
Maafkan typo bertebaran
Happy Reading
-----------------------------------------------------------
Reno.... Sanas...!!!
"Ayo Key, kita balik ke kantor" ucap Clara menarik tanganku dan menatap sinis ke arah Sanas dan Reno.
Aku terus mengikuti Clara tanpa mau menatap mereka berdua, aku semakin muak melihat mereka berdua. Tetapi tiba-tiba saja sebuah tangan kekar memegang pergelangan tanganku, membuatku menengok dan ternyata itu Reno.
"Ada apa?" tanyaku dengan sinis.
"Kita perlu bicara" ucap Reno
"Tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi" jawabku segera menepis tangannya tetapi sangat sulit.
"Ikut aku" tiba-tiba saja Reno menarik tanganku dan membawaku keluar restaurant meninggalkan Clara dan Sanas.
"Lepaskan tanganku, Ren" aku menepis tangannya saat kami sudah sampai diparkiran. Aku langsung memegang pergelangan tanganku yang merah karena cengkraman Reno.
"Kenapa kamu bersikap seperti ini sih, Key? Kamu tidak mau mengangkat telponku, aku ingin menjelaskan segalanya. Kamu sudah salah paham mengenai aku dan Sanas, aku tidak pernah ingin menipumu ataupun om Mahesya" ucap Reno membuatku memalingkan wajahku kesal.
"Mau sampai kapan kamu berakting seperti ini, Ren? Aku sudah bilang, kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi. Kita udah selesai Ren, jangan ganggu aku lagi. Dan mengenai kesalahpahaman itu kita buktikan nanti" jawabku dengan tajam.
"Acting? Acting apa? Aku tidak sedang berakting" jawab Reno membuatku semakin naik darah dan aku hanya bisa tersenyum kecut.
"Oke, Aku akui aku salah. Tetapi sungguh aku tidak pernah bohong tentang perasaanku sama kamu, Key. Aku sungguh mencintai kamu. Aku sudah tidak perduli lagi masalah rencanaku dengan Sanas, aku hanya ingin kembali sama kamu, Key. Aku benar-benar mencintai kamu, aku gak bohong, Key" ucap Reno begitu lirih, tetapi maaf aku tidak akan tertipu lagi untuk kali ini Reno.
"Aku tidak akan pernah termakan rayuanmu lagi, kamu seorang pembohong dan penipu, Ren. Dan aku benci kamu !!" ucapku tajam. "Ingat Reno, sekarang aku sudah menjadi milik Felix dan aku minta jangan pernah kamu menunjukkan wajah kamu lagi dihadapanku. Kalau kamu ingin semua rahasiamu aman di tanganku, maka pergi dari hidupku dan kota ini untuk selamanya. Karena kalau sampai papa tau, kalian berdua akan di jebloskan ke dalam penjara" ucapku tajam dan langsung beranjak meninggalkannya.
"Kamu lihat saja nanti, Key. Aku akan merebutmu dari tangan pria itu. Aku tidak akan pernah melepaskanmu, Key" teriak Reno, aku segera mempercepat laju langkahku menuju mobil Clara, dimana sang pemilik sudah berdiri di dekat pintu mobil.
Author Pov
Setelah kepergian Keysa, Reno hanya bisa menghembuskan nafasnya kasar. Saat berbalik, ternyata Sanas berdiri tak jauh darinya dengan tatapan terlukanya. Reno tidak terlalu memperdulikan Sanas, ia memilih untuk beranjak menuju mobilnya.
"Reno tunggu" panggilan Sanas membuat Reno menghentikan langkahnya, dan Sanas segera berjalan ke hadapan Reno.
"Maksud kamu apa tadi? Bukannya rencana kita sudah di ubah dan tidak lagi berurusan dengan Keysa? Kita hanya harus membuat perusahaan Mahes final. Kebetulan Mahesya sedang tak ada di Indonesia. Tapi kenapa Ren? Kenapa tadi kamu berbicara itu sama Keysa? Kenapa?" tanya Sanas penuh kepedihan hingga tanpa terasa air matanya jatuh membasahi pipi.
"Dua tahun lamanya aku bersabar menunggu kamu Ren, 2 tahun aku bertahan untuk kamu. 2 tahun aku menahan rasa cemburu dan sakit ini hanya demi kelancaran rencana kita. Kenapa sekarang kamu lakuin ini sama aku, Ren? Kenapa?" ucap Sanas sudah menangis terisak membuat orang-orang yang berlalu lalang melihat ke arah mereka.
"Sudahlah, ayo kita pergi" Reno menarik tangan Sanas memasuki mobilnya.
****
Setibanya di kantor, Keysa segera duduk di kursi kebesarannya sambil mengusap wajahnya dengan gusar. 'Apa maksud perkataan Reno? Apa yang dia mau sekarang dariku? Apa yang sedang mereka rencanakan lagi? Apa belum cukup rasa sakit yang kemarin dia berikan padaku? Kenapa dia berkata seperti itu? Aku takut, aku takut dia merencanakan sesuatu yang jahat lagi' batin Keysa. Keysa segera menyambar iphonenya dan menghubungi seseorang.
"Hallo Om, bagaimana papa? Apa sudah di temukan?"
"...."
"Bagaimana ini, Bagaimana mungkin pesawatnya hilang?"
"....."
"Aku rasa Reno dan Sanas bukan pelaku di balik hilangnya papa. Reno dan Sanas bahkan tidak tau kalau papa hilang, yang mereka tau papa sedang ada di Newzeland tengah melakukan perjalanan bisnis."
"....."
"Iya aku paham, pokoknya kabari Keysa terus yah Om. Dan satu lagi secepatnya cari bukti kebusukan mereka berdua. Keysa yakin ada beberapa pemegang saham yang bekerja dengannya"
"....."
"Terima kasih Om"
Keysa menutup sambungan telponnya, dan semakin mengusap wajahnya gusar. 'Papa dimana pa? Kenapa begitu saja menghilang. Aku harus bagaimana pa, aku tidak mungkin mengambil alih posisi direktur begitu saja karena yang mereka tau, papa masih hidup. Ya tuhan, aku harus bagaimana' Batinnya sungguh dalam keresahan.
Keysa meringis saat terasa nyeri yang teramat di dadanya, dia segera meneguk air hingga tandas. dan menundukkan kepalanya menahan rasa sakit yang tiba-tiba saja menyerangnya.
"Key" panggilan seseorang mengagetkan Keysa.
"eh" Keysa menengadahkan kepalanya dan sekuat tenaga menampilkan senyumannya dan menahan kesakitannya.
"Kamu kenapa?" tanya seseorang itu yang tak lain adalah Devan. "Kamu baik-baik saja kan?"
"eh, iya Van. Aku baik-baik saja, kamu datang kesini buat bertemu Felix?" tanya Keysa
"Iya, ada sesuatu yang harus aku kabarin sama dia" ucap Devan
"Tetapi Felix masih belum datang,,"
"Iya aku tau, aku tunggu disini saja sekalian nemenin kamu" ucap Devan seraya mengedipkan sebelah matanya membuat Keysa terkekeh kecil. Iapun duduk di sofa ruang tunggu yang tak jauh dari meja kerja Keysa.
"Remon mana? Biasanya kalian tak terpisahkan seperti ban motor" kekeh Keysa
"Ada, tapi sedang ke ruangan Clara." ucap Devan membuat Keysa menggangguk paham. "Key, kamu beneran baik-baik saja kan. Wajah kamu terlihat sangat pucat" Keysa segera memegang kedua pipinya, dan mengambil cermin untuk melihatnya.
"Ah, mungkin aku kelelahan. Aku baik-baik saja, tenanglah tidak perlu khawatir. Seorang Keysa pantang untuk sakit" Kekehnya membuat Devan ikut terkekeh.
"Syukurlah" Keysa kembali sibuk dengan pekerjaannya. "Key, bagaimana hubungan kamu sama Felix sekarang?"
"Aku sama dia baik-baik saja" jawab Keysa terlihat berbinar.
"Ekspresinya kok menunjukkan lain"Devan tersenyum misterius. "Aku yakin pasti lebih dari baik-baik saja, Iya kan?" goda Devan membuat Keysa merona. Tak lama Felixpun datang,,
"Loe ngapain disini?" tanya Felix mengangkat sebelah alisnya menatap Keysa dan Devan bergantian, ada rasa cemburu di dalam hatinya.
"Tenang bro, gue datang karena ada hal penting yang harus gue katakan sama loe" ucap Devan beranjak dari duduknya.
"Baiklah, masuk ke ruangan gue" ucap Felix datar
"Hay everybody, apa gue melewatkan sesuatu?" tanya Remon yang baru saja datang
"Gak bosen loe, tiap hari pacaran terus" ucap Devan
"Namanya juga kangen bro" jawab Remon diiringi cengiran kudanya.
"Gue tunggu kalian diruangan gue" Felix beranjak terlebih dulu memasuki ruangannya dan sempat melirik ke arah Keysa yang tengah melihat ke arahnya juga, membuat kedua mata itu beradu dan terkunci.
"Ekhem, nyuruh kita masuk tapi bosnya sendiri malah asyik main mata sama sekretaris" celetuk Remon membuat Felix tersadar dan segera memalingkan wajahnya. Felix ingin bertanya kenapa Keysa terlihat pucat tetapi diurungkannya karena ada dua makhluk ghaib ini. Iapun beranjak memasuki ruangannya tanpa berkata apa-apa.
"Dasar makhluk es" ucap Devan membuat Keysa dan Remon terkikik.
"Key, kamu harus ekstra sabar menghadapinya" ucap Remon sambil berjalan memasuki ruangan Felix diikuti Devan.
"Soal mama Hanin" ucap Devan
"Kenapa lagi dengan wanita itu?" tanya Felix dingin, terdengar tak suka.
"Dia ibu kandung loe, Felix" ucap Remon
"Gue sudah tidak mau tau lagi tentang dia," ucap Felix.
"Sebesar apapun kesalahan dia, dia tetaplah ibu kandung loe, Felix" ucapan Remon membuatnya mendengus.
"Kalau kalian hanya mau membahas dia, mending kalian pergi saja. Gue sibuk" Felix beranjak dari duduknya menuju kursi kebesarannya.
"Dia sekarat"
Deg
Ucapan Devan membuat Felix mematung di tempatnya. "Dia sakit Felix, gue baru dapet kabar kemarin. Gue sempat menemuinya, dia ingin ketemu sama loe buat yang terakhir kalinya" jelas Devan.
"Dia mengidap penyakit leukemia, gue sudah tanya sama dokter yang menanganinya. Katanya dia tidak akan mampu bertahan lebih lama lagi, keadaannya sangat kritis. Dia butuh loe, Felix" Jelas Remon, Felix masih mematung di tempatnya memunggungi kedua sahabatnya.
"Gue tau loe masih sangat marah dan mungkin belum bisa memaafkannya, tapi mungkin ini permintaan terakhirnya. Pergilah temui mama loe, jangan sampai loe menyesal." jelas Devan
"Loe tau mana yang harus loe lakuin, dia di rawat di AMI Hospital ruang inap 152. Kalau loe sudah mengendalikan perasaan loe, pergilah temui mama Hanin" tambah Devan
"Kita balik dulu yah" ucap Remon
Keduanya beranjak, tetapi sebelum itu keduanya menepuk bahu Felix dulu yang masih mematung di tempatnya.
Dia mengidap penyakit leukemia,,
Dia tidak bisa bertahan lebih lama lagi..........
Dia kritis..........
Dia butuh loe......
Kata-Kata itu terus terngiang di telinga Felix. Pandangannya kosong...
***
Keysa membereskan semua barang-barangnya bergegas untuk pulang. Tak lama Felix keluar dari ruangannya. "Key, kamu pulang saja lebih dulu. Aku ada urusan dulu" ucap Felix membelai kepala Keysa.
"Kamu baik-baik saja kan?" Keysa khawatir melihat wajah Felix yang sendu dan terlihat tak bersemangat.
"Aku tidak apa-apa, kamu hati-hati di jalan. Kamu pulang bareng sopir, aku sudah memintanya menunggumu di bawah" ucap Felix
"Baiklah,, emmm Felix" ucap Keysa tertahan
"Ya kenapa?" Felix menatap Keysa.
"Hati-hati yah, aku akan menunggu kamu dirumah" ucap Keysa terlihat malu-malu dan mencium pipi Felix sebelum berlari pergi meninggalkan Felix. Felix yang awalnya kaget, kini tersenyum seraya menyentuh pipinya.
***
Keysa sudah berada di dalam mobil menuju rumah Felix, pikirannya masih terbayang memikirkan sang papa. Tiba-Tiba Iphonenya berbunyi menandakan sms masuk.
Sanas
Gue tunggu loe ditaman tempat biasa sekarang juga, ada yang mau gue bicarakan.
Me
Oke,, sekarang gue kesana.
Send
'Mau apa lagi dia?' pikir Keysa. "Pa, kita jangan pulang dulu. Kita ke taman dekat perumahan taman sari"
"Baik mbak" jawab sopir itu
Tak lama, mobilpun sudah berhenti di depan taman. Keysa segera turun dari mobil dan berjalan memasuki taman. Terlihat di dekat tangga kecil, Sanas sudah berdiri membelakangi Keysa. Keysapun segera menghampirinya.
"Ada apa?" pertanyaan Keysa membuat Sanas menengok ke arah Keysa.
"Akhirnya loe datang juga" ucap Sanas terlihat sinis membuat Keysa mengernyitkan dahinya.
"Gue tidak punya banyak waktu, jadi bicaralah" ucap Keysa tak kalah sinis.
"Jauhi Reno !!!" ucap Sanas tajam membuat Keysa semakin mengernyitkan dahi. "2 tahun lalu, gue ikhlasin dia sama loe. Tapi nggak untuk sekarang"
"Loe mengaku juga sekarang, loe sudah menipu dan nusuk gue dari belakang, gue bener-bener gak habis pikir dan tidak menyangka loe sepicik ini" ucap Keysa tersenyum kecil.
"Loe bisa berkata seperti itu, karena loe tidak berada di posisi gue !! Loe gak tau apa yang gue rasain selama ini" ucap Sanas tajam.
"Apa Nas? Apa yang gue gak paham? Sejak kita bersahabat gue selalu berusaha mengerti loe, gue sudah anggap loe sebagai saudara gue sendiri. Tapi kenapa loe tega ngelakuin ini sama gue dan papa" ucap Keysa mulai berkaca-kaca
"Loe mau tau alasannya?" tanya Sanas. "Karena gue sangat membenci loe, Key. Gue benci sama loe !! Dari sejak kita sekolah, semua temen-temen kelas hanya mau temenan sama loe yang seorang putri konglomerat. Gak ada yang mau temenan sama gue, sampai guru-guru juga menyukai loe, loe jadi kebanggaan bagi semua orang. Dan gue, gue hanya jadi cemoohan orang. Bukan hanya itu, papa Mahes yang menyebabkan kedua orangtua gue mati. Karena papa Mahes gagal membantu meningkatkan perusahaan bokap gue, hingga membuat boka[ gue serangan jantung." teriak Sanas kesal dan berapi-api.
"Loe terlalu sombong Key, loe selalu bersikap layaknya tuan putri, yang seenaknya memerintah dan menjadikan gue pembantu loe" ucap Sanas dengan kesal. "Loe selalu memandang gue dengan rasa kasihan, loe selalu memandang gue rendah, apapun yang loe punya loe berikan ke gue, apapun yang loe miliki harus gue miliki juga. Loe selalu memberikan barang-barang bekas loe ke gue !! Gue gak butuh belas kasihan dari loe, Key !! Loe selalu meminta gue untuk memilih ini itu buat loe pakai, gue harus selalu menyediakan semua kebutuhan loe. Loe selalu menganggap gue sebagai pembantu loe" teriak Sanas sudah menangis karena amarahnya.
"Nggak, gue sama sekali gak pernah sedikitpun menganggap loe seperti itu. Gue menganggap loe sebagai kakak gue sendiri, gue gak pernah menganggap loe sebagai pembantu gue" ucap Keysa yang tak menyangka kalau Sanas menyimpulkan sikapnya seperti itu.
"Loe tau, gue kenal sama Reno sudah 5tahun, kami sudah berpacaran selama 2tahun. Keadaan Reno dan aku sama. Kami adalah 2 manusia yang selalu dihina orang, kami sama-sama tidak punya keluarga, karena orangtuanya meninggal dalam kasus kebakaran. Hidup kami sama-sama sebatang kara. Iya memang benar, saat itu gue dan dia menyusun sebuah rencana untuk membalas dendam pada orang-orang yang mencemooh kami." ucap Sanas.
"Dan loe sengaja manfaatin gue?" tanya Keysa yang sudah menangis terisak.
"Ya, karena gue ingin balas dendam sama keluarga loe, terutama loe, Keysa. Loe tau gue jugalah yang mengatur semua pertemuan loe dengan Reno." jelas Sanas semakin membuat Keysa menangis.
"Dan sekarang loe sudah tau semuanya. Tetapi kenapa sekarang loe masih gak mau ngelepasin Reno? sudah cukup selama ini loe ambil perhatian orang banyak, untuk sekarang gue gak akan biarkan loe ambil Reno dari gue, dia milik gue. Hanya milik gue !!" ucap Sanas penuh penekanan matanya terlihat merah penuh emosi. Ini pertama kalinya Keysa melihat sosok Sanas emosi, biasanya Sanas selalu lemah lembut dan santai.
"Gue benci loe, Key!! Jangan pernah tunjukin lagi wajah loe di depan Reno, kalau tidak loe akan menyesal" ucap Sanas tajam dan beranjak pergi meninggalkan Keysa. Keysa terduduk ditanah, hatinya terasa sangat sakit dan sesak. Bahkan dadanya terasa sangat sakit.
Keysa sampai memegang dadanya dan tubuhnya luruh ke lantai karena rasa sakit yang teramat di dadanya. "hikz...hikz....hikz..." Keysa menangis sejadi-jadinya. Ucapan Sanas sungguh membuatnya sangat terluka. Sahabat yang selalu dia anggap paling mengerti dan perduli ternyata begitu membenci dirinya, bahkan Sanas adalah seorang kakak bagi Keysa.
'Apa aku benar-benar sudah egois? Apa aku sudah salah bersikap kepada Sanas selama ini, sampai membuat dia membenciku?' Keysa terus menangis terisak, rasanya seperti baru saja tertimpa sesuatu yang besar tepat di atas kepalanya.
"Hikzzzzz............"
****
Versi ebook dan cetaknya sudah tersedia yah. Yang minat bisa gabung di group atau chat ke wa 081321079375