My Ceo

My Ceo
Episode 58



Sore itu, setelah aku pulang dari sekolah, aku


membantu Tante di tokonya karena Tante terlihat banyak sekali pesanan.“Tante


kenapa banyak sekali pesanannya? Apa ada yang akan syukuran?” tanyaku.


“Itu pesanan Nak Dewi, katanya


sahabatnya sedang ada syukuran opening café. Dan mengundang banyak anak yatim


piatu,”


jelas Tanteku.


Dewi adalah pelanggan setia


Tante, dia masih muda dan sekarang tengah berkuliah di salah satu Universitas terkemuka di kota ini.


Dia begitu ramah dan baik, bahkan kamipun sering sekali mengobrol dengan akrab.


Tak lama terdengar salam, membuat


kami menengok dan panjang umur juga, wanita cantik yang tengah di bicarakan


kini berada di antara kami.


KakDewi Zhaleka Fredelima


Earnnal, putri seorang pengusaha dibidang fastfood di Surabaya. Itu yang aku


tau tentang Kak Dewi. Kak Dewi datang untuk mengambil pesanannya yang kebetulan


baru selesai setengahnya, dan dia memintaku datang ke acara syukuran sahabatnya


sambil mengantarkan sisa pesanannya dan akupun menyanggupinya.


***


Sore itu aku pergi menuju tempat


syukurannya sahabat Kak Dewi. Acartanya terlihat sudah di laksanakan karena


pita di pintu sudah tergunting. Café yang terlihat mewah dan klasik. Aku


memasuki café setelah memberi laporan ke satpam penjaga café di sana.


Aku memasuki café yang terlihat


luas dan mewah itu. Aku menyisir pandanganku mencari keberadaan Kak Dewi,


tetapi seketika pandanganku terhenti pada sosok tampan yang tengah berdiri di dekat


ballroom dan terlihat tengah berbicara dengan seseorang. Memang konyol, tetapi


aku langsung terpikat padanya, lelaki jangkung dengan wajah blasterannya. Dia memiliki kulit yang putih dan


bersih tanpa noda, alisnya yang tebal terpahat indah, matanya yang tajam dengan


bulu mata lentiknya, hidungnya yang mancungdan bibirnya yang berwarna merah


pucat. Sungguh dia begitu sempurna, dia seperti jelmaan Dewa Yunani yang begitu sempurna.


Deg


Mata coklatnya kini melihat ke arahku. Ya


Tuhan, jantungku kenapa mendadak berdetak sekencang ini. Sorot matanya yang


tajam seperti seekor elang itu mampu meluluh lantahkan pertahananku.


Pandangannya kembali ke teman


bicartanya, membuatku sedikit kecewa karena dia tak berniat menghampiriku. Oh,,


ayolah Thalita. Memang siapa dirimu ini, kamu di sini sudah seperti upik abunya


sang pangeran. Dan jangan mengkhayal terlalu tinggi.


“Astagfirulloh...” Aku segera memalingkan


pandanganku dari iblis tampan itu, oh tidak maksudku malaikat tanpa sayap itu.


Aku kembali menyisir setiap sudut


ruangan itu hingga pandanganku menemukan sosok yang sejak awal aku cari. Aku


berjalan menghampiri Kak Dewi yang tengah berbincang dengan dua orang wanita


seumurannya.


"Assalamu'alaikum..." salamku.


"Wa'alaikumsalam..." ucap Kak Dewi dan membuat


ketiga wanita itu langsung menengok ke arahku.


"Halo Lita, Kakak seneng kamu


dating,"


ucap Kak Dewi mencium pipi kiri dan kananku.


"Ini Kak sisa pesanan Kakak." Aku menyodorkan kantong


kresek yang sejak tadi aku bawa.


"Ah iya, terima kasih yah. Kamu


jangan pulang dulu," ucap Kak Dewi dan akupun mengangguk setuju. Mungkin


aku bisa lebih lama memandangi sang pangeran itu.


Lita otakmu mulai koslet


ternyata.


"Oh iya Za, Ren. Kenalin dia Thalita


keponakannya ibu Ratih," ucap Kak  Dewi kepada kedua wanita yang masih berdiri di sana.


"Halo Lita,, kenalin gue Irene," ucap gadis yang terlihat


lebih muda dari Kak Dewi.


"Aku Elzabeth, panggil saja Elza," ucap wanita yang satu lagi


dengan wajah datarnya. Judes banget sih ini Kakak, udah seperti Mama tirinya upik abu.


Ya Tuhan Lita, otakmu semakin


koslet.


"Thalita,” ucapku tersenyum manis kepada


mereka berdua.


"Kamu duduk aja disini yah, Kakak


ke belakang dulu,"


ucap Kak Dewi berlalu pergi sambil membawa sisa snack yang aku bawa. Dan Kakak


judes itupun mengekori Kak Dewi menuju ruangan lain di café ini.


"Kamu jangan canggung disini,


santai aja,"


ucap wanita yang masih berdiri di sampingku, membuatku tersenyum.


“Ayo duduk,” ajaknya mengajakku duduk di


salah satu kursi yang ada di sana. Aku hanya menurutinya saja.


Kami berbincang sedikit, ternyata


Irene seumuran denganku. Dan dia juga masih duduk di kelas tiga SMA sama


sepertiku dan ketiga sahabatku.


Tak lama seorang lelaki tampan menghampiri kami.


"Sayang,


kamu di sini ternyata aku cariin," ucap seorang laki-laki yang baru saja


datang dan mencium puncak kepala Irene.


"Halo


Sayang, iya tadi aku bantuin Kak Dewi sama ka Elza dulu," ucap Irene


manja, laki-laki yang mengaku pacarnya itu duduk di samping Irene.


"Sayang, kenalin ini Lita temennya Kak Dewi."


"Halo,


gue Arseno pacarnya Irene," ucapnya menyodorkan tangannya ke arahku.


"Thalita," Aku


menyambut uluran tangannya.


Kamipun mulai berbincang, lebih


tepatnya Irene dan kekasihnya itu karena aku hanya menjadi obat nyamuk yang


sesekali ikut tersenyum mendengar celotehan Irene atau kekasihnya itu.


Setelah lama, mereka berpamitan


sebentar karena seorang laki-laki memanggil mereka. Dan kini aku sendirian


dengan menatap ke arah ballroom yang terlihat akan segera memulai acartanya. Sang host mulai berbicara


berbagai hal tentang café ini, mungkin perkenalan café. Hingga dia mengatakan


kalau sang pemilik café akan memberi sambutannya. Aku penasaran sekali siapa


sahabat Kak Dewi pemilik café ini. Dia pasti sangat kaya, karena terlihat dari


dekorasi café yang begitu mewah dan elegant.


Ternyata


malaikat itu, ya Tuhan dia pemilik café ini. Siapa tadi namtanya, Pradhika


Reynand Adinata.


Wow,,


benar-benar sebuah kejutan. Aku semakin tersingkirkan dari barisan calon


pacarnya, dia terlalu sempurna untukku. Bukan hanya ketampanannya, dia juga


sangat kaya.


“Lita...”


Siapa seseorang yang mengganggu


aktivitasku.Aku terPaksa harus mengalihkan pandanganku dari pangeranku ke


seseorang yang menggangguku itu.


"Serli?" Aku sangat kaget melihat Serli berada di sini. “Kenapa


lu ada disini?"


"Ternyata benar lu,,”


ucapnya seraya duduk di atas kursi yang berada di sampingku. “Gue di ajak sama cowok gue kesini,


ini kan acara sahabatnya.” Jelasnya.


“Nah lu sendiri ngapain  di sini?" tanya Serli. Aku pun menjelaskan kenapa


aku ada disini.


"Lu


kenal Kak Dewi?" Serli mengernyitkan dahinya


"Iya,


dia pelanggan setia di toko kue tante Ratih."


"Oh


gitu, daritadi gue perhatiin lu. cuma gue takut salah orang," kekehnya.


"Gue


kaget banget lu ada di sini," ucapku.."Terus cowok lu kemana?"


Aku penasaran karena Serli sendirian.


"Oh


itu dia." tunjuk Serli ke seorang laki-laki yang duduk di depan tak jauh


dari tempat kami duduk.


"Oh itu." Aku melihat


lelaki yang di tunjuk Serli.


"Mereka itu bersahabat," ucap Serli tiba-tiba


membuatku menengok kembali ke arahnya."Nama gengnya itu Brotherhood."


"Persaudaraan?"Serli


menganggukkan kepalanya


sebagai jawaban.


"Kata Daniel sih, mereka bukan


sekedar sahabat melainkan mereka adalah keluarga dan saudara. Mereka berbeda


umur, berbeda agama, berbeda sifat tetapi mereka sangat komPak dan menjadikan


perbedaan mereka itu menjadi keistimewaan dari geng Brotherhood." jelas Serli.


Sungguh mengesankan...


"Lu kenal dengan mereka


semua?" tanyaku mulai tertarik dengan pembahasan Serli.


"Iya, Daniel menceritakan semuanya


sama gue. Lu liat laki-laki yang tadi memberi sambutan?" tanya Serli


membuatku mengangguk antusias karena sejak tadi dialah fokusku."Dia itu Pradhika Reynand Adinata,


pewaris tunggal keluarga Adinata. Ayahnya adalah seorang Dokter sekaligus


pemilik rumah sakit paling terkemuka diJakarta," jelas Serli.


"Tunggu,, maksud lu rumah sakit


Adinata Medika Internasional atau biasa di sebut AMI Hospital?" tanyaku


kaget. Karena itu adalah salah satu rumah sakit yang sangat terkemuka baik di kota Bandung yang meruPakan cabangnya.


"Yup, lu bener banget. Dia


mengambil study kedokterannya di sini, di Universitas yang lu inginkan," ucap Serli membuatku


semakin bahagia mendengarnya. Kalau aku bisa sampai dapat beasiswa di Universitas itu, pasti aku akan


sering bertemu dengannya. Apalagi kalau sampai satu fakultas.


"Gue gak nyangka dia calon Dokter," ucapku tersenyum menatap


sang Dewa


yunani itu.


"Lu naksir dia yah?" goda Serli.


"Ih apaan sih, enggak kok." Aku terkekeh kecil karena merasa malu. Uh akhirnya ketahuan Serli mengagumi Dewa Yunani


itu.


"Dia itu leader dari


Brotherhood, keren kan?" ucap Serli menggodaku.


"Maybe." Aku menjulurkan lidahku ke arahnyamembuat Serli


terkekeh. Kenyataannya aku memang sudah menyukainya.


"Yang gue liat sih selama ini, dia


orangnya welcome sama siapa saja, ramah, dan murah senyum. Kata Daniel sih


diantara yang lain, Kak Dhika lah yang paling jarang marah, pembawaannya selalu


santai dan penyabar. Apapun selalu dipikirkan dengan kepala dingin dan penuh perhitungan,"


jelas Serli membuatku semakin jatuh cinta padanya. Sungguh Kak Dhika itu sosok lelaki


idaman.


"Dan itu yang memakai jas abu, yang


duduk di samping Kak Dhika. Itu Daniel Cetta Orlando cowok gue, gak kalah


ganteng kan sama Kak Dhika?" ucap Serli nyengir membuatku terkekeh.


"Iya, lumayan lah," godaku.


"Enak saja lumayan, orang ganteng


gitu,"


cibirnya membuatku terkekeh.


"Baiklah, dia tampan. Puas nona


Serli?"


ucapku membuat Serli mengangguk bangga.


"Dia anak dari seorang pengusaha Batu bara di Kalimantan, dia asli


orang sebrang. Tapi dia memilih kuliah disini mengambil jurusan hukum semester


6 di Universitas


yang sama dengan Kak Dhika," jelas Serli.


"Ciee,, calon pengacara," godaku membuat Serli


merona. "Lalu


dia orangnya seperti apa?" tanyaku jadi ikut penasaran.


"Dia itu sangat sangat romantis,


baik hati, tidak sombong dan tampan," ujar Serli tersenyum


menatap Daniel.


"Hahaha,, yang lagi kasmaran


niyeee…" godaku membuat Serli ikut tertawa dan wajahnya terlihat memerah.


"Dan itu yang memakai jas biru,


notaris ternama di Jakarta. Dia kuliah di Universitas yang sama dengan Kak


Dhika di fakultas kedokteran, dia juga udah semester 6," jelas Serli.


"Tapi kayaknya wajah dia gak asing." Aku meneliti  wajah pria yang bernama Erlangga.


"Lu kenal dia?" tanya Serli


dan aku hanya mengedikkan bahuku.


"Entahlah, tapi kayaknya


kita pernah ketemu sebelumnya."


"Dia itu seorang playboy, hati-hati


aja,"


bisik Serli.


"Lah apa hubungannya sama


gue?"


"Ya siapa tau lu naksir dia juga," kekehnya menyebalkan.


"Isshhh..."


“Lanjut lagi,” ucapku semakin tertarik.


"Penasaran yah?" kekeh Serli membuatku


mengedikkan bahuku acuh."Dia orangnya sangat cuek dan tertutup. Gue  jarang banget disapa sama dia kalau ikut


Daniel kumpul sama teman-temannya."


“Itu yang Pake jas garis-garis itu namtanya Arseno


Basupati,"


ucap Serli.


"Iya gue tau, tadi gue sempet


kenalan dengannya, dia cowoknya Irene, kan?"


"Iya dia pacarnya Irenne. Seno itu


anak dari seorang direktur utama salah satu perusahaan yang bergerak di bidang


periklanan. Dia mengambil jurusan Teknik Informatika semester 6. Dia seorang


kristiani, dia juga sangat jahil dan emosional. Jangan suka cari masalah


dengannya deh. Tetapi kata Daniel, dia akan menurut dan mengalah kalau sama


Irene,"


jelas Serli."Nah Irenne Zahra


Arundati, Dia seorang pewaris perusahaan Proferty terbesar di Semarang. Tapi


sebulan yang lalu Ayahnya baru saja meninggal."


"Innalillahi..." gumamku.


"Tapi


dia terlihat ceria." Aku ingat sikap


bersahabatnya tadi saat mengobrol..


"Iya, Irene memang orangnya sangat periang


dan ramah. Dia orangnya mudah berteman dengan siapapun dan cerewet tentunya," kekeh Serli.


"Sama aja kayak lu cerewet," ucapku membuat Serli


mencibir lucu. "Lanjut," tambahku.


"Dia masih seumuran sama kita, dia


masih sma dan dia juga seorang kristiani," ucap Serli membuatku


mengangguk karena tadi sempat melihat kalung berbentuk salib dileher Irenne.


"Dan itu yang Pake jas hitam


dengan tampilan so cool. Namtanya Oktavio Adelio Mahyaalias Aligator si buaya darat paling nyebelin.”


“Panjang banget namtanya,” aku terkekeh mendengar namtanya yang begitu


lucu.


“Dia itu musuh bebuyutan gue, tadi takdir seakan ngejebak gue, dia sepupunya Daniel.”


Aku hanya bisa terkekeh mendengarnya. “Tapi walau nyebelin juga, dia tuh


seorang yang tajir. Dia itu pewaris perusahaan Perhotelan.


“Lucu nama panggilannya Aligator.”


“Iya Gator alias buaya darat. Dia itu buaya yang


udah ngalahin buaya darat di Negara ini. Pacarnya menumpuk di sana sini, udah


kayak cucian baju,” ucap Serli membuatku terkekeh.


“Dia juga orangnya sangat


menyebalkan, dan rada sengklek otaknya, tetapi mungkin bisa dibilang baik sih," jelas Serli.


"Sama calon sepupu sendiri nggak


boleh musuhan," godaku.


"Dia sangat menyebalkan Lita!" ucap Serli terlihat gemas karena geram.


"Dia


juga masih seumuran dengan kita." Aku kembali mengangguk paham.


"Dan itu yang duduk di samping Kak


Dewi, yang muktanya sangat judes. Namtanya Elzabeth Corinna Emery dari namtanya


juga lu pasti tau kalau dia juga umat kristiani. Dia anak dari seorang model


ternama Jennifer Emery, lu tau kan?" ucap Serli dan aku


mengangguk karena model itu cukup terkenal di mastanya. "Dia satu jurusan dan satu kampus


dengan Kak Dewi, dia orangnya sangat judes, sombong, dan dingin. Jarang banget


senyum,"


jelas Serli.


“Lu lihat saja muktanya Serem gitu," ucap Serli bergidik, aku


terkekeh mendengar ucapan Serli yang selalu ceplas ceplos. Tetapi aku


membenarkannya karena tadi saat berkenalanpun dia begitu dingin..


"Itulah mereka Brotherhood. Dhika,


Daniel, Erlangga, Arseno, Elzabeth,Dewi, Irene dan Okta alias Gator," jelas Serli.


"Tapi gue heran deh, mereka beda


daerah, beda jurusan juga tapi kok bisa bersahabat?" tanyaku semakin


penasaran.


"Karena dulu saat kecil, mereka


bertetangga dan menjadi sahabat saat itu juga," ucap Serli dan aku kembali


mengangguk paham.


"Ser, kenapa cuma duduk disini? Aku cariin kamu daritadi."


tanya seseorang yang aku tahu dia adalah Daniel kekasih Serli.


"Ah iya Niel, aku lagi nemenin sahabat aku


disini,"


ucap Serli. “Oh iya kenalin


ini Thalita, sahabat aku.”


"Aku Daniel," ucap Daniel menyodorkan


tangannya ke arahku dengan senyuman manisnya.


"Aku Thalita, panggil saja Lita," ucapku menyambut uluran tangan


Daniel.


"Ayo ikut gabung dengan yang lain," ajak Daniel.


"Aku disini saja, lu aja yang


kesana, Ser" ucapku merasa tak nyaman.


"Lah terus lu gimana?" tanya


Serli.


"Ini acartanya udah kelar, gue akan


balik."


"Belum selesai, sekarang kita makan


malam bersama dulu. Ayo ikut gabung Tha," ucap Daniel begitu ramah, aku menatap


Serli yang menganggukkan kepalanya sebagai tanda setuju. Akupun akhirnya menurut saja.


Aku


berjalan mengikuti Serli dan Daniel,


menuju ke arah teman-teman Daniel.


"Wah si Metromini datang," celetuk Oktavio saat


melihat Serli.


"Apa lu Gator sarap," jawab Serli.


"Serli datang, mulai deh adu


mulut antara Gator dan Metromini," kekeh Irene dan semuanya hanya


menggelengkan kepala mereka. Aku hanya bisa mencuri pandang pada jelmaan Dewa Yunani itu yang duduk santai di


antara mereka.


"Eh Lita, maaf tadi Kakak ninggalin kamu," ucap Kak Dewi baru


menyadari keberadaanku, membuat semuanya kini menatap ke arahku.


"Siapa dia Wie?" tanya Oktavio.


"Dia keponakannya Tante Ratih


pemilik toko kue langganan gue," jelas Kak Dewi.


"Eh kamu Thalita kan?" tanya


Erlangga membuatku mengangguk kecil.


"Ah iya, Kakak kenal aku?" Akumencoba mengingat


lagi wajah lelaki tampan di hadapanku ini.


"Astaga Lita, kamu lupa sama aku?


Kita suka bertemu di workshop saat ada bazaar novel," ucap Erlangga membuatku


tertegun. Yah, aku ingatsekarang.


"Astaga, maaf Kak Angga. Aku lupa," kekehkumenggaruk tengkukku yang tidak gatal.


"Maklum Kak, Lita ini punya penyakit


pelupa,"


kekeh Serli.


"Lu kenal sama Lita juga, Ser?"


tanya Kak Dewi.


"Iya Kak, Lita ini sahabat gue. Gue gak nyangka dia juga


ada di sini,"


ujar Serli antusias.


"Dunia memang sempit yah, sesempit


jidatnya si Gator," kekeh Seno membuat semua terkekeh.


"Dari pada lu, jidatnya lebar kayak


lapangan sePak bola," keluh Okta membuat yang lain terkekeh.


"Eh kenalin dulu, aku Oktavio.


Laki-laki tertampan dan terunyu di jagat raya ini," ucap Okta mengulurkan


tangannya kepadaku dengan bangga.


"Terunyu badannya,"sindir Serli membuat yang


lain terkekeh.


"Heh, berisik lu Metromini," timpal Okta.


"Thalita."


"Kita udah kenalan tadi yah,"


ucap Irene tersenyum membuatku mengangguk.


“Hei, aku Pradhika.


Panggil saja Dhika,” ucapnya mengulurkan tangannya ke hadapanku.


 Ya Tuhan, aku meleleh karena senyumannya itu.


Aku mohon, jangan menatapku dengan senyuman manis seperti itu. Aku di buat


gugup seketika.


“Lita..” Aku tersadar saat Serli menyenggol


lenganku dan aku segera menyambut uluran tangan jelmaan Dewa Yunani itu yang terasa hangat.


Jantungku berpacu semakin cepat saat kulit kami bersentuhan.


Aku segera menarik kembali


tanganku karena merasa ada sengatan aneh ke  Jantungku.


"Lita,


kamu jangan sungkan. santai saja," ujar Kak Dewi membuatku


tersenyum.


Kini semuanya kembali terlibat


perbincangan yang di tokoh utamain oleh Serli, arseno, Irene dan Okta. Kak Daniel hanya bisa


menghela nafas melihat cekcok sepupu dan pacarnya itu.


***


Aku berjalan kaki menunggu taxi, tadi Serli sempat


menawarinya untuk pulang bersama. Tapi aku menolaknya dengan alasan ada yang mau di beli.


Setelah acara makan malam selesai, aku langsung pamitan pulang. Bilang saja tidak sopan, tapi akusangat canggung dan tidak terbiasa.


Aku menghentikan langkahku


saat mataku menangkap sosok yang aku kenali di dalam cafe. Itu Chacha dengan pacarnya.


"Merokok????" Aku sangat kaget melihat


apa yang di lakukan Chacha. “Chacha merokok? ini tidak benar." Aku bergegas berjalan menghampiri Chacha dan Gilang.


"Chacha!"


"Lita?" Chacha terlihat mengernyitkan


dahinya melihat ke arahku.


"Hai Thalita," sapa Gilang dengan ramah tapi aku enggan menggubrisnya.


"Cha, lu ngerokok? Cha ini salah." Aku langsung menegur


sahabatku itu. "Ayo pulang." Aku menarik tangan Chacha tapi Chacha menepisnya.


"Apaan sih Tha, lu aja yang pergi sendiri jangan


ganggu gue!"


ucap Chacha dengan sinis. Ada apa dengannya?


"Cha ini udah malem, lu harus pulang.”


"Nggak Lita, jangan suka ngatur gue deh! Lu aja


yang pulang sana,"


ucap Chacha terlihat kesal. Gilang juga kenapa terus menatapku dengan tatapan yang menjijikan.


"Santai dulu aja Tha, kita nongkrong aja dulu


disini." Kali ini Gilang yang berbicara seraya menyentuh tanganku, tapi buru-buru akutepis.


Chacha menarik tanganku dan


membawa ku keluar cafe.


"Ngapain sih lu kesini, hah?" bentak Chacha membuatku tersentak


kaget.


"Cha, lu udah terlalu jauh melangkah.


Bukan hanya lu bolos terus tapi lu juga sekarang berani merokok. Gilang bawa


hal buruk buat lu." Aku tidak bisa menahan diriku lagi.


"Jangan sok ngatur hidup gue Lita! Mending sekarang lu pergi. Pergi sana!" Chacha mendorong tubuhku hingga tersungkur ke tanah.


"Jangan ganggu gue lagi, Tha!” Chacha meninggalkanku


dan kembali masuk ke dalam cafe.


"Astaga Chacha kenapa lu jadi kayak gini." Aku berdiri seraya membersihkan tubuhku yang kotor. Setelahnya akupun


memutuskan untuk pergi meninggalkan tempat itu.