
Happy Reading
----------------------------------------------------------
Seminggu sudah berlalu tetapi masih belum ada perubahan yang signifikan dari Keysa. Dia masih nyaman dengan kondisi tertidurnya.
Felix sudah berkali-kali datang dan menemani Keysa, mengajaknya berbicara walau tak ada respon apapun darinya.
Hari inipun seperti biasa, Felix datang ke rumah sakit dengan membawa sebucket bunga kesukaan Keysa. Ia sempat berpapasan dengan Dhika dan hanya mengobrol sebentar, lalu ia kembali berjalan menuju ruangan Keysa.
Ia memasuki ruangan itu dan menutup pintunya kembali karena hanya ada mereka berdua. "Hi Sayang,"
Ia berjalan menuju brangkar Keysa. "Aku membawakan lagi bunga kesukaanmu, aku simpan disini yah." Ia memasukkannya ke dalam pass bunga disana. Lalu ia menoleh, menatap Keysa yang terlelap dengan tenang di depannya. Beberapa alat medis menempel di seluruh tubuhnya dan alat bantu pernafasan yang menempel di mulutnya.
'Tuhan sampai kapan kau akan menghukumku seperti ini. Hanya melihatnya seperti ini, aku sungguh sangat terluka dan hancur. Tuhan, tolong kembalikan Keysaku. Aku sungguh merindukan sosok Keysa yang selalu ceria, teledor dan juga banyak berbicara. Aku sangat merindukannya.' Batin Felix yang saat ini sedang duduk di sisi brangkar Keysa.
Felix mengambil tangan Keysa dan mengecupnya berkali-kali. Keadaannya tidak terlihat baik-baik saja, ia terlihat begitu hancur dan kacau. Wajahnya yang biasanya terlihat fres dan rapi kini terlihat tak terurus, bulu-bulu kecil di rahang dan sekitar dagunya sudah tumbuh lebat. Lingkaran hitam tercetak jelas di bawah matanya, menandakan ia kurang tidur.
"Aku ingin meminta pendapatmu," terdengar helaan nafas darinya. "Aku sedikit kesulitan memimpin dua perusahaan. Papa Mahes sudah menyerahkan segalanya kepadaku, ia akan mendukung semua keputusanku."
"Dan kamu tau, Devan memintaku untuk menggabungkan kedua perusahaan itu. Katanya itu akan jadi lebih baik untuk kedua perusahaan itu nanti, apalagi perusahaan papa Mahes sedikit menurun sekarang karena ulah tangan-tangan jahat." Ucapnya mengecup tangan Keysa.
"Keputusan dan pendapatmu adalah yang paling mempengaruhiku," ia terlihat menatap Keysa dengan sendu. "So, apa yang harus aku lakukan dengan kedua perusahaan itu?"
"Maksudku apa menggabungkan kedua perusahaan itu bukan ide yang buruk? Bagaimana pendapatmu sayang?"
Felix menatap Keysa yang tidak merespon sama sekali, hanya suara detak jantung saja yang keluar dari layar mesin pendeteksi jantung yang ada di samping brangkar.
Felix menatap Keysa dengan nanar karena tidak ada jawaban. Ia menundukkan kepalanya diiringi air matanya yang luruh membasahi pipi. Ia kembali mengangkat kepalanya dan mengecupi tangan Keysa.
Ia menatap Keysa dengan tangisannya. "Apa yang terjadi denganmu, Key? Kamu tidak biasanya diam seperti ini."
"Aku harus bagaimana supaya kamu mau berbicara lagi denganku." Isaknya semakin menangis.
"Kembalilah padaku, Sayang. Aku mohon,," isaknya begitu menyayat hati.
Dia sungguh hancur dan sangat terluka melihat kondisi Keysa seperti ini. Dia ingin berontak tetapi bagaimana caranya.
"Acara pernikahan kita sudah di undur, kembalilah padaku. Kita sudah kehabisan waktu sayang. Banyak hal yang sudah kamu lewati,"
"Kembalilah dan ganggu aku lagi. Aku tidak masalah terus mendengar suara berisikmu dan keteledoranmu, yang penting kamu kembali padaku. Jangan hanya diam seperti ini, ini sungguh bukan seperti diri kamu Key."
"Aku harus apa, Key?"
Felix hanya bisa menangis dengan menggenggam tangan Keysa yang terasa dingin.
***
Sanas datang ke rumah sakit secara diam-diam, ia melihat sekeliling untuk memastikan tidak ada siapapun. Lalu ia masuk ke dalam ruangan Keysa,
Tubuhnya membeku menatap Keysa yang terbujur kaku di atas brangkar dengan beberapa peralatan medis yang menempel di tubuhnya. Air mata tak mampu ia bendung lagi.
Ia menangis menatap Keysa yang seperti itu, lalu kakinya perlahan melangkah mendekati brangkar.
"H-hai Key," suaranya bergetar karena tangisannya. "Aku datang,"
"Aku kesini bukan sebagai temanmu ataupun sebagai musuhmu, aku datang sebagai seseorang yang begitu berdosa padamu." Isaknya.
Air mata seakan sulit untuk di hentikan, ia terus menangis tanpa berhenti. "Aku tidak tau kenapa kamu melakukan ini padaku, pada orang yang begitu menginginkan kematianmu. Tapi kenapa kamu menyerahkan nyawamu untukku? Kenapa Key?"
"Aku merasa tidak pantas mendapatkan semua ini darimu, kenapa kamu selalu bersikap baik padaku? Kenapa kamu tidak membenciku saja dan membiarkan aku menjauh darimu. Aku tidak pantas mendapatkan kebaikan darimu, aku tidak pantas mendapatkan semua ini darimu, Key."
"Kalau bisa di tukar, maka biarkan aku saja yang terbaring disana jangan kamu. Hikzz...." ia menundukkan kepalanya.
"Maafkan aku, hikzzz.... maafkan aku Keysa. Maafkan sahabat bodohmu ini," isaknya semakin menjadi.
Sanas tersentak saat mendengar pintu ruangan terbuka dan menampakan Felix bersama Clara, Rani, Mahes dan Remon.
"Kamu!" Felix terlihat emosi dan hendak mendekati Sanas tetapi di tahan Remon. "Mau apalagi kamu kesini, Hah?" terlihat jelas pancaran emosi di mata Felix.
"Tenang Fel," ucap Remon menahan Felix yang sangat emosi.
"A-aku,"
"Belum puas kamu membuat Putriku hancur?" pekik Mahesya berjalan mendekatinya yang menunduk. "Kamu lihat dia, Sanas."
Mahes menarik lengan Sanas hingga menghadap ke arah Keysa yang terlelap disana. "Kamu lihat dia, kamu lihat gadis tak berdosa ini!" Mahes terlihat berkaca-kaca menatap Keysa.
"Dia adalah gadis yang menganggapmu sebagai Kakaknya bukan lagi sahabatnya. Dia gadis yang begitu menyayangimu, hingga dia tidak ingin melihatmu terluka." Sanas masih menangis mendengarkan pekikan Mahesya.
"Sejak kecil, dia tidak pernah mau menerima hadiah dariku kalau aku tidak membelikannya juga untukmu. Setiap apa yang kamu inginkan, entah pakaiannya, sepatunya ataupun bonekanya, walau dia belum memakaikannya. Dia akan selalu memberikannya padamu kalau kamu memintanya!"
"Apa salah gadis ini, Hah? Kalau kamu memiliki dendam pada keluargaku, kenapa bukan aku saja yang kau lukai?"
Sanas semakin menangis dan menunduk mendengar bentakan Mahesya.
"Kemarin aku sudah ingin menjebloskanmu ke dalam penjara bersama si keparat Reno, tetapi gadis malang ini kembali memohon padaku. Dia memintaku untuk tidak memasukkanmu ke dalam penjara."
"Kamu tau dia bilang apa Nas, dia bilang kalau kamu itu sudah dia anggap Kakaknya, keluarganya. Perselisihan di antara keluarga itu sudah biasa, dan sudah sepatutnya juga kita memaafkan dan tetap menolongnya."
Sanas menatap Keysa dengan air mata yang terus lurus membasahinya.
"Itulah yang di katakan gadis bodoh ini, membela dan menolong orang yang selalu menyakitinya hingga dia harus mengalami hal seperti ini." Tangis Mahes pecah, air matanya luruh membasahi pipinya.
"Kamu tau, sejak kecil dia sudah sakit. Penyakit yang kapan saja bisa merenggut nyawanya," ucapan Mahes membuat Rani mengernyitkan dahinya bingung. "Dia bahkan tidak pernah mengeluh sedikitpun, ia hanya ingin berbahagia. Hanya itu yang dia inginkan, berbahagia bersama semua orang yang dia sayangi. Tetapi kamu menghancurkan harapan sederhananya itu,"
"Keysa sakit apa, Pak?" tanya Rani berjalan mendekati Mahesya. "Putriku sakit apa?"
"Bu, tenanglah." Clara merangkul pundak Rani yang emosi dan menangis.
"Kebenaran apalagi yang anda sembunyikan dariku, Pak Mahes?" pekiknya.
Mahes menghela nafasnya seraya mengusap matanya yang basah. "Keysa mengidap sakit jantung koroner dari sejak kecil. Aku sudah membawanya ke Jerman untuk berobat saat dia SMP, aku pikir penyakitnya sudah sembuh tetapi ternyata akhir-akhir ini penyakitnya kembali kambuh."
"Ini tidak mungkin, hikzzzz" Rani yang begitu syok, menutup mulutnya sendiri diiringi tangisannya yang pecah di pelukan Clara yang juga ikut menangis.
Sanas mematung di tempatnya mendengar penuturan Mahesya, sudah lama ia mengenal Keysa dan selalu bersamanya tetapi dia baru mengetahui kebenaran ini.
Sanas menatap Keysa dengan nanar dan tatapan tak percaya. Selama ini Keysa selalu melindunginya dan membantunya, tetapi karena sifat iri dan dengkinya ia memusuhi Keysa dan ingin membuatnya hancur.
"Pergilah Sanas," ucapan Remon membuatnya menengok.
"Aku ingin bersama Keysa."
"Tidak ada tempat untukmu, Nona. Pergi atau aku seret kau keluar." Ucapan dingin Felix membuat Sanas ketakutan dan merinding.
Perlahan ia berjalan menuju pintu dengan mencengkram kuat tasnya. "Jangan pernah menampakkan lagi wajahmu di sini. Kalau tidak ingin aku seret ke dalam sel penjara."
Setelah mendengar ancaman dari Felix, Sanaspun segera meninggalkan ruangan itu dengan tangisannya yang pecah.
"Bagaimana ini bisa terjadi padanya." Isak Rani. "Aku tidak tau kalau putriku sakit, hikzz..."
"Menurut dokter Dhika, itu adalah penyakit turunan." Ucap Felix membuat Rani menatap Keysa yang tak bergeming.
"Neneknya meninggal karena penyakit jantung," isaknya.
"Aku akan menemui Dhika, kalian tunggulah." Felix hendak beranjak pergi,
"Papa ikut," Mahes berjalan bersama Felix menuju ruangan Dhika.
Sesampainya disana, Dhika mempersilahkan mereka berdua untuk duduk, dan ia ikut duduk di hadapan mereka.
"Bagaimana Keysa?" tanya Felix tanpa basa basi.
"Belum ada perubahan apapun." Ucap Dhika. "saat ini kami menyimpan alat pemacu jantung di jantungnya yang biasa di bilang sebagai Pacemaker. Alat tenaga baterai yang dapat mengirimkan sinyal untuk mengatur detak jantung."
"Karena kondisi jantung Keysa tidak sedang baik-baik saja dan harus segera melakukan operasi transplantasi jantung. Baterai itu tidak bisa bertahan lama dan membantu mengatur detak jantungnya." Jelas Dhika.
"Berapa lama?"
"90 hari,"
Felix dan Mahesya terpekik mendengar penuturan Dhika barusan. "Menurut statistik medis, persentase pasien semakin lama semakin menurun dan pada hari ke 90 itu kondisi pasien kurang dari 5% dan dalam kondisi itu pasien tidak bisa melakukan operasi."
"Bagaimanapun juga, operasi bisa di lakukan saat kondisi pasien fit dan sehat."
"Maafkan aku Felix, tuan Mahesya." Ucap Dhika penuh penyesalan seraya menyodorkan dokumen ke hadapan Felix. "Kalau sampai ambang batasnya, maka aku minta kamu menandatangani ini."
"Apa ini?"
"Perjanjian untuk melepaskannya,"
"WHAT? Are you crazzy?"
"Maafkan aku, tetapi inilah kenyataannya. Kita tidak bisa melakukan apapun selain menunggu." Ucap Dhika. "Keysa dan tuhanlah yang akan menentukan pilihan ini akhirnya."
***
Setelah berbincang dengan Dhika, kini Felix duduk di sisi brangkar dengan tangisan yang luruh menatap Keysa di depannya. Semua keluarga menunggu di luar ruangan.
"Aku berharap aku bisa bernafas untukmu, Key. Aku berharap aku bisa memberikan jantung ini untukmu. Hikzzz....." isaknya.
"Aku tidak bisa melepaskanmu, aku tidak bisa... hikzzz...hikzz,,," isaknya semakin menjadi.
"Aku merelakan bunda dan ayah untuk kembali ke hadapan tuhan. Tapi tidak denganmu, Keysa."
Felix beranjak dan menaiki brangkar, ia memeluk tubuh Keysa dari samping dengan mengecupi kepalanya diiringi tangisnya yang pecah.
"Kembalilah,, hikzzz... kita akan menikah,"
:"Please comeback Key, don't leave me. Please,,, hikzzz....hikzz...comeback."
"Aku mencintaimu, sangat mencintaimu..." bisiknya tepat di telinga Keysa. "kembalilah padaku, jangan seperti ini. Kembalilah Keysa, aku mohon." Isaknya semakin menjadi.