
10 Tahun Yang Lal
u
Pagi itu aku keluar dari kamar
setelah selesai bersiap-siap memakai Seragam Sekola Menengah Atas yang cukup
terkenal di kota Bandung. Aku Thalita Putri Casandra dan teman-temanku biasa
memanggilku Lita, umurku 18 tahun. Aku orangnya sangat pendiam, tidak banyak
bicara. Bahkan ketiga sahabatku selalu mengataiku si kutu buku, karena aku
sangat gemar membaca buku. Termasuk membaca komix dan novel, aku sangat
menyukainya.
Saat ini aku tengah berjalan
mendekati meja makan, dimana Tanteku yang paling cantik dan paling baik, tengah
menyiapkan sarapan pagi. Dia adalah TanteRatih, dia yang mengurusku dari aku
kecil bersama mendiang Omku. Tapi Tuhan lebih dulu memanggil Om Ardi saat aku
duduk dibangku Junior
High School.
Kalian pasti bertanya kenapa aku
tidak tinggal bersama kedua orangtuaku.
Dari sejak kecil aku tidak tau siapa orangtua kandungku. Setiap kali aku bertanya
pada Tante, Tanteselalu bilang kalau orangtuaku sudah meninggal. Dan aku tidak
berniat bertanya lagi meskipun penasaran dan tidak yakin dengan jawaban TanteRatih
tapi ya sudahlah mungkin memang benar kalau orangtuaku sudah meninggal.
Disini aku dan Tante hanya tinggal
berdua dirumah yang sangat sederhana ini.Tante membuka usaha toko kue
basah dan kering. Dan Alhamdulillah banyak sekali yang menyukai kue bikinannya.
Setelah selesai sarapan, aku
pergi ke sekola dengan mengguNakan jasa angkutan umum. Hingga kini aku sudah
sampai di depan gerbang Senior High School.Aku berjalan menuju kelasku hingga
saat sampai di sana, aku melihat ketiga sahabatku tengah berdiskusi.
"Lita... akhirnya lu datang
juga. Gue mau lihat tugas matematika lu dong yang kemarin," ujar sahabatku yang
berparas cantik keturunan Turki itu dengan senyuman manisnya. Dia adalah Chacha,
nama aslinya adalah Clarisa Abshari Pratista. Anak tunggal dari seorang Pejabat, salah satu anggota DPRD
di kota ini. Dia anaknya sangat lucu, kocak, baik,tetapi dia masih saja kekanak-kanakan
dan terkadang suka sensitive.
"Kebiasaan banget sih luCha,
ngerjain tugas disini," ucap gadis berambut hitam yang berada di
sampingku.Dia
adalah Serli, Serli Angela Brunella teman sebangkuku. Dia putri pertama
dari 2 bersaudara, keluarganya hanya keluarga sederhana. Ayahnya seorang
wiraswasta di kota ini. Dia orangnya sangat ceplas ceplos, suka sekali dengan tantangan,
dia juga sangat baik.
"Udah gak apa-apa,
nih tugasnya,"
ucapku menyerahkan buku tugasku ke Chacha. Dan Chacha langsung menerimanya
dengan sangat antusias.
"Thanks
Tha, lu emang sahabat terbaik gue."
ucap Chachaa tersenyum.
"Terlalu baik luTha,
lama-lama keenakan juga kan nih si Chachaa," ucap gadis berkulit coklat
disebelah Chachaa. Dia adalah Ratu
Adela Aloysius, dia sangat tomboy dan berpenampilan apa adanya. Dia orangnya
tidak suka yang ribet, dia menyukai hal hal yang simple, dia selalu membuat
rusuh di sekolah dan dia jago bela diri. Dia anak dari seorang Wartawan swasta di perusahaan
televisi swasta dikota ini.
"Ya nggak apa-apa, asalkan lu paham
dari jawaban itu,"
jawabku dengan santai.
"Gue paham kok," jawab Chachaa
dengan cengiran lebarnya.
Inilah ketiga sahabat terbaikku.
Kami sudah bersahabat dari sejak kami duduk di bangku Junior High School.
Selain TanteRatih, merekalah keluargaku. Mereka selalu ada di saat aku butuh
dan kami selalu saling membantu satu sama lain. Kegilaan, kekonyolan, tawa
bahagia, membuat onar di sekola, itu sudah melekat di diri kami berempat.
Bahkan guru BP sudah bosan menghukum kami berempat.
---
Waktu
istirahat, aku pergi ke perpustakaan mencari buku untuk refeRensi untuk tugas
makalahku. Dan tidak sengaja aku melihat Serli tengah duduk di sana sambil
memainkan handphonenya.
"Woy...!!!"
Aku mengagetkan Serli.
"Eh lu
Tha." Serli hanya nyengir saja dan kembali menatap layar handphonenya
sambil senyum-senyum sendiri.
"Kenapa
lu, Ser?" tanyaku terus menatap Serli kaRena merasa heran dengan sikapnya.
"Gue? Gue
gak apa-apa kok," ucap Serli membuatku memutar bola mataku. Dia selalu
saja menyembunyikan sesuatu dariku.
"Jangan
bohong deh, ayo cepet cerita," tanyaku menyimpan buku yang aku pegang di
atas meja dan siap mendengarkan cerita dari Serli.
"Sebenarnya
gini lho Tha, lu tau kan laki-laki yang suka ke toko bokap gue," ucap
Serli.
"Laki-laki
yang lu bilang rumahnya dekat dengan toko lu itu?" Serli menganggukkan
kepalanya sebagai jawaban.
"Kenapa
memangnya?" tanyaku lagi sangat penasaran.
"Iya kita
kan udah lama Sering chattingan. Dia sangat baik Tha, apalagi dia sangat
tampan," ucap Serli berSeri-Seri, emm aku tau Serli pasti udah jatuh cinta
dengan pria itu.
"Hmmm,,,
lalu?" tanyaku sedikit menggoda. Membuat Serli menundukkan kepalanya
malu-malu. Lucu sekali...
"Dan weekend ini dia ngajakin gue main ke tempat wisata," ucap
Serli malu-malu.
"Cie...cie...."
godaku membuatnya semakin malu.
"Kalau
mau ngobrol jangan di perpustakaan, sana keluar!" ucap seseorang membuatku
dan Serli sama-sama menengok ke sumber suara. Dimana guru piket perpustakaan
tengah berdiri di belakang kami dengan tatapan yang tajam, membuat kami ngeri.
"Ba-baik
Bu." Serli segera menarik tanganku untuk keluar dari perpustakaan. Kami
berdua tertawa saat keluar perpustakaan.
"Kalian
baru saja datang di hadapan kami bersama Ratu.
"Kita
abis dari perpus, Cha," jawabku.
"Kalian
kenapa tertawa?" tanya Ratu heran.
"Ini si
Serli lagi kasmaran," ucapku.
"Oya?
Cie...cie… Liat tuh muka si Serli langsung merah kayak tomat busuk," goda
Ratu.
"Ishhh..."
cibir Serli.
"Lu udah
punya pacar?" tanya Chacha sangat antusias.
"Kalian
heboh banget. Lu juga Tha, ember lu ah," Seru Serli. "Gue belum
jadian, tapi ya mudah-mudahan saja beneran jadian lusa nanti," kekehnya.
"Cie...cie..."
ucap ketiga sahabatnya.
"Gue
doain moga malam ini dia nembak lu," ucapku.
"Kita dukung lu," ucap
Ratu memeluk Serli.
***
Author Pov
Daniel membawa Serli ke sebuah tempat wisata alam
yang ada di Bandung.
Serli sangat senang dan bahagia saat menghirup
udara segar nan sejuk di sana.
“Kau tau, aku sangat menyukai suasana begini. Aku
dulu Sering hiking ke gunung. Tetapi sekarang sudah tidak karena di SMA,
waktuku tersita habis,” Seru Serli.
“Aku juga menyukai suasana sejuk alam bebas
seperti ini. Brotherhood Sering menghabiskan waktu liburan dengan hiking atau
liburan ke pantai.”
“Wah pasti Seru yah bisa liburan dengan para
cogan,” kekeh Serli.
“Cogan? Apa itu termasuk dengan aku?” tanya
Daniel.
“Begitulah,” kekeh Serli. “Aku kan selalu berkata
jujur.”
“Kalau begitu, aku juga ingin berkata jujur,” Seru
Daniel.
“Apa?” tanya Serli.
“Jadilah pacarku, Ser.”
“Apa?” pekik Serli tampak kaget hingga Daniel
meringis karena suaranya yang seperti klakson metromini kalau kata Okta.
“Tidak usah berteriak,” kekeh Daniel mengusap
kupingnya.
“Tunggu! Kamu tadi mengatakan apa?” tanya Serli
seakan ingin meyakinkan.
“Jadilah pacarku, Serli.”
“Apa... maksudmu kita?” gumam Serli. “Aku dan kamu
pacaran gitu?” tanya Serli.
“Iya,” jawab Daniel dengan sabar dan lembut.
“Kayak di novel-novel itu,” kekeh Serli. “Mimpi
apa aku punya pacar cowok ganteng seperti di dalam novel,” kekehnya.
“Jadi kesimpulannya kamu menerimaku jadi pacarmu?”
tanya Daniel.
“Sudah pastilah! Oppzzz...” Serli segera menutup
mulutnya yang keceplosan.
Mereka berdua tertawa bersama akhirnya.
----
Daniel dan Serli berjalan-jalan dengan saling
merangkul dan penuh dengan kebahagiaan karena mereka berdua baru saja jadian.
Sudah lama Serli menyukai Daniel. Sebaliknya
Daniel juga sudah jatuh cinta pada Serli saat pandanganpertama mereka.
***
"Litaaaaaaa........Chachaaaaa......Ratuuuuuuuu......"
teriak Serli saat masuk ke kelas dan langsung histeris menuju ketiga sahabatnya
yang tengah duduk di bangkunya.
"Lu
kenapa?" tanya Lita heran.
“Abis makan toak
lu?” Seru Chacha.
"Lu kesambet
kuntilanak dimana? Teriak-teriak gak jelas," keluh Ratu.
"Iishhhh....kalian
ini," cibir Serli. "Dengerin gue yah guys, kalian tau gak.."
"Nggak
tuh," potong Thalita membuat Serli cemberut.
"Makanya
kasih tau dong jangan buat kita penasaran," tambah Chacha.
"Jadi guys
kemarin itu-“
“Kalian jadian?” Seru
Lita dengan nada polos.
“Ihh Lita jadi
gak Seru kan kalau udah di tebak,” Seru Serli.
“Wih jadi lu gak
jomblo lagi?” tanya Ratu.
“Nggak dong,”
kekeh Serli terlihat begitu bahagia.
"Cie..cie..
selamat yah, Ser." Lita langsung memeluk Serli.
"Selamat
yah," tambah Ratu ikut memeluk Serli.
"Selamat yah
Serli saying," timpal Chacha ikut memeluk juga.
Keempatnya
berpelukan dan berputar-putar di depan kelas, kejadian ini tidak membuat heran
teman-teman di kelas yang melihat kekompakan persahabatan mereka berempat.
"Ekhem..ekhem...
ada tali kasih apa di pagi hari ini?" ucap seseorang membuat ke empatnya
melepaskan pelukan dan tersenyum kikuk pada pria paruh baya yang berdiri di
pintu masuk kelas.
"Eh ada Bapak," ucap Serli tersenyum kikuk dan
kembali duduk bersama teman-temannya.
***