
3 tahun
kemudian…
Pagi yang cerah dan sejuk di AMI
hospital atau Rumah Sakit Adinata Medika International. Salah satu rumah sakit
terkenal di Jakarta. Rumah sakit milik keluarga Adinata, yang sudah masuk
kriteria rumah sakit terbagus se-ASIA.
Diparkiran
khusus para Dokter petinggi, baru saja terparkir sebuah mobil sport McLaren 650S berwarna putih tulang. Tak
lama pemilik mobil itupun keluar, dengan menenteng tas kecil di tangan kanannya.
Kemeja Biru dengan tangannya yang dilipat hingga siku dipadu dengan celana
satin hitam yang sangat pas dengan tubuh pria jangkung itu. Pria dengan wajah
khas blasterannya. Pria ini memiliki mata coklat tajam dengan bulu mata yang
lentik. Membuat semua mata yang beradu dengan mata itu akan meleleh seketika.
Tidak hanya itu, pria yang tengah berjalan menyusuri lorong rumah sakit itu
juga memiliki hidung yang mancung dengan bibir tipis dan merah. Rahangnya yang
kokoh dan tegas dipenuhi bulu-bulu halus dan tidak terlalu tebal, sangat
kontras dengan kulit putih bersihnya. Sungguh sosok yang sangat sempurna dimata
kaum hawa yang melihatnya.
"Selamat pagi
Dokter Dhika"
Sapa beberapa
Suster dan Perawat lainnya yang berPapasan dengan lelaki jangkung yang dipanggil
Dokter Dhika itu. Senyuman manis terukir dibibir seksinya, membuat beberapa
Suster dan Perawat itu terPaku ditempat. Bahkan beberapa orang yang melewatinya
dibuat speechlees dan menganga kagum. Ada juga yang sampai menabrak tong
sampah, dinding rumah sakit bahkan pintu. Pria yang disapa Dokter Dhika itu
terus berjalan memasuki lift, tanpa menghiraukan kegaduhan disekitarnya dan
menekan tOmbol 9 untuk menuju ruangan miliknya.
Ting
Pintu lift
terbuka dan memperlihatkan beberapa ruangan yang semua dindingnya adalah kaca.
Pria itu berjalan menyusuri lorong dan masuk kesebuah ruangan yang di atas
pintunya tertulis Manajer. Pria itu menyimpan tasnya di atas meja yang terdapat
Papa name tag yang terpajang manis di atas meja, bertulis Dr. PraDhika Reynand Adinata, Sp.BTKV,FECTS. Kepala Dokter spesialis
bedah thoraks dan kardiovaskuler.Dokter PraDhika yang biasa dipanggil
Dokter Dhika itu mulai menyalakan laptopnya dan memasukkan sebuah CD ke dalam
CD RoOm. Setelah itu munculah isi dari CD itu di layar laptop bahkan di tiga
computer yang ada di sudut kanan mejanya. Dhika berjalan ke depan meja panjang
yang terdapat 3 layar computer itu. Data medis milik seorang pasien terpangpang
jelas di sana dari beberapa sudut organ yang bermasalahnya. Dhika terlihat
mengamati dengan teliti setiap bagian dari organ pokok manusia itu.
"Severe Three Vessels Coronary Artery Disease," gumam
Dhika dan terus mengamati 3 layar di hadapannya dengan bagian yang berbeda. # Severe Three Vessels Coronary
Artery Disease (penyakit jantung koroner dengan sumbatan di 3 pembuluh darah
koroner kantung). Dhika merogoh saku celana satinnya dan mengeluarkan
handphone miliknya. Dhika terlihat mengotak ngatik handphonenya dan menempelkan
handphone ke telingtanya untuk menghubungi seseorang."Halo Rez,
tolong kumpulkan tim operasi 1 dan suruh ke ruangan saya, kita akan melakukan
briefing sebelum menjalani operasi siang nanti" Seru Dhika dan memutuskan
kembali sambungan telponnya. Dhika
berjalan menuju patung yang berfungsi sebagai gantungan baju, disambarnya jas
putih dengan name tag Dr. Pradhika Reynand Adinata, Dokter Spesialis bedah
Jantung. DiPakainya jas itu, dan sedikit dirapihkannya. Kini terlihat jelas
sosok Dokter yang tampan nan rupawan. Selang beberapa saat, datanglah lima
orang anak manusia memasuki ruangan milik Dhika. Kelima orang anak manusia yang
diantartanya tiga orang perempuan dan dua orang laki-laki itu berdiri di depan
pintu ruangan yang sudah terbuka.
"Permisi Dokter," ujar
seorang laki-laki berkaca mata itu. Di name tagnya tertera Dr. Reza Pramuda,
Ahli Intensivis. Dhika yang meruPakan
ketua tim operasi 1 tersebut. Keempat
orang yang memakai jas putih dan satu orang perempuan memakai pakaian Suster,
duduk disofa berwarna krem yang ada di ruangan Dhika. Dhikapun ikut menyusul
dan duduk disofa single berwarna senada. Sebelah kiri dan kanannya terdapat
sofa double yang sudah ditempati para Dokter dan Suster itu. Dhika mulai
"Nama pasien
Tn. Risman Hanurung. Dia mengidap penyakit jantung Severe Three Vessels Coronary Artery Disease," ucap
Dhika santai sambil menutup berkas itu dan menyimpannya di meja.
"Apa kita perlu
melakukan tindakan dengan melakukan pemasangan cincin, Dokter?" tanya
seorang Dokter wanita keturunan cina itu. Diname tagnya tertera Dr. Chaily
Sugiwo. Dia bertugas sebagai Asisten Utama ketua tim operasi.
"Kita tidak
bisa melakukan itu Dr. lly, saya sudah melihat hasil medisnya. Sumbatan yang
terjadi dalam jantung pasien sangat banyak dan sangat mustahil kita bisa
melakukan procedure itu," jelas Dhika.
"Lalu apa yang
harus kita lakukan, Dokter?" tanya seorang pria yang
terlihat sudah matang. Dia adalah Dr. Khairul Judin, Dokter ahli paru-paru.
"Kita
akan melakukan tindakan CABG atau Coronary Artery Bypass Grafting" Ujar
Dhika membuat semua orang yang berada di sana fokus memperhatikan. "Dan saya
berharap sangat besar bantuan dari anda Dr. Claudya Ananda Laurent." Tambah
Dhika menatap wanita yang duduk disebelah kanannya. Wajah blasteran khas
Spanyol-IndoNesia melekat dalam dirinya, wanita yang memiliki mata biru terang
dengan rambut pirangnya.
"Saya akan
berusaha semampu saya, Dokter." jawab Claudya yang
meruPakan Dokter spesialis anestesi kardiovaskuler. Dan yang terakhir adalah
Suster handal bernama Meliana Dolna.
"Baiklah, nanti
siang kita akan melakukan operasi dengan system CABG. Dokter Reza, tolong
persiapkan semuanya. Dan Dr. lly, tolong kamu periksa kondisi pasien saat ini," Seru
Dhika.
"Baik Dok," ucap
kelima orang itu. Setelah berdoa bersama sebelum melakukan operasi, mereka
semua akhirnya keluar dari ruangan Dhika, meninggalkan Dhika sendirian disana.
***
Semua
persiapan untuk operasi sudah dilakukan. Dhika baru saja keluar dari ruang
ganti dan mengganti pakaiannya dengan pakaian steril berwarna biru untuk
operasi lengkap dengan penutup kepala, masker dan kaca mata pembesarnya. Dhika
mulai mencuci kedua tangannya hingga bersih dan memasuki ruangan operasi. Pintu
bergeSer dengan sendirinya saat Dhika memasuki ruang operasi itu, beberapa
Suster memasangkan pakaian steril ke tubuh Dhika dan tidak lupa juga sarung
tangan berwarna putih dipasangkan dikedua tangan Dhika. Semua Tim operasi 1
sudah bersiap si posisinya masing-masing. Dhika berjalan ke arah kanan pasien
yang sudah tidak sadarkan diri.
"Kalian
semua siap?" tanya Dhika mencoba menatap satu persatu mata rekan kerjtanya
itu. Dan semuanya mengangguk pasti. "Dr. Claudya, mari kita mulai"
ujar Dhika
"Baik, Dok. Saya
sudah menyuntikkan 2ml pentothal dan atracurium" jelas Claudya setelah
menekan tombol mesin yang ada di hadapannya. "Operasi sudah bisa dilakukan."
"Baiklah,
mari kita mulai," Seru Dhika.
"Pisau bedah." Susterlangsung
memberikan pisau ketangan Dhika. Dhika mulai menggoreskan pisau bedah pada dada
pasien.
"Kanula."
“Bor."
Setelah dada
terbuka dan menamPakan organ yang ada di dalam dada manusia, Dhika mulai
melakukan pembukaan pada sumbatan pembuluh darah koroner sebelah kiri dan
kanan. Setelah selesai, Dhika mulai menjahitnya.
"Potong." ucap
Dhika dan asisten utamapun menggunting benangnya. Setelah selesai maka
dilakukan penutupan kembali pada dada pasien.