
Happy Reading
-----------------------------------------------------------
Author pov
"Ma..." teriak Felix saat mendengar suara pendeteksi detak jantung berbunyi nyaring dan garis lurus terpangpang jelas di layar komputer. "Key panggil dokter" Keysa segera berlari keluar mencari dokter.
Tak lama dokter dan suster datang memeriksa keadaan Hanin. "Sus, defibrilator" ucap dokter dan suster langsung memberikan alat stimulator detak jantung itu.
Dokter terus mencoba sampai 3 kali tapi hasilnya masih nihil. "Maafkan saya, tapi ibu Hanin sudah meninggal" ucap dokter pada Felix yang masih mematung disana.
Suster menutup wajah Hanin dengan selimut putih. Dokter dan susterpun keluar ruangan sambil menepuk pelan bahu Felix seakan memberi kekuatan. Felix terus menatap jenazah yang tertutup kain putih itu, tanpa terasa air matanya jatuh membasahi pipi.
Keysa masuk ke dalam ruangan dengan menangis menatap sosok Hanin yang baru saja dia kenal. Baru saja Keysa merasakan kehangatan pelukan dari seorang ibu.
"Mama,, kenapa? Baru saja aku merasakan kehangatan pelukan seorang ibu" gumam Keysa ditengah tangisannya.
Devan dan Remon datang, sempat syok mengetahui Hanin sudah meninggal. Cukup lama terdiam, merekapun segera mengurus biaya administrasi dan pemakaman untuk Hanin.
***
Pemakaman Haninpun dilaksanakan. Hanin dimakamkan disamping makam ayah Felix disebuah pemakaman elite dekat gereja di Jakarta. Banyak kerabat yang datang, tak lupa juga Devan, Remon dan Clara. Setelah selesai pemakaman satu per satu orang yang datang berlalu pergi kini hanya menyisakan Felix, Keysa, Clara, Remon dan Devan.
"Sebaiknya kita balik" ucap Devan
"Kalian pulang saja, bawa Keysa" ucap Felix datar
"Aku mau disini sama kamu" ucap Keysa
"Pulanglah, aku ingin sendiri"
"Ayo Key,," ajak Clara, Keysa menatap Felix yang terlihat begitu dingin.
"Baiklah, aku pulang" ucap Keysa berusaha mengerti kalau Felix butuh waktu.
Merekapun pulang dan hanya menyisakan Felix seorang. Felix terus menatap pemakaman Hanin di hadapannya. Tanpa terasa cairan bening kembali lolos dari balik kaca mata hitamnya.
Cukup lama memandangi pemakaman Hanin, Felixpun beranjak pergi. "Beristirahatlah dengan tenang" gumam Felix menghapus air matanya dan melangkah meninggalkan makam Hanin.
***
Keysa terus mondar mandir di ruang tamu menunggu kedatangan Felix. Ini sudah pukul 11 malam tetapi Felix masih belum pulang tidak seperti biasanya, dan itu membuatnya sangat khawatir. "Felix kemana yah? kok gak ada kabar" gumam Keysa mencoba menghubungi nomor Felix tetapi tidak aktif.
"Masih tidak aktif nomornya" desah Keysa dan kembali menatap keluar pintu. "Dia kemana yah? Apa dia ke danau lagi?"
Keysa terus menunggu hingga tertidur disofa ruang tamu. Pukul 2 dini hari Felix baru saja datang dan melihat Keysa yang tertidur di atas sofa. Felix berjalan mendekati Keysa dan duduk di samping Keysa.
Felix merapihkan anak rambut yang menutupi wajah cantik Keysa. Setelah itu, Felix mengelus lembut pipi Keysa membuat Keysa menggeliat dalam tidurnya. 'Dalam keadaan dia tertidurpun aku masih saja menyukainya,, ini konyol!!!!' batin Felix
Tiba-Tiba saja Felix menghentikan gerakan tangannya dan menjauhkan tangannya dari wajah Keysa. Felix beranjak meninggalkan Keysa tetapi baru beberapa langkah kembali terhenti dan kembali ke tempat Keysa dan menggendong tubuh Keysa kembali ke kamarnya.
***
Keysa pov
Jam berapa ini,,
Aku mencoba membuka mata saat cahaya matahari mulai masuk ke celah jendela.
Tunggu.....
Kok aku ada di kamar sih? Bukannya semalam aku menunggu Felix di ruang tamu, kenapa sekarang aku ada disini? "Apa jangan-jangan Felix sudah pulang? Dan dia yang memindahkan aku?"
Tanpa pikir panjang, aku segera berlari keluar kamar. Ternyata kami bersamaan keluar kamar. "Pagi,, Felix" sapaku saat melihat Felix yang sudah rapi dengan setelan kerjanya.
Dia tidak menjawab, bahkan tidak tersenyum. Dia main nyelonong saja pergi ninggalin aku. Dia kenapa ??? "Felix, kenapa kamu berangkat pagi sekali? Kan tidak ada meeting?" ucapku sedikit berlari untuk menyamakan langkahku dengan langkah panjangnya.
"Semalam kamu kemana? Kamu pulang jam berapa? Aku nungguin kamu" ucapku tetapi dia tetap memasang wajah dinginnya dan tidak meresponku, dia terus berjalan.
"Apa semalam kamu yang mindahin aku ke kamar? Kenapa kamu tidak bangunin aku ? Aku sangat mengkhawatirkan kamu" ucapku terus mengikutinya. Tapi dia masih saja tidak menjawab dan terus berjalan menuju keluar rumah.
"Kamu tidak sarapan dulu? Aku akan buatkan sarapan untuk kamu" ucapku lagi "Felix kenapa kamu diam saja?" aku sedikit jengkelkarena terus di abaikan.
"DIAM !!" bentaknya membuatku terpekik kaget.
Kenapa? Kenapa dia membentakku? Ini pertama kalinya dia membentakku.
Apa aku salah? apa aku salah bicara?
Dia menatapku dengan tatapan yang sulit aku artikan,, tapi ada sekilas rasa sesal disana. Tanpa berkata apapun, dia langsung pergi begitu saja meninggalkanku yang masih mematung syok.
Dia kenapa?
Apa aku punya salah padanya?
Kenapa dia membentakku?
***
Aku berjalan menyusuri koridor kantor menuju ruanganku dengan menjinjing bekal makanan. Tadi aku sempat membuatkan makanan untuk Felix karena tadi dia tidak sempat sarapan dan sekalian juga aku meminta maaf padanya siapa tau aku memang punya salah padanya yang tidak aku sadari.
Dengan senyuman merekah dibibirku, aku memasuki lift. Sambil menunggu lift terbuka aku terus melirik ke arah bekal yang aku bawa. Serasa seorang istri yang mengantarkan makan siang untuk suaminya. Aku tersenyum sendiri memikirkan khayalanku itu.
Ting
Pintu liftpun terbuka dan aku bergegas keluar dari lift berjalan menuju mejaku. Setelah menyimpan tas dan menyalakan komputer, aku bergegas menuju ruangan Felix.
Tok tok tok
"Masuk" sahut Felix dan akupun langsung masuk.
Dia masih fokus dengan laptopnya tanpa menoleh ke arahku.
"Ada apa?" tanyanya dingin, bahkan mengalahkan dinginnya ac diruangan ini.
"A...aku.." kok aku jadi gugup gini sih. "Ini aku bawain kamu sarapan, tadi kan kamu belum sempat sarapan"
"Simpan saja di meja" ucapnya masih tetap fokus pada layar laptopnya. Aku menyimpan bekal yang aku bawa di atas mejanya.
"Aku juga mau minta maaf sama kamu" ucapku menatap dia yang tetap fokus pada laptopnya.
"Untuk?" tanyanya datar
"Aku gak tau, cuma aku takut kalau aku punya salah sama kamu. Makanya kamu berubah seperti ini" jawabku terus terang
"Kamu tidak salah apa-apa. Pergilah kembali bekerja" ucapnya dan akupun hanya bisa mengangguk dan beranjak pergi tetapi tiba-tiba saja pintu di ketuk seseorang.
"Masuk" jawabnya
"Maaf pa, ini saya mau memberikan laporan yang bapak minta" ucap Sania, wanita ganjen yang selalu mengejar Felix.
Lihat saja dandanannya sudah seperti ondel ondel, segala macam make up dia tempelkan diwajahnya. Pakaiannya juga sudah seperti pemain porno, kekurangan bahan. Apa dia tidak mampu beli kain yah? Bajunya kekurangan bahan semua heran deh.
Dan lihatlah dia tersenyum ke arah Felix dan Felix??? Dia ?? Dia melihat ke arah Sania,. Sedangkan padaku dia tidak melihat sedikitpun.
"Kenapa kamu masih di situ Key? Kembalilah ke mejamu" ucap Felix menatapku dingin.
Enak saja,, tidak akan aku keluar dan ngebiarin ular betina ini ngedeketin Felixku. "Masih ada yang harus saya tanyakan pada anda, pak" ucapku "Saya akan menunggu di sini saja" sekalian melihat apa yang akan ular ini lakuin.
"Baiklah Sania, silahkan duduk" ucap Felix lembut terdengar lembut.
Apa-apaan ini?
Aku saja dibiarin berdiri, sedangkan wanita genit itu disuruh duduk.
Felix kenapa sih? Apa dia salah makan? Atau salah minum obat?
"Aku periksa dulu isi laporannya, terima kasih, San" Tumben sekali dia ramah sama karyawan, biasanya juga dingin banget. "Sania, apa kamu sudah sarapan?" tanya Felix
"Belum pa, kenapa?" tanya Sania yang terlihat sedikit kaget tapi juga langsung tersenyum senang.
"Ini saya ada bekal, buat kamu saja"
APA????
"Makasih pak,," wanita genit itu tersenyum manis ke Felix,,
Menjijikan sekali....
Sabar Keysa,.. Sabar...
"Kenapa bapak tidak makan saja bekal ini?" tanya Sania dengan lembut
"Aku tidak lapar, kamu makan saja dan habiskan" ucap Felix
"Oh pasti pa, apalagi ini dari bapak. Mana mungkin saya sisakan" ucapnya antusias.
"Ini berkasnya sudah saya tanda tangani" Felix menyodorkan berkas itu ke Sania
Setelah itu Sania pergi dan menatapku seakan meremehkanku, dasar wanita sinting.
"Maksud kamu apa ?" amukku yang sejak tadi aku tahan dan dia hanya menaikan sebelah alisnya. "Kenapa kamu kasih bekal itu ke Sania? Aku sudah cape-cape menyiapkannya untukmu" cerocosku kesal
"Saya tidak menyuruh kamu membawakan bekal untuk saya" ucap Felix santai dan kembali fokus dengan laptopnya. "Kalau tidak ada yang ingin di bicarakan lagi, silahkan kembali bekerja" ucapnya "Kamu masih tau kan dimana letak pintu keluarnya" ucapnya menatapku dingin sangat dingin.
Aku hanya melongo kaget melihat sikapnya, akupun segera keluar ruangan itu dan tanpa terasa aku memegang dadaku.
Sakit !!!!!
Kenapa????????
***
Clara mengajakku makan siang dicafe dekat kantor. Kami memesan makanan yang kami inginkan.
Dan pesanan kamipun datang, aku sedang tidak berselera makan. Pikiranku terus tertuju kepada Felix.
Kenapa? Ada apa dengannya? Kenapa Tiba-Tiba dia bersikap dingin lagi denganku bahkan ini lebih dingin dari sebelumnya.
Apa aku melakukan kesalahan? Atau berbuat sesuatu yang dia tidak suka? Tapi setahuku aku tidak berbuat apa-apa. Tapi kenapa sikapnya berubah?
"Woyy....." Aku tersadar saat tangan Clara berada di depan wajahku. "Itu nasi jangan di lihatin aja,, kasian tau. Ayo cepet dimakan, waktu istirahat sebentar lagi habis" ucap Clara membuatku tersenyum dan mulai menyuapi makanan ke dalam mulutku dengan malas.
"Tumben banget loe makannya kayak gitu? Biasanya cepet banget kayak yang belum makan setahun" kekeh Clara
"Gue lagi gak mood makan" ucapku
"wah wah ada apa gerangan? Tumben sekali nafsu makan loe ilang. Felix bener-bener sudah menyita semuanya" kekehnya
"ck, loe lebay banget. Sudah ah habiskan makanan loe" ucapku dan kembali menyantap makananku
Aku berjalan keluar dari lift dan saat sampai di depan mejaku, aku melihat sebucket bunga mawar putih sangat indah.
Itu bunga kesukaanku,,
Aku mengangkat bunga itu dan mencium baunya.
Sangat wangi...
Siapa yah yang mengirimnya? Ini indah sekali,. Apa Felix ? Apa karena dari kemarin sikapnya dingin sama aku jadi sekarang dia kasih bunga ini sebagai tanda maaf. Bener gak yah? Tapi tau dari mana dia kalau aku suka mawar putih.
"Ini sudah waktunya bekerja bukan melamun" ucap seseorang membuatku berbalik.
Felix....
"Kalau mau mengkhayal bukan disini tempatnya" ucapnya ketus sambil melirik bunga ditanganku. "Simpan bunga jelek itu dan kembali bekerja" ucapnya dingin dan...
Blumm
Pintu ruangannya di tutup dengan sangat kencang. Dia kenapa? Dia bilang bunga ini jelek? Bukannya ini bunga dari dia...
Drttt drttt
Hpku berdering pertanda sms masuk dan aku segera membukanya.
Bip. Reno
Gimana bunganya kamu suka? Aku tadi diam-diam masuk ke dalam ruangan kamu hanya untuk menyimpan bunga itu, aku harap kamu menyukainya,.
I love you Keysaku sayang
Aku menghela nafas saat membaca pesan itu, ternyata bukan dari Felix. Pantas saja tadi dia sinis sekali,
Baiklah, kembali bekerja. Aku menyimpan bunga itu di atas meja dan aku kembali fokus dengan pekerjaanku.
Reno,,, kapan kamu akan berhenti menganggukku? Apa yang kamu harapkan sekarang dariku?
****
Author pov
Keysa baru saja selesai memasak dengan ceria, semua makanan sudah tertata rapi di atas meja makan. Keysa sengaja menghias meja makan seindah mungkin dengan tambahan lilin, dia ingin menghibur Felix. Keysa berpikir mungkin Felix seperti itu karena masih berkabung dengan kehilangan bundanya.
Senyuman tak luput dari bibirnya, dengan menatap ke arah meja makan. Dia menyiapkan dinner romantis untuk Felix. Keysa sesekali menatap jam di pergelangan tangannya.
"Sudah jam setengah 9, Kenapa Felix belum pulang juga yah? Dia kemana dulu? Padahal tadi dia pulang lebih dulu dari kantor" gumam Keysa duduk di atas kursi.
Keysa sesekali menatap ke arah ruang tamu tapi sosok Felix belum juga datang. Keysa kembali menatap makanan dihadapannya. Keysa sungguh lapar tapi dia menahannya karena ingin makan bersama dengan Felix.
"Astaga lapar sekali, tahan dong sebentar lagi" gumam Keysa mengelus perutnya.
1 jam sudah berlalu, makananpun sudah dingin tapi sosok Felix belum juga datang. Karena sudah terlalu lama menunggu Keysa pun sampai tertidur di kursi dengan kepala disandarkan ke meja makan.
Pukul 11 malam Felix datang, Felix hendak menaiki tangga tetapi sekilas dia melihat dapur masih menyala dan terlihat banyak lilin disana.
Felix mengernyitkan dahinya dan melangkah menuju dapur. Saat sampai di sana Felix terpaku menatap meja makan yang sudah di hias dengan sangat indah dengan lilin dan banyak makanan kesukaan Felix disana. Lalu pandangan Felix tertuju pada sosok gadis cantik yang tengah terlelap di salah satu kursi. Terlihat Keysa sudah memakai dress berwarna hijau mint sangat cocok dengan kulit putihnya.
Cukup lama Felix berdiri mematung, kini dia melangkah mendekati Keysa dan duduk disampingnya. Pandangannya terus menatap satu per satu makanan di hadapannya,
"Kenapa kamu masih saja terus berusaha? Hentikan bersikap seperti ini padaku, ini akan semakin menyakiti kamu" gumam Felix
Pandangan felix tertuju pada sosok Keysa, tangannya terasa gatal untuk tidak menyentuh Keysa, dengan perlahan tangannya terulur untuk membelai rambut Keysa.
Aku akan membuat kamu menyerah....
Felix mengangkat tubuh Keysa ala pengantin baru dan membawanya ke dalam kamar Keysa, dengan sangat perlahan Felix merebahkan tubuh Keysa seakan dia adalah barang yang rapuh.
Felix membelai pipi Keysa dan mencium keningnya. Setelah itu bergegas keluar kamar.
***
Keysa mengerjapkan matanya berkali-kali,, ini di dalam kamarnya,,,
"Sudah dua kali aku tiba-tiba sudah ada dikamar, padahal semalam aku menunggu Felix datang" gumam Keysa. "Pasti Felix yang membawaku kesini" tambahnya dan beranjak untuk mandi,,
30menit Keysa sudah siap dengan pakaian kerjanya, dia menuruni tangga tapi sebelum itu dia mengetuk pintu kamar Felix dulu.
Tok tok tok
Tidak ada sahutan dari dalam, Keysa memegang knop pintu dan membukanya, ternyata tidak dikunci.
"Felix..." panggil Keysa ragu-ragu tapi tidak ada sahutan dan terlihat kamar itu kosong.
Mungkin Felix sudah berangkat duluan....
Keysa turun menuju meja makan dan terlihat semua makanan yang kemarin dia masak masih utuh tanpa ada yang menyentuhnya sama sekali. Keysa menarik nafasnya panjang lalu berjalan membereskan meja makan dan membuang semua makanan ke dalam tong sampah.
***
Keysa berjalan di pinggir trotoar mencari taxi untuk berangkat ke kantor tetapi tidak ada sama sekali.
"Astaga gimana ini, aku sudah hampir telat mana tidak ada taxi satupun" Keysa kembali berjalan hingga sebuah klakson mobil mengagetkannya
Tinn tinnnn
Keysa menghentikan langkahnya dan berbalik ke arah mobil itu. Keysa menatap seseorang yang turun dari mobil audy berwarna silver itu.
"Reno"