
Setelah menikmati sunrise di balkon kamar, aku dan Serli pergi menuju
lantai bawah untuk menikmati sarapan kami di resto hotel. Sesampainya di sana,
terlihat sudah ada kak Daniel, kak Dhika, Oktavio, kak Angga, kak Dewi juga kak
Elza. Kak Seno dan Irene belum terlihat.
“Lita, Serli kemari,” panggil kak Dewi. Kami pun berjalan mendekati mereka.
Kami mengambil sarapan, Serli mengambil nasi goreng dengan segelas jus
jeruk. Sedangkan aku memilih coklat panas dan roti dengan selai strawberry
kesukaanku.
Setelahnya kami mengambil duduk bersama mereka. Serli langsung duduk di
samping kak Daniel dan aku memilih duduk di samping kak Dewi.
“Kemana Irene dan kak Seno?” tanya Serli seraya menyuapkan nasi goreng ke
dalam mulutnya.
“Lari pagi mungkin,” jawab kak Daniel.
“Oh iya Lita, lu berencana masuk ke Universitas mana?” tanya Okta. Em
tumben banget dia ntanya aku.
“Aku sudah daftar di Universitas xx,” jawabku.
“Wah kita berjodoh berarti, gue juga masuk ke Universitas itu. Dan ini
senior Brotherhood juga mahasiswa di sana,” jelasnya.
Wah.. gak nyangka banget.
“Ambil jurusan apa?” aku bertanya padanya.
“Gue sih Teknik Informatika. Sebenernya gue agak males kuliah, toh gue gak
kuliah juga tetep bakalan jadi pewaris keluarga Mahya,” serunya dengan bangga.
“Lu perlu tau yah, gue ini pangeran kedua dari keluarga Mahya. Dan semua
harta orangtua gue bakalan di warisin ke gue semua. Gak nyangka pan lu kalau
gue seorang Milyader,” ceroscosnya begitu sombong tetapi entah kenapa
mendengarnya bukan kesal tetapi malah ingin tertawa.
“Yakin lu bakalan di warisin ke lu semua,” seru kak Angga.
“Harus lah, kalau nggak gue bangkrutin aja perusahaan Mahya,” kekehnya.
“Ucapan lu terlalu tinggi, Gator,” seru kak Dhika.
“Ngekhayal dikit gak apa-apa kan,” kekehnya.
“Abis ini rencana kemana?” tanya Serli.
“Rencana nya sih mau ke gua lalay,” jawab kak Daniel. Wah gua Lalay, aku
pernah searching di google tempat wisata ini. Gua Lalay adalah salah satu icon
di sini yang begitu menawan dan sangat indah pemandangannya. Aku jadi gak sabar
ingin segera ke sana dan melihat pemandangan.
Kami bersepuluh pun pergi menuju Gua Lalay dengan menggunakan perahu karet.
Kami juga sudah memakai pelampung untuk melindungi diri kalau terjadi sesuatu
yang tidak di inginkan.
Tak butuh waktu lama, kami pun sampai di Gua Lalay. Perahu karet kami mulai
memasuki area gua yang cukup tinggi dan luas. Sekeliling kami adalah dinding
gua yang terdapat batu-batu gamping.
Sangat indah dan mempesona, kami begitu menikmati pemandangan panorama dan hawa
sejuk di sisi. Aku tak jarang mengambil potret pemandangan indah ini. Saat aku
menatap ke arah lain, terlihat kak Dhika tengah menatap lurus ke depan, dengan
view di belakangnya begitu indah dan menawan. Tanpa sadar aku mengambil
potretnya dari samping.
Aku tersenyum saat melihat hasil jepretanku, sungguh menawan dan begitu
tampan.
“Ini sungguh mempesona, bagaikan seorang wanita dengan wajah cantik, putih
bersih dan begitu mulus. Sungguh sosok yang sempurna,” ujar Okta begitu
berlebihan menilainya. Dia memang selalu begitu, bukan.
“Gator, fotoin gue dong,” teriak Irene.
“Males ah, pemandangan gua dan laut ini lebih menarik daripada lu, Kaleng
Rombeng,” sahut Okta cuek.
“Honey... Gatornya pelit!” rengek Irene ke kak Seno.
“Gator, fotoin bentar aja. Lu mau gue umbar rahasia lu ke Oma lu.” Ancam kak
Seno sambil tersenyum misterius.
“Yailah lu bistanya main ancaman. Ayo cepet Kaleng Rombeng, lu mau di foto
gaya apa?” seru Okta. “Gini nih nasib anak bonton yang begitu imut dan
menggemaskan.”
“Najis,” seru Serli.
“Kalau ngefans sama gue bilang aja,” seru Okta tamPak santai.
“Idih emohhhh banget,” serunya.
“Pura-pura malu lu ah, Metromini. Padahal ngefans sama gue juga.”
Aku tanpa sadar terkekeh melihat interaksi mereka.
“Kenapa ketawa?” tanya kak Dhika membuatku berhenti tertawa.
“Nggak, lucu aja liat Okta,” ucapku.
cool dengan menaik turunkan alisnya membuatku semakin terkekeh.
“Makin jadi dia kalau ada yang muji,” kekeh kak Dewi.
“Dhik, lu jangan cemburu sama gue yah. Lu harus tau pesona gue lebih
menawan daripada lu,” ucapnya membuat kak Dhika mencibir.
Kemudian kami sampai di
sebuah pantai yang berada tak jauh dari gua. Kami berfoto bersama-sama di dekat
batu karang.
“Honey, Gatornya nolak motoin lagi.” Rengek Irene.
“Lu kira gue fotograper lu, dasar Kaleng Rombeng!” gerutu Okta.
Mereka lucu sekali...
“Gator, Paket hitam lu gue kasihin ke Oma yah,” sahut kak Seno.
“Dasar Kamvret, main ancem aja. Ayo Irene manis cakep cepetan mau di foto
dimana?” tanya Okta memasang senyuman paling manis membuatku kembali terkekeh
melihatnya.
“Kamu sepertinya suka sama Gator.” Seruan itu membuatku menoleh ke samping
dan ternyata kak Dhika berada di sampingku dengan memasukan kedua tangannya ke
dalam saku celana selututnya.
“Nggak suka dalam artian punya perasaan. Aku hanya suka melihatnya, dia
sangat lucu,” jelasku. Aduh, lagipula kenapa aku harus memperjelas segala
maksud dari suka itu.
Kak Dhika hanya tersenyum ke arahku. “Baguslah kalau begitu,” serunya
kemudian berlalu pergi. Apa maksudnya yang bagus?
“Eh Lita, ayo ikut di foto sama Irene.” Serli menarik tangan ku menuju
Irene yang sedang di foto oleh Okta.
Semuanya berfoto bersama, kebanyakan kami para perempuan yang terus berfoto
bersama. Aku dan Serli pun beberapa kali berfoto berdua dan ada yang di fotoin
olh kak Daniel. Kelihatannya kak Daniel begitu mencintai Serli, dia terus
menuruti keinginan Serli dan begitu melindunginya. Syukurlah Serli sudah
mendapatkan seseorang yang tepat untuk dirinya. Aku akan selalu berdoa untuk
hubungan mereka, semoga bisa sampai ke jenjang pernikahan.
“Yak! Kalian ini benar-benar kejam. Enak-enakan lu pada di foto, nah gue di
suruh bidik terus!” amuk Okta tak terima saat kami berfoto bersama.
“Yaelah Gator, lu lebih cocok jadi tukang foto daripada ikut di foto. Yang
ada hasilnya buram,” celetuk Serli.
“Heh Metromini, enak bener lu ngomong. Kalau bukan ceweknya sepupu gue udah
gue pites lu jadi perkedel,” sewot Okta membuat yang lain terkekeh. Sepertinya
perdebatan di antara mereka bukan hal yang serius sampai yang lain merasa itu
hal biasa.
“Udah Tor, lu fokus aja ngebidik. Entar gantian deh abis ini gue yang
fotoin lu,” ucap kak Dhika.
“Baiklah Bos.” Ucap Okta, menurut Serli, Okta memang tidak bisa melawan
perintah kak Dhika yang meruPakan sang leader. Sepertinya walau mereka semua
saling mengejek satu sama lain, tapi mereka juga saling menghargai. Salut
banget sama persahabat mereka.
Kami semua berada di
posisi untuk foto bersama. Okta meminta seseorang untuk membidik foto. Dan kini
ia sedang sibuk mengatur posisi kami semua.
“Lita pindah deh jangan deketan si Metromini, efek muka jeleknya si
Metromini mempengaruhi kecantikan kamu,” ujar Okta sekentanya membuatku
terkekeh.
“Maksud lu Gator gendeng?” sewot Serli.
“Coba sepupu gue yang tampan tukeran tempat sama Lita,” seru Okta karena
posisinya aku, Serli, kak Daniel.
“Apa harus yah?” Aku merasa bingung.
“Udahlah Lita, turutin aja apa kata photographer,” ujar kak Daniel beranjak
pindah ke tempatku sambil tersenyum penuh arti membuatku bingung. Kini aku berdiri
di antara Serli dan kak Dhika. Duh berdekatan dengan kak Dhika begini membuat
jantungku berdebar sangat kencang. Apalagi aroma maskulin dari tubuh kak Dhika
membuatku semakin grogi.
“Nah kalau gini kan oke. Dua pasang di kiri, dua pasang di kanan dan Mamake
di tengah sama pria tampan,” ujar Okta terkekeh yang berdiri di dekat kak Elza.
“Ayo Bang di bidik,” teriak Okta pada seseorang yang akan mengambil foto
kami.
Beberapa gaya kami lakukan, tersenyum, unjuk gigi,
ekspresi lucu dan loncat bersama sudah di ambil. Sungguh menyenangkan.
***