
Sanas tengah duduk di sebuah ruangan yang begitu sepi, hanya ada seorang pria berseragam berdiri tak jauh darinya. Hingga tak lama pintu di sampingnya terbuka dan menampakan sosok yang begitu ia cintai di dampingi seorang pria berseragam.
Pria itu berjalan mendekati kursi yang di duduki Sanas. "Hai Reno,"
Pria itu adalah Reno yang berada di dalam tahanan. Renopun duduk di hadapan Sanas yang hanya terhalang meja. "Bagaimana kabarmu, Sanas?"
"Seperti yang kamu lihat, bagaimana keadaan kamu disini?" tanyanya membuat Reno mengedikkan bahunya.
"Ada apa, kamu terlihat tidak sedang baik-baik saja." Ucapan Reno membuat Sanas kembali menangis. "Ada apa?" dia menggenggam tangan Sanas yang berada di atas meja.
"Aku merasa sangat berdosa," isaknya dengan menundukkan kepalanya. Reno mengernyitkan dahinya mendengar penuturan Sanas.
Sanas lalu menceritakan perihal Keysa yang menolongnya dan sekarang terbaring koma di rumah sakit. "Aku tidak menyangka dia mengorbankan dirinya untuk menyelamatkanku."
Reno mematung di tempatnya mendengar penuturan Sanas, tidak bisa di pungkiri ada perasaan cinta pada Keysa yang selama ini di pendam Reno.
"Aku merasa malu sekali padanya,"
"Dia sungguh memiliki hati malaikat," gumamnya.
Tak ada yang mengeluarkan suara selain deru nafas keduanya. "Aku akan meninggalkan kota ini,"
Mendengar penuturan Sanas, membuat Reno menatapnya dengan seksama. "Apa maksudmu?"
"Aku akan kembali ke kota kelahiran ibuku di Pekan Baru. Aku akan mulai mengurusi usaha keluarga kami." Reno masih terdiam membisu menatap Sanas.
Sanas mengeluarkan kertas kecil dari dalam tasnya dan menyerahkannya ke Reno. "Kalau kamu tidak berubah pikiran, aku menunggumu disana."
Reno masih menatap Sanas tanpa mengeluarkan suara apapun. "5 tahun kemudian, datanglah ke alamat ini. Aku akan menunggumu." Sanas mengucapkannya dengan senyuman.
"Aku pergi," Sanas beranjak dari duduknya dan mengecup pipi Reno sekilas sebelum berlalu pergi meninggalkannya.
Reno menatap punggung Sanas yang menghilang di balik ruangan. Ia menatap kertas kecil yang bertuliskan alamat, hingga seorang polisi membawanya kembali ke sel penjara.
***
Dua minggu sudah berlalu, saat ini Felix tengah berdiri di hadapan sebuah makam. Tatapannya nanar, gerimis hujan tak mampu membuatnya berlalu pergi.
"Kini semuanya sudah berubah menjadi sebuah kenangan." Gumamnya. "Tetapi percayalah aku mengingat semuanya," air mata luruh membasahi pipinya.
"Kamu pernah bilang aku akan menemukan sosok wanita sepertimu yang mampu memahamiku. Dan ternyata itu benar, saat dia pertama kali datang ke kantor untuk melamar pekerjaan. Tingkahnya yang polos dan teledor, tingkahnya yang seperti anak kecil dan dia suka sekali berbicara sampai terkadang aku ingin menyumpal mulutnya." Air mata terus luruh membasahi pipi. "Aku ingat semuanya..."
"Dulu aku pernah berpikir, bagaimana mungkin ada pria yang bisa mencintai gadis ceroboh dan cerewet seperti dia. Tetapi kini aku begitu tergila-gila padanya, aku sangat mencintainya."
"Awalnya aku tidak pernah memahami apa itu cinta, aku melihat ayah yang hancur karena cintanya padamu. Aku pikir cinta itu hanya bisa membuat orang lemah, cinta hanya akan memberikan sebuah luka. Aku begitu membenci kata cinta,"
"Tetapi apa sekarang semuanya ini adalah sebuah karma bagiku? Tuhan seakan tak ingin membiarkan aku bahagia." Ia memalingkan wajahnya seraya mengusap matanya yang basah.
"Aku sangat mencintainya, Ma. Aku sangat mencintainya, sampai rasanya begitu menyakitkan." Ia menangis terisak menatap makam Hanin.
"Aku akan melakukan apapun untuk bisa mengatakan kalau aku begitu mencintainya, aku sangat mencintainya, sampai rasanya aku akan mati." Isaknya.
Sampai tepukan ringan di pundaknya membuat dia menoleh, Mahesya berdiri di sampingnya. "Hai Hanin,"
Mahesya tersenyum menatap makan Hanin di depannya, Felix terlihat mengusap matanya yang basah. "Bukankah dia pendengar yang baik?"
"Dia yang terbaik," ucap Felix membuat Mahesya tersenyum.
"Dia wanita yang paling istimewa, cintanya mampu membuatku bertahan hingga detik ini."
Felix hanya diam membisu mendengarkan penuturan Mahesya. "Damailah disana, sekarang biarkan aku yang menjamin kebahagiaan putra kita."
Hening,,
Tak ada yang membuka suara, hanya deru nafas dan angin yang menemani. "Aku harus membuat pilihan, Pa. Dia sudah terlalu lama dalam keadaan seperti itu." Mahes menoleh ke arrah Felix mendengar penuturannya.
"Seminggu lagi sisa waktunya. Aku harus menandatanganinya, aku harus melepaskannya supaya dia bisa damai disana." Isaknya semakin menjadi.
"Hanya saja, sampai detik ini aku masih belum bisa melepaskannya pergi. Aku belum bisa, hikzz.."
Mahes memeluk tubuh putranya yang bergetar. "Percayalah dia akan kembali kepada kita, dia gadis yang kuat." Mahes menepuk punggung Felix.
***
Felix mendatangi kamar Keysa yang berada di rumah Mahesya, belum ada yang Felix ubah. Ia menatap kumpulan foto Keysa bersama Sanas dan juga teman-temannya yang lain.
Ia mengambil sebuah boneka manusia yang di kepang dua, ia menekan dada boneka itu.
'Hai, aku Keysa Adeeva. Boneka ini kado ulang tahunku dari Papa saat aku berusia 10 tahun, terima kasih papa... I Love You, Papa.'
Felix tersenyum mendengarkan suara Keysa yang cempreng dan begitu terdengar ceria. Ia terus menekannya berkali-kali, hingga senyumannya berubah menjadi isakan kecil.
"Aku merindukanmu, merindukan suara ini." Isaknya memeluk boneka itu.
"Keysa,,, hikzzz.....hikzz...." isaknya semakin menjadi.
'Tuhan, aku tidak mampu mengambil pilihan ini. Aku tidak bisa melepaskannya. Tolong kembalikan dia, aku sungguh tidak bisa tanpa dia,,'
"Hikz....hikzz.....hikz..."
***
Felix menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi, tadi Dhika menghubunginya untuk segera datang ke rumah sakit. Hatinya sudah gelisah tak menentu, rasa takut menghinggapinya.
Selama ia hidup, tidak pernah sedikitpun merasakan ketakutan tetapi sekarang dia sangat ketakutan, sangat sangat ketakutan. "Key, please jangan lakukan ini."
Ia memarkirkan mobilnya asal, membuat satpam disana berteriak memanggilnya. Felix tidak perduli, ia berlari menyusuri lorong rumah sakit.
Hingga dia sampai di depan ruangan Keysa, Rani terlihat menangis memeluk Clara. Dhika juga terlihat baru saja keluar dari ruangan Keysa. Felix menatap mereka dengan penuh tanya hingga Dhika memintanya untuk masuk.
Dengan langkah yang terasa berat dan jantung yang berdetak sangat cepat, Felix melangkahkan kakinya memasuki ruangan itu, hingga...
"Hai,"
Felix mematung di tempatnya, di hadapannya Keysa tengah tersenyum dengan duduk di atas brangkar. Air mata sudah luruh membasahi pipinya. "Kamu sangat terlambat,"
Felix tersenyum dengan air matanya yang luruh membasahi pipi. "Maaf, maafkan aku."
Felix terkekeh dan segera mendekati Keysa, ia memeluk tubuh Keysa dengan tangis keduanya yang pecah.
"Terima kasiih sudah kembali," gumamnya mengecupi kepala dan pundak Keysa.
"Panggilanmu membimbingku untuk kembali." Gumamnya menangis di pelukan Felix.
"Aku merindukanmu, sangat merindukanmu."
"Aku juga,"
Keysa melepaskan pelukannya dan menatap Felix dengan seksama, tangannya terulur membelai pipi Felix yang basah. "Aku mendengar semua yang kamu ucapkan."
Keysa menampilkan senyuman terbaiknya dengan menatap manik mata Felix. "Kamu bernafas untukku, jantungmu berdetak untukku. Kamu yang membawaku kembali," isaknya kembali memeluk tubuh Felix dengan tangis keduanya.
"Terima kasih,"
"Aku sangat mencintaimu," bisik Felix.
"Aku tau, hikz..."
Felix mengusap kepala Keysa dengan lembut dan sesekali mengecup kepalanya.
***
Hari ini Keysa melakukan pencangkokan jantung, setelah kondisinya mulai membaik. Dhika sudah memastikan kalau tingkat keberhasilannya sangat besar, hanya perlu berdoa saja. Tetapi Felix tetap tidak tenang, hatinya tetap gelisah dan sangat ketakutan.
Rasa takut yang akhir-akhir ini selalu mempengaruhinya.
Sebelum masuk ke dalam ruang operasi Keysa mengatakan ia akan kembali padanya. Itu adalah sebuah janji, dan sedikit membuat Felix tenang.
Setelah menunggu 3 jam, ruang operasipun terbuka dan Dhika mengatakan operasinya berhasil.
Tidak ada rasa selain rasa bahagia di hati Felix dan keluarga, walau Keysa belum sadarkan diri karena pengaruh obat bius.
Felix tak beranjak sedikitpun dari sisi Keysa, ia terus menunggu Keysa membuka matanya. "Terima kasih mau bertahan untukku," gumamnya mengecupi tangan Keysa.
Keesokan paginya, Keysa membuka matanya dan ia tersentak saat melihat Felix merebahkan kepalanya di sisi brangkar dengan menggenggam tangannya. Ia tersenyum dan membelai kepala Felix dengan sangat lembut.
"Hei," sapa Felix membuka matanya dan mengangkat kepalanya.
"Kamu tidak pegal?"
"Tidak, bagaimana keadaanmu?"
"Aku merasa jauh lebih baik." Keysa tersenyum menatap Felix. "Aku menepati janjiku bukan."
Felix menganggukan kepalanya. "Will you marry me?"
Seketika Keysa tertawa mendengar penuturan Felix. "Dasar tidak sabaran,"
Felix hanya terkekeh seraya menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Aku ingin segera menikahimu, Keysa."
"Aku sudah menerima lamaranmu, tuan Felix."
"Kalau begitu mari kita menikah, dan jangan berbuat hal konyol lagi yang bisa membuatku mati serangan jantung." Keysa terkekeh mendengar penuturan Felix.
"Tapi sampai sekarang belum mati,"
"Hampir, kalau kamu tidak kembali aku akan menyusulmu." Keysa tersenyum menatap Felix.
"Pria arogant bisa juga terlihat lemah dan menangis, aku mendengar isakanmu saat itu." Keysa menatap Felix dengan mata yang berkaca-kaca.
"Aku sangat ketakutan, aku takut kamu meninggalkanku. Itu adalah hal yang paling ingin aku musnahkan, aku tidak ingin kamu meninggalkanku, Keysa."
"Aku tidak sanggup kehilanganmu. Aku merasa sangat sesak saat tidak mampu melihat mata kamu dan suara cemprengmu." Keysa terkekeh mendengarnya.
Felix memeluk Keysa dengan merebahkan kepalanya di dada Keysa. "Aku ingin membangun keluarga bersamamu, hanya bersamamu."
***
Satu minggu sudah berlalu, dan Keysa sudah kembali ke rumah sang Ibu. Dokter Dhika sudah memastikan kalau kondisi Keysa berangsur membaik dan tak ada yang perlu di khawatirkan lagi. 2 hari lagi Keysa dan Felix akan melangsungkan pernikahan. Mereka harus berpisah dulu sementara waktu. Keysa menyibukkan diri dengan tanaman kesukaannya dan juga membantu sang Ibu.
"Woyyyy," seseorang menyadarkan lamunannya, Keysa hanya menatap malas seseorang itu. "kenapa tuh muka ditekuk gitu?" Tanya seseorang itu yang tak lain adalah Clara.
"Gue galau..."
"Gue kangen Felix, rasanya ada yang hilang tanpa ada dia di sini. Gue sangat merindukannya, Clar." Keysa merengut betapa sesak di dadanya menahan rasa rindu ini.
"Lebay loe,, sabar... lusa juga kalian akan bertemu dipelaminan." goda Clara.
"Gimana keadaannya?" Tanya Keysa.
"Dia baik-baik saja, dia malah seperti terlihat biasa-biasa saja. Bahkan kemarin dia makan siang dengan Sania." goda Clara membuat Keysa langsung menatapnya dengan berkaca-kaca karena merasa sakit hati, hatinya terasa dipukuli.
"Gue cuma bercanda, Key." Kekehnya membuar Keysa melemparnya dengan daun disana.
"Sialan,"
Clara hanya terkekeh saja. "Sorry, sebenarnya sih keadaan dia jauh lebih parah dari loe."
"Kerjaannya hanya marah-marah saja, banyak karyawan yang kena bentakannya. Dia berubah menjadi seekor singa yang kehilangan mangsanya. Semua orang yang membuat salah langsung disembur dengan kemarahannya. Termasuk gue, karena gue telat kasih laporan bulanan. Dia habis-habisan marahin gue, " keluh Clara membuat Keysa terdiam.
Ternyata Felix juga merasakan apa yang aku rasakan. Batin Keysa.
"Gue ingin ketemu dengannya." ucap Keysa lirih, sebenarnya Clara tidak tega melihat Keysa dan Felix yang menderita menahan rindu yang mereka rasakan, tetapi Clara juga tak mampu berbuat apa-apa.
"Lebih baik kita jalan, daripada loe disini meratapi kegalauan loe." Clara menarik tangan Keysa untuk berdiri.
Keysapun menuruti Clara,
***
Setelah perjuangan lama dan menahan gejolak kerinduannya. Disinilah sekarang Keysa berada dengan pakaian putih cantik yang membalut tubuhnya. Mahkota yang terbuat dari rangkaian bunga terhias rapi dikepalanya. Keysa terlihat seperti putri di cerita dongeng,
Resepsi pernikahan Keysa dan Felix dirayakan di sebuah taman yang ada disalah satu hotel terkenal disana. Tema yang mereka ambil adalah pesta kebun.
Keysa meremas tangannya sendiri, rasa gugup kini melandanya. Hingga lamunannya tersadarkan oleh kedatangan seorang pria paruh baya dengan menggunakan tuxedo hitamnya. Dilihatnya pria itu dengan penuh kasih sayang, pria yang sudah menemaninya selama 21 tahun ini masih terlihat gagah dan tampan dengan balutan tuxedonya.
"Apa princes papa sudah siap?" Tanya papa Mahes dengan tatapan teduhnya.
"Aku sangat gugup Papa."
"Itu selalu melanda setiap pengantin, tapi kamu tenang saja ada papa disini." Ucapnya penuh kasih sayang. "Kamu sangat cantik dengan gaun pengantin itu, papa gak menyangka princess papa akan menikah." tanpa terasa air mata Mahes jatuh membasahi pipi.
"Jangan menangis Papa," ucap Keysa menghapus air mata di pipi Mahes.
"Ini air mata kebahagiaan nak, papa bersyukur kamu menemukan lelaki yang sangat tepat untuk kamu. Papa sangat percaya dengan prince kebanggaan papa itu." ucapnya membuat Keysa mengangguk setuju. "Ayo, dia sudah menunggumu. Jangan membuatnya menunggu lama, nanti bisa-bisa dia datang kesini dan menyeretmu ke altar." kekeh Mahes membuat Keysa ikut tertawa.
Keysa menggandeng lengan Mahesya, dan mereka berdua berjalan di atas karpet merah. Keysa menundukkan kepalanya saat sudah memasuki area tempat pernikahan mereka, ia sangat gugup.
"Angkat kepalamu Sayang, tersenyumlah." bisik Mahes membuat Keysa mengangkat kepalanya dan sosok pertama yang tertangkap oleh pandangannya adalah seorang lelaki tampan menggunakan tuxedo putih melekat sangat pas ditubuhnya.
Jantung Keysa berdetak berkali-kali lipat, seakan ingin keluar dari tempatnya saat semakin dekat jaraknya dengan lelaki tampan itu.
Mahesya menyerahkan tangan Keysa ke Felix, dan Felix langsung menggenggamnya dengan erat.
Felix terus melihat ke arah Keysa yang terlihat begitu cantik. "Papa serahkan princes papa pada kamu, Nak. Jaga dia dan bahagiakan dia, papa sangat mempercayaimu." Felix menganggukan kepalanya diiringi senyuman yang tidak pudar dari bibirnya.
Keduanya menaiki anak tangga menuju altar dihadapan pendeta. Felix menggenggam erat tangan Keysa saat mengucapkan janji sehidup sematinya dan diikuti oleh Keysa.
Selesai pemberkatan dan mereka dinyatakan sah menjadi sepasang suami istri menurut agama dan Negara. Keduanya saling berhadapan, Keysa tersenyum menatap Felix. Keduanya saling menatap, memancarkan kerinduan dan cinta.
Felix mendekatkan wajahnya ke wajah keysa hingga menyisakan beberapa senti jarak diantara mereka. Keysa mampu merasakan deru nafas Felix yang menerpa wajahnya, hingga akhirnya bibir Felix menempel di bibirnya, keduanya berciuman dengan penuh cinta dan kasih sayang.
Kegelapan, kesepian yang slalu menemaniku
selama beberapa tahun lalu,
kini sudah tergantikan dengan keindahan warna warni cinta
cintaku.... Kekasihku....
Dia memberi warna dalam setiap hidupku yang dulu gelap
Dengan kepolosan dan keluguannya,
Dia menyadarkanku bahwa tak selamanya cinta itu menyakitkan
Tak selamanya orang yang saling mencintai akan menderita
Dan tak semua wanita itu rendah,
Dia berbeda.....
Dia mampu membawaku ke tempat dan keadaan seindah indah ini
Dendam, sakit hati seketika sirna bersamaan dengan sirnahnya kegelapan dalam hidupku.
Felix Ernest Blandino Bonaventura
Aku kehilangan kepercayaanku akan cinta
saat kekasih dan sahabatku mengkhianatiku
kenyataan demi kenyataanpun mulai terkuak dihadapanku
aku yang rapuh dan tak mampu menompang tubuhku sendiri untuk bertahan
tapi dia datang, dengan sejuta pesona dan keunikannya
membuatku jatuh kedalam pesonanya,
dia mengajarkan segalanya, kepedihan, kepahitan hidup
dia mengajarkan segalanya hingga akhirnya aku mengerti apa itu cinta
meski jalan takdir kita tidak semulus yang diharapkan
tapi pada akhirnya aku bersamanya,
disampingnya dan kami bersama-sama melangkah
untuk mencapai mahligai cinta dan kebahagiaan kami....
Keysa adeeva afsheen myesha
Tepuk tangan dari para tamu menyadarkan mereka dan segera melepas pangutan mereka. Keysa dan Felix tidak melepaskan tatapan mereka dengan senyum yang merekah.
"I love you my wife."
" I love you more my husband."
Tepukan tangan orang-orang kembali menyadarkan mereka bahwa mereka tidak hanya berdua.
"Selamat yah nak, ibu seneng melihat kalian bahagia." Rani menangis terharu seraya memeluk Keysa.
"Terima kasih Ibu." jawab Keysa saat melepas pelukan ibu.
"Ibu titip permata ibu satu-satunya, bahagiakan dan lindungi dia." ucap Rani saat berhadapan dengan Felix.
"Pasti, Felix akan slalu menjaganya. Karena sekarang dia juga permata aku." Felix menatap Keysa yang tersipu.
"Selamat yah nak, papa berharap kalian akan selalu bahagia dan cepatlah berikan papa dan ibu Rani cucu." Ucapan Mahesya membuat keduanya terkekeh.
"Kekey sayang,,, selamat yahhh." Clara berteriak memeluk Keysa. "cepatlah beri gue keponakan."
"Doain aja yah." Ujarnya. "Dan kapan loe nyusul?" Clara hanya terkekeh begitu juga Remon mendengar ucapan Keysa.
"Selamat menempuh hidup yah soub." Remon memeluk Felix lalu mengucapkan selamat ke Keysa.
"Selamat yah buat kalian berdua." Devan datang menghampiri mereka berempat.
"Makasih yah Van." ucap Keysa. "Cepatlah menyusul," Devan hanya tersenyum menanggapi Keysa.
"Thanks soub." jawab Felix dengan senyuman bahagianya.
"Selamat menempuh hidup baru yah,," Dhika datang menghampiri mereka.
"Terima kasih dokter." Keysa menatap kagum Dhika yang terlihat tampan dengan tuxedo hitamnya.
Felix yang melihat sikap Keysa langsung merangkul pinggang Keysa hingga merapat ke tubuhnya membuat yang lain terkekeh melihat sikap arogant Felix .
"Dokter kapan mau nyusul?" Tanya Felix mencoba mengalihkan perhatian Keysa.
"Doain saja." ujar Dhika.
Setelah berbincang-bincang dan menerima ucapan selamat dari para tamu, Keysa melakukan ke acara selanjutnya yaitu melempar sebucket bunga yang dia pegang. Disamping Felix dengan membelakangi para tamu, Keysa akan melempar bunganya.
"1....2....3...." setelah aba-aba diucapkan, Keysapun melempar bunga itu ke belakang dan langsung di tangkap dengan sigap oleh seseorang.
Keysa dan Felix berbalik, menatap siapa yang mendapatkan bunga itu. Ternyata yang mendapatkannya adalah Remon. Semua mata mengarah kepadanya.
"Honey,,,,, kita akan menikah?????" teriak Clara antusias.
Remon terlihat malu dan hanya mengangguk sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "ini buat kamu," Remon menyerahkan bunga itu ke Clara membuatnya langsung memeluk Remon dengan senang membuat semua orang bertepuk tangan.
"Mau berdansa denganku?" Tanya Felix mengulurkan tangannya ke arah Keysa membuatnya menerima uluran tangan Felix dengan senyuman manisnya.
Felix menarik pinggang Keysa semakin rapat dengan dirinya, Keysa mengalungkan kedua tangannya di leher Felix.
Keduanya mulai menggerakkan badannya ke kiri dan ke kanan seirama dengan musik. Semua mata menatap ke arah mereka berdua penuh dengan rasa iri dan kagum.
Keduanya saling bertatapan tanpa memperdulikan semua orang disekitarnya. Senyum dibibir mereka berdua tidak pernah pudar, keduanya menyalurkan cinta yang sangat dalam dan besar lewat tatapan keduanya.
Tanpa mereka sadari, hanya mereka berdua yang berdansa dan menikmati setiap gerakan dan alunan musik yang begitu indah.
"Aku sangat bahagia, setelah apa yang kita lewati selama ini. Akhirnya aku bisa bersama kamu." ucap Keysa,
"Aku juga sangat bahagia, perjalanan kita untuk mencapai tahap ini tidak mudah. Dan aku berharap kita akan slalu bersama-sama sampai maut memisahkan. Saat duka maupun senang, kita harus slalu bersama-sama." ucap Felix yang di angguki Keysa.
"Aku akan selalu mendukungmu dan selalu berada disisimu, suamiku sayang."
Felix menundukan kepalanya dan menempelkan dahinya dengan dahi Keysa, hidung merekapun beradu.
Keysa menutup matanya menikmati kehangatan ini.
***