My Ceo

My Ceo
Episode 54



Air mata Lita luruh mengingat saat Rahma menyemangatinya untuk bangkit kembali. Anak berumur 8 tahun begitu bersemangat untuk hidup tanpa memperdulikan penyakit yang terus


menggerogoti tubuhnya.


"Aku harus bisa menyembuhkannya, bagaimanapun caranya. Aku harus melakukan


sesuatu," gumam Lita.


"Apa jalan operasi akan berhasil?" gumamnya.


Kepalanya terasa pening memikirkan cara untuk menyembuhkan Rahma, karena Lita juga menyadari bahwa jalan operasi tidak akan menutup kemungkinan akan gagal. Di sisi lain, Lita sangat ingin membantu Rahma, sesuai janjinya dulu. Tapi di sisi lain tidak ada jalan apapun untuk membantunya menyelamatkan Rahma. Keadaan ini sangat mempersulitnya.


Keadaan Darurat, Ruang 115


Panggilan dari speaker rumah sakit itu menggema diseluruh rumah sakit, membuat Thalita terkesiap. Pasalnya itu ruangan Rahma dirawat, dengan segera Lita berlari keluar ruangannya menuju ruangan Rahma. Beberapa orang ditabrak Lita, dan tidak Lita hiraukan hingga dia sampai diruang 115. Dan  terlihat tiga


orang Suster bersama Dhika yang tengah melakukan sesuatu ke pasien. Dengan nafas yang tersenggal-senggal, Lita berjalan mendekati blangkar. Terlihat Dhikatengah melakukan CPR kepada pasien.


"Berikan aku 1 ampul," ucap Dhika masih memberi CPR ke pasien.


"Dokter, dia adalah pasien DNR," ujar salah satu Suster.


"Jadi, apa aku harus diam saja tanpa melakukan apapun, hah?" bentak Dhika membuat Suster ngeri.


Dhika memang akan sangat emosi, kalau bersangkutan dengan keselamatan pasiennya.


"Beri saya 1 ampul F1 dan defibrillator. Sekarang !!!" bentak Dhika, membuat Suster itu kelabakan dan mengambil alat yang diminta Dhika, sedangkan Lita masih berdiri tak jauh dari sana dengan tangan dan tubuh yang gemetaran. Ketakutan akan kehilangan adik kecilnya, dan janji dia ke Rahma terus memenuhi benaknya.


Matanya sudah berkaca-kaca melihat Dhika yang terus berusaha mengambalikan detak jantung pasien, sedangkan pasien tidak menunjukkan respon apapun. Suster menyerahkan alat yang diminta Dhika. Dhika segera mengambilnya dan


meletakkannya didada pasien. Dhika mulai memancing jantung Rahma untuk berdetak


kembali menggunakan defibrillator, tetapi tidak ada respon apapun dari pasien.


"Sekali lagi!" ucap Dhika, dan Susterpun mematuhinya.


Tetapi masih tidak ada respon.


"Sekali lagi!" ucap Dhika, dan Susterpun melakukannya tetapi tetap tidak ada respon. Dhika kembali melakukan CPR pada pasien, tetapi tidak ada respon apapun.


Lita yang melihatnya sudah sangat lemas, jantungnya terasa berhenti saat itu juga. Melihat seorang gadis remaja yang terkulai lemah tanpa merespon apapun.


'Please, kembalilah untuk Kakak. Kakak mohon, biarkan Kakak menyelamatkan kamu. Please kembalilah Rahma' batinLita sudah bergetar hebat, pandangannya terus terarah ke arah Dhika yang masih berusaha menyelamatkan pasien.


Terlihat Dhika kembali mengambil defibrillator


dan meletakkannya didada pasien. "isi 200 joule" ucap Dhikadan Susterpun menurutinya


hingga...


Deg....Deg....Deg....


Detak jantung pasien telah kembali, Dhika memejamkan matanya bernafas lega. Tubuh dan dahinya sudah dipenuhi peluh. Para Susterpun


bernafas lega karena sudah melewati situasi yang sangat menegangkan.


Thalita memejamkan matanya, bernafas lega saat mendengar suara detak jantung itu kembali, air matanya yang sempat luruh segera dia hapus.


'Terima kasih karena masih bertahan,' batinLita


menatap Rahma yang tengah dipasangi alat bantu pernafasan dihidungnya.


Dhika hendak beranjak, tapi saat berbalik, gerakannya terhenti saat bertemu pandang dengan Lita. Dhika baru menyadari kalau Lita ada dibelakangnya, Dhika juga mampu melihat tatapan sendu milik Lita. Tanpa berkata apapun, Dhika melewati Lita keluar dari ruangan. Dan tanpa pikir panjang, Lita mengikuti Dhikakeluar dari ruangan Rahma.


Sesampainya di ruangan milik Dhika, Dhika mengambil sebotol aqua berukuran sedang dari kulkas yang ada di ruangannya. Dalam sekali tegukan, Dhika menghabiskan air dalam botol


aqua ukuran sedang itu. Thalita berdiri di ambang pintu dengan hanya menatap Dhika yang tengah meneguk air. Sejujurnya Lita sangat terpesona dan sangat menyukai saat Dhika tengah meminum minuman dari botol dengan peluh yang mengalir dari pelipis ke lehernya. Menurut Lita itu terlihat sangat seksi, apalagi saat Dhika menengadahkan kepalanya saat meminum,


memperlihatkan lehernya dan jakunnya yang terlihat naik turun.


"Ada apa?" suara Dhikamenyadarkan lamunan Lita.


Lita menggelengkan kepalanya menghilangkan pikiran aneh yang sempat singgah dikepalanya. Membuat Dhikamengernyitkan dahinya, lalu Lita mendongakkan kembali kepalanya.


"Saya ingin bicara," ucap Lita sekuat tenaga


mengatur detak jantungnya dan suaranya agar terdengar senormal mungkin.


"Masuklah, jangan hanya berdiri di ambang pintu,"


ujar Dhika. Litapun berjalan memasuki ruangan Dhika. "Ada apa?"


Dhika menyandarkan bokongnya di meja kerja miliknya dengan tangan yang di lipat didada. Thalita kembali memalingkan wajahnya.


‘Di saat seperti ini kenapa harus terpesona dengan ketampanan Dhika’.BatinLita.


"Apa kamu bisa mengoperasinya?" tanyaLita tanpa basa basi. Dhika yang paham maksud


pembicaraan Lita, langsung berdiri tegak tanpa memalingkan pandangannya dari Thalita.


"Aku ingin, tapi aku tidak bisa," ujar Dhika santai.


"Apa maksudmu?" tanya Lita sinis


"Tingkat keberhasilannya sangat


rendah" ujar Dhika apa adanya.


"Tapi apa ada kemungkinan dia bisa tetap hidup?" tanya Lita.


"Kemungkinannya sangat kecil, operasi ini akan membuatnya merasakan sakit yang lebih parah" jelas Dhika.


"Maafkan aku, tetapi aku tidak bisa mengoperasinya," tambahnya menyesal.


"Kamu bilang seorang Dokter harus menyelamatkan pasiennya. Bahkan tadi saja kamu bilang, Apa seorang Dokter hanya harus diam saja tanpa melakukan apapun" bentak Lita tak terima dengan jawaban Dhika.


"Sebut saja aku ini seorang pecundang, tetapi aku tidak bisa menyebabkan pasienku lebih tersiksa lagi," ujarDhikaberanjak memunggungi Lita.


Tetapi Lita ikut beranjak kehadapan Dhika.


"Jadi maksudmu, kita akan diam saja dan membiarkan dia mati begitu saja?" bentak Thalita membuat Dhika terdiam, mata Litasudah merah


dan berkaca-kaca. "Kamu bilang, dia masih punya harapan untuk hidup!"


"Aku salah, maafkan aku Lita," ujar Dhika menatap Lita dengan teduh.


"Aku tidak butuh maafmu, Dhika!" bentak Lita.


Ini petama kalinya Lita memanggil Dhika tanpa embel-embel Dokter setelah sepuluh tahun berlalu. Dhika mengernyitkan dahiya heran dan bingung melihat sikap Lita yang begitu marah.


"Tepati janjimu!" ujar Lita mencengkram kuat kerah jas Dokter yang dipakai Dhika.


Tatapan mereka bertemu, tatapan tajam penuh luka milik Lita menusuk ke mata coklat teduh milik Dhika. Perlahan air mata Lita yang sudah menggenang di pelupuk matanya luruh membasahi pipi membuat Dhika semakin yakin kalau Lita ada hubungannya dengan pasien itu.


"Aku mohon, selamatkan dia," ucap Lita dengan suara yang bergetar, Seraya menundukkan kepalanya dan mulai melepas cengkramannya di kerah jas yang di pakai Dhika. "Dia mempunyai impian dan cita-cita yang besar."


Terdengar isakan kecil keluar dari mulut Lita. Membuat Dhika mematung ditempatnya. Hatinya merasakan perih dan teriris mendengar isakan Lita.


Perlahan Lita menengadahkan kepalanya kembali menatap mata coklat Dhika. "Aku akan melakukan apapun yang kamu mau, asalkan kamu mau mengoperasinya,"ucap Lita memelas menatap Dhika, membuat Dhika serba salah.


Di sisi lain, ingin sekali Dhika mengabulkan permohonan Lita. Tetapi Dhika juga tidak mungkin memaksakan diri untuk mengoperasi pasien yang sudah tak mungkin di selamatkan. Melihat kondisi pasien saat ini, tidak ada harapan lagi untuk di operasi, yang ada pasien akan


meninggal saat operasi berlangsung.


"Maafkan aku,Lita. Tapi aku tidak bias," ucap Dhika lembut, Lita menundukkan kepalanya dan kembali menangis.


"Aku mohon" isak Lita terbata-bata.


"Siapa dia?" tanya Dhika, karena yakin sekali kalau Lita sangat mengenal pasien remaja ini.


"Dia gadis yang menyelamatkanku, sepuluh tahun yang lalu," ucap Lita menatap Dhika dengan sendu. "Aku ingin menyelamatkannya, seperti dia menyelamatkanku saat kebakaran itu.”


"Aku mohon, Dhik. Selamatkan gadis kecil itu,"


isak Lita memelas membuat Dhika tidak tega melihatnya.


"Baiklah, kita akan mengoperasinya sore ini juga,"


ujarDhika akhirnya membuat Lita berbinar. "Tapi aku tidak bisa berjanji untuk keselamatan dan kesembuhannya," tambah Dhika membuat Lita ingin berkata sesuatu tetapi Dhika segera mendahuluinya.


"Kita Serahkan semuanya kepada Allah,"


ujar Dhika membuat Lita terdiam.


"Terima kasih" ucapnya.


“A-aku permisi,” tambah Lita dan segera keluar dari ruangan Dhika. Dhika hanya bisa tersenyum


melihat tingkah Lita yang masih gengsi dan menuruti egonya.


***


Kini semua Dokter sudah pada posisinya


masing-masing di dalam ruang operasi. Dhika menatap Lita yang masih terlihat sendu, semua Dokterpun ikut terlihat tegang. Pasalnya mereka mengetahui kondisi pasien yang akan mereka tangani ini.


"Kenapa ekspresi kalian semua sangat mengerikan seperti itu?" ujar Dhika membuat para Dokter melihat ke arahnya. Dhika selalu bisa membuat Dokter lain kembali dalam mood baiknya.


"Semangatlah guys," tambahnya bersemangat.


Lita tersenyum dibalik masker yang menutupi mulut dan hidungnya sambil menatap  ke arah Dhika.


"Operasi sudah bisa dimulai, Dokter" ujarClaudya ikut bersemangat.


"Baiklah, ayo kita fokus menyelamatkan pasien."


Dhika menatap satu per satu mata orang disekitarnya hingga terakhir matanya beradu dengan mata hitam milik Lita.  Lita memejamkan matanya sekedap, seakan mewakilkan


ucapan terima kasihnya.


"Pisau bedah," ucap Dhika dan Suster disamping


Dhika memberikannya. Dhika dibantu Lita mulai melakukan bedah didada pasien. Semuanya terasa sangat menegangkan setiap detiknya. Pasalnya sedikit saja ada kesalahan maka nyawa pasien taruhannya. Satu jam sudah berlalu, tetapi Dhika dan Lita masih sibuk dengan aktivitasnya. Dengan perlahan Dhika memotong tumor


yang ada diparu-paru itu.


Darah memuncrat keluar hingga mengenai baju operasi Dhika membuat Dhika maupun Lita terpekik kaget.


Tuuuuuttttt............


"Detak jantung dan tekanan darahnya menurun drastic!" ujar Claudya panik.


"Suntikan epinefrin dan tingkatkan konsentrasi


oksigennya!" ujar Dhika membuat Claudya segera melakukannya.


"Tekanannya terus menurun dari 60%," ucap Lita mulai ketakutan dan resah.


"Berikan aku epinefrin defibrillator," ujarDhika membuat Suster segera menyodorkannya. Dhika memasang alat itu didaerah jantung pasien.


"Naikkan 20 joule," ujarDhika. “Shock!”


Deg.....


tetapi garis yang muncul di layar hanya gerakan garis yang terus menurun dan melemah.


"50 joule," ucap Dhika lagi. “Shock!”


Deg....


Dan tetap saja tidak ada respon apapun.


"Shitt !!!"


Dhika menyerahkan kembali defibrillator ke Suster dan memasukkan tangan kanannya ke dalam tubuh pasien dan menekan-nekan jantung pasien. Tetapi pasien tetap tidak menunjukkan


apa-apa, Dhika terus berusaha mengembalikan detak jantung pasien ke posisi normal. Sedangkan Dokter lain terlihat sangat tegang dan Lita sudah berkaca-kaca karena ketakutan.


Kedua tangannya yang penuh darah bergetar hebat.


"Defibrillator," ucap Dhika dan Suster segera


memberikan alat pendetak jantung itu ke Dhika. Dhika kembali memasangkan alat itu disekitar jantung.


"50 joule" ujarDhika.


“Shock!”


Deg...


masih tak ada respon apapun dan tekanannya semakin menurun.


"Sekali lagi!" bentak Dhika dan Suster pun


menurutinya.


Deg....tetapi hanya garis luruh yang muncul di layar mesin.


Dhika mengembalikan lagi alat itu ke Suster dan memeriksa denyut nadi pasien. Ia memejamkan matanya dan menghirup udara sebanyak-banyaknya.


"Kenapa berhenti?" tanya Lita heran saat melihat Dhika tidak melakukan apa-apapun lagi.


"Detak jantungnya tak kembali, denyut nadinyapun sudah menghilang," ucap Dhika lemah.


"Lalu kenapa berhenti? Ayo lakukan lagi!"


bentak Lita.  Dhika tidak membalas


tatapan tajam Lita. Dhika melirik semua Dokter dan Suster lain yang terlihat tegang.


"Terima kasih atas kerja sama kalian,"


ujar Dhika ke semua timnya Seraya melepas sarung tangannya yang dipenuhi darah.


"Apa maksudmu??????" bentak Lita tak percaya dengan apa yang Dhika lakukan.


"Kalian semua boleh keluar, biar saya yang membersihkan semuanya," ucap Dhika membuat satu persatu orang di ruangan itu keluar.


Hingga Dokter Claudya yang masih tetap berdiri di sana. "Kau juga boleh keluar Dokter Claudya," ujar Dhika membuat Claudya dengan berat hati keluar dari ruangan.


Hingga kini menyisakan Lita dan Dhika berdua, Lita masih menatap Dhika dengan tajam, air mata sudah menumpuk di pelupuk matanya. Dhika membalas tatapan Lita dengan tatapan teduh miliknya.


"Tidak, ini belum berakhir!" Lita beranjak ke tempat Dhika sambil melepas masker yang menutup hidung dan mulutnya., hingga kini berdiri di samping Dhika.


"Operasinya belum berakhir!"


"Ini sudah berakhir, Lita." ucap Dhika menatap ke arah Lita.


"BELUM!!!" bentak Lita dengan air mata yang mengalir membasahi pipinya.


"Maafkan aku," ucap Dhika lembut, tetapi Lita hanya menatapnya sengit.


"Minggir!!!"


Lita mendorong tubuh Dhika, Dan mendekati pasien.


Lita memasukkan kedua tangannya ke dalam tubuh pasien dan menekan-nekan jantung pasien berkali-kali. "Please, kembalilah ! kembalilah dengan Kakak, Kakak akan bantu kamu untuk mencapai cita-cita kamu. Ayo Rahma kembalilah,"


isak Lita terus menekan jantung pasien.


"Bukankah kamu pernah bilang, kalau Kakak sudah menjadi Dokter. Kakak harus menyembuhkan kamu dan membuat kamu mencapai cita-cita kamu. Jadi kembalilah,, kembalilah Rahma!"


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Dhika yang melihat Lita terus menekan jantung pasien. Darah sudah menggenang di dalam sana.


"Kamu tidak lihat aku sedang apa, hah????" tanya Lit ketus dan masih terus melakukan kegiatannya.


"Hentikan!" ucap Dhika tapi Lita tidak


memperdulikannya. "Hentikan!!!" Dhika menarik lengan Lita karena Lita tidak berhenti.


"Minggir !!!" bentak Lita menepis tangan Dhika dengan air mata yang terus mengalir deras.


"Aku ingin menyelamatkannya... hikz


!!!" Lita berhenti menekan jantung pasien, karena pasien tidak merespon apa-apa.


"Hikz....hikz....hikz...."


Lita mulai terisak membuat Dhika menatap Lita dengan tatapan  sedihnya. Dhika merasa tidak tega melihat Lita seperti ini.


"Kenapa kamu tidak bertahan sebentar lagi,"


ucap Lita lirih. "Kenapa kamu tidak menahan sakitnya sebentar saja" isak Lita "Hikz.... Kenapa kamu membiarkan aku gagal untuk menyelamatkanmu?" bentak Lita ditengah tangisnya.


"Hikz....hikz...hikz...." isak Litadi samping tubuh pasien