My Ceo

My Ceo
Episode 11



Keysa kembali mulai bekerja seperti biasanya,, pagi-pagi sekali dia sudah siap dengan pakaian kantornya. Tidak ingin mengulang kejadian memalukan seperti kemarin.


Keysa turun menuju meja makan, disana sudah ada Felix dengan setelan formalnya sedang menikmati kopi panas.


"Ayo berangkat" ucap Keysa terdengar sinis,, Keysa masih kesal dengan sikap Felix kemarin.


"Sarapan dulu" ucap Felix dengan santai


Keysapun mencomot roti yang ada dihadapannya. Keduanya menikmati sarapan dalam diam.


***


Keysa kembali fokus didepan komputernya, handphonenya terus berbunyi dan tertera nama Reno dilayar hp.


Keysa melihatnya sekilas dan hanya membuang nafasnya kasar.


Hingga tanpa terasa waktu sudah menunjukkan jam istirahat, Keysa bergegas membereskan pekerjaannya dan beranjak keluar


Keysa Pov


Sudah beberapa hari ini aku tidak nafsu makan, tapi perutku sekarang sangat kelaparan. Cacing-cacing di dalam sudah meminta jatahnya. Baiklah meskipun nafsu makanku belum kembali tapi akan aku paksakan makan, aku tidak mau kalau sampai sakit.


Aku berjalan sendiri menuju cafe sekitar kantor, aku sengaja memilih makan siang sendiri. Untuk saat ini aku hanya ingin sendiri dan mencari ketenangan. Masalah yang aku hadapi, benar-benar menyita pikiranku.


Apalagi kepergian papa yang mendadak.....


Ada apa yah dengannya? Ini membuatku bingung...


Bagaimana yah sekarang keadaannya? Aku sungguh mengkhawatirkannya.


Aku hendak memasuki sebuah cafe tetapi tiba-tiba sebuah tangan kekar menahan pergelangan tanganku membuatku langsung menengok.


"Re-no" ucapku sedikit kaget dengan keberadaannya


"Kemana saja kamu? Kenapa tidak menjawab telponku, dan kenapa pembantu bilang kamu pergi meninggalkan rumah?" tanya Reno berbondong.


Kenapa dia? Apa dia mengkhawatirkanku, Jangan tertipu Key,, dia tidak mengkhawatirkanmu. Dia hanya beracting karena keinginannya belum terpenuhi.


Hati dan pikiranku seakan berdebat didalam sana.


"Key...." panggil Reno menyadarkanku


"Eh...."


"Kamu melamun? Apa yang terjadi Key?" tanya Reno dengan tatapannya yang sendu dan penuh kekhawatiran.


"Lebih baik kita makan saja dulu, aku lapar" ucapku datar


"Baiklah,, ayo" ucap Reno mempersilahkanku


Kami memesan makan siang kami.


Mood makanku langsung hilang seketika karena Reno.


"Kenapa kamu ada disini?" tanyaku


"Bukan aku, tapi kamu kenapa ada disini? Kemana saja kamu selama 3 hari ini, dirumah tidak ada, dikantor juga tak ada. Aku sungguh mengkhawatirkanmu, sayang. Kamu bahkan mengabaikan telponku" ucap Reno


"Aku..." aku terdiam sesaat, aku tidak bisa bicara apa-apa. Emosiku langsung naik ke ubun-ubun melihat Reno yang so manis. Cih,,, benar-benar tak tau malu


"Kenapa Key? Pernikahan kita 3 minggu lagi tetapi kenapa kamu terlihat menghindariku" tanya Reno


'Pernikahan sialan itu tidak akan pernah terjadi, aku tidak akan biarkan kamu menyakiti aku lebih dari ini' aku menatapnya dengan tatapan kebencian, tenggorokkanku sakit rasanya ingin sekali memakinya.


"Aku ingin pernikahan kita batal" ucapku penuh keyakinan. Akhirnya aku bisa mengeluarkan kata ini.


"WHATTT???? Tidak bisa Key,,, lagian kenapa kamu batalin? Apa kamu mulai menyukai atasanmu itu" tuduh Reno yang mulai emosi. Ekspresi yang sangat berlebihan


"Bukan urusanmu, yang jelas aku ingin kita putus dan tidak akan ada acara pernikahan" ucapku penuh penekanan. Aku sudah tak tahan lagi ingin mengakhiri semuanya.


"Tapi kenapa Key? Aku tidak mau ngebatalin pernikahan kita, 3 minggu lagi kita akan tetap menikah suka ataupun tidak" dia membentakku,,


kenapa dia? Apa takut karena rencananya gagal,,


Mataku sudah berair bersiap untuk jatuh,, tapi sekuat tenaga aku menahannya. Aku tidak boleh terlihat lemah dihadapannya.


"Makanlah" ucapnya mulai lembut.


Aku hanya terdiam dan mulai menyuapkan makanan ke dalam mulutku, rasanya seperti memakan duri, sakit sekali tenggorokanku dan susah payah aku telan.


"Aku sudah tau kebusukanmu dengan Sanas" gumamku dan aku yakin Reno mampu mendengarnya sampai tubuhnya menegang dan membuat garpu yang dia pegang jatuh.


Lihatlah dia menatapku dengan tatapan syok, kenapa Ren? Apa karena kaget rencana kamu gagal.


"Aku tau kamu hanya mengincar harta papaku" tambahku, aku melirik Reno yang masih menatapku dengan tatapan tidak percaya dan syok


"Aku tidak ingin menikah dengan seorang penipu" tambahku


"Kebohongan macam apa ini? Kamu mendengar hal bodoh ini dari mana, Key? Aku jelas-jelas mencintaimu"


"Cukup Ren, aku sudah mendengar pembicaraanmu dengan Sanas"


Dia masih terdiam dengan tatapan kosongnya, mungkin masih mencerna setiap ucapanku. Lebih baik aku pergi meninggalkannya, lagian laparku sudah hilang gara-gara dia.


Aku meninggalkannya yang masih terpaku dan kembali ke kantor.


Dikantor terlihat sepi, mungkin masih pada istirahat. Aku segera memasuki lift


Ting


Lift terbuka dan aku melangkahkan kakiku menuju mejaku, sebelum sampai dimejaku. Aku mendengar pertengkaran di dalam ruangan Felix yang pintunya tidak tertutup rapat.


'Ada apa yah? Dia lagi berantem sama siapa?'


"Sudah saya bilangkan berkali-kali kepada anda, jangan pernah menunjukkan lagi wajah anda dihadapan saya. Jangan membuat saya semakin membenci anda" teriak Felix


Siapa wanita itu? Apa dia kekasih Felix.


"Maaf??? Anda mau bilang maaf? Kenapa baru sekarang? Kemana saja anda selama ini?" ucap Felix terdengar menahan emosi.


"Aku tau, kesalahanku sangatlah besar. Aku mohon ampuni ibu" ucap wanita itu dengan terbata-bata sepertinya dia menangis.


'Ibu?? Apa wanita itu ibunya Felix? Tetapi kenapa Felix terdengar kesal padanya?'


"Pergilah,, jangan pernah datang lagi kesini. Jangan pernah menampakkan wajah anda lagi dihadapan saya,, kalau anda butuh uang, akan saya berikan. Berapapun yang anda butuhkan?" ucap Felix penuh penekanan


"Aku tidak ingin uangmu,, aku hanya..." ucapan wanita itu terpotong


"Ku mohon pergilah, jangan membuatku semakin membenci anda" ucap Felix lirih tetapi penuh penekanan.


Hingga wanita itu keluar dan berpapasan denganku. Wanita itu,, bukankah wanita paruh baya yang kemarin datang ke rumah dan berteriak ingin bertemu Felix


Aku tersenyum kaku dan membungkukkan sebagian badanku untuk memberi hormat dan wanita itupun berlalu pergi. Aku hanya menatap punggungnya yang menghilang dibalik pintu lift.


Siapa dia? Ada hubungan apa dia dengan Felix? Kenapa Felix bisa semarah itu


Aku mengambil salah satu dokumen untuk di tanda tangani oleh Felix, aku mengetuk pintu ruangannya. Setelah ada sahutan dari dalam, akupun segera masuk dan terlihat Felix yang sudah tak memakai jasnya, kemeja biru langitnya sudah dilipat hingga siku.


Dan tatapan itu,,,, aku melihat sebersit luka dimatanya. Ada apa sebenarnya? Kenapa dia? Apa dia tersakiti?


Dia menatapku dengan teduh dan sayu. Cukup lama kami bertatapan dan aku mampu merasakan kesedihan yang dia alami.


Ekhem.... Felix berdehem dan mampu menyadarkanku.


"Maaf pa,, ada dokumen yang belum bapak tanda tangan" ucapku menyerahkan dokumen itu kepadanya


"Kamu tidak makan siang, Key?" tanyanya dengan pandangannya yang tetap  mengarah ke dokumen dihadapannya.


"Belum pak, saya tadi memang mau makan siang tapi tidak jadi" ucapku dan dia melirikku


"Ya sudah tolong pesankan makanan buat kita berdua, kita makan disini" ucap Felix


"Baik pak" ucapku segera keluar dari ruangan  Felix untuk memesan makanannya.


20 menit sudah berlalu dan makananpun datang. Aku segera membawanya keruangan Felix.


Saat aku masuk, terlihat Felix sedang menatap langit yang mendung seakan mau turun hujan lewat kaca besar diruangannya yang menjadi pilar. Dia berdiri dengan tangan yang di masukan ke dalam saku celananya.


Apa yang sedang dia pikirkan? Apa terjadi sesuatu?


"Pak... Makanannya sudah siap" ucapku membuatnya menengok dan tersenyum kecil kepadaku


Ahhh.... Senyuman itu,,, benar-benar membuatku bisa gila dan jantungan.


Aku membalas senyumnya dengab kikuk dan dia mempersilahkanku untuk duduk disofanya.


Kami mulai menikmati makan siang kami dalam diam, kami fokus dengan pikiran kami masing-masing.


***


Hari ini adalah weekend, dan aku diajak Felix untuk ikut ke puncak karena dia akan manggung disana.


Aku penasaran melihat seorang Felix Ernest Blandino sang pangeran es bernyanyi dan menghibur para penonton.


Kami pergi menggunakan mobil alphard berwarna hitam. Aku duduk bersebelahan dengan Felix dan dihadapanku ada Remon, Clara dan Devan.


Clara sibuk bermesraan dengan Remon, sedangkan si pangeran es sibuk dengan iphone nya.


"Key,, kamu tidak dipaksa lagi sama si Felix kan ke kantor dengan masih pakai piyama" ejek Devan


"Agh itu... Tidak kok, sekarang aku selalu sudah siap-siap dari subuh biar dia tidak pake acara gendong-gendong lagi" ucapku terkekeh


"Bagus tuh,, jadi dia gak akan ngambil kesempatan lagi dari kamu" kekeh Devan


"Yeee,, padahal bagus kali kayak gitu.. Kan so sweetz digendong gitu ke kantor. Aku saja mau di gituin sama Remon" ucap Clara dengan polosnya


"Ikhh sayang apaan sih,, berat tau" sahut Remon membuat semuanya tertawa kecuali Felix


Dia tidak pernah ketawa kali yah,, datar banget gitu muka nya, mirip ayam jago.


Kami sesekali tertawa mendengar lelucon dari Remon dan Devan, tetapi Felix hanya memasang wajah datar. Sepertinya saat tuhan menciptakan dia, porsi keramahan hanya 5%, dan sepertinya juga jenis ekspresinya terbatas, jadi dia tidak tau caranya untuk tertawa.


Akhirnya kami sampai di puncak dan langsung memasuki kamar masing-masing untuk mandi dan beristirahat.


Selesai mandi, aku keluar untuk menikmati pemandangan dan udara sejuk dipantai. Saat aku tengah berjalan-jalan, aku melihat Felix sedang berdiri diatas bukit kebun teh. Aku berlari menghampirinya hingga saat sampai kakiku terpeleset dan hampir saja pantat cantikku ini membentur tanah kalau saja tidak ada sepasang tangan kekar menahannya.


Mata kami bertemu,, mata indah itu sangat tajam dan mampu menembus ke retina mataku.


Jantungku seakan ingin keluar dari tempatnya. Apa aku mulai menyukainya? Aghh,, kau sudah gila Key,, masa sih kamu menyukai ayam jago ini.


Tiba-tiba sesuatu yang kenyal dan basah menyentuh bibirku,,,


Astaga... Astaga dia menciumku !!!!


Dia ******* bibirku lembut sambil membantuku untuk berdiri tegak tanpa melepas ciumannya.


Entah dorongan setan dari mana,, aku membalas lumatannya dan mengalungkan kedua tanganku kelehernya.


Felix pov


Bibir ini selalu menjadi candu bagiku,, ingin rasanya setiap hari aku melumatnya.


Manis sekali rasanya....


Aku melihatnya yang mulai kehabisan nafas. Segera aku lepaskan ciumanku tetapi masih menempelkan kening kami berdua. Dia terengah-engah dan menghirup udara sebanyak-banyaknya. Tiba-tiba mata birunya itu menatap mataku dengan tatapan sayu.


****