My Ceo

My Ceo
Episode 45



Setelah


operasi selesai, Dhika keluar ruang operasi sambil melepas sarung tangannya dan


membuka masker yang menutupi hidung dan mulutnya. Pintu bergeSer otOmatis saat


Dhika keluar. Diluar para wali pasien sudah menunggu, Dhika mengabari mereka


kalau operasinya berjalan dengan lancar.


Setelah


berganti pakaiannya kembali, Dhika kembali keruangannya dan duduk dikursi


kebesarannya. Ia bersandar


ke kepala kursi seraya memikit pangkal hidungnya.


Ia menatap nyalang ke depan, hingga tatapannya tertuju pada laci meja di


depannya. Tangannya terulur menarik pegangan laci dan menariknya hingga apa


yang ada di dalam laci kini terlihat dengan jelas. Di dalam sana terdapat


sebuah USB, Dhika mengambilnya dan mesukan USB itu ke dalam laptopnya. Terdapat


sebuah file di dalamnya, tangan Dhika mengarahkan mouse dan mengklik file video


itu.


Video


berdurasi 3 menit itu menampilkan sosok wanita cantik tengah mengatakan sesuatu


dengan sendu. Tangan Dhikaterulur mengelus wajah pucat


didalam layar laptop itu.


"Sudah 10 tahun


berlalu, tapi kamu tidak pernah dating," gumam Dhika menatap wajah


gadis di dalam video dengan sendu.


Ketukan pintu


menyadarkan Dhika, Dhika segera mengklik close program video itu.


"Masuk," ucap


Dhika memperbaiki duduknya. Dan tak lama seorang wanita cantik dengan rambut


pirang dan mata birunya masuk kedalam ruangan Dhika.


"Apa kamu


sedang sibuk?" tanya wanita itu yang tak lain adalah Claudya.


"Tidak, ada


apa?" tanya Dhika.


"Aku ingin


mengajak kamu makan siang," ucap Claudya.  ClaudyameruPakan


teman satu kampus Dhika saat kuliah di London.


"Kamu makan


siang duluan saja, aku belum lapar."


"Ayolah Dhik,


kita cari tempat makan yang paling enak. Mumpung jadwal operasi kita kosong


hari ini, jadi kita bisa keluar untuk mencari makan sekalian mencari


angin," ujar Claudya dengan manja berusaha membujuk Dhika.


"Baiklah."


Dhika


mematikan laptopnya dan melepas jas putihnya. Ia hanya


mengambil kunci mobil dan handphonenya saja kemudian berjalan berdampingan


dengan Claudya. Semua karyawan dirumah sakit sudah tidak heran lagi melihat


kedekatan Claudya dan Dhika, karena memang mereka berdua satu


tim dan satu profesi meskipun Claudya mengartikannya lain.


Kini keduanya telah duduk berhadapan di sebuah restaurant western yang berada tak jauh dari rumah


sakit. Dia menikmati makan siangnya dalam diam, tanpa sadar kalau Claudya terus


meliriknya. jelas sekali


tatapan penuh cinta dan berharap dari Claudya, tetapi berbeda dengan Dhika yang


seakan tatapannya itu kosong tanpa jiwa.


Claudya


memang sudah hapal sekali Dhika seperti apa, dia seperti seorang malaikat yang


sangat baik. Bahkan saat kuliah di Londonpun, dia tidak pernah mendatangi club sama sekali. Meski


agama mereka berbeda, karena Claudya adalah seorang kristiani, tetapi Claudya tau kalau Dhika sangat rajin


dalam ibadahnya. Dia sosok yang sangat sempurna dimata Claudya. Tetapi Sayang Claudya tidak pernah


bisa menggapai hati lelaki pujaannya ini. Claudya sampai harus meninggalkan Negara kelahirannya


yaitu Spanyol hanya untuk selalu berada dekat dengan Dhika. Claudya


hanya bisa meringis kala mengingat Dhika yang tidak


pernah menatapnya sama sekali. Padahal dari awal pertemuan mereka, Claudyasudah


menaruh hati padanya.


Setelah


menikmati makan siang bersama, merekapun kembali kerumah sakit. Dan mulai


kembali sibuk dengan pekerjaan mereka.


Mobil sport Mclaren putih milik Dhika memasuki


sebuah perumahan elit dan mewah, tak lama mobilnya memasuki gerbang sebuah


rumah mewah dengan desain klasik eropa unik modern. Dipojok kanan banyak mobil


berjejer rapi. Dhika memarkirkan mobilnya disela tempat yang kosong di samping


mobil Ferrari Merah miliknya. Iaberjalan menuju pintu masuk rumah itu, dan menuju ke kamarnya.


Terlihat sepasang sosok manusia


yang tengah bersantai di depan televisi di ruang keluarga sambil menikmati


Adinata dan tuan Surya Adinata. Terlihat tangan Surya merangkul pundak istrinya dengan penuh kehangatan.Kedua orangtua Dhika memang selalu menunjukkan


kemesraan mereka dihadapan putra semata wayangnya itu. Bahkan


dihadapan semua orang, meski umur mereka sudah melewati setengah abad tetapi


cinta mereka tidak pernah berubah. Cinta memang tak lekang oleh waktu.


Dirumahnya, Dhika hanya


tinggal bertiga bersama kedua orangtutanya. Papi Dhika adalah


direktur utama bahkan pemilik AMI Hospital yang saat ini sudah sangat berjaya


dan terkenal di Negara IndoNesia. FasiLitasnya yang sudah sangat maju dan lengkap,


bahkan hampir menyamai rumah sakit yang terkenal di Negara lain.


Tetapi karena saat ini Surya sudah mengambil pensiun, keadaannya yang sudah memasuki lansia menyulitkannya untuk terus bekerja. Beliau adalah seorang Dokter


spesialis penyakit jantung. AMI Hospital kini diambil alih oleh paman Dhika, yang


meruPakan adik kandung Papinya. Dhika belum mau mengambil jabatan direktur


utama di rumah sakit milik keluargtanya itu. Dhika merasa belum pantas dan


belum saatnya menduduki jabatan tinggi itu.


"Sore Mom, Pap," sapa


Dhika seraya mencium tangan kedua orangtutanya.


"Kamu sudah


pulang?" tanya Surya.


"Ya Pap, tidak ada


lagi jadwal operasi," jawab Dhika hendak beranjak.


"Dhika tunggu,"


panggil Elga membuat Dhika menghentikan langkahnya yang hendak menuju kamarnya, kemudian


menoleh ke arah Elga.


"Ya Mom,,,"


jawab Dhika.


"Weekend ini


kamu sibuk tidak?" tanya Elga.


"Aku gak tau,


tapi rencantanya aku mau ke Bandung. Mengunjungi café dan bertemu


dengan teman-teman Brotherhood. Sudah lama aku tidak bertemu dengan mereka. Apalagi aku dengar Dewi baru saja


melahirkan anak keduanya," jelas Dhika.


"Yahh....


padahal mau ada temen Mommy sama anaknya datang kerumah untuk bertemu kamu," ujar Elga sedikit


kecewa.


"Jangan mulai


lagi, Mom." Dhika tau apa maksud Mommy-nya itu, karena sudah


berkali-kali Dhika dikenalkan dengan beberapa perempuan muda dan cantik, tapi


tidak ada yang mampu menggetarkan hati Dhika.


"Dhika,


mau sampai kapan kamu seperti ini?" ucap Elga berdiri dan menghampiri


anaknya yang berdiri tak jauh darinya. "Umur kamu


sebentar lagi sudah mau 32tahun, sudah seharusnya kamu menikah, Nak. Mommy


ingin segera menimang cucu!" ujar Elga, selalu seperti ini setiap kali membahas wanita.


"Mom, Dhika udah


berkali-kali bilang, kan. Kalau Dhika hanya akan menikah dengan Lita, hanya Lita, Mom! Dan


tidak akan ada wanita lain lagi." jelas Dhika dengan masih menjaga intonasi


suartanya.


"Tapi Lita


sudah pergi 10 tahun yang lalu, dia sudah meninggal, Dhika. Kamu harus


menyadari itu." ujar Elga.


"Mom, jangan


membuat Dhika melawan Mommy. Aku yakin Lita masih hidup dan akan segera kembali ke sampingku lagi. Mommy tau


kan kalau Dhika tidak akan pernah menikah dengan wanita manapun. Ma-na-pun Mom!"


"Tapi sudah 10


tahun berlalu Dhika, dia tidak pernah datang lagi. Sudah Nak, ikhlaskan dia.


Dan mulai lah menata kembali kehidupan kamu, bahkan semua sahabat Brotherhood sudah pada menikah dan sudah mempunyai anak. Dewi saja sudah melahirkan anak


keduanya.” Elga


berusaha membujuk putrtanya yang keras kepala itu. “Mami ingin melihat kamu menikah dan Mami bisa menggendong cucu, sebelum kami


pergi. Umur Mom dan Pap sudah sangat tua, Dhika!"


Dhika terlihat menghela nafasnya.


"Keputusan


Dhika sudah bulat, Dhika tidak akan menikahi wanita


manapun. Hanya Thalita yang akan Dhika nikahi. Kalau dia tidak pernah kembali, maka Dhikapun tidak


akan pernah menikah. Dhika akan menghabiskan waktu Dhika dengan


mengabdi di rumah sakit" setelah mengucapkan itu, Dhikaberlalu


pergi memasuki kamarnya, meninggalkan Elga yang masih terus memanggilnya.


Di dalam


kamar, Dhika masih berdiri dibalik pintu. Tatapannya kosong menerawang ke


depan, tak berbeda jauh dengan hatinya yang kosong dan hampa. "sampai


kapan aku harus menunggu kamu" gumam Dhika menghela nafasnya berat.


***