


"A-aku," Keysa terdiam sambil menggigit bibir bawahnya. Keysa melihat ke arah tangan Felix yang memakai perban.


Keysa menarik pergelangan tangan Felix menuju pantry dapur dan menyuruh Felix untuk duduk disana. Keysa menyiapkan es batu ke dalam kain dan menempelkannya di tangan Felix.


"Apa yang terjadi?" tanya Keysa tetapi Felix hanya terdiam membisu. Cukup lama keduanya terdiam, Keysapun mulai membuka suaranya.


"Katakan padaku, apa aku salah?" tanya Keysa dalam diam membuat Felix menengok ke arahnya.


"Kalau begitu jangan bermain-main dengan orang yang salah" ucap Felix datar. Lalu menempelkan es batu yang di tutup kain ke pipi Keysa yang terlihat memar.


"Kamu mengacuhkanku selama di rumah sakit dan lebih memilih dokter itu," ucap Felix.


"A-aku hanya merasa belum mampu berhadapan denganmu," cicit Keysa menatap mata Felix dengan mata yang berkabut.


"Lalu kenapa sekarang datang kesini? Bahkan dengan masih memakai pakaian rumah sakit," ucap Felix


"A-aku,," Keysa menggigit bibir bawahnya karena gugup. " Karena aku merindukanmu," ucap Keysa terdengar parau diiringi dengan air matanya yang sudah luruh membasahi pipi. Felix terdiam membisu menatap Keysa.


"Gunakan saja untuk lukamu" Keysa  melepas kain itu dan kembali menempelkannya di tangan Felix.


"Jangan bodoh, kau juga terluka" ucap Felix kembali menempelkan kain itu dipipi Keysa.


"Kenapa?" tanya Keysa menatap felix membuat Felix menurunkan kainnya dari pipi Keysa. "Kenapa rasanya sakit sekali?" tanya Keysa dengan tangisannya.


"Kenapa seperti ini rasanya,,, hikz...hikz...hikz...." Keysa kembali menangis terisak, Felix hanya menatap Keysa dengan sendu. "katakan padaku, kenapa kamu lakukan ini kepadaku? Kenapa kamu buat aku seperti orang bodoh. Katakan padaku, Felix? Hikz....hikz...hikz...." bentak Keysa.


"Aku tidak tau harus bagaimana sekarang,,,hikzzz...... Rasanya sangat sakit,," Keysa menundukkan kepalanya dan menangis terisak.


"Maafkan aku" Felix menarik tubuh Keysa ke dalam pelukannya. "maafkan aku, Key. Bukan hanya kamu yang sakit tapi aku juga jauh lebih sakit" guman Felix menangis dalam diam.


"Sakit.... Rasanya sungguh sakit,,hikzzz" isak Keysa,


"Ya, aku mengerti. Maafkan aku" ucap Felix


"Kenapa takdir kita seperti ini? Apa salah kita?hikz..." Keysa menangis sejadi-jadinya didada Felix.


***