
Setelah
operasi selesai, Dhika keluar ruang operasi sambil melepas sarung tangannya dan
membuka masker yang menutupi hidung dan mulutnya. Pintu bergeSer otOmatis saat
Dhika keluar. Diluar para wali pasien sudah menunggu, Dhika mengabari mereka
kalau operasinya berjalan dengan lancar.
Setelah
berganti pakaiannya kembali, Dhika kembali keruangannya dan duduk dikursi
kebesarannya. Ia bersandar
ke kepala kursi seraya memikit pangkal hidungnya.
Ia menatap nyalang ke depan, hingga tatapannya tertuju pada laci meja di
depannya. Tangannya terulur menarik pegangan laci dan menariknya hingga apa
yang ada di dalam laci kini terlihat dengan jelas. Di dalam sana terdapat
sebuah USB, Dhika mengambilnya dan mesukan USB itu ke dalam laptopnya. Terdapat
sebuah file di dalamnya, tangan Dhika mengarahkan mouse dan mengklik file video
itu.
Video
berdurasi 3 menit itu menampilkan sosok wanita cantik tengah mengatakan sesuatu
dengan sendu. Tangan Dhikaterulur mengelus wajah pucat
didalam layar laptop itu.
"Sudah 10 tahun
berlalu, tapi kamu tidak pernah dating," gumam Dhika menatap wajah
gadis di dalam video dengan sendu.
Ketukan pintu
menyadarkan Dhika, Dhika segera mengklik close program video itu.
"Masuk," ucap
Dhika memperbaiki duduknya. Dan tak lama seorang wanita cantik dengan rambut
pirang dan mata birunya masuk kedalam ruangan Dhika.
"Apa kamu
sedang sibuk?" tanya wanita itu yang tak lain adalah Claudya.
"Tidak, ada
apa?" tanya Dhika.
"Aku ingin
mengajak kamu makan siang," ucap Claudya. ClaudyameruPakan
teman satu kampus Dhika saat kuliah di London.
"Kamu makan
siang duluan saja, aku belum lapar."
"Ayolah Dhik,
kita cari tempat makan yang paling enak. Mumpung jadwal operasi kita kosong
hari ini, jadi kita bisa keluar untuk mencari makan sekalian mencari
angin," ujar Claudya dengan manja berusaha membujuk Dhika.
"Baiklah."
Dhika
mematikan laptopnya dan melepas jas putihnya. Ia hanya
mengambil kunci mobil dan handphonenya saja kemudian berjalan berdampingan
dengan Claudya. Semua karyawan dirumah sakit sudah tidak heran lagi melihat
kedekatan Claudya dan Dhika, karena memang mereka berdua satu
tim dan satu profesi meskipun Claudya mengartikannya lain.
Kini keduanya telah duduk berhadapan di sebuah restaurant western yang berada tak jauh dari rumah
sakit. Dia menikmati makan siangnya dalam diam, tanpa sadar kalau Claudya terus
meliriknya. jelas sekali
tatapan penuh cinta dan berharap dari Claudya, tetapi berbeda dengan Dhika yang
seakan tatapannya itu kosong tanpa jiwa.
Claudya
memang sudah hapal sekali Dhika seperti apa, dia seperti seorang malaikat yang
sangat baik. Bahkan saat kuliah di Londonpun, dia tidak pernah mendatangi club sama sekali. Meski
agama mereka berbeda, karena Claudya adalah seorang kristiani, tetapi Claudya tau kalau Dhika sangat rajin
dalam ibadahnya. Dia sosok yang sangat sempurna dimata Claudya. Tetapi Sayang Claudya tidak pernah
bisa menggapai hati lelaki pujaannya ini. Claudya sampai harus meninggalkan Negara kelahirannya
yaitu Spanyol hanya untuk selalu berada dekat dengan Dhika. Claudya
hanya bisa meringis kala mengingat Dhika yang tidak
pernah menatapnya sama sekali. Padahal dari awal pertemuan mereka, Claudyasudah
menaruh hati padanya.
Setelah
menikmati makan siang bersama, merekapun kembali kerumah sakit. Dan mulai
kembali sibuk dengan pekerjaan mereka.
Mobil sport Mclaren putih milik Dhika memasuki
sebuah perumahan elit dan mewah, tak lama mobilnya memasuki gerbang sebuah
rumah mewah dengan desain klasik eropa unik modern. Dipojok kanan banyak mobil
berjejer rapi. Dhika memarkirkan mobilnya disela tempat yang kosong di samping
mobil Ferrari Merah miliknya. Iaberjalan menuju pintu masuk rumah itu, dan menuju ke kamarnya.
Terlihat sepasang sosok manusia
yang tengah bersantai di depan televisi di ruang keluarga sambil menikmati
Adinata dan tuan Surya Adinata. Terlihat tangan Surya merangkul pundak istrinya dengan penuh kehangatan.Kedua orangtua Dhika memang selalu menunjukkan
kemesraan mereka dihadapan putra semata wayangnya itu. Bahkan
dihadapan semua orang, meski umur mereka sudah melewati setengah abad tetapi
cinta mereka tidak pernah berubah. Cinta memang tak lekang oleh waktu.
Dirumahnya, Dhika hanya
tinggal bertiga bersama kedua orangtutanya. Papi Dhika adalah
direktur utama bahkan pemilik AMI Hospital yang saat ini sudah sangat berjaya
dan terkenal di Negara IndoNesia. FasiLitasnya yang sudah sangat maju dan lengkap,
bahkan hampir menyamai rumah sakit yang terkenal di Negara lain.
Tetapi karena saat ini Surya sudah mengambil pensiun, keadaannya yang sudah memasuki lansia menyulitkannya untuk terus bekerja. Beliau adalah seorang Dokter
spesialis penyakit jantung. AMI Hospital kini diambil alih oleh paman Dhika, yang
meruPakan adik kandung Papinya. Dhika belum mau mengambil jabatan direktur
utama di rumah sakit milik keluargtanya itu. Dhika merasa belum pantas dan
belum saatnya menduduki jabatan tinggi itu.
"Sore Mom, Pap," sapa
Dhika seraya mencium tangan kedua orangtutanya.
"Kamu sudah
pulang?" tanya Surya.
"Ya Pap, tidak ada
lagi jadwal operasi," jawab Dhika hendak beranjak.
"Dhika tunggu,"
panggil Elga membuat Dhika menghentikan langkahnya yang hendak menuju kamarnya, kemudian
menoleh ke arah Elga.
"Ya Mom,,,"
jawab Dhika.
"Weekend ini
kamu sibuk tidak?" tanya Elga.
"Aku gak tau,
tapi rencantanya aku mau ke Bandung. Mengunjungi café dan bertemu
dengan teman-teman Brotherhood. Sudah lama aku tidak bertemu dengan mereka. Apalagi aku dengar Dewi baru saja
melahirkan anak keduanya," jelas Dhika.
"Yahh....
padahal mau ada temen Mommy sama anaknya datang kerumah untuk bertemu kamu," ujar Elga sedikit
kecewa.
"Jangan mulai
lagi, Mom." Dhika tau apa maksud Mommy-nya itu, karena sudah
berkali-kali Dhika dikenalkan dengan beberapa perempuan muda dan cantik, tapi
tidak ada yang mampu menggetarkan hati Dhika.
"Dhika,
mau sampai kapan kamu seperti ini?" ucap Elga berdiri dan menghampiri
anaknya yang berdiri tak jauh darinya. "Umur kamu
sebentar lagi sudah mau 32tahun, sudah seharusnya kamu menikah, Nak. Mommy
ingin segera menimang cucu!" ujar Elga, selalu seperti ini setiap kali membahas wanita.
"Mom, Dhika udah
berkali-kali bilang, kan. Kalau Dhika hanya akan menikah dengan Lita, hanya Lita, Mom! Dan
tidak akan ada wanita lain lagi." jelas Dhika dengan masih menjaga intonasi
suartanya.
"Tapi Lita
sudah pergi 10 tahun yang lalu, dia sudah meninggal, Dhika. Kamu harus
menyadari itu." ujar Elga.
"Mom, jangan
membuat Dhika melawan Mommy. Aku yakin Lita masih hidup dan akan segera kembali ke sampingku lagi. Mommy tau
kan kalau Dhika tidak akan pernah menikah dengan wanita manapun. Ma-na-pun Mom!"
"Tapi sudah 10
tahun berlalu Dhika, dia tidak pernah datang lagi. Sudah Nak, ikhlaskan dia.
Dan mulai lah menata kembali kehidupan kamu, bahkan semua sahabat Brotherhood sudah pada menikah dan sudah mempunyai anak. Dewi saja sudah melahirkan anak
keduanya.” Elga
berusaha membujuk putrtanya yang keras kepala itu. “Mami ingin melihat kamu menikah dan Mami bisa menggendong cucu, sebelum kami
pergi. Umur Mom dan Pap sudah sangat tua, Dhika!"
Dhika terlihat menghela nafasnya.
"Keputusan
Dhika sudah bulat, Dhika tidak akan menikahi wanita
manapun. Hanya Thalita yang akan Dhika nikahi. Kalau dia tidak pernah kembali, maka Dhikapun tidak
akan pernah menikah. Dhika akan menghabiskan waktu Dhika dengan
mengabdi di rumah sakit" setelah mengucapkan itu, Dhikaberlalu
pergi memasuki kamarnya, meninggalkan Elga yang masih terus memanggilnya.
Di dalam
kamar, Dhika masih berdiri dibalik pintu. Tatapannya kosong menerawang ke
depan, tak berbeda jauh dengan hatinya yang kosong dan hampa. "sampai
kapan aku harus menunggu kamu" gumam Dhika menghela nafasnya berat.
***