My Ceo

My Ceo
Episode 37



Para readers setia My Ceo jangan lupa buat add ke favorit dan baca juga yah cerita tentang dokter Dhika. Judulnya "Stay With Me".


HAPPY READING


Clara dan Rani berlari ke arah Keysa yang tergeletak di atas aspal dengan gaun pengantin putih yang berlumuran darah. Sana yang terlihat tersungkur ke trotoar menengok ke arah belakangnya dan mematung menatap tubuh Keysa tergeletak tak berdaya di sana.


"Deeva bangun sayang," isak Rani membawa kepala Keysa ke dalam pangkuannya. Darah terlihat keluar dari kepalanya dan mulutnya.


Clara yang juga khawatir segera menghubungi ambulance. Sedangkan Sanas masih terpaku di tempatnya dengan tatapan tak percaya dan berkaca-kaca.


Rani masih menangis sejadi-jadinya memeluk tubuh Keysa. Banyak orang yang menghampiri mereka.


Tak lama Ambulancepun datang dan segera membawa tubuh Keysa ke dalam mobil ambulance. Rani dan Clara segera menaiki mobilnya dan mengikuti ambulance itu.


Sanas masih menatap kosong darah yang ada di atas aspal itu dengan tatapan nanarnya. Beberapa orang mulai bubar dari sana meninggalkan Sanas sendirian.


'Di...dia nyelametin gue? Dia.......' Tanpa terasa air matanya mengalir deras membasahi pipi. Ia terduduk di atas aspal tepat di depan darah yang masih menggenang di hadapannya. Sanas tidak memperdulikan panggilan orang untuk memintanya ke pinggir. Hatinya terasa perih dan sakit, seakan sesuatu yang keras baru saja menimpa kepalanya. Membuatnya sadar, sadar kalau orang yang dia benci selama ini menyelamatkannya. Mengorbankan nyawanya demi dirinya.


'Kenapa Key? Kenapa melakukan ini?'


***


Sesampainya di AMI Hospital, Dhika yang belum menuju ke tempat pernikahan mereka segera membantu membawa tubuh Keysa ke ruang emergency.


"Please, bertahanlah Key. Gue mohon," isak Clara menunggu di luar ruangan. Ia merangkul tubuh Rani yang menangis terisak.


Dhika masih memeriksanya di dalam sana. Detak jantung Keysa mulai melemah, ia mengambil defibrilator dan menempelkannya di dada Keysa. Berkali-kali ia memancing detak jantung Keysa agar kembali normal.


"Please, comeback Key" Dhika terus menekan dadanya Keysa menggunakan alat pendeteksi jantung itu.


Felix berlari dari lorong rumah sakit bersama Remon dan Devan dengan menggunakan tuxedo hitamnya dan setangkai bunga indah tersemat di saku jasnya.


"Keysa?"


Clara menggelengkan kepalanya diiringi tangisannya.


Felix menyandarkan tubuhnya ke dinding dengan tatapan syoknya. Hampir saja mereka melakukan sebuah ikatan janji.


"Apa yang terjadi Clar? Bagaimana Keysa bisa kecelakaan?" Tanya Felix menatap Clara dengan sangat tajam membuatnya menatap Felix, Remon dan Devan.


"Tadi kami mampir dulu ke sebuah minimarket karena Keysa bilang sangat kehausan. Gue yang turun membeli air dan Keysa duduk di dalam mobil. Tapi saat gue keluar dari minimarket, gue melihat Keysa berlari ketengah jalan untuk menyelamatkan seseorang. Dan...." Air mata Clara kembali luruh, Remon mengusap pundak Clara dengan lembut. "Dan Keysa yang tertabrak truk itu."


Felix terpaku di tempat mendengarnya, bagai disambar petir disiang bolong. "Siapa seseorng itu?"


"Dia adalah Sanas."


"Sanas?" pekik Felix membuat Clara mengangguk. "Oh God! Dimana sebenarnya dia menyimpan otak bodohnya itu. Kenapa selalu berbuat konyol." Felix menyisir rambutnya ke belakang dengan sangat frustasi.


Tak lama Mahesya datang bersama Jordan sang sekretarisnya. "Keysa, bagaimana dia?" dia terlihat sangat gelisah dan khawatir.


"Duduklah dulu, Om." Ucap Devan membawa Mahesya untuk duduk.


Tak lama Dhika keluar dari ruang emergency membuat semuanya beranjak mengerumuni Dhika. "Bagaimana?"


Dhika terlihat menghela nafasnya, Felix masih menatapnya dengan sangat penasaran dan gelisah.


"Dhika katakan!" Felix mencengkram kerah kemejanya dan Dhika menggelengkan kepalanya.


Perlahan pegangan Felix melonggar dengan tatapan syoknya, air mata luruh membasahi pipinya.


"Tidak Dhika, tidak." Felix menerobos masuk ke dalam ruangan emergency meninggalkan semua orang yang masih mematung syok. Dhika beranjak memasuki ruang emergency.


"Key, hei sayang bangun. Bukankah hari kita akan menikah." Felix sudah menangis seraya mengusap pipi Keysa. "Hikzz... Key please jangan tinggalkan aku."


Dhika memalingkan wajahnya melihat pemandangan memilukan itu, ia menyuruh beberapa suster untuk keluar meninggalkan Felix dan Keysa.


"Key jangan bercanda, please..hikzzz..." Felix menangis meraung-raung memeluk kepala Keysa di atas brangkar. "Key,,,,"


Felix mengguncangkan tubuh Keysa tetapi tak ada respon, tubuhnya semakin dingin dan pucat. "Key,,, kenapa kamu melakukan ini. Bukankah hari ini kita akan menikah?"


"Kamu tau Key, semalaman aku menghapalkan ikrar janji untuk pemberkatan hari ini. Aku menyusun beberapa janji untukmu."


"Aku meminta tuhan untuk mencabut nyawaku dulu sebelum kamu, aku ingin menghabiskan waktuku hanya untuk kamu. Aku berjanji akan selalu membahagiakan kamu, aku berjanji tidak akan memanggilmu bodoh lagi, aku berjanji akan menuruti semua keinginanmu. Aku akan mengikuti semua apa yang kamu katakan. Aku menjanjikan segalanya hanya untuk kamu, Key. Aku menyerahkan hidupku untukmu, hikzz..." Felix mencium kening Keysa dengan tangisnya yang pecah.


"Aku mohon jangan melakukan ini padaku, aku bahkan belum mengikrarkan janji itu."


"I promise I will never turn away from you, I will always love you. I promise." Isaknya. "Stay With me, Please..."


"Don't leave me, please." Fellix semakin menangis sejadi-jadinya seraya mengecupi kepala Keysa.


Dhika mengusap matanya yang memerah menahan air mata, kepingan ingatan itu terbayang di dalam kepalanya. Dia mampu merasakan apa yang Felix rasakan.


Stay With Me....


Seketika detak jantung kembali terdengar di mesin itu membuat Dhika mendekati mereka dan meminta Felix memberinya ruang.


Felix masih beranjak sedikit menjauh dari Keysa yang sedang di periksa oleh Dhika. Ia terlihat sangat gelisah.


Dhika masih sibuk memeriksanya dan menempelkan beberapa alat medis di tubuh Keysa termasuk alat bantu pernafasan.


"Detak jantungnya kembali," Felix mampu bernafas lega mendengarnya, ia tersenyum dalam tangisannya. "Tetapi dia dalam keadaan tertidur."


Raut wajah Felix seketika berubah. "Maksudmu dia koma?" Dhika menganggukkan kepalanya membuat dada Felix kembali terhimpit sakit.


"Dalam keadaannya yang seperti ini, banyak pasien yang tidak mampu bertahan. Tetapi Keysa sangatlah kuat, ia kembali untukmu walau dalam keadaan seperti ini."


"Sampai kapan dia akan seperti ini?"


"Aku tidak tau, berdoalah. Aku akan memindahkan Keysa ke ruang ICU VIP khusus untuknya."


Felix menatap nanar Keysa yang terlelap di atas brangkar dengan beberapa alat medis menempel di tubuhnya yang kurus.


***


Felix keluar dari ruangan itu dan langsung di serbu yang lain.


"Bagaimana putriku, Felix?" isak Rani.


"Dia akan di pindahkan ke ruang ICU." Ucap Felix.


"Apa dia baik-baik saja?" tanya Mahesya.


"Dia dalam keadaan koma." Cicit Felix membuat tangis Rani kembali pecah di pelukan Clara. Mahesya juga terlihat menangis dalam diam.


"Van, bisa loe urus semua resepsi pernikahan yang akan berlangsung hari ini." Ucapnya terlihat lemah.


"Oke," ucap Devan beranjak pergi.


"Kenapa harus terjadi lagi pada putriku, hikzz...hikz..." Rani semakin terisak disana. "Baru saja aku bertemu dan memeluknya,"


"Tenanglah, Tante." Bisik Clara yang juga sudah menangis.


Felix melepas jasnya dengan tatapan kosong dan nanar. Remon mengusap pundak Felix yang jauh dari kata baik-baik saja. Ia terlihat sangat hancur.


***


Malam menjelang, Remon mengantar Clara kembali ke apartementnya. Mahes juga kembali pulang bersama Jordan setelah dipaksa oleh Felix. Sedangkan Devan mengantar ibu Rani. Dengan bujukan Felix, akhirnya ibu Rani mau pulang untuk beristirahat.


Kini Felix tengah berdiri di luar ruang ICU sambil menatap ke dalam. Dimana Keysa terbaring lemah dengan berbagai alat medis menempel ditubuhnya. Felix menatap Keysa melalui kaca besar ruang ICU.


Tatapannya terlihat sendu dan begitu terluka, air mata menggantung di mata merahnya yang tajam. 'Aku mohon tuhan, jangan ambil nyawanya sekarang. Ijinkan aku untuk selalu menjaganya dan membahagiakannya. Aku belum sempat membuatnya bahagia, belum sempat membuatnya kembali tersenyum dan ceria lagi. Sudah cukup 2 kali aku hampir kehilangannya dan untuk sekarang ku mohon jangan lakukan itu tuhan, jangan bawa dia pergi. Aku mohon....' Ia menangis dalam diam.


Kepalanya menunduk menatap lantai marmer yang dia pijak, hatinya terasa nyeri dan sesak. Air mata seakan tak mampu dia tahan lagi, terus mengalir membasahi pipinya tanpa dia minta. 'Aku sangat mencintainya,, aku sangat menyayanginya, aku tidak ingin kehilangannya dan aku akan sangat rapuh tanpa dia, Tuhan. Aku mohon sekali saja jangan bawa dia pergi dari sisiku, Aku akan sangat kehilangan arah kalau sampai kehilangan dia.'


Sebuah tepukan dipundaknya, membuat ia menoleh ke sampingnya dan terlihat Dhika di sana. Felix menghapus air matanya dan kembali berdiri tegak dengan melipat kedua tangannya di dada. Dhika berdiri tepat di samping Felix menatap lurus ke dalam ruangan.


"Dia pasti akan segera sadar dan kembali padamu," gumam Dhika. "dia wanita yang sangat kuat, dia mampu bertahan selama ini." Felix hanya terdiam mendengarkannya.


"Cinta kalian sangat kuat, aku merasa iri pada ketulusan cinta kalian. Jangan pernah sia-siakan dia, teruslah disampingnya. Jangan sampai ada penyesalan akhir. Aku yakin Keysa juga tengah berjuang untuk kembali kepadamu." ucap Dhika dengan tatapan kosong ke depan. Felix melirik ke arah Dhika, dia tau Dhika tidak sedang baik-baik saja. Meski terlihat ramah dan selalu tersenyum tetapi Felix tau hatinya kosong dan tidak baik-baik saja.


"Baiklah, aku harus pulang. Besok pagi aku akan periksa kondisinya, kalau ada apa-apa hubungi saja nomorku. Kebetulan tempat tinggalku tidak jauh dari rumah sakit." ucap Dhika saat tersadar dari lamunannya dan tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca.


"Hati-hati," ucap Felix dan Dhikapun berlalu pergi.


Felix bukanlah type orang yang mudah akrab dengan orang lain, tapi berbeda dengan Dhika. Ia merasa Dhika orang yang sangat baik dan tepat untuk dijadikan sahabat seperti kedua sahabatnya.


Setelah kepergian Dhika, Felix memasuki ruangan Keysa dan duduk di kursi samping brangkar. Tangannya terulur menyentuh tangan Keysa, dan menggenggamnya. Dan ia menyimpanny di pipi.


"Hai," gumam Felix. "Terima kasih karena masih mau bertahan untukku." Air mata kembali luruh dari pelupuk matanya.


"Sekarang cepatlah buka mata kamu, dan kita akan menikmati keindahan kehidupan baru kita. Aku sudah sangat tidak sabar ingin menikahimu." Kekehnya tetapi air mata kembali luruh dari pelupuk matanya.


"Kalau saja aku bisa menyerahkan jantungku untukmu, maka akan aku lakukan. Aku akan memberikan nafasku untukmu, dan juga detakan jantung ini untukmu. Aku akan melakukan apapun untukmu, Key." Gumamnya mengecupi tangan Keysa.


***


Di sebuah rumah yang terlihat gelap, Sanas mengurung dirinya di dalam kamarnya sendiri dengan wajahnya yang masih syok.


Bayangan kecelakaan itu terus berputar di kepalanya seperti film yang sedang di putar.


Membuatnya terus menangis sambil memeluk kedua lututnya sendiri. "Kenapa Key?"


Sanas menangis meraung-raung didalam kamarnya sendiri, kesunyian kehampaan meliputi hati dan kamar itu. Bayangan saat Keysa dan dirinya masih tertawa bersama.


"hikz.......hikzzz........hikzzzz.......... maafin gue.....hikzzzzzzzzz." jerit tangisnya sangatlah memilukan.


Selama ini hatinya sudah dikelabuhi oleh rasa iri dan dengki. Hatinya sudah dibutakan oleh kecemburuan. Sekarang yang tersisa hanya penyesalan yang sangat besar.


"hikz.....hikzzzzzzz......hikzzzz....."


Hatinya terasa amat sangat sakit, seakan tersayat-sayat oleh pisau yang dia buat sendiri. Persahabatan dan cintanya kini telah pupus semua. Hidupnya kini tak tentu arah ditengah kegelapan dan kesakitan yang merajam hatinya.


"Maafin gue yang terlalu bodoh dan egois.....hikz.....gue gak pernah benci loe....gue hanya benci diri gue sendiri yang selalu kalah saing dengan loe.....gue terlalu iri sama apa yang loe dapet......hikzzzzz...hikzzzz...hikzzzzzzz" Sanas memukuli dadanya sendiri yang terasa ngilu dan sesak.


Gelapnya malam seakan menjadi saksi jeritan kepedihan hati sanas.


***