
Thalita Pov
Dan
tragedi itu mulai terjadi, saat itu Chacha baru saja memiliki seorang kekasih
yang bernama Gilang.
"Hai
semua." Chacha baru datang sambil senyum mesem-mesem.
"Lu kenapa Cha
senyum-senyum sendiri? lu sakit yah?" tanya Serli bingung.
"Iya lu gak
kayak biasanya Cha, lu lagi seneng karena berhasil ngerjain PR tanpa
nyontek?" ujar Ratu asal.
"Nggak kok, gue
malah gak ingat kalau ada PR,,he he." kekeh Chacha.
"Terus apa
alesannya, lu senyum-senyum gitu?" tanyaku tak kalah penasaran.
"Gue lagi seneng
banget banget banget," ucap Chacha.
"Why?"
tanya Ratu.
"Coba aja kalian
tebak," Seru Chacha tersenyum misterius.
"Yaelah ribet
banget sih tinggal bilang aja, Cha." keluh Serli sudah sangat penasaran.
"Apa lu menang
arisan? Traktir dong," ucap Ratu.
"Yaelah Tu, lu
mikirinnya itu mulu deh," keluh Chacha. "Jadi gini lho guys, sekarang
gue udah nyusul si Serli. Gue udah gak jomblo lagi," ucap Chacha senyum
sumbringah.
"Lu jadian sama
cowok yang kemarin-kemarin lu certain?" aku sedikit kaget mendengarnya.
"Iya Tha,"
ucap Chacha. "Lu tau gak, gue seneng banget bisa jadian sama cowok
setampan Gilang," ucap Chacha.
"Ati-ati lho Cha
muka bisa menipu,” sebenarnya aku kurang setuju dengan pria pilihan Chacha ini,
aku merasa dia bukan pria baik-baik.
"Iya Cha, lagian
kan lu bilang baru seminggu kenal dia. Lu belum tau dia itu orangnya seperti
apa, lu juga belum mengenal dia lebih dalam lagi. Lu harus hati-hati Cha,
sekarang banyak banget cowok yang ngegunain muktanya buat nipu cewek,"
jelas Ratu.
"Ratu bener tuh
Cha" timpal Serli.
"Gak mungkin
kali dia nipu gue, dia tuh orangnya baik banget. Kalian jangan coba-coba deh
ngehasut gue. Kenapa sih lu bertiga? syirik yah sama gue karena gue baru punya
pacar yang cakep banget?" ucap Chacha dengan banggtanya.
"Bukan gitu
maksud kita bertiga Cha, kita cuma ngingetin lu aja kok. Lagian kan kalau lu
seneng, kita juga ikut seneng," jelasku supaya Chacha tidak merasa
tersinggung lagi. Padahal niat kami baik.
"Lagian kan
kalian belum kenal Gilang, jadi jangan suka berpendapat seenaknya. Ah bête gue
curhat sama kalian!" Chacha terlihat kesal dan berlalu pergi meninggalkan
kami.
"Yah, dia
ngambek," gumam Ratu.
"Eh Cha
tunggu!" Aku hendak beranjak untuk mengejar Chacha, tetapi di tahan Serli.
"Udah
biarin aja, dia lagi di butain sama cinta. Entar juga balik lagi," jelas
Serli membuatku mengangguk.
***
Hari demi hari,
hingga minggu ke minggupun berlalu. Semenjak Chacha mempunyai pacar, dia jarang
sekali kumpul dengan sahabat-sahabatnya dan dia juga jarang sekali masuk
sekolahh tanpa ada keterangan. Seperti hari ini, Chacha kembali bolos dari
sekolahh.
"Si Chacha gak
masuk lagi?" tanya Ratu baru datang dan aku hanya menggelengkan kepala.
"Kemana sih
bahunya.
"Dia gak ada
kabarnya," ucapku.
"Sejak pacaran
sama si Gilang itu, dia benar-benar berubah. Waktu dia buat kita juga udah gak
ada, kalau di sekolahh kerjaannya telponan terus kalau nggak video call,"
keluh Ratu.
"Lu bener, mana
dia berani bolos lagi," tambah Serli.
"Kita harus
ingetin dia, tadi gue telpon ke rumahnya. Pembantunya bilang kalau Chacha
berangkat sekolahh tadi pagi," ucapku.
"Berarti bener
dia bolos lagi gak ada kabar. Pasti deh sama pacarnya itu," keluh Ratu.
"Kita harus ingetin
dia, mana sebentar lagi kita akan UN. Gue takut dia kehilangan banyak
pelajaran." Aku sungguh mengkhawatirkannya.
"Kalau masih gak
bisa di bilangin gimana? Udah sering kali Tha, kita ingetin dia. Tapi dia gak
pernah mau denger ucapan kita," keluh Serli.
'Benar
juga kata Serli.'
Chacha begitu tergila-gila padanya, bahkan
semua permintaan Gilang selalu ia turuti. Chacha sudah meluPakan
kami sahabatnya sendiri. Ia sudah
sering bolos sekolahh,
padahal selama kami bersahabat kami tak pernah bolos. Bahkan Chacha lah yang
sangat bersemangat untuk selalu bersekolahh. Kami bertiga sudah lelah
mengingatkan Chacha, tetapi Chacha tak pernah menggubrisnya dan tetap pada
pendiriannya.
***
Hingga malam itu, saat aku pergi ke Gramedia
untuk membeli beberapa novel dan komik kesukaanku. Aku tidak sengaja bertemu
dengan Chacha yang masih memakai Seragam sekolahhnya tengah berkeliaran di salah
satu mall di kota ini.
"Chacha..." Aku berlari mendekati Chacha yang kini menoleh ke
arahku.
"Lita?”
"Lu kemana aja? Kenapa gak masuk sekolahh? Dan kenapa lu masih Pake
Seragam sekolahh keluyuran malem-malem?"Aku tak sadar sudah mengajukan
pertanyaan bertubi-tubi.
"Yaelah Tha, lu ntanya atau mau introgasi gue sih? satu-satu aja
kenapa sih. Gue abis nonton sama pacar gue," ucap Chacha dengan santai.
"Terus kenapa tadi bolos lagi? Udah hampir 3 hari berturut-turut di
minggu ini lu bolos Cha? Bentar lagi kita UN lho."
"Aduhh Lita,,, jangan ceramah sekarang deh. Gue lagi
gak mood belajar.”
Dan
saat kami sedang berbincang, seorang lelaki datang dan merangkul pundak Chacha begitu saja membuatku mengernyitkan dahiku melihat ke arahnya.
Chacha mengenalkan lelaki itu sebagai kekasihnya yang bernama Gilang.
“Oh iya kenalin ini
Gilang cowok gue dan Gilang, ini Thalita sahabat aku," ucap Chacha.
"Gilang."
Gilang menyodorkan tangannya dengan senyum yang menawan ke arahku.
"Thalita."
Aku membalas jabatan tangan Gilang dengan tersenyum kecil.
Saat hendak menarik
kembali tanganku, Gilang mempererat pegangan tangannya , aku berusaha menarik
tanganku tetapi sulit sekali.
"Maaf," Aku
sudah mulai kesal.
"Sayang..."
Chacha menarik tangan Gilang dengan sedikit emosi, hingga akhirnya Gilang
melepaskan tanganku.
"Ya
udah gue balik duluan yah Cha, bye..." Aku bergegas pergi tanpa ingin
menatap ke arah Gilang.
Awal
mula aku kenal dengan Gilang, lelaki yang merusak persahabatan kami.
***