
Happy Reading
------------------------------------------------------------
"Namaku Pradhika, panggil saja Dhika"
"Aku Keysa"
"Nah Keysa, sekarang sarapan dulu yah. Kondisi kamu sedang tak sehat" ucap wanita paruh baya itu.
"Saya bisa sendiri, Tante. Terima kasih" ucap Keysa membuat wanita paruh baya itu tersenyum.
"Baiklah, kalau begitu tante tinggal yah" wanita paruh baya itu berlalu pergi meninggalkan mereka berdua.
"Makanlah buburnya mumpung masih hangat" ucap Dhika duduk di samping Keysa membuat Keysa mengangguk dan mulai memakan buburnya.
"Terima kasih" ucap Keysa membuat Dhika tersenyum manis.
"Sama-sama." Keduanya sama-sama terdiam membisu, Keysa fokus menikmati buburnya. "Keysa"
"Iya." Keysa menengok ke arah Dhika.
"Boleh aku mengusulkan sesuatu" tanya Dhika membuat Keysa mengangguk lirih. "Lakukan cek darah"
Keysa mengernyitkan dahinya mendengar penuturan Dhika yang tiba-tiba. "Da-darah? tapi kenapa?"
"Aku seorang dokter, ah tidak maksudku baru saja di angkat jadi seorang dokter" ucapnya. "Aku memeriksamu semalam, dan aku menemukan sesuatu yang sulit untuk aku jelaskan. Tetapi sebaiknya kamu melakukan pemeriksaan pada darahmu"
"Apa aku sakit?" tanya Keysa dengan tatapan gelisahnya.
"Bisa jadi tetapi bisa juga tidak. Semuanya akan terjawab kalau kamu menjalankan pemeriksaan. Kebetulan papaku seorang dokter spesialis Jantung di AMI hospital, dia akan memeriksa kondisimu"
"Jantung? tapi kenapa dengan jantungku?" Keysa sudah sangat khawatir
"Tenang Key, tenang dulu. Aku hanya menyarankan saja, agar semuanya bisa lebih jelas" ucap Dhika mencoba menenangkan Keysa.
"Aku takut" cicit Keysa
"Kenapa?"
"Sejak kecil, aku sudah di vonis dengan jantung yang lemah. Dan aku takut mendengar berita buruk" cicit Keysa sudah berkaca-kaca.
"Jadi kamu sudah di diagnosa mengidap jantung lemah?" Keysa menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan Dhika.
"Ini kartu namaku, datanglah ke rumah sakit" Dhika menyerahkan kartu namanya ke Keysa, Keysa segera menerimanya dan tersenyum kecil ke arah Dhika.
"Terima kasih, dokter"
"Panggil saja Dhika" kekeh Dhika
"Baiklah Dokter Dhika" kekeh Keysa membuat Dhika membiarkannya. "Aku harus segera pulang."
"Aku akan mengantarmu, bersiaplah aku tunggu di depan." Keysa mengangguk dan Dhika berlalu pergi.
***
Dhika baru saja mengantar Keysa pulang ke rumah orangtuanya, setelah mengucapkan terima kasih. Keysa berjalan memasuki rumahnya, ia terus berjalan menuju kamarnya hingga berpapasan dengan seseorang.
"Sanas"
"Key"
"Sedang apa kamu di rumahku?" tanya Keysa menatap tas yang di pegang Sanas, Sanas juga melihat koper yang di derek Keysa.
"Membawa beberapa barangku, aku akan pindah" ucapnya dengan sinis dan menatap Keysa dari atas hingga bawah.
"Wow,,, apa yang terjadi, Key? Loe diusir dari rumah bosmu itu? Atau mungkin lebih tepatnya di CAMPAKKAN" ucapnya menekankan kata campakkan. 'Ya sanas benar, aku memang sudah dicampakkan oleh felix.'
"Apa karena kedatangan Bella mantannya, dia jadi mencampakkan loe? Kasian sekali..." ucap Sanas tersenyum mengejek, Keysa mengernyitkan dahinya saat mendengar Sanas mengenal Bella.
"Kaget yah,, kenapa gue bisa tau. Sebenarnya gue tidak ingin mengatakan ini, tapi sayangnya gue harus bilang kalau Bella adalah sepupu gue dari Chili. Loe tau kan kalau om gue ada yang tinggal disana" ucapnya membuat Keysa terpekik kaget, tidak menyangka kalau Sanas dan Bella sepupuan.
Kini Sanas berjalan mendekati Keysa. "Setelah di campakkan oleh bosmu, jangan harap kau bisa kembali merayu Reno" ucap Sanas saat sudah berada dihadapan Keysa membuat Keysa tertegun.
"Maksud kamu apa, Nas?" tanya Keysa mulai kesal
"KAMU SUDAH DIBUANG OLEH CEO ITU DAN SEKARANG KAMU INGIN KEMBALI MERAYU RENO, HAH????" bentak Sanas membuat Keysa kaget. "Nggak, Key!! Untuk sekarang gak akan pernah gue biarin loe ngerebut Reno lagi dari gue. Gak akan pernah Keysa" ucapnya penuh penekanan.
"Gue gak pernah ada niat untuk ngerebut Reno dari loe, gue bukan loe, Sanas!! Gue gak munafik kayak loe" ucap Keysa tak kalah sinis
"Oh yah? Tapi aku tidak yakin, secara kalian masih suka berkomunikasi. Aku sanksi kalau loe akan menjual tubuh loe ke Reno untuk merayunya"
"SANAS" bentak Keysa sangat emosi.
"Kenapa Keysa? Kenapa loe marah? Santai saja, mungkin dengan Reno belum. Karena dia gak akan mau menyentuh bekas orang lain" ucapnya membuat Keysa semakin emosi.
"Tetapi gue berani jamin kalau service loe gak memuaskan. Makannya Felix memilih kembali dengan Bella. Lihat saja badan loe,, ckckck sungguh tidak membuat pria bernafsu" ucapnya mengejek sambil menatap Keysa dari atas hingga bawah.
"Cukup Sanas, gue gak serendah itu!! Gue kira kita sudah saling memahami satu sama lain tapi ternyata gue salah, selama ini gue masih menganggap loe sahabat gue tapi ternyata loe berpikir serendah ini sama gue???" amuk Keysa.
"Gue gak pernah ngerasa punya sahabat kayak loe,, ******!! Loe pegang kata-kata gue,, seberapa gigihnya loe ngerayu Reno.. Gak akan pernah gue biarin dia masuk ke dalam perangkap loe!! DIA MILIK GUE,, INGET KEYSA. RENO MILIK GUE" ucap Sanas penuh penekanan.
Keysa yang sudah tak tahan lagi, segera beranjak menarik kopernya melewati Sanas. "Loe tau Key, loe tuh sudah seperti parasit. Loe sudah jadi parasit dalam hidup om Mahes, lihat saja sampai sekarang papamu tidak ada kabarnya kan" Keysa menengok ke arah Sanas yang menyeringai membuat Keysa bertanya-tanya. "Malang sekali om Mahes, memiliki seorang putri yang bahkan tak memikirkannya dan malah sibuk menjual diri pada bosnya. Selain itu juga loe jadi parasit di hubungan Bella dan Felix dan sekarang loe jadi parasit di hubungan gue dan Reno"
"Pergilah jauh, pergi dari kehidupan Felix dan juga Reno. Loe paham kan?" Seringai Sanas dan beranjak pergi tetapi di tahan Keysa.
"Loe tau dimana papa?" tanya Keysa penuh penekanan.
"Gue tidak tau tuan putri" ucapnya penuh penekanan. "Mungkin sudah pergi menemui ibumu itu"
Deg
Keysa mematung di tempatnya, dadanya terasa sangat sakit dan sesak. Bahkan tangannya terasa berkeringat dan pegangannya perlahan mengendur membuat Sanas menepisnya dan berlalu pergi.
Keysa sekuat tenaga menahan rasa sakit di dadanya, hingga dia berjongkok di lantai. Rasa sakit di jantung dadanya begitu menyayat, Keysa menangis sejadi-jadinya disana. Sakit sekali rasanya,,
"Hikzz...hikz...hikzz..."
***
Keysa Pov
Clara mengajakku untuk bertemu, awalnya aku menolaknya tetapi dia memaksaku hingga akhirnya aku pun menyetujuinnya. Saat ini kami berada di dalam mobil miliknya yang tengah memasuki sebuah komplek, dan berhenti disebuah rumah sederhana, tapi lebih mirip seperti studio.
"Ini studio musik miliknya a.n.jell,, tiap weekend Remon, Devan dan Felix suka menghabiskan waktu disini" jelas Clara
"Felix ada?" tanyaku,, jujur saja aku sedang tidak ingin bertemu dulu dengannya
"Loe tenang aja,, dia gak ada" ucap Clara dan kamipun turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam studio.
Saat masuk ke sebuah ruangan seperti ruang tamu, trus langsung ke ruangan rekaman dimana di dalamnya terdapat ruangan kaca dan banyak peralatan band disana. Disamping ruangan ini juga ternyata terdapat dapur kecil dan pintu ke belakang. Aku mengikuti Clara yang masuk keruangan kaca itu dan langsung memeluk Remon.
"Hai Key" sapa Remon dan aku hanya tersenyum.
"Kalian sengaja datang?" tanya Devan, dan Clara menganggukkan kepalanya. "Kamu baik-baik saja, Key? Wajahmu sangat pucat"
"Aku baik-baik saja, Van" Tetapi tiba-tiba saja Devan menarik tanganku dan membawaku ke pintu belakang. Ternyata di sini taman, kecil tapi lumayan bagus juga.
"Key" Devan menyadarkan lamunanku.
"Kenapa?"
"Apa yang terjadi?" tanya Devan yang tau kalau Keysa sedang tak baik-baik saja.
"Semuanya sudah jelas, yang kamu katakan benar. Aku hanya sebatas pelariannya saja. Dan sekarang aku ingin belajar mandiri tanpa harus merepotkan siapapun" jawabku santai. "Anggap saja sakit hati ini, sebagai balas budi karena dia sudah banyak membantuku" jawabku seenaknya.
"Lupakan semuanya, Key. Aku yakin semuanya akan baik-baik saja" ucapnya dan aku membalasnya dengan tersenyum
"Makasih Van." Devan sangatlah baik. Kami mulai membahas masalah lain mengenai tempat tinggalku yang sekarang tinggal sendiri di rumah. Cukup lama, kamipun kembali ke dalam. Aku berjalan disamping Devan hingga sampai dipintu ruang rekaman,
Disana....!!!
Di dalam sana ada Felix,, bagaimana ini? Aku sedang tidak ingin bertemu dengannya. Lamunanku tersadar saat melihat Devan menerjang Felix.
Bug
Devan menonjok rahang Felix hingga membuatnya menunduk, tapi Felix langsung mengangkat wajahnya menatap Devan tajam, sudut bibirnya terlihat sobek dan mengeluarkan darah. Devan hendak meloloskan tinjunya kembali tetapi Remon langsung menahannya.
"Tenang Van,, santai.." ucap Remon merangkul Devan.
"Loe ****,, loe bodoh Felix!! Loe sudah nyia-nyiain wanita baik seperti Keysa" bentak Devan membuatku merasa tak nyaman. "Gue gak tau apa yang loe pikirkan, tetapi gue kecewa sama loe" tutur Devan menunjuk ke wajah Felix
"Turunkan tangan loe dari hadapan gue" ucap Felix penuh penekanan. "loe bersikap kayak gini karena seorang wanita?? Loe suka sama dia, kan?" bentak Felix membuatku semakin takut
"Loe suka sama Keysa, gue sudah tau kalau loe udah suka sama dia. Dan sekarang loe mau berlaga jadi pahlawan buat dia, hah????" ucap Felix lagi telihat emosi. "Loe mau dia kan,,, ambil !! Ambil dia,, gue sudah gak butuh dia lagi, loe pantas mendapatkan bekas gue."
Deg
Astaga??!! Aku ini manusia bukan barang yang seenaknya dioper, aku merasakan dadaku sangat sesak. Mataku memanas seakan air mata tak mampu ku tampung lagi. Aku menundukkan kepala menahan rasa sakit ini...
Sakit..
Perih,,
Hancur...
Papa.... Keysa harus apa sekarang?? Keysa takut pa, Keysa butuh papa....
Aku mendongakkan kepalaku saat melihat sepasang sepatu mahal di depanku, dan dia..
Tatapan itu!!!
Dia berdiri dihadapanku,, mata kami beradu dan terkunci,,
Jantung ini,,,!!!
Jantung ini masih saja berdetak lebih cepat saat berhadapan dengannya,,
Dia terlihat langsung memalingkan pandangannya dan berlalu pergi melewatiku. Aku hanya bisa memejamkan mata dan merasakan aroma maskulinya yang mampu membuat darah ini berdesir dan jantung ini berdetak lebih cepat,, tapi jauh di hati ini terasa perih,, sangat perih....
***
Aku baru saja sampai di AMI hospital, aku bertanya ke beberapa reseptionist untuk bisa bertemu dengan dokter Dhika. Hingga seorang Satpam mengantarku ke ruangan pemeriksaan milik seseorang.
"Keysa" panggilan itu membuatku menengok dan di tak jauh dariku dokter Dhika berdiri dengan gagah dan tampannya. Senyumannya terukir indah di bibirnya,
"Ada yang bisa ku bantu?" pertanyaannya membuatku tersadar dari lamunanku yang tengah mengaguminya.
"Aku ingin memeiksa kondisiku. Semalaman aku tidak nyaman tidur dan tubuhku berkeringat dingin begitu juga dengan tanganku" jelasku membuatnya mengangguk.
"Baiklah, ayo ikut denganku." aku mengikuti Dhika menuju sebuah ruangan berwarna putih krem. Saat kami masuk, aku melihat seorang pria paruh baya memakai jas dokter. Kacamata tersampir di hidungnya.
"Keysa, kenalkan beliau dokter Surya ahli penyakit jantung." ucap Dhika
"Selamat siang Dok"
"Siang, silahkan duduk" ucapnya dan akupun duduk di kursi yang ada di sana.
"Dhika sudah menjelaskan semuanya, hari ini kita akan melakukan beberapa tes untuk mendiagnosa, kita akan melakukan tes seperti tes darah, elektrokardiogram (EKG), angiografi koroner, CT scan, serta MRI scan. ." jelasnya membuatku menganggukkan kepalaku.
Mereka membawaku ke sebuah ruangan untuk melakukan pemeriksaan. Aku merebahkan tubuhku di atas brangkar dan setelahnya aku tak ingat apapun lagi.
***
Hari ini aku kembali ke rumah sakit seperti yang di minta Dhika, aku berjalan menuju ruangan dokter Surya yang kemarin memeriksaku.
Saat ini aku sedang menunggu mereka di ruang tunggu karena katanya dokter Surya tengah memeriksa seorang pasien. Aku mendengar suara langkah kaki mendekat, membuatku menengadahkan kepalaku dan ternyata dokter Dhika sudah berdiri di hadapanku.
"Kamu sudah lama?"
"Tidak."
Dhika duduk di sampingku dan menatap kosong ke depan. Dia sangat tampan, tidak aku pungkiri. Tetapi sayangnya hanya Felix yang memenuhi hatiku dan juga pikiranku.
"Kamu baik-baik saja kan?" aku merasa bingung dengan pertanyaan Dhika. Aku tersenyum padanya dan mengangguk lirih.
"Ayo masuk, sepertinya papi sudah selesai"
"Papi?" aku kaget mendengar penuturannya barusan.
"Oh maaf, aku lupa memberitahukannya yah. Dokter Surya adalah papaku, aku bekerja padanya" kekeh Dhika
"Kamu baru bekerja disini?" tanyaku
"Tidak terlalu lama sih, dua tahun aku khoas disini. Dan kemarin baru di angkat menjadi dokter, yah walau masih di bimbing sama dokter senior" ucapnya dengan kekehannya.
"Termasuk papamu." Dan dia menganggukkan kepalanya. Kami berjalan bersama memasuki ruangan dokter Surya Adinata, itulah aku baca dari papan namanya. Dokter ahli penyakit jantung.
"Silahkan duduk" ucap dokter Surya, membuatku duduk disana dan Dhika terlihat setia mendampingiku.
"Hasilnya sudah keluar, Keysa" ucapnya membuatku fokus memperhatikannya. "Karena kondisi jantungmu lemah dari sejak kecil, dan sepertinya ini faktor keturunan." aku melihat dokter menghela nafasnya. "Sebenarnya level penyakit jantung di usia muda ini hanya berupa tanda-tanda saja dan bisa saja di cegah agar tidak berlanjut. Tetapi kasus kamu disini, kamu sudah menderita kelainan penyakit jantung dari sejak lahir dan kondisimu saat ini tak bisa di katakan baik-baik saja." Penjelasan dokter Surya membuatku menelan salivaku sendiri.
"Kamu mengidap penyakit jantung koroner, dimana aliran darahmu terhambat. Selain itu, dapat mengurangi suplai darah ke jantung. aterosklerosis juga dapat menyebabkan terbentuknya trombosis atau penggumpalan darah. Jika ini terjadi, aliran darah ke jantung terblokir sepenuhnya. Itulah yang menyebabkan dadamu terasa sangat sakit." Aku berusaha kuat mendengar penuturan dokter Surya. Aku memang menderita penyakit Jantung dari sejak kecil dan hanya papa yang mengetahuinya.
"Akan banyak tahapan gejala yang kamu alami, Key. Tapi untuk langkah awal, kita melakukan pencegahan supaya tidak di lakukan operasi."
"Apa ini akan berpengaruh pada umurku?" pertanyaanku spontan membuat Dhika dan dokter Surya saling beradu pandang.
"Key, semua penyakit itu ada obatnya. Aku yakin kamu bisa sembuh total" ucap Dhika tetapi aku tak butuh hiburannya.
"Berapa persen resiko kematiannya, dokter Surya? Berapa lama aku bisa bertahan hidup?" Tanyaku dengan mata yang sudah memanas menahan air mataku.
"30%"
Deg
Aku berusaha untuk tak kaget, aku menarik nafasku dalam-dalam karena dada ini begitu terasa sangat sesak. Aku merasa seluruh atap ini jatuh tepat di kepalaku.
"Key, tenanglah." Aku menengadahkan kepalaku dan menatap Dhika dengan tatapan hancur.
"Keysa, masih ada peluang untuk sembuh. Yakinlah nak." Aku menengok ke arah dokter Surya dengan tangisanku. "Dhika yang akan membantumu melakukan beberapa terapi, percayalah nak"
"Terima kasih dokter." Aku beranjak pergi meninggalkan ruangan dokter Surya. Aku merasa linglung dan tak mampu lagi berpijak.
Aku berjalan tertatih menyusuri lorong rumah sakit dengan kepala yang ingin pecah.
Kenapa...????
"Hikzzz....hikzz.... Kenapa Dhika. Kenapa hidupku seperti ini?" ucapku karena tau Dhika berjalan di belakangku. Aku menengok ke arahnya yang masih menatapku dengan tatapan yang tak terbaca.
"Aku kehilangan segalanya, aku di campakkan oleh kekasihku. Aku di khianati sahabatku sendiri dan sekarang ini. Aku bahkan belum menemukan keberadaan papa, dan menyelamatkan perusahaannya, tetapi sekarang kondisiku sangat lemah, hikzz.. aku lemah" isakku sejadi-jadinya.
Aku menangis meraung mengeluarkan segalanya, hingga pelukan Dhika membawaku ke dalam pelukannya dan mengusap punggungku.
"Aku berjanji akan membantumu, aku berjanji Keysa. Kamu akan sembuh dan kembali berbahagia, aku berjanji." Aku mendengar suaranya yang bergetar dan penuh penekanan.
"Aku akan ada disini untukmu." Aku menyusupkan wajahku di dada bidangnya, mencoba mendapatkan penompang untuk membantuku berpijak.
"Hikzz....hikzz....hikz...."
"Aku tak akan biarkan, seseorang mengalami hal yang sama seperti dia." aku sedikit termangu dengan ucapan Dhika terakhir.
****