My Ceo

My Ceo
Episode 57



Thalita Pov


Dan


tragedi itu mulai terjadi, saat itu Chacha baru saja memiliki seorang kekasih


yang bernama Gilang.


"Hai


semua." Chacha baru datang sambil senyum mesem-mesem.


"Lu kenapa Cha


senyum-senyum sendiri? lu sakit yah?" tanya Serli bingung.


"Iya lu gak


kayak biasanya Cha, lu lagi seneng karena berhasil ngerjain PR tanpa


nyontek?" ujar Ratu asal.


"Nggak kok, gue


malah gak ingat kalau ada PR,,he he." kekeh Chacha.


"Terus apa


alesannya, lu senyum-senyum gitu?" tanyaku tak kalah penasaran.


"Gue lagi seneng


banget banget banget," ucap Chacha.


"Why?"


tanya Ratu.


"Coba aja kalian


tebak," Seru Chacha tersenyum misterius.


"Yaelah ribet


banget sih tinggal bilang aja, Cha." keluh Serli sudah sangat penasaran.


"Apa lu menang


arisan? Traktir dong," ucap Ratu.


"Yaelah Tu, lu


mikirinnya itu mulu deh," keluh Chacha. "Jadi gini lho guys, sekarang


gue udah nyusul si Serli. Gue udah gak jomblo lagi," ucap Chacha senyum


sumbringah.


"Lu jadian sama


cowok yang kemarin-kemarin lu certain?" aku sedikit kaget mendengarnya.


"Iya Tha,"


ucap Chacha. "Lu tau gak, gue seneng banget bisa jadian sama cowok


setampan Gilang," ucap Chacha.


"Ati-ati lho Cha


muka bisa menipu,” sebenarnya aku kurang setuju dengan pria pilihan Chacha ini,


aku merasa dia bukan pria baik-baik.


"Iya Cha, lagian


kan lu bilang baru seminggu kenal dia. Lu belum tau dia itu orangnya seperti


apa, lu juga belum mengenal dia lebih dalam lagi. Lu harus hati-hati Cha,


sekarang banyak banget cowok yang ngegunain muktanya buat nipu cewek,"


jelas Ratu.


"Ratu bener tuh


Cha" timpal Serli.


"Gak mungkin


kali dia nipu gue, dia tuh orangnya baik banget. Kalian jangan coba-coba deh


ngehasut gue. Kenapa sih lu bertiga? syirik yah sama gue karena gue baru punya


pacar yang cakep banget?" ucap Chacha dengan banggtanya.


"Bukan gitu


maksud kita bertiga Cha, kita cuma ngingetin lu aja kok. Lagian kan kalau lu


seneng, kita juga ikut seneng," jelasku supaya Chacha tidak merasa


tersinggung lagi. Padahal niat kami baik.


"Lagian kan


kalian belum kenal Gilang, jadi jangan suka berpendapat seenaknya. Ah bête gue


curhat sama kalian!" Chacha terlihat kesal dan berlalu pergi meninggalkan


kami.


"Yah, dia


ngambek," gumam Ratu.


"Eh Cha


tunggu!" Aku hendak beranjak untuk mengejar Chacha, tetapi di tahan Serli.


"Udah


biarin aja, dia lagi di butain sama cinta. Entar juga balik lagi," jelas


Serli membuatku mengangguk.


***


Hari demi hari,


hingga minggu ke minggupun berlalu. Semenjak Chacha mempunyai pacar, dia jarang


sekali kumpul dengan sahabat-sahabatnya dan dia juga jarang sekali masuk


sekolahh tanpa ada keterangan. Seperti hari ini, Chacha kembali bolos dari


sekolahh.


"Si Chacha gak


masuk lagi?" tanya Ratu baru datang dan aku hanya menggelengkan kepala.


"Kemana sih


bahunya.


"Dia gak ada


kabarnya," ucapku.


"Sejak pacaran


sama si Gilang itu, dia benar-benar berubah. Waktu dia buat kita juga udah gak


ada, kalau di sekolahh kerjaannya telponan terus kalau nggak video call,"


keluh Ratu.


"Lu bener, mana


dia berani bolos lagi," tambah Serli.


"Kita harus


ingetin dia, tadi gue telpon ke rumahnya. Pembantunya bilang kalau Chacha


berangkat sekolahh tadi pagi," ucapku.


"Berarti bener


dia bolos lagi gak ada kabar. Pasti deh sama pacarnya itu," keluh Ratu.


"Kita harus ingetin


dia, mana sebentar lagi kita akan UN. Gue takut dia kehilangan banyak


pelajaran." Aku sungguh mengkhawatirkannya.


"Kalau masih gak


bisa di bilangin gimana? Udah sering kali Tha, kita ingetin dia. Tapi dia gak


pernah mau denger ucapan kita," keluh Serli.


'Benar


juga kata Serli.'


 Chacha begitu tergila-gila padanya, bahkan


semua permintaan Gilang selalu ia turuti. Chacha sudah meluPakan


kami sahabatnya sendiri. Ia sudah


sering bolos sekolahh,


padahal selama kami bersahabat kami tak pernah bolos. Bahkan Chacha lah yang


sangat bersemangat untuk selalu bersekolahh. Kami bertiga sudah lelah


mengingatkan Chacha, tetapi Chacha tak pernah menggubrisnya dan tetap pada


pendiriannya.


***


          Hingga malam itu, saat aku pergi ke Gramedia


untuk membeli beberapa novel dan komik kesukaanku. Aku tidak sengaja bertemu


dengan Chacha yang masih memakai Seragam sekolahhnya tengah berkeliaran di salah


satu mall di kota ini.


"Chacha..." Aku berlari mendekati Chacha yang kini menoleh ke


arahku.


"Lita?”


"Lu kemana aja? Kenapa gak masuk sekolahh? Dan kenapa lu masih Pake


Seragam sekolahh keluyuran malem-malem?"Aku tak sadar sudah mengajukan


pertanyaan bertubi-tubi.


"Yaelah Tha, lu ntanya atau mau introgasi gue sih? satu-satu aja


kenapa sih. Gue abis nonton sama pacar gue," ucap Chacha dengan santai.


"Terus kenapa tadi bolos lagi? Udah hampir 3 hari berturut-turut di


minggu ini lu bolos Cha? Bentar lagi kita UN lho."


"Aduhh Lita,,, jangan ceramah sekarang deh. Gue lagi


gak mood belajar.”


Dan


saat kami sedang berbincang, seorang lelaki datang dan merangkul pundak Chacha begitu saja membuatku mengernyitkan dahiku melihat ke arahnya.


Chacha mengenalkan lelaki itu sebagai kekasihnya yang bernama Gilang.


“Oh iya kenalin ini


Gilang cowok gue dan Gilang, ini Thalita sahabat aku," ucap Chacha.


"Gilang."


Gilang menyodorkan tangannya dengan senyum yang menawan ke arahku.


"Thalita."


Aku membalas jabatan tangan Gilang dengan tersenyum kecil.


Saat hendak menarik


kembali tanganku, Gilang mempererat pegangan tangannya , aku berusaha menarik


tanganku tetapi sulit sekali.


"Maaf," Aku


sudah mulai kesal.


"Sayang..."


Chacha menarik tangan Gilang dengan sedikit emosi, hingga akhirnya Gilang


melepaskan tanganku.


"Ya


udah gue balik duluan yah Cha, bye..." Aku bergegas pergi tanpa ingin


menatap ke arah Gilang.


Awal


mula aku kenal dengan Gilang, lelaki yang merusak persahabatan kami.


***