
Setelah tengah malam, tim 1
melakukan kegiatan jerit malam. Dimana hanya satu persatu yang disuruh mencari
bendera dan mengumpulkannya.Hingga kini tiba giliranku, aku terus berjalan menyusuri jalanan hutan yang gelap dan cukup menakutkan.
Tanganku memegang senter dan menyoroti jalanan juga tanda tanda arah di bagian
pohon.
Saat sampai dipersimpangan jalan,
aku tak melihat petunjuk apapun lagi. Ya Allah kemana ini? Kenapa tidak
ada petunjuk lagi?
Aku semakin memegang erat senter
di tanganku, angin
malam berhembus begitu kencang.Aku mengeratkan jaketku di tubuhku untuk menghalau rasa
dingin itu, aku mulai merasa takut.Berbagai suara binatang terdengar di
telingaku.
"Aaaaaaaa!!!" Aku berteriak dan langsung berlari ke arah mana saja saat mendengar suara lolongan Srigala.Bahkan bendera
yang sejak tadi
aku pegang berjatuhan ke tanah, aku tidak perduli lagi.Yang penting sekarang aku harus menemukan pertolongan.
Aku terus berlari hingga terhenti saat
melihat sebuah gubuk kecil tak jauh di depanku.Aku berjalan mendekati gubuk itu hingga kini
berada diteras rumah panggung itu. Aku hendak mengetuk pintu tetapi aku
mendengar pembicaraan dari dalam.Kedua orang di dalam sana tengah
membicarakan masalah pengiriman Paket, yang aku tau itu Paket sejenis narkoba.
Aku telah salah mendatangi tempat, dengan perlahan aku berjalan mundur tetapi kakiku tersandung karena tidak melihat
adanya anak tangga.
Bruk… Aku terjatuh, dan suara gaduh itu berhasil memancing kedua orang yang tengah
berbicang di dalam sana. Dan kini mereka berdua ada di ambang pintu melihat ke
arahku. Aku segera berdiri dan kembali berjalan mundur walau kakiku terasa
sakit.
"Waw,, ternyata ada yang coba
menguping,"
ucap seorang lelaki dengan tato yang memenuhi tangannya hingga lengannya.
"Cantik lagi, sepertinya masih
sangat empuk,"
ucap lelaki lain yang rambutnya gondrong.
"Jangan coba mendekat!!"
teriakku semakin ketakutan.
"Kok jangan coba mendekat sih?
Bukannya kamu yang menghampiri kami." Lelaki berambut gondrong itu
tertawa devil.
“Ayo langsung bawa saja gadis ini ke dalam," ucap lelaki yang bertato.
Aku langsung berlari saat mereka
menghampiriku. Aku terus berlari sambil menahan sakit dikakiku.
Setelah lelah berlari, aku
bersembunyi di balik pohon besar, aku mencoba melepas sepatuku saat terasa
ngilu dan sesak. Ternyata pergelangan kakiku bengkak dan memar, aku meringis
saat mencoba menggerakkan pergelangan kakiku. Ya Allah tolong hamba,, tolong
lindungi aku.
"Kak Dhika tolong..."
Spontan aku bergumam memanggil nama Kak Dhika. Aku
mengintip dan kedua preman itu terlihat lengah, dan ini kesempatanku untuk
melarikan diri. Dengan langkah yang terseok-seok aku berlari menghindari
mereka. Tetapi naas, salah satu preman itu melihat ke arahku.
"Itu dia!" teriak salah satu preman
dan mereka langsung kembali mengejarku.
Berkali-kali aku terjatuh dan tersungkur, tetapi
aku terus berusaha bangkit dan berlari hingga aku sampai di tepi jurang.
"Mau lari kemana kamu, Manis?" seringai keluar dari bibir
preman itu.
"Kamu nggak akan bisa lepas dari
kami!"
ucap lelaki gondrong itu berjalan mendekatiku.
"Jangan mendekat!" teriakku dengan berurai
air mata. Aku sungguh
sangat takut.
"Daripada aku harus memberikan
Aku yang sudah sangat kalut, tidak berpikir panjang lagi, langsung meloncat ke dalam jurang yang tidak terlalu dalam itu, tetapi banyak
tanaman liar tumbuh di sana. Tubuhku berguling ke bawah hingga membentur pohon
besar, dan setelah itu semuanya
berubah menjadi gelap.
---
Aku mengerjapkan mataku
berkali-kali, mencoba beradaptasi dengan sekelilingku. Ternyata aku masih ada
di dalam jurang, aku menatap ke atas yang terlihat gelap. Aku berangsur dan
memaksakan tubuhku untuk bangkit dan berpindah tempat.
Bruk…aku kembali terjatuh, saat rasa pusing dan remuk di tubuhku menyerang.
“Tolonggggg!” teriakku sekuat tenaga dan
berharap ada yang datang menolongku.
"LITA !!!" teriak
seseorang membuatku menengadahkan kepalaku menatap ke atas.
Dan bagaimana seorang pangeran
yang hendak menyelamatkan putrinya, aku melihat Kak Dhika di sana tengah
mengikatkan salur di sebuah pohon. Apa aku berkhayal yah, apa karena kepalaku
terbentur, aku jadi mengkhayal aneh. Aku terus memperhatikan bayangan Kak Dhika
yang terlihat menuruni jurang dengan cekatan.
"Bertahanlah Lita,, aku akan segera
menyelamatkanmu."
teriaknya membuatku tersenyum.
Halusinasi ini sangatlah indah…
Sesampainya dibawah, dia langsung
memeriksa kondisiku. Apa ini bukan khayalan? Aku terus memperhatikan wajah tampannya yang penuhkekhawatiran itu.
"Apa kamu kuat untuk berdiri?"
tanya Kak Dhika
dan aku hanya menggelengkan kepalaku. Karena seluruh tubuhku terasa sangat
remuk saat ini.
Kak Dhika mengambil daun dan meremasnya
hingga hancur, kemudian di tempelkannya di keningku yang
terasa sakit.Kak Dhika menyuruhku menaiki punggungnya, dan akupun segera
menurutinya. Aku
langsung mengalungkan kedua tanganku pada lehernya.
Kak Dhika mulai naik ke atas
dibantu ketiga sahabatnya.
Sungguh halusinasi yang indah...
***
Saat aku tersadar, aku sudah
berada di rumah sakit. Tubuhku masih terasa sangat lemas. Hingga seseorang
datang menjengukku sambil membawa keranjang buah.
“Hai,” sapanya membuatku tersenyum
manis, dia adalah Kak Dhika. sang pangeran yang sudah menolongku.
Ternyata itu bukanlah halusinasi. Kak Dhika benar-benar menolongku.
"Gimana keadaan kamu?" tanya
Kak Dhika seraya duduk di atas kursi di sisi blangkar.
"Aku baik-baik saja. Terima kasih
karena Kakak sudah menyelamatkanku."
"Sama-sama," ucap Kak Dhika dan tak ada
lagi yang mengeluarkan suara di antara kami berdua. Kami berdua sibuk dengan pikiran kami
masing-masing.Hingga Kak Dhika tiba-tiba saja berdiri dan merogoh saku jaket dan celananya yang dia Pakai seakan mencari sesuatu.
"Kakak cari apa?"
tanyaku penasaran karena Dhika terlihat kehilangan sesuatu.
"Senyum," ucap Dhika tetap merogoh
sakunya membuatku mengernyitkan dahiku
bingung. "Aku
mencari senyuman manis milik seseorang." tambah Kak Dhika membuatku tanpa sadar tersenyum dibuatnya.
"Ketemu." ucap Dhika dengan senyum
manisnya dan duduk kembali, membuatku semakin merona karenanya.
"Aku suka melihat kamu tersenyum," ucap Kak Dhika membuatku
semakin merona.
***