
Happy Reading
-------------------------------------------------------------
Sepi....
Hampa....
Gundah...
Sakit....
Itu yang aku rasakan saat ini,,!!!
Kenyataan ini sangat menyesakkanku, sekarang aku akan kembali bergantung pada obat-obatan. Hidupku sangat menyedihkan, begitu menyedihkan.
Papa,,, papa dimana sebenarnya? Apa yang terjadi sama papa? Aku sangat kangen sama papa, kali ini aku mulai takut, aku sangat takut menghadapi dunia papa. Aku butuh papa, seperti dulu. Setiap aku ketakutan, aku akan berlari ke arah papa, tetapi dimana papa sekarang pa?
Aku memejamkan mataku saat semilir angin menerpa wajahku. Aku seakan merasakan belaian lembut dari seeorang. Aku berharap angin ini mampu membuang penat dikepalaku dan juga sesak dihati ini. Aku merasa hidupku kini tersesat, tidak ada arah tujuan lagi. Kini aku sendirian, apa ini takdir yang harus aku jalani? Dan hanya air mata yang tertinggal bersamaku. Karena semuanya telah pergi...
Pergi menjauh dariku,,!!!
Felix... Kamu bagaikan air di daun talas, yang melaluiku tapi tidak mampu membasahiku. Kamu hanya bisa torehkan cinta tapi sisakan luka dihati ini.....
Betapa ku pasrahkan hatiku, betapa aku mencintaimu. Tapi apa yang kamu berikan untukku? Kamu tukar semuanya dengan luka dan kesakitan ini.
Pelampiasan....? Satu kata yang mampu menghancurkan hatiku, kenapa Felix? Apa salah aku sama kamu? Apa salah, aku terlalu mencintai kamu? Kenapa kamu setega ini sama aku? Padahal kamu tau sebelumnya aku juga sudah dikhianati dan kamu tambah lagi luka itu malah lebih parah dari sebelumnya.
Bahkan disaat kondisiku yang sekarat, aku masih sangat mencintaimu, Felix. Aku tidak bisa melupakanmu,, aku harus bagaimana sekarang Felix? Air mata yang keluar ini, masih dapat dihapus, namun air mata yang tersembunyi bisa menorehkan luka mendalam yg belum tentu dapat dihapus.
Pandanganku terarah ke depan menatap hamparan langit malam dengan air mata yang sialannya tidak mau berhenti. Luka ini semakin menganga lebar, entah akan mampu terobati atau malah akan mati perlahan.
***
Felix Pov
Aku memasuki rumahku dengan kesal, aku marah karena Devan mulai mendekati Keysa. Dan siapa pria yang mengantar Keysa pulang? Pria mana lagi yang di jerat oleh wanita itu.
Sialan...!!!
Aku berjalan menyusuri tangga, dan hendak memasuki kamarku tetapi tangan ini berhenti saat hendak memegang knop pintu, pandanganku terarah ke sebelah kamarku yang dulu ditempati Keysa. Aku berjalan mendekati pintu itu dan perlahan menekan knop pintu hingga terbuka. Aku mendorong perlahan pintu itu hingga terbuka lebar.
Bayangan-Bayangan saat Keysa dikamar ini berputar dikepalaku seperti film yang sedang diputar. Saat dia bersedih, saat dia tertidur, semua bayangan itu kini memenuhi kepalaku. Bahkan aroma lavender masih terasa di kamar ini.
Aku merindukannya....
Dua kata yang ada di dalam hatiku untuk Keysa saat ini. Aku berjalan mendekati ranjang berwarna putih tulang itu, aku duduk di atas ranjang yang biasa Keysa tiduri. Tatapanku terarah ke arah bantal yang sering dia gunakan.
Maafkan aku Key, mungkin takdir di antara kita berdua merengkuh cinta yang tak semestinya. Hingga hati kita ini hancur dalam linangan air mata tanpa bisa berhenti...
Aku merasakan pipiku basah, aku menghapusnya tapi cairan bening itu kembali membasahi pipiku.
Aku menangis,, ya akhir-akhir ini aku memang cengeng.
Aku hampa tanpa kamu, Key. Aku kesepian. Memang aku sudah terbiasa dengan kesendirian, kesepian dan kehampaan ini. Aku sudah hidup bertahun-tahun sebatang kara. Tapi berbeda saat kamu datang, kamu membawa warna dalam hidupku yang hampa. Kamu mampu membuatku kembali ke Felix yang ramah tanpa beban. Tapi sekarang kamu ninggalin aku juga seperti yang lain, itu lebih sakit rasanya, Key.
Rasanya lebih menyakitkan....
Melepaskan seseorang yang dicintai memang sangat menyakitkan tapi mungkin tidak semua cinta harus saling memiliki. Seperti takdir kita,, yang tidak memberikan kita kesempatan untuk bersama sebagai sepasang kekasih yang saling mencintai.
Aku beranjak dari tempat dudukku dan berjalan mendekati jendela besar disini. Pandanganku langsung terarah ke taman belakang dimana terakhir kali aku bersikap manja sama Keysa. Malam yang indah dengan bintang-bintang bersinar di langit menjadi saksi cintaku padanya.
Aku merindukanmu, Key!!!
***
Author Pov
Keysa berjalan memasuki gedung pencakar langit yang hampir setiap hari dia datangi.
Keysa berjalan menyusuri gedung itu menuju sebuah lift.
'Hatiku sudah kenyang untuk disakiti, tidak seharusnya aku membiarkan cinta merusak masa depanku. Karena semua tidak bisa kembali seperti semula. Kini aku tau, selain indah cinta juga berduri tajam dan mampu melumpuhkan segalanya.' Batin Keysa
'Kamu bisa Key,, bersikaplah biasa saja. Jangan tunjukkan bahwa kamu lemah dihadapan dia. Sudah cukup rasa sakit ini,,, '
Teriak batin keysa saat Keysa berada didalam lift
Ting
Pintu lift terbuka lebar tepat dilantai tempat dimana Keysa bergelut dengan pekerjaannya. Dengan langkah pasti, Keysa berjalan mendekati meja kerjanya dan menyimpan tas dimeja belakang kursi. Ia mulai menyalakan komputer untuk dia gunakan. Saat tengah merapihkan beberapa dokumen yang akan dia kerjakan. Keysa mendengar suara derap langkah yang teratur, dan Keysa sudah sangat tau siapa gerangan yang datang. Dengan tekad yang besar dan mengambil nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya, Keysa berdiri tegak.
"Selamat pagi, pak" sapa Keysa membungkukkan sedikit badannya tanpa melihat ke arah seseorang dihadapannya itu yang tak lain adalah Felix.
Felix sempat kaget dengan sapaan Keysa,, dia kira Keysa tidak akan berbicara padanya. Cukup lama Felix menatap Keysa membuat Keysa gugup dan jantungnya berpacu lebih cepat. Keysa berusaha menahan kegugupan dalam dirinya.
"Selamat pagi" ucap Felix datar lalu beranjak memasuki ruangannya.
Keysa mengangkat badannya kembali dan menghembuskan nafasnya sambil mengelus dadanya. 'Kenapa jantung ini selalu seperti ini , setiap berhadapan dengannya. Apa mungkin karena penyakitku?' Batin Keysa dan kembali duduk dikursinya.
Keysa memfokuskan diri dengan pekerjaannya, dia ingin melupakan semua hal yang terjadi dalam hidupnya. Tetapi lain halnya dengan Felix, Felix tidak berkonsentrasi sama sekali,, semua dokumen yang berada di atas mejanya dia abaikan. Dia hanya berdiri menghadap jendela besar itu menatap jalanan ibu kota yang masih dipadati kendaraan. Kedua tangannya dimasukan kedalam saku celananya.
'Apa dia sudah tidak mencintaiku? Kenapa tadi sikapnya biasa saja tidak menunjukkan kesedihan. Padahal saat di khianati pria brengsek itu, dia benar-benar terpuruk sampai tidak mau masuk kerja berhari-hari. Batin Felix.
'Apa alasannya karena pria yang beberapa hari lalu mengantarnya pulang? Benarkah secepat itu Keysa berpaling?' batinnya.
'Bodoh kau Felix.. Mungkin dia juga sudah menjadikan kamu pelampiasan dari mantannya makanya dia bersikap biasa saja sekarang karena tidak pernah mencintaimu.' Batin Felix
"Aku harus cari tau siapa pria yang beberapa hari lalu bersama Keysa." ucapnya penuh penekanan.
***
Sudah pukul 8 malam, tapi Keysa masih berkutat dengan pekerjaannya. Dia ingin menyelesaikan semua pekerjaannya hingga akhirnya selesai. Keysa membereskan semua dokumen yang berserakan diatas mejanya tanpa menyadari seseorang baru saja melewatinya. Setelah selesai Keysa menyambar tasnya dan melangkah menuju lift dengan memainkan hpnya untuk membalas pesan dari Devan dan Clara yang menanyakan keberadaannya.
Dug
"Aww" ringisnya karena baru saja jidatnya menabrak tembok. Keysa terus saja mengelus jidatnya yang sakit.
"Kamu tidak apa-apa?" suara bass itu terdengar jelas di telinga Keysa membuatnya mengangkat kepalanya dan berhasil melotot kaget, ternyata bukan tembok yang Keysa tabrak melainkan punggung seseorang yang tak lain adalah Felix.
"Eh?"
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Felix lembut dan Keysa langsung menggelengkan kepalanya.
"Ti-tidak" cicit Keysa
"Lain kali kalau jalan jangan sambil mainin hp." ucapnya lalu beranjak memasuki lift diikuti Keysa.
Keysa hendak menekan tombol lift tetapi tangan lain juga hingga membuat tangan mereka berdua bersentuhan. Keysa menatap ke arah Felix yang berada disampingnya, sebaliknya juga Felix menatap ke arah Keysa. Keduanya saling bertatapan cukup lama, memancarkan kerinduan yang mendalam. Hingga akhirnya kesadaran Keysa kembali dan dengan cepat menarik kembali tangannya dengan menundukan kepalanya. Felix yang melihatnya langsung memalingkan pandangannya ke arah tombol lift dan menekankannya.
Di dalam lift hening, tidak ada yang mau mengeluarkan suara sedikitpun hingga hp Felix berdering.
"Hallo." Keysa berusaha mengupingnya.
"...."
"Ada apa, Bell?" tanya Felix membuat Keysa spontan menatap ke arah Felix. Dan pintu liftpun terbuka, membuat Felix berjalan terlebih dulu meninggalkan Keysa yang masih mematung.
Keysa masih berdiri mematung melihat Felix yang semakin menjauh. Dengan langkah gontai Keysa keluar dari lift. Dan saat sudah sampai di lobby, terlihat mobil Felix sudah melaju cepat meninggalkan perusahaan. 'Sebegitu khawatirnya kamu sama dia,,, apa dia benar-benar sangat berarti buat kamu Felix?'
Tak jauh dari sana juga terlihat taxi yang sudah dipesan Keysa. Keysa berjalan mendekati taxi.
***
Felix terus menghubungi seseorang. "Hallo Andri, loe gimana sih kan gue sudah suruh loe awasi cewek gila itu." Amuk Felix
"...."
"Dia datang ke villa yang dipuncak, dan dengan seenaknya membawa teman-temannya yang ****** itu untuk berpesta disana."
"..."
"Tadi dia menghubungi gue dan meminta gue untuk dateng ke acara party-nya disana, itu sangat menjijikan !!!!" ucap Felix
"Gue minta sekarang juga loe usir mereka semua dari villa gue, kalau perlu kerahkan pihak kepolisian. Gue gak sudi tempat kesukaan nyokap bokap gue dikotori mereka. PAHAM??" Amuk Felix penuh emosi dan langsung mematikan sambungan telpon.
"Dasar ****** sialan!!" umpat Felix memegang setir mobil dengan keras hingga membuat buku tangannya memutih.
Felix memasuki rumahnya dengan emosi dan segera masuk ke dalam kamarnya, menuju kamar mandi, untuk meredakkan emosinya.
Merendamkan semua badannya didalam bathup dengan pijatan air hangat dan aroma terapi. Pikirannya sungguh penat, Bella terus saja mengusik kehidupannya. Apa saja dia kerahkan agar bisa bertemu dengan Felix dan menggapai cinta Felix kembali.
Bukan hanya itu, Felix juga memikirkan hubungannya dengan Keysa, hatinya selalu saja terasa nyeri setiap kali bertemu dengannya dalam keadaan canggung. Ingin rasanya saat ini juga Felix menarik Keysa dalam pelukannya dan mencium bibir ranumnya yang sudah menjadi candunya itu sampai mereka sama-sama kehabisan nafas. Felix tidak akan membiarkan Keysa dekat dengan pria manapun. Keysa hanya harus menjadi miliknya,, hanya miliknya....
Kenyataan ini sungguh membuatnya tersiksa,, dan rindu ini terasa sangat menyakitkan. Saat tengah sibuk dengan pikirannya, tiba-tiba suara dering hp terdengar.
"Hallo"
"....."
"Bagus,, bawa ****** itu kehadapanku." ucap Felix dengan seringainya dan mematikan sambungan telpon. "Kamu sangat ingin bertemu denganku kan ******. Aku akan mengabulkannya, mari kita bersenang-senang malam ini." seringai devil terlukis di bibir Felix.
***
Tok tok tok
"Masuk" ucap Felix fokus menatap dokumen di hadapannya.
Tak lama seorang pria yang berusia sekitar 35 tahun masuk bersama dengan seorang wanita cantik dengan pakaian minim, tak lain tak bukan itu adalah Bella. Felix melirik sebentar ke arah keduanya dan memberi tanda kepada pria itu untuk menunggu diluar. Setelah mengangguk pria yang dikenal bernama Andri itupun keluar ruangan.
Felix berdiri dan menatap wanita di hadapannya yang masih berdiri angkuh.
"Annabella Swift, kamu ternyata tidak jera juga. Masih saja mencoba mengusik kehidupanku." ucap Felix berjalan mendekati Bella.
"Kamu suka bermain-main denganku? Baiklah Bella, aku akan mengakhiri permainanmu sekarang juga." ucap Felix tepat berada di hadapan Bella dengan tubuh yang ditumpu ke meja kerja di belakang Felix. Bella menatap Felix tanpa berkedip dan dengan tatapan laparnya menyusuri tubuh indah Felix. "Bicaralah, sebelum aku menjahit bibirmu" ucap Felix tenang dengan kedua tangan yang dilipat di depan dada. Menyadarkan Bella dari lamunan kotornya.
"Aku melakukan ini hanya untuk bisa bertemu denganmu" ucap Bella
"Dengan cara membuat onar di salah satu villa keluargaku?" ucap Felix dingin.
"Bukan gitu,, dulu kan kamu sempat ajak aku ke villa itu tapi hanya melihat saja dan cerita kalau villa itu kesukaan orangtua kamu. Jadi aku kesana untuk mengenang orangtua kamu dan mengenang kisah kita" ucap Bella
"LANCANG!!" bentak Felix membuat Bella tersentak kaget, pancaran emosi tercetak jelas di wajah dan mata Felix membuat Bella ketakutan hingga mundur satu langkah. Felix berjalan mendekati Bella dan tanpa aba-aba langsung menarik rambut Bella dengan kencang.
"Aww,, sakit Felix." Bella mencoba melepaskan tangan Felix yang mencengkram rambutnya. "Sakit Felix" rintih Bella
"Sakit kan? Makanya jangan lancang, ****** !!" ucap Felix geram. "Aku paling benci dengan orang yang lancang dan tidak tau malu sepertimu" ucap Felix penuh penekanan dan kembali menarik rambut Bella membuatnya meringis menahan sakit dan ngilu di bagian kepalanya.
"A-aku min-ta ma-af,, A-aku hanya ingin mencari perhatianmu sa-ja" ucap Bella terbata-bata menahan kesakitannya. "A-aku ta-u ka-mu ada hubu-ngan dengan sekretaris kamu itu. A-aku gak rela, ma-kanya aku mencari perhatian kamu agar kita bisa bertemu."
Plak
Suara tamparan menggema di ruangan ini. Tubuh Bella tersungkur ke lantai karena Felix baru saja menamparnya dengan keras membuat hidung dan sudut bibirnya mengeluarkan darah.
"Gue udah pernah bilang kan, jangan mengusik kehidupan gw. Enyahlah dari hidup gw. Kalau loe gak mau gw lenyapkan, *****" teriak felix kesal. Dan bella hanya menangis sambil memegang pipinya yang perih dan sakit.
"keluar,," ucap felix tenang tapi bella tidak bergeming.
"keluar" sekali lagi dengan suara mulai meninggi tapi bella masih tetap tidak bergeming
"GET OUT" bentak felix membuat bella ketakutan dan beranjak keluar ruangan.
Setelah kepergian bella, felix terduduk disofa ruangan dan menghembuskan nafasnya kasar. Dia sangat tidak menyukai kekerasan, tapi wanita iblis itu seakan memancingnya untuk berprilaku iblis juga.
***
Disebuah mobil civic berwarna abu, duduk 2 orang wanita yang berbeda umur. Itu adalah Bella dan Sanas.
"Kenapa kamu bawa aku kesini, mbak?" tanya Sanas heran
"Aku ingin melakukan sesuatu pada wanita penggoda itu" ucap Bella tajam penuh emosi.
"Maksud mbak, Keysa?" pekik Sanas
"Iya, siapa lagi. Aku ingin melenyapkannya" ucap Bella berapi-api.
"Tapi mbak" ucap Sanas tertahan
"Kenapa?" Bella heran dengan sikap sepupunya itu
"Apa tidak terlalu berlebihan?" Sanas dengan ragu mengutarakannya.
"Berlebihan apanya? Kamu lihat wajah aku, pertama kalinya Felix memukulku karena wanita itu. Pedihnya juga belum hilang" Bella menjawab dengan berapi-api hingga pandangannya tertuju ke depan, tak jauh di sana terlihat Keysa yang baru keluar dari kantor dengan memegang tasnya hendak menyebrang jalan untuk mencari taxi, ini sudah malam dan Keysa harus segera mencari taxi.
"Saatnya tiba" gumam Bella dengan seringai licik di bibirnya.
"Jangan mbak." Sanas terlihat serba salah
"Kenapa? Kamu juga tidak mau kan melihat dia menggoda calon suami kamu lagi" ucap Bella membuat Sanas terdiam. Dan tanpa memperdulikan lagi Sanas, Bella menginjak gasnya dan melaju kencang ke arah Keysa yang hendak menyebrang. Saat hampir berhasil menabrak Keysa, seseorang terlihat menarik tangan Keysa dan keduanya terjatuh mengenai trotoar.
Keysa meringis karena sikunya terluka dan kembali menatap mobil yang tadi hampir menabraknya semakin menjauh. 'Itu mobil sanas,, kenapa? Dia berencana ingin membunuhku?' batin Keysa.
"Kamu tidak apa-apa, Key?" seakan sadar di depannya ada seseorang yang baru saja menolongnya, pandangan Keysa beralih ke arah seseorang itu dan terlihat wajah Devan yang penuh kekhawatiran.
"Aku tidak apa-apa" ucap Keysa.
"Tangan kamu terluka, ayo aku akan mengobatinya" ucap Devan membantu Keysa berdiri.
Devan membawa Keysa masuk ke dalam mobilnya dan mengobati luka di siku Keysa dengan alkohol dan betadine.
"Ssstttt" rintih Keysa
"Maaf, perih yah?" tanya Devan dan Keysa hanya menjawab dengan anggukannya.
Setelah selesai membersihkan luka, Devan terus menatap wajah Keysa yang masih menunduk. Tangannya terulur menyentuh dagu Keysa dan mengangkatnya membuat Keysa menatap manik mata Devan. Entah dorongan dari mana, Devan semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Keysa hingga saat hampir bersentuhan hidung, tubuh Devan tertarik ke belakang hingga keluar dari mobil.
Bug
Satu bogem mendarat di rahang tegas Devan, membuatnya tersungkur ke trotoar dan meringis. "Devan." pekik Keysa, tersadar dari lamunannya dan segera menuruni mobil menghampiri Devan yang tersungkur. Pandangan Keysa bertemu dengan seseorang yang baru saja memukul Devan.
"Felix."
Keysa segera memalingkan wajahnya dan kembali fokus pada Devan. "Kamu tidak apa-apa?" tanya Keysa mencoba membantu Devan untuk bangun. Tetapi sebelum itu terjadi, Felix lebih dulu mencekal pergelangan tangan Keysa dan menariknya hingga Keysa berdiri di hadapannya.
"Aww,, lepasin tangan saya, Pak" ucap Keysa berontak agar Felix melepaskan cekalan tangannya. Karena kesal Keysa yang terus berontak akhirnya Felix memangku tubuh Keysa ke atas pundaknya.
"Aaaaa,,, tolong!! Turunkan aku pak, turunin aku...." teriak Keysa terus memukuli punggung Felix tetapi Felix tidak bergeming dan terus berjalan meninggalkan Devan yang masih terdiam melihatnya. Devan tau Felix mencintai Keysa, tetapi entah karena alasan apa Felix menyakiti Keysa.
Felix mendudukan tubuh Keysa ke kursi penumpang dan menutup pintu mobil. Felix berjalan mengintari mobilnya dan masuk ke kursi pengemudi. "Pakai sabuk pengamanmu" ucap Felix datar tapi Keysa hanya terdiam.
Karena merasa tidak ada jawaban, Felixpun menyondongkan badannya dan memasangkan setbelt. Membuat tubuhnya sangat dekat dengan Keysa. Itu mampu membuat jantung Keysa lari marathon dan darahnya berdesir hebat saat kulit mereka bersentuhan. Keysa tanpa sadar menahan nafasnya.
"Bernafaslah" ucap Felix saat sudah duduk kembali ke posisi semula. Keysa yang sadar tingkah konyolnya di ketahui Felix langsung berdehem pelan dan menatap keluar jendela mobil. Felix mulai menginjak gasnya dan melajukan mobilnya.
"Aku tidak suka kamu dekat dengan Devan" ucap Felix tiba-tiba membuat Keysa mengernyitkan dahinya dan menatap ke arah Felix yang masih fokus menyetir.
"Cukup sudah anda mencampuri kehidupan saya. Bukankah waktu itu anda sudah memberikan saya kepada Devan? Bukankah dengan seenaknya anda memberikan saya ke Devan seakan saya ini barang. Tapi kenapa sekarang anda berkata seperti ini, hah??? Kenapa pak Felix yang terhormat???" pekik Keysa kesal, air matanya sudah memenuhi pelupuk matanya. Dan Felix hanya terdiam menatap lurus ke depan.
"Jangan campuri lagi kehidupan saya, status kita hanya sebatas atasan dan sekretarisnya. Jadi bersikaplah profesional, Bapak Felix yang terhormat" ucap Keysa sengit membuat Felix melihat ke arah Keysa yang sudah turun dari mobilnya karena mereka sudah sampai di depan rumah Keysa.
"shitttttt!!" umpat Felix memukul setir dihadapannya.
****
Saat ini Keysa tengah melakukan terapi pertama di ruangan Dhika. Setelah melakukan beberapa tes, mereka berdua duduk di ruangan milik Dhika.
Keysa duduk di sofa ruangan Dhika yang luas, sedangkan Dhika tengah fokus pada tiga komputer di sudut ruangannya memperhatikan hasil medisnya.
"Keadaan kamu cukup mengkhawatirkan, apa begitu banyak yang membebanimu." Dhika berbalik ke arah Keysa dengan memasukan kedua tangannya ke dalam saku jas dokternya.
"Iya dokter, banyak sekali masalah yang menimpaku. Aku merasa tak kuat lagi menghadapi semuanya. Apalagi keberadaan papa belum di ketahui, semua orang yang dekat denganku mereka adalah pengkhianat begitu juga dengan beberapa pemegang saham di kantor papa. Aku bahkan sudah sangat putus asa." Keluh Keysa.
"Kalau kau butuh teman, katakanlah. Mungkin saja aku bisa membantu." Dhika berjalan mengambilkan minuman untuk Keysa dan menyodorkannya kepada Keysa.
"Terima kasih." Keysa menerimanya dan segera meneguknya, Dhika sudah duduk di depan Keysa dengan meneguk minumannya sendiri. "Kalau kamu mendengar ceritaku, pasti kamu akan berpikir hidupku ini penuh drama." Kekeh Keysa.
"Bukankah takdir itu penuh drama, dan suka sekali mempermainkan kehidupan manusia." ucap Dhika
"Iya kamu benar, aku merasa iri dengan hidup oranglain yang begitu tenang dan damai." keluh Keysa beranjak dari duduknya dan berjalan menuju jendela besar yang menampilkan jalanan ibu kota.
"Hidupku sangat ironis, dokter Dhika. Aku pernah dikhianati oleh tunangan dan sahabatku sendiri. Lalu saat aku mulai berpaling ke pria lain yang menurutku dia jauh lebih baik. Ternyata dia hanya menjadikan aku pelampiasannya dari mantan kekasihnya. Dan hilangnya papa semakin membuatku resah dan khawatir." Mengalirlah penjelasan Keysa membuat Dhika mendengarkannya dengan seksama.
"Sekarang kondisikupun sangat mengkhawatirkan, lalu siapa yang akan menolong perusahaan papa, dan bagaimana aku menemukan papa. Aku sudah tak ingin memikirkan cinta lagi, karena bagiku cinta itu hanyalah sebuah kata yang sangat menyakitkan. Tidak ada kebahagiaan dari cinta. Aku ingin hidup tanpa cinta dan kembali hidup tenang dengan papaku." ucap Keysa
"Tidak semua cinta itu menyakitkan. Resiko mengenal cinta adalah sakit hati dan patah hati, tetapi saat cinta itu tulus maka akan terasa begitu indah." ucapan Dhika membuat Keysa menengok ke arahnya.
"Benarkah? lalu bagaimana aku bisa mendapatkan cinta yang tulus?" tanya Keysa berjalan mendekati Dhika.
"Ikhlas, mencintai dengan ikhlas. Ikhlas tanpa mengharapkan balasan, ikhlas walau harus tersakiti, ikhlas memberinya cinta yang tulus. Maka rasa sakit itu tidak akan terasa begitu menyakitkan." ucap Dhika membuat Keysa memperhatikannya.
"Ikhlas? aku tidak tau bagaimana caranya bisa mencintai dengan ikhlas. Itu terdengar seperti kata-kata puitis yang hanya cocok menjadi sebuah pajangan, bukan kenyataannya. Cinta yang ada di kisah nyata hanya cinta yang semu, dan biasanya berdasarkan karena gairah. Banyak sekali kasusnya." ucap Keysa menghela nafasnya. "Aku tidak percaya dengan kata-kata cinta seperti itu, sudah cukup rasa sakit yang aku terima dari sebuah kata yaitu cinta."
"Kamu akan memahaminya nanti." ucap Dhika hanya menampilkan senyumannya.
"Tapi ngomong-ngomong mana pacar dokter? Nggak mungkin kan dokter tampan seperti kamu jones." kekeh Keysa
"Kamu menghinaku? Aku memang jones." kekeh Dhika
"Imposibble." kekeh Keysa. "Sepertinya terlalu banyak teman wanitanya yah."
"Teman wanita ada, kamu juga bukankah teman wanitaku." ucap Dhika dengan santai.
"Bukan teman biasa, tapi teman luarbiasa." ucap Keysa kepo, mungkin sejenak Keysa akan melupakan masalahnya dan berusaha mengubah topik ke hal lain.
"Aku tidak punya teman luarbiasa, Key. Nasib kita sama." Dhika tersenyum penuh arti.
"Sama?" Keysa merasa penasaran.
"Sudahlah lupakan saja, lebih baik kita makan siang. Ayo aku traktir kamu, kamu harus banyak makanan yang sehat." ucap Dhika melepas jas dokternya.
"Jangan nyesel traktir aku yah, aku makannya banyak lho." kekeh Keysa
"Tak masalah, mumpung aku baru gajian." ucap Dhika tersenyum manis dan berjalan berdampingan bersama Keysa meninggalkan ruangan miliknya.
***