
Setelah kejadian itu, aku mulai
akrab dengan yang Brotherhood kecuali Kak Dhika dan Kak Elza. Dan masalahpun
mulai bermunculan, Gilang kekasih Chacha sering menghubungiku dengan
mentanyakan beberapa hal yang tak penting membuatku merasa tak nyaman. Dan Chacha
semakin menjadi, bahkan aku pernah memergokinya merokok bersama kekasihnya itu
yang begitu Chacha cintai.
Hingga suatu hari Chacha datangdengan wajah yang
cemberut. Dia terlihat tak bersemangat. Semua sahabatnya mentanyakan apa yang
terjadi tetapi dia malah menatap tajam padaku. Aku tidak tau apa yang terjadi
padanya, hingga Gilang menghubungiku dan mengatakan kalau dia sedang ada
masalah dengan Chacha. Gilangpun mengajakku untuk bertemu sepulang sekolah, dia
bilang ingin membicarakan sesuatu. Tetapi aku segera menolaknya, karena aku tak
ingin ada di antara Chacha dan Gilang.
Tetapi sialnya, saat sepulang
sekolah, aku melihat Gilang berdiri di dekat gerbang sekolah. Aku jadi was was
sendiri, karena Chacha dan Ratu berjalan di belakangku. Aku melihat Serli
tengah menghampiri Kak Daniel yang tengah berdiri bersandar ke mobilnya.
Aku berlari mengejar Serli untuk
menebeng pulang, setidaknya bersama Serli dan Kak Daniel lebih aman. Tetapi
Sayangnya, Gilang melihatku dan lebih dulu menangkap pergelangan tanganku.
“Lita, kamu mau kemana?” tanya Gilang.
“Aku mau pulang, lepaskan!” Aku mencoba melepaskan
genggaman tangan Gilang yang sangat erat mencengkram tanganku. Aku melirik
Chacha dan Ratu yang juga melihat ke arah kami.
Aku semakin di buat tak nyaman, apalagi
tatapan Chacha mengisyaratkan kesedihan juga kebencian.
“Lepaskan aku!” Aku terus memberontak.
“Ikut denganku dulu,” Pakstanya.
“Aku tidak mau!” Sial! Pegangan tangtanya sulit sekali terlepas, dan malah
membuat tanganku sakit.
“Kau punya telinga kan, lepaskan
tangannya!” Aku
terpekik saat seseorang menarik Paksa tangan Gilang dari tanganku.
Saat aku melihat seseorang itu,
ternyata dia Kak Dhika. Kak Dhika
berdiri di depanku, melindungi tubuhku dari Gilang. Dari mana Kak Dhika datang? Apa dia sedang
menjemput kekasihnya yang bersekolah disini juga? Aku tidak begitu mendengar pembicaraan mereka,
tetapi Gilang berlalu pergi meninggalkan kami.
“Kamu baik-baik saja, kan?” tanya Kak Dhika, membuatku
mengerjapkan matakuberkali-kali, tersadar dari lamunanku.
“Aku baik, Kak. Terima kasih.”
“Lita, lu gak apa-apa?” tanya Serli yang mendekatiku,membuatku
menggelengkan kepalaku.
“Ayo Lita naik ke dalam mobil, biar
aku antarkan sekalian,” ajakKak Daniel membuatku menuruti.
Ternyata Kak Dhika juga menaiki
mobil Kak Daniel dan dia duduk di sampingku di jok belakang.
Ya Tuhan,, rasanya sungguh gugup.
“Tuh cowok benar-benar sarap yah,
padahal udah lu perjelas lewat pesan kalau lu gak mau di ganggu,” ucap Serli.
“Lita terlalu cantik sih,
maktanya banyak yang ngejar,” ucap Kak Dhika mampu membuatku tersentak kaget.
Apa aku salah dengar? Tapi itu
sangat jelas, ya Tuhan, pipiku terasa memanas.
“Gombalan lu mampu buat Lita merona,
Dhik,” ejek Kak Daniel membuatku langsung memegang kedua pipiku memastikan apa benar pipiku
terlihat merah.
Serli, Kak Daniel dan Kak Dhika
tertawa melihat tingkahku, membuatku kesal dan langsung mengembungkan pipiku, kebiasaan kalau sedang kesal.
“Kak Dhika tumben ikut ke mobil
Daniel?” tanya Serli.
“Iya mobil Kakak lagi di service, jadi nebeng deh sampai
café,”
ucap Kak Dhika dan Serlipun menganggukpaham.
“Kak, aku turun diperempatan depan
saja,”
ucapku.
“Lho kenapa?” tanya Kak Daniel.
“Kan mau ke cafenya Kak Dhika, lagipula jalur ke rumahku
berbeda dengan ke arah cafenya
Kak Dhika. Jadi biar Kakak tidak
bolak balik, biar Lita turun disini saja,” ucapku karena tidak enak.
“Tidak apa-apa Lita, aku anterin
sampai rumah yah,”
ucap Kak Daniel. “Nggak apa-apa kan, Dhik?” tambah Kak Daniel menatap ke arah Kak
Dhika melalui cermin di depan.
“Iya nggak apa-apa kok, santai saja
Tha,”
ujar Kak Dhika tersenyum.
Astaga senyumannya, membuat aku meleleh. Ya Tuhan
aku bisa mati karena melihatnya terus sedekat ini.
Tak lama, mobil Kak Danielpun
sudah berhenti di depan rumah Tanteku. Aku segera menuruni mobil setelah
mengucapkan terima kasih kepada Kak Daniel, dan mengucapkan selamat tinggal
kepada Kak Dhika dan Serli.
***
Sore itu aku baru saja keluar
dari gramedia, aku celingak celinguk mencari angkutan umum. Hingga sebuah bunga
mawar merah berada tepat di hadapanku, membuatku segera menengok pada seseorang
yang menyodorkan bunga itu dan betapa kagetnya saat melihat Gilang berdiri di
sana dengan senyumannya. Aku baru saja hendak mengeluarkan suaraku,
PLAK
Seseorang menampar pipiku secara
tiba-tiba membuat pipiku terasa ngilu dan panas. Aku segera menengok ke arah
seseorang yang sudah menamparku itu.
“Chacha!” gumamku, karena Chacha sudah
ada di sampingku bersama Serli dan Ratu.
“Jadi ini yang lu lakuin
dibelakang gue?” teriak Chacha membuat orang-orang yang berlalu lalang melihat
ke arah kami. “lu jahat banget yah Tha, lu coba nusuk gue dari belakang !!”
bentak Chacha sambil menangis.”Padahal lu tau kalau gue lagi galau karena
ditinggalin Gilang,,hikz..” Chacha terisak membuatku semakin bingung.
“Lu salah paham Cha, tadi itu gue
nggak tau kalau Gilang nyamperin gue,” ucapku mencoba menjelaskan
padanya.
“Lu jangan kasar gini Cha, Lita ini
sahabat lu,”
ujar Gilang sokbaik.
“Diem kamu Gilang! Kamu jahat sama aku! Dan lu Lita, gue benci sama lu!” teriak Chacha dan berlari pergi
meninggalkan semuanya.
“Cha tunggu!” teriakku hendak mengejar
Chacha, tetapi si Gilang menahan
lenganku.“Lepasin
tangan gue!” akumenepis tangannya.
“Mau lu apa sih? Lu pengen lihat
gue dan Chacha musuhan?” bentakku kesal.
“Bukan begitu Tha, tapi gue suka
sama lu. Apa gue salah?” tanya Gilang tanpa merasa bersalah, membuat emosiku
naik ke ubun-ubun.
“Kurang ajar banget sih lu jadi
cowok. Nggak pantes lu dapetin temen-temen gue!” bentak Serli.
“Pergi lu dari sini!” bentak Ratu.
“Dengerin aku dulu Lita, aku tidak
bohong. Aku suka sama kamu saat pertama kali kita bertemu,” ujar Gilang membuatku berjalan
mundur menjauhi Gilang.
“Pergi lu!” usirku dengan sengit,
Gilang terlihat ingin kembali berbicara tetapi Ratu langsung mendahuluinya.
“Lu mau pergi atau gue kasih
bogem?” ujar Ratu mengacungkan kepalan tangannya ke depan wajah Gilang dan
akhirnya Gilangpun berlalu pergi.
“Apa yang terjadi Tha? Lu beneran
gak ada hubungan apa-apa kan sama Gilang?” tanya Ratu penuh selidik.
“Ya Allah Ratu, gue berani
bersumpah kalau gue nggak tau apa-apa dan gue nggak ada hubungan apapun sama
Gilang!”
ujarku meyakinkan.
“Ya udahlah guys,nggak usah di
permasalahin lagi. Mending sekarang kita balik saja. Malu diliati orang-orang,” ucap Serli.
“Chacha gimana?” tanyaku merasa
sangat bersalah sampai meluPakan rasa sakit dan ngilu dipipiku. Ini pertama
kalinya aku mendapat tamparan, apalagi dari sahabatku sendiri.
“Mending kita ngomong baik-baik
saja besok dengannya. Biarin dia tenangin diri dulu,” ucap Ratumembuatku mengangguk.
Aku berjalan sendiri menyusuri
jalanan, pikiranku terus melayang memikirkan Chacha. Kesalahpahaman ini malah
semakin parah dan rumit.
“Awasssss!” teriak seseorang menyadarkanku
dari lamunanku. Aku
merasa tubuhku di tarik oleh seseorang. Aku terjatuh tepat di atas tubuh tegap milik seseorang yang terasa begitu hangat.
Aku mendongakkan kepalaku dan pandanganku langsung
terpaut dengan mata coklat tajam milik seseorang.
“Kak Dhika?”
“Ka-Kakak tidak apa-apa?” tanyaku
gugup karena Kak Dhika hanya menatapku saja tanpa melepas rengkuhan tangannya
dari pinggangku.
“Nggak kok, nggak apa-apa,” ujar Dhika, aku langsung
beranjak saat Kak Dhika melepas rengkuhannya, diikuti Kak Dhika. Kami sama-sama menepuk tubuh kami karena kotor.
“Tangan Kakak terluka,” ucapku saat melihat tangan
Dhika yang terluka.
“Tidak apa-apa, hanya luka kecil,” ucap Kak Dhika. “Lain kali hati-hati, jangan melamun saat berjalan,”
tambah Kak Dhika.
“Terima kasih karena Kakak sudah menolongku,” ucapku tersenyum.
“Sama-sama Lita, aku kebetulan lagi
di bengkel depan. Mau ambil mobil,” ucapnya.
“Aku obatin luka Kakak yah,” ucapku karena merasa tidak enak.
“Baiklah.” Dia akhirnya setuju dan mengajakku
untuk duduk di kursi tunggu bengkel.
Aku segera mengeluaran kotak p3k di dalam tasku dan mulai mengobati luka
di siku Kak Dhika..
“Kamu suka bawa p3k kemana-mana?” tanya Kak Dhika.
“Iya,, aku sering membawa ini kemana-mana.
Lagian kan kalau ada kejadian seperti ini jadi sudah siap siaga,” ucapku masih terfokus dengan
aktivitasku membersihkan lukanya Kak Dhika.
“Pintar.” Kak Dhika membelai kepalaku,
membuatku tertegun menatap Kak Dhika.
“Ssshhhtttt...” Kak Dhika meringis, membuatku tersadar dari keterPakuanku dan ternyata
aku menekan kencang luka Kak Dhika.
“Maaf Kak.” Aku kembali melihat ke arah luka Kak Dhika dan
menyelesaikan pengobatannya.
“Ssstttt...” Aku meringis saat Kak Dhika
memegang sudut bibirku.
“Sudut bibir kamu luka Tha?” tanya
Kak Dhika.
Mungkin karena tadi ditampar
Chacha. Aku tersentak
kaget saat merasakan sesuatu yang menempel dilukaku.
Ternyata Kak Dhika mengobati sudut bibirku dengan telaten.
“Kalau tidak di bersihkan nanti
infeksi dan mengakibatkan sariawan,” jelas Kak Dhika.
Aku menatap wajah Kak Dhika
dengan intens hingga saat selesai membersihkan lukaku, Kak Dhika membalas
tatapanku.
Mata
coklat miliknya membuatku merasa nyaman, dan tatapan tajam itu ternyata begitu
indah saat di pandang dari dekat membuatku sulit untuk berpaling darinya.
“Mobilnya sudah selesai, Pak,” ucap seseorang menyadarkanku
dan Kak Dhika.
“Ah iya,” ucapnya memalingkan
pandangannya ke arah seseorang itu.Seseorang itu menyerahkan kunci mobil ke
Kak Dhika.
“Ayo aku antar kamu pulang,” ajak Dhika membuatku mengangguk
sambil membereskan semua peralatan p3k.
Didalam mobil, kami berdua hanya terdiam. Tak ada yang berniat membuka
pembicaraan satu sama lain. Aku merasa sangat gugup dan terus menatap keluar
jendela.
“Ehem...” Kak Dhika berdehem menyadarkanku.“Kamu habis dari mana,Tha?” tanya Dhika sambil
menyetir.
“Aku tadi habis dari gramedia
membeli beberapa buku pelajaran dan novel,” ucapku.
“Kamu suka dengan novel?” tanya
Dhika.
“Iya, aku senang membaca,” ucapku lalu pandanganku
menangkap sebuah buku yang ada di dashbox di hadapanku. “Ini buku ilmu kedokteran?”
“Iya, itu buku pelajaranku,” ujar Dhika.
“Kakak ambil jurusan kedokteran?”
tanyaku pura-pura tak tahu.
“Iya,, kenapa?” tanya Dhika.
“Tidak apa-apa Kak, aku juga tertarik mengambil
bidang study itu,”
ucapku.
“Oh iya? Wah kebetulan sekali dong.
Kamu daftar saja ke Universitas tempat Kakak kuliah,” ujar Dhika terdengar sangat
bersemangat membuatku terkekeh.
“Iya mudah-mudahan Lita berhasil
mendapatkan beasiswanya,” ujarku.
“Beasiswa?” Dhika menatap ke arahku
dan aku jawab dengan anggukan kepala.
“Aku hanya orang dari kalangan
biasa, Kak.
Tante aku hanya seorang pedagang kue jadi uang darimana aku bisa masuk ke
fakultas Kedokteran
kalau bukan mendapatkan beasiswa.” Jelasku apa adanya.
“Orangtua kamu kemana?” tanya Dhika.
“Aku nggak tau Kak, sejak aku lahir
aku tidak pernah bertemu dengan mereka. Kata Tante sih mereka meninggal karena
sebuah kecelakaan.”
“Maaf,” ucapnya.
“Tidak apa-apa Kak.” Aku tersenyum menatap Dhika.
“Berarti kamu sangat pintar dong,” puji Dhika mengalihkan pembicaraan.
“Mungkin,” kekehku. “Aku hanya berusaha semampuku Kak.” Jelasku membuat Dhika tersenyum
menatapku, jantungku semakin berpacu
dengan cepat karena di tatap olehnya.
“Sudah sampai,” ucap Kak Dhika menyadarkanku,
ternyata kami sudah sampai di depan rumahku.
“Makasih Kak, aku masuk yah.” Aku segera menuruni mobil dan
berjalan masuk ke dalam rumah tanpa ingin menengok lagi ke belakang.
Aku berlari menuju kelasku karena
sudah kesiangan takut Guru pelajaran pertama sudah dimulai. Hingga sampai
dipintu, langkahku terhenti saat mendengar ucapan menyakitkan dari sahabatku.
“Lita tuh diam diam
menghanyutkan. Di depan kita sok alim, sok baik padahal di belakang udah
kayak cewek murahan saja,” ujar Chacha membuatku menutup mulutku tak
percaya, sahabatku sendiri tega mengatakan ini.
“Jaga omongan lu Cha! Lita tuh
sahabat kita, tidak pantas lu ngomong seperti itu tentang dia,” ujar Serli tersulut emosi.
“Kenyataannya memang begitu Ser,
coba saja lu yang ada diposisi gue. Daniel yang digodain sama Lita, apa lu masih mau
membelanya?” tanya Chacha membuat Serli terdiam.
“Udahlah kalian jangan bahas
masalah ini lagi, mending sekarang kita fokus dengan UN,” ujar Ratu menengahi.
Aku hanya bisa
bersandar di dinding dengan tangisanku, tega sekali Chacha menuduhku sebagai
wanita murahan. Padahal sudah sangat jelas kalau aku tidak merebut Gilang
darinya.
UN telah berakhir dan kini aku
tengah duduk ditaman sekolah sambil membaca buku.
“Hai Tha,,” Serli duduk di
sampingku, membuatku menurunkan buku dari hadapanku.“Tha, liburan sekarang kita
pergi ke pantai Sawarna
di Banten
yuk,”
ajak Serli.
“Sama siapa? Kan lu tau liburan
sekarang kita sibuk ngurusin pendaftaran ke Universitas,” ujarku.
“Iya, tapi kan kita liburan 2
minggu Tha. Kita sibuk diminggu kedua kita liburan kan,” ujar Serli. “Daniel nyuruh gue buat ngajakin lu.”
“Kenapa? Lagian itu kan sahabat
dari cowok lu, gue gak begitu mengenal mereka. Lagian gue tidak bisa
meninggalkan Tante Ratih sendiri,” ujarku.
“Ayo lah Tha ikut, kan ada gue dan Kak Dewi.
Lagian juga lu sudah kenal kan sama mereka,” bujuk Serli.
“Gimana entar aja, Ser.”
“Lita..!!” panggil seseorang
membuatku dan Serli menengok.
“Ini,, gue udah nggak butuh ini!” Chacha melemparkan gelang
persahabatan kami ke hadapanku. “Gue gak mau lagi temenan sama lu yang suka nusuk dari
belakang. Gue gak suka temenan sama cewek murahan kayak lu!” ujar Chacha sinis membuatku dan
Serli berdiri karena syok.
“Jaga ucapan lu, Cha. Tega banget lu ngomong gitu
tentang Lita!”
bentak Serli.
“Apa salah gue, Cha? Kenapa lu ngehina gue kayak
gini? Gue udah jelasin kan semuanya dan gue juga udah minta maaf sama lu
masalah Gilang,”
ucapku.
“Apa salah lu? Lu masih belum
nyadar salah lu itu apa, hah?” bentak Chacha membuatku mengernyitkan dahiku
bingung.
“Lu tega sama gue, Lita! Gue mencintai Gilang tapi kenapa
lu lakuin ini?” jerit Chacha.
“Gue berani bersumpah, gue gak
ngelakuin apapun. Gue nggak ada hubungan apa-apa sama Gilang dan gue
juga gak merebut dia dari lu!”
“Kalau lu tidak menggodanya, tidak
mungkin dia terus deketin lu. Kenapa lu lakuin ini sama gue?” bentaknya.
“CUKUP !!!!” teriak Serli
tersulut emosi. “Kalian jangan bertengkar hanya karena satu cowok
brengsek!”
“Dia tidak brengsek Serli. Tapi
Litalah yang brengsek karena merebut kekasih sahabatnya sendiri!” ucap Chacha dingin, membuat
hatiku tertusuk jarum yang sangat tajam, apa sehina itu aku di mata sahabatku.
“Apa masih pantes lu disebut
sahabat, hah? Lu nusuk gue dari belakang!” ucap Chacha seraya menunjuk ke
depan wajahku.
“Cukup Cha, lu jangan keterlaluan
nuduh Lita kayak gitu. Lita sudah bersumpah kalau dia tidak
mendekati kekasih lu,” ucap Ratu membelaku.
“Terus saja kalian berdua belain wanita sialan ini, suatu saat
nanti kalian akan sadar sendiri saat cowok kalian digoda olehnya!” ucap Chacha seraya menunjuk
wajahku.
“Dengarkan baik-baik Lita, mulai
sekarang gue sudah bukan sahabat lu lagi. Gue ogah berteman dengan cewek
munafik dan suka nusuk dari belakang kayak lu!” ucap Chacha sengit dan berlalu
pergi meninggalkanku, Serli dan Ratu.
“Astagfirulloh,, kenapa jadi kayak
gini sih.” Aku
terduduk di kursi dengan tangisku karena jujur saja hatiku begitu sakit
mendapat hinaan seperti itu dari bibir sahabatku sendiri.