
Happy Reading
--------------------------------------------------------------------------
Keysa merenung sendiri dimeja kerjanya. 'Sebenarnya apa yang terjadi dengan Felix? Ada apa dengan keluarganya? Kalau wanita itu memang ibu kandungnya kenapa Felix begitu membenci ibunya? Apalagi seorang pria seperti Felix mampu menangis pedih seperti kemarin' batin Keysa
Hingga seseorang meniup wajahnya Keysa membuatnya tersentak kaget dan sadar dari lamunannya.
"Masih siang non, sudah melamun saja" ucap seseorang yang tak lain adalah Devan.
"Huh,, Ada apa kesini?" tanya Keysa sedikit kesal
"Segitu keselnya diganggu, memang lagi mikirin apaan sih, Key? Sampe gak sadar daritadi aku manggil kamu?" tanya Devan
"Bukan apa-apa kok." Keysa tersenyum kecil. "Kamu kesini mau ketemu Felix?"
"Nggak, orang si Felix lagi gak ada. Aku kesini mau ngajakin kamu makan siang" ucap Devan
"Tumben banget" jawab Keysa terheran-heran
"Ya tidak apa-apa, si Remon lagi pacaran sama si Clara, jadi daripada aku jadi obat nyamuk nantinya, mending ajak kamu makan siang" ucap Devan sedikit bete membuat Keysa terkekeh
"Oke, ayo kita makan siang, tapi kamu yang bayar" ucap Keysa
"Siap"
***
Devan dan Keysa sampai disebuah restaurant makanan jepang dan keduanya beriringan memasuki restaurant itu. Setelah diantar ke meja kosong oleh seorang waiters, Devan menarik kursi dan mempersilahkan Keysa untuk duduk.
"Manis sekali, terima kasih" ucap Keysa duduk dikursi dan Devan hanya tersenyum lalu duduk dikursi yang berhadapan dengan Keysa.
"Baiklah mau pesan apa Key?" tanya Devan dengan lembut
"Apa saja deh yang penting enak dan bisa di makan" jawab Keysa membuat Devan terkekeh
"Oke, biar aku pesankan makanan yang paling enak disini. Disini terkenal sama irisan Salmon,, kamu mau?" tanya Devan
"Salmon? Ummmm...bolehh boleh" ucap Keysa bersemangat, nafsu makannya langsung naik. "Double yah" tambah Keysa membuat Devan terpekik kaget tetapi setelahnya terkekeh.
"Nafsu makan yang tinggi." kekeh Devan, "oke deh aku pesankan double buat kamu" ucapnya membuat Keysa terkekeh
Setelah menyebutkan pesanan mereka kepada waiters, kini Devan dan Keysa mulai berbincang-bincang.
"Van,,," tanya Keysa setelah berbasa basi diiringi candaan kecil
"Hmmm,, kenapa?" tanya Devan menyimpan iphonenya yang barusan dia pegang
"Kamu temenan sama Felix sudah berapa lama?" tanya Keysa
"Dari waktu baru brojol juga aku sudah temenan sama dia, kenapa?" tanya Devan
"Berarti sudah sangat dekat banget yah" tanya Keysa
"Yah begitulah, kenapa Key? Kamu mau tau tentang Felix yah" goda Devan membuat Keysa sedikit merona
"A..aku cuma mau nanya memang Felix orangnya setertutup dan sekaku itu yah?" tanya Keysa
"tidak, sebenarnya dia ramah orangnya dan mudah berbaur. Tetapi saat kejadian itu yang membuat papanya meninggal. Dia seakan menutup diri dari yang lain." jawab Devan. Keysa hendak bertanya lagi tetapi pesanan mereka datang.
"Aroma nya buat perutku semakin berisik" ucap Keysa menatap makanan dihadapannya
"Kamu benar-benar kelaparan yah, ayo makanlah nanti kita bicara lagi" ucap Devan membuat Keysa mengangguk dan mulai melahap makannya dengan lahap membuat Devan terkekeh dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Enak?" tanya Devan dan Keysa mengangguk antusias dengan mengangkat jempolnya, mulutnya penuh dengan makanan.
"Makannya pelan-pelan saja" ucap Devan membuat Keysa kembali mengangguk.
"Kenyang...." ucap Keysa tersenyum puas dan mengelap mulutnya dengan serbet, membuat Devan terkekeh dan gemas melihat tingkah Keysa.
"Kenapa? Ada yang lucu?" tanya Keysa bingung.
"Kamu lucu" kekeh Devan sambil meminum minumannya.
"Oh iya Van, wanita yang sering datang ke kantor itu beneran ibu kandungnya Felix?" tanya Keysa membuat Devan tersedak minumannya.
Ohok ohok ohok
"Pelan-pelan Van" Devan segera mengelap bibirnya dan berdehem untuk menstabilkan suaranya.
"Iya dia ibu kandungnya Felix" ucap Devan dengan santai
"Tapi... Kata Felix orangtuanya sudah lama meninggal" tanya Keysa
"Dia hanya menutupinya saja, ibu kandungnya masih hidup tetapi karena sesuatu hal membuat hubungan mereka jadi seperti ini" jelas Devan
"Kemarin aku baru pertama kalinya melihat dia menangis, sepertinya dia sangat terluka" ucap Keysa. "Aku tidak menyangka orang sekaku dan sedingin Felix bisa menangis seperti itu"
"Dia juga manusia Key, yang memiliki hati" kekeh Devan. "Sebenarnya Felix bukan orang yang kaku dan dingin. Dia sebenarnya seorang yang hangat dan pendiam. Dia selalu ramah sama siapa saja, makanya banyak yang mengejar dia dari jaman kami sekola. Dia menjadi most wanted di sekola kami dulu. Apalagi predikatnya bukan hanya titel murid paling pintar disekola karena nilai-nilainya selalu menjadi paling unggul disekola" jelas Devan. "Dia juga masternya renang, ditambah dia juga lihai dalam bermusik. He is perfect" ucap Devan
"Oh ya? Aku tidak menyangka ternyata mister kaku itu sangat pintar" sahut Keysa antusias. "Dia sangat menyukai renang dan musik?" tanya Keysa
"Renang dan musik adalah hobby nya, dia bisa menghabiskan waktu berjam-jam kalau sedang bermusik dan berenang, bahkan beberapa kai memenangkan turnamen renang. Sebenarnya dia sangat ingin terjun ke dunia hiburan dan fokus bermusik tetapi dia tidak bisa" Jelas Devan
"Kenapa?" tanya Keysa semakin penasaran
"Karena suatu hal, yang membuat dia mau tidak mau harus bertanggung jawab pada perusahaan mendiang papanya karena dia pewaris tunggal Blandino group Company" ujar Devan
"Apa itu?" tanya Keysa semakin penasaran
"Sebegitu penasarannya kamu sama kehidupan Felix," goda Devan
"Bukan begitu, aku hanya penasaran saja" ucap Keysa mendadak salah tingkah.
"Yakin? Aghh... Jangan-jangan memang sudah jatuh cinta lagi sama Felix" goda Devan
"Ng...nggak kok" ucap Keysa dengan gugup.
"Aku hanya kasih info saja, Felix itu tidak percaya cinta dan dia belum pernah jatuh cinta lagi sama siapapun juga. Jadi kalau kamu mau mencoba untuk membuat dia jatuh cinta sama kamu. Lebih baik kamu urungkan niat itu sebelum kamu patah hati karena penolakannya" ujar Devan membuat Keysa merenung
'Kalau Devan bilang fFlix tidak percaya cinta, lalu kenapa kemarin dia bilang aku miliknya. Apa maksud dari kata itu?' batin Keysa
You are mine,,, never approached the man again !!!
Devan mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah Keysa membuatnya mengerjapkan matanya berkali-kali dan tersadar dari lamunannya.
"Eh..."
"Kamu langsung memikirkannya" kekeh Devan, "sudah tidak usah terlalu dipikirkan. Kalau si Felix nolak kamu, aku masih mau kok nerima kamu" goda Devan mengedipkan sebelah matanya
"Ih apaan sih, nggak kok" ucap Keysa langsung melirik jam tangan yang bertengker cantik di pergelangan tangannya. "Sepertinya aku harus segera kembali Van"
Setelah membayar, Devan dan Keysapun berlalu pergi kembali ke kantor. Keysa dan Devan bercanda sambil sesekali tertawa saat mereka berjalan menuju meja Keysa dimana Felix sudah berdiri tegak dengan kedua tangannya dimasukan ke dalam saku celananya. Tatapan tajamnya tertuju pada Keysa.
"Istirahat tidak tau waktu" ucap Felix sangat sinis dan dingin membuat Keysa dan Devan menghentikan tawanya, dan kaget menyadari Felix ada di depan mereka.
"Sori bos, tadi gue yang ajak Key makan siang bareng. Karena keasikan ngobrol jadi lupa waktu" Devan hanya menunjukkan cengirannya
"Kalau mau ajak kencan karyawan saya, bisa diluar jam kerja. Saya tidak suka sama karyawan yang telat dan tidak profesional" ucap Felix dingin penuh penekanan membuat bulu kuduk Keysa merinding..
"Ma...maafkan saya pak. Saya janji ini yang terakhir" ucap Keysa
"Yak... Jangan membuatnya takut. Loe ini so so bawa kata profesional padahal loe cemburu kan sama gue" ucap Devan dengan santai membuat Felix mendengus kesal dan menatap Devan dengan tatapan membunuhnya, sedangkan Devan semakin menampilkan senyuman menyebalkannya.
"Oke deh, gue balik dulu. Aku balik dulu yah Key, makasih sudah mau nemenin aku makan siang" ucap Devan membuat Keysa mengangguk kaku. "Sampai ketemu lagi cantik" Devan mengedipkan sebelah matanya ke arah Keysa. "bye bro" teriak Devan mengangkat sebelah tangannya ke udara dan berlalu pergi.
Felix masih menatap Keysa dengan tajam, membuat Keysa tidak bisa berkutik. Keysa seperti baru saja ketahuan berselingkuh...
"Puas kencannya?" tanya Felix
"Eh.. Aku tidak berkencan sama Devan. Tadi hanya makan siang saja" ucap Keysa dengan polos
"Ck... Sama saja bodoh !! Apapun itu namanya,, aku TIDAK SUKA"ucap Felix penuh penekanan dan berlalu masuk ke dalam ruangannya membuat Keysa bingung.
'Apa yang salah?' batin Keysa
Keysa kembali duduk di kursinya dan mulai mengerjakan pekerjaannya.
Drrt Drrt Drrt Sanas
"Sanas? Ada apa dia? Tumben banget" gumam Keysa dan mengangkat telpon.
"Halo"
"....."
"Gue masih kerja,, kenapa Nas?"
"......"
"Oh gitu,, gue kira loe tidak akan inget lagi sama gue"
"....."
"Ya nanti pulang kerja yah"
"......"
"Ok"
Keysa mematikan telponnya. 'Tumben Sanas ngajakin ketemu pake bilang kangen lagi,, ada apa yah? Apa gue patut curiga sama Sanas? Tetapi sepertinya Reno belum memberitahu Sanas kalau aku sudah mengetahui kebusukan mereka' batin Keysa.
"Saya ngegaji kamu bukan untuk melamun" ucap Felix datar membuat Keysa mendongakkan kepalanya menatap Felix yang sudah berdiri menjulang di hadapannya. "Saya akan keluar, kalau ada tamu atau janji hari ini batalkan semuanya. Saya sedang ingin sendiri dan tidak mau di ganggu"
"Kamu mau kemana?" tanya Keysa ada rasa khawatir menyeruak dihatinya.
"Bukan urusanmu" ucap Felix datar dan berlalu pergi.
"Huft, kenapa lagi dia? Kemarin baik, sekarang balik lagi nyebelin" gumam Keysa.
***
Disinilah sekarang Keysa berada, dihadapan gadis bernama Sanas yang sengaja menjemputnya ke kantor Keysa. Sanas langsung memeluk tubuh Keysa saat mereka pertama kali bertemu.
"Loe kemana saja sih, Key? Gue khawatir tau sama loe, loe ngilang begitu saja" ucap Sanas membuat Keysa meringis dan melepaskan pelukan Sanas. Keysa dan Sanaspun memasuki mobil milik Sanas yang terparkir tak jauh dari sana.
"Kita mau kemana?" tanya Keysa memecah keheningan
"Kita ke mall yah, sudah lama kita tidak kesana. Biasanya kan kita selalu menghabiskan waktu disana" ujar Sanas antusias. 'Apa ini sebagian dari skenario mereka?' batin Keysa.
"Key,, gimana?" tanya Sanas dengan masih fokus menyetir
"Oke" jawab Keysa tersenyum kecil.
Sesampainya di mall, Sanas menarik tangan Keysa untuk memasuki beberapa toko pakaian, sepatu dan tas.
Sanas terus menyodorkan beberapa barang ke Keysa tetapi Keysa hanya menggelengkan kepalanya. 'Loe sahabat terbaik gue, Nas. Kalau saja loe gak nusuk gue dari belakang., mungkin saat ini kita sudah bersenang-senang seperti biasanya.' batin Keysa
"Key,, tumben banget loe gak mau. Biasanya setiap apa yang gue sodorin loe pasti mau" ucap Sanas
"Gue lagi gak mode belanja Nas, kita minum saja" ucap Keysa
"Ya sudah kita ke starbuck saja" ucap Sanas dan dibalas anggukan oleh Keysa.
Mereka memasuki starbuck cofee dan duduk di salah satu kursi dekat jendela dan memesan cofee. Setelahnya Keysa hanya menyentuh gelas cofee nya merasakan kehangatannya.
"So... Sekarang loe tinggal dimana dan sama siapa?" tanya Sanas
"Gue..." Keysa bingung harus jawab apa. Tidak mungkin Keysa jawab kalau dia tinggal bersama bosnya.
"Key...!!!" Sanas menyentuh tangan Keysa membuatnya tersadar. "Loe melamun?" tanya Sanas
"Eh... Nggak kok Nas. Gue tinggal di apartement" ucap Keysa
"Kenapa loe keluar dari rumah?" tanya Sanas
"Tidak apa-apa, gue hanya ingin belajar mandiri. Papa juga sudah mengijinkan" ucap Keysa
"Ada apa sih, Key? Kenapa loe pergi dari rumah? Gue kemarin ambil cuti pulang ke kampung, ada kabar dari paman kalau tante gue sakit. Dan kemarin malem gue baru balik lagi kesini dan gue sangat syok mendengar kabar loe gagal nikah sama Reno dan loe juga pergi dari rumah. Apa yang terjadi Key?" tanya Sanas.
'Loe benar-benar perduli sama gue atau hanya acting dan mencari muka? Loe pulang kampung bukan karna tante loe sakit kan? Tapi karna loe gak mau dateng ke pernikahan gue dan Reno' batin Keysa
"Gue kira kalian lagi pada honeymoon, gue semalem langsung ke rumah loe sengaja mau minta maaf karena gak bisa hadir di acara pernikahan loe" ucap Sanas
"Tidak ada pernikahan Nas" ucap Keysa mengangkat sudut bibirnya.
"Kenapa Key? Apa yang terjadi?" ucap Sanas
"Udah malem,, kita pulang saja" ucap Keysa
"Loe tidak mau cerita?"
"Nanti saja yah, gue lelah dan ingin istirahat"
"Baiklah,," ucap Sanas.
Keduanya beranjak dan saat keluar, Keysa berpapasan dengan seseorang yang dia tau dan sempat dia pikirkan. Keysa mematung ditempat sebaliknya juga. Sanas hanya menatap heran ke arah orang itu dan Keysa. Keysa masih saling menatap dengan orang itu.
"Kamu....."
****