My Ceo

My Ceo
Episode 63



Setelah tengah malam, tim 1


melakukan kegiatan jerit malam. Dimana hanya satu persatu yang disuruh mencari


bendera dan mengumpulkannya.Hingga kini tiba giliranku, aku  terus berjalan menyusuri jalanan hutan yang gelap dan cukup menakutkan.


Tanganku memegang senter dan menyoroti jalanan juga tanda tanda arah di bagian


pohon.


Saat sampai dipersimpangan jalan,


aku tak melihat  petunjuk apapun lagi. Ya Allah kemana ini? Kenapa tidak


ada petunjuk lagi?


Aku semakin memegang erat senter


di tanganku, angin


malam berhembus begitu kencang.Aku mengeratkan jaketku di tubuhku untuk menghalau rasa


dingin itu, aku mulai merasa takut.Berbagai suara binatang terdengar di


telingaku.


"Aaaaaaaa!!!" Aku berteriak dan langsung berlari ke arah mana saja saat mendengar suara lolongan Srigala.Bahkan bendera


yang sejak tadi


aku pegang berjatuhan ke tanah, aku tidak perduli lagi.Yang penting sekarang aku harus menemukan pertolongan.


Aku terus berlari hingga terhenti saat


melihat sebuah gubuk kecil tak jauh di depanku.Aku berjalan mendekati gubuk itu hingga kini


berada diteras rumah panggung itu. Aku hendak mengetuk pintu tetapi aku


mendengar pembicaraan dari dalam.Kedua orang di dalam sana tengah


membicarakan masalah pengiriman Paket, yang aku tau itu Paket sejenis narkoba.


Aku telah salah mendatangi tempat, dengan perlahan aku berjalan mundur tetapi kakiku tersandung karena tidak melihat


adanya anak tangga.


Bruk… Aku terjatuh, dan suara gaduh itu berhasil memancing kedua orang yang tengah


berbicang di dalam sana. Dan kini mereka berdua ada di ambang pintu melihat ke


arahku. Aku segera berdiri dan kembali berjalan mundur walau kakiku terasa


sakit.


"Waw,, ternyata ada yang coba


menguping,"


ucap seorang lelaki dengan tato yang memenuhi tangannya hingga lengannya.


"Cantik lagi, sepertinya masih


sangat empuk,"


ucap lelaki lain yang rambutnya gondrong.


"Jangan coba mendekat!!"


teriakku semakin ketakutan.


"Kok jangan coba mendekat sih?


Bukannya kamu yang menghampiri kami." Lelaki berambut gondrong itu


tertawa devil.


“Ayo langsung bawa saja gadis ini ke dalam," ucap lelaki yang bertato.


Aku  langsung berlari saat mereka


menghampiriku. Aku terus berlari sambil menahan sakit dikakiku.


Setelah lelah berlari, aku


bersembunyi di balik pohon besar, aku mencoba melepas sepatuku saat terasa


ngilu dan sesak. Ternyata pergelangan kakiku bengkak dan memar, aku meringis


saat mencoba menggerakkan pergelangan kakiku. Ya Allah tolong hamba,, tolong


lindungi aku.


"Kak Dhika tolong..."


Spontan aku bergumam memanggil nama Kak Dhika. Aku


mengintip dan kedua preman itu terlihat lengah, dan ini kesempatanku untuk


melarikan diri. Dengan langkah yang terseok-seok aku berlari menghindari


mereka. Tetapi naas, salah satu preman itu melihat ke arahku.


"Itu dia!" teriak salah satu preman


dan mereka langsung kembali mengejarku.


Berkali-kali aku terjatuh dan tersungkur, tetapi


aku terus berusaha bangkit dan berlari hingga aku sampai  di tepi jurang.


"Mau lari kemana kamu, Manis?" seringai keluar dari bibir


preman itu.


"Kamu nggak akan bisa lepas dari


kami!"


ucap lelaki gondrong itu berjalan mendekatiku.


"Jangan mendekat!" teriakku dengan berurai


air mata. Aku sungguh


sangat takut.


"Daripada aku harus memberikan


Aku yang sudah sangat kalut, tidak berpikir panjang lagi, langsung meloncat ke dalam jurang yang tidak terlalu dalam itu, tetapi banyak


tanaman liar tumbuh di sana. Tubuhku berguling ke bawah hingga membentur pohon


besar, dan setelah itu semuanya


berubah menjadi gelap.


---


Aku mengerjapkan mataku


berkali-kali, mencoba beradaptasi dengan sekelilingku. Ternyata aku masih ada


di dalam jurang, aku menatap ke atas yang terlihat gelap. Aku berangsur dan


memaksakan tubuhku untuk bangkit dan berpindah tempat.


Bruk…aku kembali terjatuh, saat rasa pusing dan remuk di tubuhku menyerang.


“Tolonggggg!” teriakku sekuat tenaga dan


berharap ada yang datang menolongku.


"LITA !!!" teriak


seseorang membuatku menengadahkan kepalaku menatap ke atas.


Dan bagaimana seorang pangeran


yang hendak menyelamatkan putrinya, aku melihat Kak Dhika di sana tengah


mengikatkan salur di sebuah pohon. Apa aku berkhayal yah, apa karena kepalaku


terbentur, aku jadi mengkhayal aneh. Aku terus memperhatikan bayangan Kak Dhika


yang terlihat menuruni jurang dengan cekatan.


"Bertahanlah Lita,, aku akan segera


menyelamatkanmu."


teriaknya membuatku tersenyum.


Halusinasi ini sangatlah indah…


Sesampainya dibawah, dia langsung


memeriksa kondisiku. Apa ini bukan khayalan? Aku terus memperhatikan wajah tampannya yang penuhkekhawatiran itu.


"Apa kamu kuat untuk berdiri?"


tanya Kak Dhika


dan aku hanya menggelengkan kepalaku. Karena seluruh tubuhku terasa sangat


remuk saat ini.


Kak Dhika mengambil daun dan meremasnya


hingga hancur, kemudian di tempelkannya di keningku yang


terasa sakit.Kak Dhika menyuruhku menaiki punggungnya, dan akupun segera


menurutinya. Aku


langsung mengalungkan kedua tanganku pada lehernya.


Kak Dhika mulai naik ke atas


dibantu ketiga sahabatnya.


Sungguh halusinasi yang indah...


***


Saat aku tersadar, aku sudah


berada di rumah sakit. Tubuhku masih terasa sangat lemas. Hingga seseorang


datang menjengukku sambil membawa keranjang buah.


“Hai,” sapanya membuatku tersenyum


manis, dia adalah Kak Dhika. sang pangeran yang sudah menolongku.


Ternyata itu bukanlah halusinasi. Kak Dhika benar-benar menolongku.


"Gimana keadaan kamu?" tanya


Kak Dhika seraya duduk di atas kursi di sisi blangkar.


"Aku baik-baik saja. Terima kasih


karena Kakak sudah menyelamatkanku."


"Sama-sama," ucap Kak Dhika dan tak ada


lagi yang mengeluarkan suara di antara kami berdua. Kami berdua  sibuk dengan pikiran kami


masing-masing.Hingga Kak Dhika tiba-tiba saja  berdiri dan merogoh saku jaket dan celananya  yang dia Pakai seakan mencari sesuatu.


"Kakak cari apa?"


tanyaku penasaran karena Dhika terlihat kehilangan sesuatu.


"Senyum," ucap Dhika tetap merogoh


sakunya membuatku  mengernyitkan dahiku


bingung. "Aku


mencari senyuman manis milik seseorang." tambah Kak Dhika membuatku tanpa sadar tersenyum dibuatnya.


"Ketemu." ucap Dhika dengan senyum


manisnya dan duduk kembali, membuatku semakin merona karenanya.


"Aku suka melihat kamu tersenyum," ucap Kak Dhika membuatku


semakin merona.


***