
Flashback on
Thalita tersadar saat bau asap,
dan panas menerpa tubuh dan kulitnya. Thalita membuka matanya dan melihat
sekeliling ruangan yang dia tempati sudah dilahap oleh api. Dengan kondisinya
yang masih sangat lemah, Thalita terbangun dan melepas alat bantu pernafasan
yang bertengker di hidungnya. Sesak langsung menerjangnya, membuatnya
terbatuk-batuk karena asap yang langsung menyesakkan dadanya. Thalita mencoba
meminta tolong tapi karena masih sangat lemah, suaranya sangat kecil dan Serak. Thalita melihat api
mulai menjalar mendekati blangkar yang dia tempati dan terdapat tabung oksigen
di sisi blangkarnya. Lita sadar kalau api itu mengenai tabung, ruangan ini akan
hancur karena ledakan termasuk dirinya. Thalita melepas jarum infusan
ditangannya dengan menahan kesakitannya. Dengan susah payah Thalita menuruni blangkar
sambil berpegangan ke sisi blangkar dan meja di sampingnya. Thalita berusaha
untuk berdiri tegak meskipun rasa pusing menjalar, Thalita menarik sprai di
atasblangkar dan membalutkannya ke tubuhnya sendiri. Setelah itu Thalita
beranjak menerjang api yang menghalangi langkahnya menuju pintu keluar Thalita
berhasil melewati api itu walaupun lengannya terluka karena terkena api. Thalita
menahan rasa perih dilengannya dan melempar sprai yang sedikit terbakar itu
dengan sembarangan. Thalita berjalan dengan gontai menyusuri lorong rumah sakit
yang sepi dan juga sebagiannya sudah dilahap api. Thalita terus berteriak
meminta tolong, tetapi tidak ada yang mendengarnya. Terlihat disini tidak ada
orang sama sekali. Thalita berhasil berjalan menuju lift, tetapi lift sudah
tidak bisa di perguNakan. Thalita kembali berjalan dengan berpegangan ke
dinding menuju tangga darurat, meskipun badannya terasa sangat lemas dan
kepalanya begitu pusing. Thalita tetap berjalan, tetapi naas saat membuka pintu
tangga darurat, ternyata di sana sudah terlahap si jago merah tanpa celah. Thalita
merasa dirinya sudah terjebak dan tidak tau harus bagaimana, apalagi perut
disebelah kanannya terasa sangat sakit membuatnya sedikit membungkuk.
"Tolonggggg!!!!!" teriak Thalita
sambil terbatuk-batuk. Keringat sudah membasahi tubuh ringkihnya, bahkan
dadanya terasa sangat sesak sekali. Thalita masih berusaha berteriak meminta
tolong dengan suara lemah dan Seraknya. Thalita sudah merasa kalau umurnya akan
berakhir saat ini juga disini. Dengan menyandarkan punggungnya ke dinding Thalita
terus melafalkan doa dengan memejamkan
matanya.
"Kakak...Kakak..." suara anak
kecil samar-samar tertangkap oleh indra pendengaran Thalita membuatnya langsung
membuka mata.
"Siapa itu? Tolong aku,"Seru Thalita dengan suara Seraknya.
"Kakak,, disini," ucapnya pelan membuat Thalita
celingak celinguk melihat sesekelilinya mencari asal suara. Hingga pandangannya
menangkap sosok seorang anak perempuan berambut sebahu yang memakai pakaian
pasien di rumah sakit ini tengah menyembulkan kepalanya dari lubang ventilasi
di sudut bawah tak jauh dari Thalita berdiri.
"Kakak, ayo masuk kesini.
Kita bisa keluar lewat sini," ucapnya antusias saat Thalitasudah
berjongkok di hadapannya.
"Apa bisa?" tanyaThalita
mengernyitkan dahinya.
"Iya Kakak, kita ikutin tikus ini." Anak itu memperlihatkan tikus
putih kecil ke hadapan Thalita membuatnya geli dan jijik
sendiri.
"Kamu percaya dengan tikus ini?
Jangan bercanda De,
ini bukan saatnya bermain-main!" ucap Thalita sedikit kesal.
"Aku gak bercanda Kakak, aku Serius.
Tikus ini akan membantu kita keluar dari sini," ujaranak itu membuat Lita
semakin bingung."Aku memiliki sedikit keistimewaan, aku bisa
mengerti bahasa hewan," ucapnya membuat Thalita kembali
mengernyitkan dahinya semakin keras membuat lipatan di dahinya semakin jelas.
"Percaya sama aku, Kakak. Ayoo..." ujaranak itu
lagi, Lita benar-benar bingung. ‘Apa aku harus mempercayainya atau tidak’ Pikir
Lita.
"Kalaupun kita harus meninggal
karena dilahap api ini, tetapi seenggaknya kita sudah berusaha," ujarnya. ‘Benar juga yang
dia katakan, aku harus berusaha dulu. Jangan pasrah begitu saja.’ BatinLita.
"Ayo Kakak, apinya semakin dekat," ucapnya lagi.
"Apa muat?" tanyaLita melihat
ukuran lubang itu.
"Aku yakin Kakak akan bisa masuk,
aku saja bisa merangkak. Kakak pasti masuk, ayo." ucapnya membuat Lita
mengangguk.Thalita mengikuti anak itu masuk ke ventilasi itu dan benar saja,
ternyata badannya muat masuk ke dalam meskipun dengan posisi merangkak. Lita
terus mengikuti anak itu sambil memegang perut sisi kanannya yang terasa sangat
sakit.
Hingga mereka menemukan ventilasi
yang jalurnya kebawah."Kakak penutupnya buka" ucap anak itu. Lita dan
anak itu sama-sama membuka penutupnya dengan sekuat tenaga hingga akhirnya
terbuka juga."kita meluncur ke bawah, yah kak" ucap anak kecil itu.
"Apa kamu yakin? Gimana kalau
dibawah sana sudah dilahap api? Kita tidak mungkin naik lagi kan" Seru Lita
sedikit ngeri membayangkan mereka meluncur ke bawah tetapi dibawah sana api
sudah menanti mereka untuk dilahapnya.
"Kakak, kalau kita memang
harus meninggal disini. Apa daya, kita tidak meluncurpun kita akan tetap
meninggal karena kehabisan nafas karena api yang di luar sana" ucapnya.
" ayo kak, seengaknya kita coba dulu" tambahnya penuh percaya diri
membuat Lita tersenyum dan ikut mengangguk antusias.
"Tapi Kakak dulu, oke !! takut ada
api dibawah" ucap Lita membuat anak kecil itu mengangguk.
Lita menurunkan kedua kakinya dan
dengan posisi terlentang, Lita meluncur kebawah diikut anak kecil itu. Keduanya
meluncur dengan cepat.
"AAaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!" teriak
keduanya.
dari lubang penutup ventilasi membuat Lita ketakutan, takut cahaya itu dari api
yang tengah berkobar. Mereka tidak bisa menghentikkan gerakannya sehingga terus
meluncur dan kaki Lita langsung menabrak tutup ventilasi hingga terbuka. Tubuh Lita
berguling keluar diikuti oleh gadis kecil itu. Keduanya menutup mata dan
terbatuk-batuk. Lita membuka matanya perlahan dan yang pertama kali dia lihat
adalah langit biru yang cerah. Lita melihat ke arah gadis di sampingnya yang
masih menutup matanya ketakutan sambil memeluk erat tikus putih itu.
"Kamu baik-baik saja?"
Mendengar ucapan Lita, gadis itu membuka matanya
dan melihat sekeliling diikuti Lita. Ternyata mereka berada dibelakang rumah
sakit. Dibagian belakang rumah sakit ternyata belum terlahap api. Lita dan
gadis itu terbangun, keduanya saling pandang dan tersenyum bahagia.
"Horeeeeeee" teriak
girang dari keduanya sambil berpelukan."kita berhasil, kak" ucap
gadis itu.
"Iya Dek, kita berhasil," ucap Lita tak kalah
antusias."Ayo kita segera pergi dari sini," tambah Lita membuat gadis
itu mengangguk.
Keduanya berdiri, lalu gadis itu
melepas tikus yang dia pegang ke tanah.
"Sekarang pergilah, dan cari
keluargamu tikus kecil. Terima kasih sudah membantuku dan Kakak ini," ucap gadis itu dan terlihat
tikus itu bersuara dengan suara khasnya membuat Lita menatap takjub anakdi
hadapannya ini.
"Dadah..." ucap anak itu.
"Terima kasih," ucap Lita saat tikus itu
berlari masuk ke dalam gorong-gorong.
Keduanya berjalan beriringan
sambil berpegangan tangan. Sebelah tangan Lita memegang perutnya yang
masih terasa sakit. Meskipun badan
mereka terasa remuk dan terluka karena berguling tadi, tetapi mereka tidak
memperdulikannya dan tetap berjalan beriringan dengan bahagia.
"Siapa nama kamu?" tanyaLita.
"Aku Rahma, kalau Kakak?" tanyaanak
itu mendongakkan kepalanya menatap Lita.
"Aku Thalita, panggil kak Lita
saja" ujarLita tersenyum. Membuat gadis kecil itu mengangguk patuh.
"Kita mau pergi kemana?" tanyaLita
saat sampai dipinggir jalan.
"Kakak mau pulang? Alamat Kakak
dimana?" tanyaRahma
"Kakak gak tau, Kakak gak
punya rumah" ucap Lita bingung.'Aku tidak mungkin kembali lagi ke
mereka, sudah cukup luka yang aku dapatkan,' batinThalita.
"Kalau begitu ayo kerumah Rahma, rumahnya
tak jauh dari sini kok,Kak." ucap Rahma membuat Lita tersenyum senang.
Flashback
off
"DokterLita,"
Thalita tersadar dari lamunannya
saat ada tepukan ringan dibahunya. Thalita menengok dan terlihat Dokter Rival
berdiri dibelakangnya. "Kamu
melamun? Daritadi aku panggil,”
"Maafkan aku, tadi aku sedang menatap
gadis ini,"
jawab Lita segera mengusap air matanya yang tak terasa luruh membasahi pipi.
"Oh begitu, tadi aku hanya lewat dan
melihat kamu disini,"
ucap Rival tersenyum.
"Dia sakit apa? melihat dari alat medis
yang terpasang di tubuhnya sepertinya cukup kronis," ujar Rival menatap Rahma.
"Dia mengidap kanker paru-paru stadium
akhir,"
jawab Thalita.
"Kasian sekali, gadis semuda
ini harus merasakan rasa sakit yang teramat," ujar Rival simpati.
"Iya, meskipun selalu di
suntikan oxycodone tetapi itu tidak
akan bertahan lama menahan rasa sakitnya,"
ujarLita menatap sendu gadis yang tengah terlelap itu.
"Thalita" suara dari
seorang wanita membuat Thalita dan Rival menengok.
"Ibu Sari?" ucap Lita menghampiri ibu itu
dan memeluknya.
"Kamu kemana saja? Rahma selalu
menanyakan kamu bahkan Ridha, Risa dan Riza selalu menanyakan kamu," ucap Sari saat melepas pelukan Lita.
"Aku pergi ke Wina dan
melanjutkan kuliah di sana. Ibu sama Bapak apa kabar?" tanyaLita.
"Ibu sama Bapak baik-baik
saja, hanya keadaan Rahma-" ibu Sari tidak melanjutkan pembicaraannya, air
matanya sudah luruh membasahi pipi.
"Ibu tenang yah, saya akan berusaha
membantu untuk menolong Rahma,"
ucap Lita.
"Tapi hampir semua Dokter
yang memeriksanya mengatakan kalau dia tidak akan mampu disembuhkan. Tingkat
kesembuhannya tidak ada,"
tangis Sari pecah.
"Saya akan coba berbicara
dengan Dokter khusus, nanti akan saya kabarin ke Bapak dan Ibu. Saya akan
berusaha mencari cara untuk membantu menyembuhkan Rahma," ucap Lita membuat Sari
mengangguk dan Thalita memeluk tubuhnya memberi ketenangan.
***