My Ceo

My Ceo
Episode 28



Happy Reading


----------------------------------------------------------


Author Pov


Felix memasuki sebuah club malam tak jauh dari hotel tempat dia menginap. Dia duduk dibangku paling sudut, sedikit jauh dari kebisingan musik club. Ia meminta segelas vodka ke pada seorang bartender disana.


Bayangan saat di kamar hotel tadi terus berputar dalam otaknya. Felix meruntuki dirinya sendiri karena bisa lost control. Dia tidak bisa menahan hasrat laki-lakinya.


"sial!!!" umpatnya dan langsung meneguk vodka dari gelasnya dengan sekali tegukan.


Ucapan bundanya waktu itu, yang mengatakan siapa ayah biologisnya dan perasaan cintanya kepada Keysa terus berputar di otaknya. Apalagi kejadian tadi, benar-benar tidak mencerminkan seorang Felix. Felix yang selalu mampu menahan hasratnya, apalagi saat berdekatan dengan wanita.


Tetapi dengan Keysa, otaknya slalu tidak berfungsi dan slalu saja lost control. Jangankan menyentuhnya, mencium aroma khas tubuhnya saja sudah membuatnya bergairah. Ini tidak benar, ini salah!!!


"bodoh!!! " gumamnya dan kembali meneguk vodka dalam gelasnya. Kini bayangannya kembali ke wajah Keysa yang begitu polos, lugu dan apa adanya.


'Aku merindukan Keysa yang slalu bertingkah konyol dan slalu ceria. Aku ingin kamu kembali seperti dulu. Aku sangat berharap kamu bisa lupain kejadian ini, aku berharap kamu bisa melupakanku dan mimpi buruk ini. Dimana aku sudah membuat hatimu terluka. Aku ingin kamu kembali ke Keysa yang ceria, cerewet, polos dan penuh semangat. Maafkan aku Key'


Teriak batin felix, hatinya juga terasa sangat remuk saat ini.


'Kamu tau Key, bukan hanya kamu. Disini juga aku sangat terluka dan tersiksa. Hati ini seperti terus menerus diremas hingga remuk. Kenyataan ini semakin membawaku ke kegelapan yang jauh lebih dalam lagi. Maafkan aku Key, sungguh aku tidak bermaksud membuat kamu semakin terluka. Maafkan aku....'


Kepala Felix terasa semakin sakit dan seakan mau pecah, bukan hanya kepala tetapi hatinya pun seakan di remukan oleh tangan-tangan tak kasat mata. Felix mengambil botol vodka tetapi bukannya dituangkan ke dalam gelas. Felix langsung meneguknya langsung dari botolnya hingga tandas.


'Aku hanya ingin kamu bahagia.... Tapi aku gak bisa melepaskanmu untuk yang lain. Aku memang egois, tapi aku gak bisa lepas darimu, Keysa. Aku gak ikhlas kamu bersama pria lain termasuk Devan.'


Felix terus meneguk minumannya dan sesekali memukul dadanya yang terasa sesak dan sakit. Rasa panas dan pahit dari vodka itu semakin menyayat hatinya.


Dilain tempat Keysa yang sudah memakai piyama tidur, celana dan baju yang panjang dan longgar. Keysa duduk di sofa sambil menatap ke depan dengan tatapan kosong. "Kenapa harus jadi seperti ini? Kenapa sulit sekali untuk menggapai cinta kamu? Kenapa kamu semakin jauh dari genggamanku?" gumam Keysa lirih. "apa mencintai kamu harus sesakit ini? Kenapa masalah percintaanku slalu gagal? Apa aku terlalu polos atau aku yang terlalu mudah terpancing perasaan?"


"Kenapa kamu nyalakan api cinta dihatiku, kalau akhirnya akan membakar jiwaku. Kenapa kamu tumbuhkan perasaan ini kalau akhirnya kamu hempaskan. Kenapa kamu lakukan ini? Kenapa kamu slalu menarik ulur hati aku. Aku gak paham dengan kamu, Felix!! Kamu sungguh sulit aku pahami, kamu dekat tapi sulit untuk ku jangkau,, kamu terlalu misterius untukku. Terkadang kamu menganggapku tidak ada, terkadang kamu begitu manis kepadaku. Apa sebenarnya yang kamu harapkan dariku? Apa arti diriku dimata kamu??? Apa?????" jerit batin Keysa.


"Kenapa air mata ini slalu keluar tanpa aku minta?" gumamnya lirih


Hatinya terasa di remas-remas oleh tangan tangan tak kasat mata. Tangan kanannya memukuli dadanya sendiri yang terasa perih dan sesak. "kenapa aku begitu lemah? Masalah terus berdatangan tanpa ada yang bisa aku selesaikan satupun" gumam Keysa. "astaga" lirihnya menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.


Terlalu fokus dengan pikirannya, Keysa tak sadar kalau waktu sudah menunjukkan tengah malam. Dan tiba-tiba suara bel kamar berbunyi, menyadarkan Keysa dari lamunannya. "itu pasti Felix" gumamnya menghapus air matanya dan berjalan mendekati pintu. Sebelum membuka pintu Keysa mencoba menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya.


Keysa membuka pintu dan kaget melihat tiga orang pria berdiri disana, dengan seorang laki-laki yang sangat Keysa kenal tengah dipapah oleh 2 orang lainnya yang memakai seragam club. "a-apa yang terjadi?" tanya Keysa kaget melihat Felix yang setengah sadar.


"Dia terlalu banyak minum di club kami. Karena kebetulan bos saya mengenal bapak Felix jadi kami langsung mengantarnya kesini" ucap seorang laki-laki disebelah kanan Felix.


"Kalau gitu silahkan masuk dan rebahkan saja di atas ranjang" ucap Keysa dan kedua pria itu langsung memapah Felix masuk ke dalam dan merebahkannya di atas ranjang.


"Terima kasih karena kalian sudah mengantarkannya" ucap Keysa tersenyum manis.


"Sama-sama"


"Kalau begitu kami permisi." Setelah kepergian kedua laki-laki itu, Keysa berjalan mendekati Felix yang terlelap. Keysa melepaskan kedua sepatu Felix beserta kaos kaki yang di pakai Felix. Setelah itu ia berjalan mendekati Felix dan duduk di samping tubuh Felix.


Keysa menatap wajah Felix dengan intens. Tangannya terulur menyentuh wajah tampan Felix, dari dahi turun ke mata lalu hidung, pipi, rahangnya yang tegas dan terakhir Keysa meraba bibir Felix yang merah. "Kenapa sulit sekali untuk menggapai cinta kamu, padahal kamu ada di depan mataku" gumam Keysa lirih.


Keysa terus menatap wajah Felix yang terlelap, terlihat begitu damai tanpa beban apapun. Hingga sebuah tangan menarik pinggang Keysa, membuat tubuhnya menabrak dada bidang Felix. Wajah Keysa dan Felix sangatlah dekat membuatnya semakin gugup, aroma alkohol langsung menyengat indra penciuman Keysa. Keysa mencoba melepaskan tangan Felix yang melingkar dipinggangnya, tetapi yang ada Felix malah semakin mengeratkan pelukannya.


"Aku mencintai kamu"


Deg


Keysa langsung mendongakkan kepalanya menatap wajah Felix, tetapi kedua mata Felix masih terpejam. 'dia mengigau?' pikir Keysa.


"Aku mencintai kamu, Keysa. Sangat mencintai kamu" gumam Felix lagi membuat Keysa semakin kaget di buatnya. Ada ribuan bunga bertaburan di dalam hatinya tetapi bunga itu berduri membuatnya merasakan sakit secara bersamaan.


"Jangan tingglkan aku, Key. Aku mencintai kamu" gumam Felix sekali lagi membuat Keysa tertegun.


'Apa maksudnya? Dia mencintaiku? Tapi kenapa dia membuat segalanya menjadi rumit?' batin Keysa. Keysa melepaskan pelukan Felix dengan sedikit kasar, dan beranjak menuju sofa.


Dengan bersandar ke sandaran sofa, Keysa memijit ujung pelipisnya, otaknya merasa lelah memprediksi semuanya. Ia takut salah memprediksi dan akhirnya akan menjadi boomerang buat dirinya sediri. Terlalu lelah dengan semua pemikirannya, Keysapun terlelap disofa karena pengaruh obat yang dia minum..


Sinar matahari menerobos masuk melalui celah jendela, membuat Keysa mengerjapkan matanya berkali-kali. Keysa bangun sambil memijit tengkuk lehernya yang terasa sangat pegal. Ternyata semalaman ia tertidur dengan posisi duduk. Pandangan Keysa langsung tertuju ke arah ranjang, tetapi terlihat kosong. Keysa mendengar suara gemericik air di dalam toilet. 'mungkin dia sedang mandi' pikir Keysa mengambil air minum dan meneguknya.


Hingga terdengar suara pintu terbuka, Keysa langsung menatap ke arah toilet dan terlihat Felix di sana yang sudah rapi dengan pakaian casualnya. Keysa menatap ke arah Felix, tapi Felix dengan dinginnya tanpa menatap ke arah Keysa, berlalu pergi begitu saja meninggalkan kamar. Membuat Keysa kembali merasakan sayatan itu di dalam hatinya.


Sakit......


***


Keysa berdiri di pinggir pantai yang cukup sepi, pandangannya lurus ke depan dengan tatapan kosong. "Semalam dia bilang cinta, tapi sikapnya kembali dingin. Maksudnya apa? Dia mau mempermainkanku?" gumam Keysa lirih


"Dasar brengsek,, semua pria memang brengsek" teriak Keysa karena sangat kesal dan lelah.


"Kalau mau caci maki orang, langsung di depannya" ucap seseorang membuat Keysa menengok dan terperanjat kaget saat melihat Felix sudah berada disampingnya dengan santai dan memasukan kedua tangannya ke dalam saku celana.


Keysa semakin di buat heran dengan perubahan sikap Felix. Setelah sadar dari lamunannya, Keysa segera memalingkan wajahnya dan menghapus air matanya yang entah sejak kapan sudah luruh. "Luapkan semuanya, kalau dengan mencaci makiku kamu akan merasa lega dan bisa kembali tersenyum dan tertawa seperti dulu. Maka lakukanlah" ucap Felix melirik ke arah Keysa yang masih terdiam membisu.


"Kamu tau, Key. Bukan hanya kamu yang merasakan sakit ini. Tapi aku juga, aku juga jauh lebih sakit." ucap Felix dan Keysa masih setia mendengarkannya. "takdir kita berbeda, kita gak ditakdirkan untuk bersama" ucap Felix membuat Keysa menatap ke arah Felix dengan tatapan bertanya-tanya. Tetapi Felix hanya menatap lurus ke depan.


"Maksud kamu apa?" tanya Keysa tidak paham.


"Kita tidak bisa bersama sebagai sepasang kekasih, karena kita bersaudara" ucap Felix lirih membuat Keysa tertegun di tempatnya.


"Saudara? Apa maksudmu?" Keysa semakin bingung di buatnya. Felix berbalik menghadap ke arah Keysa.


"Pak Mahesya adalah ayah biologisku."


Deg


Keysa mematung di tempatnya sampai tubuhnya limbung ke belakang. Dadanya terasa menghimpit keras hingga membuat dadanya sakit tak tertahankan.


"I-ini-" ucapan Keysa tertahan, iya menyentuh dadanya yang terasa sangat sakit. "Ahh,," Ringisnya sudah tak tahan lagi menahan rasa sakit ini.


"Key, kamu kenapa?" Tanya Felix hendak memegang tubuh Keysa tetapi Keysa mengangkat sebelah tangannya menghentikan gerakan Felix.


"Ahh,," Ringisnya semakin menjadi memegang dadanya, wajahnya sudah berkeringat dingin dan pucat pasi.


"Key, kamu baik baik saja kan," ucap Felix sangat khawatir, hingga tubuh Keysa ambruk dan untungnya Felix dengan sigap menahan tubuhnya yang ambruk dan tak sadarkan diri. "Key, sadarlah Key" Felix menepuk pipi Keysa dengan ringan, tetapi masih tak ada respon. Felix juga memegang kedua tangan Keysa yang terasa sangat dingin.


"Key," ucap Felix sangat khawatir. Iapun segera membopong tubuh Keysa dan membawanya menuju rumah sakit yang ada di sana.


Felix mondar mandir resah di luar ruang UGD, seorang dokter tengah memeriksanya. Tak lama dokterpun keluar dari UGD dan mengajak Felix ke dalam ruangannya.


"Bagaimana dia, Dokter?" Tanya Felix tak sabar


"Dia sepertinya syok dan terlihat sangat kelelahan. Tetapi ada sesuatu yang belum bisa saya pastikan," jelas Dokter.


"Apa maksud anda?" Tanya Felix sangat khawatir,


"Dia harus melakukan tes darah untuk mengetahui penyebab pingsannya, untuk sekarang yang bisa saya prediksi, dia hanya kelelahan dan terlalu banyak pikiran." Ucap Dokter.


"Lakukanlah tes darah itu segera," ucap Felix


"Baiklah, kami akan melakukan tes itu segera."


Felix keluar dari ruangan dokter dan berjalan menuju ruangan Keysa. Sesampainya disana, Keysa terlihat sudah bangun dan melepas jarum infusannya.


"Kamu mau kemana, Key?" Tanya Felix segera menahan kedua lengan Keysa.


"Aku mau pulang dan kembali ke Jakarta." Ucap Keysa lirih.


"Tidak bisa, dokter akan melakukan tes darah untuk memastikan sakit kamu. Kamu perlu istirahat dulu." Penjelasan Felix membuat Keysa menatapnya sendu.


"Aku mau pulang sekarang," Keysa melepaskan pegangan Felix dan menuruni brangkar. Ia berjalan melewati Felix dengan hati yang sangat hancur dan sedih.


Kenyataan menyakitkan kembali muncul, dan itu membuat Keysa semakin terhimpit dan rasanya sangatlah sakit.


"Keysa tunggu," Felix menahan lengan Keysa yang berjalan dengan tatapan kosongnya. Felix menarik lengan Keysa hingga mata mereka beradu.


Tak ada air mata di mata Keysa, tetapi Felix mampu melihat kesedihan dan luka yang teramat dalam disana, wajahnya sangat pucat seperti kertas.


"Apa yang kamu bilang itu benar, kalau kita-" Keysa tak mampu meneruskan ucapannya.


"Iya Key, aku adalah kakak seayah kamu, cinta kita terlarang" ucap Felix dengan sendu menatap manik mata Keysa.


Kesya seakan di beri hantaman keras tepat mengenai hati yang sudah banyak sayatan luka itu. "aku mencintai kamu Key, bahkan sangat." Felix mengusap pipi Keysa yang pucat, membuatnya menatap mata Felix yang memerah menahan air matanya. "Sebelumnya aku sudah berniat untuk melamarmu tapi mama Hanin menceritakan semuanya sebelum dia meninggal." ucap Felix lirih menatap mata Keysa yang terlihat kosong.


"Pergi" gumam Keysa lirih membuat Felix mengernyitkan dahinya. "Pergi" sekali lagi Keysa bersuata dengan tatapan kosongnya.


"Maksud kamu?" Felix bingung mendengar penuturan Keysa.


"Pergi ku mohon, aku ingin sendiri" ucap Keysa lagi lirih. "Tidak, kamu sedang sakit. Aku tidak bisa meninggalkanmu." Ucap Felix,


Keysa melepas pegangan kedua tangan Felix dari pipinya, matanya sudah berkaca-kaca hingga setetes air mata luruh dari pelupuk matanya. "Aku ingin sendiri," gumam Keysa terdengar parau.


"Baiklah, aku akan berjalan di belakangmu dengan memberi jarak beberapa meter. Tetapi aku mohon jangan memintaku untuk menjauh, aku mengkhawatirkanmu." Ucap Felix dengan sangat lembut.


Keysa beranjak berjalan lebih dulu dengan berpegangan ke dinding lorong rumah sakit. Felix berjalan di belakang Keysa dengan jarak 10 meter, Hatinya sangat sakit melihat kondisi Keysa, tetapi ia juga tak bisa memaksa Keysa, ia tau saat ini Keysa pastilah sangat syok.


Memang benar... Cinta itu tak harus memiliki. Aku mencintaimu dengan segenap hati. Meskipun tak mungkin rasanya hidup bersama denganmu...


It hurts when you have someone in your heart but can't have in your arms


***


Tiga hari sudah berlalu sejak kepulangannya dari Lombok bersama Felix dengan masih jarak 10 meter. Felix mengalah untuk berdekatan dengan Keysa, walau kenyataannya ia sangat ingin berdekatan dengan Keysa.


Selama tiga hari ini, Keysa mengurung dirinya di dalam kamarnya. Tak ada satu orangpun yang bisa menghubunginya, Felix juga tak mengganggunya. Tetapi tanpa Keysa tau, Felix selalu datang ke rumahnya dan hanya diam di dalam mobil tepat di depan rumah Keysa. Memastikan kalau Keysa akan baik-baik saja,


Hari ini Dhika datang ke rumah Keysa karena Keysa sulit untuk dia hubungi. Harusnya kemarin Keysa sudah masuk ke kantor Mahesya, tetapi Keysa malah tak datang, bahkan sulit untuk di hubungi.


Seorang pembantu rumah tangga mengatakan ke Dhika kalau Keysa tak pernah keluar dari kamarnya sejak kepulangannya dari Lombok. Dhika yang khawatir segera beranjak menuju kamar Keysa dan mengetuknya.


"Key, ini Dhika. Buka pintunya Key." Teriak Dhika menggedor pintu. "Key buka, atau aku dobrak."


Ceklek


Dhika menghentikan ketukannya saat pintu terbuka dan melihat sosok Keysa yang sangat kacau. Wajahnya sangat pucat, matanya bengkak dan rambutnya sangat berantakan.


"Key," panggil Dhika yang kaget melihat kondisi Keysa, tetapi tubuh Keysa ambruk ke pelukan Dhika. "Key," Dhika menepuk pipi Keysa pelan, tetapi Keysa masih tak sadarkan diri. Ia segera memeriksa detak jantungnya dan segera membopong tubuh Keysa membawanya ke rumah sakit.


Felix yang memang baru sampai di depan rumah Keysa, kaget melihat Dhika keluar dengan membopong tubuh Keysa dan memasukkannya ke dalam mobil miliknya. Sepeninggalan mobil Dhika, Felix segera menginjak gas mobilnya mengikuti mobil Dhika.


Felix mengikuti Dhika yang membawa Keysa ke dalam rumah sakit. Hingga langkahnya terhenti saat Dhika memasuki ruang UGD.


"Ada apa dengan Keysa," gumam Felix mengusap wajahnya gusar.


Felix juga tak jauh lebih baik dari Keysa, wajahnya terlihat sangat kalut dan rahangnya sudah di tumbuhi bulu-bulu kecil.


Tak lama, Dhika keluar dari ruang UGD dan langkahnya terhenti saat melihat Felix yang sudah berdiri dan berjalan ke arahnya. "Apa yang terjadi dengannya?" Tanya Felix tajam. Keduanya saling beradu pandangan tajam.


"Anda bukan keluarganya, bukan. Jadi tidak ada urusan anda untuk mengetahui keadaan pasien." Ucap Dhika beranjak melewati Felix.


Bug


Dhika tersungkur ke lantai saat Felix memukul rahangnya dengan sangat keras. Beberapa suster yang ada disana menjerit histeris melihat sang dokter di pukul. Dhika tersenyum sinis dan berdiri tegak sambil mengusap bibirnya yang berdarah.


"Beritahu apa yang terjadi padanya???" pekik Felix sudah sangat emosi.


"Kalau kamu mengetahui keadaannya, apa yang akan kamu lakukan? Tetap menyakitinya?" Tanya Dhika dengan sinis.


"Sialan!!!" Felix hendak melayangkan tinjunya kembali tetapi seseorang datang.


"Hentikan," Okta datang dan menahan Felix.


"Pak Oktavio, sedang apa kau disini?" Tanya Felix yang mengenal Okta. Okta adalah salah satu rekan bisnisnya dalam hal perhotelan dan pembangunan di Lombok.


"Tenang pak Felix, semuanya bisa di bicarakan baik-baik." Ucap Okta.


"Di bicarakan apanya, dokter sialan ini sudah merebut Keysa dariku !!" pekik Felix menunjuk kearah wajah Dhika.


"Apa aku tidak salah dengar? Bukankah anda sendiri yang melepaskannya? Aku tidak merasa mengambilnya dari anda, Tuan yang terhormat." Ucap Dhika penuh penekanan.


"Sialan!!" Felix sudah ingin kembali memukul Dhika, tetapi seorang suster keluar.


"Dokter, detak jantungnya menurun." Ucapnya khawatir membuat Dhika segera beranjak memasuki ruang UGD meninggalkan Felix yang mematung bingung.


"Kenapa? Ada apa sebenarnya?" ucap Felix mengikuti Dhika ingin memasuki ruangan tetapi seorang suster menahannya dan menutup ruangan itu.


"BUKA PINTUNYA SIALAN. APA YANG TERJADI DENGANNYA????" teriak Felix menendang pintu itu dengan perasaan yang sangat kalut.


"Tenanglah tuan Felix, kau tidak mau sampai di seret satpam kan." Ucap Okta dan akhirnya Felixpun mulai tenang.


Setelah menunggu lama, akhirnya Dhikapun keluar dari ruang UGD. Felix kembali mendekati Dhika tetapi di halangi oleh Okta. "Saya akan memanggil keamanan kalau anda masih tidak bisa menjaga sikap anda, tuan Felix." Ucap Dhika penuh penekanan.


"Jelaskan tentang penyakit Keysa sekarang juga." Ucap Felix penuh penekanan.


"Ikut denganku." Dhika beranjak menuju ruangannya diikuti Felix dan Okta.


Sesampainya di dalam ruangan Dhika, Dhika langsung menunjukkan hasil medis Keysa. "A-apa ini?" gumam Felix yang tengah membaca hasil medis Keysa.


"Keysa mengidap penyakit jantung coroner."


Deg


"Apa???" pekik Felix


"Sudah lama ia mengidap penyakit itu. Dan aku adalah dokternya bukan kekasihnya. Kamu paham sekarang," ucap Dhika dengan tenang, tetapi berbeda dengan Felix yang masih menatap syok kertas di pegangannya. Matanya terasa memanas hingga sebutir air mata luruh dari pelupuk matanya.


"Entah apa yang terjadi padanya beberapa hari ini, tetapi kondisinya tak bisa di katakana baik-baik saja," tambah Dhika.


Tubuh Felix semakin limbung dan terduduk di sofa di belakangnya. Ia meremas kertas di genggamannya itu.


"Ayaaahhhhhhhhhh......"


"Ayaaaahhhh jangan tinggalkan Felix ayahhh...."


"Beliau sudah meninggal karena penyakit jantung coroner."


Bayangan kematian papanya terbayang di benak Felix. Ketakutan menghinggapi hatinya, ia takut Keysanya akan....


'Tidak Tuhan,, jangan lakukan...'


***


Desir mengusir


Perih bulir air


Yang mengalir diwajahku


Saat dingin,


kulebur angin


Ku jaring desing


Dengan kerling segumpal puing


Hidupku sinar


Redup menyurup


Hilang bayangan


Di waktu lenggang


Kaulah Ratu yang lenyap


Bagai burung penyap tak bersayap


Kaulah syair


Kata-kata terakhirku yang getir


Bersamamu tak ada usai yang selesai...


--------------To Be Continue--------------