
Felix kembali pulang karena ada meeting penting di kantor, sedangkan Keysa masih tinggal di rumah ibunya.
Diluar hujan begitu deras, Keysa berdiri di depan jendela dan menatap keluar jendela. Menatap air hujan yang sangat deras. Ia membayangkan takdirnya ke depan akan bagaimana, haruskah kebahagiaan yang baru ia rasakan lenyap begitu saja.
Keysa merasa tidak mampu untuk pergi meninggalkan semua kebahagiaan ini, terumana Ibu yang baru ia temui dan juga Felix. Bahkan Felix sudah melamarnya, lamaran yang selama ini ia inginkan dan mimpikan, apa harus dia menolaknya?
"Ini teh buat kamu." Rani datang dan menyerahkan teh yang mampu menyentakan Keysa dari lamunannya.
"Makasih Bu," Keysa menerimanya diiringi senyumannya.
"Ada apa, nak? Ibu lihat sejak tadi kamu melamun. Apa kamu merindukan Felix? baru saja satu jam dia pergi, kamu sudah merindukannya." goda Rani membuat Keysa terkekeh kecil.
"Bukan Bu, aku tidak sedang memikirkannya." jawab Keysa menyeduh teh ditangannya.
"Lalu?"
"Nothing,,,"
"Bu," Rani menengok ke arah Keysa. "Apa ibu tidak marah dan dendam kepada papa Mahes?"
Rani terlihat menggelengkan kepalanya. "buat apa ibu marah sama dia, harusnya ibu berterima kasih kepada pak Mahes karena sudah merawat putri ibu dengan sangat baik. Hingga kamu tumbuh menjadi seorang gadis yang sangat cantik." Jawab ibu dengan senyuman hangatnya.
"Tapi Bu,, dia itu sudah-"
"Tidak Nak. Jangan pernah membencinya, meskipun dia salah karena berbohong pada ibu dan kamu. Tapi dia sangat menyayangi kamu, Sayang. Ibu tau dia melakukan ini karena dia takut kehilangan kamu." ucap Rani membuat Keysa kembali teringat ucapan papa Mahes saat itu.
"Apa aku salah karena kesal padanya?" Tanya Keysa.
"Tidak sayang, kamu tidak salah. Tapi jangan terlalu lama menyimpan kekesalan itu, apalagi kalau sampai membencinya. Coba kamu pikir dari sisi lainnya, dia sudah menjadi seorang ayah yang sangat baik buat kamu." Keysa terdiam dan merenungkan ucapan Ibunya barusan.
"Dia menjadi ayah sekaligus ibu untukku, Bu. Dan aku juga sangat menyayanginya, hanya saja rasa kesal dan marah ini masih memuncak di hatiku." ujar Keysa mengingat saat kecil bersama papanya. Dimana dia yang selalu Keysa banggakan dan sangat Keysa sayangi. Papa selalu ada setiap Keysa membutuhkannya.
"Jangan pernah menyimpan amarah di hati, maafkan dia nak. Sekarang semuanya sudah jelas dan tidak ada yang patut di salahkan dan di benci. Semua ini sudah takdir tuhan." Rani mengusap kepala Keysa. 'Tetapi takdir tuhan juga akan membuat kita kembali berpisah, Bu.'
"Maafkan dia, seperti kamu memaafkan ibu dan ayah kamu." ucap Rani dengan lembut membuat Keysa menatap ke arahnya.
Ibu Rani tersenyum hangat ke arah Keysa membuatnya ikut tersenyum. "Aku akan memaafkannya, Bu."
"Ibu tau, kamu seorang anak yang baik hati."
***
Keysa dan Felix datang kembali ke rumah sakit, untuk melakukan cek up kondisi Keysa dan juga menengok papanya yang kemballi masuk rumah sakit. Mahes sempat kaget melihat kedatangan mereka berdua datang.
"Papa..." Keysa berlari memeluk Mahes yang tengah duduk di atas brangkar. "maafkan Keysa Pa."Mahes menangis memeluk Keysa.
"Tidak nak, papa yang salah. Papa yang sudah membohongi kamu dan ibu kamu, papa yang sudah menjauhkan kamu dengan ibu kamu."
"Tidak Papa,, aku paham kenapa papa melakukan itu." Keysa melepas pelukannya.
"Papa minta maaf, sungguh minta maaf." ujar Mahes menghapus air mata Keysa.
"Ya Pa,, aku sudah memaafkan papa. Semua kesalahan papa sudah Keysa maafkan." Keysa tersenyum manis seraya memegang tangan Mahes yang berada di pipinya.
Setelah jalinan kasih, Keysapun menyuapi Mahes. Sedangkan Felix masih betah duduk di atas sofa tanpa berkata apapun. Pandangannya menatap ke arah Mahes yang sedang bercanda dengan Keysa.
"Sayang,, papa sudah memecat Sanas dan menjebloskan Reno ke dalam penjara, juga beberapa pemegang saham yang bekerjasama dengan mereka." ucapan Mahes membuat Keysa menghentikan gerakannya. "Jordan sudah mendapatkan bukti-bukti kejahatan mereka, papa sangat kecewa dan tidak menyangka kenapa mereka tega melakukan ini sama Papa."
"Sudahlah Pa, sekarang semuanya sudah kembali normal. Aku sudah bertemu ibu, dan kondisi Papa sudah mulai membaik. Jangan terlalu keras memikirkan semua masalah ini, Papa harus jaga kesehatan Papa juga supaya tidak drop lagi." Ujar Keysa membuat Mahes tersenyum.
"Terima kasih Sayang," Mahes mengusap kepala Keysa dengan lembut.
Keysa pamit hendak ke toilet, sedangkan di ruangan Mahes masih ada Felix.
Felix beranjak hendak keluar ruangan tanpa berkata apapun. "Nak," panggilan Mahes membuat Felix berdiri mematung.
"Maafkan Papa, Papa tau kamu masih sangat kesal bahkan benci pada papa. Tapi aku mohon beri Papa kesempatan sekali lagi." ucap Mahes dengan lirih, tanpa mereka sadari Keysa berdiri di ambang pintu.
"Kesempatan untuk apa?" Tanya Felix berbalik ke arah Mahes dan menatapnya dengan tajam.
"Untuk-" Mahes terlihat menimbang-nimbang ucapannya. "Untuk menjadi ayah yang baik untukmu."
Felix terlihat tersenyum sinis. "Apa aku tidak salah dengar?" ucapnya sarkasis. "tapi maaf Mr. Mahesya yang terhormat, ayah saya sudah lama meninggal. Dan saya tidak mempunyai 2 orang ayah! Jangan anda pikir dengan saya datang kesini, saya sudah memaafkan anda dan menerima anda. Saya datang kesini hanya karena menghargai Keysa, dan menemaninya untuk bertemu ayah angkatnya." ucap Felix dingin dan berlalu pergi,
Felix sempat berpapasan dengan Keysa di ambang pintu. Tanpa berkata apapun, Felix melewati Keysa dan berlalu pergi. Keysa melihat ke arah Mahes yang menatap kosong kepergian Felix.
Keysa segera berlari mengejar Felix,
Felix pergi menuju danau tempat biasa. Keysa mengikutinya menggunakan taxi.
Dan segera menghampirinya yang tengah berdiri di ujung danau. Sekarang Keysa sudah berdiri di samping Felix yang tengah menatap danau, dengan kedua tangan yang dimasukan ke dalam saku celananya.
"Kamu tau, karena papa Mahes. Aku jadi tidak bisa bertemu dengan ibuku bahkan mendiang ayahku." Felix masih tak bergeming. "Aku memang kesal padanya. Tapi apa kita berhak untuk membencinya?"
"Papa Mahes adalah pria yang sangat bunda Hanin cintai, apa kamu tidak merasakannya?" tanya Keysa, tetapi Felix masih tetap pada posisinya. Rahangnya terlihat mengeras mendengar penuturan Keysa. "Bagaimana kalau di sana bunda Hanin sedih melihat kamu yang bersikap seperti ini kepada papa Mahes."
"Sudahlah, aku tidak ingin membahasnya. Aku sudah mengakui dia sebagai ayah biologisku, tetapi bagiku, aku hanya memiliki satu ayah dan dia sudah lama meninggal." ucap Felix dengan datar.
"Jangan membohongi hati kamu sendiri, aku tau kamu juga sudah menerima dia sebagai ayah kamu. Ayah sesungguhnya kamu, tetapi karena gengsi kamu yang tinggi. Jadi kamu sulit mengakuinya." ujar Keysa terdengar sinis.
"Key...!!" bentak Felix menatap Keysa dan terlihat Keysa juga tengah menatapnya dengan sendu, membuatnya terdiam seketika.
"Apa salahnya, Felix? yang dia alami dengan bunda Hanin adalah kesalahpahaman. Apa bedanya dengan masalah kita kemarin? Tindakan kamu sama dengan papa Mahes kan. Lari dari kenyataan tanpa mencari tau kebenarannya, kamu percaya begitu saja dan meninggalkanku. Apa bedanya dengan papa Mahes, hah?" ucap Keysa membuat Felix terdiam.
"Apa yang kamu rasakan saat itu, sama dengan yang di rasakan papa Mahes. Kamu tidak terlambat untuk kembali lagi denganku, berbeda dengan papa Mahes yang sudah menikah dengan wanita lain." Ucapnya menghela nafas panjang.
"Apa yang akan kamu lakukan kalau kebenarannya terungkap terlambat? Apa felix?" pekik Keysa membuat Felix terpaku di tempatnya.
"Aku tau selama ini papa hidup dengan kesepian dan kesedihan. Hanya di depanku dan denganku papa bisa tertawa lepas, papa menyembunyikan luka di dalam hatinya. Yang aku pikir selama ini dia sedih karena kepergian mendiang istrinya. Tetapi ternyata bukan, papa sakit karena rasa bersalah yang sangat besar pada kalian." ujar Keysa sudah berkaca-kaca.
"Kejadian ini sudah berlalu beberapa tahun lalu, bahkan bunda Hanin saja sudah memaafkannya. Lalu apa hak kamu untuk tetap membencinya?" ujar Keysa sudah menangis di depan Felix yang masih diam terpaku di tempatnya. "Aku memang sempat kesal dan marah padanya, tapi aku juga tidak mungkin terus membenci dan marah dengannya. Ada alasan kenapa dia lakukan ini semua."
Felix menundukkan kepalanya dan memejamkan matanya. "Dia ayahmu Felix, ayah kandungmu. Tolong maafkan dia." ucap Keysa lirih.
"Kalau kamu masih tidak bisa menerimanya, maka terima dia sebagai keinginan terakhirku." Mendengar ucapan Keysa, barulah Felix menatap ke arahnya dengan tatapan tajamnya.
"Jangan mengatakan hal menjijikan itu, tidak ada kata terakhir !" pekiknya.
"Aku mohon terima dia, aku ingin pergi dengan tenang setelah melihat kalian bersama dan menyelesaikan kesalahpahaman yang terjadi beberapa tahun silam."
"Jangan katakan itu Keysa! Aku membencinya."
"Ini kenyataannya Felix," air mata sudah luruh dari pelupuk mata Keysa. "Hidupku hanya tinggal menghitung jam."
"Tidak!"
"Sadarlah Felix,"
"Tidak tidak tidak Keysa, aku tidak akan pernah membiarkanmu pergi dariku!" ucapnya dengan tajam, air mata menggantung di pelupuk matanya.
"Ku mohon lakukan keinginanku."
"Key,"
"Please, demi aku."
"Aku akan memaafkannya, aku akan menerimanya kembali. Aku ingin mengakhiri segala dendam ini, dan hidup tenang bersamamu." Ucapnya dengan lirih.
"Aku juga ingin sekali hidup bersamamu sampai kita tua," seketika tangisan Keysa pecah.
Felix menarik Keysa ke dalam pelukannya, mereka menangis dalam diam. "Please, don't leave me, Key." Tangis Felix memeluk tubuh Keysa dengan sangat erat. "Aku membutuhkanmu, aku sangat mencintaimu."
"Aku juga mencintaimu."
'Tuhan, bisakah aku bersamanya lebih lama lagi?'
***
Felix memegang kendali perusahaan Mahesya dan menyelesaikan semua kekacauan yang sudah di lakukan Reno. Sedangkan Mahes memilih pensiun dan memilih tinggal di rumah. Felix terlihat kelimpuhan karena memegang 2 perusahaan besar sekaligus. Untunglah Devan mau membantunya sebagai permintaan maafnya pada Felix. Felix juga semakin posesive menjaga Keysa.
Sedangkan Keysa, dia sudah tidak bekerja lagi di perusahaan Felix dan menyerahkan tugasnya kepada Andri asisten pribadi Felix. Ia memilih tinggal di rumah ibu Rani dan membantunya membuat dan berjualan kue. Ia ingin menghabiskan sisa waktunya dengan hal hal yang membahagiakan.
Mahes juga sudah bertemu dengan Rani dan meminta maaf. Kini kehidupan Keysa dan Felix kembali normal dan bahagia. Tetapi tidak dengan kondisi Keysa, sejauh ini hanya Felix yang mengetahui mengenai penyakitnya itu.
Suatu hari, Keysa tengah memanen bibit bunga mawar putih kesukaannya. Posisinya berjongkok dan fokus pada tanah dihadapannya. Hingga seseorang menyandarkan tubuhnya di punggungnya, membuat ia menghentikan aktivitasnya.
Dari parfumnya yang sangat familiar bagi Keysa, membuatnya sudah tau kalau itu Felix. "Kenapa baru datang?" Tanya Keysa yang kembali menanam bibit bunganya.
"Banyak sekali pekerjaan, aku sangat lelah." ujar Felix lirih seraya memejamkan matanya. Keduanya terdiam dan menikmati posisi seperti ini.
"Gimana kabar papa?" Tanya Keysa.
"ck,, kamu ini malah lebih menanyakan kabar papa di banding kekasihmu sendiri." gerutu Felix.
"Kamu masih saja cemburu sama Papa." kekehnya.
"Kamu sedang menanam apa?" Tanya Felix.
"Ini bunga mawar putih. Aku baru dapet bibitnya kemarin dari pelanggan ibu." ucap Keysa.
"Perempuan atau laki-laki?" pertanyaan Felix membuat Keysa menggelengkan kepalanya. Felix tetaplah Felix yang arrogant dan possessive.
"Nenek-nenek. Puas !!" ujar Keysa beranjak meninggalkan taman dengan menenteng wadah dan beberapa alat untuk menanam. Felix mengikutinya dari belakang dengan kekehannya.
"Isshh,"
"Key," wadah yang di pegang Keysa jatuh ke lantai, ia terlihat meringis memegang dadanya dengan tubuhnya yang berkeringat dingin.
"Aaarghhh!!" ia semakin kesakitan meremas dadanya sendiri.
Felix membawa tubuhnya untuk duduk di kursi yang ada disana. "Dimana obatnya?"
"Kamar,"
Felix berlari menuju ke dalam kamar untuk mengambil obat.
Pandangan Keysa sudah mulai kabur dan tubuhnya merasa sangat lemas sekali. 'Akankah sekarang?'
"Keysa bertahanlah, minum obatnya." Felix menyuapkan obat ke bibir pucat Keysa dan menyodorkan minumannya.
Keysa menutup matanya menahan rasa sakit di dadanya. Tangannya yang lain menggenggam tangan Felix dengan sangat erat hingga berkeringat. Felix memeriksa deyut nadinya sesuai arahan Dhika, dan terasa sangat lemah.
"Kita ke rumah sakit yah," Keysa menggelengkan kepalanya.
"Aku ingin bersamamu, bisakah kamu memelukku." Ucapnya dengan lirih membuat Felix duduk di sampingnya dan memeluk Keysa dari samping.
Air mata menggantung di pelupuk matanya. 'Tuhan, aku mohon jangan ambil dia dariku,'
Tak ada pergerakan dari Keysa membuat jantung Felix berdebar kencang. "Key,"
Tak ada sahutan sama sekali darinya. "Keysa,"
"Aku masih disini, jangan berteriak." Felix mampu bernafas lega mendengar suara Keysa.
Ia memeluk Keysa seraya mengecupi kepalanya. " Kita ke kamar yah."
Keysa hanya mengangguk lemah, Felix segera membopong tubuhnya dan membawanya ke dalam kamar. Syukurlah ibu Rani sedang keluar rumah.
Ia merebahkan tubuh Keysa dan duduk di sisi ranjang sambil mengusap kepala Keysa yang berkeringat. Keysa terlihat memejamkan matanya, wajahnya begitu pucat dan tubuhnya sangat kurus sekali.
Air mata Felix luruh membasahi pipi melihat kondisi Keysa saat ini. 'Jangan tinggalkan aku, Key. Aku mohon,'
Felix merogoh saku jasnya dan mengeluarkan kotak kecil belundru, ia membuka kotak itu hingga memperlihatkan sebuah cincin berlian indah dengan permata safir yang indah. Ia menyematkannya di jari manis Keysa.
"Will you Marry me, Please." Gumam Felix membuat Keysa membuka matanya dengan sayu.
Keysa membuka matanya mendengar pernyataan Felix. "Yes, I do." Ucapnya dengan sangat lemah bahkan hampir tak terdengar.
Felix tersenyum bahagia di tengah tangisannya. Keysa berangsur bangun dari rebahannya dan menghapus air mata Felix. "Bukankah kita akan menikah, jangan menangis. Ini adalah berita menggembirakan."
"Ini air mata kebahagiaan," Felix kembali memeluk Keysa.
Keduanya menangis dalam diam di dalam pelukan. Rasa bahagia bercampur rasa sakit.
***
Felix menyiapkan acara pernikahan mereka secepatnya di bantu oleh para sahabatnya, Mahesya dan juga Rani. Keysa tidak banyak membantu karena butuh istirahat, ia hanya menentukan apa yang dia inginkan.
Felix tak tanggung-tanggung menyediakan desainer dari Eropa untuk menyiapkan gaun pengantin cantik untuk Keysa.
Hingga hari itupun tiba, hari dimana mereka akan menikah.
Keysa masih menatap pantulan dirinya di depan cermin, ia terlihat cantik dan pangling melihat sosok dirinya di depan cermin. "Putri Ibu cantik sekali,"
Keysa menengok ke ambang pintu diiringi senyumannya. "Ibu juga sangat cantik,"
"Ibu tidak menyangka hari ini kamu akan menikah sayang," kekehnya membuat Keysa tersenyum bahagia.
"Keysa sangat bahagia, Bu."
"Felix memang pria yang tepat untukmu, dia akan membahagiakan kamu sayang. Ibu yakin." Rani membelai wajah cantik Keysa.
"Wow, pengantinnya cantik bener." Ucap Clara saat masuk ke dalam kamar milik Keysa.
"Clara,"
Keysa berhambur ke pelukan Clara, sudah lama sekali tidak bertemu dengannya. "Loe kemana saja,"
"Sorry, gue sangat sibuk Key."
"Gue ngerti, yang penting sekarang loe datang." Kekehnya.
"Ayo kita berangkat, pangeran loe udah menunggu disana dengan gagahnya." Ucap Clara membuat Keysa terkekeh.
Keysa bersama Clara dan Ranipun berlalu pergi dengan menggunakan sopir pribadi yang di kirim Felix.
Saat diperjalanan, sopir mobil meminggirkan mobilnya ke sebuah mini market sesuai arahan Clara untuk membeli minuman buat Keysa.
Keysa dan Rani masih duduk manis di dalam mobil menunggu Clara. Pandangannya menangkap wajah seseorang yang dia kenali sedang menyebrang jalan.
Keysa melihat dari lajur lain, mobil truk melaju kencang ke arah seseorang itu yang tengah kerepotan membawa barang belanjaannya. Keysa terus menatap truk dan orang itu bergantian, saat hampir sudah sangat dekat. Tanpa disadari, Keysa keluar dari mobil dengan mengangkat gaun pengantinnya membuat Rani terpekik kaget begitu juga sang sopir.
Keysa berlari kearah seseorang itu...
"Sanas awas....."
Brukk
"Keysaaaaaaa...!!" teriakan Clara dan Rani masih bisa di dengar olehnya.
Kalau ini adalah akhir dari hidupku, maka jagalah dia untukku. Jaga dia dan buatlah dia menerima semua ini.
Maafkan aku Felix,
Aku mencintaimu.....
Perlahan pandangannya mulai kabur dan semakin lama semakin gelap.
****