
Happy Reading
----------------------------------------------------------------
Felix hendak mengantar Keysa pulang, tetapi Keysa menolaknya. Ia ingin sendirian dulu, Felix yang sadar Keysa butuh waktu akhirnya membiarkan Keysa pulang sendiri. Ia hanya mengantarkan Keysa sampai ke mobil milik keluarganya yang terparkir di sana.
Keysa berpamitan untuk pergi, tetapi sebelum Keysa masuk ke dalam mobil. Felix menahan lengannya dan mengecup kepala Keysa, "Hubungi aku secepatnya." bisik Felix membuat Keysa tersenyum kecil. Ia segera memasuki mobil SUV hitam itu tanpa ingin melirik lagi ke arah Felix.
Entah bagaimana sekarang perasaannya pada Felix. Di sisi lain ia merasa bahagia karena Felix bukanlah kakaknya dan setidaknya mereka masih bisa bersama. Tetai di sisi lain, Keysa merasa khawatir dengan penyakit yang ia derita sekarang ini. Ia memiliki harapan baru dalam hidupnya, tetapi itu semakin mempersulitnya, Bagaimanapun juga dia menyadari keadaan fisiknya saat ini.
"Kau terlihat bahagia, Keysa." ucapan itu membuat Keysa terpekik kaget dan menatap ke depannya.
"Bella,"
"Hai Key, kau terlihat bahagia melihatku kembali." ucapnya diiringi seringainya.
"Sedang apa kamu disini, dan dimana sopir pribadiku????" pekiknya.
"Aku sedikit memberinya obat bius, well aku mampu membegal mobil ini." kekehnya membuat Keysa terpekik kaget.
Keysa segera mengeluarkan handphonenya untuk menghubungi seseorang tetapi seketika Bella menghentikan mobilnya dan mengacungkan pisau lipat kearah Keysa. "Berikan handphonemu," Bella menengadahkan telapak tangannya.
"Tidak," Keysa mencoba membuka pintu mobil yang di kunci, ia terus menggedornya dan berteriak membuat Bella tertawa puas melihat Keysa yang kesulitan.
"Arghh!!!" pekiknya saat Bella menggores tangannya membuat handphonenya terjatuh. Bella segera mengambilnya. Keysa yang ingin merebutnya kembali kesulitan karena tangannya yang terluka.
Bella membongkar handphone Keysa dan melemparkannya keluar mobil. "Apa mau mu!!" pekik Keysa sedikit kesal.
"Mau gue?" Tanya Bella menengok ke arah Keysa. "Loe sangat ingin tau mau gue apa?" Tanyanya kembali mencondongkan tubuhnya ke dekat Keysa sambil mengacungkan pisau ke wajah Keysa yang terlihat meringis memegang lengannya yang berdarah. "Gue menginginkan kematian loe," bisik Bella penuh penekanan membuat Keysa melotot kaget.
"Jadi loe yang selama ini-"
"Ya, gue yang neror loe selama ini. Gue sangat ingin melenyapkan loe dari kehidupan Felix dan juga dari dunia ini," ujar Bella sengit menatap tajam ke arah Keysa. Ini pertama kalinya dia melihat wujud iblis wanita secara langsung, dan lebih seram dari iblis yang ada di film-film.
"Apa salah gue sama loe?" teriak Keysa mulai tersulut emosi, dia merasa lelah dengan semua yang terjadi padanya.
"Loe masih nanya salah loe apa?" Tanya Bella dan dengan sekali sentakan menarik rambut Keysa membuatnya meringis kesakitan, Keysa memegang pergelangan tangan Bella mencoba untuk melepaskan cengkraman di rambutnya. Rasa pening langsung menyerangnya, kepalanya sangat sakit bahkan dadanya pun terasa sangat nyeri.
"Jangan pura-pura bodoh, loe sangat tau jelas kesalahan loe apa." bisik Bella penuh penekanan. "dasar wanita bermuka dua," bentak Bella melepas cengkramannya di rambut Keysa dan mendorong kepala Keysa hingga membentur jok belakang mobil.
"Loe mencoba menggoda kembali Felix, loe membuat Felix semakin membenci gue dan menolak gue." bentak Bella. "Dengar," Bella mencengkram rahang Keysa dengan keras."kalau loe gak menggoda Felix, dia akan kembali pada gue. Tapi karena loe, dia mencampakkan gue, berkali-kali dia nolak dan ngusir gue gara-gara loe." teriak Bella, emosinya sudah sampai ke ubun-ubun dengan matanya yang sudah merah menahan air mata. Ingatan Bella kembali pada kejadian beberapa hari lalu di rumah Felix.
Flashback On
Felix tengah menyandarkan kepalanya ke kepala ranjang di kamar miliknya sambil memijit kepalanya. Hingga pintu terbuka dan seseorang berjalan mendekati Felix dengan langkah anggun. Felix masih belum menyadari kehadiran seseorang dikamarnya.
"Keysa.... Aku membutuhkanmu," gumamnya membuat wanita yang berdiri tak jauh dari hadapannya itu mengepalkan kedua tangannya. Wanita yang tak lain adalah Bella, ia kembali berjalan dan duduk disamping Felix, tetapi Felix masih tidak menyadarinya.
"Felix,"
Bella menyentuh lengannya dengan lembut membuat Felix membuka matanya dan menatap ke arah Bella dengan mengernyitkan dahinya.
"Keysa..." Felix tiba-tiba menarik Bella ke dalam pelukannya. Bella bahagia menerima pelukan dari Felix, ia sangat merindukan sentuhan Felix. Tetapi di sisi lain hatinya juga sangat kesal dan terluka karena Felix mengira dia adalah Keysa.
'Apa begitu besar pengaruh wanita itu untuk kamu, my boy?' batin Bella tetapi Bella malah semakin mempererat pelukannya pada Felix. Rasanya Bella tidak ingin melepaskan pelukan ini, Bella ingin sekali waktu berhenti saat ini, saat dia bisa berada dalam dekapan Felix, pria yang sangat ia cintai.
"Keysa, aku sangat mencintaimu." gumam Felix semakin memohok hati Bella. Sekuat tenaga ia menahan tangisnya, ia tidak mau terlihat lemah di hadapan Felix, ia tidak mau Felix semakin menginjak-nginjak harga dirinya.
"Aku juga mencintai kamu,, sangat."
Felix melepaskan pelukannya, membuat Bella merasa kehilangan kehangatan dari tubuh Felix.
"Bella???" Felix memekik kaget melihat Bella dihadapannya. Dan Bella hanya menampilkan senyuman terbaiknya ke arah Felix. "Ngapain kamu di sini?" Tanya Felix kembali dingin membuat hati Bella terasa di iris-iris.
"Aku kangen sama kamu, aku tau kamu sedang sedih. Jadi aku datang untuk menemani kamu," ucap Bella masih dengan senyumannya.
"Aku gak butuh kamu, pulanglah sekarang." Felix semakin dingin dan beranjak dari tempat tidurnya. Hendak keluar kamar, membuat Bella berpikir keras bagaimana caranya agar Felix tidak terus menghindarinya. Dan satu ide komyol terlintas di pikirannya.
Bella berlari ke arah Felix saat ia hendak memegang knop pintu. Bella menarik pundak Felix hingga Felix berbalik kearahnya, dan dengan keras Bella mendorong tubuh Felix dengan tubuhnya sehingga membuat punggung Felix menabrak pintu. Bella ******* bibir Felix dengan ganas, sekuat tenaga menghimpit tubuh Felix dengan tubuhnya agar Felix tidak mampu bergerak.
"Bellhhhhmmmmppppp,," Felix mencoba melepaskan pangutan Bella dari bibirnya tetapi sangat sulit karena tangan dan tubuhnya dihimpit Bella. Bella tidak menghiraukan Felix yang terus mencoba menghindarinya. Bella terus ******* bibir Felix dengan kasar dan menempelkan dadanya yang besar di dada Felix membuat Felix menegang. Karena bagaimanapun juga Felix adalah seorang pria normal.
Bella tersenyum dalam ciumannya melihat Felix yang sudah tegang. Setelah merasa ada kesempatan, tangan Bella hendak memegang milik Felix yang sudah tegang, tetapi gerakan itu menjadi keuntungan untuk Felix mendorong tubuh Bella sekeras mungkin hingga Bella tersungkur ke belakang.
"Sialan kau, *****!!" bentak Felix sambil mengusap kasar bibirnya yang merah. Tanpa menunggu lama, Felix menarik pergelangan tangan Bella hingga dia berdiri dan menariknya keluar kamar hingga sampai di depan pintu. Ia mendorong tubuh Bella keluar.
"Pergi dari sini, dan jangan pernah lagi muncul dihadapanku!!" bentaknya dengan tatapan jijik dan benci. Felix kembali ke dalam rumah tetapi baru beberapa langkah dia terhenti karena seseorang memeluknya dari belakang.
"Aku mencintai kamu, Felix. Sangat mencintai kamu, aku mohon jangan menolak aku lagi," isaknya di pundak Felix. Felix segera melepaskan pelukan tangan Bella di perutnya dan berbalik ke arah Bella.
"Kamu tidak mengerti bahasa Indonesia, Bella?" Tanya Felix mulai jengah menghadapi Bella.
"GET OUT!!!" bentak Felix emosinya sudah sampai ke ubun-ubun.
"Felix beri aku kesempatan sekali lagi saja, aku akan berusaha membuatmu bahagia. Aku akan melakukan apapun untuk kamu asal kamu mau menerimaku lagi," ujar Bella menatap sendu. tetapi Felix hanya diam dan menatapnya dengan tajam. "Aku bisa memuaskan kamu sekarang juga, asal kamu bisa bahagia. Aku hanya ingin selalu disisi kamu, aku hanya ingin kita seperti dulu. Aku sangat merindukan my boy, aku sangat merindukanmu." ucap Bella semakin terisak tapi Felix masih tetap diam. "Aku hanya minta satu kesempatan saja, dan aku tidak akan menyia-nyiakannya. Please my boy, aku ingin pernikahan yang tertunda dulu bisa terlaksana sekarang. Aku ingin membangun sebuah keluarga yang bahagia bersama kamu, hanya bersama kamu my boy." ucap Bella berjalan mendekati Felix dan membelai kedua pipinya.
"Aku sangat mencintai kamu...." Ucap Bella menatap mata Felix yang masih memancarkan kebencian.
"Sudah selesai kamu bicaranya?" Tanya Felix dingin lebih dingin dari sebelumnya membuat Bella mematung di tempatnya. Felix mundur 2 langkah menjauhi Bella. "pergilah, jangan membuatku berlaku kasar padamu."
"Felix aku mohon," ucap Bella memelas.
"Pergi," jawab Felix masih tenang.
"Kamu jadi dingin seperti ini sama aku, gara-gara sekretaris bodohmu itu?" teriak Bella.
"Aku bilang pergi!!" ucap Felix penuh penekanan.
"Gak Felix, sebelum kamu menuhin keinginan aku,"
"Jangan gila Bella,, sekarang pergi dari rumahku." ujar Felix penuh penekanan membuat Bella menyerah dan menghela nafasnya. Bella beranjak hendak pergi tapi langkahnya terhenti saat melihat Keysa berdiri di dekat pintu.
Flashback off
"Loe harus mati wanita ******," teriak Bella mendorong wajah Keysa.
"Aku tidak pernah menggodanya, dia mencintai gue."
Satu tamparan mendarat di pipi Keysa, membuatnya meringis. Keysa merasa panas dan perih di pipinya hingga membuat giginya seakan mau copot.
"APA???? loe bilang cinta????" bentak Bella. "cinta Felix hanya buat gue, BUAT GUE!!" ucapnya penuh emosi. "Gue yang pantes buat dia,"
"Loe hanya wanita murahan yang slalu mencari kesempatan buat menggoda atasannya." Ujar Bella sengit. "setelah loe mati, gue yakin Felix akan kembali sama gue." Ucapnya kembali menjambak rambut Keysa membuatnya meringis menahan ngilu di kepalanya lagi. "INGET, FELIX HANYA AKAN MENJADI MILIK GUE!!" ucapnya penuh penekanan dan mendorong kepala Keysa dengan keras membuat kepalanya semakin pusing.
Bella menghela nafasnya dan kembali duduk di kursi pengemudi. Ia berkali-kali menghembuskan nafasnya perlahan. "Oke, ayo kita melakukan sedikit permainan. Siapa yang masih bertahan hidup, dialah yang akan memiliki Felix."
"Apa maksud loe?" Keysa melotot sempurna mendengarnya.
Bella hanya menyeringai dan menjalankan mobilnya dengan sangat cepat. Keysa menjerit dan berteriak sambil terus menggedor pintu mobil dan kaca jendelanya. Keysa mati-matian menggedor pintu mobil itu tetapi tak di indahkan oleh Bella yang terus membawa mobilnya seperti orang kesetanan.
Keysa sudah sangat ketakutan setengah mati, ia tidak ingin mati sekarang. Ia memang akan meninggal tetapi jangan sekarang. 'Aku mohon jangan sekarang, Tuhan. Biarkan aku bertemu orangtua kandungku dulu.'
Bella menyeringai saat mereka melewati sebuah jembatan panjang dimana di bawah sana adalah sebuah lautan. "Bersiaplah," gumam Bella memindahkan gigi mobil dan menginjak gas mobilnya.
"Loe Gila Bella,,,"
"Ayo kita lihat, siapa yang akan bertahan hidup." Ucap Bella tersenyum menakutkan.
Brak
Keysa menahan nafasnya saat mobil itu menabrak jembatan dan meluncur bebas keluar dari dalam jembatan.
Byurr
Mobilpun masuk ke dalam laut, Bella hanya tertawa puas di dalam sana. Keysa terus berusaha membuka pintu mobilnya dengan sangat ketakutan.
"Arghhh,,," pekiknya saat Bella menusukkan pisau ke kulit kakinya hingga menempus ke jok mobil. Itu membuat Kaki Keysa tersangkut.
"Good Bye," Bella membuka pintu hingga air laut masuk ke dalam mobil dan menerjang dirinya dan Keysa. Mobil terus terbawa arus ke dasar lautan, sedangkan Bella berenang keluar dari dalam mobil menuju permukaan.
Keysa berusaha keras mencambut pisau itu, darah sudah mengalir deras disana. Berharap tak ada binatang laut yang akan menghampirinya.
Nafas Keysa sudah hampir habis, ia tak mampu menahannya lagi. Tusukan itu sangat dalam hingga dia kesulitan untuk melepaskannya.
'Tuhan, kalau memang ini adalah akhir dari perjuanganku. Maka biarkan aku mengetahui siapa orangtuaku.'
Keysa sudah pasrah, matanya hampir terpejam hingga ia melihat sekelebat melewati mobilnya. Ia semakin pasrah kalau itu sejenis hiu atau lainnya karena darah begitu banyak dan pasti mengundang predator laut untuk mendekati.
Sebelum kesadarannya benar-benar hilang, ia melihat sosok Dhika di depannya.
***
Oho oho oho
"Syukurlah kau tidak apa-apa," ucap seseorang membuat Keysa membuka matanya perlahan.
"Dhika," gumam Keysa, Dhika segera membantu Keysa untuk bangun dari rebahannya.
"Kamu baik-baik saja kan?"
Keysa menatap sekeliling, mereka berdua ada di pinggir pantai. "Kamu kenapa berada disini?" Tanyanya dan sedikit meringis saat kakinya terasa sangat sakit.
"Aku melihatmu menggedor pintu mobil tak jauh dari rumah sakit. Aku khawatir terjadi sesuatu jadi aku mengikutimu." Ucap Dhika,
Keysa mampu bernafas lega, ia segera menghamburkan pelukannya di tubuh Dhika dengan isakannya.
"Ada apa Key?"
"Aku lelah, Dhik. Sungguh." Isaknya menangis di pelukan Dhika.
Dhika tak bertanya kembali, ia memilih membiarkan Keysa menangis dalam pelukannya dan mengusap kepalanya dengan lembut.
Felix baru saja datang ke tempat itu saat mendapat pesan dari Dhika. Langkahnya terhenti saat melihat Dhika bersama Keysa berpelukan, hatinya terasa sangat nyeri dan sesak. Ia ingin membiarkannya tetapi tidak untuk sekarang. Keysa hanya miliknya,,
Felix berjalan mendekati mereka, membuat Dhika segera melepaskan pelukannya dan memberi ruang kepada Felix. "Aku akan menghubungi rumah sakit untuk membawakan ambulance." Dhika pergi meninggalkan mereka berdua.
Felix melepaskan jasnya dan menyampirkannya ke tubuh Keysa. "Kamu tidak apa-apa kan?" Tanya Felix terlihat sangat khawatir, Keysa hanya menggelengkan kepalanya.
"Siapa yang melakukan ini, Key?"
Keysa menatap Felix dengan sendu, terlihat jelas tatapan khawatir dari Felix untuknya. "Katakan, siapa yang melakukan ini?" Felix mengusap kedua pipi Keysa yang terlihat sangat pucat.
"Maafkan aku,"
Felix menarik Keysa ke dalam pelukannya dan mengecupi kepala Keysa. "Aku sangat mengkhawatirkanmu,"
"Kalian pikir kalian bisa bahagia, hm." Ucap Bella mengacungkan pistolnya.
"Bella," gumam Felix membopong tubuh Keysa.
"Kalian akan mati," pekiknya sangat emosi.
"Turunkan pistol itu, kita bisa bicara baik-baik." Ucap Felix.
"Tidak ada yang perlu di bicarakan lagi, Felix. Kalian berdua akan mati !!" pekiknya diiringi tangisannya. "Apa yang wanita itu miliki dan yang tidak aku miliki, Felix? Kenapa kamu mencampakkanku dan memilih wanita penyakitan itu !!" pekiknya.
"Aku mencintaimu, sangat mencintaimu Felix."
"Kita bisa bicarakan ini baik-baik Bella, tolong jatuhkan pistol itu." Felix berusaha melindungi Keysa.
"Tidak, kamu pikir aku akan menurutimu. Aku akan membunuh kalian berdua," pekiknya.
Bella mengacungkan pistol itu ke arah Felix dan Keysa. Felix bersiaga untuk membalikkan tubuhnya saat peluru itu di lepaskan.
"Felix," Keysa yang ketakutan mencengkram kuat kemeja Felix.
"Aku akan selalu melindungimu," ucapan Felix membuat Keysa menatapnya diiringi air matanya yang luruh membasahi pipi.
Dor...
***