
Dhika datang ke rumah sakit agak
siang dan langsung memasuki ruangannya, yang kebetulan di sana sudah ada Claudya.
"Pagi, Dhik," sapa Claudya antusias dan Dhika hanya tersenyum menanggapinya.
"Oh
iya ada kabar baru, kita sudah langsung mendapatkan pengganti Dr. Chailly. Dia
baru saja datang dan sekarang sudah ada di ruangan pak Hans," jelasClaudya.
"syukurlah, jadi tim kita
tidak sampai kekurangan orang" ujarDhika membuka berkas yang ada di mejanya. "Hari ini kita ada jadwal operasi
yah?" tanyaDhika.
"Iya,, nanti sore kita ada jadwal
operasi. Seorang gadis remaja yang harus melakukan Transplantasi jantung," jawab Claudya dan Dhika
mengangguk paham.
Dhika meminta Claudya untuk
memeriksa seorang pasien di ruang inap Anggrek no 16.
“Aku bawakan kamu sarapan” Seru Claudya
sebelum dia berlalu pergi.
"Simpan saja di atas meja," ujarDhika tanpa melirik ke arah
Claudya membuatnya sedikit kecewa karena
respon Dhika biasa saja dan cuek. Tetapi Claudya tetap menyimpan bekal itu di
meja dan pamit pergi.
Saat Dhika tengah sibuk dengan berkas medis
di hadapannya, handphonenya berbunyi dan menampilkan nama OmHansdi layarnya. Dhikapun
segera mengangkat telepon itu dan OmHans yang merupakan direktur utama di AMI
hospital meminta Dhikauntuk datang ke ruangannya.
Tok tok tok
Dhika mengetuk pintu ruangan yang
menjulang tinggi besar dengan warna coklat gelapnya. Saat ada sahutan dari
dalam, Dhikapun
masuk ke dalam ruangan itu. Terlihat OmHans sedang ada tamu, seorang wanita
yang duduk memunggungi Dhika.
Hans meminta Dhika untuk menghampirinya, Dhika berjalan mendekati meja kebesaran Hans tanpa duduk di kursi, ia berdiri tepat
di belakang sang wanita berambut panjang itu. Wanita itu masih tak bergeming,
tetap memunggungi Dhika.
"Ada apa,Om?" tanyaDhika.
"Om mau memperkenalkan Dokter
pengganti DokterChailly,"
ujarHans, membuat Dhikamelihat ke arah wanita yang tengah duduk itu, tetapi wajahnya masih belum
terlihat jelas.
"Dokter, ini adalah DokterDhika
ketua dari tim 1, yang akan bekerjasama dengan anda," ujarHans.
Wanita
itu berdiri dan dengan perlahan berbalik menghadap ke arah Dhika.
Deg
Mata Dhika membelalak lebar
melihat wanita di hadapannya ini. Waktu seakan berhenti berputar, otak Dhika mendadak macet. Nafasnya
tercekat bahkan Dhika tak sadar kalau dia tengah menahan nafasnya. Rasanya bumi
berhenti berputar bersamaan dengan waktu. Bahkan penjelasan dari Hans-pun tidak
Dhika perdulikan. Fokusnya masih kepada wanita yang berada dihadapannya.
Sepuluh tahun, Dhika menunggu wanita di hadapannya ini dan kini dia ada di
hadapanDhikadengan keadaan sehat dan tidak kurang satupun. Paras cantiknya masih melekat
diwajah blasterannya, meski kini wanita itu terlihat lebih dewasa.
"Dhika..." panggilan
Hans menyadarkan Dhika dari lamunannya, dengan segera Dhika memperbaiki raut
wajahnya.
"Halo DokterDhika, lama tidak
bertemu" ujar wanita di hadapan Dhika itu dengan senyuman kecilnya.
“Tha-Thalita..” gumamDhika seakan
masih tidak mempercayai apa yang dia lihat.
"Kalian sudah saling kenal?" tanya
Hans penasaran.
"Iya, pak Hans. Kami saling mengenal
bahkan sangat kenal dengan baik" ujarThalita tersenyum sinis, Dhikahanya terdiam saja dan terus
Tatapan Dhika terlihat sendu
dengan matanya yang memerah menahan air mata. Hatinya terasa sangat bahagia
melihat wanita yang dia tunggu selama sepuluh tahun berdiri tepat di
hadapannya. Ingin rasanya Dhika merengkuh tubuh wanitanya dan mengatakan betapa
dia merindukannya, merindukan kekasihnya, merindukan cintanya, merindukan wanitanya.
Tetapi otak dan tubuh Dhika tidak bisa berkOmprOmi dengan hatinya, tubuh Dhikaseakan kaku seperti batu yang
begitu sulit untuk dia gerakkan.
"Sepertinya kalian perlu bicara berdua,
baiklah saya akan pergi. Kebetulan saya harus mengunjungi seminar keDokteran," ujarHans mengambil tasnya, dan
berlalu pergi meninggalkan kedua anak manusia yang masih saling bertatapan
penuh kerinduan. Keduanya masih saling memandang tanpa berkedip bahkan tanpa
ada yang mampu mengeluarkan suaranya. Dhika menyadari kalau tatapan wanita yang
dia cintai kini sudah tidak sama lagi. Tatapan lembut penuh cinta yang selaluThalita
tunjukkan padanya dulu, sudah tidak terlihat lagi. Kini hanya ada tatapan datar
dan sorot kebencian tersirat di sana. Thalita
mulai jengah, dia mengalihkan pandangannya dan bergegas mengambil tasnya untuk
beranjak pergi. Tetapi sebelum sempat dia memegang knop pintu langkahnya
terhenti karena ucapan Dhika.
"Kenapa baru kembali sekarang?" tanyaDhika
lirih yang kini sudah menengok ke arah Thalita.
"Saya datang bukan untuk anda, saya
datang untuk bekerja. Dan kebetulan sekali kita menjadi rekan satu tim. Jadi
mohon bantuannya DokterDhika."
setelah mengucapkan itu, Thalitapun berlalu pergi meninggalkan Dhika sendiri.
***
Dhika terdiam diruangannya, tatapan Lita tadi membuatnya
ketakutan. Takut kalau sudah tidak ada perasaan apapun lagi di hati Thalita
untuknya, takut kalau kebencian itu masih ada. Bahkan tatapan matanya tadi
mampu menyadarkan Dhika, kalau gadisnya kini sudah berubah. Gadis yang dia
tunggu selama ini sudah tidak ada lagi. Disisi lain Dhika senang karena Thalita
terlihat baik-baik saja bahkan tidak kurang apapun. Tapi disisi lain hatinya
sakit, sakit menyadari kalau kebencian itu masih ada dan terlihat jelas di matanya.
---
Sore ini mereka akan melakukan
operasi, dan seperti biasanya tim 1 melakukan briefing di ruanganDhika. Semua
anggota tim 1 sudah duduk manis di sofa ruangan Dhika termasuk Thalita, Dokter
baru pengganti DokterChailly yang memilih keluar karena menikah.
"Selamat sore," sapa Dhika dan semuanya
menjawab dengan Serempak. "Sore
ini kita akan melakukan operasi transplantasi jantung pada seorang pasien
remaja. Kebetulan juga tim kita kedatangan anggota baru, beliau adalah DokterThalita.
Beliau akan bertugas sebagai asisten utama pengganti Dokter lly," terang Dhika seprofesional
mungkin sambil menatap Thalita yang masih memasang wajah dinginnya.
"Hallo semuanya, saya DokterThalita Putri.
Saya baru menyelesaikan kuliah spesialis Dokter bedah di Universitas Wina di
Austria dan satu tahun saya bekerja menjadi asisten utama Dokter bedah dirumah
sakit swasta di Wina Austria. Saya mohon bantuannya, karena saya belum begitu
berpengalaman."
ucap Thalita dengan formal.
'Jadi selama ini kamu bersembunyi
di WINA,,' batinDhika
menatap Thalita tanpa berkedip.
Thalita yang menyadari Dhika
tengah menatapnya, membuatnya sedikit jengah.
"Jadi apa yang harus saya lakukan dalam
operasi nanti, DokterDhika?"
tanyaThalita.
Dhikapun akhirnya mulai
menjelaskan kronologi kondisi pasien, dan apa yang dibutuhkannya.
---