My Ceo

My Ceo
Episode 61



Setelah menikmati sunrise di balkon kamar, aku dan Serli pergi menuju


lantai bawah untuk menikmati sarapan kami di resto hotel. Sesampainya di sana,


terlihat sudah ada kak Daniel, kak Dhika, Oktavio, kak Angga, kak Dewi juga kak


Elza. Kak Seno dan Irene belum terlihat.


“Lita, Serli kemari,” panggil kak Dewi. Kami pun berjalan mendekati mereka.


Kami mengambil sarapan, Serli mengambil nasi goreng dengan segelas jus


jeruk. Sedangkan aku memilih coklat panas dan roti dengan selai strawberry


kesukaanku.


Setelahnya kami mengambil duduk bersama mereka. Serli langsung duduk di


samping kak Daniel dan aku memilih duduk di samping kak Dewi.


“Kemana Irene dan kak Seno?” tanya Serli seraya menyuapkan nasi goreng ke


dalam mulutnya.


“Lari pagi mungkin,” jawab kak Daniel.


“Oh iya Lita, lu berencana masuk ke Universitas mana?” tanya Okta. Em


tumben banget dia ntanya aku.


“Aku sudah daftar di Universitas xx,” jawabku.


“Wah kita berjodoh berarti, gue juga masuk ke Universitas itu. Dan ini


senior Brotherhood juga mahasiswa di sana,” jelasnya.


Wah.. gak nyangka banget.


“Ambil jurusan apa?” aku bertanya padanya.


“Gue sih Teknik Informatika. Sebenernya gue agak males kuliah, toh gue gak


kuliah juga tetep bakalan jadi pewaris keluarga Mahya,” serunya dengan bangga.


“Lu perlu tau yah, gue ini pangeran kedua dari keluarga Mahya. Dan semua


harta orangtua gue bakalan di warisin ke gue semua. Gak nyangka pan lu kalau


gue seorang Milyader,” ceroscosnya begitu sombong tetapi entah kenapa


mendengarnya bukan kesal tetapi malah ingin tertawa.


“Yakin lu bakalan di warisin ke lu semua,” seru kak Angga.


“Harus lah, kalau nggak gue bangkrutin aja perusahaan Mahya,” kekehnya.


“Ucapan lu terlalu tinggi, Gator,” seru kak Dhika.


“Ngekhayal dikit gak apa-apa kan,” kekehnya.


“Abis ini rencana kemana?” tanya Serli.


“Rencana nya sih mau ke gua lalay,” jawab kak Daniel. Wah gua Lalay, aku


pernah searching di google tempat wisata ini. Gua Lalay adalah salah satu icon


di sini yang begitu menawan dan sangat indah pemandangannya. Aku jadi gak sabar


ingin segera ke sana dan melihat pemandangan.


Kami bersepuluh pun pergi menuju Gua Lalay dengan menggunakan perahu karet.


Kami juga sudah memakai pelampung untuk melindungi diri kalau terjadi sesuatu


yang tidak di inginkan.


Tak butuh waktu lama, kami pun sampai di Gua Lalay. Perahu karet kami mulai


memasuki area gua yang cukup tinggi dan luas. Sekeliling kami adalah dinding


gua yang  terdapat batu-batu gamping.


Sangat indah dan mempesona, kami begitu menikmati pemandangan panorama dan hawa


sejuk di sisi. Aku tak jarang mengambil potret pemandangan indah ini. Saat aku


menatap ke arah lain, terlihat kak Dhika tengah menatap lurus ke depan, dengan


view di belakangnya begitu indah dan menawan. Tanpa sadar aku mengambil


potretnya dari samping.


Aku tersenyum saat melihat hasil jepretanku, sungguh menawan dan begitu


tampan.


“Ini sungguh mempesona, bagaikan seorang wanita dengan wajah cantik, putih


bersih dan begitu mulus. Sungguh sosok yang sempurna,” ujar Okta begitu


berlebihan menilainya. Dia memang selalu begitu, bukan.


“Gator, fotoin gue dong,” teriak Irene.


“Males ah, pemandangan gua dan laut ini lebih menarik daripada lu, Kaleng


Rombeng,” sahut Okta cuek.


“Honey... Gatornya pelit!” rengek Irene ke kak Seno.


“Gator, fotoin bentar aja. Lu mau gue umbar rahasia lu ke Oma lu.” Ancam kak


Seno sambil tersenyum misterius.


“Yailah lu bistanya main ancaman. Ayo cepet Kaleng Rombeng, lu mau di foto


gaya apa?” seru Okta. “Gini nih nasib anak bonton yang begitu imut dan


menggemaskan.”


“Najis,” seru Serli.


“Kalau ngefans sama gue bilang aja,” seru Okta tamPak santai.


“Idih emohhhh banget,” serunya.


“Pura-pura malu lu ah, Metromini. Padahal ngefans sama gue juga.”


Aku tanpa sadar terkekeh melihat interaksi mereka.


“Kenapa ketawa?” tanya kak Dhika membuatku berhenti tertawa.


“Nggak, lucu aja liat Okta,” ucapku.


cool dengan menaik turunkan alisnya membuatku semakin terkekeh.


“Makin jadi dia kalau ada yang muji,” kekeh kak Dewi.


“Dhik, lu jangan cemburu sama gue yah. Lu harus tau pesona gue lebih


menawan daripada lu,” ucapnya membuat kak Dhika mencibir.


            Kemudian kami sampai di


sebuah pantai yang berada tak jauh dari gua. Kami berfoto bersama-sama di dekat


batu karang.


“Honey, Gatornya nolak motoin lagi.” Rengek Irene.


“Lu kira gue fotograper lu, dasar Kaleng Rombeng!” gerutu Okta.


Mereka lucu sekali...


“Gator, Paket hitam lu gue kasihin ke Oma yah,” sahut kak Seno.


“Dasar Kamvret, main ancem aja. Ayo Irene manis cakep cepetan mau di foto


dimana?” tanya Okta memasang senyuman paling manis membuatku kembali terkekeh


melihatnya.


“Kamu sepertinya suka sama Gator.” Seruan itu membuatku menoleh ke samping


dan ternyata kak Dhika berada di sampingku dengan memasukan kedua tangannya ke


dalam saku celana selututnya.


“Nggak suka dalam artian punya perasaan. Aku hanya suka melihatnya, dia


sangat lucu,” jelasku. Aduh, lagipula kenapa aku harus memperjelas segala


maksud dari suka itu.


Kak Dhika hanya tersenyum ke arahku. “Baguslah kalau begitu,” serunya


kemudian berlalu pergi. Apa maksudnya yang bagus?


“Eh Lita, ayo ikut di foto sama Irene.” Serli menarik tangan ku menuju


Irene yang sedang di foto oleh Okta.


Semuanya berfoto bersama, kebanyakan kami para perempuan yang terus berfoto


bersama. Aku dan Serli pun beberapa kali berfoto berdua dan ada yang di fotoin


olh kak Daniel. Kelihatannya kak Daniel begitu mencintai Serli, dia terus


menuruti keinginan Serli dan begitu melindunginya. Syukurlah Serli sudah


mendapatkan seseorang yang tepat untuk dirinya. Aku akan selalu berdoa untuk


hubungan mereka, semoga bisa sampai ke jenjang pernikahan.


“Yak! Kalian ini benar-benar kejam. Enak-enakan lu pada di foto, nah gue di


suruh bidik terus!” amuk Okta tak terima saat kami berfoto bersama.


“Yaelah Gator, lu lebih cocok jadi tukang foto daripada ikut di foto. Yang


ada hasilnya buram,” celetuk Serli.


“Heh Metromini, enak bener lu ngomong. Kalau bukan ceweknya sepupu gue udah


gue pites lu jadi perkedel,” sewot Okta membuat yang lain terkekeh. Sepertinya


perdebatan di antara mereka bukan hal yang serius sampai yang lain merasa itu


hal biasa.


“Udah Tor, lu fokus aja ngebidik. Entar gantian deh abis ini gue yang


fotoin lu,” ucap kak Dhika.


“Baiklah Bos.” Ucap Okta, menurut Serli, Okta memang tidak bisa melawan


perintah kak Dhika yang meruPakan sang leader. Sepertinya walau mereka semua


saling mengejek satu sama lain, tapi mereka juga saling menghargai. Salut


banget sama persahabat mereka.


            Kami semua berada di


posisi untuk foto bersama. Okta meminta seseorang untuk membidik foto. Dan kini


ia sedang sibuk mengatur posisi kami semua.


“Lita pindah deh jangan deketan si Metromini, efek muka jeleknya si


Metromini mempengaruhi kecantikan kamu,” ujar Okta sekentanya membuatku


terkekeh.


“Maksud lu Gator gendeng?” sewot Serli.


“Coba sepupu gue yang tampan tukeran tempat sama Lita,” seru Okta karena


posisinya aku, Serli, kak Daniel.


“Apa harus yah?” Aku merasa bingung.


“Udahlah Lita, turutin aja apa kata photographer,” ujar kak Daniel beranjak


pindah ke tempatku sambil tersenyum penuh arti membuatku bingung. Kini aku berdiri


di antara Serli dan kak Dhika. Duh berdekatan dengan kak Dhika begini membuat


jantungku berdebar sangat kencang. Apalagi aroma maskulin dari tubuh kak Dhika


membuatku semakin grogi.


“Nah kalau gini kan oke. Dua pasang di kiri, dua pasang di kanan dan Mamake


di tengah sama pria tampan,” ujar Okta terkekeh yang berdiri di dekat kak Elza.


“Ayo Bang di bidik,” teriak Okta pada seseorang yang akan mengambil foto


kami.


Beberapa gaya kami lakukan, tersenyum, unjuk gigi,


ekspresi lucu dan loncat bersama sudah di ambil. Sungguh menyenangkan.


***