
Sore itu, setelah aku pulang dari sekolah, aku
membantu Tante di tokonya karena Tante terlihat banyak sekali pesanan.“Tante
kenapa banyak sekali pesanannya? Apa ada yang akan syukuran?” tanyaku.
“Itu pesanan Nak Dewi, katanya
sahabatnya sedang ada syukuran opening café. Dan mengundang banyak anak yatim
piatu,”
jelas Tanteku.
Dewi adalah pelanggan setia
Tante, dia masih muda dan sekarang tengah berkuliah di salah satu Universitas terkemuka di kota ini.
Dia begitu ramah dan baik, bahkan kamipun sering sekali mengobrol dengan akrab.
Tak lama terdengar salam, membuat
kami menengok dan panjang umur juga, wanita cantik yang tengah di bicarakan
kini berada di antara kami.
KakDewi Zhaleka Fredelima
Earnnal, putri seorang pengusaha dibidang fastfood di Surabaya. Itu yang aku
tau tentang Kak Dewi. Kak Dewi datang untuk mengambil pesanannya yang kebetulan
baru selesai setengahnya, dan dia memintaku datang ke acara syukuran sahabatnya
sambil mengantarkan sisa pesanannya dan akupun menyanggupinya.
***
Sore itu aku pergi menuju tempat
syukurannya sahabat Kak Dewi. Acartanya terlihat sudah di laksanakan karena
pita di pintu sudah tergunting. Café yang terlihat mewah dan klasik. Aku
memasuki café setelah memberi laporan ke satpam penjaga café di sana.
Aku memasuki café yang terlihat
luas dan mewah itu. Aku menyisir pandanganku mencari keberadaan Kak Dewi,
tetapi seketika pandanganku terhenti pada sosok tampan yang tengah berdiri di dekat
ballroom dan terlihat tengah berbicara dengan seseorang. Memang konyol, tetapi
aku langsung terpikat padanya, lelaki jangkung dengan wajah blasterannya. Dia memiliki kulit yang putih dan
bersih tanpa noda, alisnya yang tebal terpahat indah, matanya yang tajam dengan
bulu mata lentiknya, hidungnya yang mancungdan bibirnya yang berwarna merah
pucat. Sungguh dia begitu sempurna, dia seperti jelmaan Dewa Yunani yang begitu sempurna.
Deg
Mata coklatnya kini melihat ke arahku. Ya
Tuhan, jantungku kenapa mendadak berdetak sekencang ini. Sorot matanya yang
tajam seperti seekor elang itu mampu meluluh lantahkan pertahananku.
Pandangannya kembali ke teman
bicartanya, membuatku sedikit kecewa karena dia tak berniat menghampiriku. Oh,,
ayolah Thalita. Memang siapa dirimu ini, kamu di sini sudah seperti upik abunya
sang pangeran. Dan jangan mengkhayal terlalu tinggi.
“Astagfirulloh...” Aku segera memalingkan
pandanganku dari iblis tampan itu, oh tidak maksudku malaikat tanpa sayap itu.
Aku kembali menyisir setiap sudut
ruangan itu hingga pandanganku menemukan sosok yang sejak awal aku cari. Aku
berjalan menghampiri Kak Dewi yang tengah berbincang dengan dua orang wanita
seumurannya.
"Assalamu'alaikum..." salamku.
"Wa'alaikumsalam..." ucap Kak Dewi dan membuat
ketiga wanita itu langsung menengok ke arahku.
"Halo Lita, Kakak seneng kamu
dating,"
ucap Kak Dewi mencium pipi kiri dan kananku.
"Ini Kak sisa pesanan Kakak." Aku menyodorkan kantong
kresek yang sejak tadi aku bawa.
"Ah iya, terima kasih yah. Kamu
jangan pulang dulu," ucap Kak Dewi dan akupun mengangguk setuju. Mungkin
aku bisa lebih lama memandangi sang pangeran itu.
Lita otakmu mulai koslet
ternyata.
"Oh iya Za, Ren. Kenalin dia Thalita
keponakannya ibu Ratih," ucap Kak Dewi kepada kedua wanita yang masih berdiri di sana.
"Halo Lita,, kenalin gue Irene," ucap gadis yang terlihat
lebih muda dari Kak Dewi.
"Aku Elzabeth, panggil saja Elza," ucap wanita yang satu lagi
dengan wajah datarnya. Judes banget sih ini Kakak, udah seperti Mama tirinya upik abu.
Ya Tuhan Lita, otakmu semakin
koslet.
"Thalita,” ucapku tersenyum manis kepada
mereka berdua.
"Kamu duduk aja disini yah, Kakak
ke belakang dulu,"
ucap Kak Dewi berlalu pergi sambil membawa sisa snack yang aku bawa. Dan Kakak
judes itupun mengekori Kak Dewi menuju ruangan lain di café ini.
"Kamu jangan canggung disini,
santai aja,"
ucap wanita yang masih berdiri di sampingku, membuatku tersenyum.
“Ayo duduk,” ajaknya mengajakku duduk di
salah satu kursi yang ada di sana. Aku hanya menurutinya saja.
Kami berbincang sedikit, ternyata
Irene seumuran denganku. Dan dia juga masih duduk di kelas tiga SMA sama
sepertiku dan ketiga sahabatku.
Tak lama seorang lelaki tampan menghampiri kami.
"Sayang,
kamu di sini ternyata aku cariin," ucap seorang laki-laki yang baru saja
datang dan mencium puncak kepala Irene.
"Halo
Sayang, iya tadi aku bantuin Kak Dewi sama ka Elza dulu," ucap Irene
manja, laki-laki yang mengaku pacarnya itu duduk di samping Irene.
"Sayang, kenalin ini Lita temennya Kak Dewi."
"Halo,
gue Arseno pacarnya Irene," ucapnya menyodorkan tangannya ke arahku.
"Thalita," Aku
menyambut uluran tangannya.
Kamipun mulai berbincang, lebih
tepatnya Irene dan kekasihnya itu karena aku hanya menjadi obat nyamuk yang
sesekali ikut tersenyum mendengar celotehan Irene atau kekasihnya itu.
Setelah lama, mereka berpamitan
sebentar karena seorang laki-laki memanggil mereka. Dan kini aku sendirian
dengan menatap ke arah ballroom yang terlihat akan segera memulai acartanya. Sang host mulai berbicara
berbagai hal tentang café ini, mungkin perkenalan café. Hingga dia mengatakan
kalau sang pemilik café akan memberi sambutannya. Aku penasaran sekali siapa
sahabat Kak Dewi pemilik café ini. Dia pasti sangat kaya, karena terlihat dari
dekorasi café yang begitu mewah dan elegant.
Ternyata
malaikat itu, ya Tuhan dia pemilik café ini. Siapa tadi namtanya, Pradhika
Reynand Adinata.
Wow,,
benar-benar sebuah kejutan. Aku semakin tersingkirkan dari barisan calon
pacarnya, dia terlalu sempurna untukku. Bukan hanya ketampanannya, dia juga
sangat kaya.
“Lita...”
Siapa seseorang yang mengganggu
aktivitasku.Aku terPaksa harus mengalihkan pandanganku dari pangeranku ke
seseorang yang menggangguku itu.
"Serli?" Aku sangat kaget melihat Serli berada di sini. “Kenapa
lu ada disini?"
"Ternyata benar lu,,”
ucapnya seraya duduk di atas kursi yang berada di sampingku. “Gue di ajak sama cowok gue kesini,
ini kan acara sahabatnya.” Jelasnya.
“Nah lu sendiri ngapain di sini?" tanya Serli. Aku pun menjelaskan kenapa
aku ada disini.
"Lu
kenal Kak Dewi?" Serli mengernyitkan dahinya
"Iya,
dia pelanggan setia di toko kue tante Ratih."
"Oh
gitu, daritadi gue perhatiin lu. cuma gue takut salah orang," kekehnya.
"Gue
kaget banget lu ada di sini," ucapku.."Terus cowok lu kemana?"
Aku penasaran karena Serli sendirian.
"Oh
itu dia." tunjuk Serli ke seorang laki-laki yang duduk di depan tak jauh
dari tempat kami duduk.
"Oh itu." Aku melihat
lelaki yang di tunjuk Serli.
"Mereka itu bersahabat," ucap Serli tiba-tiba
membuatku menengok kembali ke arahnya."Nama gengnya itu Brotherhood."
"Persaudaraan?"Serli
menganggukkan kepalanya
sebagai jawaban.
"Kata Daniel sih, mereka bukan
sekedar sahabat melainkan mereka adalah keluarga dan saudara. Mereka berbeda
umur, berbeda agama, berbeda sifat tetapi mereka sangat komPak dan menjadikan
perbedaan mereka itu menjadi keistimewaan dari geng Brotherhood." jelas Serli.
Sungguh mengesankan...
"Lu kenal dengan mereka
semua?" tanyaku mulai tertarik dengan pembahasan Serli.
"Iya, Daniel menceritakan semuanya
sama gue. Lu liat laki-laki yang tadi memberi sambutan?" tanya Serli
membuatku mengangguk antusias karena sejak tadi dialah fokusku."Dia itu Pradhika Reynand Adinata,
pewaris tunggal keluarga Adinata. Ayahnya adalah seorang Dokter sekaligus
pemilik rumah sakit paling terkemuka diJakarta," jelas Serli.
"Tunggu,, maksud lu rumah sakit
Adinata Medika Internasional atau biasa di sebut AMI Hospital?" tanyaku
kaget. Karena itu adalah salah satu rumah sakit yang sangat terkemuka baik di kota Bandung yang meruPakan cabangnya.
"Yup, lu bener banget. Dia
mengambil study kedokterannya di sini, di Universitas yang lu inginkan," ucap Serli membuatku
semakin bahagia mendengarnya. Kalau aku bisa sampai dapat beasiswa di Universitas itu, pasti aku akan
sering bertemu dengannya. Apalagi kalau sampai satu fakultas.
"Gue gak nyangka dia calon Dokter," ucapku tersenyum menatap
sang Dewa
yunani itu.
"Lu naksir dia yah?" goda Serli.
"Ih apaan sih, enggak kok." Aku terkekeh kecil karena merasa malu. Uh akhirnya ketahuan Serli mengagumi Dewa Yunani
itu.
"Dia itu leader dari
Brotherhood, keren kan?" ucap Serli menggodaku.
"Maybe." Aku menjulurkan lidahku ke arahnyamembuat Serli
terkekeh. Kenyataannya aku memang sudah menyukainya.
"Yang gue liat sih selama ini, dia
orangnya welcome sama siapa saja, ramah, dan murah senyum. Kata Daniel sih
diantara yang lain, Kak Dhika lah yang paling jarang marah, pembawaannya selalu
santai dan penyabar. Apapun selalu dipikirkan dengan kepala dingin dan penuh perhitungan,"
jelas Serli membuatku semakin jatuh cinta padanya. Sungguh Kak Dhika itu sosok lelaki
idaman.
"Dan itu yang memakai jas abu, yang
duduk di samping Kak Dhika. Itu Daniel Cetta Orlando cowok gue, gak kalah
ganteng kan sama Kak Dhika?" ucap Serli nyengir membuatku terkekeh.
"Iya, lumayan lah," godaku.
"Enak saja lumayan, orang ganteng
gitu,"
cibirnya membuatku terkekeh.
"Baiklah, dia tampan. Puas nona
Serli?"
ucapku membuat Serli mengangguk bangga.
"Dia anak dari seorang pengusaha Batu bara di Kalimantan, dia asli
orang sebrang. Tapi dia memilih kuliah disini mengambil jurusan hukum semester
6 di Universitas
yang sama dengan Kak Dhika," jelas Serli.
"Ciee,, calon pengacara," godaku membuat Serli
merona. "Lalu
dia orangnya seperti apa?" tanyaku jadi ikut penasaran.
"Dia itu sangat sangat romantis,
baik hati, tidak sombong dan tampan," ujar Serli tersenyum
menatap Daniel.
"Hahaha,, yang lagi kasmaran
niyeee…" godaku membuat Serli ikut tertawa dan wajahnya terlihat memerah.
"Dan itu yang memakai jas biru,
notaris ternama di Jakarta. Dia kuliah di Universitas yang sama dengan Kak
Dhika di fakultas kedokteran, dia juga udah semester 6," jelas Serli.
"Tapi kayaknya wajah dia gak asing." Aku meneliti wajah pria yang bernama Erlangga.
"Lu kenal dia?" tanya Serli
dan aku hanya mengedikkan bahuku.
"Entahlah, tapi kayaknya
kita pernah ketemu sebelumnya."
"Dia itu seorang playboy, hati-hati
aja,"
bisik Serli.
"Lah apa hubungannya sama
gue?"
"Ya siapa tau lu naksir dia juga," kekehnya menyebalkan.
"Isshhh..."
“Lanjut lagi,” ucapku semakin tertarik.
"Penasaran yah?" kekeh Serli membuatku
mengedikkan bahuku acuh."Dia orangnya sangat cuek dan tertutup. Gue jarang banget disapa sama dia kalau ikut
Daniel kumpul sama teman-temannya."
“Itu yang Pake jas garis-garis itu namtanya Arseno
Basupati,"
ucap Serli.
"Iya gue tau, tadi gue sempet
kenalan dengannya, dia cowoknya Irene, kan?"
"Iya dia pacarnya Irenne. Seno itu
anak dari seorang direktur utama salah satu perusahaan yang bergerak di bidang
periklanan. Dia mengambil jurusan Teknik Informatika semester 6. Dia seorang
kristiani, dia juga sangat jahil dan emosional. Jangan suka cari masalah
dengannya deh. Tetapi kata Daniel, dia akan menurut dan mengalah kalau sama
Irene,"
jelas Serli."Nah Irenne Zahra
Arundati, Dia seorang pewaris perusahaan Proferty terbesar di Semarang. Tapi
sebulan yang lalu Ayahnya baru saja meninggal."
"Innalillahi..." gumamku.
"Tapi
dia terlihat ceria." Aku ingat sikap
bersahabatnya tadi saat mengobrol..
"Iya, Irene memang orangnya sangat periang
dan ramah. Dia orangnya mudah berteman dengan siapapun dan cerewet tentunya," kekeh Serli.
"Sama aja kayak lu cerewet," ucapku membuat Serli
mencibir lucu. "Lanjut," tambahku.
"Dia masih seumuran sama kita, dia
masih sma dan dia juga seorang kristiani," ucap Serli membuatku
mengangguk karena tadi sempat melihat kalung berbentuk salib dileher Irenne.
"Dan itu yang Pake jas hitam
dengan tampilan so cool. Namtanya Oktavio Adelio Mahyaalias Aligator si buaya darat paling nyebelin.”
“Panjang banget namtanya,” aku terkekeh mendengar namtanya yang begitu
lucu.
“Dia itu musuh bebuyutan gue, tadi takdir seakan ngejebak gue, dia sepupunya Daniel.”
Aku hanya bisa terkekeh mendengarnya. “Tapi walau nyebelin juga, dia tuh
seorang yang tajir. Dia itu pewaris perusahaan Perhotelan.
“Lucu nama panggilannya Aligator.”
“Iya Gator alias buaya darat. Dia itu buaya yang
udah ngalahin buaya darat di Negara ini. Pacarnya menumpuk di sana sini, udah
kayak cucian baju,” ucap Serli membuatku terkekeh.
“Dia juga orangnya sangat
menyebalkan, dan rada sengklek otaknya, tetapi mungkin bisa dibilang baik sih," jelas Serli.
"Sama calon sepupu sendiri nggak
boleh musuhan," godaku.
"Dia sangat menyebalkan Lita!" ucap Serli terlihat gemas karena geram.
"Dia
juga masih seumuran dengan kita." Aku kembali mengangguk paham.
"Dan itu yang duduk di samping Kak
Dewi, yang muktanya sangat judes. Namtanya Elzabeth Corinna Emery dari namtanya
juga lu pasti tau kalau dia juga umat kristiani. Dia anak dari seorang model
ternama Jennifer Emery, lu tau kan?" ucap Serli dan aku
mengangguk karena model itu cukup terkenal di mastanya. "Dia satu jurusan dan satu kampus
dengan Kak Dewi, dia orangnya sangat judes, sombong, dan dingin. Jarang banget
senyum,"
jelas Serli.
“Lu lihat saja muktanya Serem gitu," ucap Serli bergidik, aku
terkekeh mendengar ucapan Serli yang selalu ceplas ceplos. Tetapi aku
membenarkannya karena tadi saat berkenalanpun dia begitu dingin..
"Itulah mereka Brotherhood. Dhika,
Daniel, Erlangga, Arseno, Elzabeth,Dewi, Irene dan Okta alias Gator," jelas Serli.
"Tapi gue heran deh, mereka beda
daerah, beda jurusan juga tapi kok bisa bersahabat?" tanyaku semakin
penasaran.
"Karena dulu saat kecil, mereka
bertetangga dan menjadi sahabat saat itu juga," ucap Serli dan aku kembali
mengangguk paham.
"Ser, kenapa cuma duduk disini? Aku cariin kamu daritadi."
tanya seseorang yang aku tahu dia adalah Daniel kekasih Serli.
"Ah iya Niel, aku lagi nemenin sahabat aku
disini,"
ucap Serli. “Oh iya kenalin
ini Thalita, sahabat aku.”
"Aku Daniel," ucap Daniel menyodorkan
tangannya ke arahku dengan senyuman manisnya.
"Aku Thalita, panggil saja Lita," ucapku menyambut uluran tangan
Daniel.
"Ayo ikut gabung dengan yang lain," ajak Daniel.
"Aku disini saja, lu aja yang
kesana, Ser" ucapku merasa tak nyaman.
"Lah terus lu gimana?" tanya
Serli.
"Ini acartanya udah kelar, gue akan
balik."
"Belum selesai, sekarang kita makan
malam bersama dulu. Ayo ikut gabung Tha," ucap Daniel begitu ramah, aku menatap
Serli yang menganggukkan kepalanya sebagai tanda setuju. Akupun akhirnya menurut saja.
Aku
berjalan mengikuti Serli dan Daniel,
menuju ke arah teman-teman Daniel.
"Wah si Metromini datang," celetuk Oktavio saat
melihat Serli.
"Apa lu Gator sarap," jawab Serli.
"Serli datang, mulai deh adu
mulut antara Gator dan Metromini," kekeh Irene dan semuanya hanya
menggelengkan kepala mereka. Aku hanya bisa mencuri pandang pada jelmaan Dewa Yunani itu yang duduk santai di
antara mereka.
"Eh Lita, maaf tadi Kakak ninggalin kamu," ucap Kak Dewi baru
menyadari keberadaanku, membuat semuanya kini menatap ke arahku.
"Siapa dia Wie?" tanya Oktavio.
"Dia keponakannya Tante Ratih
pemilik toko kue langganan gue," jelas Kak Dewi.
"Eh kamu Thalita kan?" tanya
Erlangga membuatku mengangguk kecil.
"Ah iya, Kakak kenal aku?" Akumencoba mengingat
lagi wajah lelaki tampan di hadapanku ini.
"Astaga Lita, kamu lupa sama aku?
Kita suka bertemu di workshop saat ada bazaar novel," ucap Erlangga membuatku
tertegun. Yah, aku ingatsekarang.
"Astaga, maaf Kak Angga. Aku lupa," kekehkumenggaruk tengkukku yang tidak gatal.
"Maklum Kak, Lita ini punya penyakit
pelupa,"
kekeh Serli.
"Lu kenal sama Lita juga, Ser?"
tanya Kak Dewi.
"Iya Kak, Lita ini sahabat gue. Gue gak nyangka dia juga
ada di sini,"
ujar Serli antusias.
"Dunia memang sempit yah, sesempit
jidatnya si Gator," kekeh Seno membuat semua terkekeh.
"Dari pada lu, jidatnya lebar kayak
lapangan sePak bola," keluh Okta membuat yang lain terkekeh.
"Eh kenalin dulu, aku Oktavio.
Laki-laki tertampan dan terunyu di jagat raya ini," ucap Okta mengulurkan
tangannya kepadaku dengan bangga.
"Terunyu badannya,"sindir Serli membuat yang
lain terkekeh.
"Heh, berisik lu Metromini," timpal Okta.
"Thalita."
"Kita udah kenalan tadi yah,"
ucap Irene tersenyum membuatku mengangguk.
“Hei, aku Pradhika.
Panggil saja Dhika,” ucapnya mengulurkan tangannya ke hadapanku.
Ya Tuhan, aku meleleh karena senyumannya itu.
Aku mohon, jangan menatapku dengan senyuman manis seperti itu. Aku di buat
gugup seketika.
“Lita..” Aku tersadar saat Serli menyenggol
lenganku dan aku segera menyambut uluran tangan jelmaan Dewa Yunani itu yang terasa hangat.
Jantungku berpacu semakin cepat saat kulit kami bersentuhan.
Aku segera menarik kembali
tanganku karena merasa ada sengatan aneh ke Jantungku.
"Lita,
kamu jangan sungkan. santai saja," ujar Kak Dewi membuatku
tersenyum.
Kini semuanya kembali terlibat
perbincangan yang di tokoh utamain oleh Serli, arseno, Irene dan Okta. Kak Daniel hanya bisa
menghela nafas melihat cekcok sepupu dan pacarnya itu.
***
Aku berjalan kaki menunggu taxi, tadi Serli sempat
menawarinya untuk pulang bersama. Tapi aku menolaknya dengan alasan ada yang mau di beli.
Setelah acara makan malam selesai, aku langsung pamitan pulang. Bilang saja tidak sopan, tapi akusangat canggung dan tidak terbiasa.
Aku menghentikan langkahku
saat mataku menangkap sosok yang aku kenali di dalam cafe. Itu Chacha dengan pacarnya.
"Merokok????" Aku sangat kaget melihat
apa yang di lakukan Chacha. “Chacha merokok? ini tidak benar." Aku bergegas berjalan menghampiri Chacha dan Gilang.
"Chacha!"
"Lita?" Chacha terlihat mengernyitkan
dahinya melihat ke arahku.
"Hai Thalita," sapa Gilang dengan ramah tapi aku enggan menggubrisnya.
"Cha, lu ngerokok? Cha ini salah." Aku langsung menegur
sahabatku itu. "Ayo pulang." Aku menarik tangan Chacha tapi Chacha menepisnya.
"Apaan sih Tha, lu aja yang pergi sendiri jangan
ganggu gue!"
ucap Chacha dengan sinis. Ada apa dengannya?
"Cha ini udah malem, lu harus pulang.”
"Nggak Lita, jangan suka ngatur gue deh! Lu aja
yang pulang sana,"
ucap Chacha terlihat kesal. Gilang juga kenapa terus menatapku dengan tatapan yang menjijikan.
"Santai dulu aja Tha, kita nongkrong aja dulu
disini." Kali ini Gilang yang berbicara seraya menyentuh tanganku, tapi buru-buru akutepis.
Chacha menarik tanganku dan
membawa ku keluar cafe.
"Ngapain sih lu kesini, hah?" bentak Chacha membuatku tersentak
kaget.
"Cha, lu udah terlalu jauh melangkah.
Bukan hanya lu bolos terus tapi lu juga sekarang berani merokok. Gilang bawa
hal buruk buat lu." Aku tidak bisa menahan diriku lagi.
"Jangan sok ngatur hidup gue Lita! Mending sekarang lu pergi. Pergi sana!" Chacha mendorong tubuhku hingga tersungkur ke tanah.
"Jangan ganggu gue lagi, Tha!” Chacha meninggalkanku
dan kembali masuk ke dalam cafe.
"Astaga Chacha kenapa lu jadi kayak gini." Aku berdiri seraya membersihkan tubuhku yang kotor. Setelahnya akupun
memutuskan untuk pergi meninggalkan tempat itu.