My Ceo

My Ceo
Episode 49



Dhika datang ke rumah sakit agak


siang dan langsung memasuki ruangannya, yang kebetulan di sana sudah ada Claudya.


"Pagi, Dhik," sapa Claudya antusias dan Dhika hanya tersenyum menanggapinya.


"Oh


iya ada kabar baru, kita sudah langsung mendapatkan pengganti Dr. Chailly. Dia


baru saja datang dan sekarang sudah ada di ruangan pak Hans," jelasClaudya.


"syukurlah, jadi tim kita


tidak sampai kekurangan orang" ujarDhika membuka berkas yang ada di mejanya. "Hari ini kita ada jadwal operasi


yah?" tanyaDhika.


"Iya,, nanti sore kita ada jadwal


operasi. Seorang gadis remaja yang harus melakukan Transplantasi jantung," jawab Claudya dan Dhika


mengangguk paham.


Dhika meminta Claudya untuk


memeriksa seorang pasien di ruang inap Anggrek no 16.


“Aku bawakan kamu sarapan” Seru Claudya


sebelum dia berlalu pergi.


"Simpan saja di atas meja," ujarDhika tanpa melirik ke arah


Claudya membuatnya  sedikit kecewa karena


respon Dhika biasa saja dan cuek. Tetapi Claudya tetap menyimpan bekal itu di


meja dan pamit pergi.


Saat Dhika tengah sibuk dengan berkas medis


di hadapannya, handphonenya berbunyi dan menampilkan nama OmHansdi layarnya. Dhikapun


segera mengangkat telepon itu dan OmHans yang merupakan direktur utama di AMI


hospital meminta Dhikauntuk datang ke ruangannya.


Tok tok tok


Dhika mengetuk pintu ruangan yang


menjulang tinggi besar dengan warna coklat gelapnya. Saat ada sahutan dari


dalam, Dhikapun


masuk ke dalam ruangan itu. Terlihat OmHans sedang ada tamu, seorang wanita


yang duduk memunggungi Dhika.


Hans meminta Dhika untuk menghampirinya, Dhika berjalan mendekati meja kebesaran Hans tanpa duduk di kursi, ia berdiri tepat


di belakang sang wanita berambut panjang itu. Wanita itu masih tak bergeming,


tetap memunggungi Dhika.


"Ada apa,Om?" tanyaDhika.


"Om mau memperkenalkan Dokter


pengganti DokterChailly,"


ujarHans, membuat Dhikamelihat ke arah wanita yang tengah duduk itu, tetapi wajahnya masih belum


terlihat jelas.


"Dokter, ini adalah DokterDhika


ketua dari tim 1, yang akan bekerjasama dengan anda," ujarHans.


Wanita


itu berdiri dan dengan perlahan berbalik menghadap ke arah Dhika.


Deg


Mata Dhika membelalak lebar


melihat wanita di hadapannya ini. Waktu seakan berhenti berputar, otak Dhika mendadak macet. Nafasnya


tercekat bahkan Dhika tak sadar kalau dia tengah menahan nafasnya. Rasanya bumi


berhenti berputar bersamaan dengan waktu. Bahkan penjelasan dari Hans-pun tidak


Dhika perdulikan. Fokusnya masih kepada wanita yang berada dihadapannya.


Sepuluh tahun, Dhika menunggu wanita di hadapannya ini dan kini dia ada di


hadapanDhikadengan keadaan sehat dan tidak kurang satupun. Paras cantiknya masih melekat


diwajah blasterannya, meski kini wanita itu terlihat lebih dewasa.


"Dhika..." panggilan


Hans menyadarkan Dhika dari lamunannya, dengan segera Dhika memperbaiki raut


wajahnya.


"Halo DokterDhika, lama tidak


bertemu" ujar wanita di hadapan Dhika itu dengan senyuman kecilnya.


“Tha-Thalita..” gumamDhika seakan


masih tidak mempercayai apa yang dia lihat.


"Kalian sudah saling kenal?" tanya


Hans penasaran.


"Iya, pak Hans. Kami saling mengenal


bahkan sangat kenal dengan baik" ujarThalita tersenyum sinis, Dhikahanya terdiam saja dan terus


Tatapan Dhika terlihat sendu


dengan matanya yang memerah menahan air mata. Hatinya terasa sangat bahagia


melihat wanita yang dia tunggu selama sepuluh tahun berdiri tepat di


hadapannya. Ingin rasanya Dhika merengkuh tubuh wanitanya dan mengatakan betapa


dia merindukannya, merindukan kekasihnya, merindukan cintanya, merindukan wanitanya.


Tetapi otak dan tubuh Dhika tidak bisa berkOmprOmi dengan hatinya, tubuh Dhikaseakan kaku seperti batu yang


begitu sulit untuk dia gerakkan.


"Sepertinya kalian perlu bicara berdua,


baiklah saya akan pergi. Kebetulan saya harus mengunjungi seminar keDokteran," ujarHans mengambil tasnya, dan


berlalu pergi meninggalkan kedua anak manusia yang masih saling bertatapan


penuh kerinduan. Keduanya masih saling memandang tanpa berkedip bahkan tanpa


ada yang mampu mengeluarkan suaranya. Dhika menyadari kalau tatapan wanita yang


dia cintai kini sudah tidak sama lagi. Tatapan lembut penuh cinta yang selaluThalita


tunjukkan padanya dulu, sudah tidak terlihat lagi. Kini hanya ada tatapan datar


dan sorot kebencian tersirat di sana.  Thalita


mulai jengah, dia mengalihkan pandangannya dan bergegas mengambil tasnya untuk


beranjak pergi. Tetapi sebelum sempat dia memegang knop pintu langkahnya


terhenti karena ucapan Dhika.


"Kenapa baru kembali sekarang?" tanyaDhika


lirih yang kini sudah menengok ke arah Thalita.


"Saya datang bukan untuk anda, saya


datang untuk bekerja. Dan kebetulan sekali kita menjadi rekan satu tim. Jadi


mohon bantuannya DokterDhika."


setelah mengucapkan itu, Thalitapun berlalu pergi meninggalkan Dhika sendiri.


***


Dhika terdiam diruangannya, tatapan Lita tadi membuatnya


ketakutan. Takut kalau sudah tidak ada perasaan apapun lagi di hati Thalita


untuknya, takut kalau kebencian itu masih ada. Bahkan tatapan matanya tadi


mampu menyadarkan Dhika, kalau gadisnya kini sudah berubah. Gadis yang dia


tunggu selama ini sudah tidak ada lagi. Disisi lain Dhika senang karena Thalita


terlihat baik-baik saja bahkan tidak kurang apapun. Tapi disisi lain hatinya


sakit, sakit menyadari kalau kebencian itu masih ada dan terlihat jelas di matanya.


          ---


Sore ini mereka akan melakukan


operasi, dan seperti biasanya tim 1 melakukan briefing di ruanganDhika. Semua


anggota tim 1 sudah duduk manis di sofa ruangan Dhika termasuk Thalita, Dokter


baru pengganti DokterChailly yang memilih keluar karena menikah.


"Selamat sore," sapa Dhika dan semuanya


menjawab dengan Serempak. "Sore


ini kita akan melakukan operasi transplantasi jantung pada seorang pasien


remaja. Kebetulan juga tim kita kedatangan anggota baru, beliau adalah DokterThalita.


Beliau akan bertugas sebagai asisten utama pengganti Dokter lly," terang Dhika seprofesional


mungkin sambil menatap Thalita yang masih memasang wajah dinginnya.


"Hallo semuanya, saya DokterThalita Putri.


Saya baru menyelesaikan kuliah spesialis Dokter bedah di Universitas Wina di


Austria dan satu tahun saya bekerja menjadi asisten utama Dokter bedah dirumah


sakit swasta di Wina Austria. Saya mohon bantuannya, karena saya belum begitu


berpengalaman."


ucap Thalita dengan formal.


'Jadi selama ini kamu bersembunyi


di WINA,,' batinDhika


menatap Thalita tanpa berkedip.


Thalita yang menyadari Dhika


tengah menatapnya, membuatnya sedikit jengah.


"Jadi apa yang harus saya lakukan dalam


operasi nanti, DokterDhika?"


tanyaThalita.


Dhikapun akhirnya mulai


menjelaskan kronologi kondisi pasien, dan apa yang dibutuhkannya.


---