My Ceo

My Ceo
Episode 44 (Kisah Dokter Dhika)



3 tahun


kemudian…


Pagi yang cerah dan sejuk di AMI


hospital atau Rumah Sakit Adinata Medika International. Salah satu rumah sakit


terkenal di Jakarta. Rumah sakit milik keluarga Adinata, yang sudah masuk


kriteria rumah sakit terbagus se-ASIA.


Diparkiran


khusus para Dokter petinggi, baru saja terparkir sebuah mobil sport McLaren 650S berwarna putih tulang. Tak


lama pemilik mobil itupun keluar, dengan menenteng tas kecil di tangan kanannya.


Kemeja Biru dengan tangannya yang dilipat hingga siku dipadu dengan celana


satin hitam yang sangat pas dengan tubuh pria jangkung itu. Pria dengan wajah


khas blasterannya. Pria ini memiliki mata coklat tajam dengan bulu mata yang


lentik. Membuat semua mata yang beradu dengan mata itu akan meleleh seketika.


Tidak hanya itu, pria yang tengah berjalan menyusuri lorong rumah sakit itu


juga memiliki hidung yang mancung dengan bibir tipis dan merah. Rahangnya yang


kokoh dan tegas dipenuhi bulu-bulu halus dan tidak terlalu tebal, sangat


kontras dengan kulit putih bersihnya. Sungguh sosok yang sangat sempurna dimata


kaum hawa yang melihatnya.


"Selamat pagi


Dokter Dhika"


Sapa beberapa


Suster dan Perawat lainnya yang berPapasan dengan lelaki jangkung yang dipanggil


Dokter Dhika itu. Senyuman manis terukir dibibir seksinya, membuat beberapa


Suster dan Perawat itu terPaku ditempat. Bahkan beberapa orang yang melewatinya


dibuat speechlees dan menganga kagum. Ada juga yang sampai menabrak tong


sampah, dinding rumah sakit bahkan pintu. Pria yang disapa Dokter Dhika itu


terus berjalan memasuki lift, tanpa menghiraukan kegaduhan disekitarnya dan


menekan tOmbol 9 untuk menuju ruangan miliknya.


Ting


Pintu lift


terbuka dan memperlihatkan beberapa ruangan yang semua dindingnya adalah kaca.


Pria itu berjalan menyusuri lorong dan masuk kesebuah ruangan yang di atas


pintunya tertulis Manajer. Pria itu menyimpan tasnya di atas meja yang terdapat


Papa name tag yang terpajang manis di atas meja, bertulis Dr. PraDhika Reynand Adinata, Sp.BTKV,FECTS. Kepala Dokter spesialis


bedah thoraks dan kardiovaskuler.Dokter PraDhika yang biasa dipanggil


Dokter Dhika itu mulai menyalakan laptopnya dan memasukkan sebuah CD ke dalam


CD RoOm. Setelah itu munculah isi dari CD itu di layar laptop bahkan di tiga


computer yang ada di sudut kanan mejanya. Dhika berjalan ke depan meja panjang


yang terdapat 3 layar computer itu. Data medis milik seorang pasien terpangpang


jelas di sana dari beberapa sudut organ yang bermasalahnya. Dhika terlihat


mengamati dengan teliti setiap bagian dari organ pokok manusia itu.


"Severe Three Vessels Coronary Artery Disease," gumam


Dhika dan terus mengamati 3 layar di hadapannya dengan bagian yang berbeda. # Severe Three Vessels Coronary


Artery Disease (penyakit jantung koroner dengan sumbatan di 3 pembuluh darah


koroner kantung). Dhika merogoh saku celana satinnya dan mengeluarkan


handphone miliknya. Dhika terlihat mengotak ngatik handphonenya dan menempelkan


handphone ke telingtanya untuk menghubungi seseorang."Halo Rez,


tolong kumpulkan tim operasi 1 dan suruh ke ruangan saya, kita akan melakukan


briefing sebelum menjalani operasi siang nanti" Seru Dhika dan memutuskan


kembali sambungan telponnya.  Dhika


berjalan menuju patung yang berfungsi sebagai gantungan baju, disambarnya jas


putih dengan name tag Dr. Pradhika Reynand Adinata, Dokter Spesialis bedah


Jantung. DiPakainya jas itu, dan sedikit dirapihkannya. Kini terlihat jelas


sosok Dokter yang tampan nan rupawan. Selang beberapa saat, datanglah lima


orang anak manusia memasuki ruangan milik Dhika. Kelima orang anak manusia yang


diantartanya tiga orang perempuan dan dua orang laki-laki itu berdiri di depan


pintu ruangan yang sudah terbuka.


"Permisi Dokter," ujar


seorang laki-laki berkaca mata itu. Di name tagnya tertera Dr. Reza Pramuda,


Ahli Intensivis. Dhika  yang meruPakan


ketua tim operasi 1 tersebut.  Keempat


orang yang memakai jas putih dan satu orang perempuan memakai pakaian Suster,


duduk disofa berwarna krem yang ada di ruangan Dhika. Dhikapun ikut menyusul


dan duduk disofa single berwarna senada. Sebelah kiri dan kanannya terdapat


sofa double yang sudah ditempati para Dokter dan Suster itu. Dhika mulai


"Nama pasien


Tn. Risman Hanurung. Dia mengidap penyakit jantung Severe Three Vessels Coronary Artery Disease," ucap


Dhika santai sambil menutup berkas itu dan menyimpannya di meja.


"Apa kita perlu


melakukan tindakan dengan melakukan pemasangan cincin, Dokter?" tanya


seorang Dokter wanita keturunan cina itu. Diname tagnya tertera Dr. Chaily


Sugiwo. Dia bertugas sebagai Asisten Utama ketua tim operasi.


"Kita tidak


bisa melakukan itu Dr. lly, saya sudah melihat hasil medisnya. Sumbatan yang


terjadi dalam jantung pasien sangat banyak dan sangat mustahil kita bisa


melakukan procedure itu," jelas Dhika.


"Lalu apa yang


harus kita lakukan, Dokter?" tanya seorang pria yang


terlihat sudah matang. Dia adalah Dr. Khairul Judin,  Dokter ahli paru-paru.


"Kita


akan melakukan tindakan CABG atau Coronary Artery Bypass Grafting" Ujar


Dhika membuat semua orang yang berada di sana fokus memperhatikan. "Dan saya


berharap sangat besar bantuan dari anda Dr. Claudya Ananda Laurent." Tambah


Dhika menatap wanita yang duduk disebelah kanannya. Wajah blasteran khas


Spanyol-IndoNesia melekat dalam dirinya, wanita yang memiliki mata biru terang


dengan rambut pirangnya.


"Saya akan


berusaha semampu saya, Dokter." jawab Claudya yang


meruPakan Dokter spesialis anestesi kardiovaskuler. Dan yang terakhir adalah


Suster handal bernama Meliana Dolna.


"Baiklah, nanti


siang kita akan melakukan operasi dengan system CABG. Dokter Reza, tolong


persiapkan semuanya. Dan Dr. lly, tolong kamu periksa kondisi pasien saat ini," Seru


Dhika.


"Baik Dok," ucap


kelima orang itu. Setelah berdoa bersama sebelum melakukan operasi, mereka


semua akhirnya keluar dari ruangan Dhika, meninggalkan Dhika sendirian disana.


***


Semua


persiapan untuk operasi sudah dilakukan. Dhika baru saja keluar dari ruang


ganti dan mengganti pakaiannya dengan pakaian steril berwarna biru untuk


operasi lengkap dengan penutup kepala, masker dan kaca mata pembesarnya. Dhika


mulai mencuci kedua tangannya hingga bersih dan memasuki ruangan operasi. Pintu


bergeSer dengan sendirinya saat Dhika memasuki ruang operasi itu, beberapa


Suster memasangkan pakaian steril ke tubuh Dhika dan tidak lupa juga sarung


tangan berwarna putih dipasangkan dikedua tangan Dhika. Semua Tim operasi 1


sudah bersiap si posisinya masing-masing. Dhika berjalan ke arah kanan pasien


yang sudah tidak sadarkan diri.


"Kalian


semua siap?" tanya Dhika mencoba menatap satu persatu mata rekan kerjtanya


itu. Dan semuanya mengangguk pasti. "Dr. Claudya, mari kita mulai"


ujar Dhika


"Baik, Dok. Saya


sudah menyuntikkan 2ml pentothal dan atracurium" jelas Claudya setelah


menekan tombol mesin yang ada di hadapannya. "Operasi sudah bisa dilakukan."


"Baiklah,


mari kita mulai," Seru Dhika.


"Pisau bedah." Susterlangsung


memberikan pisau ketangan Dhika. Dhika mulai menggoreskan pisau bedah pada dada


pasien.


"Kanula."


“Bor."


Setelah dada


terbuka dan menamPakan organ yang ada di dalam dada manusia, Dhika mulai


melakukan pembukaan pada sumbatan pembuluh darah koroner sebelah kiri dan


kanan. Setelah selesai, Dhika mulai menjahitnya.


"Potong." ucap


Dhika dan asisten utamapun menggunting benangnya. Setelah selesai maka


dilakukan penutupan kembali pada dada pasien.