My Ceo

My Ceo
Episode 59



Setelah kejadian itu, aku mulai


akrab dengan yang Brotherhood kecuali Kak Dhika dan Kak Elza. Dan masalahpun


mulai bermunculan, Gilang kekasih Chacha sering menghubungiku dengan


mentanyakan beberapa hal yang tak penting membuatku merasa tak nyaman. Dan Chacha


semakin menjadi, bahkan aku pernah memergokinya merokok bersama kekasihnya itu


yang begitu Chacha cintai.


Hingga suatu hari Chacha datangdengan wajah yang


cemberut. Dia terlihat tak bersemangat. Semua sahabatnya mentanyakan apa yang


terjadi tetapi dia malah menatap tajam padaku. Aku tidak tau apa yang terjadi


padanya, hingga Gilang menghubungiku dan mengatakan kalau dia sedang ada


masalah dengan Chacha. Gilangpun mengajakku untuk bertemu sepulang sekolah, dia


bilang ingin membicarakan sesuatu. Tetapi aku segera menolaknya, karena aku tak


ingin ada di antara Chacha dan Gilang.


Tetapi sialnya, saat sepulang


sekolah, aku melihat Gilang berdiri di dekat gerbang sekolah. Aku jadi was was


sendiri, karena Chacha dan Ratu berjalan di belakangku. Aku melihat Serli


tengah menghampiri Kak Daniel yang tengah berdiri bersandar ke mobilnya.


Aku berlari mengejar Serli untuk


menebeng pulang, setidaknya bersama Serli dan Kak Daniel lebih aman. Tetapi


Sayangnya, Gilang melihatku dan lebih dulu menangkap pergelangan tanganku.


“Lita, kamu mau kemana?” tanya Gilang.


“Aku mau pulang, lepaskan!” Aku mencoba melepaskan


genggaman tangan Gilang yang sangat erat mencengkram tanganku. Aku melirik


Chacha dan Ratu yang juga melihat ke arah kami.


Aku semakin di buat tak nyaman, apalagi


tatapan Chacha mengisyaratkan kesedihan juga kebencian.


“Lepaskan aku!” Aku terus memberontak.


“Ikut denganku dulu,” Pakstanya.


“Aku tidak mau!” Sial! Pegangan tangtanya sulit sekali terlepas, dan malah


membuat tanganku sakit.


“Kau punya telinga kan, lepaskan


tangannya!” Aku


terpekik saat seseorang menarik Paksa tangan Gilang dari tanganku.


Saat aku melihat seseorang itu,


ternyata dia Kak Dhika.  Kak Dhika


berdiri di depanku, melindungi tubuhku dari Gilang. Dari mana Kak Dhika datang? Apa dia sedang


menjemput kekasihnya yang bersekolah disini juga? Aku tidak begitu mendengar pembicaraan mereka,


tetapi Gilang berlalu pergi meninggalkan kami.


“Kamu baik-baik saja, kan?” tanya Kak Dhika, membuatku


mengerjapkan matakuberkali-kali, tersadar dari lamunanku.


“Aku baik, Kak. Terima kasih.”


“Lita, lu gak apa-apa?” tanya Serli yang mendekatiku,membuatku


menggelengkan kepalaku.


“Ayo Lita naik ke dalam mobil, biar


aku antarkan sekalian,” ajakKak Daniel membuatku menuruti.


Ternyata Kak Dhika juga menaiki


mobil Kak Daniel dan dia duduk di sampingku di jok belakang.


Ya Tuhan,, rasanya sungguh gugup.


“Tuh cowok benar-benar sarap yah,


padahal udah lu perjelas lewat pesan kalau lu gak mau di ganggu,” ucap Serli.


“Lita terlalu cantik sih,


maktanya banyak yang ngejar,” ucap Kak Dhika mampu membuatku tersentak kaget.


Apa aku salah dengar? Tapi itu


sangat jelas, ya Tuhan, pipiku terasa memanas.


“Gombalan lu mampu buat Lita merona,


Dhik,” ejek Kak Daniel membuatku langsung memegang kedua pipiku memastikan apa benar pipiku


terlihat merah.


Serli, Kak Daniel dan Kak Dhika


tertawa melihat tingkahku, membuatku kesal dan langsung mengembungkan pipiku, kebiasaan kalau sedang kesal.


“Kak Dhika tumben ikut ke mobil


Daniel?” tanya Serli.


“Iya mobil Kakak lagi di service, jadi nebeng deh sampai


café,”


ucap Kak Dhika dan Serlipun menganggukpaham.


“Kak, aku turun diperempatan depan


saja,”


ucapku.


“Lho kenapa?” tanya Kak  Daniel.


“Kan mau ke cafenya Kak Dhika, lagipula jalur ke rumahku


berbeda dengan ke arah cafenya


Kak Dhika.  Jadi biar Kakak tidak


bolak balik, biar Lita turun disini saja,” ucapku karena tidak enak.


“Tidak apa-apa Lita, aku anterin


sampai rumah yah,”


ucap Kak Daniel. “Nggak apa-apa kan, Dhik?” tambah Kak Daniel menatap ke arah Kak


Dhika melalui cermin di depan.


“Iya nggak apa-apa kok, santai saja


Tha,”


ujar Kak Dhika tersenyum.


Astaga senyumannya, membuat aku meleleh. Ya Tuhan


aku bisa mati karena melihatnya terus sedekat ini.


Tak lama, mobil Kak Danielpun


sudah berhenti di depan rumah Tanteku. Aku segera menuruni mobil setelah


mengucapkan terima kasih kepada Kak Daniel, dan mengucapkan selamat tinggal


kepada Kak Dhika dan Serli.


***


Sore itu aku baru saja keluar


dari gramedia, aku celingak celinguk mencari angkutan umum. Hingga sebuah bunga


mawar merah berada tepat di hadapanku, membuatku segera menengok pada seseorang


yang menyodorkan bunga itu dan betapa kagetnya saat melihat Gilang berdiri di


sana dengan senyumannya. Aku baru saja hendak mengeluarkan suaraku,


PLAK


Seseorang menampar pipiku secara


tiba-tiba membuat pipiku terasa ngilu dan panas. Aku segera menengok ke arah


seseorang yang sudah menamparku itu.


“Chacha!” gumamku, karena Chacha sudah


ada di sampingku bersama Serli dan Ratu.


“Jadi ini yang lu lakuin


dibelakang gue?” teriak Chacha membuat orang-orang yang berlalu lalang melihat


ke arah kami. “lu jahat banget yah Tha, lu coba nusuk gue dari belakang !!”


bentak Chacha sambil menangis.”Padahal lu tau kalau gue lagi galau karena


ditinggalin Gilang,,hikz..” Chacha terisak membuatku semakin bingung.


“Lu salah paham Cha, tadi itu gue


nggak tau kalau Gilang nyamperin gue,” ucapku mencoba menjelaskan


padanya.


“Lu jangan kasar gini Cha, Lita ini


sahabat lu,”


ujar Gilang sokbaik.


“Diem kamu Gilang! Kamu jahat sama aku! Dan lu Lita, gue benci sama lu!” teriak Chacha dan berlari pergi


meninggalkan semuanya.


“Cha tunggu!” teriakku hendak mengejar


Chacha, tetapi  si Gilang menahan


lenganku.“Lepasin


tangan gue!” akumenepis tangannya.


“Mau lu apa sih? Lu pengen lihat


gue dan Chacha musuhan?” bentakku kesal.


“Bukan begitu Tha, tapi gue suka


sama lu. Apa gue salah?” tanya Gilang tanpa merasa bersalah, membuat emosiku


naik ke ubun-ubun.


“Kurang ajar banget sih lu jadi


cowok. Nggak pantes lu dapetin temen-temen gue!” bentak Serli.


“Pergi lu dari sini!” bentak Ratu.


“Dengerin aku dulu Lita, aku tidak


bohong. Aku suka sama kamu saat pertama kali kita bertemu,” ujar Gilang membuatku berjalan


mundur menjauhi Gilang.


“Pergi lu!” usirku dengan sengit,


Gilang terlihat ingin kembali berbicara tetapi Ratu langsung mendahuluinya.


“Lu mau pergi atau gue kasih


bogem?” ujar Ratu mengacungkan kepalan tangannya ke depan wajah Gilang dan


akhirnya Gilangpun berlalu pergi.


“Apa yang terjadi Tha? Lu beneran


gak ada hubungan apa-apa kan sama Gilang?” tanya Ratu penuh selidik.


“Ya Allah Ratu, gue berani


bersumpah kalau gue nggak tau apa-apa dan gue nggak ada hubungan apapun sama


Gilang!”


ujarku meyakinkan.


“Ya udahlah guys,nggak usah di


permasalahin lagi. Mending sekarang kita balik saja. Malu diliati orang-orang,” ucap Serli.


“Chacha gimana?” tanyaku merasa


sangat bersalah sampai meluPakan rasa sakit dan ngilu dipipiku. Ini pertama


kalinya aku mendapat tamparan, apalagi dari sahabatku sendiri.


“Mending kita ngomong baik-baik


saja besok dengannya. Biarin dia tenangin diri dulu,” ucap Ratumembuatku mengangguk.


Aku berjalan sendiri menyusuri


jalanan, pikiranku terus melayang memikirkan Chacha. Kesalahpahaman ini malah


semakin parah dan rumit.


“Awasssss!” teriak seseorang menyadarkanku


dari lamunanku. Aku


merasa tubuhku di tarik oleh seseorang. Aku  terjatuh tepat di atas tubuh tegap milik seseorang yang terasa begitu hangat.


Aku mendongakkan kepalaku dan pandanganku langsung


terpaut dengan mata coklat tajam milik seseorang.


“Kak Dhika?”


“Ka-Kakak tidak apa-apa?” tanyaku


gugup karena Kak Dhika hanya menatapku saja tanpa melepas rengkuhan tangannya


dari pinggangku.


“Nggak kok, nggak apa-apa,” ujar Dhika, aku langsung


beranjak saat Kak Dhika melepas rengkuhannya, diikuti Kak  Dhika. Kami sama-sama menepuk tubuh kami karena kotor.


“Tangan Kakak terluka,” ucapku saat melihat tangan


Dhika yang terluka.


“Tidak apa-apa, hanya luka kecil,” ucap Kak Dhika. “Lain kali hati-hati, jangan melamun saat berjalan,”


tambah Kak Dhika.


“Terima kasih karena Kakak sudah menolongku,” ucapku tersenyum.


“Sama-sama Lita, aku kebetulan lagi


di bengkel depan. Mau ambil mobil,” ucapnya.


“Aku obatin luka Kakak yah,” ucapku karena merasa tidak enak.


“Baiklah.” Dia akhirnya setuju dan mengajakku


untuk duduk di kursi tunggu bengkel.


Aku segera mengeluaran kotak  p3k di dalam tasku dan mulai mengobati luka


di siku Kak Dhika..


“Kamu suka bawa p3k kemana-mana?” tanya Kak Dhika.


“Iya,, aku sering membawa ini kemana-mana.


Lagian kan kalau ada kejadian seperti ini jadi sudah siap siaga,” ucapku masih terfokus dengan


aktivitasku membersihkan lukanya Kak Dhika.


“Pintar.” Kak Dhika membelai kepalaku,


membuatku tertegun menatap Kak Dhika.


“Ssshhhtttt...” Kak Dhika meringis, membuatku tersadar dari keterPakuanku dan ternyata


aku menekan kencang luka Kak Dhika.


“Maaf  Kak.” Aku kembali melihat ke arah luka Kak Dhika dan


menyelesaikan pengobatannya.


“Ssstttt...” Aku meringis saat Kak Dhika


memegang sudut bibirku.


“Sudut bibir kamu luka Tha?” tanya


Kak Dhika.


Mungkin karena tadi ditampar


Chacha. Aku tersentak


kaget saat merasakan sesuatu yang menempel dilukaku.


Ternyata Kak Dhika mengobati sudut bibirku dengan telaten.


“Kalau tidak di bersihkan nanti


infeksi dan mengakibatkan sariawan,” jelas Kak Dhika.


Aku menatap wajah Kak Dhika


dengan intens hingga saat selesai membersihkan lukaku, Kak Dhika membalas


tatapanku.


Mata


coklat miliknya membuatku merasa nyaman, dan tatapan tajam itu ternyata begitu


indah saat di pandang dari dekat membuatku sulit untuk berpaling darinya.


“Mobilnya sudah selesai, Pak,” ucap seseorang menyadarkanku


dan Kak Dhika.


“Ah iya,” ucapnya memalingkan


pandangannya ke arah seseorang itu.Seseorang itu menyerahkan kunci mobil ke


Kak  Dhika.


“Ayo aku antar kamu pulang,” ajak Dhika membuatku mengangguk


sambil membereskan semua peralatan p3k.


Didalam mobil, kami berdua hanya terdiam. Tak ada yang berniat membuka


pembicaraan satu sama lain. Aku merasa sangat gugup dan terus menatap keluar


jendela.


“Ehem...”  Kak Dhika berdehem menyadarkanku.“Kamu habis dari mana,Tha?” tanya Dhika sambil


menyetir.


“Aku tadi habis dari gramedia


membeli beberapa buku pelajaran dan novel,” ucapku.


“Kamu suka dengan novel?” tanya


Dhika.


“Iya, aku senang membaca,” ucapku lalu pandanganku


menangkap sebuah buku yang ada di dashbox di hadapanku. “Ini buku ilmu kedokteran?”


“Iya, itu buku pelajaranku,” ujar Dhika.


“Kakak ambil jurusan kedokteran?”


tanyaku pura-pura tak tahu.


“Iya,, kenapa?” tanya Dhika.


“Tidak apa-apa Kak, aku juga tertarik mengambil


bidang study itu,”


ucapku.


“Oh iya? Wah kebetulan sekali dong.


Kamu daftar saja ke Universitas tempat Kakak kuliah,” ujar Dhika terdengar sangat


bersemangat membuatku terkekeh.


“Iya mudah-mudahan Lita berhasil


mendapatkan beasiswanya,” ujarku.


“Beasiswa?” Dhika menatap ke arahku


dan aku jawab dengan anggukan kepala.


“Aku hanya orang dari kalangan


biasa, Kak.


Tante aku hanya seorang pedagang kue jadi uang darimana aku bisa masuk ke


fakultas Kedokteran


kalau bukan mendapatkan beasiswa.” Jelasku apa adanya.


“Orangtua kamu kemana?” tanya Dhika.


“Aku nggak tau Kak, sejak aku lahir


aku tidak pernah bertemu dengan mereka. Kata Tante sih mereka meninggal karena


sebuah kecelakaan.”


“Maaf,” ucapnya.


“Tidak apa-apa Kak.” Aku tersenyum menatap Dhika.


“Berarti kamu sangat pintar dong,” puji Dhika mengalihkan pembicaraan.


“Mungkin,” kekehku. “Aku hanya berusaha semampuku Kak.” Jelasku membuat Dhika tersenyum


menatapku,  jantungku semakin berpacu


dengan cepat karena di tatap olehnya.


“Sudah sampai,” ucap Kak Dhika menyadarkanku,


ternyata kami sudah sampai di depan rumahku.


“Makasih Kak, aku masuk yah.” Aku segera menuruni mobil dan


berjalan masuk ke dalam rumah tanpa ingin menengok lagi ke belakang.


Aku berlari menuju kelasku karena


sudah kesiangan takut Guru pelajaran pertama sudah dimulai. Hingga sampai


dipintu, langkahku terhenti saat mendengar ucapan menyakitkan dari sahabatku.


“Lita tuh diam diam


menghanyutkan. Di depan kita sok alim, sok baik padahal di belakang udah


kayak cewek murahan saja,” ujar Chacha membuatku menutup mulutku tak


percaya, sahabatku sendiri tega mengatakan ini.


“Jaga omongan lu Cha! Lita tuh


sahabat kita, tidak pantas lu ngomong seperti itu tentang dia,” ujar Serli tersulut emosi.


“Kenyataannya memang begitu Ser,


coba saja lu yang ada diposisi gue. Daniel yang digodain sama Lita, apa lu masih mau


membelanya?” tanya Chacha membuat Serli terdiam.


“Udahlah kalian jangan bahas


masalah ini lagi, mending sekarang kita fokus dengan UN,” ujar Ratu menengahi.


Aku hanya bisa


bersandar di dinding dengan tangisanku, tega sekali Chacha menuduhku sebagai


wanita murahan. Padahal sudah sangat jelas kalau aku tidak merebut Gilang


darinya.


UN telah berakhir dan kini aku


tengah duduk ditaman sekolah sambil membaca buku.


“Hai Tha,,” Serli duduk di


sampingku, membuatku menurunkan buku dari hadapanku.“Tha, liburan sekarang kita


pergi ke pantai Sawarna


di Banten


yuk,”


ajak Serli.


“Sama siapa? Kan lu tau liburan


sekarang kita sibuk ngurusin pendaftaran ke Universitas,” ujarku.


“Iya, tapi kan kita liburan 2


minggu Tha. Kita sibuk diminggu kedua kita liburan kan,” ujar Serli. “Daniel nyuruh gue buat ngajakin lu.”


“Kenapa? Lagian itu kan sahabat


dari cowok lu, gue gak begitu mengenal mereka. Lagian gue tidak bisa


meninggalkan Tante Ratih sendiri,” ujarku.


“Ayo lah Tha ikut, kan ada gue dan Kak Dewi.


Lagian juga lu sudah kenal kan sama mereka,” bujuk Serli.


“Gimana entar aja, Ser.”


“Lita..!!” panggil seseorang


membuatku dan Serli menengok.


“Ini,, gue udah nggak butuh ini!” Chacha melemparkan gelang


persahabatan kami ke hadapanku. “Gue gak mau lagi temenan sama lu yang suka nusuk dari


belakang. Gue gak suka temenan sama cewek murahan kayak lu!” ujar Chacha sinis membuatku dan


Serli berdiri karena syok.


“Jaga ucapan lu, Cha. Tega banget lu ngomong gitu


tentang Lita!”


bentak Serli.


“Apa salah gue, Cha? Kenapa lu ngehina gue kayak


gini? Gue udah jelasin kan semuanya dan gue juga udah minta maaf sama lu


masalah Gilang,”


ucapku.


“Apa salah lu? Lu masih belum


nyadar salah lu itu apa, hah?” bentak Chacha membuatku mengernyitkan dahiku


bingung.


“Lu tega sama gue, Lita! Gue mencintai Gilang tapi kenapa


lu lakuin ini?” jerit Chacha.


“Gue berani bersumpah, gue gak


ngelakuin apapun. Gue nggak ada hubungan apa-apa sama Gilang dan gue


juga gak merebut dia dari lu!”


“Kalau lu tidak menggodanya, tidak


mungkin dia terus deketin lu. Kenapa lu lakuin ini sama gue?” bentaknya.


“CUKUP !!!!” teriak Serli


tersulut emosi. “Kalian jangan bertengkar hanya karena satu cowok


brengsek!”


“Dia tidak brengsek Serli. Tapi


Litalah yang brengsek karena merebut kekasih sahabatnya sendiri!” ucap Chacha dingin, membuat


hatiku tertusuk jarum yang sangat tajam, apa sehina itu aku di mata sahabatku.


“Apa masih pantes lu disebut


sahabat, hah? Lu nusuk gue dari belakang!” ucap Chacha seraya menunjuk ke


depan wajahku.


“Cukup Cha, lu jangan keterlaluan


nuduh Lita kayak gitu. Lita sudah bersumpah kalau dia tidak


mendekati kekasih lu,” ucap Ratu membelaku.


“Terus saja kalian berdua belain wanita sialan ini, suatu saat


nanti kalian akan sadar sendiri saat cowok kalian digoda olehnya!” ucap Chacha seraya menunjuk


wajahku.


“Dengarkan baik-baik Lita, mulai


sekarang gue sudah bukan sahabat lu lagi. Gue ogah berteman dengan cewek


munafik dan suka nusuk dari belakang kayak lu!” ucap Chacha sengit dan berlalu


pergi meninggalkanku, Serli dan Ratu.


“Astagfirulloh,, kenapa jadi kayak


gini sih.” Aku


terduduk di kursi dengan tangisku karena jujur saja hatiku begitu sakit


mendapat hinaan seperti itu dari bibir sahabatku sendiri.