My Ceo

My Ceo
Episode 62



Hari


ini adalah hari pertama aku ospek di kampus baruku. Aku baru saja sampai di gerbang kampus dan terlihat Serli datang


bersama Kak Daniel. Dia langsung menyaPaku, dan Kak Daniel berlalu pergi


meninggalkan kami berdua. Kami berjalan berdampingan sambil mengobrol menuju


lapangan kampus dimana para peserta ospek berkumpul. Kami tidak menggunakan


berbagai peralatan ospek seperti biasanya. Kami hanya memakai pakaian hitam


putih dan papan nama yang bertengker di dada kami. Saat


sedang asyik mengobrol, Ratu datang menghampiri aku dan Serli. Dia terlihat


ngos-ngosan karena habis berlari, dia sangat senang berlari padahal ini masih


pagi.


Saat kami tengah asyik


berbincang, aku melihat Chacha tengah mengobrol dengan seseorang yang aku kenal


juga. Dia Amel, teman sekolahku hanya saja kami berbeda kelas. Ternyata Chacha


dan Amelpun masuk ke Universitas ini.


“Itu Chacha sama Amel?” ucapku membuat kedua sahabatku


menatap ke arah Amel.


“Iya bener, itu si Chacha sama


Amel, kenapa mereka bersama? Bukankah mereka bermusuhan?” ujar Serli.


Aku dan ketiga sahabatku sudah


lama bermusuhan dengan Amel, karena dia sering sekali mengganggu kami dan


membuat masalah dengan kami. Tapi sekarang sungguh membuatku heran karena


Chacha bersamanya dan terlihat cukup dekat.


"Hai Lita, Ser," sapa seorang gadis cantik


dengan wajah riangnya, membuatku dan kedua sahabatku menoleh ke arah gadis itu.


"Halo Ren," saPaku. Ternyata itu adalah Irene..


"Lu masuk kampus ini juga?"


tanya Serli.


"Yups, gue ambil jurusan yang sama


kayak lu, Ser,"


ucap Irene.


"Wah asyik dong, gue jadi ada temen," ucap Serli senang.


"Kenalin ini Ratu temen gue," ucapku.


"Ratu," menyodorkan tangannya ke


Irene.


"Irene," ucap Irene. "Wah gue jadi nambah banyak temen," kekeh Irene dengan riang.


"Lebih baik kan, daripada nambah


musuh,"


ucapku membuat Irene mengangguk antusias.


“Hai Ladys, ternyata kalian disini,” sapa seseorang membuat kami


menengok dan Okta berdiri di sana dengan senyuman khasnya.


"Lu sengaja yah ngikutin gue masuk


ke Universitas ini!" keluh Serli.


"Enak aja, gue memang udah niat


masuk ke kampus ini," ucap Okta dan pandangannya kini langsung terarah ke


arah Ratu."Eh


ada cewek manis," ucapnya tersenyum membuat Ratu mengernyitkan dahinya.


Ratu terkenal sangat galak dan jutek dengan cowok.


"Ayo kita kesana," ucap Ratu ketus beranjak


pergi meninggalkan kami.


"Kok kabur sih, kenalan juga belum," keluh Okta.


"Mampus lu, Gator."Serli meleletkan lidahnya


dan mengikuti Ratu. Membuatku dan Irene terkekeh.


Semua mahasiswa dan mahasiswi baru berkumpul


di lapangan kampus yang luasnya hampir menyamai lapangan sePak bola. Semuanya


berbaris rapi dibawah terik matahari pagi.Mereka semua tengah bercengkraman


satu sama lain.


"Gue excited banget deh guys  ngikutin kegiatan ini," ucap Irene semangat.


"Iya lah gak excited gimana, orang


disini ada cowok lu," ujar Okta.


"Itu juga salah satu alasannya," kekeh Irene.


"Daniel mana yah," gumam Serli.


"Lu niat mau kuliah atau cuma


ngecengin cowok lu aja," ucap Ratu.


"Bener tuh kata si manis, fokus


sama ospek,"


timpal Okta membuat Serli mencibir.


"Berhenti panggil gue manis! Gue bukan gula!" ujar


Ratu dengan galak


membuat kami semua terkekeh di buatnya.


Pandanganku terarah ke arah


Chacha dan Amel yang sibuk berbincang. Kenapa jadi seperti ini sih Cha?


Harusnya kita bareng-bareng kayak dulu. Kenapa lu gak mau percaya sama gue. Dan


milih memutuskan tali silaturahmi persahabatan kita


Tak lama datanglah 6 orang senior dengan memakai jas alMamater yang sama,


memasuki lapangan yang dipimpin oleh Kak Dhika, Daniel, Arseno dan Angga.


"Itu cowok gue," bisik Serli ke Ratu


membuatku tersenyum melihat Serli yang excited. Pandanganku terarah ke arah kak Dhika yang ada di


antara mereka dan terlihat begitu tampan.


"Honey gue ganteng banget


deh Pake alMamater,"


ujar Irene.


“Ck, berisik lu semua. Kagak perlu


lu perjelas itu cowok kalian, gue udah empet dengernya!” cibir Okta membuatku terkekeh.


“Dasar Gator sarap!” celetuk Irene.


Semua peserta yang sebelumnya


heboh berbincang. Tiba-tiba saja langsung terdiam saat melihat kedatangan


keempat lelaki berpostur tubuh jangkung dengan pesona khas blasteran mereka.


Sedangkan para mahasiswa terbius oleh pesona Kak Dewi dan Kak Elza.


Kak Dhika mulai membuka acara dan


memperkenalkan para panitia di sana. Ternyata Kak Dhika adalah senat di kampus,


keren banget. Dia memang sangat cocok menjadi seorang pemimpin.


“Matanya biasa aja, entar loncat


keluar lho,”


bisik Serli membuatku terkekeh dan merasa malu karena kepergok tengah mengagumi kak Dhika.


Selesai sambutan, kamipun di bagi


menjadi beberapa kelompok dan sayang sekali aku dan semua sahabatku kebagian


kelompok satu bersama Chacha dan juga Amel.Selesai pembagian kelompok, pembina


kelompok 1 yang tak lain adalah Kak Angga dan Kak Seno langsung mengabsen


anggotanya.


"Adik-adik, sekarang kalian satu


kelompok jadi kalian harus komPak dan saling bekerjasama. Akan ada banyak game


dan kegiatan yang harus kalian ikutin. Jadi persiapkan diri kalian dan


kekomPakan tim kalian," ujar Kak  Angga dengan masih staycool.


"Kalau ada yang sakit atau merasa


tidak enak badan, langsung bilang yah sama Kakak," ucap Kak Seno berjalan


mendekati Irene.


"Kamu sehat kan,Honey?" bisik Seno


membuat Irene mengangguk antusias.


"Kak Angga, kok Kak Seno


cuma perhatiin Irene saja. Aku gak ditanyain sakit atau nggak?" ucap


Okta dengan tampang polosnya membuatku terkikik geli melihatnya.


“Dasar Gator sarap!” Kak Seno mendengus dan Okta


hanya memasang senyum menyebalkannya.


Kak Angga langsung menarik Kak


Seno untuk menjauh dari Irene.


Acarapun dimulai. Isinya


permainan, perkenalan kampus, touring keliling kampus, visi misi kampus, fasilitas


dan system kampus.


Hingga tidak terasa acarapun


sudah selesai.Sebelum pulang, aku pergi menuju toilet, aku menyempatkan diri


untuk mencuci wajahku agar lebih segar. Saat tengah mengusap wajahku dengan


tissue di depan wastapel, seseorang datang dan mencuci tangannya di samping


wastapelku.


"Hai Thalita. Gimana kabar lu?" tanya


seseorang itu dengan senyum meremehkannya.


"Seperti yang lu lihat," jawabku dengan nada ketus.


"Sepertinya tidak sebaik yang


diperkirakan. Gue gak tau masalah lu apa, sampai Chacha bergabung dengan


gue,"


ucapnya dengan seringai menyebalkannya. Aku tidak memperdulikannya dan


bergegas pergi meninggalkannya.


"Oh iya, pertentangan kita belum


selesai. Gue ingin tau sebesar apa kekuatan persahabatan kalian tanpa adanya


Chacha,"


ucapnya dengan tenang.


"Kita lihat saja nanti," ucapku dan berlalu pergi.


Aku berjalan dengan cepatkarena takut Amel


mengikutiku. Hingga aku berpapasan dengan Kak Dhika


"Hai," sapanya dengan senyuman


manisnya.


"H-hai Kak," jawabku sedikit grogi.


"Kamu mau pulang?" tanya kak Dhika membuatku


mengangguk"Mau


pulang bareng?" tanyanya membuatku bingung dan takut dilihat mahasiswa


lain.


“Tidak Kak, aku bisa pulang sendiri.”


"Baiklah, kalau begitu


berhati-hatilah,"


ucapnya dan aku berlalu pergi meninggalkan Dhika.


***


Acara OSMB sudah selesai, karena


hanya di laksanakan selama tiga hari yang berisi perkenalan program dan system


masing-masing fakultas, perkenalan club kampus, dan beberapa hiburan dan game


asah otak.Kini tiba saatnya ke acara perkemahan.


Perkemahan dilaksanakan disebuah


gunung yang masih belum terjamah oleh manusia, bahkan terdapat hutan liar di


sana.


Sesampainya di tempat tujuan,


kelompok 1 di instruksikan untuk membangun tenda mereka. Karena terlalu banyak


jadi mereka membaginya menjadi 3 tenda.


Okta dan fajar hanya berdua saja,


sedangkan Ratu dengan mengalah setenda dengan Chacha dan Amel. Serli, aku dan


Irene satu tenda.Semuanya bertugas membuat tenda, dibantu oleh pembina kelompok. Kak Seno dengan semangat


membantu Irene, aku dan juga Serli mendirikan tenda. Sedangkan Kak Angga merasa harus membantu Ratu,


Chacha dan Amel untuk mendirikan tenda.Aku


melihat Ratu yang sesekali menatap ke


arah Kak Angga


sambil tersenyum malu-malu. Aku baru pertama kali melihat Ratu seperti ini,


sepertinya Ratu menyukai Kak Angga.


Saat itu Kak Dhika dan Kak Daniel


datang untuk mengecek kegiatan kami. Dan Amel terlihat terus menerus mencari perhatian kak Dhika. Aku hanya


melihatnya saja, aku tidak paham saat ada perasaan kesal dan tidak rela di dalam hati saat melihat Kak


Dhika bersikap ramah meladeni Amel.Setelah mendirikan tenda, tidak ada kegiatan


apapun.


Semuanya sibuk memasak untuk


makan malam mereka. Amel selalu membuat gara-gara kepadaku, Serli bahkan Ratu


tetapi kami tidak menggubrisnya.Hingga tengah malam, semua peserta berkumpul


ditengah lapangan dengan api unggun yang besar dan indah.


Beberapa permainan dan atraksi


ditampilkan di sana, hingga semua panitia bersorak dan menyuruh Dhika menyanyi.


Dhikapun tidak menolaknya dan mengambil gitar lalu mulai memetik senar gitar


itu. Semuanya terdiam dan terPaku ke arah Dhika yang akan menyanyi. Suara Dhika


memang sangat merdu, lagu apapun yang dia bawakan pasti akan terdengar sangat


indah. Hingga di bait terakhir yang terdengar sangat mendalam, pandangan kami


beradu, bahkan Kak Dhika menampilkan senyuman terbaiknya padaku membuatku semakin berdebar tidak karuan.Kak Dhika selesai bernyanyi dan semua orang bertepuk tangan.


Selesai


acara semuanya kembali ke dalam tenda, aku berjalan menuju tenda dan tiba-tiba


saja seseorang memanggil namaku. Aku menoleh ke sumber suara dan terlihat sosok


jangkung berjalan mendekatiku.


"Ternyata


bener kamu Lita," ucap lelaki jangkung berparas manis itu. Ah ternyata kak


Ricky.


"Kak


Ricky, Kakak kuliah di sini juga?" Aku baru melihatnya.


"Iya,


aku kuliah di sini Fakultas Ekonomi, udah semester 4. Aku seneng liat kamu di


"Aku


juga kaget melihat kak Ricky."


"Baiklah,


kalau begitu istirahatlah. Besok pagi akan banyak kegiatan," ucap kak


Ricky membuatku mengangguk dan berpamitan masuk ke dalam tenda.


"Siapa


Tha?" tanya Serli saat aku masuk ke dalam tenda.


"Itu


kak Ricky," jawabku mengambil selimut di atas tas ranselku.


"Ricky


langganan Tante lu? Yang suka chat lu dan begitu perhatian?" tanya Serli


membuatku mengangguk. "Cie,, asyik dong satu kampus jadi bisa makin


deket." goda Serli.


"Lu


plin plan banget sih, Ser. Kalau berhubungan sama kak Dhika, lu dukung gue sama


kak Dhika. Trus gue bilang kenal sama kak Angga, lu juga dukung gue sama dia.


Dan sekarang kak Ricky, mana yang sebenarnya lu dukung sih? Isshhh." Dasar


miss plin plan.


"Gue


sih dukung siapa aja, yang penting bisa buat lu seneng, dan lu cinta sama


dia," ucap Serli, ini namanya sahabatku.


"Aduh


so sweetsnya sahabatku ini." Aku mencubit kedua pipi Serli.


"Sakit


tau," cibirnya.


"Irene


kemana?" Aku baru sadar kalau kami hanya berdua di dalam tenda.


"Paling


lagi mojok sama cowoknya, udah ah gue mau bocan. Bye." Serli langsung


merebahkan dirinya dan memunggungiku.


***


Pagi harinya kami melakukan


kegiatan lari pagi bersama, Amel dengan sengaja menghalangi langkahku,


membuatku terjatuh dan tersungkur ketanah. Serli, Ratu, Irene dan Okta segera


membantuku untuk berdiri.


“Heh Nesi, Nela.Kalian mau cari ribut


disini? Lu kagak tau malu yah,” ujar Okta terlihat kesal. Aku menepuk pakaianku yang kotor.


“Gue gak ada urusannya sama lu, Banci!” ujar Chacha kesal.


“Lu bilang apa Nela? Lu bilang gue Banci? Haha dasar Nenek lampir sarap. Lu gak lihat


kegagahan dan ketampanan gue?” pekik Okta kesal.


“Berisik lu, nama gue itu Clarissa


bukan Nela!” pekik Chacha kesal.


“Clarissa kebagusan buat lu, lu


lebih cocok jadi Nela alias Nenek lampir!” ledek Okta menatap tajam


Chacha yang juga menatapnya


dengan sengit.


“Udah udah, kenapa kalian malah


jadi berantem. Udah Gator, cuekin saja,” ujar Irene menengahi.


“Awas lu Nenek lampir!” ujar Okta kesal membuat Chacha


menatap tajam ke arahnya.


***


Saat penjelajahanpun, Amel terus


mencari gara-gara bukan hanya kepadaku tetapi juga  kepada Serli dan Ratu.


Tetapi Serli dan Ratu langsung membalasnya balik, berbeda denganku  yang lebih memilih tidak menghiraukannya.


Saat tengah berjalan melewati


sungai yang curam dan jembatannya yang sudah goyang tanpa pegangan tangan. Amel


dengan sengaja mendorongku berpura-pura kakinya tersandung karena kebetulan aku


berada didepannya. Aku yang terdorong hampir saja akan terjatuh ke sungai curam


itu kalau tidak ada sepasang tangan kekar yang memegangiku.Aku yang


kaget langsung menatap ke arahseseorang yang baru saja menolongku,


dan tatapan kami bertemu.


"K-ak Dhika?" gumamku.


"Kamu tidak apa-apa kan?"


tanya kak Dhika


dengan tatapan khawatirnya, aku menggelengkan kepalaku. Kenapa Kak Dhika bisa ada di sini?


"Apa ada yang terluka?" tanya


Dhika lagi.


"Ti-tidak Kak," jawabku sedikit gugup


karena Kak Dhika


masih memegang lenganku dan satu tangannyalagi berada


dipinggangku.


"Ya udah lah Kak, nggak usah di


khawatirin juga. Lagian dia baik-baik saja kok. Cuma caper saja sama Kak Dhika," ucap Amel membuat Kak Dhika melepaskan rengkuhannya setelah dia membantuku


berdiri tegak.


“Heh Nesi, yang caper itu lu, bukan


si Lita! Ngapain lu Pake acara sok sinetron sinetronan segala, Pake adegan


kesandung segala. Ngaku aja emang pengen jorokin si Lita pan!” ujar Okta dengan kesal.


“Gue beneran kesandung,Banci!” cibir Amel terlihat ngeles.


“Lagu lama lu, peran antagonis


selalu carimuka gini nih sama sang pemeran utama,” ujar Okta asal.


“Crocodile, lu bisa diem gak sih.


Lu itu ngaku cowok tapi mulut lu kayak bebek, berisik!” celetuk Chacha.


“Wah, ini nih. Nenek lampir ini


belum kenal gue. Lu mau gue hanyutin di sungai ini biar nyampe ke rawa-rawa Sumatera?” ujar Okta kesal mendekati


Chacha hingga jarak di antara mereka sangat dekat.


“Ngapain lu deket-deket gue?” ujar Chacha.


“Kenapa Nela? Lu takut? Lu bilang gue banci.Sekarang akan


gue buktikan kalau gue ini cowok tullen!” ujar Okta terus mendekati


Chacha dengan seringainya.Dasar Okta, dia selalu saja menggoda oranglain.


“Kyaaaaa!!!”


Chacha hampir saja terjatuh ke sungai kalau Okta tidak memegang pergelangan


tangan Chacha dengan


sigap.Okta terlihat menarik Chacha hingga kini tubuh Chacha menabrak dada


Okta.Merekamasih saling bertatapan.


"Ada apa ini?" tanya Kak


Daniel yang baru saja datang menghampiri kami.


“Minggir lu, Crocodile bau!” Chacha mendorong tubuh Okta menjauh dan berlalu pergi


terlebih dulu.


"Kalian teruskan jalan


kalian dan hati-hati jembatannya licin," ujar Kak Dhika.


Semuanya kembali melakukan


perjalanan kami meninggalkan Kak Dhika dan Kak Daniel.


***


Setiap kegiatan, Amel terus


mencari gara-gara denganku. Hingga akhirnya aku mulai terpancing emosi, bukan


hanya aku saja, tetapi Serli, Ratu dan Okta juga ikut andil termasuk Chacha


juga. Mereka beradu mulut di hadapan semuanya, bahkan Amel sempat mendorong tubuhku,


yang kemudian dibalas oleh Ratu dan Serli.Perkelahian diantara Amel dan Ratupun


tidak bisa dihindari lagi. Serli membantu Ratu karena gemas


melihat Amel yang terus memancing emosinya. Sedangkan Chacha berkelahi


denganku, Chacha terlihat mengeluarkan semua kekesalannya dengan menjambak


rambutku. Aku tidak


melawan dan membalas pukulan dan jambakan dari Chacha, aku hanya berusaha


menahannya. Kenapa Chacha bisa mengamuk begini padaku.


Hingga Okta datang menolongku dengan


memelintir tangan Chacha. Aku memegang kepalaku yang terasa pening, bahkan di


pipiku terasa perih karena cakaran Chacha.


“Lepasin gue, Buaya!” pekik Chacha berontak


tetapi Okta terlihat menempelkan tubuhnya dengan punggung Chacha.


“Dengar yah Nela, kalau mau ngamuk


jangan disini,”


bisik Okta membuat Chacha semakin memberontak.


“Lepasin gue, Crocodile jelek!”


pekik Chachaterlihat


terus berontak.


“Kalau gue gak mau lepas, gimana


dong Nel?”


ujar Okta membuat Chacha geram.


“Gue buka Nela,, gue Clarissa.


CLARISSA!” pekik Chachaterlihat sangat emosi.


“Gue kan udah bilang, Clarissa


kebagusan buat lu. Udah terima saja nama pemberian gue ini. Harusnya lu bersyukur di kasih


nama panggilan dari


orang tertampan dan terunyu di jagat raya ini,” ujar Okta dengan percaya


dirinya membuatku terkekeh mendengarnya.


Para panitia senat datang dan melerai kami semua.


"Ada apa ini?" teriak Kak Dhika di hadapan


semuanya membuat mereka berhenti berkelahi dan merapihkan penampilan mereka


yang acak-acakan."Kalian sangat memalukan! Kalian berlima itu perempuan dan nggak


pantes berbuat keributan seperti ini, dan lu Gator. Lepaskan tangannya!" bentak kak Dhika.


Ternyata Kak Dhika bisa marah juga.


“Ya elah Kakak senat, ganggu orang


lagi bermesraan saja,” ujar Okta dengan santai membuat


mahasiswa yang lain terkikik.


“Aku lepas nih Nela, jangan kumat


lagi yah penyakit bar barnya,” ujar Okta melepaskan pegangan tangannya membuat


Chacha mencibir.


"Apa masalah kalian?" tanya Kak Elza dengan sinis dan tajam.


"Kak, Amel daritadi cari


gara-gara terus ke Lita. Jadi Serli dan Ratu ikut ngamuk," jelas Irene sebagai saksi


mata.


"Bukan saya Kak, tapi Lita saja


yang daritadi nyari masalah sama aku, Kak." ucap Amel membela dirinya dengan menuduhkan segala kesalahan padaku. Benar-benar


seekor rubah.Kini tatapanKak Dhika menatap ke


arahku.


"Aku tidak berbuat apa-apa, Kak," ucapku apa adanya.


"Seno, Angga! Gimana ini anak bimbingan


kalian?" tanya Kak Dhika.


"Maafkan kami Dhik. Kami akan kasih mereka hukuman," ujar Seno.


"Jangan sampai diulang lagi!" ucap Kak Dhika berlalu pergi


diikuti anggota senat yang lainnya.


Aku langsung terduduk di tanah


karena kepalaku terasa sangat pening.


"Kalian sangat memalukan tim 1,


kalian ber-6 akan Kakak hukum. Dan kamu Oktavio, kamu bukannya merelai


perkelahian mereka. Kamu malah ikut berantem,” ujar Kak Angga dengan kesal.


“Ya gimana lagi Kak, Sayang banget


kalau perkelahian itu aku lewatkan,” ucap Okta santai membuatku ingin tertawa melihat


tingkah konyolnya.


“Dasar Gator.” cibir Kak Seno.


“Cepat rapihkan pakaian dan wajah


kalian!"


ujar Kak Angga terlihat kesal dan berlalu


pergi.


Chacha dan Amel berlalu pergi


meninggalkan semuanya.


“Pergi lu yang jauh, Nesi dan Nela!” teriak Okta.


“Berisik Crocodile!” pekik Chacha,


sepertinya mereka sangat cocok.


***


Aku baru saja membersihkan wajahku di kamar mandi.


“Thalita...”


Aku menoleh ke sumber suara. “Kak Ricky?”


“Aku dengar tadi kamu berantem? Apa kamu baik-baik saja?” tanyanya.


“Aku baik-baik saja, Kak.”


“Lihat wajahmu terkena luka cakar, ini pasti perih. Harus di obati,” ucap


kak Ricky menyentuh luka di pipiku.


Tatapanku menangkap sosok Kak Dhika yang berdiri tak jauh dari kami. Dia


melihat ke arahku dan kak Ricky. Tatapannya... kenapa terlihat sangat kesal


yah? Apa karena tadi aku berantem?


“Lita,”


“Eh? Kenapa Kak?” tatapanku beralih kembali ke arah Ricky.


“Ayo aku ajak kamu ke tenda kesehatan untuk di obati.” Kak Ricky menarik


tanganku begitu saja menuju tenda kesehatan.


***