
Dhika
Pov
Seperti yang sudah aku rencanakan,
weekend ini aku pergi ke Bandung untuk mengunjungi sahabat-sahabatku. Dewi
salah satu sahabatku, sudah menghubungiku berkali-kali. Bahkan mengancamku agar
segera datang ke kota Bandung dan menengok keponakanku yang baru lahir satu
bulan yang lalu. Memang sudah 6 bulan ini aku tidak pernah berkunjung kesana.
Aku terlalu malas untuk mendengar ceramah dan ocehan dari mereka, mengenai
perempuan dan pernikahan. Cukup Mommy yang selalu merecokiku dalam masalah
perempuan dan pernikahan ini. Sedikit akan aku jelaskan tentang
sahabat-sahabatku itu.
Aku dan mereka sudah bersahabat
dari sejak kecil, bahkan sejak kami masih di dalam kandungan. Karena kebetulan
orangtua kamipun bersahabat. Kami
memberi nama Brotherhood pada persahabatan kami, yang artinya persaudaraan.
Kami sepakat ingin menjalin persahabatan ini menjadi sebuah persaudaraan dan
kekeluargaan. Persahabatan yang terjalin sejak kecil ini, beranggotakan delapan
orang dengan lima orang laki-laki dan tiga orang perempuan. Persahabatan yang
diketuakan oleh aku sendiri PraDhika Reynand Adinata. Daniel Cetta Orlando,dia
adalah wakil ketua di Brotherhood. Dia termasuk orang yang sangat jelik dan
sangat hati-hati dalam bertindak. Makanya tak heran dia menjadi seorang
pengacara yang cukup hebat dan terkenal di kota ini. Selain Daniel, ada juga Erlangga
Prasaja. Dia sahabatku yang paling santai, kata-katanya cuplas ceplos dan apa
adanya. profesinya adalah seorang Dokter sama sepertiku, hanya saja dia lebih
memilih Dokter umum dan bertugas di AMI hospital cabang yang diBandung. Ada juga ArSeno Basupati, dia
sahabatku yang sangat emosional, gampang marah dan tersinggung tetapi
sebenarnya dia begitu baik dan humoris. Profesinya adalah seorang CEO
diperusahaan yang bergerak dalam bidang percetakan.
Oktavio Adelio Mahya tetapi kami Sering
di panggil sang aliGator, atau lebih tepatnya Gator. Karena dia keturunan buaya
muara dari rawa-rawa. Dan dia yang paling bontot dalam persahabatan ini.
Orangnya sangat sederhana, humoris dan mudah akrab dengan sesama. Umurnya masih
sangat muda dan jauh dibawahku. Tetapi diusianya yang muda dia berhasil menjadi
seorang pengusaha muda terkenal dalam bidang perhotelan, meneruskan usaha
orangtuanya. Mengingat dia, aku teringat alasan dia tidak ingin menikah. Dia
hanya ingin bermain-main saja dengan para kaum hawa, mungkin karena belum
menemukan wanita yang sesuai dengannya.
Dan untuk para perempuannya, aku
mempunyai sahabat yang paling bawel dan selalu saja mengganggu ketentramanku,
memang aku paling dekat dengannya karena sifat dewasa yang dia miliki. Dia juga
yang memaksaku untuk datang ke Bandung dengan ancaman akan membuat cafeku
bangkrut, ancaman macam apa itu. Tidak masuk diakal, dan dia adalah Dewi Zaleka
Fredelima Earnnal, dia seorang ibu rumah tangga dan juga membantuku mengurusi
café yang aku bangun saat aku kuliah dulu. Dia menikah dengan seorang CEO dari
perusahaan yang bergerak dalam bidang proferty. Irene Zahrah Arundati, dia
sahabat perempuanku yang paling muda, yang paling cerewet dan selalu ceria.
Umurnya sama dengan Okta, tetapi dia sudah menjadi seorang Ibu Rumah Tangga.
Iren adalah istri dari ArSeno, anakBrotherhood juga. Mereka yang paling awet
berpacaran. Dan yang terakhir Elzabeth
Corinna Emery, dia sahabatku yang paling jutek dan galak. Tetapi anehnya dia
malah menjadi seorang guru TK, aku heran bagaimana wanita segalak dia bisa
menjadi seorang guru tk. Dia sudah menikah dengan salah satu anggota
kepolisian, meski pernikahannya sudah jalan 3 tahun, tetapi mereka belum
dikaruniai seorang anak. Mereka semua adalah sahabat-sahabatku, sahabat
sejatiku. Mereka selalu ada dalam keadaan susah maupun senang, mereka juga
selalu membantu setiap ada sahabatnya yang kesusahan. Diantara kedelapan
sahabatku itu hanya aku dan Oktavio yang belum menikah. Sedangkan yang lainnya
sudah menikah dan memiliki anak.
Aku tersadar dari lamunanku saat
sudah sampai didepan sebuah perumahan. Aku membelokkan mobil sportku memasuki
perumahan elit Taman Sari ini. Aku memasuki pekarangan sebuah rumah yang
terlihat sederhana tetapi gaya klasik modernnya terlihat jelas di sana.
Dihalaman rumahnya sudah terdapat beberapa mobil yang berjejer, aku sangat tau
siapa saja pemiliknya. Aku turun dari mobil dengan membawa beberapa kantung
berisi kado untuk para keponakanku. Aku berjalan memasuki rumah yang pintunya
terlihat terbuka sedikit, terdengar suara gelak tawa dan suara berisik dari
ruang keluarga.
"Assalamu'alaikum" Seruku saat
memasuki ruangan itu membuat semua orang menatap ke arahku.
"OmDhikaaaaaaa" panggil
seorang anak laki-laki berumur 5 tahun menghampiriku.
"Hallo
Verrel, ini Om bawa oleh-oleh buat kamu." Aku menyerahkan kotak kado
berwarna biru kepada Verrel yang merupakan anak dari sahabatku Daniel dan
Serli.
"Yeeee,,,
aku dapet kadoo.. makasih Om..." Verrel berjingkrak senang saat menerima
kado itu, membuatku gemas melihatnya. Dan saat bersamaan juga 4 orang anak yang
merupakan anak dari sahabatku juga berlari menghampiriku. 3 orang anak
perempuan dan satu laki-laki yang umurnya lebih dari Verrel. Kini sudah berdiri
di hadapanku, membuatku berjongkok di hadapan mereka. Aku mengeluarkan kado
dari kantong yang aku bawa.
"Ini
khusus untuk keponakan Om yang kembar. Buat Randa dan Rindi." Aku menyodorkan kado ke arah dua gadis kembar
yang sangat lucu dan cantik. Mereka adalah anak dari sahabatku Irene dan
Arseno. Aku mengusap kepala mereka berdua yang terlihat sibuk membuka kado.
"Rasya
mana Om?" tanya seorang gadis cantik berumur 4 tahun itu dengan
mengadahkan kedua telapak tangannya, membuatku tersenyum.
"Ini
untuk keponakan Om yang paling chubby." Aku menyerahkan kado berwarna pink
sambil mencubit pipi chubbynya.
"Yee...
makasih Om." Rasya mencium pipiku dan berlari menghampiri kedua
orangtuanya.
"Percy
dapet gak om Dhika? Kalau nggak, nanti Percy aduin Mama lho," ucap anak
berusia 6 tahun ini. Dia sangat mirip dengan Mamanya tukang mengancam.
"Ada gak
yah,? Tapi kantongnya udah kosong, maaf yah Percy, Om lupa," ucapku
berpura-pura merasa bersalah.
"MAMA...!!!"
teriak anak ini seperti biasanya membuatku ingin tertawa.
"Dhika,
jangan mulai. Gue gak mau dia sampe nangis," Seru Dewi yang tengah duduk
bersandar di sofa panjang sambil menggendong bayinya.
"Baiklah.
Buat Percy, Om bawa special. Kamu ambil sendiri di mobil Om sama yang buat adik
kamu yah." Wajahnya yang tadinya cemberut kini menjadi berSeri.
Dasar
anak kecil.
Setelah membagikan kado, aku
berjalan ke arah sahabatku dan menyalami mereka. Aku memilih duduk di samping Dewi.
"mana coba anaklu yang kedua?" Ucapku mengambil alih bayi perempuan
lucu dalam gendongan Dewi.
"Lu kemana saja, baru dateng?" tanyaDaniel.
"Gue sibuk" ucapku datar sambil
menatap bayi lucu di hadapanku. "suami lu kemana za? Gak dateng?" tanyaku
pada Elza.
"Dia lagi piket" jawab Elza.
"Maklum, lakinya mamake kan anggota
pembasmi kejahatan" ujarOkta
"Kak Dhika, kamu udah sangat pantas lho
punya bayi,"
ujarSerli sambil membantu putranya membuka kado.
"Iya jangan hanya ngurusin pasien mulu,
mereka dan lebih fokus membawa main bayi kecil di pangkuanku.
"Jangan mulai deh, Dhika baru datang.
Kasian dia, ntar ngambek lagi kayak kemarin dan imbasnya dia gak pernah
datang-datang lagi,"
ucap Elza. Elza memang selalu memahamiku, meskipun dia terlihat cuek tetapi
dialah yang selalu peka dengan perasaan sahabatnya sendiri.
"Elza bener, jangan hanya si
Dhika yang dipaksa buat nikah. Nih playboy buluk belum nikah-nikah juga"
ucap Angga melirik ke arah Gator.
"Yaelah, kalau nikah itu gampang. Tapi
gue gak mau, gue malas berkOmitmen sama cewek. Yang udah-udah juga bikin ribet
dan nyusahin" cibir Gator. Aku tau dia menyindir siapa. Karena saat
kehamilan Serli dan Irene, mereka selalu saja merecoki Gator dan mengganggunya
dengan berbagai macam aneka ngidamnya. Membuat Gator kabur ke Jakarta.
"Alasan saja lu, gak ribet kali. Nikah
tuh enak. Iyakan ayah" ucap Dewi kepada suaminya.
"Iya enak buat lu berdua, nah kalau
bininya kayak kaleng rOmbeng dan cewek Metromini ogah gue," ucap Okta
"Eh Gator, lu gak tau aja. Gue itu
termasuk istri idaman para laki-laki, laki gue aja bersyukur dapet istri kayak
gue" ujarIrene dengan bAngganya
"Iyalah si Senobersyukur didepan lu. Nah
dibelakang lu, dia itu nyesel nikahin lu. Dia takut sama lu,,hahahaha" Semuanya cekikikan mendengar ocehan Okta,
karena memang semuanya tau kalau arseno susis alias suami takut istri.
"Emang begitu Sayang?" tanyaIrene
penasaran.
"Nggak kok Honey, jangan dengerin si Gator," ucap Seno lembut. " Dasar Julid!" cibir Seno.
"Dasar susis," timpal Gator. "Yang
terbaik tuh bininya si Angga, dia gak pernah ngerepotin gue saat hamil Rasya.
Mereka nikmatin rumah tangga mereka berdua tanpa nyusahin orang lain gak kayak
dua cwek aneh ini,"
ujarGator menunjuk Serli dan Irene.
"Lu juga kalau ntar udah
nikah, pasti ngerasain gimana rasanya. Indah lho menjalani hidup berumah tangga,
iyakan sayang."
Angga merangkul Ratu yang terlihat merona. Mereka berdualah yang selalu
terlihat adem ayem dan romantis.
"Gue nyusahin lu juga,
karena Verrel poNakan lu. Sama anak sepupu sendiri juga," cibir Serli.
"Iya, kalau bukan sepupu
gue, gue sih ogah. Apalagi ngidam lu aneh banget. Pake pengen keliling semua
kota di luar jawab pake kereta api lagi. Bikin gue muntah-muntah karena terlalu
lama dikereta api. Gue curiga si Verrel cita-citanya mau jadi masinis kereta
api,"
ucap Gator.
Ya, aku ingat saat itu, Serli merengek
ke Gator untuk menemaninya keliling kota di luarJawa mengguNakan kereta api.
Meninggalkan Daniel sendiri selama seminggu.
"Enak aja lu kalau ngomong, anak
gue mau jadi seorang Dokter kayak Omnya,"
ucap Serli.
"Gimana Verrel aja bun, dia
bebas menentukan apapun keinginannya" ujarDaniel dengan bijaksananya.
Kami terus berlanjut membicarakan
berbagai hal.
"Ommmm
Dhikaaaaa..." tawaku terhenti saat melihat Percy datang dengan membawa
kado menghampiriku.
"Ada
apa?" tanyaku, kalau sudah berkumpul dengan sahabat-sahabatku. Aku mampu
melupakan semua masalah dan luka membekas di dalam hatiku.
"Aku
nemuin foto ini di jok mobil Om. Tante ini siapa Om? Cantik banget, malahan
Mama dan Tante-tante yang ada di sini jauh kalah cantiknya sama Tante yang di
foto ini," cerocos Percy membuatku mengambil foto itu. Aku tersenyum
melihat gadis yang ada di foto ini.
"Dia
memang sangat cantik." Aku tersenyum kecil mengingatnya. Wanitaku...
Semuanya
terdiam, saat aku melihat mereka tengah menatapku dengan berbagai pandangan.
"Ada apa dengan kalian? Easy guys... Gue baik-baik saja."
"Dhik,
ini udah 10 tahun dari kepergian Lita," ucap Daniel.
"Ya gue
tau, tapi gue gak nyerah untuk selalu menunggunya dating," jawabku dengan
percaya diri.
"Lu yakin
dia akan kembali?" tanya Angga membuatku melihat ke arahnya.
"Ya, gue
yakin!" ucapku pasti, meski hatiku merasa bimbang.
"Apa
mungkin Lita masih hidup?" tanya Serli.
"Dia
masih hidup, aku yakin!" Aku sangat yakin dengan feelingku kalau Lita
masih hidup.
"Dhik,
jangan seperti ini. Lu harus-" ucapan Dewi terhenti saat gue menatap tajam
ke arahnya.
"Nggak
Wi, lu gak perlu ngomong apa-apa lagi. Udah gue bilang, gue hanya akan menunggu
Lita semasa hidup gue. Ntah berapa tahun lagi gue harus menunggunya. Sampai gue
matipun, gue akan tetap menunggunya," ucapku tegas.
"Lu juga
harus pikirin diri lu, Dhik." Kali ini Seno yang bersuara. Ini pembahasan
yang paling aku benci.
"Masa
depan gue akan baik-baik saja, kalian gak perlu khawatir. Gue akan baik-baik
saja," ucapku.
"Apa lu
gak iri sama kita-kita yang udah punya keluarga dan anak?" tanya Daniel.
"Tidak!
Gue akan membangun keluarga asal dengan Lita dan tidak dengan wanita
manapun!" ucapku beranjak setelah mengembalikan bayi Dewi kembali ke
Ibunya.
"Gue ke mushola dulu."
Aku pergi meninggalkan semuanya menuju mesjid yang tak jauh dari rumah Dewi.
Dhika
Pov End
"Dia
selalu saja begitu," keluh Dewi.
"Kalian
semua jangan selalu merecokinya, kasian dia. Gue paham dengan apa yang dia
rasakan, perasaan bersalahnya pada Lita dan rasa cintanya sangat besar,"
ucap Elza.
"Gue
setuju sama lu Mamake, jangan buat Dhika semakin terbebani. Leader kita itu
butuh dukungan dari kita sebagai sahabatnya. Gue yakin Lita belum mati, gue
udah cari tau tentang kebakaran yang terjadi di rumah sakit 10 tahun yang lalu,
dan tidak ada tanda-tanda kalau Lita menjadi korban," ujar Okta.
"Gue juga
berharap Lita belum meninggal," gumam Serli menatap kosong ke depan.
Daniel paham dengan apa yang Serli rasakan. Ia memegang tangan Serli dan
meremasnya. Membuat Serli tersenyum ke arahnya.
***