
Happy Reading
--------------------------------------------------------------
Felix berjalan dikoridor rumah sakit Ami, suasana dirumah sakit sudah sangat sepi karena sudah pukul 9 malam. Hanya ada beberapa perawat yang berlalu lalang.
Hingga tanpa terasa langkah Felix terhenti tepat di depan pintu ruangan seseorang. Di pintu berwarna putih itu terdapat kaca kecil, sehingga orang yang di luar dapat melihat ke dalam dimana pasien tengah berbaring dengan beberapa alat medis menempel di tubuhnya.
Felix terpaku menatap sosok wanita yang 4 hari lalu menemuinya dalam keadaan sehat, kini terbaring lemah di atas brangkar rumah sakit dengan berbagai alat medis menempel ditubuhnya. Mata Felix terus menatap sosok itu, sosok yang selalu ia rindukan kehadirannya selama ini. Felix sungguh tidak menyangka sosok yang terlihat kuat dan tegar ternyata menahan rasa sakit dari penyakit mematikan yang setiap saat bisa saja merenggut nyawanya.
Mamaaaaaa...........
Felix sayang...!! (memeluk anaknya)
Mama,, elix lapar . Mama masak apa?
Mama masakin makanan kesukaan Felix,, ayo mama suapin...
***
Ma, Elix sayang banget sama mama, pokoknya mama adalah ibu terbaik di dunia ini.
Felix sayang, jagoannya mama!! Mama juga sayang banget sama kamu, malahan banget banget banget
(anak dan ibu itu tertawa bersama)
Dengerin mama, kalau Felix sudah tidak sama mama lagi. Elix harus jadi anak yang kuat, harus jadi seorang yang tegar jangan lemah. Apapun yang terjadi nanti Felix jangan pernah lemah apalagi nangis. Karena seorang jagoan itu tidak boleh cengeng. Felix janji???
Iya ma, Elix janji tidak akan lemah.....
"Ma...." gumam Felix terus menatap sosok yang tengah berbaring lemah di dalam sana. Cukup lama Felix menatap sosok Hanin yang terbaring lemah di dalam sana, kini Felix beranjak meninggalkan ruangan itu.
***
Di rumah Felix, Keysa tengah duduk di taman belakang sambil menengadahkan kepalanya ke atas, menatap langit hitam tanpa bintang. Hanya sinar bulan yang menerangi gelapnya malam.
Gue benci loe, Key!! Gue bener-bener benci sama loe....
Kata-kata Sanas terus terngiang di telinga Keysa. Hingga tanpa terasa sebutir dua butir cairan bening lolos dari sudut matanya. 'Sampai sekarangpun gue gak bisa untuk benci sama loe, gue begitu menyayangi loe. Gue hanya kesal sama loe, tetapi kenapa loe begitu membenci gue? Apa arti persahabatan kita ini di mata loe, kenapa loe mesti nyimpulin kalau gue sudah merebut semua yang harusnya jadi milik loe.' batin Keysa.
Keysa masih merenung, hingga tanpa terasa airmatanya terus mengalir membasahi pipinya. Cukup lama posisi seperti itu, Keysa merasakan sesuatu yang menimpa pangkuannya. Keysa menundukkan kepalanya dan melihat Felix sudah menyandarkan kepalanya di pangkuan Keysa. Dengan cepat Keysa menghapus air matanya.
"Kamu baru pulang?" tanya Keysa
"hmm" gumam Felix memejamkan matanya.
"Darimana saja? Kenapa baru pulang?" tanya Keysa
"Kenapa belum tidur?" Felix membuka matanya dan langsung bertemu dengan mata coklat milik Keysa.
"Aku menunggu kamu" ucap Keysa membelai kepala Felix. "Kamu kelihatan sangat lelah, apa mau aku buatkan teh dan makan malam?"
"Tidak perlu, aku hanya ingin seperti ini didekatmu. Rasanya lelahku langsung berkurang" ucapnya diiringi senyuman menawannya membuat Keysa merona. "Apa yang sedang otak kecil kamu pikirkan?" Felix menyentil pelan kening Keysa.
"Tidak ada" jawab Keysa
"Jangan bohong, kamu bukan tipe orang yang pandai berbohong. Saat kamu berbohong, di jidat kamu ini langsung tertulis bohong." ucap Felix menunjuk jidat Keysa.
"Masa sih?" Keysa langsung memegang jidatnya sendiri dengan kebingungan.
"Ck, dasar bodoh. Cepat cerita, ada apa?" tanya Felix membelai pipi Keysa dengan lembut yang tengah menunduk.
"Baiklah, tadi Sanas menemuiku" terdengar helaan nafas dari Keysa.
"lalu?" tanya Felix semakin penasaran.
"Dia jujur semuanya sama aku, kalau selama ini dia tidak pernah menganggapku sebagai sahabat. Dia bilang kalau dia sangat membenciku karena menurutnya aku selalu menganggapnya sebagai pembantu, dan karena banyak sekali orang yang berpihak padaku" ucap Keysa lirih. "Aku tidak menyangka kalau Sanas sebegitu bencinya sama aku, padahal aku sudah menganggap dia sebagai kakakku sendiri. Bahkan sekalipun aku tidak pernah menganggapnya sebagai pembantu ataupun oranglain, aku bahkan meminta papa untuk tidak membeda-bedakan aku dan Sanas"
"Pasti ini ada sangkut pautnya sama pria brengsek itu" Felix terlihat geram
"Iya" jawab Keysa. "Tadi siang aku bertemu Reno, dia bilang kalau dia masih mencintai aku. Kalau rasa cintanya sama aku bukan acting atau kebohongan. Dia meminta aku kembali" penjelasan Keysa membuat Felix kesal, hingga gertakan giginya terdengar bergemeletuk hingga rahangnya menonjol.
"Sepertinya ******** itu minta di kasih pelajaran" ucap Felix terlihat kesal
"Sudahlah, biarkan saja" ucap Keysa
"Kenapa di biarkan? Kamu masih mencintainya?" Felix menatap Keysa penuh intimidasi.
"Bukan begitu, aku hanya tidak mau berhubungan lagi sama mereka" ucap Keysa
"Baiklah kali ini akan aku lepaskan, tapi kalau dia sekali lagi nekad. Aku tidak akan tinggal diam" ucap Felix membuat Keysa tersenyum melihat kecemburuan Felix. Felix beranjak dari pangkuan Keysa dan merapatkan badannya ke badan Keysa, ia juga menarik kepala Keysa agar bersandar ke pundaknya.
"Lupakan apapun yang Sanas katakan, kamu tidak bersalah dan tidak melakukan apa-apa, apalagi mengambil miliknya Sanas. Semua itu tidak benar" ucap Felix membelai kepala Keysa, membuat Keysa merasa sangat nyaman, dan semakin mengeratkan rengkuhannya di lengan Felix seraya menutup matanya menghirup aroma maskulin dari tubuh Felix.
"Trus kamu sendiri kenapa? Aku tau kamu sedang lelah dan sepertinya ada masalah" tanya Keysa setelah cukup lama saling terdiam.
"Hmm" gumam Felix masih menikmati aroma harum dari tubuh Keysa.
"Felix" Keysa membuka matanya dan melirik ke arah Felix.
"Kamu sungguh tak sabaran, love" ucap Felix membuat jantung Keysa berdetak lebih kencang
"Love? Apa aku tidak salah dengar??" tanya Keysa
"Kenapa? Tidak suka yah?Atau mau ku panggil pacar saja" ucap Felix membuat Keysa terkekeh
"Tidak. Hanya belum terbiasa saja" kekeh Keysa membuat Felix tersenyum melihat kegugupan Keysa.
"Kamu selalu bisa membuatku tersenyum" gumam Felix mencium kepala Keysa.
"Aku sangat senang mendengarnya." ucap Keysa karena merasa berguna bagi Felix.
"Love,," gumam Felix
"hmm"
"Mama Hanin masuk rumah sakit, dia mengidap penyakit leukemia. Dokter bilang kondisinya sangat kritis. Dia tidak akan mampu bertahan lebih lama lagi" ucap Felix
Keysa yang kaget langsung mengangkat kepalanya dan menatap Felix sendu seakan meminta penjelasan.
"Aku baru tau dari Devan dan Remon dan aku langsung pergi ke rumah sakit untuk menanyakan keadaannya langsung kepada dokter ahli kanker yang menanganinya," ucap Felix lirih.
"Lalu apa kata dokter?" tanya Keysa mulai berkaca-kaca.
"Dia bilang mama Hanin sudah lama melakukan pengobatan, tetapi itu tidak mampu mengobati penyakitnya hanya memperlambat penyebaran kankernya saja dan sekarang sudah tidak bisa lagi" jelas Felix
"Ya Tuhan !!" gumam Keysa menutup mulutnya dengan tangan kanannya. Ia tidak menyangka kalau kondisi Hanin sudah masuk dalam tahap kritis.
"Aku harus bagaimana sekarang? Kemarin aku hanya melihatnya dari jauh dan tidak berani menemuinya" gumam Felix membuat Keysa menengok kearah Felix.
"Kamu harus menemuinya Felix. Keinginan terakhir mama Hanin hanya kamu mengakuinya sebagai ibumu dan juga mampu memaafkannya." ucap Keysa mengusap pundak lebar Felix. "Please, temui dia Felix. Maafkan dia, seburuk apapun dan sebesar apapun kesalahan orang tua, dia tetaplah orangtua kita. Dia yang sudah melahirkan kamu, Felix. Seorang ibu selalu memaafkan setiap kesalahan anak-anaknya dan bukankah tugas seorang anak juga harus selalu memaafkan orangtuanya, bukan ? Kamu juga sangat merindukannya, kan" Felix menatap Keysa penuh arti, kedua mata itu beradu dan seakan memancarkan binar indah hingga membuat keduanya enggan untuk memalingkan pandangan.
"Tapi aku takut, aku malu" Felix segera memutuskan pandangan mereka dan mengusap wajahnya sekilas.
"Tidak Felix,, jangan bicara seperti itu. Dia ibu kamu,, jangan takut untuk mengatakan sayang pada ibu sendiri" ucap Keysa. "Kamu beruntung, masih ada kesempatan untuk meminta maaf dan bilang sayang sama mama Hanin, sedangkan aku? Aku bahkan tidak tau kalau ibuku meninggal, aku mengetahuinya seminggu setelah mama meninggal." ucap Keysa menitikkan air matanya.'Bahkan sebelum hubunganku dengan mama membaik' batin Keysa.
"Kamu benar, mungkin sekarang saatnya aku meminta maaf sama mama" ucap Felix langsung menarik tubuh Keysa ke dalam pelukannya, membuat Keysa menegang. "Terima kasih, Key. Kamu selalu bisa membuatku menyadari segalanya" ucap Felix dan Keysa hanya bisa memejamkan matanya dan mengeluarkan semua air mata dipelupuk matanya.
***
Keysa dan Felix datang AMI Hospital. Saat masuk ke dalam ruangan Hanin, terlihat dokter tengah berbicara dengan Hanin dan terlihat juga dokter melepaskan selang dan beberapa alat medis di tubuh Hanin.
"Fe....felix !! Ka..kamu datang nak?" ucap Hanin tergagap dan kaget melihat kedatangan Felix.
"Kalau begitu saya permisi" ucap dokter itu keluar diikuti suster.
"Kenapa dokter itu melepas semua alat medisnya?" tanya Keysa bingung. Felix masih menatap sang bunda penuh kerinduan.
"Mama tidak membutuhkannya lagi, Key" ucap Hanin terlihat pucat dan lemah.
"Tapi kan..." ucap Keysa tertahan
"Alat-alat itu hanya akan mempercepat kematianku" ucap Hanin dan kini tatapannya beralih ke arah Felix, tatapan mereka bertemu.
"Kenapa?" tanya Felix masih dengan ekspresi tak terbacanya, Hanin maupun Keysa hanya terdiam. "Kenapa anda menyembunyikan ini? Kenapa anda terus membuatku seperti orang bodoh yang tidak tau apa-apa?" ucap Felix matanya sudah merah menahan tangis dan amarahnya.
Keysa tidak melihat Felix yang emosional lagi, tetapi kali ini lebih ke Felix yang penuh luka dan kesedihan. Seperti anak kecil yang begitu merindukan pelukan ibunya.
"Apalagi yang belum aku ketahui?" ucap Felix lirih membuat Hanin semakin menangis terisak.
"Maafkan mama, mama tidak mau membuat kamu khawatir" ucap Hanin yang menangis semakin terisak.
Felix memejamkan matanya lalu menarik nafas dalam-dalam seakan ingin mengisi seluruh rongga dadanya yang terasa kosong, lalu berjalan mendekati Hanin.
Hanin terus memperhatikan Felix yang berjalan mendekati kakinya. Tanpa disangka-sangka Felix memegang kedua kaki Hanin dan menciuminya dengan tangisnya yang luruh. Hanin tak mampu menahan tangisannya lagi melihat apa yang dilakukan Felix.
"Elix, jagoan mama....hikzzz...hikzzz..." tangis Hanin semakin pecah. Keysa yang menyaksikan adegan ibu dan anak itu tersenyum haru sambil menangis.
Setelah mencium kaki Hanin, Felix berjalan mendekati Hanin yang sudah merentangkan kedua tangannya.
"Elix.... Jagoannya mama" ucap Hanin menangis haru.
Felix duduk di sisi brangkar, Hanin langsung menciumi seluruh bagian wajah Felix (kecuali bibir). "Jagoan mama, sayang,, anak mama" ucap Hanin tersenyum di dalam tangisnya.
"Ya,, aku datang ma" ucap Felix mencium kedua tangan Hanin
"Panggil lagi mama sayang,, mama sangat merindukannya" ucap Hanin
"Ma,, mama, mama, mama" ucap Felix yang juga ikut menangis.
"Terus sayang, mendengar kamu memanggilku mama lagi. Aku merasa jadi seorang ibu seutuhnya" ucap Hanin dan Felix langsung memeluk Hanin dengan erat.
Keysa yang melihat keharuan antara ibu dan anak itu langsung beranjak keluar ruangan, memberikan waktu untuk mereka berdua. Keysa bersandar di balik pintu sambil menangis.
"Mama..." gumam Keysa. Sungguh Keysa sangat merindukan sosok seorang ibu, karena dari kecil ibunya tidak pernah menyayanginya dan seakan Keysa adalah musuh ibunya, hingga ibunya meninggal Keysa belum bisa memeluk tubuhnya.
Didalam ruangan, Felix dan Hanin masih berpelukan. "maafkan mama nak, mama sudah merahasiakan semuanya dari kamu. Maafkan mama yang sudah meninggalkan kamu sendiri" ucap Hanin dan Felix melepaskan pelukannya.
"Apa ini alasan mama meninggalkanku dan ayah?" tanya Felix menatap Hanin penuh pertanyaan.
"Iya nak, mama pergi dari kalian karena mama harus menjalani pengobatan di Jerman" ucap Hanin
"Kenapa mama tidak pernah bilang? Mama tau, ayah sangat menderita ditinggal olehmu sampai dia meninggal. Apa mama tidak tau kalau ayah sangat mencintaimu?" tanya Felix
"Mama tau nak, mama tau ayah sangat mencintai mama. Tetapi mama tidak mau merepotkannya lagi, dia sudah sangat baik pada mama, dengan mau menerima mama dan kamu. Dia begitu menyayangi kita berdua tapi sampai saat ini, mama tidak bisa mencintainya. Mama hanya mencintai ayah kandungmu" ucap Hanin terdengar lirih.
"Mama sudah sering menyakiti dia dan sudah banyak merepotkannya. Mama tidak mau lagi membebani dia dengan penyakit ini, makanya mama memilih pergi dari kalian berdua. Maafkan mama, maafkan ibu yang tak berguna ini...hikzzz" isak Hanin.
"Tidak ma, kenapa harus mama yang meminta maaf. Harusnya aku yang meminta maaf, karena aku sudah menyakiti hati mama. Aku sudah durhaka sama mama. Ampuni Felix" ucap Felix menghapus air mata Hanin
"Mama sudah berjuang untuk menjagaku dan menerima hinaan saat kehamilanku. Aku yang terlalu bodoh dan egois tidak pernah mengerti mama, akulah yang tidak berguna jadi anak" ucap Felix
"Kamu tidak bersalah nak,," Hanin menghapus air mata Felix. " mama sangat bahagia kini keinginanku yang terakhir bisa terkabul dan sekarang mama bisa beristirahat dengan tenang" ucap Hanin
"Tidak, jangan bicara seperti itu. Aku akan mencari dokter spesialis kanker terbaik di dunia ini. Mama pasti akan sembuh, percayalah padaku" ucap Felix mencium tangan Hanin yang tengah memegang pipinya.
"Kamu sangatlah tampan, nak. Mama sangat bersyukur memiliki putra seperti kamu" ucap Hanin tersenyum menatap Felix. Keysa masih bersandar di dinding dekat pintu, air matanya terus mengalir.
"Aku merindukanmu, mama" gumam Keysa
Tak lama pintu terbuka dan keluarlah Felix, Keysa segera menghapus air matanya. "Bagaimana mama?" tanya Keysa
"Dia sedang beristirahat" Felix langsung menarik Keysa ke dalam pelukannya. "Aku tidak mau kehilangannya, Key. Baru saja rasa sakit ini hilang dan aku tidak ingin dia pergi lagi" gumam Felix menangis dalam pelukan Keysa.
"Dia akan baik-baik saja" ucap Keysa menepuk punggung Felix.
***
Felix pov
Aku berjalan menyusuri koridor rumah sakit, hingga sampai didepan ruang ICU. Aku melihat mama tengah menatap potret seseorang. Aku berjalan memasuki ruangan dan menampilkan senyuman terbaikku pada mama yang melirik ke arahku.
Aku duduk di sampingnya, dan bertanya apa yang sedang lihat. "Mungkin sekarang saatnya kamu mengenalnya"
Ucapan mama membuatku mengernyit bingung, lalu mama menyerahkan foto itu kepadaku.
"Dia...?" tanyaku, aku benar-benar syok. Walau aku belum pernah bertemu dengannya tetapi aku tau siapa dia. Ya tuhan, apalagi ini. Apa aku salah melihat, atau memang wajahnya yang hanya mirip?
Tolong jawab kalau aku salah melihat, tolong beri aku jawaban kalau dia bukanlah orangnya.
"Apa kamu mengenalnya?" tanya mama menyadarkanku, aku menjawabnya dengan anggukan lirihku.
"Dia rekan kerjaku, siapa dia sebenarnya?" tanyaku semakin penasaran
"Ternyata kalian sudah saling mengenal yah, Felix dia itu adalah ayah kandung kamu"
Deg
"APA???" aku sangat kaget dan syok, ini mustahil.
Ini tidak mungkin....
Ini pasti mimpi, tolong bangunkan aku sekarang juga,,,
"Bunda tidak sedang bercanda kan?" tanyaku lagi seakan meyakinkan
"Ada apa, nak?" tanya mama terlihat kebingungan.
"Kenapa harus dia, ma? Kenapa?" ucapkan mengusap wajahku gusar.
Oh tuhan kenapa harus dia?? Kenapa seakan dunia ini berputar hanya disekitarku,,,
Ini tidak boleh,,,
Ini tidak benar...
"Felix sayang, kamu kenapa nak?" tanya mama memegang tanganku
"Aku tidak apa-apa ma, lupakan saja" ucapkan, aku tak ingin mama ikut terbebani.
Kenapa harus dia....
Kenapa harus Mahesya, ayah kandungku???
Kenapa harus papanya Keysa, Kenapa harus papa dari wanita yang begitu aku cintai. Kenapa???
Ini tidak adil, sungguh tak adil....
"Nak,, dimana Keysa?" pertanyaan mama Hanin menyadarkanku
"Sebentar lagi dia kemari" jawabku seraya memasukkan foto itu ke dalam saku jas yang aku kenakan. Dan benar saja, tak lama Keysa datang dengan membawa makanan,
"Hallo mama Hanin" ucapnya selalu terlihat ceria sambil memeluk mama dan mencium pipi kiri dan kanannya.
Apa benar wanita ini adalah adikku?
Ya tuhan, aku harus bagaimana. Bisakah aku menganggapnya sebagai adikku??
"Bagaimana keadaan mama sekarang?" tanya Keysa
"mama baik-baik saja sayang"
"Aku bawain bubur untuk mama dan makanan untuk Felix, dia belum makan dari tadi pagi bunda" ucap Keysa.
"Dasar pengadu" gerutuku
"Kamu ini,, Keysa sudah baik bawakan kamu dan mama makanan. Bukannya terima kasih" ucap mama mulai berpihak ke gadis ceria itu
"yak.... Kamu sengaja mau mencuri perhatiannya mama" ucapku berusaha bersikap biasa.
"Hush,,, kamu ini kalau ngomong. Jangan bicara aneh-aneh tentang anak perempuan mama" ucap mama sambil memeluk Keysa. Mereka sangatlah akrab.
Kenapa harus Keysa tuhan? Kenapa harus dia?
Kami berbincang-bincang tentang berbagai hal. Lebih tepatnya Keysa yang bercerita sedangkan aku hanya mendengarkannya dan mama sesekali menimpalinya. Aku tidak bisa menyembunyikan kesedihan dan kekesalanku.
Kenapa takdir mempermainkanku seperti ini, kenapa harus wanita cerita di depanku yang menjadi saudaraku? Kenapa harus dia?
"Mama seneng banget Felix bisa bertemu kamu, kalian berdua sangatlah cocok" ucapan mama membuat hatiku teriris. Kalau saja kenyataannya tidak sepahit ini aku pasti akan bahagia dan tak menunda lagi untuk membawa Keysa ke pernikahan.
"Key,, jaga Felix yah. Mama titip Felix yah" ucap mama membuatku kesal. Mama pikir aku ini anak kecil, kenapa harus di titipkan segala.
"Mama ini apaan sih? Aku bisa jaga diriku sendiri" jawabku kesal
"Mama sangat ingin melihat kalian berdua menikah"
Menikah??!!!
Apa benar aku bisa menikahi Keysa yang sekarang statusnya sudah jelas. Kami saudara seayah, apa bisa aku menikahi adikku sendiri?
"Nak, kenapa kamu diam saja?" pertanyaan mama menyadarkanku
"Aku tidak apa-apa" jawabku, mama terus saja tersenyum menatapku dan Keysa
"Mama berharap kalian bahagia, mama sayang banget sama kalian" ucapnya terus menampilkan senyumannya hingga akhirnya kedua mata itu tertutup rapat.
"Ma...." teriakku
***