My Ceo

My Ceo
Episode 52



Flashback on


Thalita tersadar saat bau asap,


dan panas menerpa tubuh dan kulitnya. Thalita membuka matanya dan melihat


sekeliling ruangan yang dia tempati sudah dilahap oleh api. Dengan kondisinya


yang masih sangat lemah, Thalita terbangun dan melepas alat bantu pernafasan


yang bertengker di hidungnya. Sesak langsung menerjangnya, membuatnya


terbatuk-batuk karena asap yang langsung menyesakkan dadanya. Thalita mencoba


meminta tolong tapi karena masih sangat lemah, suaranya  sangat kecil dan Serak. Thalita melihat api


mulai menjalar mendekati blangkar yang dia tempati dan terdapat tabung oksigen


di sisi blangkarnya. Lita sadar kalau api itu mengenai tabung, ruangan ini akan


hancur karena ledakan termasuk dirinya. Thalita melepas jarum infusan


ditangannya dengan menahan kesakitannya. Dengan susah payah Thalita menuruni blangkar


sambil berpegangan ke sisi blangkar dan meja di sampingnya. Thalita berusaha


untuk berdiri tegak meskipun rasa pusing menjalar, Thalita menarik sprai di


atasblangkar dan membalutkannya ke tubuhnya sendiri. Setelah itu Thalita


beranjak menerjang api yang menghalangi langkahnya menuju pintu keluar Thalita


berhasil melewati api itu walaupun lengannya terluka karena terkena api. Thalita


menahan rasa perih dilengannya dan melempar sprai yang sedikit terbakar itu


dengan sembarangan. Thalita berjalan dengan gontai menyusuri lorong rumah sakit


yang sepi dan juga sebagiannya sudah dilahap api. Thalita terus berteriak


meminta tolong, tetapi tidak ada yang mendengarnya. Terlihat disini tidak ada


orang sama sekali. Thalita berhasil berjalan menuju lift, tetapi lift sudah


tidak bisa di perguNakan. Thalita kembali berjalan dengan berpegangan ke


dinding menuju tangga darurat, meskipun badannya terasa sangat lemas dan


kepalanya begitu pusing. Thalita tetap berjalan, tetapi naas saat membuka pintu


tangga darurat, ternyata di sana sudah terlahap si jago merah tanpa celah. Thalita


merasa dirinya sudah terjebak dan tidak tau harus bagaimana, apalagi perut


disebelah kanannya terasa sangat sakit membuatnya sedikit membungkuk.


"Tolonggggg!!!!!" teriak Thalita


sambil terbatuk-batuk. Keringat sudah membasahi tubuh ringkihnya, bahkan


dadanya terasa sangat sesak sekali. Thalita masih berusaha berteriak meminta


tolong dengan suara lemah dan Seraknya. Thalita sudah merasa kalau umurnya akan


berakhir saat ini juga disini. Dengan menyandarkan punggungnya ke dinding Thalita


terus melafalkan doa dengan  memejamkan


matanya.


"Kakak...Kakak..." suara anak


kecil samar-samar tertangkap oleh indra pendengaran Thalita membuatnya langsung


membuka mata.


"Siapa itu? Tolong aku,"Seru Thalita dengan suara Seraknya.


"Kakak,, disini," ucapnya pelan membuat Thalita


celingak celinguk melihat sesekelilinya mencari asal suara. Hingga pandangannya


menangkap sosok seorang anak perempuan berambut sebahu yang memakai pakaian


pasien di rumah sakit ini tengah menyembulkan kepalanya dari lubang ventilasi


di sudut bawah tak jauh dari Thalita berdiri.


"Kakak, ayo masuk kesini.


Kita bisa keluar lewat sini," ucapnya antusias saat Thalitasudah


berjongkok di hadapannya.


"Apa bisa?" tanyaThalita


mengernyitkan dahinya.


"Iya Kakak, kita ikutin tikus ini." Anak itu memperlihatkan tikus


putih kecil ke hadapan Thalita  membuatnya  geli dan jijik


sendiri.


"Kamu percaya dengan tikus ini?


Jangan bercanda De,


ini bukan saatnya bermain-main!" ucap Thalita sedikit kesal.


"Aku gak bercanda Kakak, aku Serius.


Tikus ini akan membantu kita keluar dari sini," ujaranak itu membuat Lita


semakin bingung."Aku memiliki sedikit keistimewaan, aku bisa


mengerti bahasa hewan," ucapnya membuat Thalita kembali


mengernyitkan dahinya semakin keras membuat lipatan di dahinya semakin jelas.


"Percaya sama aku, Kakak. Ayoo..." ujaranak itu


lagi, Lita benar-benar bingung. ‘Apa aku harus mempercayainya atau tidak’ Pikir


Lita.


"Kalaupun kita harus meninggal


karena dilahap api ini, tetapi seenggaknya kita sudah berusaha," ujarnya. ‘Benar juga yang


dia katakan, aku harus berusaha dulu. Jangan pasrah begitu saja.’ BatinLita.


"Ayo Kakak, apinya semakin dekat," ucapnya lagi.


"Apa muat?" tanyaLita melihat


ukuran lubang itu.


"Aku yakin Kakak akan bisa masuk,


aku saja bisa merangkak. Kakak pasti masuk, ayo." ucapnya membuat Lita


mengangguk.Thalita mengikuti anak itu masuk ke ventilasi itu dan benar saja,


ternyata badannya muat masuk ke dalam meskipun dengan posisi merangkak. Lita


terus mengikuti anak itu sambil memegang perut sisi kanannya yang terasa sangat


sakit.


Hingga mereka menemukan ventilasi


yang jalurnya kebawah."Kakak penutupnya buka" ucap anak itu. Lita dan


anak itu sama-sama membuka penutupnya dengan sekuat tenaga hingga akhirnya


terbuka juga."kita meluncur ke bawah, yah kak" ucap anak kecil itu.


"Apa kamu yakin? Gimana kalau


dibawah sana sudah dilahap api? Kita tidak mungkin naik lagi kan" Seru Lita


sedikit ngeri membayangkan mereka meluncur ke bawah tetapi dibawah sana api


sudah menanti mereka untuk dilahapnya.


"Kakak, kalau kita memang


harus meninggal disini. Apa daya, kita tidak meluncurpun kita akan tetap


meninggal karena kehabisan nafas karena api yang di luar sana" ucapnya.


" ayo kak, seengaknya kita coba dulu" tambahnya penuh percaya diri


membuat Lita tersenyum dan ikut mengangguk antusias.


"Tapi Kakak dulu, oke !! takut ada


api dibawah" ucap Lita membuat anak kecil itu mengangguk.


Lita menurunkan kedua kakinya dan


dengan posisi terlentang, Lita meluncur kebawah diikut anak kecil itu. Keduanya


meluncur dengan cepat.


"AAaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!" teriak


keduanya.


dari lubang penutup ventilasi membuat Lita ketakutan, takut cahaya itu dari api


yang tengah berkobar. Mereka tidak bisa menghentikkan gerakannya sehingga terus


meluncur dan kaki Lita langsung menabrak tutup ventilasi hingga terbuka. Tubuh Lita


berguling keluar diikuti oleh gadis kecil itu. Keduanya menutup mata dan


terbatuk-batuk. Lita membuka matanya perlahan dan yang pertama kali dia lihat


adalah langit biru yang cerah. Lita melihat ke arah gadis di sampingnya yang


masih menutup matanya ketakutan sambil memeluk erat tikus putih itu.


"Kamu baik-baik saja?"


Mendengar ucapan Lita, gadis itu membuka matanya


dan melihat sekeliling diikuti Lita. Ternyata mereka berada dibelakang rumah


sakit. Dibagian belakang rumah sakit ternyata belum terlahap api. Lita dan


gadis itu terbangun, keduanya saling pandang dan tersenyum bahagia.


"Horeeeeeee" teriak


girang dari keduanya sambil berpelukan."kita berhasil, kak" ucap


gadis itu.


"Iya Dek, kita berhasil," ucap Lita tak kalah


antusias."Ayo kita segera pergi dari sini," tambah Lita membuat gadis


itu mengangguk.


Keduanya berdiri, lalu gadis itu


melepas tikus yang dia pegang ke tanah.


"Sekarang pergilah, dan cari


keluargamu tikus kecil. Terima kasih sudah membantuku dan Kakak ini," ucap gadis itu dan terlihat


tikus itu bersuara dengan suara khasnya membuat Lita menatap takjub anakdi


hadapannya ini.


"Dadah..." ucap anak itu.


"Terima kasih," ucap Lita saat tikus itu


berlari masuk ke dalam gorong-gorong.


Keduanya berjalan beriringan


sambil berpegangan tangan. Sebelah tangan Lita memegang perutnya yang


masih  terasa sakit. Meskipun badan


mereka terasa remuk dan terluka karena berguling tadi, tetapi mereka tidak


memperdulikannya dan tetap berjalan beriringan dengan bahagia.


"Siapa nama kamu?" tanyaLita.


"Aku Rahma, kalau Kakak?" tanyaanak


itu mendongakkan kepalanya menatap Lita.


"Aku Thalita, panggil kak Lita


saja" ujarLita tersenyum. Membuat gadis kecil itu mengangguk patuh.


"Kita mau pergi kemana?" tanyaLita


saat sampai dipinggir jalan.


"Kakak mau pulang? Alamat Kakak


dimana?" tanyaRahma


"Kakak gak tau, Kakak gak


punya rumah" ucap Lita bingung.'Aku tidak mungkin kembali lagi ke


mereka, sudah cukup luka yang aku dapatkan,' batinThalita.


"Kalau begitu ayo kerumah Rahma, rumahnya


tak jauh dari sini kok,Kak." ucap Rahma membuat Lita tersenyum senang.


Flashback


off


"DokterLita,"


Thalita tersadar dari lamunannya


saat ada tepukan ringan dibahunya. Thalita menengok dan terlihat Dokter Rival


berdiri dibelakangnya. "Kamu


melamun? Daritadi aku panggil,”


"Maafkan aku, tadi aku sedang menatap


gadis ini,"


jawab Lita segera mengusap air matanya yang tak terasa luruh membasahi pipi.


"Oh begitu, tadi aku hanya lewat dan


melihat kamu disini,"


ucap Rival tersenyum.


"Dia sakit apa? melihat dari alat medis


yang terpasang di tubuhnya sepertinya cukup kronis," ujar Rival menatap Rahma.


"Dia mengidap kanker paru-paru stadium


akhir,"


jawab Thalita.


"Kasian sekali, gadis semuda


ini harus merasakan rasa sakit yang teramat," ujar Rival simpati.


"Iya, meskipun selalu di


suntikan oxycodone tetapi itu tidak


akan bertahan lama menahan rasa sakitnya,"


ujarLita menatap sendu gadis yang tengah terlelap itu.


"Thalita" suara dari


seorang wanita membuat Thalita dan Rival menengok.


"Ibu Sari?" ucap Lita menghampiri ibu itu


dan memeluknya.


"Kamu kemana saja? Rahma selalu


menanyakan kamu bahkan Ridha, Risa dan Riza selalu menanyakan kamu," ucap Sari saat melepas pelukan Lita.


"Aku pergi ke Wina dan


melanjutkan kuliah di sana. Ibu sama Bapak apa kabar?" tanyaLita.


"Ibu sama Bapak baik-baik


saja, hanya keadaan Rahma-" ibu Sari tidak melanjutkan pembicaraannya, air


matanya sudah luruh membasahi pipi.


"Ibu tenang yah, saya akan berusaha


membantu untuk menolong Rahma,"


ucap Lita.


"Tapi hampir semua Dokter


yang memeriksanya mengatakan kalau dia tidak akan mampu disembuhkan. Tingkat


kesembuhannya tidak ada,"


tangis Sari pecah.


"Saya akan coba berbicara


dengan Dokter khusus, nanti akan saya kabarin ke Bapak dan Ibu. Saya akan


berusaha mencari cara untuk membantu menyembuhkan Rahma," ucap Lita membuat Sari


mengangguk dan Thalita memeluk tubuhnya memberi ketenangan.


***