My Ceo

My Ceo
Episode 26



Happy Reading


------------------------------------------------------------


Felix berjalan memasuki kamarnya dengan emosi yang masih meledak-ledak. Ucapan Keysa tadi mampu memohok harinya. Hingga dia sampai dikamarnya.


"Shitttttt!!!" Felix memukul tembok kamar berkali-kali. Bayangan Devan yang akan mencium bibir Keysa dan ucapan Keysa yang mampu membuatnya membisu.


"Aaaaaghhhhhh" sekali lagi Felix memukul dinding tanpa sadar tangannya sudah berdarah. Ia terus mengumpat dalam hati, amarahnya sungguh tak terkontrol. Felix meremas rambutnya sendiri dan bahkan menjambaknya.


Kenapa Keysa secepat ini berpaling darinya, apa memang sebegitu tak berartinya ia di mata Keysa.


Sakit? seperti di tusuk puluhan rajam tepat di dadanya, membuatnya bahkan sulit sekali untuk bernafas. Takdir seakan mempermainkannya, Felix lelah terus membohongi hatinya sendiri yang menolak kalau dia mencintai Keysa. Tetapi kenyataannya cintanya memang untuk wanita itu, wanita yang dengan cepat berpaling ke pria lain.


"Sialan!!" umpatnya kembali, entah sudah keberapa puluh kalinya Felix mengumpat kesal.


***


Hari ini pekerjaan di kantor sangat menumpuk hingga membuat Felix maupun Keysa tidak beranjak sama sekali. Felix keluar ruangannya dan menyodorkan sebuah map berwarna hijau ke arah Keysa. "ini tolong kamu selesaikan"


Keysa menatap ke arah map dan kaget melihat tangan Felix yang diperban.'Tangannya kenapa terluka?'


"Ta-tangan bapak terluka?" tanya Keysa ragu-ragu.


"Tidak apa-apa, hanya luka kecil" ucap Felix lalu berlalu memasuki ruangannya. Keysa hanya mampu menghela nafasnya menatap kepergian Felix.


"Hai Key" ucap seseorang membuat Keysa menengok


"Hai Clar,," Keysa menampilkan senyumannya pada Clara.


"Kita makan siang bersama?" ajak Clara.


"Baiklah,, tapi pekerjaanku belum selesai" keluh Keysa.


"Nanti pulang istirahat di kerjakan lagi, loe perlu makan" bujuk Clara. "ayolah, Key."


"Kamu istirahat saja," suara bass itu mengagetkan Keysa dan Clara. Membuat mereka langsung menengok ke sumber suara.


"Baiklah, terima kasih, Pak" ucap Keysa dan membereskan semua kertas di atas mejanya. Dan Felix berlalu meninggalkan keduanya.


Saat ini Keysa dan Clara sudah duduk berhadapan di sebuah cafe. "Key, kata Devan kemarin loe hampir ke tabrak mobil?" tanya Clara.


"Iya, kemarin malam saat gue pulang kerja" jawab Keysa.


"Tapi loe tidak apa-apa kan?" tanya Clara


"gue tidak apa-apa, untunglah Devan datang tepat waktu." jawab Keysa dan pesanan merekapun datang.


"Kemarin juga Felix mukul Devan, dan loe di bawa Felix. Apa yang terjadi, Key?" tanya Clara semakin penasaran.


"Entahlah Clar, gue gak paham sama sikap Felix. Sikapnya berubah-ubah" jawab Keysa seraya menyeruput minumannya. "Dia bersikap seperti orang yang tengah cemburu. Tapi cemburu karena apa? Bukannya waktu di studio, loe juga denger kalau dia dengan seenaknya nyerahin gue ke Devan tanpa berpikir bagaimana perasaan gue," ucap Keysa menghela nafasnya.


"Iya sih, tapi gue liat Felix sangat mencintai loe," ucap Clara.


"Cinta??? Apa ini yang namanya cinta, Clar? Gue udah terlalu kenyang mendengar kata cinta yang semu," jawab Keysa memutar bola matanya lelah. "Satu hal yang baru gue sadari, terkadang orang di buat gila oleh cinta, tetapi sebagian orang berpikir apa cinta mampu membuatmu bahagia selamanya? Harusnya gue ingat satu hal, bahwan tak ada yang abadi di dunia ini,"


"Lalu sekarang loe mau bagaimana dengan Felix?" tanya Clara


"Gue lelah mengejar dan meminta kepastiannya. Semuanya sudah jelas, kalau dia hanya menjadikan gue sebagai pelampiasannya saja dari Bella. Cinta memang tak bisa di paksakan. Gue hanya akan berjuang demi orang yang memang pantas gue perjuangkan. Gue hanya ingin membenahi diri gue dan terus berjalan ke depan tanpa ingin menengok lagi ke belakang. Meninggalkan semua rasa sakit ini, mencari sesuatu yang bisa membuatku bahagia. Bukankah kebahagiaan itu di ciptakan oleh diri kita sendiri," senyum Keysa membuat Clara tersenyum memperhatikan Keysa.


"Apapun jalan yang loe ambil, gue akan selalu ada di samping loe. Loe jangan sungkan mencari gue saat loe mengalami kesulitan. Gue akan selalu ada buat loe, bukankah kita bersahabat." Kekeh Clara.


"Iya kita sahabat, gue berharap kali ini gue bener-bener mendapatkan seorang sahabat yang tak akan pernah meninggalkan gue," ucap Keysa penuh penekanan.


"Tenang saja, kita akan tetap sobatan selamanya, kompak together forever gak akan ada masa berlaku telah habis," kekeh Clara membuat Keysa mengangguk.


"Thanks,"


"No thanks, oke." ucap Clara. "Sekarang tersenyumlah jangan cemberut terus," Clara mencubit pipi Keysa membuatnya terkekeh. Tiba-Tiba dering hp Keysa berbunyi menampakkan nama Reno disana, membuat raut wajah Keysa berubah."Kenapa gak diangkat telponnya key?" tanya Clara heran.


"Tidak penting" ucap Keysa kembali menikmati makanannya.


Tanpa terasa matahari sudah menyembunyikan sinarnya dan bulan mulai muncul menerangi langit gelap. Dan Keysa masih fokus dengan pekerjaannya tak berbeda jauh dengan Felix. Karena perusahaannya baru saja memenangkan sebuah tender maka itu membuat pekerjaan mereka bertambah.


Jam dinding sudah menunjukkan pukul 20.00 WIB. Dan diluar terlihat percikan cahaya dari langit dan gemuruh angin serta suara derasnya air turun menandakan hujan turun deras. Felix berjalan keluar ruangan dan terlihat Keysa masih sibuk dengan pekerjaannya.


"Masih banyak?" tanya Felix membuat Keysa mendongakkan kepalanya.


"Iya lumayan, Pak" jawab Keysa dan kembali fokus dengan layar komputer di hadapannya.


"Kamu pindah saja bekerjanya diruanganku, daripada disini sendiri" ucap Felix,


"Saya sudah terbiasa sendiri" ucap Keysa datar tanpa melirik ke arah Felix.


"Atau kita selesaikan saja semua pekerjaan ini di rumah saya. Biar kamu bisa langsung istirahat juga disana." ucap Felix,


"Tidak pak, saya akan menyelesaikannya disini saja" jawab Keysa masih datar.


"Baiklah,, tapi kamu yakin tidak mau pindah keruangan saya?" tanya Felix sekali lagi


"Tidak pak,," jawabnya


"Yakin? Kamu memang berani disini sendiri? Mana hujan gede di luar" goda Felix, "Kata satpam sih, gedung ini ada penunggunya lho."


"Jangan mencoba menakut-nakutiku" ucap Keysa  dengan ketus,


"Ya terserah sih" Felix kembali memasuki ruangannya dan Keysa mulai menyelesaikan pekerjaannya lagi.


Cukup lama terfokus pada layar komputer, tiba-tiba saja bulu tengkuknya merinding.


Tap...Tap....Tap...


Keysa terpaku mendengar suara itu dilorong dekat lift.


Byuuussss


Angin cukup kencang menerpa rambut Keysa membuat bulu kuduknya semakin berdiri. 'Please dong mas, mbak, pak, bu, engkong, encing, kakek, nenek. Siapapun kalian jangan ganggu dulu. Lagian jam 12 masih lama kan,, kenapa mesti datang sekarang. Jam segini, cinderella aja belum berubah jadi upik abu. Pergi dong,,' batin Keysa.


Keysa mengusap tengkuknya berkali-kali. Pikirannya benar-benar tidak fokus. Pandangannya menyusuri semua sudut di ruangan ini hingga sudut dekat pintu lift yang remang-remang, saat  cahaya petir menyambar ke dalam ruangan dan Keysa terpekik saat melihat sesuatu di dekat pintu lift.


"Aaaaaaaaaa!!!" Keysa langsung berlari masuk ke dalam ruangan Felix dan menutup pintunya cukup kencang membuat Felix menatapnya heran.


"Kamu kenapa, Key?" tanya Felix berjalan mendekati Keysa yang masih mengatur nafas ngos-ngosannya, bahkan dadanya terasa sangat sakit. Felix menyentuh pundak Keysa yang masih memegang dadanya yang sakit dan masih mengatur nafasnya.


Felixpun berjalan mengambil gelas minumannya dan memberikannya ke Keysa. Keysa segera meneguknya hingga habis dan dadanya mulai tak terasa sakit lagi. "Ada apa?" tanya Felix sangat khawatir.


"I-itu... Mm...maksudnya ta-di...!!! A-aku mau menyelesaikan pekerjaanku disini" ucap Keysa menundukkan kepalanya merasa sangat malu. Tadi dia yang menolak mentah-mentah tapi sekarang malah masuk keruangan ini seperti baru saja melihat hantu.


Hei... Aku memang baru saja melihat bayangan disana, entah bayangan siapa tapi itu sangat menakutkan... Lagian kan tadi juga Felix yang menakut-nakuti aku.


"Kamu baik-baik saja kan, Key?" Felix terus menatap Keysa yang masih mengatur nafasnya.


"Ya,, aku baik-baik saja. Apa boleh aku meneruskan pekerjaanku disini?" tanyanya


"Baiklah,, sekarang kamu copy semua data yang sudah kamu kerjakan dan nanti kamu pakai laptopku saja" ujar Felix dan beranjak kembali menuju mejanya.


"Tapi.." ucapan Keysa menghentikan langkah Felix, ia kembali berbalik menatap Keysa yang terlihat gugup dan gemetaran.


"Kenapa?" tanya Felix menaikkan sebelah alisnya.


"Aku takut" cicit Keysa menundukkan kepalanya. "tadi aku melihat sesuatu diluar sana. Apa kamu bisa menemaniku keluar?" tanya Keysa ragu-ragu membuat Felix menahan tawanya. Melihat Keysa seperti ini sungguh membuatnya gemas.


"Oke" ucap Felix


Felix berjalan terlebih dulu dan Keysa bersembunyi di belakang tubuh Felix sambil memegang kemeja Felix, seperti anak kecil yang takut lepas dari ibunya.


"Baiklah sekarang kamu copy semua data itu" ucap Felix dan Keysapun berjalan mendekati komputernya dan mulai mengcopy semua data ke flashdisk, sambil sesekali menengok ke arah pintu lift tak jauh dari sana membuat Felix juga sesekali ikut melihat kesana.


"Ada apa?" tanya Felix dan Keysa hanya menggelengkan kepalanya. Selesai mengcopy, Keysa berjalan mendekati Felix.


Brakkkkk


Suara petir menggema membuat Keysa langsung memeluk tubuh Felix dengan erat, membuat Felix tersentak kaget dan hampir saja terjatuh karena serangan Keysa yang tiba-tiba. Tetapi ia mampu menyeimbangkan tubuhnya dan membalas pelukan Keysa. Karena jujur Felix sangat merindukan hangat pelukan ini, ia ingin bersikap egois untuk saat ini dan melupakan kenyataan yang ada. Ia ingin waktu berhenti saat ini juga dan membiarkan posisi mereka tetap seperti ini. Dekat dan saling menyalurkan kehangatan.


Biarkan seperti ini beberapa saat saja....


Cukup lama mereka berpelukan, Keysa segera melepas pelukannya dan berjalan terlebih dulu memasuk ruangan Felix sambil menunduk menahan malu.


"Kamu kerjakan di sofa saja" ucap Felix yang mengikuti langkah Keysa. Setelahnya ia kembali duduk di kursi kebesarannya dan Keysa berjalan menuju sofa panjang berwarna putih tulang itu.


Keduanya kembali sibuk dengan pekerjaan masing-masing, Felix sesekali melirik ke arah Keysa yang sibuk bekerja. Dan sebaliknya juga keysa mencuri pandang ke arah Felix.


Felix berjalan ke arah sofa dan menyimpan minuman kaleng dingin dimeja.


"minumlah" ucapnya lalu kembali beranjak menuju kursinya.


Keysa mulai meminum minuman kaleng itu. Dan kembali bekerja. Hingga waktu menunjukkan pukul 9 malam, Keysa sudah selesai mengerjakan laporannya. Setelah membereskan semua dokumen, Keysa hendak menghampiri Felix tapi diurungkannya saat melihatnya masih sibuk dengan pekerjaannya. Keysa terus memperhatikan setiap gerakan Felix, tetap sama tanpa ekspresi. 'Bahkan sampai saat ini aku masih mengagumi kamu,, seberapa besar rasa sakit yang kamu berikan tapi hati ini masih mencintai kamu....'


Keysa terus memperhatikan Felix tanpa mau memalingkan pandangannya. Alisnya yang sesuai, matanya yang tajam, hidungnya tang tidak terlalu mancung, bibirnya yang merah dan sedikit tebal di bagian bawah. Keysa mengingat saat mereka berciuman dulu, bayangan itu menari indah di benak Keysa. 'Aku pikir aku bisa tegar seperti sebelumnya, disaat hari kamu bilang kalau aku harus melupakan kamu. Aku selalu mencoba dan terus mencobanya hingga sudah hampir 2 minggu ini aku mencobanya tapi sedikitpun aku tidak bisa. Jujur saja aku tidak mampu menghilangkan wajah kamu dari pikiran dan hariku, aku merasa sangat terganggu tapi aku tidak mampu menghilangkannya. Jujur saja aku tidak mampu untuk pergi menjauh dari kamu, meskipun aku selalu mengenyahkannya. Tapi itu sangat sulit san malah semakin menyakitkan, disaat sadar kalau kamu sudah tidak disampingku lagi,kamu sudah menolak hati aku, masa yang indah kini sudah berakhir, karena kamu sudah berubah tidak seperti dulu lagi. Cinta yang bertepuk sebelah tangan ini sangat menyakitkan.'


Batin Keysa, tanpa terasa sebutir air mata jatuh membasahi pipinya dan segera Keysa menghapusnya. 'Mungkin ini memang jalan takdir aku mencintai tanpa dicintai, menyayangi tanpa disayangi, apa aku harus bersyukur dengan takdirku ini? Ntahlah,, semuanya sangat menyakitkan. Tapi satu hal yang harus kamu tau, aku selalu menanti dan menunggu kamu disini. Karena aku mencintai kamu tanpa syarat apapun, dan aku rela menunggu sangat lama. Aku ingin kamu menerima seluruh hati aku, aku ingin kamu mengerti kalau didalam jiwaku hanya ada kamu. Apa aku harus bersabar menunggu balasan dari cintamu? Atau aku yang terlalu bodoh karena terlalu setia sama kamu disaat kamu gak sungguh-sungguh mencintai aku? Bahwa kamu tidak pernah menginginkan aku?'


Keysa memalingkan pandangannya ke arah lain, hatinya kembali terasa sesak dan sakit.


Sebenarnya aku hanya menjadikanmu pelarian saja, aku tidak bisa melupakan bella, dia cinta pertama aku, sudah lama aku menunggu kedatangannya dan ssekarang dia telah kembali. Maafkan aku, key.


Aku sangat menyayangi kamu, aku nyaman disamping kamu tapi ini tidak bisa diteruskan lagi, aku gak mau semakin menyakiti kamu, jadi lupakan aku...


Ucapan itu kembali terngiang ditelinga Keysa, membuatnya memegang dadanya yang terasa sakit dan sesak. Sesekali Keysa menghapus air matanya yang turun seenaknya tanpa diminta. hingga dering iphone menyadarkannya.


"....."


"Aku masih di kantor,"


"......"


"Baiklah, aku akan segera turun. Kebetulan aku sudah selesai bekerja," Keysa menutup sambungan telpon dan memasukkannya ke dalam tasnya, tanpa sadar kalau Felix tengah memperhatikan gerakannya itu.


"Siapa?" pertanyaan itu menyentakkan Keysa yang hendak beranjak.


"Temanku, saya pulang duluan, Pak." Keysa beranjak menuju pintu.


"Seorang pria?" pertanyaan itu menghentikan langkah Keysa yang hendak memegang handle pintu.


"Ya," jawaban Keysa membuat Felix tersenyum sinis. Keysa sudah berlalu pergi tanpa menunggu jawaban dari Felix lagi.


Mungkin memang saatnya mereka melangkah di jalan masing-masing, dan Keysa akan belajar move on mulai sekarang. Karena bagi Felix, Keysa tak lebih dari seorang wanita cadangan.


Keysa berjalan keluar lobby kantor dan disapa ramah oleh seorang security yang berjaga disana. Tak jauh di depannya sebuah mobil sport terparkir manis, dan sang empunya keluar dari dalam mobil menggunakan payung hitam. Senyuman manis terukir indah di bibirnya, membuat Keysa membalas senyumannya.


"Hai"


"Hai Dhik, kamu kehujanan?" tanya Keysa


"Sedikit, kebetulan lewat. Jadi sekalian jemput kamu," ucap Dhika membuat Keysa tersenyum. Tanpa mereka sadari seseorang berdiri dengan tatapan mata tajam penuh amarah melihat Keysa bersama pria lain tengah terkekeh bersama.


"Ayo," ajak Dhika membuat Keysa mengangguk. Dhika merangkul pundak Keysa dan memayungi tubuh keduanya, tetapi seketika Keysa tersentak saat seseorang menarik lengannya dan mencium bibirnya.


Mata Keysa membelalak lebar saat seseorang itu ******* bibirnya dengan ganas di depan Dhika dan security. Keysa berontak ingin lepas, tetapi rengkuhan di pinggangnya semakin erat dan ciumannya semakin dalam. Bahkan sang pelaku yang tak lain adalah Felix menggigit bibir bagian bawah Keysa dan menelusupkan lidahnya untuk masuk semakin dalam ke mulut Keysa. Keysa merasa sangat kewalahan untuk mengimbangi ciuman Felix yang sangat panas ini.


'Maafkan aku tuhan,, tapi aku sangat mencintai dia.....' Felix semakin menjadi melupat bibir Keysa yang selama ini sudah menjadi candunya. Felix sangat merindukan sentuhan bibir ini.


Sekuat tenaga Keysa mendorong dada Felix hingga terlepas.


Plak


Keysa menampar Felix dengan nafas yang tersenggal-senggal, bahkan  bibirnya terlihat bengkak karena ulah Felix. Bagaimana mungkin Felix bersikap sangat arogant seperti ini. Bahkan masih ada beberapa karyawan di lobby kantor.


"Brengsek!!" pekik Keysa mengusap bibirnya dengan kasar diiringi tangisannya.


Kenapa? Kenapa Felix terus menyakiti hatinya, kenapa dia tega melakukan ini pada Keysa? apa maunya, dia terus menarik ulur Keysa.


"Bawa aku pergi dari sini, Dhika" tangis Keysa menatap Dhika dengan memohon. Dhika melirik sebentar ke arah Felix yang masih mematung di tempatnya. Iapun hanya mampu menganggukan kepalanya dan merangkul Keysa, membuat Keysa menyandarkan kepalanya di dada Dhika.


Dhika membawa Keysa pergi meninggalkan Felix sendirian.


"Shitt!!!" umpat Felix kesal, dia juga memarahi 5 orang karyawan yang masih bertugas dan juga security yang memperhatikannya. Lalu ia memilih beranjak pergi dengan emosinya yang meluap-luap.


Di dalam mobil Dhika, Keysa hanya bisa menangis sesegukan menatap keluar jendela. Dhika membiarkan Keysa menenangkan hatinya, tanpa ingin bertanya apapun.


"Kenapa?" satu kata yang lolos dari mulut Keysa membuat Dhika menengok. "Kenapa dia terus memberiku harapan palsu, dia terus saja menarik ulurku. Apa maunya? aku cape, Dhika. Aku lelah dengan semua ini, hikzz" isaknya.


"Dia hanya cemburu padaku," ucap Dhika.


"Tetapi kenapa? bukankah dia sudah tak perduli lagi padaku? Bukankah dia sudah menyerahkanku ke sahabatnya sendiri, kenapa? Kenapa dia begitu egois? Apa maunya dia? Saat aku mengejarnya bahkan berkali-kali terjatuh dan tersandung, tetapi dia bahkan tak menengok sedikitpun. Dia mengacuhkanku, dan bahkan dengan tega mengusirku. Tetapi disaat aku memilih mundur dan menjauh darinya, dia kembali datang dan seakan menarikku untuk tetap berada di jalannya dan mengikutinya. Kenapa Dhika? kenapa dia melakukan ini padaku? Apa yang dia inginkan sebenarnya,, hikzzz" isak Keysa sejadi-jadinya.


"Secerdas-cerdasnya seseorang, tak akan mampu membaca hati oranglain. Begitupun juga kamu, tapi yang aku lihat Felix mencintai kamu. Aku dapat melihat dari cara dia natap kamu," ucap Dhika.


"Jangan menghiburku, aku lelah berharap yang tak pasti. Aku lelah di phpin terus," ucapnya kesal membuat Dhika terkekeh.


"Kalian hanya butuh waktu untuk menyadari semua ini." ucap Dhika


"Sampai kapan? ini sudah 2 bulan berlalu, aku lelah memperjuangkan cintanya," keluh Keysa.


"Mungkin sekarang saatny berjuang dengan dua pilihan. Yaitu berjuang untuk meninggalkannya dan berjuang untuk tetap bertahan menunggunya. Bukankah dua hal itu juga termasuk dengan arti kata berjuang," ucap Dhika. "Ibarat saat kita menggenggam pasir, saat kita berjuang untuk mempertahankannya dengan menggenggamnya erat, maka semakin lama pasir itu akan tumpah ruah. cinta juga seperti itu, semakin kita memaksakan diri dan mempertahankannya, cinta itu akan pergi."


"Perjuangkanlah apa yang memang pantas untuk di perjuangkan. Cinta memang mampu membuat kita bahagia, tetapi kebahagiaan itu tetap di ciptakan dalam diri kita sendiri," tambah Dhika panjang lebar.


"Aku harus apa sekarang? kalau dia terus seperti ini, aku akan semakin sulit moveon darinya." tanya Keysa.


"Kamu bersungguh-sungguh ingin lepas darinya atau hanya ingin menguji cintanya?" pertanyaan Dhika membuat Keysa menengok ke arahnya dan berpikir keras, lalu tersenyum misterius.


"Ingin menguji cintanya juga sih, aku ingin tau bagaimana perasaan dia padaku," ucap Dhika


"Maka lakukanlah"


"Bagaimana caranya?" tanya Keysa.


"Besok ikutlah denganku ke Bandung, dan aku akan menjelaskan caranya padamu," ucap Dhika menghentikan mobilnya tepat di depan rumah Keysa.


"Baiklah, sampai ketemu besok," ucap Keysa hendak beranjak.


"Key"


"Yah,,"


"Ini aku dapat beberapa data tentang papamu, bacalah" Dhika menyodorkan amplop coklat ke Keysa.


"Kamu mencari tau tentang papa?" tanya Keysa.


"Maaf, bukannya aku lancang. Tetapi mendengar ceritamu, aku merasa curiga pada tangan kanan papamu, maaf bukannya aku ingin mengadu domba kalian," ucap Dhika.


"Tidak apa-apa, aku malah terima kasih sekali. Karena kamu, aku merasa tak sendiri lagi. Aku merasa memiliki seorang kakak." Keysa memeluk leher Dhika dari samping membuat Dhika tersenyum dan melepaskan pelukan Keysa.


"Sama-sama, aku senang bisa membantumu." Dhika tersenyum membelai wajah Keysa, "Kamu tau, kamu begitu mirip dengannya," ucap Dhika menerawang menatap Keysa dengan tatapan sendu.


"Dia?" pertanyaan Keysa menyentakkan Dhika dari lamunannya.


"Lupakan saja, cepatlah masuk ini sudah larut malam," ucap Dhika membuat Keysa mengangguk dan beranjak menuruni mobil Dhika dengan senyumannya.


'Aku berharap, dengan aku membantu Keysa. Kamu bisa berbahagia juga disana, aku hanya bisa membantumu lewat gadis ini, karena dia begitu mirip denganmu.' batin Dhika menatap Keysa yang sudah memasuki rumahnya.


***


Felix berdiri di balkon kamarnya sambil menikmati segelas wine. 'Bumi ini se akan terhenti, bulan juga tidak mampu menerangi sisi gelap hati ini. Bintangpun tidak menghiasi lagi gelapnya langit malam. Dan aku hanya diam sendiri disini.


Sungguh menyedihkan.....


Batin Felix sambil sesekali meneguk winenya. Bayangan saat tadi ia mencium Keysa dan Keysa menampar pipinya terus berputar di benaknya, membuatnya tersenyum sinis. Ia terus mengumpat dalam hati, merasa kesal pada Keysa dan juga dirinya. Felix harus mencari tau ada hubungan apa antara Keysa dengan dokter sok tampan itu.


***


Keysa dan Dhika pergi ke daerah Bandung, entah akan di bawa kemana Keysa oleh Dhika.


"Kita akan kemana?" tanya Keysa


"Sebenarnya sahabatku menikah hari ini, aku lelah di ledeki jones. Jadi aku ajak kamu, kamu tidak keberatankan?" tanya Dhika melirik Keysa.


"Tidaklah, asal kamu memenuhi kebutuhan perutku" kekeh Keysa.


"Siap, hanya itu?" tanya Dhika


"Sepertinya aku perlu belanja ke mall," kekeh Keysa


"Sepertinya hari ini tabunganku akan sangat menipis," ucap Dhika membuat Keysa semakin terkekeh.


"Baiklah, ceritakan tentang sahabatmu," ucap Keysa.


"Sahabatku? hmm, tak ada yang spesial, kami hanya kumpulan anak muda yang nakal" kekeh Dhika


"Pria semuanya? lalu apa begitu menyenangkan memiliki banyak sahabat?" tanya Keysa semakin kepo.


"Tidak, namanya brotherhood kami beranggota 8 orang, 5 orang pria dan 3 orang perempuan. Kami sudah bersahabat dari kecil, suka duka, kekonyolan, sedih, kegilaan semuanya sudah kami lewati," ucap Dhika.


"Seru sekali, selama aku hidup sahabatku hanya Sanas, dan juga papa. Tetapi sahabat satu-satunya aku juga malah mengkhianatiku, miris banget yah" Keysa tertawa hambar.


"Aku juga pernah dikhianati oleh sahabatku sendiri,"


"Oh ya? benarkah?" tanya Keysa semakin penasaran, Dhika menganggukan kepalanya sambil terus menyetir. "Lalu apa yang terjadi sekarang?"


"Dia akan menikah hari ini,"


"Jadi sekarang kita akan menghadiri pernikahannya?" tanya Keysa yang di angguki Dhika. "Kamu memaafkannya?" tanya Keysa


"Untuk apa berlama-lama bermusuhan, toh yang pernah terjadi tak akan bisa di ulang kembali. Ini sudah 5 tahun berlalu sejak kejadian itu, dan ini pertama kalianya aku kembali ke Bandung dan bertemu sahabatku"


"Kamu mengasingkan diri?" tanya Keysa


"Ya bisa di katakan seperti itu, aku hanya ingin mencapai impianku dan berusaha melangkah tanpa stuck di masalalu," ucap Dhika


"Apa yang terjadi? apa kekasihmu selingkuh dengan sahabatmu?" tanya Keysa menatap Dhika lekat-lekat. Terlihat jelas kalau pria di depannya ini sedang tidak baik-baik saja. Dia menyimpan beribu luka di dalam hatinya.


"Yah," Keysa melongo mendengarnya.


"A-apa hari dia menikahi kekasihmu?" tanya Keysa membuat Dhika menengok ke arah Keysa dengan senyumannya. "Kenapa tersenyum? menangislah kalau kamu ingin menangis, aku ada disini untukmu," Keysa menggenggam sebelah tangan Dhika dan meremasnya seakan memberinya kekuatan.


"Bukankah dalam kehidupan ini kita membutuhkan rasa pahit untuk tau bagaimana rasa manis itu, aku sudah lelah menangis. Semuanya sudah berlalu, dan sahabatku tidak menikah dengan dia." ucap Dhika


"Kalau begitu kamu masih memperjuangkannya," ucap Keysa bersemangat. "Ayo semangat Dhika, aku mendukungmu" Dhika terkekeh melihat ke antusiasan Keysa, tangannya terulur mengusap kepala Keysa.


"Semuanya sudah terlambat, dia sudah pergi,"


"Pergi? m-maksud kamu apa?" tanya Keysa semakin penasaran tetapi Dhika hanya mengedikkan bahunya acuh dan kembali menyetir mobilnya.


***