My Ceo

My Ceo
Episode 17



Maaf typpo bertebaran


Happy Reading


-------------------------------------------------------------


------------


Keysa memasuki rumah Felix yang terlihat sangat sepi, ia bergegas memasuki kamarnya untuk mandi.


Selesai mandi Keysa kembali keluar kamar untuk mencari keberadaan Felix di kamarnya tetapi tidak ditemukan. 'Kemana dia?' pikir Keysa.


Keysa kembali mencari Felix tetapi masih tidak menemukannya. Karena lelah akhirnya Keysa memutuskan menuju ke taman belakang. Hingga saat melewati sebuah ruangan yang tertutup pintunya terdengar suara piano yang sedang dimainkan. Karena penasaran, Keysa mendekati pintu berwarna coklat itu.


Ceklek....Pintunya terbuka, Keysa masuk tapi ruangan ini sangat gelap. Hingga pandangannya tertuju pada ruangan kecil yang terlihat menyala lampunya. Ruangan itu tak jauh dari pintu, di dekat pintu, terdapat kaca besar.


Keysa berjalan mendekati pintu itu, dan mengintip dari balik kaca. Terlihat di dalamnya terdapat peralatan musik seperti gitar, bass, drum, microphone, dan piano. 'Mungkin ini studio band milik Felix' pikir Keysa.


Pandangan Keysa tertuju pada seseorang yang tengah memainkan pianonya. Yah... Itu Felix, dia terlihat dengan lihainya menekan tuns tuns piano itu.


ku rindu disayangi


sepenuh hati


sedalam cintaku


setulus hatiku


kuingin memiliki


kekasih hati


tanpa air mata


tanpa kesalahan


bukan cinta


yang melukai diriku


dan meninggalkan hidupku


lagi


tolonglah aku


dari kehampaan ini


selamatkan cintaku


dari hancurnya hatiku


hempaskan kesendirian


yang tak pernah berakhir


Keysa menatap Felix yang menyanyi penuh perasaan. Seakan lagu ini mewakili hatinya saat ini. 'Apa benar yang Devan bilang kalau dia sangat kesepian?' batin Keysa terus memperhatikan Feli.


bebaskan aku


dari keadaan ini


sempurnakan hidupku


dari rapuhnya jiwaku


adakah seseorang


yang melepaskanku


dari kesepian ini


Bukan cinta


yang melukai diriku


Dan meninggalkan hidupku


Lagi


Tolonglah aku


Dari kehampaan ini


Selamatkan cintaku


Dari hancurnya hatiku


Hempaskan kesendirian


Yang tak pernah berakhir


adakah seseorang


yang melepaskanku


dari kesepian ini....


(Dygta_Kesepian)


Keysa melihat ke pedihan di hati Felix melalui matanya yang berkaca-kaca. 'Aku tidak menyangka orang yang dingin, datar dan cuek seperti Felix ternyata menyimpan luka yang dalam di dalam hatinya' batin Keysa.


Keysapun berlalu meninggalkan ruangan itu dan pergi menuju taman belakang, duduk dikursi taman dan memandang langit gelap tanpa bintang. "Langit saja seakan tau isi hatinya yang kosong tanpa ada hiasan bintang" gumam Keysa. Mendengar Felix menyanyi tadi, hatinya bergetar. Felix seakan mengungkapkan kehancuran hatinya melalui lagu yang dia nyanyikan.


Keysa pov


Aku terus menatap langit yang gelap. Memikirkan bagaimana caranya membuat Felix kembali seperti biasanya, tapi disisi lain juga aku memikirkan papa yang masih belum jelas keberadaannya. 


Bagaimana papa sekarang?


Dan lagi Reno....??


Setiap hari dia selalu mengirim pesan dengan perhatiannya. Mungkin dulu aku akan bahagia  mendapatkan pesan-pesan seperti itu tapi sekarang rasanya aku jijik melihatnya. Bayangan perselingkuhan Reno dan Sanas terus terbayang dibenakku. Aku ingin membenci mereka tetapi aku tidak bisa, bagaimanapun juga mereka adalah orang yang selalu dekat dan ada untuk aku.


Aku menghembuskan nafasku kasar. Pikiranku kacau, masalah demi masalah terus datang tanpa ada yang terselesaikan.


"Bagaimana kencannya sama Devan?" ucapan seseorang menyentakkanku, aku menengok dan ternyata Felix sudah berdiri di sampingku. Sejak kapan dia berdiri disampingku dengan tangan kiri yang dimasukan ke dalam saku celananya.


"Kencan?" Aku tidak mengerti maksud dari perkataannya. Aku mendongakkan kepalaku menatap dia tetapi dia masih menatap lurus ke depan.


"Ya, bukankah barusan kalian baru saja kencan romantis" ucapnya dingin


"Aku tidak kencan sama Devan, kami hanya minum kopi dan mengobrol" jawabku sejujurnya, selama ini aku selalu berkata jujur, bukan. Aku tidak suka dengan kebohongan jadi aku selalu berusaha jujur kepada siapapun.


"Oh jadi menurutmu itu bukan kencan, mungkin yang kamu maksud dengan kencan itu, dinner di tempat yang romantis, dan hanya kalian berdua yang ada disana, diiringi musik dan banyak lilin, seperti itu kan?" tanyanya dengan sinis membuatku semakin tidak mengerti


"Baiklah nanti akan aku kasih tau ke Devan, biar dia bisa pintar sedikit saat mengajak kencan seorang wanita" ucapnya semakin sinis. Astaga, dia kenapa sih??


"Aku tau kalian saling menyukai, kenapa tidak sekalian saja kamu pindah ke apartementnya Devan? Gak perlu di sini toh disini juga hanya menyusahkan" ucap Felix sinis.


Apa??? Apa aku tidak salah dengar? Hey bung, kamu yang mengajakku datang kesini. Dan sekarang kau mengusirku...


"Kamu mengusir aku?" tanyaku menatapnya


"Ya... Bisa di katakan seperti itu" ucapnya dingin dengan  memalingkan wajahnya.


Oke Keysa, kamu harus tau diri. Kamu menumpang disini....


Ekhem


Aku berdehem untuk menstabilkan suaraku. "Baiklah,, aku sadar diri kok. Aku akan pergi sekarang juga" ucapku beranjak meninggalkan Felix yang masih mematung ditempatnya.


Airmataku tidak mampu ditahan lagi, aku berlari menaiki tangga dengan tangisku. Kuat Key,, kamu harus kuat... Felix benar. Lagian siapa kamu di mata Felix, jangan menganggap lebih kebaikan Felix... Sadar Key...


Aku segera membereskan semua pakaianku ke dalam koper. Setelah itu aku keluar kamar dan menuruni tangga, aku tidak melihat Felix. Mungkin dia tidak mau melihatku, baiklah lebih baik aku langsung pergi.


Aku berjalan menyusuri jalanan yang sudah sangat sepi, ini sudah jam 11 malam. Aku berusaha mencari taxi untuk kembali ke rumahku.  tidak ada satupun taxi yang lewat, Astaga bagaimana ini? rumah papa cukup jauh dari sini.


Aku meminta tolong siapa yah?


Reno? Oh itu hal yang paling menjijikan, tidak Key. jangan mau masuk ke dalam perangkapnya lagi.


Sanas? tidak tidak, aku sedang tak ingin bertemu dengannya lagi.


Clara??? Sepertinya aku harus meminta bantuan Clara. Aku berhenti berjalan dan mencoba menghubungi Clara tetapi tidak diangkat. hmm... Kemana yah Clara? Apa dia sudah tidur?


Aku memutuskan untuk kembali berjalan menyusuri jalanan sepi ini dengan menggerek koperku.


Aku tidak nyangka Felix setega itu.Aku kan wanita, kenapa di biarkan pergi sendirian di tengah malam seperti ini sih. Apa tidak ada keinginan buat mengejar aku atau nahan aku biar gak pergi gitu.....


Aghh kau bodoh Key,, terlalu tinggi keinginanmu. Mana mungkin Felix seperti itu, memang aku siapanya dia? Aghh bodoh kau Key....


Langkahku terhenti saat melihat 3 pasang sepatu dihadapanku, perasaanku menjadi tidak enak. Aku mendongakkan kepalaku dan terlihat 3 orang pria berbadan besar dan menyeringai.


Mengerikan....


Aku yakin mereka adalah preman.


"Mau kemana nona cantik malam-malam begini sendirian" ucap salah satu preman itu yang memakai jaket jeans biru. Aku tidak menjawab dan terus mundur.


"Lebih baik kamu ikut kami bertiga" ucap seorang yang rambutnya gondrong sambil melangkah mendekatiku


"Jangan macam-macan kalian!!" ucapku tajam


"Waw,, galak sekali. Tapi aku menyukainya" ucap satu lagi yang berkumis.


Aku kembali mundur dan mereka semakin mendekat. "Stop disana jangan dekat-dekat, kalau nggak aku akan teriak" ucapku garang. Mereka malah tertawa terbahak-bahak.


"Teriaklah nona, tidak akan ada yang mendengarmu" ucap yang gondrong


"Tolonggg.......tolongggg.....tolhhmmmmpp" mulutku dibekap oleh yang memakai jaket jeans biru. Aku terus berontak dan memukuli tubuhnya agar melepaskan bekapannya.


"Cepat bawa dia kesemak-semak" perintah yang berkumis


"Hmmmm....hmmmmm" Aku berusaha untuk berteriak tapi tidak bisa.  Tubuhku dihempaskan kererumputan lalu yang berkumis itu langsung menindih tubuhku.


Tuhan tolong aku, aku lebih baik mati daripada harus dilecehkan seperti ini...


"Kau sangat cantik, manis" ucapnya membelai pipiku langsung aku tepis dengan kasar


"Jangan sentuh aku dengan tangan kotormu itu !!" teriakku


"So jual mahal" ucapnya lalu memegang kedua tanganku dan menyimpannya disamping kepalaku.


"Tolong.....tolongggg" Aku menangis,, aku takut sekarang !! Aku terus menghindari saat bibir hitamnya akan menyentuh bibirku. Aku memejamkan mataku karena takut.


Tuhann.. Cabut saja nyawaku sekarang !! Aku tidak mau,,,, aku tidak mau dia mengambil keperawananku.....


Tetapi tiba-tiba tangannya terlepas dari kedua tanganku dan badanku tidak terasa di tindih lagi. Aku mendengar suara perkelahian,,


Bug


Bug


Bug


Apa yang terjadi? Apa aku sudah meninggal? Apa tuhan sudah mencabut nyawaku? aku merasa badanku melayang. Apa aku sudah berada di alam lain sekarang?


"Bukalah matamu" suara berat ini? Aku kenal suara ini. Apa disurga juga ada malaikat seperti dia?


"Kamu belum mati, Key. Buka matamu" ucapnya menghela nafas. Aku mengintip sedikit dan langsung menutup mataku kembali.


Benar dia Felix,,, kenapa dia ada disini?


Lalu aku merasa sesuatu yang kenyal dan basah menyentuh bibirku.


Cup


Spontan aku membuka mataku, dan terlihat wajah Felix yang menatapku datar. Aku melihat sekeliling, ternyata masih ditempat yang sama dan aku tidak melihat 3 preman itu lagi. Kemana mereka? Bodoh... Ngapain nanyain mereka.


"Jadi aku belum mati" gumamku


"Belum,, kau masih sehat" ucapnya dingin lalu berjalan dan mendudukanku dibangku penumpang mobilnya. Lalu dia beranjak mengelilingi mobilnya dan duduk dibangku pengemudi.


Aku memperhatikan wajahnya dan betapa kagetnya aku, melihat ujung bibirnya sobek dan lebam disekitar rahangnya. Aku menyentuh lukanya membuat dia meringis.


"Maaf" ucapku menarik kembali tanganku. "Ka...kamu yang ngalahin preman-preman itu?"


"Kamu pikir siapa" ucapnya dingin. Aku sudah biasa dengan sifatnya yang selalu berubah-ubah  seperli bunglon itu


"Hmmm" dia hanya menjawab seperti itu dan tetap fokus menyetir. Dasar manusia es. Lebih baik aku melihat keluar jendela mobil saja.


"Kenapa kesini? kenapa tidak mengantarkan aku pulang ke rumah saja?" tanyaku saat tau arah jalan ini menuju kemana.


"Aku lelah" jawabnya, membuatku mencibir kesal.


Sesampainya dirumah Felix, aku kembali menderek koperku. Felix entah kemana, dia sudah meninggalkanku sendiri.


Ini sangat lucu, setengah jam yang lalu dia mengusirku dan buat aku menangis kejer. Dan sekarang dia bawa aku kembali ke rumahnya. Cape-cape kan aku derek koper kesana kemari, yang akhirnya balik lagi kesini. Mana pake acara ketemu preman segala.


"Menyebalkan sekali" gerutuku masuk ke dalam kamar dan menyimpan koperku begitu saja. Aku bergegas mandi dengan sangat bersih dan mengganti pakaianku. Aku tidak mau aroma preman tadi masih nempel dibadanku.


Selesai itu, aku mengambil P3K dan mengetuk pintu kamar Felix. "Masuk"


Setelah ada sahutan, aku masuk ke dalam kamarnya. Terlihat dia sedang bersandar di kepala ranjang menatap ke arahku dengan tatapan datarnya. "Ada apa?" tanya datar.


Aku berjalan mendekatinya dan duduk disisi ranjang dengan tetap menghadapnya. Aku membuka kotak P3K dan mengoleskan alkohol ke kapas. Setelah itu aku hendak mendekatkannya ke luka Felix.


"Apa itu?" tanyanya dengan kernyitan di dahinya.


"Diamlah, aku akan mengobatimu" ucapku


"Tidak perlu" ucapnya dingin. Aku hanya memutar bola mataku malas, dan tanpa menghiraukannya aku menekan kapas ini ke luka di bibirnya membuat dia meringis kesakitan.


Rasakan....


"Sssssssttttt.... Sakit bodoh" ucapnya


"Cemen banget sih,, cuma gini saja kesakitan" jawabku santai dan fokus mengobati luka lebamnya dan luka dibibirnya.


Aku melirik dia dari sudut mataku, ternyata dia sedang menatapku dengan intens. Membuatku semakin gugup.


Please... Jangan melihatku seperti itu,,,


"Awww.... Pelan-pelan Key" Ringisnya dengan kesal.


"Maaf yah" aku tidak sengaja menekannya terlalu keras, habisnya dia membuatku gugup.


Selesai juga mengobatinya. Aku segera membereskan kembali isi p3k dan hendak beranjak pergi tetapi Felix menahan tanganku.


"Emm...ada apa?" tanyaku semakin gugup dan jantungku berdetak kencang seperti genderang.


"Kamu temani aku tidur disini" ucapnya bukan sebuah pertanyaan melainkan pernyataan atau lebih dominan perintah. "Cepatlah, simpen saja ini disini" dia mengambil kotak p3k dari tanganku dan menyimpannya di atas nakas.


"Tidurlah disini" ucapnya menepuk kasur disampingnya. Aku masih diam dan bingung, lalu dia menarik tanganku hingga aku terjatuh ke dalam pelukannya. Dia memindahkan badanku ke sampingnya dan menyelimuti tubuhku. (Seperti dimultimedia)


"Aku tidak akan berbuat apa-apa sama kamu, aku hanya ingin seperti ini" ucapnya seraya memejamkan mata dan aku masih menatap wajahnya yang terlihat tenang dan tampan.


Meskipun ada luka di sudut bibirnya tetapi kadar ketampanannya tidak berkurang sedikitpun. "Cukup mengagumi ketampananku,, sekarang tidurlah" ucapnya masih tetap memejamkan matanya.


Aneh... Dia tau darimana  aku memperhatikan wajahnya.


"Tidur Key, sudah malem" ucapnya dengan lembut seraya mengelus kepalaku.


Aku terbuai dibuatnya,,


Tuhan... Aku ingin waktu berhenti disini saat dia selembut ini kepadaku,,


Dia membuka matanya dan mata kami bertemu,,,


"Mau tidur atau mau aku cium" ancamnya dan secepat kilat aku memejamkan mataku. "Anak manis" ucapnya seraya mengelus kepalaku, semoga malam ini aku mimpi indah bersama pangeranku...


***


Author pov


Keysa mengerjapkan matanya berkali-kali dan melihat Felix sudah tidak ada disampingnya. Keysa bangun dari tidurnya dan merentangkan kedua tangannya. "Rileks sekali" gumamnya.


Keysa beranjak dari tempat tidur Felix. "Felix...." teriak Keysa mencari keberadaan Felix di dalam toilet tetapi  tidak ada.


"Apa mungkin dia sudah berangkat ke kantor?" gumam Keysa lalu berlari ke dalam kamarnya


***


Sesampainya dikantor Keysa juga tidak menemukan Felix, dan karyawan lain juga tidak ada yang melihatnya. "Kemana dia?" gumam Keysa duduk dikursinya.


Setiap ulang tahun, dia selalu menghindar dari orang-orang dan menyendiri. Entah apa yang dia tunggu dan dia harapkan. Ucapan Devan seakan menyadarkan Keysa,,


"Sepertinya aku tau dimana dia" Keysa segera beranjak mengambil tasnya.


Saat Keysa hendak menaiki sebuah taxi. "Keysa" teriak seseorang mengurungkan niat Keysa untuk menaiki taxi.


"Mama Hanin" ucap Keysa memeluk Hanin.


"Dimana Felix?" tanya Hanin


"Keysa sedang mencarinya ma" ucap Keysa


"Ini Key" Hanin menyodorkan keranjang cukup besar kepada Keysa


"Apa itu?" tanya Keysa bingung.


"Pergilah dan  temui Felix. Rayakan ulangtahunnya, mama sudah memasakkan makanan untuk kalian makan bersama, mama harap Felix mau memakannya" ucap Hanin menatap sedih keranjang itu, dan Keysa menerimanya.


"mama tenang saja, Keysa pastikan Felix akan menghabiskan semua makanan ini" ucap Keysa bersemangat.


"Terima kasih Key" ucap Hanin diiringi senyumannya


"Sama-sama, ma. Kalau gitu Key pergi dulu yah ma" ucap Keysa


"Iya hati-hati dijalan nak" ucap Hanin


"Iya ma, dah mama" Keysa masuk ke dalam taxi.


***


Keysa berjalan mendekati danau, terlihat mobil Felix terparkir disana. "Aku yakin, pasti kamu kesini" gumam Keysa berjalan mendekati Felix yang duduk di ujung papan dengan kaki yang menggantung ke bawah.


Keysa mendekati Felix dan berdiri disampingnya membuat Felix menengok ke arahnya. "Sir, pekerjaan dikantor menumpuk. Anda malah bersembunyi disini" ucap Keysa


"Aku malas ke kantor, aku ijin sehari" ucapnya datar


"Kamu sangat menyukai merayakan hari ulang tahun sendiri" ucap Keysa membuat Felix mengernyitkan dahinya menatap Keysa.


"Aku tidak ulang tahun hari ini" ucapnya datar


"Dasar tukang bohong" ucap Keysa "aku tau,, aku mengambil ktpmu" ucapnya cuek


"Kau benar-benar pencuri kecil" ucapnya


"Well, sampai kapan kamu akan berdiam diri disini?" tanya Keysa


"Sampai berganti hari" ucapnya


"Menyedihkan,, biasanya saat aku berulang tahun. Aku selalu dikasih banyak ucapan oleh orang-orang tersayang aku, dan kado tentunya" ucap Keysa antusias.


"Tapi orang tersayang itu akhirnya menusukmu kan,, itu lebih menyedihkan lagi" ucap Felix tepat sasaran membuat Keysa bungkam dan mengumpat dalam hatinya.


"Ahh sudahlah lupakan,, ayoo sekarang kita rayakan ulang tahunmu" ucap Keysa menarik tangan Felix hingga berdiri.


"Aku tidak mau kemana-mana Key" ucap Felix


"Memangnya aku mau bawa kamu kemana. Aku hanya mengajak kamu duduk disana" tunjuk Keysa ke arah pohon besar dimana sudah terlihat tikar dibawah pohon itu dengan beberapa macam makanan, minuman dan buah-buahan serta keranjang makanan disampingnya. Tak lupa juga kue ulang tahun dengan lilinnya.


"Ayo kita piknik, kita kan gak pernah piknik" ucap Keysa


"Apa kamu tidak salah?" tanya Felix


"Tidak, ayo kita berkencan" ucap Keysa membuat Felix tertawa


"Kau menawarkan kencan kepada seorang pria" ucap Felix


"Yak... Memangnya kenapa? Salah?" sewot Keysa kesal


"Baiklah kita kencan" ucap Felix membuat Keysa tersenyum senang


"Ayo kita kesana" Keysa menarik lengan Felix


Kini Keysa dan felix sudah duduk di atas tikar itu dengan saling berhadapan. "Tiup lilinnya dulu" ucap Keysa mengangkat kue yang sudah ada api di atas lilinnya ke hadapan Felix. Felix hendak meniup lilinnya  tetapi Keysa menahannya.


"Tunggu,, make a wish dulu dong" ucap Keysa


"Kamu mau gak jadi pacar sehari aku?"


Deg


Keysa membelalak lebar mendengar penuturan Felix yang tanpa basa basi itu. "A-apa??" Keysa tertegun ditempat. 'Kenapa cuma pacar sehari ?' batin Keysa


"Mau gak? Itu harapanku" ucap Felix penuh harap


"Baiklah" gumam Keysa memaksakan untuk tersenyum. "Ya sudah sekarang tiup lilinnya" ucap Keysa lagi kembali ceria membuat Felix tersenyum dan meniup lilinnya.


"Potong kuenya"Keysa menyimpan kue itu kembali dan menyodorkan pisau ke arah Felix.


Felix memotong kuenya kecil lalu menyodorkannya ke arah Keysa.


Keysa membuka mulutnya dengan perasaan senang. Tetapi kuenya hanya disentuhkan ke ujung hidung Keysa membuat creamnya menempel di hidung dan kuenya langsung masuk ke mulut Felix.


"Menyebalkan" gerutu Keysa mengerucutkan bibirnya dan mengelap hidungnya dengan tisue


"Jangan memanyunkan bibirmu kalau tidak mau aku cium, Love" ucap Felix.


"Apa??????????" Keysa tersentak kaget hingga membuat matanya membelalak lebar.


"Kenapa? Apa aku salah bicara?" tanya Felix cuek


"Tadi kamu panggil aku apa?" tanya Keysa tanpa sabar


"Love,,, kenapa? Ada yang salah? Bukankah kita ini berpacaran sekarang" ucap Felix terdengar santai. 'Ah iya, aku pacar seharinya Felix.  Kenapa mendadak amnesia sih?' Keysa menghela nafasnya. 'Dasar aneh mengajak pacaran kok cuma buat sehari sih? Padahal aku ingin lebih dari sehari' batin Keysa.


"Apa yang sedang kamu pikirkan dengan kepalamu itu" tanya Felix


"Tidak ada" ketus Keysa. "Ahh aku mau nantang kamu" 


"Nantang apaan?" tanya Felix heran


"Aku mau nantang kamu makan sampai semua makanan ini habis, dan yang kalah harus nurutin semua perintah yang menang" ucap Keysa "gimana? Kamu mau?" tanya Keysa menyeringai


"Oke, siapa takut" ucap Felix sombong


'Aku harus melakukan ini agar Felix mau memakan semua makanan ini' batin Keysa


"Ya sudah kita makan, tetapi kamu janji harus menghabiskan semua makanan kamu" peringatan Keysa


"Oke, siap-siap saja kamu menuruti perintahku " ucap Felix percaya diri. 'Yah kamu benar, aku akan kalah' batin Keysa


Keysa mulai membuka satu per satu tuperware dihadapannya. "Kenapa semuanya seafood?" tanya Felix tertegun


"Bukannya ini makanan kesukaan kamu?" tanya Keysa lalu menyodorkan mangkuk berisi nasi ke arah Felix dan menuangkan sop dari termos ke mangkuk cukup besar.


"Ini buat kamu, habiskan" ucap Keysa menyodorkannya ke hadapan Felix. Seketika juga tubuh Felix menegang.


"I...ini apa?" tanya Felix


"Itu sop rumput laut dengan daging kerang, makanlah mumpung masih hangat" ucap Keysa merapihkan lagi termos dan mengambil nasi untuknya. Keysa melirik Felix yang masih mematung menatap makanan dihadapannya.


"Kenapa?" tanya Keysa


"Aku tidak mau makan ini" ucap Felix tiba-tiba


"Lho kenapa? Ini enak lho,, inget perjanjian kita... Ayo cepat habiskan jangan sampai tersisa" perintah Keysa


Felix masih terdiam dan menatap makanan dihadapannya. "Ayolah sayang,, cepat dimakan" rayu Keysa membuat Felix menatapnya


"Kau panggil aku apa?" tanya Felix


"Sayang? Ada yang salah? Kan kita berpacaran sekarang" cerocos Keysa membuat Felix tersenyum, ada kebahagiaan tersendiri di hati Felix. Apalagi melihat tingkah Keysa begitu menggemaskan.


"Ayo makan" ucap Keysa.


Akhirnya Felix mengangkat sendoknya dan mulai memasukan makanan ke dalam mulutnya. Seketika juga tubuh Felix langsung kaku dan menegang,, pandangannya kosong.


"Ini....." gumam Felix


****