
Happy Reading
----------------------------------------------------------
Dor
Dhika yang baru kembali setelah menelpon mematung melihat tubuh seseorang ambruk ke tanah dengan darah yang mengalir di punggungnya. Wajahnya tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca.
"Devan,," pekik Remon, Felix, dan Keysa.
Devan tiba-tiba saja datang dan melindungi Keysa dan Felix, hingga peluru itu menusuk ke dalam punggungnya.
Bella tidak mampu melakukan apapun karena Remon dan Devan datang dengan membawa polisi. "Devan," Felix berjalan mendekati sahabatnya dengan masih menggendong Keysa.
Ia mendudukan Keysa di sampingnya dan langsung menangkup kepala Devan. "Van, bertahanlah."
Devan hanya tersenyum dengan keringat yang sudah memenuhi wajahnya. Matanya berkaca-kaca melihat Keysa dan Felix. "Berbahagialah," gumamnya.
"Devan," Keysa sudah menangis dengan menggenggam tangan Devan yang sudah terasa dingin.
"Jaga dia Felix, jangan sakiti lagi." ucapnya sekuat tenaga menahan rasa sakitnya.
"Kenapa loe lakukan ini?" ucap Felix.
"Apalagi alasannya, karena loe sahabat gue dan gue mencintai Keysa. Gue menyayangi kalian berdua hingga gue tidak bisa melihat kalian terluka." ucapan Devan membuat Felix berkaca-kaca. "Maaf karena gue sempat ingin merebutnya dari loe." Devan menyatukan tangan Felix dengan Keysa dan menepuknya ringan diiringi senyumannya.
Remon menghampiri mereka, "Van." Devan tersenyum kecil ke arah Remon.
"Ambulance akan segera datang," ujar Dhika menghampiri mereka, Ia menutup pendarahan Devan dengan jaketnya yang basah untuk menghentikan pendarahannya.
Tak lama ambulance datang dan membawa Devan, Keysa ikut ke mobil Felix menuju rumah sakit, Remon menuju ke kantor polisi sedangkan Dhika ikut ke rumah sakit.
***
Sesampainya di rumah Devan dan Keysa langsung di tangani dokter, Devan melakukan operasi pada malam harinya. Felix bersama Keysa yang duduk di atas kursi roda menunggu di luar ruang operasi. Hingga tak lama Clara dan Remon datang.
"Bagaimana Devan?"
"Dia masih di operasi, semoga dia tidak apa-apa." ucap Felix. "Bagaimana Bella?"
"Dia sudah di jebloskan ke penjara, dan gue pastikan dia akan membusuk di dalam sel penjara." ucap Remon berapi-api.
"Loe baik-baik saja kan Key," Clara duduk di samping Keysa. Keysa menganggukan kepalanya, ia harusnya beristirahat tetapi dia ngotot ingin menunggu Devan.
Tak lama pintu ruang operasi terbuka dan keluarlah Dhika bersama satu orang dokter, semuanya mendekati Dhika.
"Keadaannya masih kritis, kami sudah berhasil mengeluarkan peluru dan menghentikan pendarahannya. Hanya tinggal menunggu kondisinya membaik." ucapan Dhika sedikit membuat mereka mampu bernafas lega.
"Dhika, terima kasih karena sudah menolongku. Aku belum sempat mengucapkan terima kasih." ucap Keysa membuat Dhika tersenyum.
"Tidak masalah, Keysa. Bukannya kita ini teman." jawab Dhika tersenyum manis membuat Keysa mengangguk.
"Terima kasih Dokter." ujar Felix.
"C'mon jangan membuatku seperti seorang pahlawan. Santai saja," kekeh Dhika membuat Felix dan Remon ikut terkekeh. "Sebaiknya kamu kembali ke dalam ruanganmu dan beristirahatlah, Key." Keysa menganggukkan kepalanya.
Felix mengantar Keysa ke dalam ruangannya, tak ada yang membuka suara. Felix membopong Keysa dan merebahkannya di atas brangkar. "Terima kasih," ucap Keysa saat Felix sudah duduk di sisi brangkar.
"Sama-sama," Felix tersenyum menatap wajah pucat Keysa. "Key, aku mohon jangan pernah membuatku khawatir lagi. Aku hampir mati saat mendengar kabar dari Dhika kalau kamu di culik dan mobilmu jatuh ke laut." Felix menarik kedua tangan Keysa dan menatapnya dengan tatapan sendu, air mata menggantung di pelupuk matanya.
"Aku tidak bisa membayangkan kalau dokter Dhika tidak memberitahuku. Bagaimana kalau aku atau dia telat datang, aku takut terjadi sesuatu sama kamu. Cukup kemarin kita berpisah dan aku tidak ingin berpisah lagi dengan kamu, Key." tanpa terasa air mata Felix jatuh membasahi pipi membuat Keysa terharu dan ikut menangis.
"Kita akan tetap berpisah Felix, lambat laun aku tidak akan mampu bertahan lagi."
"Jangan katakan itu, aku yakin kamu akan sembuh." Keysa menggelengkan kepalanya ditengah tangisannya.
"Sebenarnya aku tidak banyak berharap akan hubungan kita, mungkin cukup dengan kamu berada di sisiku." ucapnya tertahan, ia merasa tak sanggup untuk berbicara. "Carilah wanita lain yang bisa membahagiakanmu."
"Apa maksudmu????" pekik Felix mulai emosi. "Selama ini aku tersiksa dengan status kita yang sebagai Kakak dan Adik. Dan apa sekarang kamu ingin menghancurkan kembali kebahagiaanku? Apa kamu masih tidak sadar kalau aku sangat mencintaimu???" Felix terlihat emosi.
"Aku tidak bisa bersamamu seterusnya,"
"Kenapa??? Aku tidak perduli dengan penyakitmu. Aku hanya ingin kamu, Keysa."
"Felix, aku mohon jangan sakiti hati kamu terus. Kamu tau sendiri kan kalau penyakitku ini sudah sangat parah, jalan operasipun sudah tidak mungkin. Usiaku tidak akan lammppp." ucapan Keysa terhenti karena Felix menangkup kedua pipinya dan mencium bibir Keysa dengan sedikit kasar. Tetapi semakin lama mulai melembut.
Keysa akhirnya membalas ciuman Felix, bagaimanapun juga dia merindukan Felix. Merindukan sosoknya. Tangannya melingkar di leher Felix.
Felix merebahkan tubuhnya di sisi Keysa tanpa menindihnya dan tidak melepas ciuman mereka yang penuh kerinduan satu sama lain.
***
Saat ini Felix tengah duduk di ruangan Dhika untuk menanyakan kondisi Keysa. Dhika terlihat baru saja melakukan print out dari komputernya. Ia berjalan menuju sofa di mana Felix menunggu dengan gelisah. "Kondisi Devan sudah jauh lebih baik." ucap Dhika membuka pembicaraan.
"Kamu sudah mengatakannya sejak tadi." ucap Felix sedikit sinis membuat Dhika tersenyum kecil. "Bagaimana?"
Terdengar helaan nafas dari Dhika, ia lalu menyerahkan berkas yang baru saja dia print. Felix melirik ke arah Dhika dan membuka berkas itu.
Isinya banyak sekali tulisan dan angka yang tidak di pahami Felix. "Aku tidak akan menyembunyikannya. Keadaannya jauh dari kata baik-baik saja. Dia kritis,"
"Apa tidak ada jalan lain?" gumam Felix sekuat tenaga mengeluarkan suaranya walau di dalam tenggorokannya terasa ada yang mengganjal.
"Aku masih berusaha mencari donor jantung yang cocok untuknya. Semoga itu bisa membantu."
"Kenapa Semoga????" pekik Felix dengan mata yang memerah menahan air matanya.
"Aku bukan tuhan, tapi percayalah aku akan berusaha melakukan yang terbaik untuknya." ucap Dhika masih tenang.
"Tolong, tolong selamatkan Keysaku." seketika air mata Felix luruh membasahi pipi di hadapan Dhika. "Aku tidak ingin kehilangannya lagi, aku sudah sering di tinggalkan dan kehilangan orang-orang yang ku sayang. Dan kini hanya Keysa yang tersisa, aku mohon Dhik."
"Jangan seperti ini, aku akan berusaha menolongnya. Yakinlah pada tuhan,"
Felix terdiam mendengar penuturan Dhika barusan.
***
Felix berjalan perlahan memasuki sebuah bangunan tinggi dan besar. Setelah sekian lama tidak pernah memasuki gedung ini, untuk pertama kalinya ia masuk ke dalam bangunan itu. Ia berjalan memasuki gedung itu yang terlihat sepi.
Langkahnya terhenti saat sudah berada di jajaran paling depan tepat sekali di depan sebuah patung salib dan juga ada beberapa lilin yang menyala disana. Ia terduduk di lantai yang di lapisi karpet merah itu. Tubuhnya bertumpu pada kedua lututnya. ia menundukkan kepalanya menatap nanar karpet merah di bawahnya.
'Sebenarnya aku tidak pernah percaya padamu. Tetapi untuk sekarang aku memohon padamu. Aku mohon, jangan ambil Keysaku. Aku tidak pernah marah saat kau mengambil ayah dan bunda, tetapi ku mohon jangan Keysaku. Jangan biarkan dia pergi.'
Air mata luruh membasahi pipinya, hatinya terasa di remas dengan kuat. Puing kenangan tentang Keysa berputar di kepalanya. Dimana Keysa yang selalu banyak berbicara, berisik, doyan makan. Felix merindukan itu semua, kini sosok Keysa sudah berubah 180 derajat.
Felix sungguh merindukan gadisnya, gadis yang berhasil memikat hatinya. Gadis yang dengan kepolosan dan keluguannya berhasil memikat seorang Felix yang kaku dan dingin. Tingkah lucunya mampu menghibur diri Felix yang memikili masalalu kelam.
Dan kalau sekarang kalau Keysa sampai pergi meninggalkannya. Maka untuk apalagi Felix bertahan hidup? Sudah tidak ada lagi keluarga dan orang yang dia harapkan.
"Kalau kau membenciku maka hukum saja aku, jangan mengambil Keysaku. Aku mohon tuhan,,,"
***
Setelah berganti pakaian dan mengurusi beberapa masalah di kantor, Felix kembali ke rumah sakit dimana Keysa di rawat. Mahesya sudah tidak di rawat lagi, ia sibuk mengurusi kasus Reno dan beberapa tersangka lainnya. Mahesya bahkan belum mengetahui kondisi Keysa.
Felix berjalan memasuki ruangan Keysa dimana Keysa tengah duduk melamun menatap ke jendela dengan tatapan kosong. Tubuhnya yang kecil semakin kurus, wajahnya semakin pucat dan matanya terlihat tak berbinar indah. Ia seperti tak memiliki lagi semangat hidupnya.
"Hai," sapa Felix menyodorkan sebucket bunga ke hadapan Keysa membuatnya menengok. Ia tersenyum kecil seraya menerima bunga itu.
"Cantik," gumamnya.
"Mawar putih kesukaanmu," ucap Felix terus memperlihatkan senyuman terbaiknya.
"Terima kasih," Felix menganggukkan kepalanya.
"Kamu sudah makan?" Keysa mengangguk lirih. "Mau jalan-jalan keluar."
"Iya,"
Felix membopong tubuh Keysa dan mendudukannya di atas kursi roda. Ia membawa Keysa ke taman rumah sakit dimana banyak sekali pemandangan yang menyegarkan mata. Felix berjongkok di depan Keysa dengan tatapan berserinya membuat Keysa mengernyitkan dahinya bingung.
"Menikahlah denganku,"
Deg
Keysa membelalak lebar dan syok mendengar penuturan Felix barusan. Apa maksud Felix, dia melamarnya?
Melamarnya????
Ya tuhann,,,
"Aku ingin kita menikah,"
"Felix, aku mohon-"
"Aku tidak butuh jawabanmu," ucap Felix sedikit kesal. "Kamu tau kan apa yang aku katakan itu perintah bukan pertanyaan." Felix beranjak dari duduknya dengan sedikit kesal.
"Kamu hanya akan menambah beban dengan menikah denganku," cicit Keysa.
"Key-"
"Aku akan meninggal Felix, pahami itu !!" jeritnya diiringi tangisannya yang pecah. "Jangan mempersulit segalanya, jangan memberiku harapan dan tawaran kebahagiaan. Dengan begini saja sudah cukup bagiku, jangan membuatku semakin takut,, hikzzz..." isaknya semakin menjadi.
Felix mematung di tempatnya menatap Keysa dengan matanya yang sudah memerah.
"Aku tau saat ini kondisiku jauh dari kata baik-baik saja. Aku sekarat, untuk apa kamu menikahiku kalau akhirnya aku tetap akan meninggalkanmu. Jangan mempersulitku dengan janji pernikahan. hikzz,,,"
"Apa yang kamu takutkan?"
"Aku takut untuk meninggalkanmu, aku takut keinginanku lebih banyak lagi setelah menikah."
"Key-"
"Aku mohon, jangan memaksaku." Keysa mendorong rodanya dan berlalu meninggalkan Felix yang berdiri kaku di tempatnya.
Felix hanya mampu menatap Keysa yang semakin menjauh dengan tatapan nanarnya. Air matanya kembali luruh membasahi pipi.