My Ceo

My Ceo
Episode 27



Happy Reading


------------------------------------------------------------


Dhika dan Keysa sudah sampai di tempat tujuan mereka, keduanya menuruni mobil. Keysa yang memakai dress berwarna blue sky itu terlihat cantik, ia tanpa risih merangkul lengan Dhika yang memakai tuxedo hitam.


Keduanya berjalan memasuki lobby hotel dan berjalan menuju aula dimana acara pernikahan berlangsung. Saat keduanya memasuki aula, semua mata tertuju pada mereka berdua. Hampir semuanya tak dikenali Keysa, tetapi beberapa terang-terangan menatap Keysa dengan sinis.


"Aku malas jalan dengan pria tampan, selalu saja di tatap seperti ini," bisik Keysa membuat Dhika terkekeh.


"Abaykan saja, oke." Dhika menarik tangan Keysa menuju podium dimana sang pengantin tengah berdiri.


Keysa melihat wajah pengantin pria terpaku di tempat melihat kedatangan mereka berdua. Keysa masih berjalan di samping Dhika dengan tangannya yang di genggam Dhika.


"Dhik, lo-?" ucapan pria itu tertahan.


"Selamat buat pernikahan loe," Dhika tersenyum dan memeluk pria itu yang mematung kaku. Wajahnya terlihat tegang dan kaku. Keysa menatap Dhika yang memeluk sahabatnya itu,


"Selamat yah bro," Dhika melepas pelukannya. "Hy Ratu,"


"Kak Dhika," gumam wanita bernama Ratu itu dengan tatapan mengamati dan tak percaya.


"Akhirnya usaha kamu tidak sia-sia," Dhika tersenyum seraya mengusap kepala Ratu.


"Terima kasih, kak" ucapnya.


"Dhik, gue minta maaf," ucap pria itu, Dhika terlihat tersenyum kepadanya.


"Sudahlah," ucap Dhika menepuk pundak pria itu. "Oh iya kenalkan, ini Keysa"


"Keysa,"


"Erlangga,"


"Ratu"


"Selamat untuk pernikahan kalian berdua yah," Keysa tersenyum kepada mereka berdua, tetapi dia merasa risih dengan tatapan pengantin wanita yang terlihat meneliti dari atas hingga bawah.


"Gue duluan yah," Dhika beranjak pergi.


"Jangan pulang dulu, nanti malam kita berkumpul di lantai 7. Khusus brotherhood, rasanya kurang pas kalau sang leader tak hadir." ucap Angga menatap Dhika penuh harap.


"Gue gak janji, gue akan langsung kembali ke Jakarta. Ayo Key" Dhika menarik pergelangan tangan Keysa menuruni podium.


"Dhik,," panggilan itu menghentikan langkah Dhika dan Keysa, keduanya menengok ke arah beberapa orang yang berjalan mendekati Dhika.


"Loe kemana saja sih," seorang wanita memeluk tubuh Dhika begitu saja. "Kenapa loe ngilang begitu saja tanpa ada kabar, loe lupa kalau disini masih ada sahabat loe yang mengkhawatirkan loe. Kenapa loe menjauh sih," wanita itu terlihat menangis di pelukan Dhika sambil memukul dada Dhika.


"Gue gak kemana-mana, Wi" ucap Dhika melepaskan pelukannya.


"Gimana kabar loe, Dhik?" tanya seorang pria


"Seperti yang loe lihat, Sen. Gue sehat," ucap Dhika


"Loe masih gak mau maafin gue, sampai gak dateng ke pernikahan gue. Sialan loe Dhik." tonjokan ringan di dada Dhika membuatnya tersenyum kecil.


"Sowry Niel, gue sibuk," jawab Dhika


"Modus kamu, kaka." ucap pria lainnya.


"Apa kabar kalian semua?" tanya Dhika


"Buruk, karena loe hilang kabar." ucap wanita yang terlihat jutek, Dhika hanya tersenyum kecil. Mereka melupakan keberadaan Keysa.


"Oh iya, kenalkan ini Keysa. Dan Key, ini sahabat-sahabatku yang aku ceritakan padamu," ucap Dhika membuat Keysa tersenyum ke arah mereka yang terlihat melongo kaget. Keysa terlihat kebingungan melihat ekspresi para sahabat Dhika yang melongo dan memandang Dhika dan Keysa bergiliran.


"Ada apa dengan kalian,?" tanya Dhika.


"Akhirnya loe gak jones lagi," ucap wanita yang jutek itu.


"Ta-tapi aku-" ucapan Keysa tertahan membuat Dhika terkekeh.


"Dia teman gue, kalian tau gue sedang menunggunya." ucapan Dhika kembali membuat mereka semua menghembuskan nafasnya lelah, hanya satu orang wanita yang tersenyum senang mendengarnya.


"Baiklah, hy nona yang cantik. Kenalkan namaku Oktavio Adelio Mahya, kamu bebas memanggilku apa saja yang bisa membuatmu nyaman," ucap pria yang terlihat lebih muda itu.


"Keysa,"


"Panggil saja gator," ucapan Dhika membuat pria bernama Okta itu mencibir kesal.


"Gue Dewi," 


"Elza,"


"Irene,"


"Seno,"


"Serli"


"Daniel,"


Keysa tersenyum senang bisa mengenal mereka. "Heh bro, kalau cuma teman bisa dong bagi pin bb atau no telponnya," bisik Okta ke telinga Dhika.


"Yang ini gak akan gue kasih ke playboy model loe," jawab Dhika


"Pelit loe," cibir Okta. "Eh Key, kamu tinggal di Jakarta?"


"Iya,"


"Wah di daerah mananya? gue sering tuh pulang pergi Bandung Jakarta, siapa tau kapan-kapan gue nyasar ke daerah rumah loe." ucap Okta membuat yang lain terkekeh.


"Jangan kasih tau, dia selalu pulang pergi Bandung Jakarta karena dia kenek bus," ucap pria yang bernama Seno membuat Keysa terkekeh.


"Jangan di hiraukan," ucap Dhika.


"Ntar malam loe ikut gabung kan? Masa iya kita ngumpul tanpa seorang leader." ucap Daniel


"Kan ada loe, gue akan langsung balik. Ayo Key," Dhika segera beranjak pergi setelah menyalami dan memeluk sahabatnya.


Keysa melirik Dhika yang berjalan cepat menuju parkiran mobil, tangannya bahkan menarik tangan Keysa. Dhika membukakan pintu penumpang untuk Keysa, dan dia beranjak memutari mobil dan duduk di kursi pengemudi.


Tanpa berbicara apapun lagi, Dhika mengijak gas mobilnya meninggalkan area hotel. "Kamu baik-baik saja kan Dhik?" tanya Keysa yang melihat wajah tegang Dhika.


"Apa yang harus aku katakan, Key." jawab Dhika tersenyum miris.


"Tenangkan diri kamu, Dhik." Keysa mengusap pundak Dhika.


Dhika menghentikan mobilnya di pinggir jalan menutup matanya menghirup udara sebanyak-banyaknya. Keysa masih memperhatikan Dhika dengan seksama.


"Memaafkan itu tak semudah di ucapkan, tak semudah membalikkan tangan." gumam Dhika


"Kalau kamu memang tidak bisa memaafkannya, kenapa kamu memaafkannya? Aku saja tidak mungkin bisa memaafkan apa yang sudah Sanas dan Reno perbuat. Memaafkan tidak semudah mengucapkannya." ucap Keysa


"Aku merasa semuanya harus di akhiri," Dhika membuka matanya dan menerawang ke depan. "Aku menyadari kalau semua ini rencana tuhan, ini takdirku yang harus aku jalani walau sangat sulit. Aku ingin berusaha membersihkan hatiku, dan melangkah dengan lebih ringan. " ucap Dhika.


"Bukankah dengan kita menyimpan dendam karena pernah disakiti, itu hanya akan menjadi penghalang masa depan kita untuk bahagia." ucap Dhika melirik ke arah Keysa yang mematung.


"Tetapi melapangkan hati dan memaafkan dendam itu rasanya sangat sulit." ucap Keysa. "Kebahagiaan adalah harapan semua orang, tetapi saat oranglain mengusiknya dan membuatnya hancur, harapan itupun menjadi semu dan tak ada artinya. Aku tidak selapang kamu, Dhik." ucap Keysa


"Aku hanya berusaha melawan egoku, aku berusaha melapangkan segalanya dan menerima takdir ini. Aku yakin tuhan tak tidur," ucap Dhika menyandarkan kepalanya ke jok mobil di belakangnya.


"Semua orang pasti mengharapkan bahagia, termasuk juga aku walau terkadang ada rasa pesimis. Tetapi harapan itu kadang tak selalu membuat kita bahagia, harapan itu bisa saja menyakitkan. Tetapi dengan harapan, setidaknya kita mempunyai semangat untuk berjuang tanpa henti," ucapan Dhika membuat Keysa kembali menatapnya.


"Walau harapan itu semu?"


"Yah, walau harapan itu semu dan mustahil." ucap Dhika. "Setidaknya kita sudah memperjuangkannya, hasil akhir biarlah tuhan yang menentukan." ucap Dhika


"Apa aku juga berhak memperjuangkan kembali cintaku pada Felix?" pertanyaan Keysa membuat Dhika menengok ke arah Keysa.


"Tergantung hati kamu, karena berjuang tak selamanya berjalan mulus. Ada kalanya kita tersungkur jatuh dan gagal, apa kamu siap menerima kesakitan itu lagi?" tanya Dhika membuat Keysa terdiam dan menatap ke depan.


"Bohong kalau aku mengatakan siap, kenyataannya aku takut kecewa dan tersakiti lagi oleh cinta. Tetapi kalau hanya diam saja, itu juga sangat sakit. Melihatnya yang begitu dekat denganku, tetapi aku tak mampu menggapainya, ini terlalu sulit. Aku merasa tak mampu untuk melangkah bahkan mundur." gumam Keysa mengusap matanya yang baru saja menjatuhkan air matanya.


"Berpikir positif dan optimislah," ucap Dhika. "Berfikirpositif dan optimis terlihat seperti kalimat puisi yang sepele, tapi sadarilahini sangat penting dalam peran kamu untuk mengambil keputusan yang akan menentukankesuksesan atau kehancuran."


"Kamu belajar ilmu kebijakan dari mana?" kekeh Keysa membuat Dhika ikut terkekeh.


***


Dua minggu sudah berlalu dari kejadian dari Bandung, Dhika meminta bantuan Oktavio dan Daniel untuk menyelidiki kasus papa Keysa dan juga perusahaan orangtuanya. Dhika juga melarang Keysa ikut pusing memikirkan perusahaan karena kondisi Keysa jauh dari kata baik-baik saja. Bahkan dalam waktu dua minggu ini, berat badan Keysa sudah turun 5 kg. Dhika meminta Keysa untuk fokus pada pengobatannya saja, dan jangan stres karena masalah lain.


Hubungan Keysa dan Felixpun semakin memburuk, setelah kejadian malam itu. Keduanya seakan saling menjauh satu sama lain, tak ada komukasi yang terjalin selain bertanya masalah pekerjaan layaknya atasan kepada bawahannya.


Bukan hanya hubungan mereka yang semakin memburuk, tapi akhir-akhir ini Keysa sering mendapatkan teror tidak jelas. Seperti surat kaleng, telpon tidak jelas dan sms dari nomor yang tidak diketahui, berisi ancaman.


Seperti pagi ini, sesampainya di kantor, Keysa mendapatkan sebuah paket berbentuk persegi yang di kirimkan dari pengiriman paket kilat. "Ini benar buat saya, Ren?" tanya Keysa kepada seorang receptionis bername tag Reni Anggraeni.


"Iya mbak Key, tadi pagi di antar kesini oleh seorang kurir" ucap Reni


"Baiklah,, terima kasih." Keysa membawa kotak yang di bungkus kertas berwarna coklat itu ke dalam ruangannya.


Keysa menyimpan kotak itu dimeja dan mulai menyalakan komputernya. Pandangannya kembali jatuh ke paket di atas meja. Karena rasa penasaran yang tinggi, Keysapun membuka paket itu dan betapa kagetnya saat terbuka.


"Aaaaaaaa" Keysa berteriak sambil memegang kedua telinganya dan mundur beberapa langkah. Paket itu berisi tikus yang terbunuh dengan darah dimana-mana. Disana juga terdapat foto Keysa yang ditusuk paku kecil tepat diwajahnya. Disana juga terlihat surat yang dilipat. Keysa sangat ketakutan hingga air matanya kembali mengalir.


"Key, ada apa?" tanya seseorang yang baru saja datang.


Keysa melihat Devan, Felix dan Remon disana. Devan berjalan mendekati Keysa dan merangkulnya menenangkan Keysa. Kegiatan itu membuat Felix memalingkan mukanya dan melihat ke arah paket yang terbuka.


"Apa-apaan ini" Felix mengambil kertas putih itu.


Nasib loe akan sama kayak tikus ini. Tunggu saja tanggal mainnya.....


"Apa isinya, Fel?" tanya Remon


"Buang semua ini" ucap Felix dingin dan Remonpun segera membuangnya. Felix menatap Keysa yang masih ketakutan di pelukan Devan, membuatnya enggan bertanya dan langsung berlalu masuk ke dalam ruangannya.


"Tenang Key, aku ada disini" ucap Devan membelai kepala Keysa. "Aku akan selalu jagain kamu, sampai kapanpun juga aku akan selalu jagain kamu" ucap Devan dan Keysa melepaskan pelukan devan dan menghapus air matanya.


"Aku tidak apa-apa, terima kasih" Keysa melepas pelukan Devan seraya menghapus air matanya.


"Ayo van,," ajak Remon yang hendak memasuki ruangan Felix.


"Aku meeting dulu yah" ucap Devan dan Keysa hanya mengangguk.


Sepeninggalan Devan, Keysa terduduk di kursinya sambil memejamkan matanya dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


'Siapa yang selalu menerorku? Saat kejadian Sanas ingin menabrakku teror itu sering datang. Hampir setiap hari, apa ini perbuatan Sanas? Tapi kenapa?'


Keysa mengambil handphonenya dan mengirim pesan ke Dhika, memberitahu kalau ada kiriman misterius lagi.


***


Keysa Pov


Aku masuk ke dalam ruangan Felix, karena ia menghubungiku lewat intercom dan menyuruhku untuk datang keruangannya.


"Bapak memanggil saya?" tanyaku sopan


"Iya, duduklah." Aku duduk di kursi di hadapan Felix, Ia terlihat menatapku dengan seksama membuatku sulit untuk mengalihkan pandanganku. "Key, apa kamu baik-baik saja?" pertanyaan itu membuatku mengernyit.


"Aku tau sering sekali teror datang padamu, sepertinya ada orang yang ingin mencelakaimu. Apa tak sebaiknya kamu kembali tinggal di rumahku?" pertanyaan itu menyentakkanku.


Tetapi harapan itu kadang tak selalu membuat kita bahagia, harapan itu bisa saja menyakitkan. Tetapi dengan harapan, setidaknya kita mempunyai semangat untuk berjuang tanpa henti.


Ucapan Dhika seketika terngiang di benakku, aku tidak tau harus menjawab apa. "Key," sentuhan hangat di tanganku membuatku menengadahkan kepalaku dan langsung bertemu dengan tatapan tajam milik Felix.


Author Pov


"Aku bisa jaga diri sendiri, terima kasih atas tawaran Bapak." ucapan Keysa membuat Felix terdiam kaku.


Apa salah kalau seorang kakak ingin melindungi adiknya?


Kakak??


Cih,, yang benar saja. Felix tak menganggap Keysa sebagai adiknya. Dia ingin melindungi Keysa agar Keysa tak berdekatan dengan pria lain.


"Aku khawatir terjadi sesuatu padamu," ucap Felix


"Aku akan baik-baik saja, lagian aku tak takut mati. Toh semuanya pasti akan mati kan."


"Apa maksudmu Key?" pekik Felix


"Kenapa? apa aku salah berkata? Bukankah semuanya pasti mati."


"Jaga ucapan kamu, Keysa. Jangan asal berbicara, ini gak lucu." ucap Felix


"Siapa yang bercanda? Aku sama sekali tidak bercanda, aku memang tak takut mati. Bahkan sekarang saja aku merasa sudah mati." ucap Keysa tak kalah tajam.


"Dan satu lagi, aku tak butuh bantuan anda, Sir. Permisi" Keysa beranjak pergi meninggalkan Felix yang terlihat geram.


***


Keysa menemui Dhika, Okta, dan Daniel di ruangan Dhika.


"Bagaimana?" tanya Keysa.


"Ternyata benar, tangan kanan pak Mahes bersekongkol dengan Reno dan satu pengusaha yang menjadi pesaing perusahaan papa kamu, Key." ucap Dhika.


"Jadi Pak Thomas?"


"Iya Key, Thomaslah yang membantu Reno mendapatkan chanel. Dan tanah yang ada di Bali sudah berhasil ia jual dengan harga murah. Sekarang perusahaan dan pemegang saham sedang kotroversi. Sebaiknya kamu masuk ke perusahaan sekarang, daripada Reno yang mengambil alih." ucap Dhika


"Tapi aku tidak tau apa-apa," cicit Keysa gelisah.


"Aku akan mendampingimu sebagai pengacaramu, Keysa." Keysa melirik ke arah Daniel dan kembali menatap Dhika.


"Daniel bisa membantumu, Key. Jadi lakukanlah Key, sebelum semuanya habis" ucap Dhika


"Tapi bagaimana dengan papa?"


"Kami sudah menemukan pak Mahes," ucap Daniel


"Benarkah? dimana papa?" tanya Keysa.


"Pak Mahes tidak pergi keluar negri. Ia masih di Indonesia, ia di temukan terluka parah di sebuah bangunan kosong."


Deg


Keysa tersentak kaget hingga memegang dadanya, membuat Dhika menyodorkan minum ke Keysa dan memeriksa deyut nadinya. Okta terlihat serba salah karena main ucap saja.


Keysa mulai tenang setelah meneguk habis minumannya.


"Papa.......!!!!! Hikzzz....hikzzz....hikzzzzz!!!! Apa yang harus aku lakukan? Papa..... Kenapa seperti ini? Hikzzz.....Hikzzz..."


Keysa menangis histeris di dalam pelukan Dhika. "Bagaimana papa sekarang???" isak Keysa.


"Beliau sedang di tangani," ucap Dhika.


"Aku ingin bertemu Papa, Dhika. please" cicit Keysa yang terisak.


Dhika membawa Keysa ke ruang ICU, dan terlihat Mahesya terbaring kaku di atas brangkar dengan beberapa alat medis menempel di tubuhnya.


"Papa,,, hikzzz" Keysa memeluk tubuh Mahesya dan menangis sejadi-jadinya. "Bangun papa," isak Keysa.


***


Keysa Pov


Pagi ini aku terpaksa meninggalkan papa, aku harus berangkat ke Lombok bersama Felix karena ada pekerjaan yang urgent. Kami berangkat menggunakan jet pribadi milik Felix dan syukurlah bukan hanya kami berdua Yang berangkat ke Lombok, tetapi ada 4 orang staff lainnya yang ikut berangkat. Sejujurnya aku tak sanggup hanya pergi berduaan dengan Felix.


Aku duduk sendiri disofa berwarna putih tulang ini sambil menatap keluar jendela. Sedangkan Felix dan karyawan lainnya, ntahlah dimana mereka. Aku tidak terlalu memikirkannya. Fokusku hanya pada perusahaan dan papa. Aku berniat akan masuk ke kantor sepulang dari Lombok.


Setelah menempuh perjalanan yang cukup singkat, kami sampai di Lombok. Kami semua disambut oleh beberapa orang memakai jas hitam, dan membimbing kami menaiki sebuah mobil range rover berwarna hitam. Mobil ini menuju ke sebuah hotel di pinggir pantai, pemandangan di sini sungguh indah.


***


Seharian sudah aku lewati disini dengan hanya melakukan meeting dan pertemuan dengan beberapa client dan rekan bisnis dari perusahaan lain. Dan sekarang aku juga bersama beberapa rekan kerjaku menuju ke tempat proyek pembangunan resort tak jauh dari hotel tempat kami menginap. Perusahaan Felix bekerja sama dengan perusahaan lain untuk membangun resort di Lombok. Mungkin karena pemandangan di sini sangat indah, dan pantai ini juga sering sekali di datangi para wisatawan dari berbagai kota bahkan Negara.


Cuaca hari ini terlihat sangat terik, padahal hari sudah mau menuju petang tapi matahari seakan enggan untuk meredupkan sinarnya. Saat ini aku berdiri di sebuah tenda kecil bersama 2 orang rekanku. Mereka terlihat sibuk mengerjakan sesuatu di dalam laptopnya. Sedangkan aku hanya berdiri sambil memeluk sebuah dokumen di dadaku. Tak jauh ditempatku berdiri, Felix tengah berbincang dengan mandor pembangunan. Hari ini Felix terlihat sangat tampan dan mempesona dengan memakai celana jeans berwarna biru gelap di padu dengan kemeja biru langit tanpa memakai dasi, 2 kancing teratasnya di buka dan di balut dengan jas berwarna hitam. Kacamata bertengker di hidungnya dan rambut yang sedikit panjang  di biarkan berantakan. Membuat kadar ketampanannya bertambah menjadi 2 kali lipat. Dia juga terlihat sangat seksi, di bawah sinar matahari. Membuatnya semakin bercahaya seperti seorang malaikat. Dia sungguh makhluk tuhan yang sempurna.


Dia tampak serius berbicara dengan mandor itu. Membuatku lebih leluasa untuk terus menatapnya dari sini. Bahkan hanya dengan menatapnya saja jantungku sudah berdetak tak karuan.


Aku sangat merindukannya....


Bisakah di sisa umurku, aku bisa menghabiskan waktu bersamanya. Bisakah aku memeluknya, dan mengungkapkan betapa aku mencintainya...


Bisakah itu tuhan???


Seketika ia menengok ke arahku membuat mata kami beradu. Aku tak ada niat untuk memalingkan pandanganku darinya, meskipun aku tidak mampu menatap mata hitamnya yang terhalang oleh kaca mata hitam yang dia pakai. Aku jadi tidak mampu mendalami seberapa dalamnya mata hitam itu yang penuh tanda tanya. Segera aku alihkan pandanganku ke arah lain sebelum rasa sakit ini kembali menggerayami hatiku. Karena kenyataannya aku hanya bisa menatap dan mengaguminya dari jauh. Dia bukanlah untukku....


Akhirnya kegiatan hari ini selesai juga, lebih baik aku kembali ke hotel untuk beristirahat. Dhika sudah mengingatkanku untuk tak telat makan obat. Aku berjalan menuju hotel, karena jarak hotel dari sini sangat dekat jadi kami tidak menggunakan alat transportasi. Saat melewati sebuah truk, tiba-tiba saja tubuhku di tarik seseorang hingga terjatuh.


Bugh


Tapi aku tidak merasakan sakit karena membentur tanah, yang ada wajahku membentur sesuatu yang keras tetapi membuatku nyaman bersandar disana. Aku juga merasakan pelukan dari seseorang, dan wangi parfum ini....


Aku sangat mengenalnya. Untuk memastikan pemikiranku, aku mendongakkan kepalaku menatap seseorang yang berada di bawahku. Dan tepat saat itu juga mataku bertemu dengan mata seseorang yang sangat aku cintai.


Felix....


Cukup lama kami bertatapan satu sama lain dan itu membuat laju jantungku 5kali lebih cepat dari biasanya. Sepertinya aku harus cepat cepat meminum obat, biar jantungku tak berdetak secepat ini.  Deheman seseorang menyadarkanku dari lamunanku. Aku baru sadar kalau saat ini posisiku berada tepat diatas tubuhnya, dan kami menjadi tontonan gratis. Aku menengok ke belakang dan melihat 3 buah kayu balok besar yang terjatuh dari atas truk. Membuatku tau kalau tadi Felix  menyelamatkanku. Akupun segera bangun dan berdiri di ikuti olehnya juga.


"Maafkan atas keteledoran kami bu. Apa ibu baik-baik saja?" tanya salah satu pegawai disana.


"Ya, saya baik-baik saja" jawabku


"Lain kali atur semuanya dengan baik jangan sampai ada keteledoran lagi dan bisa mencelakakan orang lain" ucap Felix dingin dan berlalu pergi meninggalkan kami.


***


Aku terduduk disofa kamar hotel. Tadi kenapa Felix bisa menyelamatkanku? Padahalkan jarak ku dengannya  lumayan jauh. Apa dia memperhatikanku?


Saking sibuknya memikirkan hal itu, aku sampai lupa kalau sekarang kami akan kembali ke Jakarta. Tapi tidak denganku, aku sudah memutuskan akan menghabiskan weekend di sini. Aku ingin menenangkan diri sebelum kembali ke Jakarta dan melawan Reno juga Sanas. Aku mendapatkan kabar tentang kondisi papa. Papa masih belum ada perkembangan.


Aku di minta Dhika untuk tak menemui papa, karena itu akan membuat kecurigaan kepada mereka yang berniat jahat pada kami. Agar papa aman, aku harus menjauh dulu dan bersiap untuk menduduki kursi direktur cadangan senin nanti.


Aku berjalan keluar hotel menuju parkiran depan. Dimana para staff kantor tengah membereskan barang-barangnya ke bagasi mobil.


"Lho bu Keysa kenapa belum bersiap-siap?" tanya seorang laki-laki yang aku kenal bernama Sandi


"Saya tidak pulang hari ini pak, kebetulan besok weekend, jadi saya ingin menghabiskan liburan di sini sebelum kembali bekerja" ucapku santai


"Benar tuh bu Key, apalagi disini pemandangannya sangat indah. Sayang kalau sampai di lewatkan. Saya juga kalau belum menikah mau deh ngabisin waktu liburan disini" kekeh seorang yang lain, yang aku kenal bernama Rendy


"Selamat malam pak" ucap seorang laki-laki berbadan gempal yang aku tau bernama Genta.


"Apa semuanya sudah selesai?" tanya seseorang yang berada tepat dibelakangku. Dan aku tau siapa dia


"Sudah pak, tapi bu Keysa tidak pulang bersama kita. Dia masih akan tinggal disini dulu, kebetulan.besok weekend" jelas Rendi mewakilkanku


"Baiklah, ayo semuanya" ujar Felix lalu berjalan melewatiku. Sejak kejadian malam itu, ia berubah semakin dingin dan tidak pernah menganggapku ada. Mungkin ia mulai mengikuti perkataanku kalau diantara kita hanya ada hubungan sebatas atasan dan bawahannya saja, tidak lebih.


"Mari bu Key" ucap seseorang menyadarkanku, ternyata mereka sudah menaiki mobil dengan Felix duduk dikursi penumpang di depan.


"Hati hati di jalan." ucapku, tetapi Felix terlihat menutup jendela mobil dan memakai kaca matanya tanpa melihat ke arahku. Aku menatap mobil itu yang sudah melaju keluar pekarangan hotel hingga menghilang dari pandanganku.


Aku berbalik hendak menuju hotel tapi langkahku terhenti saat mendengar suara langkah seseorang. Aku kembali berbalik dan kaget melihat Felix yang tengah berlari ke arahku membuatku heran dan bingung.


"Aku akan menemanimu" ucapnya dengan sedikit nafas yang tersenggal.


Belum sempat aku menjawabnya, Felix sudah beranjak melewatiku, dan begitu saja memasuki hotel. Akupun mengikutinya dari belakang. Aku melihat Felix tengah berbicara dengan seorang receptionis hotel. Samar-samar aku mendengar pembicaraan mereka yang sepertinya berdebat.


"Apa benar-benar tidak ada lagi kamar yang kosong?" tanya Felix kesal.


"Maaf tuan, tapi semua sudah terisi. Kalau anda mau, anda bisa menunggu sampai besok pagi setelah beberapa tamu cek out" jelas receptionis itu. Aku melihat Felix menghela nafasnya berjalan ke arahku.


"Kamu belum cek out?" tanya Felix dan aku menjawabnya dengan gelengan kepala. Tadi siang aku sempat meminta perpanjangan waktu. "aku tidur dikamar kamu dulu untuk malam ini" ucapnya bukan pertanyaan tapi lebih ke pernyataan. Setelah itu Felix berlalu pergi meninggalkanku yang masih bengong mendengar pernyataannya. Dasar bos arogant, tanpa meminta pendapatku langsung saja berlaku seenaknya.


Menyebalkan !!!!


***


Aku memasuki kamar, dimana Felix sudah lebih dulu masuk. "kamu tidur diranjang saja, dan aku di sofa" ucapnya seraya merebahkan tubuhnya disofa panjang itu.


Aku hanya mengangguk dan beranjak memasuki kamar mandi. Berendam sesaat mungkin akan membuat badan ini rileks.


30 menit aku habiskan dengan berendam air hangat. Rasanya semua sendi tubuhku terasa ringan. Aku lilitkan handuk berwarna putih di tubuhku. Tapi tunggu....


Astaga!!!! Aku lupa bawa baju ganti. Mati aku,,, gimana dong ini? Aku gak mungkin keluar dengan menggunakan handuk ini. Mana gak nutupin paha seutuhnya lagi, ini juga hanya sebatas dada. Gimana dong? Mana semua baju masih ada di koper lagi.


Aku yang gelisah terus saja mondar mandir di dalam kamar mandi memikirkan bagaimana caranya mengambil pakaian ganti.


Aku coba dekatkan telingaku di daun pintu, tapi tidak terdengar suara apa-apa. Mungkin Felix sudah tidur. Aku menekan knop pintu perlahan dan menyembulkan kepalaku keluar dan melihat sekeliling tapi kosong,


Aman....


Kemana Felix? Mungkin dia sedang keluar kamar. Aku berjalan santai mendekati koperku. "kamu mau pesan makanan apa? Aku sedang malas makan keluar" ucap seseorang yang aku tau itu Felix. Membuatku membeku ditempat, ternyata Felix habis dari pantry di samping mengambil minum. Dia juga terlihat mematung di tempat dengan memegang minuman kaleng dingin.


Aku memegang kuat handuk didepan dadaku. Aku bingung harus berbuat apa. Tolong aku doraemon,,, tolong hilangkan aku dari sini.


Cukup lama kami mematung dan saling menatap, kini Felix berjalan mendekatiku membuatku mundur, tanpa berkata apapun. Felix terus berjalan mendekatiku membuatku terus mundur hingga punggungku menabrak dinding dibelakangku. Sekarang posisiku terjepit, kini di hadapanku sudah ada felix, ia menyimpan minuman kaleng di atas meja samping ranjang, lalu tangan kirinya merengkuh pinggangku membuat badanku menempel dengan badannya. Dia mulai mengendus rambutku lalu leherku.


"Wangi" ucapnya lirih membuatku merinding.


Dia mulai menciumi kedua pipiku, hidung, kening dan terakhir bibir. Aku memejamkan mataku saat ia mulai ******* bibirku dengan lembut membuatku terbuai dengan sentuhannya. Dan jantung ini berdetak lebih cepat 5 kali lipat. Tubuhku berkhianat pada otakku, disaat otak warasku memintaku mendorong tubuhnya tetapi tubuhnya membeku dan malah menikmati apa yang Felix perbuat. Tangan kanannya tidak diam, tangannya mulai memegang dadaku dari balik handuk.


Ciuman kami semakin larut dan dalam membuat kami kehilangan pasokan oksigen. Dan aku merasakan sesuatu yang menusuk perutku di bawah sana. Felix melepas ciumannya tapi masih menempelkan dahi kami sambil mengambil nafas sebanyak-banyaknya. Otakku seakan berhenti bekerja karena buaiannya, aku menikmati setiap sentuhan dan buaiannya. Felix membelai pipiku dengan lembut, lalu dia kembali mencium bibirku dan turun keleher menimbulkan sengatan-sengatan aneh dalam tubuhku. Dia menarik tubuhku hingga terlentang diatas ranjang. Dia kembali mencumbu leherku, membuatku mengeluarkan desahan-desahan.


Perlahan cumbuannya semakin turun dan hendak membuka handukku tapi gerakannya terhenti, membuatku membuka mata dan pandangan kami bertemu. Kami sama-sama dilanda gairah.


"Maaf" ucapnya mengambil selimut dan menutupi badanku, aku masih belum bisa mencerna segalanya. "maafkan saya, saya tidak bermaksud untuk melakukan ini. Maaf,, dan kalau bisa lupakan kejadian barusan" ucapnya lalu beranjak dan pergi keluar kamar.


Aku bangun, dan duduk diatas ranjang menatap punggungnya yang menghilang di balik pintu.


Aku memeluk erat selimut yang menutupi tubuhku sambil menangis. Aku merasa sangat hina dan murahan.


"Aku sudah seperti wanita murahan....hikzz...hikzz...hikzz..."


-------------To Be Continue--------------