My Ceo

My Ceo
Episode 56



10 Tahun Yang Lal


u


Pagi itu aku keluar dari kamar


setelah selesai bersiap-siap memakai Seragam Sekola Menengah Atas yang cukup


terkenal di kota Bandung. Aku Thalita Putri Casandra dan teman-temanku biasa


memanggilku Lita, umurku 18 tahun. Aku orangnya sangat pendiam, tidak banyak


bicara. Bahkan ketiga sahabatku selalu mengataiku si kutu buku, karena aku


sangat gemar membaca buku. Termasuk membaca komix dan novel, aku sangat


menyukainya.


Saat ini aku tengah berjalan


mendekati meja makan, dimana Tanteku yang paling cantik dan paling baik, tengah


menyiapkan sarapan pagi. Dia adalah TanteRatih, dia yang mengurusku dari aku


kecil bersama mendiang Omku. Tapi Tuhan lebih dulu memanggil Om Ardi saat aku


duduk dibangku Junior


High School.


Kalian pasti bertanya kenapa aku


tidak tinggal bersama kedua  orangtuaku.


Dari sejak kecil aku tidak tau siapa orangtua kandungku. Setiap kali aku bertanya


pada Tante, Tanteselalu bilang kalau orangtuaku sudah meninggal. Dan aku tidak


berniat bertanya lagi meskipun penasaran dan tidak yakin dengan jawaban TanteRatih


tapi ya sudahlah mungkin memang benar kalau orangtuaku sudah meninggal.


Disini aku dan Tante hanya tinggal


 berdua dirumah yang sangat sederhana ini.Tante membuka usaha toko kue


basah dan kering. Dan Alhamdulillah banyak sekali yang menyukai kue bikinannya.


Setelah selesai sarapan, aku


pergi ke sekola dengan mengguNakan jasa angkutan umum. Hingga kini aku sudah


sampai di depan gerbang Senior High School.Aku berjalan menuju kelasku hingga


saat sampai di sana, aku melihat ketiga sahabatku tengah berdiskusi.


"Lita... akhirnya lu datang


juga. Gue mau lihat tugas matematika lu dong yang kemarin," ujar sahabatku yang


berparas cantik keturunan Turki itu dengan senyuman manisnya. Dia adalah Chacha,


nama aslinya adalah Clarisa Abshari Pratista. Anak tunggal dari seorang Pejabat, salah satu anggota DPRD


di kota ini. Dia anaknya sangat lucu, kocak, baik,tetapi dia masih saja kekanak-kanakan


dan terkadang suka sensitive.


"Kebiasaan banget sih luCha,


ngerjain tugas disini," ucap gadis berambut hitam yang berada di


sampingku.Dia


adalah Serli, Serli Angela Brunella teman sebangkuku. Dia putri pertama


dari 2 bersaudara, keluarganya hanya keluarga sederhana. Ayahnya seorang


wiraswasta di kota ini. Dia orangnya sangat ceplas ceplos, suka sekali dengan tantangan,


dia juga sangat baik.


"Udah gak apa-apa,


nih tugasnya,"


ucapku menyerahkan buku tugasku ke Chacha. Dan Chacha langsung menerimanya


dengan sangat antusias.


"Thanks


Tha, lu emang sahabat terbaik gue."


ucap Chachaa tersenyum.


"Terlalu baik luTha,


lama-lama keenakan juga kan nih si Chachaa," ucap gadis berkulit coklat


disebelah Chachaa.  Dia adalah Ratu


Adela Aloysius, dia sangat tomboy dan berpenampilan apa adanya. Dia orangnya


tidak suka yang ribet, dia menyukai hal hal yang simple, dia selalu membuat


rusuh di sekolah dan dia jago bela diri. Dia anak dari seorang Wartawan swasta di perusahaan


televisi swasta dikota ini.


"Ya nggak apa-apa, asalkan lu paham


dari jawaban itu,"


jawabku dengan santai.


"Gue paham kok," jawab Chachaa


dengan cengiran lebarnya.


Inilah ketiga sahabat terbaikku.


Kami sudah bersahabat dari sejak kami duduk di bangku Junior High School.


Selain TanteRatih, merekalah keluargaku. Mereka selalu ada di saat aku butuh


dan kami selalu saling membantu satu sama lain. Kegilaan, kekonyolan, tawa


bahagia, membuat onar di sekola, itu sudah melekat di diri kami berempat.


Bahkan guru BP sudah bosan menghukum kami berempat.


---


Waktu


istirahat, aku pergi ke perpustakaan mencari buku untuk refeRensi untuk tugas


makalahku. Dan tidak sengaja aku melihat Serli tengah duduk di sana sambil


memainkan handphonenya.


"Woy...!!!"


Aku mengagetkan Serli.


"Eh lu


Tha." Serli hanya nyengir saja dan kembali menatap layar handphonenya


sambil senyum-senyum sendiri.


"Kenapa


lu, Ser?" tanyaku terus menatap Serli kaRena merasa heran dengan sikapnya.


"Gue? Gue


gak apa-apa kok," ucap Serli membuatku memutar bola mataku. Dia selalu


saja menyembunyikan sesuatu dariku.


"Jangan


bohong deh, ayo cepet cerita," tanyaku menyimpan buku yang aku pegang di


atas meja dan siap mendengarkan cerita dari Serli.


"Sebenarnya


gini lho Tha, lu tau kan laki-laki yang suka ke toko bokap gue," ucap


Serli.


"Laki-laki


yang lu bilang rumahnya dekat dengan toko lu itu?" Serli menganggukkan


kepalanya sebagai jawaban.


"Kenapa


memangnya?" tanyaku lagi sangat penasaran.


"Iya kita


kan udah lama Sering chattingan. Dia sangat baik Tha, apalagi dia sangat


tampan," ucap Serli berSeri-Seri, emm aku tau Serli pasti udah jatuh cinta


dengan pria itu.


"Hmmm,,,


lalu?" tanyaku sedikit menggoda. Membuat Serli menundukkan kepalanya


malu-malu. Lucu sekali...


"Dan weekend ini dia ngajakin gue main ke tempat wisata," ucap


Serli malu-malu.


"Cie...cie...."


godaku membuatnya semakin malu.


"Kalau


mau ngobrol jangan di perpustakaan, sana keluar!" ucap seseorang membuatku


dan Serli sama-sama menengok ke sumber suara. Dimana guru piket perpustakaan


tengah berdiri di belakang kami dengan tatapan yang tajam, membuat kami ngeri.


"Ba-baik


Bu." Serli segera menarik tanganku untuk keluar dari perpustakaan. Kami


berdua tertawa saat keluar perpustakaan.


"Kalian


baru saja datang di hadapan kami bersama Ratu.


"Kita


abis dari perpus, Cha," jawabku.


"Kalian


kenapa tertawa?" tanya Ratu heran.


"Ini si


Serli lagi kasmaran," ucapku.


"Oya?


Cie...cie… Liat tuh muka si Serli langsung merah kayak tomat busuk," goda


Ratu.


"Ishhh..."


cibir Serli.


"Lu udah


punya pacar?" tanya Chacha sangat antusias.


"Kalian


heboh banget. Lu juga Tha, ember lu ah," Seru Serli. "Gue belum


jadian, tapi ya mudah-mudahan saja beneran jadian lusa nanti," kekehnya.


"Cie...cie..."


ucap ketiga sahabatnya.


"Gue


doain moga malam ini dia nembak lu," ucapku.


"Kita dukung lu," ucap


Ratu memeluk Serli.


***


Author Pov


Daniel membawa Serli ke sebuah tempat wisata alam


yang ada di Bandung.


Serli sangat senang dan bahagia saat menghirup


udara segar nan sejuk di sana.


“Kau tau, aku sangat menyukai suasana begini. Aku


dulu Sering hiking ke gunung. Tetapi sekarang sudah tidak karena di SMA,


waktuku tersita habis,” Seru Serli.


“Aku juga menyukai suasana sejuk alam bebas


seperti ini. Brotherhood Sering menghabiskan waktu liburan dengan hiking atau


liburan ke pantai.”


“Wah pasti Seru yah bisa liburan dengan para


cogan,” kekeh Serli.


“Cogan? Apa itu termasuk dengan aku?” tanya


Daniel.


“Begitulah,” kekeh Serli. “Aku kan selalu berkata


jujur.”


“Kalau begitu, aku juga ingin berkata jujur,” Seru


Daniel.


“Apa?” tanya Serli.


“Jadilah pacarku, Ser.”


“Apa?” pekik Serli tampak kaget hingga Daniel


meringis karena suaranya yang seperti klakson metromini kalau kata Okta.


“Tidak usah berteriak,” kekeh Daniel mengusap


kupingnya.


“Tunggu! Kamu tadi mengatakan apa?” tanya Serli


seakan ingin meyakinkan.


“Jadilah pacarku, Serli.”


“Apa... maksudmu kita?” gumam Serli. “Aku dan kamu


pacaran gitu?” tanya Serli.


“Iya,” jawab Daniel dengan sabar dan lembut.


“Kayak di novel-novel itu,” kekeh Serli. “Mimpi


apa aku punya pacar cowok ganteng seperti di dalam novel,” kekehnya.


“Jadi kesimpulannya kamu menerimaku jadi pacarmu?”


tanya Daniel.


“Sudah pastilah! Oppzzz...” Serli segera menutup


mulutnya yang keceplosan.


Mereka berdua tertawa bersama akhirnya.


----


Daniel dan Serli berjalan-jalan dengan saling


merangkul dan penuh dengan kebahagiaan karena mereka berdua baru saja jadian.


Sudah lama Serli menyukai Daniel. Sebaliknya


Daniel juga sudah jatuh cinta pada Serli saat pandanganpertama mereka.


***


"Litaaaaaaa........Chachaaaaa......Ratuuuuuuuu......"


teriak Serli saat masuk ke kelas dan langsung histeris menuju ketiga sahabatnya


yang tengah duduk di bangkunya.


"Lu


kenapa?" tanya Lita heran.


“Abis makan toak


lu?” Seru Chacha.


"Lu kesambet


kuntilanak dimana? Teriak-teriak gak jelas," keluh Ratu.


"Iishhhh....kalian


ini," cibir Serli. "Dengerin gue yah guys, kalian tau gak.."


"Nggak


tuh," potong Thalita membuat Serli cemberut.


"Makanya


kasih tau dong jangan buat kita penasaran," tambah Chacha.


"Jadi guys


kemarin itu-“


“Kalian jadian?” Seru


Lita dengan nada polos.


“Ihh Lita jadi


gak Seru kan kalau udah di tebak,” Seru Serli.


“Wih jadi lu gak


jomblo lagi?” tanya Ratu.


“Nggak dong,”


kekeh Serli terlihat begitu bahagia.


"Cie..cie..


selamat yah, Ser." Lita langsung memeluk Serli.


"Selamat


yah," tambah Ratu ikut memeluk Serli.


"Selamat yah


Serli saying," timpal Chacha ikut memeluk juga.


Keempatnya


berpelukan dan berputar-putar di depan kelas, kejadian ini tidak membuat heran


teman-teman di kelas yang melihat kekompakan persahabatan mereka berempat.


"Ekhem..ekhem...


ada tali kasih apa di pagi hari ini?" ucap seseorang membuat ke empatnya


melepaskan pelukan dan tersenyum kikuk pada pria paruh baya yang berdiri di


pintu masuk kelas.


"Eh ada Bapak," ucap Serli tersenyum kikuk dan


kembali duduk bersama teman-temannya.


***