My Ceo

My Ceo
Episode 46



Dhika


Pov


Seperti yang sudah aku rencanakan,


weekend ini aku pergi ke Bandung untuk mengunjungi sahabat-sahabatku. Dewi


salah satu sahabatku, sudah menghubungiku berkali-kali. Bahkan mengancamku agar


segera datang ke kota Bandung dan menengok keponakanku yang baru lahir satu


bulan yang lalu. Memang sudah 6 bulan ini aku tidak pernah berkunjung kesana.


Aku terlalu malas untuk mendengar ceramah dan ocehan dari mereka, mengenai


perempuan dan pernikahan. Cukup Mommy yang selalu merecokiku dalam masalah


perempuan dan pernikahan ini. Sedikit akan aku jelaskan tentang


sahabat-sahabatku itu.


Aku dan mereka sudah bersahabat


dari sejak kecil, bahkan sejak kami masih di dalam kandungan. Karena kebetulan


orangtua kamipun bersahabat.  Kami


memberi nama Brotherhood pada persahabatan kami, yang artinya persaudaraan.


Kami sepakat ingin menjalin persahabatan ini menjadi sebuah persaudaraan dan


kekeluargaan. Persahabatan yang terjalin sejak kecil ini, beranggotakan delapan


orang dengan lima orang laki-laki dan tiga orang perempuan. Persahabatan yang


diketuakan oleh aku sendiri PraDhika Reynand Adinata. Daniel Cetta Orlando,dia


adalah wakil ketua di Brotherhood. Dia termasuk orang yang sangat jelik dan


sangat hati-hati dalam bertindak. Makanya tak heran dia menjadi seorang


pengacara yang cukup hebat dan terkenal di kota ini. Selain Daniel, ada juga Erlangga


Prasaja. Dia sahabatku yang paling santai, kata-katanya cuplas ceplos dan apa


adanya. profesinya adalah seorang Dokter sama sepertiku, hanya saja dia lebih


memilih Dokter umum dan bertugas di AMI hospital cabang yang diBandung. Ada juga ArSeno Basupati, dia


sahabatku yang sangat emosional, gampang marah dan tersinggung tetapi


sebenarnya dia begitu baik dan humoris. Profesinya adalah seorang CEO


diperusahaan yang bergerak dalam bidang percetakan.


Oktavio Adelio Mahya tetapi kami Sering


di panggil sang aliGator, atau lebih tepatnya Gator. Karena dia keturunan buaya


muara dari rawa-rawa. Dan dia yang paling bontot dalam persahabatan ini.


Orangnya sangat sederhana, humoris dan mudah akrab dengan sesama. Umurnya masih


sangat muda dan jauh dibawahku. Tetapi diusianya yang muda dia berhasil menjadi


seorang pengusaha muda terkenal dalam bidang perhotelan, meneruskan usaha


orangtuanya. Mengingat dia, aku teringat alasan dia tidak ingin menikah. Dia


hanya ingin bermain-main saja dengan para kaum hawa, mungkin karena belum


menemukan wanita yang sesuai dengannya.


Dan untuk para perempuannya, aku


mempunyai sahabat yang paling bawel dan selalu saja mengganggu ketentramanku,


memang aku paling dekat dengannya karena sifat dewasa yang dia miliki. Dia juga


yang memaksaku untuk datang ke Bandung dengan ancaman akan membuat cafeku


bangkrut, ancaman macam apa itu. Tidak masuk diakal, dan dia adalah Dewi Zaleka


Fredelima Earnnal, dia seorang ibu rumah tangga dan juga membantuku mengurusi


café yang aku bangun saat aku kuliah dulu. Dia menikah dengan seorang CEO dari


perusahaan yang bergerak dalam bidang proferty. Irene Zahrah Arundati, dia


sahabat perempuanku yang paling muda, yang paling cerewet dan selalu ceria.


Umurnya sama dengan Okta, tetapi dia sudah menjadi seorang Ibu Rumah Tangga.


Iren adalah istri dari ArSeno, anakBrotherhood juga. Mereka yang paling awet


berpacaran.  Dan yang terakhir Elzabeth


Corinna Emery, dia sahabatku yang paling jutek dan galak. Tetapi anehnya dia


malah menjadi seorang guru TK, aku heran bagaimana wanita segalak dia bisa


menjadi seorang guru tk. Dia sudah menikah dengan salah satu anggota


kepolisian, meski pernikahannya sudah jalan 3 tahun, tetapi mereka belum


dikaruniai seorang anak. Mereka semua adalah sahabat-sahabatku, sahabat


sejatiku. Mereka selalu ada dalam keadaan susah maupun senang, mereka juga


selalu membantu setiap ada sahabatnya yang kesusahan. Diantara kedelapan


sahabatku itu hanya aku dan Oktavio yang belum menikah. Sedangkan yang lainnya


sudah menikah dan memiliki anak.


Aku tersadar dari lamunanku saat


sudah sampai didepan sebuah perumahan. Aku membelokkan mobil sportku memasuki


perumahan elit Taman Sari ini. Aku memasuki pekarangan sebuah rumah yang


terlihat sederhana tetapi gaya klasik modernnya terlihat jelas di sana.


Dihalaman rumahnya sudah terdapat beberapa mobil yang berjejer, aku sangat tau


siapa saja pemiliknya. Aku turun dari mobil dengan membawa beberapa kantung


berisi kado untuk para keponakanku. Aku berjalan memasuki rumah yang pintunya


terlihat terbuka sedikit, terdengar suara gelak tawa dan suara berisik dari


ruang keluarga.


"Assalamu'alaikum" Seruku saat


memasuki ruangan itu membuat semua orang menatap ke arahku.


"OmDhikaaaaaaa" panggil


seorang anak laki-laki berumur 5 tahun menghampiriku.


"Hallo


Verrel, ini Om bawa oleh-oleh buat kamu." Aku menyerahkan kotak kado


berwarna biru kepada Verrel yang merupakan anak dari sahabatku Daniel dan


Serli.


"Yeeee,,,


aku dapet kadoo.. makasih Om..." Verrel berjingkrak senang saat menerima


kado itu, membuatku gemas melihatnya. Dan saat bersamaan juga 4 orang anak yang


merupakan anak dari sahabatku juga berlari menghampiriku. 3 orang anak


perempuan dan satu laki-laki yang umurnya lebih dari Verrel. Kini sudah berdiri


di hadapanku, membuatku berjongkok di hadapan mereka. Aku mengeluarkan kado


dari kantong yang aku bawa.


"Ini


khusus untuk keponakan Om yang kembar. Buat Randa dan Rindi."  Aku menyodorkan kado ke arah dua gadis kembar


yang sangat lucu dan cantik. Mereka adalah anak dari sahabatku Irene dan


Arseno. Aku mengusap kepala mereka berdua yang terlihat sibuk membuka kado.


"Rasya


mana Om?" tanya seorang gadis cantik berumur 4 tahun itu dengan


mengadahkan kedua telapak tangannya, membuatku tersenyum.


"Ini


untuk keponakan Om yang paling chubby." Aku menyerahkan kado berwarna pink


sambil mencubit pipi chubbynya.


"Yee...


makasih Om." Rasya mencium pipiku dan berlari menghampiri kedua


orangtuanya.


"Percy


dapet gak om Dhika? Kalau nggak, nanti Percy aduin Mama lho," ucap anak


berusia 6 tahun ini. Dia sangat mirip dengan Mamanya tukang mengancam.


"Ada gak


yah,? Tapi kantongnya udah kosong, maaf yah Percy, Om lupa," ucapku


berpura-pura merasa bersalah.


"MAMA...!!!"


teriak anak ini seperti biasanya membuatku ingin tertawa.


"Dhika,


jangan mulai. Gue gak mau dia sampe nangis," Seru Dewi yang tengah duduk


bersandar di sofa panjang sambil menggendong bayinya.


"Baiklah.


Buat Percy, Om bawa special. Kamu ambil sendiri di mobil Om sama yang buat adik


kamu yah." Wajahnya yang tadinya cemberut kini menjadi berSeri.


Dasar


anak kecil.


Setelah membagikan kado, aku


berjalan ke arah sahabatku dan menyalami mereka. Aku memilih duduk di samping Dewi.


"mana coba anaklu yang kedua?" Ucapku mengambil alih bayi perempuan


lucu dalam gendongan Dewi.


"Lu kemana saja, baru dateng?" tanyaDaniel.


"Gue sibuk" ucapku datar sambil


menatap bayi lucu di hadapanku. "suami lu kemana za? Gak dateng?" tanyaku


pada Elza.


"Dia lagi piket" jawab Elza.


"Maklum, lakinya mamake kan anggota


pembasmi kejahatan" ujarOkta


"Kak Dhika, kamu udah sangat pantas lho


punya bayi,"


ujarSerli sambil membantu putranya membuka kado.


"Iya jangan hanya ngurusin pasien mulu,


mereka dan lebih fokus membawa main bayi kecil di pangkuanku.


"Jangan mulai deh, Dhika baru datang.


Kasian dia, ntar ngambek lagi kayak kemarin dan imbasnya dia gak pernah


datang-datang lagi,"


ucap Elza. Elza memang selalu memahamiku, meskipun dia terlihat cuek tetapi


dialah yang selalu peka dengan perasaan sahabatnya sendiri.


"Elza bener, jangan hanya si


Dhika yang dipaksa buat nikah. Nih playboy buluk belum nikah-nikah juga"


ucap Angga melirik ke arah Gator.


"Yaelah, kalau nikah itu gampang. Tapi


gue gak mau, gue malas berkOmitmen sama cewek. Yang udah-udah juga bikin ribet


dan nyusahin" cibir Gator. Aku tau dia menyindir siapa. Karena saat


kehamilan Serli dan Irene, mereka selalu saja merecoki Gator dan mengganggunya


dengan berbagai macam aneka ngidamnya. Membuat Gator kabur ke Jakarta.


"Alasan saja lu, gak ribet kali. Nikah


tuh enak. Iyakan ayah" ucap Dewi kepada suaminya.


"Iya enak buat lu berdua, nah kalau


bininya kayak kaleng rOmbeng dan cewek Metromini ogah gue," ucap Okta


"Eh Gator, lu gak tau aja. Gue itu


termasuk istri idaman para laki-laki, laki gue aja bersyukur dapet istri kayak


gue" ujarIrene dengan bAngganya


"Iyalah si Senobersyukur didepan lu. Nah


dibelakang lu, dia itu nyesel nikahin lu. Dia takut sama lu,,hahahaha"  Semuanya cekikikan mendengar ocehan Okta,


karena memang semuanya tau kalau arseno susis alias suami takut istri.


"Emang begitu Sayang?" tanyaIrene


penasaran.


"Nggak kok Honey, jangan dengerin si Gator," ucap Seno lembut. " Dasar Julid!" cibir Seno.


"Dasar susis," timpal Gator. "Yang


terbaik tuh bininya si Angga, dia gak pernah ngerepotin gue saat hamil Rasya.


Mereka nikmatin rumah tangga mereka berdua tanpa nyusahin orang lain gak kayak


dua cwek aneh ini,"


ujarGator menunjuk Serli dan Irene.


"Lu juga kalau ntar udah


nikah, pasti ngerasain gimana rasanya. Indah lho menjalani hidup berumah tangga,


iyakan sayang."


Angga merangkul Ratu yang terlihat merona. Mereka berdualah yang selalu


terlihat adem ayem dan romantis.


"Gue nyusahin lu juga,


karena Verrel poNakan lu. Sama anak sepupu sendiri juga," cibir Serli.


"Iya, kalau bukan sepupu


gue, gue sih ogah. Apalagi ngidam lu aneh banget. Pake pengen keliling semua


kota di luar jawab pake kereta api lagi. Bikin gue muntah-muntah karena terlalu


lama dikereta api. Gue curiga si Verrel cita-citanya mau jadi masinis kereta


api,"


ucap Gator.


Ya, aku ingat saat itu, Serli merengek


ke Gator untuk menemaninya keliling kota di luarJawa mengguNakan kereta api.


Meninggalkan Daniel sendiri selama seminggu.


"Enak aja lu kalau ngomong, anak


gue mau jadi seorang Dokter kayak Omnya,"


ucap Serli.


"Gimana Verrel aja bun, dia


bebas menentukan apapun keinginannya" ujarDaniel dengan bijaksananya.


Kami terus berlanjut membicarakan


berbagai hal.


"Ommmm


Dhikaaaaa..." tawaku terhenti saat melihat Percy datang dengan membawa


kado menghampiriku.


"Ada


apa?" tanyaku, kalau sudah berkumpul dengan sahabat-sahabatku. Aku mampu


melupakan semua masalah dan luka membekas di dalam hatiku.


"Aku


nemuin foto ini di jok mobil Om. Tante ini siapa Om? Cantik banget, malahan


Mama dan Tante-tante yang ada di sini jauh kalah cantiknya sama Tante yang di


foto ini," cerocos Percy membuatku mengambil foto itu. Aku tersenyum


melihat gadis yang ada di foto ini.


"Dia


memang sangat cantik." Aku tersenyum kecil mengingatnya. Wanitaku...


Semuanya


terdiam, saat aku melihat mereka tengah menatapku dengan berbagai pandangan.


"Ada apa dengan kalian? Easy guys... Gue baik-baik saja."


"Dhik,


ini udah 10 tahun dari kepergian Lita," ucap Daniel.


"Ya gue


tau, tapi gue gak nyerah untuk selalu menunggunya dating," jawabku dengan


percaya diri.


"Lu yakin


dia akan kembali?" tanya Angga membuatku melihat ke arahnya.


"Ya, gue


yakin!" ucapku pasti, meski hatiku merasa bimbang.


"Apa


mungkin Lita masih hidup?" tanya Serli.


"Dia


masih hidup, aku yakin!" Aku sangat yakin dengan feelingku kalau Lita


masih hidup.


"Dhik,


jangan seperti ini. Lu harus-" ucapan Dewi terhenti saat gue menatap tajam


ke arahnya.


"Nggak


Wi, lu gak perlu ngomong apa-apa lagi. Udah gue bilang, gue hanya akan menunggu


Lita semasa hidup gue. Ntah berapa tahun lagi gue harus menunggunya. Sampai gue


matipun, gue akan tetap menunggunya," ucapku tegas.


"Lu juga


harus pikirin diri lu, Dhik." Kali ini Seno yang bersuara. Ini pembahasan


yang paling aku benci.


"Masa


depan gue akan baik-baik saja, kalian gak perlu khawatir. Gue akan baik-baik


saja," ucapku.


"Apa lu


gak iri sama kita-kita yang udah punya keluarga dan anak?" tanya Daniel.


"Tidak!


Gue akan membangun keluarga asal dengan Lita dan tidak dengan wanita


manapun!" ucapku beranjak setelah mengembalikan bayi Dewi kembali ke


Ibunya.


"Gue ke mushola dulu."


Aku pergi meninggalkan semuanya menuju mesjid yang tak jauh dari rumah Dewi.


Dhika


Pov End


"Dia


selalu saja begitu," keluh Dewi.


"Kalian


semua jangan selalu merecokinya, kasian dia. Gue paham dengan apa yang dia


rasakan, perasaan bersalahnya pada Lita dan rasa cintanya sangat besar,"


ucap Elza.


"Gue


setuju sama lu Mamake, jangan buat Dhika semakin terbebani. Leader kita itu


butuh dukungan dari kita sebagai sahabatnya. Gue yakin Lita belum mati, gue


udah cari tau tentang kebakaran yang terjadi di rumah sakit 10 tahun yang lalu,


dan tidak ada tanda-tanda kalau Lita menjadi korban," ujar Okta.


"Gue juga


berharap Lita belum meninggal," gumam Serli menatap kosong ke depan.


Daniel paham dengan apa yang Serli rasakan. Ia memegang tangan Serli dan


meremasnya. Membuat Serli tersenyum ke arahnya.


***