My Ceo

My Ceo
Episode 30



Happy Reading


-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


Hari ini Keysa mulai menjejakkan kakinya di perusahaan MH Group milik Mahesya. Keysa memakai rok berwarna abu seatas lutut di padu dengan blezer putih corak bung dan sangat pas dengan tubuh rampingnya. Kacamata hitam tak tertinggal bertengker indah di hidungnya yang mungil dan mancung.


Langkahnya ringan dan angkuh, Wajahnya ia angkat ke atas membuat beberapa karyawan menatap kagum dan menunduk untuk memberi hormat. Semua karyawan tau kalau Keysa adalah tuan putri MH Group.


Di sampingnya ada seorang pengacara tampan bernama Daniel Cetta Orlando, dia bertugas mendampingi Keysa menghadapi para dwan direksi yang tengah menunggunya di ruang meeting. Sedangkan Felix bertugas mengontrol dari perusahaannya dan menyelidiki kasus penjualan ilegal beberapa tanah dan lahan yang ada di beberapa kota dan provinsi.


Ting


Pintu lift terbuka lebar, dan Daniel mempersilahkan Keysa untuk berjalan terlebih dulu. di depannya ada dua orang tengah menyambutnya, satu orang perempuan dan satu orang pria usia lanjut. Yang wanita adalah sekretaris papa sedangkan yang Pria adalah tangan kanan papa, orang yang sudah membuat papa kecelakaan. Keysa mengepalkan kedua tangannyadengan sangat kuat saat melihat pria dengan kepala bagian depannya pelontos.


"Selamat pagi dan selamat datang nona Keysa." sahut wanita muda itu dengan sangat sopan.


"Semuanya sudah berkumpul di ruang meeting." ucap Pak Thomas.


Tanpa menjawab mereka, Keysa melenggang melewati mereka berdua menuju pintu besar tak jauh di depannya. Langkah Keysa terhenti saat berpapasan dengan Reno sang manager di perusahaan ini, di belakangnya sudah ada Sanas berdiri dengan tatapan kebencian.


Keysa semakin mengepalkan kedua tangannya kuat, kebenciannya semakin bertambah melihat wajah mereka berdua. Tanpa ada yang tau, di balik kacamata hitamnya, Keysa menatap tajam mereka dengan tatapan kebencian.


"Selamat pagi, nona Keysa." ucap Reno sedikit membungkukkan badannya memberi hormat tetapi tidak dengan Sanas. Keysa memilih melenggang pergi memasuki ruang meeting diikuti Daniel.


Keysa masih berjalan dengan angkuh menuju kursi kebesaran yang biasa di duduki sang papa. Ruang meeting yang sangat luas dan elegant. di tengah ruangan terdapat sebuah meja besar berbentuk persegi panjang. Setiap sisinya sudah tersedia kursi, semua orang berjas hitam mahal dan berdasi itu berdiri dan memberi hormat pada Keysa saat ia berjalan melewati mereka menuju kursi kebesarannya.


"Kalian boleh duduk," ucap Keysa dan duduk diikuti yang lainnya.


Semua pasang mata tertuju hanya kepadanya, termasuk Reno yang duduk tak jauh darinya. Daniel mulai memperkenalkan dirinya sebagai pengacara pribadi dari Keysa Adeeva Mahesya. Daniel juga menjelaskan apa maksud dan tujuan meeting hari ini. Mulai hari ini Keysa resmi menjabat sebagai direktur utama dari MH Group. Ruangan itu mulai riuh saat Daniel mengatakan itu.


"Harap Tenang," Keysa menengahi.


"Bagaimana wanita muda itu bisa memimpin MH Group yang sudah akan final." celetuk salah satu orang.


"Dia hanya wanita yang suka menghambur-hamburkan uang,"


"Dia tidak bisa mengembalikan perusahaan seperti sedia kala,"


"Dia masih anak kecil,"


Banyak sekali cacian dan tuduhan dari mereka, tangan Keysa sampai berkeringat di atas pahanya. Tidak ada yang mempercayainya sama sekali,


"Tolong tenanglah," ucap Thomas membuka suara.


"Bagaimana kami bisa tenang, beberapa hari ini pak Mahesya menghilang dan meninggalkan perusahaan dalam ambang kehancuran. Lalu bocah ini datang dan mengatakan akan memimpin perusahaan, yang ada perusahaan ini benar-benar Final." ucap seorang pria paruh baya yang sedikit songong.


"Cukup!!" Keysa menggebrak meja dan berdiri dari duduknya.


"Kamu sungguh tidak sopan nona muda," sindir seorang direksi lainnya.


"Kalian yang tidak sopan dan tidak menghargai saya, jadi jangan harap saya akan berlaku sopan pada kalian." ucap Keysa yang sudah sangat emosi.


Daniel bersuara kembali dengan sangat sopan, dan menjelaskan peraturan dari pengadilan dan hukum mengenai Keysa yang berhak menempati posisi ini.


"Kalau kalian tidak ingin mengikuti saya, silahkan ajukan surat pengunduran diri kalian." ucap Keysa dengan tajam dan itu kembali membuat ruangan yang luas itu riuh dan terasa panas.


Daniel kembali mencoba menenangkan mereka, Keysa yang sudah lelah mulai menjelaskan apa niatnya dan apa rencananya untuk mengembalikan kondisi perusahaan.


Setelah melakukan rapat yang menegangkan dan penuh tantangan itu, Keysa beranjak ke ruangan sang papa dan duduk di atas kursi kebesarannya.


"Ya tuhan, rasanya aku ingin pingsan." gumam Keysa mengusap wajahnya sendiri.


"Tenanglah Key, sebaiknya kamu minum dulu." ucap Daniel yang sejak tadi berada di sampingnya.


"Mereka para orangtua yang sangat menakutkan." Keysa bergidik seraya meneguk minumannya.


Tak lama, Thomas dan Tania sekretaris papanya masuk ke dalam ruangan, mereka menjelaskan beberapa hal mengenai perusahaan dan beberapa laporan yang terjadi selama beberapa hari ini. Kebanyakan dari laporan itu adalah pembatalan kontrak kerjasama dari perusahaan lain.


Keysa meminta mereka berdua untuk pergi , setelahnya ia meminta Daniel menghubungi Felix. Walau saat ini mereka sedang kerjasama, tetapi Keysa masih tak ingin mendengar suara Felix dan berinteraksi langsung karena rasanya sungguh sangat menyakitkan.


Keysa juga tak tanggung-tanggung, ia meminta laporan keuangan perusahaan. Dan anak perusahaan yang ada di daerah lain. Daniel dan Keysa mencari bukti kebusukan mereka semua untuk segera menjebloskan para pengkhianat itu ke dalam penjara. Terutama Reno, Keysa sudah sangat geram padanya.


"Tak ada bukti apapun, mereka terlalu pintar memainkan peran." gumam Keysa menghela nafasnya lelah.


"Katamu lahan yang di bali telah di jual dengan harga yang minim. Lalu di mana dokumen penjualannya?" tanya Daniel yang tengah memeriksa beberapa dokumen di depannya.


Keysa menggelengkan kepalanya, sejujurnya ia juga belum memahami semua ini. Ia hanya bisa mengusap wajahnya. Tak lama suara dering telpon milik Keysa terdengar, ia segera mengangkatnya saat nama dokter Dhika tertera disana.


"Apa????" pekiknya menutup mulutnya sendiri dengan mata yang berkaca-kaca.


"Ada apa?" tanya Daniel saat Keysa sudah menutup telponnya.


"Papa sudah siuman, ayo ke rumah sakit. Pak Daniel." ucap Keysa bahagia bercampur haru.


"Baiklah,"


***


Keysa dan Daniel sudah sampai di rumah sakit, dengan tak sabar Keysa berlari menuju ruangan dimana sang papa dirawat.


"Papa,,"


Dhika dan Mahesya menengok ke ambang pintu melihat Keysa yang sudah berurai air mata. "Papa,," Keysa berlari menghampiri Mahesya dan memeluk sang papa dengan tangisnya yang pecah.


"Keysa," Mahesya yang masih terlihat lemah mengusap rambut Keysa.


"Papa kemana saja, apa yang terjadi. Kenapa membuatku takut," isaknya. "Aku sangat takut, Papa."


"Maafkan Papa, Nak." Mahesya mengusap dan mengecupi puncak kepala Keysa.


Daniel dan Dhika tersenyum melihat situasi yang mengharukan itu.


Keysa melepas pelukannya seraya mengusap air matanya. "Apa yang sakit? apa badan Papa sakit? Atau kepala Papa?" tanya Keysa penuh kekhawatiran membuat Mahesya terkekeh kecil.


"Papa kangen sama kamu, Sayang." Mahesya mengusap pipi Keysa dengan lembut. "Lihatlah dokter, ini putri kesayangan saya. Dia sangat cantik bukan seperti yang aku katakan tadi,"


"Ia pak, putri anda sangatlah cantik," puji Dhika membuat Keysa tersipu malu.


Setelahnya Dhika dan Daniel beranjak pergi meninggalkan mereka berdua.


***


Keysa baru saja selesai makan malam di cafetaria rumah sakit, ia hendak kembali ke dalam ruangan sang Papa. Tetapi handphonenya berdering menandakan pesan baru masuk.


081321xxxxxx


Kamu pikir kamu bisa bersenang-senang? Jangan harap...


Waktumu hanya tinggal menghitung hari...


Keysa meringis membaca pesan itu dan menengok kanan kiri mencari seseorang yang mencurigakan tetapi tidak ada. 'siapa sebenarnya si peneror ini? Apa yang dia harapkan dariku?' batin Keysa.


Seseorang menepuk pundaknya membuat Keysa terlonjak kaget. "Ada apa?" tanya seseorang itu.


"Felix," gumam Keysa mengelus dadanya.


"Kamu baik-baik saja kan?" tanya Felix.


"I-iya," jawab Keysa sedikit gugup dan beranjak meninggalkan Felix. Berdekatan dengan Felix malah semakin horor dan membuat jantungnya akan berdetak sangat cepat.


Keysa tau Felix mengekorinya dari belakang, setelah kejadian di rumah Felix beberapa hari yang lalu. Sekarang pertemuan pertama mereka kembali,


"Aku dengar papamu sudah siuman," ucap Felix terdengar dingin.


"Hmm," Keysa melirik ke arah sampingnya dimana Felix sudah berada disana tanpa ekspresi seperti biasanya.


"Bagaimana permasalahan di kantor?" tanya Keysa.


"Aku belum menemukan bukti apapun. Aku yakin bukti itu ada tetapi di simpan di tempat lain."


"Aku akan mencari taunya, aku akan ke Bali malam ini juga." ucap Felix membuat Keysa menengok ke arahnya. "Ada apa?" tanya Felix dan Keysa dengan cepat menggelengkan kepalanya.


"Aku akan pergi selama beberapa hari," ucapan Felix menghentikan langkah Keysa.


"emm,, Baiklah. Semoga lancar." hanya itu yang mampu Keysa ucapkan, ia berusaha menekan hatinya sendiri.


Langkah Keysa terhenti saat Felix seketika memeluk tubuhnya dari belakang. Tubuh Keysa menegang dan meremang, darahnya berdesir hebat hingga mampu melumpuhkan seluruh kinerja ototnya.


Tak ada yang mengeluarkan suara, mereka menikmati posisi mereka saat ini dengan rasa sakit yang teramat.


Ingin rasanya Keysa berbalik dan memeluk tubuh Felix dengan sangat erat dan mengatakan jangan pergi terlalu lama, karena Keysa pasti akan sangat merindukannya. Tetapi rasanya sangat sulit untuk ia lakukan.


Rasa sakit itu terasa sangat menyayat hati mereka yang sudah bernanah.


Sakit saat melihat dia di dekat kita, tetapi masuk sulit untuk di gapai.


***


Sudah 4 hari berlalu, dan Keysa masih belum mendapatkan kabar apapun dari Felix. Selain sibuk di kantor, Keysa juga sibuk mengurusi sang Papa yang sudah mulai membaik. Keysa tak pernah mengeluh dan menyebut nama Felix tetapi jauh di lubuk hatinya ia sangat merindukan Pria yang begitu dia cintai dan sialnya pria itu adalah kakaknya sendiri.


Miris,,,


Selama di rumah sakit juga, Keysa tidak pernah membahas Felix kepada sang Papa, Keysa tidak mau papanya itu semakin terbebani dan kembali drop. Mungkin nanti Keysa akan menceritakannya secara perlahan kepada sang papa. Siapa Felix dan Bunda Hanin,


Saat ini Keysa di sibukkan dengan beberapa pekerjaan di kantor, hingga ia mendapat pesan dari Felix kalau yang melakukan transaksi saat itu adalah Reno. Dan Keysa tau sekarang siapa yang menyimpan rapat-rapat semua bukti itu.


Saat makan siang, Keysa pergi ke apartement millik Reno tanpa ada yang menemani. Keysa akan menggeledah apartement Reno saat ia tengah di kantor. Keysa akan mencari hingga dapat bukti-bukti itu, ia yakin Reno sudah menyembunyikan semuanya dengan rapi.


Ting


Keysa keluar dari lift dan berjalan menuju apartement nomor 331. Yang tidak lain adalah apartement milik Reno, Ia tau semua dokumen itu pasti disembunyikan disana oleh Reno.


Keysa sudah berdiri di depan pintu apartement milik Reno. Ia masih ingat password apartement Reno, dan semoga belum di ganti.


Tentt...


Pintupun terbuka membuat Keysa bernafas lega. Sebelum masuk, ia menengok ke kanan dan ke kiri, takutnya ada yang datang. Setelah di rasa aman, Keysa masuk ke dalam dan menutup pintu apartement kembali. Ia menatap seluruh apartement yang terlihat rapi itu. Disinilah ia memergoki Sanas dan Reno bersama.


Keysa segera mengenyahkan pikirannya yang begitu menjijikan itu. Tanpa menunggu lama, Keysa langsung menerobos masuk ke dalam ruang kerja milik Reno dan mulai mencari dokumen-dokumen itu di setiap sudut ruangan. Dilaci sudah Keysa cari, lalu beralih ke dalam etalase dimana di dalamnya terdapat beberapa buku dan map. Tetapi tidak ia temukan juga.


Keysa mencari di tumpukan map yang ada di atas meja kerja Reno tetapi tidak menemukan juga, ia sudah sangat kelelahan. Lalu pandangannya mengarah ke sebuah laci di bawah meja yang cukup besar. Saat di buka ternyata di dalamnya terdapat sebuah brangkas berbentuk persegi.


"Pasti di dalam sini dia menyimpannya," gumam Keysa.


Keysa menekan tombol turn on lalu besi di samping pemutar berangkas yang seperti roda itu bergeser dan menampakkan 12 tombol angka. Angka dari 1-10 di tambah del dan oke.


"Apa passwordnya yah" gumam Keysa lalu menekan tombol itu dengan tanggal jadian mereka tetapi suara nyaring keluar dari brangkas itu menandakan kalau password salah. "Kok salah??? Apa yah, apa mungkin tanggal lahirnya," Keysa terus mencoba berkali-kali dengan menggunakan tanggal lahir Reno, tanggal lahir Keysa, tanggal lahir Sanas tapi tetap saja salah. Membuatnya menggeram kesal dan memukul brangkas itu dengan sangat kesal. 


"Apa sih?" Keysa berpikir akan mencari sesuatu untuk bisa mencongkel brangkas sialan ini.


Iapun berdiri dan matanya langsung melotot saat mendapati Reno tengah berdiri depan pintu dengan tatapan yang sulit diartikan. Keysa langsung keluar menjauhi meja dan mencari sesuatu untuk melindungi dirinya.


"Apa yang kamu lakukan?" Tanya Reno dingin tetapi Keysa tidak menjawab dan menatap Reno dengan tatapan lebih sinis.


"KATAKAN KEYSA,, APA YANG KAMU LAKUKAN DISINI????" bentak Reno membuat Keysa semakin ketakutan, tetapi Keysa mencoba tidak memperlihatkannya dan terus membalas tatapan Reno dengan tatapan tak kalah sengit. Reno berjalan mendekati Keysa, membuatnya terus mundur.


"Kamu tau, aku paling benci dengan orang yang lancang. Apa yang kamu lakukan diruang kerjaku, Key? Dan mencoba membuka brangkasku?" Tanya Reno sinis dan terus mendekati Keysa membuatnya terus mundur hingga punggungnya menabrak tembok. "Kenapa Key?"


Keysa tak memperdulikannya dan berusaha menghubungi Daniel atau Dhika, atau Devan. Siapapun akan Keysa hubungi. Tangannya bergetar dan sudah berkeringat. Saat sudah bisa menghubungi nomor seseorang, Reno menepisnya hingga handphone Keysa terlempar begitu saja ke lantai. Keysa mendorong tubuh Reno dan hendak mengambil handphonenya tetapi Reno kembali mencengkram kedua lengannya dan menghentakkan tubuh Keysa ke dinding. "KENAPA?"


Keysa meringis kesakitan sekaligus ketakutan, Reno sangat menyeramkan. 'Tolong aku Felix, ku mohon.'


Wajah Reno semakin dekat dengan wajah Keysa membuatnya benar-benar ketakukan. Ini pertama kalinya Keysa melihat Reno wujud aslinya Devil.


Keysa kembali meringis karena cengkraman di kedua pundaknya sangat kuat. Reno mengungkung tubuh Keysa hingga ia tidak bisa bergerak sedikitpun. "kamu pikir aku tidak tau, kalau selama ini kamu dan pengacaramu itu menyelidikiku?" bisik Reno membuat Keysa melotot ke arahnya.


"Kenapa? Kaget? Aku tidak bodoh Keysa, kamu tidak akan semudah itu menangkapku," seringai devil terlukis di bibir Reno. Keysa sudah sangat ketakutan, Reno sangat menyeramkan.


"Kamu tau,," bisik Reno tepat di telinga Keysa. "aku merindukanmu, Babe...."


"Mari kita buat kesepakatan" ujar Reno sedikit menjauhkan wajahnya dan menatap Keysa dengan seksama. "Aku akan berhenti membuat perusahaan Mahes final, dan akan aku kembalikan seperti semula. Tapi kamu harus ikut denganku, menikah denganku." ucap Reno,


"Dalam mimpimu Reno, aku gak sudi nikah sama cowok brengsek seperti kamu," teriak Keysa.


Plak


Reno menampar keras pipi Keysa membuatnya tersungkur ke lantai. Bau amis dan cairan merah merembes di sudut bibir Keysa. Bukan hanya itu, Keysa beringsut menjauhi Reno yang mendekatinya.


"Kamu pikir kamu bisa menolakku? Tidak Keysa,, aku tidak membutuhkan penolakan. Sudah terlalu sering kamu menolakku." Ucap Reno duduk tepat di hadapan Keysa dan mendorong bahu Keysa hingga tubuhnya terlentang.


Reno menindih tubuh Keysa, membuatnya berontak. Reno mencoba mencium bibir Keysa dan mencium leher Keysa, tetapi Keysa terus menghindar. "kalau hanya dengan cara ini, aku bisa memilikimu maka akan aku lakukan," ucap Reno tertawa devil, dan terus mencoba untuk mencium Keysa.


Keysa terus menghindar hingga saat tangannya meraih sebuah pulpen yang tadi jatuh saat Keysa mencari dokumen. Dengan sekuat tenaga Keysa menusukkan pulpen yang cukup tajam itu kelengan Reno.


"AAaaghhhhh!!" teriak Reno menghentikan aktivitasnya dan meringis menatap lengannya yang terluka karena tertusuk pen. Keysa mendorong tubuh Reno hingga membuat Reno terjengkang dan menjauh dari tubuh Keysa.


Reno menatap Keysa yang berdiri, berlari ke arah pintu dan menekan-nekan knop pintu yang terkunci. Reno menatap Keysa yang kacau, pipinya terlihat lebam dan sangat biru, sudut bibirnya sobek membuatnya mengeluarkan darah. Rambutnya acak-acakan dan baju di bahu kirinya sobek. Reno berjalan mendekati Keysa.


"Stop di sana Reno. Jangan mendekat," teriak Keysa.


"Kenapa? Apa yang akan kau lakukan? Lihatlah dirimu," ejek Reno menyeringai.


"Jangan Mendekat !!" teriak Keysa mengangkat pas bunga di dekat meja sudut.


"Kau tidak akan melakukannya," ucap Reno.


"Kamu pikir begitu?"


Prank


Keysa melemparnya dan Reno berhasil menghindar. "Kau menantangku, Keysa." Ucap Reno


Keysa bergeser menjauh dengan berpegangan pada dinding di belakangnya. "Oh iya, Nona besar. Aku mau memberitahumu satu rahasia besar." Ucap Reno berjalan mendekat dengan melepas jas yang ia pakai dan membuka kancing kemeja bagian atasnya.


"Jangan mendekat," Keysa membuka laci dan mencari sesuatu hingga ia menemukan gunting di sana. Keysa segera mengacungkan gunting itu ke depan Reno yang masih menyeringai devil.


"Menjauh, dan buka pintunya." Teriak Keysa.


"Kamu tau Key," Reno memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya. "Kamu terlalu banyak berkorban untuk pria tua itu. Sebenarnya apa yang kamu harapkan darinya? Harta warisannya?" ejek Reno.


"Tutup mulutmu, dia adalah papaku !!" pekik Keysa.


"Dia bukan Papamu,"


Keysa mematung di tempatnya dengan tatapan tajam, "Apa maksudmu? Jangan mengatakan yang tidak tidak," ucap Keysa.


Reno menghela nafasnya dan mengambil sesuatu dari dalam tas yang dia bawa tadi. Reno menyerahkannya ke Keysa membuat Keysa was was. "Bacalah,"


Dengan tangan yang bergetar Keysa menerimanya dan membaca isi dari kertas putih itu. "Itu adalah tes DNAmu dan pria tua itu, disana tercatat jelas kalau kalian tidak sedarah. Kau bukan putri dari Mahesya sang pengusaha kaya, Nona Besar." Ejek Reno.


"Ini? Ba-bagaimana mungkin?" Keysa mengatakannya dengan parau, tubuhnya bergetar hingga gunting yang dia pegang jatuh ke lantai.


"Dengar Keysa Adeeva, kau sudah membuang-buang tenaga untuk menyelamatkan perusahaan milik pria yang sudah membelimu dari pegawainya sendiri."


Deg


Kali ini tatapan Keysa terarah kearah Reno dengan tatapan sangat terluka dan syok.


"Kamu bukanlah Nona Besar dari MH Group. Kamu hanya gadis dari seorang karyawan pemetik teh di perkebunan teh MH Group di puncak."


Ucapan Reno semakin membuat Keysa semakin mematung syok, air matanya luruh membasahi pipi.


Kebohongan dan kenyataan apa lagi ini????


"Jadi berhentilah, dan bergabunglah denganku untuk menghancurkan perusahaan pria tua itu."


Keysa menatap mata Reno yang terlihat bersungguh-sungguh dan serius.


Bagaimana ini????


***