
HAPPY READING
-------------------------------------------------------------
Pagi-pagi sekali Felix menjemput Keysa ke rumah sakit. Rencananya hari ini ia akan kembali pulang, tetapi untuk sementara Keysa akan tinggal di rumahnya. Walau sudah berkali-kali Keysa menolak tetapi Felix memaksanya dan seperti biasanya menjadi sosok yang bossy.
Setelah pamit ke Dhika, mereka menyempatkan waktu mereka dulu untuk menjenguk keadaan Devan. Disana juga terlihat sudah ada Clara dan Remon.
"Loe balik sekarang, Key?" tanya Clara membuat Keysa mengangguk.
"Hai Van,"
"Hai Key," Devan tersenyum kepada Keysa yang berdiri di sisi brangkarnya.
"Bagaimana keadaan kamu?" tanya Keysa, Felix masih setia berdiri di belakang Keysa.
"Baik," kekeh Devan karena melihat tatapan Felix.
"Si Devan kagak bisa berkutik melihat tatapan tajam dari sang elang." Celetuk Remon membuat Clara terkekeh. Keysa menengok ke arah Felix membuat Felix memalingkan pandangannya dan sibuk menatap ke arah hiasan bunga.
"Ck, tunggu di luar saja."
"Siapa?" ucap Felix,
"Kamulah siapa lagi."
"Tidak mau,"
"Felix, aku mau berbicara dengan Devan."
"Ya sudah tinggal berbicara, apa yang salah?" tanyanya masih keras kepala.
"Kami tidak berkonsentrasi mengobrolnya karena ada kamu disini. Tunggu saja di luar,"
"Tidak mau,"
"Felix,,,"
"Keysa,,"
"Berhentilah berkelahi," ucap Devan menghela nafasnya. Sedangkan Remon dan Clara yang duduk di atas sofa hanya bisa terkekeh melihat mereka bertiga.
Keysa kembali melihat ke arah Devan dan berjalan semakin mendekatinya. "Jangan lihat kesini," celetuk Keysa saat melirik ke arah Felix yang mencibir kesal.
"Devan, sebenarnya aku tidak tau mau memulainya dari mana. Tapi sungguh terima kasih dan maafkan aku."
"Tidak perlu berterima kasih dan minta maaf, akulah yang harusnya minta maaf karena aku sudah menghancurkan persahabatan kita dengan perasaan konyol ini." Ucap Devan.
Keysa memegang tangan Devan membuat Felix semakin kesal dan itu sangat di nikmati oleh Devan. "Sekali lagi terima kasih karena sudah menyelamatkan kami."
"Yak,,, gak perlu pegangan tangan." Ucap Felix.
"Diamlah Felix, harusnya kamu juga berterima kasih pada Devan. Dia juga sudah menyelamatkan nyawamu." Ucap Keysa, "dasar tak tau terima kasih."
"ck, Thanks Van."
"Your welcome, brother." Ucap Devan.
"Kalau gitu udah selesai acara berjabatan tangannya." Felix menarik Keysa hingga pegangan mereka terlepas. "Ayo pulang, kamu masih belum sehat."
"Kalian masih gemar berseteru," kekeh Remon.
"Kalau gitu kita pulang dulu yah," ucap Keysa tersenyum ke semuanya.
"Key," panggilan Devan membuat Keysa menengok ke arahnya. "Apa kita masih bisa berteman?"
Keysa tersenyum ke arah Devan dan kembali mengulurkan tangannya. "teman."
"Teman," Felix menerima jabatan tangan Keysa dan Devan yang hendak menjabat tangan Keysa.
"Gue mewakilkan jabatan pertemanan kalian berdua." Ucap Felix dengan senyumannya membuat Keysa mencibir tetapi jauh di dalam hatinya dia tersenyum senang. Inilah prianya yang selalu posessive, arogant dan bossy.
"Van, semoga lekas sembuh yah. Kita balik duluan." Ucap Felix merangkul Keysa dengan posessive.
"Oke, thanks udah nengokin." Felix mengangguk kecil dan melambaikan tangannya pada Remon dan Clara begitu juga Keysa yang memeluk Clara dengan singkat dan berlalu pergi bersama Felix.
Sesampainya di rumah, Felix membawa Keysa ke dalam kamar yang dulu Keysa tempati. Tak ada yang berubah, semuanya tetap sama. Keysa berjalan menuju ranjang dan duduk di sisinya sedangkan Felix sibuk membereskan pakaian Keysa ke dalam lemarinya.
"Felix, bagaimana Papa?"
Felix menghentikan gerakannya dan menengok ke arah Keysa. "Dia sudah sangat membaik. Sahabatnya Dhika membantu dia untuk menyeret Reno ke dalam penjara."
"Aku merindukannya," cicit Keysa sedikit merenung. Bagaimana bisa dia melupakan papanya yang sudah mengurusi dan membesarkannya. Bahkan dia memberikan kasih sayang yang sangat besar untuknya.
Keysa tersentak saat ranjang yang ia duduki bergetar. Ia menengok ke sampingnya ternyata Felix sudah duduk disana. "Kalau kamu merindukannya, kita bisa menemuinya." Ucap Felix merapikan rambut Keysa.
"Apa kamu sudah berbicara berdua dengannya?"
"Berbicara apa?"
"Dia papamu, Felix. Setidaknya berbicaralah dan panggil dia Papa, dia pasti akan sangat senang."
"Dia papamu, papaku sudah lama meninggal begitu juga dengan mamaku." Ucapan Felix yang terlihat dingin membuat Keysa terdiam.
"Felix-,"
"Aku akan membuatkanmu makan siang, tunggu sebentar."
Felix yang seakan tak ingin membahasnya beranjak pergi meninggalkan Keysa sendirian yang merenung di tempatnya.
***
Keysa Pov
Felix membawaku ke suatu tempat yang tak aku ketahui. Tidak ada yg mengeluarkan suara, kami sibuk dengan pikiran masing-masing. Hanya musik suara musik radio yang menemani. Aku hanya terus memperhatikan jalanan di luar jendela. Keramaian, keindahan. Bisakah aku memandangnya lebih lama lagi??
Aku yang tak ingin kembali sedih, memalingkan tatapanku ke arah Felix yang masih fokus menyetir. "Kita akan kemana?" tanyaku memecah keheningan dalam mobil.
"Lihat saja nanti," ujarnya masih fokus menyetir. Aku hanya mampu menghela nafasku,
Tak lama, mobil Felix memasuki sebuah perkampungan. Dan semakin masuk ke dalam, jalannyapun sangat berbatu membuat dudukku tidak nyaman. Di kanan kiri kami banyak sekali rumah yang terbilang kecil dan sedikit kumuh. Di sini juga tercium aroma bau busuk dan benar saja saat menengok ke arah kiri. Disana terdapat tumpukkan sampah yang di biarkan begitu saja.
Sebenarnya Felix mau membawaku kemana, apa yang mau dia tunjukkan kepadaku? Apa dia ada pekerjaan di sini? Atau mau membeli rumah disini? Tapi masa iya sih,,
Terlalu sibuk dengan berbagai macam pikiran. Membuatku tidak sadar kalau mobil sudah berhenti dan Felix sudah membukakan pintu mobil untukku.
"Ayo turun," ucapnya membuatku menengok ke arahnya dan tanpa bertanya apapun, akupun turun dari mobil di bantu Felix.
Aku menatap sesekeliling, di sini tidak terlalu banyak rumah, hanya kebun yang luas mengelilingi tempat ini. Berbeda dengan saat pertama kali masuk ke daerah sini. Dan tepat di hadapan kami terdapat sebuah rumah sederhana yang memiliki warung kecil di depannya. Rumah ini terlihat sangat asri dan nyaman walaupun sederhana. Pekarangan di sampingnya sangat luas dan banyak sekali tanaman bunga dan tanaman lain yang di tanam disana.
"Ini rumah siapa?" Tanyaku yang semakin penasaran, tetapi Felix hanya tersenyum.
"Ayo masuk," ujarnya membuatku semakin bingung, tetapi aku tetap mengikutinya. Kami berjalan menuju warung kecil itu yang terdapat spanduk kecil disana.
Toko kue ibu Rani
"Kamu mau pesen kue? Buat siapa?"Tanyaku,
"Ck... diam saja dan lihat." ujarnya dengan matanya terus menelusuri warung seakan mencari seseorang. Ck,, kenapa dia senang sekali bertingkah misterius. "Permisi,"
"Permisi" sahutnya lagi karena terlihat belum ada tanda-tanda keberadaan seseorang.
"Mungkin tidak ada orang," ucapku karena masih belum ada sahutan.
"Permisi" ujar Felix lagi sedikit meninggikan suaranya.
"Iya sebentar," suara seorang perempuan menyahut dari dalam. Kami sama-sama menunggu pemilik suara itu keluar hingga terdengar langkah mendekat. Terlihat seorang wanita paruh baya berjalan mendekati kami...
Ya tuhannn !!!!
dia.........
Mataku melotot tak percaya menatap seorang wanita paruh baya tengah tersenyum manis di hadapan kami. Tubuhku mendadak kaku, mulutku seakan kelu untuk berucap. Dia adalah wanita yang saat itu mendatangi rumah papa. Benarkah dia ibuku,,,,
Aku merasa dadaku di remas dengan kuat hingga rasanya sangat nyeri dan aku tidak sanggup lagi menahan air mataku yang seketika luruh membasahi pipi.
20 tahun aku tidak pernah mengenalnya dan sekarang dia ada dihadapanku.
Aku tidak tau harus berbuat apa, apa yang harus aku ucapkan. Apa aku langsung memeluknya? Atau apa aku harus bertanya 'benarkah ibu adalah ibu kandungku?' apa yang harus aku katakan.
Aku merasakan remasan tangan dari seseorang. Aku tau itu pasti Felix, dia pasti mengetahui kalau aku sangat syok.
"Maaf nak, ada yang bisa ibu bantu? Apa kalian mau memesan kue?" tanyanya dengan ramah. Aku langsung menundukkan kepalaku untuk menghapus air mataku sendiri. Ibu ini pasti heran melihatku yang sudah menangis.
"Kalian berdua dari mana? Dan apa kalian ingin memesan kue?" ucapnya,
Dia bahkan tidak mengenaliku? Dia sama sekali tidak mengenaliku. Aku merasakan air mataku kembali jatuh membasahi pipi, aku segera menghapusnya karena tidak ingin dia semakin curiga. Aku merasakan Felix merangkulku, mungkin dia menyadari kalau aku menangis.
"Maaf Ibu, sebenarnya kami datang kesini untuk berbicara dengan Ibu." ujar Felix.
"Dengan saya?" dia terlihat kebingungan. Tapi akhirnya mempersilahkan kami masuk ke dalam rumahnya. "silahkan duduk, saya akan buatkan minum dulu." ibu berlalu pergi.
Aku menatap ke arah Felix yang ternyata tengah menatapku juga. "Kamu tau, dia-"
Felix menganggukkan kepalanya. "Aku mencarinya selama ini, dengan sedikit bantuan dari papamu."
"Felix, aku tidak tau harus mengatakan apa," air mataku kembali luruh membasahi pipiku.
"Aku ingin melakukan sesuatu untukmu," Felix menghapus air mataku diiringi senyumannya.
"Tapi dia tidak mengenaliku," gumamku, dengan airmata yang kembali mengalir.
"Ssssttt, dia pasti akan mengenalimu." Ucapnya kembali menghapus air mataku dan membelai kepalaku dengan lembut. "aku akan ada disampingmu, tenanglah." Ia kembali meremas tanganku membuatku mengangguk. Dia mampu menyalurkan sebuah kekuatan kepadaku untuk menghadapi ibu.
"Terima kasih, Bu." ucap felix tersenyum. Ibu terus menatap kami berdua dengan sedikit kebingungan, mungkin dia kaget karena kedatangan kami.
"Begini Bu, maksud kedatangan kami kemari," felix memulai pembicaraannya, Ibu terlihat menyimaknya dengan serius. Membuat seluruh badanku berkeringat dingin dan gugup.
Felix sepertinya tau kegugupanku, dia kembali meremas tanganku bahkan membelainya dengan ibu jarinya. "Apa Ibu mengenal bapak Mahesya Argadipta?"
Seketika aku melihat pupil mata ibu membesar seakan sangat kaget. Tak lama aku melihat Ibu melamun dengan air mata yang menumpuk di pelupuk matanya.
"Maaf Bu," ucapan Felix mampu menyadarkannya.
"Ah maaf," Ibu segera menghapus air matanya. "iya, saya mengenalnya. Dia atasan saya dulu di tempat saya bekerja. Ada apa yah Mas?"
"Langsung ke intinya saja." Ucap Felix seakan dia tidak ingin berbasa basi lagi. "Kenalkan nama saya Felix Ernest Blandino dan ini pacar saya Keysa Adeeva Myesha."
Seketika mata ibu membelalak lebar dan menatap ke arahku. "A-adeeva?" ucap Ibu terbata-bata dengan air mata yang sudah menumpuk di kelopak matanya, tidak jauh berbeda denganku.
"Keysa Adeeva,, anak angkat pa Mahesya dan anak kandung anda," ucap Felix dengan mantap membuat ibu menutup mulutnya tak percaya. Airmatanya luruh membasahi pipi.
Dia menatapku dan Felix bergantian seakan tak percaya. Aku bingung harus bagaimana hingga Felix mengintruksiku untuk membuka suaraku yang terasa sangat sulit sekali.
"I-i-ibu," gumamku lirih, sekuat tenaga mengeluarkan suara. Karena ditenggorokanku terasa ada sesuatu yang mengganjal.
Panggilanku mampu membuat Ibu menatap ke arahku cukup lama dengan tatapan sendunya. Ibu beranjak dari duduknya menghampiriku. Felix melepaskan genggaman tangannya dan mengangguk ke arahku. Aku paham maksudnya, akupun segera berdiri dan menghampiri ibu yang masih berdiri mematung di tempatnya.
"Ibu," panggilku lirih dan terus mendekati ibu. Saat hendak memeluknya, ibu terlebih dulu berjongkok dan memeluk kedua kakiku. Membuatku terjangkit kaget,
"Maafkan Ibu...hikz....hikz....hikz... maafkan Ibu. Maafkan kebodohan orangtuamu ini....hikzzz...." Ibu menangis meraung-raung di bawah kakiku, membuatku sulit untuk bergerak. Aku mencondongkan tubuhku dan menarik kedua pundak Ibu untuk berdiri dan memeluknya.
"Ibu......hikzzzz.....hikzzzzz........hikzz........"aku menangis meraung-raung di pelukan ibu, ibu yang selama ini aku rindukan. Ibu yang selama 20 tahun tidak aku kenali, selama 20 tahun aku kehilangan kasih sayang dari seorang ibu dan pelukannya.
Selama 20 tahun aku terpisah dengannya.
"Hikz......hikzz.......hikz....."
Kami sama-sama menangis meraung-raung melepaskan rindu dan beban yang selama ini ditahan. Ibu melepas pelukannya dan menciumi setiap inci wajahku yang basah.
"Putriku,,, putri kecil Ibu... Adeeva kecil Ibu... Deeva....hikz...hikz...."ibu kembali memelukku dengan erat. Mataku bertemu dengan mata Felix yang tengah tersenyum menatap kearah kami. Aku melihat matanya merah dan berair, aku yakin dia terharu dan mengingat bunda hanin. Aku menggerakkan bibirku mengucapkan kata 'terima kasih' tanpa mengeluarkan suara dan dia membalasnya dengan tersenyum dan mengangguk. Aku menenggelamkan wajahku dibahu ibu.
***
Setelah cukup lama kami melepas rindu kami, kini aku duduk di samping Ibu yang terus menggenggam tanganku. Sedangkan felix duduk disofa single tempat ibu tadi duduk.
"Deeva,, ibu sungguh sangat bersyukur pada tuhan karena masih bisa bertemu denganmu. Ibu sangat bahagia,, sangat-sangat bahagia. Penantian ibu selama 20 tahun ini tidak sia-sia." ucap ibu kembali menangis membuatku ikut menangis.
"Kenapa ibu memanggilku Deeva?" Tanyaku karena penasaran daritadi ibu memanggilku dengan nama panjangku.
"Karena nama itu pemberian ayahmu sayang. Adeeva Pahira Prayuda, itu nama kamu yang kami berikan. Nama ayah dan ibu terdapat disana, saat itu ibu meminta ke pak Mahes untuk tetap menamaimu dengan nama Adeeva agar kami bisa mengenali kamu," jelas ibu membuatku terharu.
"Siapapun namaku, aku tetap anak kandung ibu kan."
"Iya nak, kamu putri ibu, Kamu Permata ibu. Kamu nyawa ibu sayang." Ibu kembali mencium keningku, aku memeluk ibu dan menyandarkan kepalaku di pundaknya. Aku ingin seperti ini terus,, merasakan kehangatan ini. Kehangatan dari pelukan seorang ibu.
"Kamu sangat cantik sayang. ibu sampai tidak menyangka kalau putri ibu, kini menjelma menjadi seorang bidadari," ucap ibu membuatku terkekeh.
"Dia sangat mirip dengan ibu," ucap Felix membuatku semakin merona.
"Apa yang terjadi Nak? Waktu itu kata pak Mahes kamu mengalami kecelakaan," Tanya ibu dan aku melepas pelukannya.
"Tidak terjadi apa-apa ibu, aku baik-baik saja. Papa melakukan itu karena dia tidak mau ibu bertemu denganku," jelasku.
"Apa Nak? Jadi pak Mahes membohongi Ibu?" Tanya ibu tak percaya. "oh tuhan, kenapa dia tega lakukan ini. Kamu tau, ibu hampir saja berniat bunuh diri karena kehilangan kamu, ibu hidup sebatang kara di dunia ini. Hanya kamu semangat ibu bertahan,"
Aku kaget mendengar ucapan Ibu barusan. Karena kebohongan dan keegoisan papa, aku hampir saja kehilangan ibu kandungku sendiri. Bahkan aku tidak akan pernah bertemu lagi dengannya.
"Ibu berniat bunuh diri, tetapi ibu bertemu dengan seorang perempuan. Usianya tak jauh berbeda dengan Ibu, dia menahan ibu untuk melakukan kebodohan itu. Dia menjelaskan kepada ibu arti sebuah hidup dan arti sebuah nyawa. Dia menjelaskan kalau jalan yang akan ibu tempuh tidak akan menghasilkan apa-apa, yang ada hanya kesengsaraan." Jelas ibu sedikit merenung. " Dia juga bercerita tentang kehidupannya, dia meyakinkan ibu kalau nyawa itu sangat berarti," jelas ibu dengan air mata yang terus meluruh.
"Ibu malah merasa malu dengannya. Dia juga seorang ibu, dia juga tengah berjuang menemui putranya. Dengan kondisi dia yang tengah melawan penyakit kankernya. Bertahun-tahun dia dirawat dirumah sakit, melakukan beberapa tes dan kemoterapi tetapi tidak bereaksi apapun. Saat itu dia memutuskan untuk berjuang menemui putranya sebelum nyawanya di ambil, daripada harus berjuang dirumah sakit melawan penyakitnya yang tak kunjung sembuh. Satu pelajaran yang dapat ibu ambil darinya, sehingga ibu masih terus bertahan hingga detik ini," Jelas ibu menangis terisak, membuatku semakin merasa bersalah.
"Apa boleh saya tau, siapa nama ibu itu?" Tanya Felix tiba-tiba, membuat ibu menoleh ke arahnya.
"Namanya kalau gak salah, nyonya Hanin." ucap ibu membuatku dan Felix kaget. Aku langsung melihat ke arah Felix yang terpaku di tempatnya, tubuhnya terlihat menegang, pandangannya kosong dengan mata yang merah. Terlihat airmata yang menumpuk dipelupuk matanya siap untuk meluncur. Dia terlihat menundukkan kepalanya,
Ya tuhan dunia ini sungguh sangat sempit dan serba kebetulan.
"Ibu," aku memegang tangan ibu yang terlihat bingung melihat Felix yang bergetar, terlihat dia menangis. "ibu, ibu Hanin itu adalah bundanya Felix." ucapku membuat ibuku kaget.
"Serius?" Tanya ibu dan aku mengangguk.
Ibu beranjak dan duduk di lantai di hadapan Felix, ibu mengusap kepala Felix dengan sayang. "menangislah nak, keluarkan semuanya." Ucap ibu. "nyonya Hanin orang yang sangat baik, dia pasti sangat bahagia di sana," ucap ibu mengusap kepala Felix membuatnya mendongakkan kepalanya dan menatap ibu dengan sendu. "kemarilah peluk ibu, jangan sungkan." Ibu merentangkan tangannya membuat Felix luruh ke lantai dan memeluk ibu dengan menangis terisak. Aku tersenyum dalam tangisku, aku sangat sangat paham apa yang di rasakan oleh Felix.
"Ibu pernah berjanji pada nyonya Hanin, kalau aku bertemu dengan jagoannya itu. Aku akan menyayanginya seperti anakku sendiri. Aku akan memberikannya kasih sayang layaknya putra kandunganku sendiri," ucap ibu mengusap punggung Felix.
Tak lama Felix melepas pelukannya dari ibu, dan mereka sama-sama berdiri. "terima kasih ibu, terima kasih sudah mau memberikanku pelukan hangat seorang ibu. Aku sangat merindukannya, aku sangat menyesal. Aku mengetahui keadaannya disaat-saat terakhirnya. Aku kehilangan segalanya, kehilangan segala yang berarti dan hanya penyesalan ini yang tersisa."
"Tidak nak, tuhan sudah mengatur segalanya. Jangan nyalahin diri sendiri, beliau sudah tenang dialam sana. Sekarang tinggal kamu tunjukkan kalau kamu mampu menjadi anak yang patut dia banggakan," ucap ibu membuat Felix mengangguk dan kembali memeluk ibu.
Ibu menatap ke arahku dan merentangkan tangan satunya lagi. Aku berjalan dan memeluk ibu berdampingan dengan Felix. Kami menangis dalam diam.
Ibu melepas pelukan kami dan menghapus air mataku dan juga Felix. "jadi,, kapan kalian akan menikah?" ucap ibu seketika membuat Felix terkekeh.
"Putri ibu menolak lamaran saya," ucap Felix.
"Loh kenapa?"
"Aku memiliki alasannya, Ibu." Ucapku tersenyum kecil, ibu tidak boleh tau keadaanku sekarang. Bertemu dengannya sudah cukup bagiku, walau waktu kebersamaan kami begitu singkat.
"Aku tidak akan putus asa untuk melamarnya kembali," ucapan Felix yang seakan mengalihkan kebingungan ibu. Aku tersenyum padanya yang menatapku dengan tatapan tak terbaca.
"Baiklah. sekarang ayo kita makan bersama. Ibu akan memasak banyak buat anak dan menantu ibu," ucap ibu membuatku merona mendengar ibu memanggil Felix dengan panggilan menantu. Andai itu bisa terjadi, menikah dengannya adalah impianku.
"Awww," aku merasakan hidungku di sentil seseorang.
Dan tepat sekali Felix sudah berada di hadapanku dan ibu sudah tidak ada. Mungkin sudah pergi ke dapur. "ck.. malah melamun." Dia tersenyum kepadaku, membuatku tak mampu menyembunyikan senyumanku.
"Terima kasih,"
"Untuk?" tanyanya.
"Kejutan yang sangat indah ini." Jawabku, "Setidaknya aku bisa bersama ibu selama bebera-"
Cup
Aku tersentak saat kecupan dari seseorang.
"Kamu akan merasakan kebahagiaan ini dalam waktu yang sangat lama. Sangat sangat lama." Ucapnya membuatku tersenyum kepadanya.
Tuhan, terima kasih sudah menghadirkan pria ini. Pria yang sangat istimewa dan begitu berarti, setidaknya hidupku menjadi lebih berwarna saat bersama dirinya.
"Aku mencintaimu,"
"Aku tau, jadi menikahlah pekan ini denganku." Ucapannya membuatku tersentak kaget.
"Berhenti bergurau," aku memukul lengannya dan berlalu pergi meninggalkannya.
Aku berjalan masuk ke dalam ruang tengah rumah ibu, ruangan ini berbentuk persegi panjang dan terlihat sederhana. Di ujung sana dapur yang menyatu dengan meja makan. Di dekat televisi banyak sekali pigura yang di pajang. Aku melihat satu per satu foto itu.
Foto pertama, aku melihat seorang bayi yang gemuk dan montok tengah tertawa dengan memakai dress bayi berwarna merah dengan vita dikepalanya. "itu foto kamu saat kecil," ucap ibu yang terlihat tengah memotong sayuran dimeja makan.
"Ini foto aku?" tanyaku meyakinkan dan ibu mengangguk.
"Mana coba lihat," Felix merebut pigura dari tanganku.
"Montok banget,, lucu lagi." ucapnya membuatku tersenyum bangga. "tapi kenapa sekarang jadi kayak papan triplek?" ucapnya lagi membuatku mengerucutkan bibirku sebal.
"Nyebelin," gerutuku sedangkan dia hanya bisa terkekeh begitu juga dengan ibu.
Aku beralih ke pigura yang kedua, di sana foto seorang pria matang tengah tersenyum manis. "itu foto mendiang ayah kamu," Aku melihat ibu menghela nafasnya dan menghapus air matanya. 'apa yang terjadi?'.
"Foto yang di pajang diatas ini, siapa bu? Keliatannya kembar," ucap Felix membuatku menatap ke arah foto yang di pajang diatas televisi dengan pigura yang besar.
"Itu Adeeba dan Adeeva, dia saudara kembarnya Deeva," ucap ibu membuatku mematung ditempat. 'jadi aku punya saudara kembar'
"Kamu pasti bertanya-tanya kan." aku merasakan tepukan lembut di pundakku membuatku menengok ke arah pemilik tangan itu yang tak lain adalah ibu.
"Ibu akan jelaskan semuanya, tapi setelah kita makan. Ayo," ibu menarik tanganku dan Felix berjalan dibelakangku.
Kami duduk bersama dimeja makan. Ibu duduk dihadapanku, sedangkan Felix duduk disampingku. "ayo makanlah," ucap ibu seraya menyendokkan nasi dan lauk pauknya ke piring milikku dan Felix. " maafkan ibu karena makan dengan lauk seadanya."
"Tidak masalah, ini lebih enak daripada makanan di restaurant-restaurant mahal," ucap Felix yang telah melahap makanannya sambil mengacungkan ibu jarinya.
"Ayo Deeva di makan," ucap ibu membuatku mengangguk dan mulai menyuapi makanan ke dalam mulutku.
Rasanya sungguh sempurna, airmataku kembali jatuh seraya mencoba menelan makanan ini. 20 tahun aku makan dari hasil masakan pembantu rumah tangga, bahkan aku belajar memasak sendiri tanpa bantuan seorang ibu. Dan sekarang aku merasakannya, ini sangat sempurna. Rasanya mengalahkan segala masakan yang pernah aku makan.
"Ada apa? apa masakan ibu tidak enak?" aku melihat ibu yang khawatir, aku juga melihat ke arah Felix yang terlihat khawatir kepadaku, aku menggelengkan kepalaku.
"I-ini...ini...rasanya..." ucapku terbata-bata karena air mata ini tidak bisa berhenti mengalir. Aku menggigit bibir bawahku menahan isakan dan air mata yang mengalir. "sangat sempurna,, a-aku...aku baru pertama kali merasakan rasa masakan seperti ini. Rasanya sangat sempurna," aku tersenyum dalam tangisku dan kembali menyuapkan makanan itu ke dalam mulutku.
Aku memakan makananku dengan lahap, aku tidak memperdulikan air mata yang terus mengalir membasahi pipi. Aku menengok ke sampingku saat merasakan tangan Felix menyentuh lenganku.
"Kamu baik-baik saja kan, Sayang?" Tanya Felix dengan lembut membuatku mengangguk. Aku menelan semua makanan yang ada di mulutku.
"Selama ini aku memakan makanan hasil masakan dari pembatu rumah tangga, dan makanan yang ada direstaurant-restaurant. Tapi ini sangat sempurna, hasil masakan dari tangan seorang ibu. Aku baru merasakannya Felix,, rasanya sungguh sempurna," ucapku ditengah isakanku dan kembali melahap makananku. Aku mendongakkan kepalaku saat mendengar isakan seseorang. Tepat dihadapanku ibu tengah menangis menatapku.
"Ayo ditambah lagi, habiskan semuanya. Ayo habiskan," ibu tersenyum ditengah tangisnya dan menyendokkan lagi makanan ke dalam piringku dan Felix. Kemudian Ibu menyodorkan sendok berisi makanan ke arahku.
"Saat kamu berumur 2 tahun, ibu selalu menyuapimu dan kakak kamu. Kamu yang paling lahap makan, makanya badanmu sangat montok, jauh berbeda dengan kakakmu," ucap ibu membuatku menatap foto yang berada di depanku itu. Wajah kami memang mirip tetapi ukuran badan kami jauh berbeda. Ibu menyodorkan sendoknya ke dekat bibirku membuatku membuka mulutku dan menerima suapan dari tangan ibuku. Sungguh bahagia sekali rasanya, setelah beberapa bulan ini aku merasakan kehampaan dan kesepian. Kini kehangatan itu kembali dengan adanya ibu dan Felix di sisiku. Setidaknya aku bisa mengisi sisa hidupku dengan kebahagiaan dengan adanya mereka.
Terima kasih Ibu,, terima kasih Felix...