
HAPPY READING
----------------------------------------------------------
"Dengar Keysa Adeeva, kau sudah membuang-buang tenaga untuk menyelamatkan perusahaan milik pria yang sudah membelimu dari pegawainya sendiri."
Deg
Kali ini tatapan Keysa terarah kearah Reno dengan tatapan sangat terluka dan syok.
"Kamu bukanlah Nona Besar dari MH Group. Kamu hanya gadis dari seorang karyawan pemetik teh di perkebunan teh MH Group di puncak."
Ucapan Reno semakin membuat Keysa semakin mematung syok, air matanya luruh membasahi pipi.
Kebohongan dan kenyataan apa lagi ini????
"Jadi berhentilah, dan bergabunglah denganku untuk menghancurkan perusahaan pria tua itu."
Keysa menatap mata Reno yang terlihat bersungguh-sungguh dan serius.
Bagaimana ini????
"Kamu berbohong padaku kan, Ren?"
"Untuk apa aku membohongimu, Keysa. Aku mencari tau tentang kehidupan Mahesya selama ini dan aku menemukan kebenaran ini."
Keysa memegang dadanya yang terasa sakit sekali, tangannya segera berpegangan pada dinding di belakangnya karena mendadak kepalanya berputar hebat dan dadanya sangat nyeri sekali.
"Kalau kamu tidak mempercayaiku, maka tanyakan saja langsung pada Papa angkatmu itu." Sindir Reno. "Aku akan menunggu jawaban kamu, dan aku sangat berharap kamu mau kembali padaku, Keysa."
Keysa menatap Reno dengan nanar, ia kesakitan dan bingung. Ia meringis menahan kesakitannya seraya memegang dadanya yang semakin berdenyut sakit. "Key, ada apa?" Reno segera mendekati Keysa dan memegang kedua lengannya.
Keysa tak menjawab, ia masih meringis kesakitan. "Key-"
Brak
Dobrakan itu membuat Reno dan Keysa menengok ke ambang pintu. Disana Felix berdiri dengan tatapan elangnya yang menyala, rahangnya sangat keras dan gertakan giginya terdengar jelas. Felix menatap Keysa dengan seksama, pipinya memar dan sudut bibirnya terlihat sobek. Pakaian bagian pundaknya terlihat sobek. Seketika tatapan Felix mengarah ke arah Reno dengan tatapan menyala. Kedua tangannya mengepal kuat hingga memutih,
"Sialan!!!"
Bug
Felix melayangkan tinjunya ke rahang Reno membuatnya tersungkur ke lantai. Keysa tersentak tetapi ia tak mampu berbuat apapun. Ia menahan sakit di dadanya, bahkan kedua tangannya sudah dingin dan mengeluarkan keringat.
Felix mengamuk dan membabi buta memukuli Reno hingga terkapar. Ia hendak mengambil gunting untuk membunuh Reno, tetapi gerakannya terhenti saat tubuh Keysa ambruk ke lantai dan tak sadarkan diri. Ia melempar guntingnya begitu saja dan beranjak mendekati Keysa.
"Key," Felix menarik tubuh Keysa ke dalam dekapannya. Ia memeriksa denyut nadi Keysa dan menepuk pelan pipi Keysa yang pucat sekali.
"Key, sadarlah aku mohon," air mata luruh seketika dari pelupuk matanya. Baru kali ini ia merasakan ketakutan, sangat ketakutan. Biasanya dialah yang selalu menguasai hidup dan oranglain hingga tak ada yang bisa membuatnya ketakutan, tetapi sekarang ia sungguh sangat sangat ketakutan.
Brak
Felix menengok ke belakang dan terlihat Reno tak sadarkan diri, di tangannya terlihat gunting yang tadi Felix pegang. Tepat di belakangnya Devan berdiri dengan tatapan tak terbaca,
Felix tau Devan baru saja menolongnya, ia tak ingin mengatakan apapun. Hingga tatapannya menangkap sebuah kertas yang ada di genggaman Keysa. Ia segera mengambilnya dan membacanya.
"Tes Dna," gumam Felix membaca isi kertas itu dengan seksama. "Ja-jadi?"
"Ada apa?" Devan sudah berjongkok di samping Felix.
"I-ini tes Dna Keysa dan papanya." Gumam Felix membuat Devan merebutnya.
"I-ini?" Devan menatap wajah Felix yang tak bisa menyembunyikan senyum kebahagiaannya.
Air mata masih mengalir dipipinya tetapi di iringi senyuman yang tak mampu ia tahan lagi. "Kalau itu benar, berarti gue dan Keysa?"
Devan tersenyum seraya menepuk pundak Felix dengan ringan, "Perjuangkan cinta loe, Brother."
Felix membalas senyuman Devan, "Ya, gue akan," Felix segera membopong tubuhnya Keysa dan beranjak pergi meninggalkan apartement Reno.
Devan masih berdiri di tempatnya menatap nanar kertas di tangannya. Ia tersenyum tetapi matanya berkaca-kaca. Iya tak bisa memungkiri kalau hatinya sakit dan harapannya untuk mendekati Keysa pupus sudah.
Devan sudah meyakinkan dirinya, kalau Keysa bahagia dengan Felix maka ia akan merelakannya. Ya, merelakannya untuk kebahagiaan Keysa. Bukankah cinta itu tak selamanya harus saling memiliki??
***
Dhika memeriksa kondisi Keysa, kondisinya semakin menurun. Ia harus segera melakukan operasi, tetapi Keysa menolaknya. Karena dengan operasipun belum tentu ia akan sembuh total. Hanya keajaiban tuhan yang bisa menolongnya saat ini.
Dhika keluar dari ruang ICU dan terlihat Felix disana tengah mondar mandir tak karuan. "Bagaimana?"
Dhika hanya bisa menghela nafasnya, "Berdoalah untuk kesehatannya. Kita hanya tinggal menunggu dia siuman."
Felix mematung di tempatnya mendengar penuturan Dhika barusan yang berarti keadaan Keysa tidak sedang baik-baik saja. "Dhika,"
Dhika menghentikan langkahnya saat mendengar panggilan itu, ia menengok kembali kearah Felix. "Bisakah kamu melakukan tes Dna pada pak Mahesya dan Keysa?"
Pertanyaan Felix membuat Dhika mengernyitkan dahinya bingung. "Sekali saja, ku mohon."
"Emm, baiklah." Dhika akhirnya menyetujuinya dan beranjak pergi meninggalkan Felix sendiri.
Felix memasuki ruang ICU dengan memakai pakaian steril, ia duduk tepat di sisi brangkar Keysa dengan mengambil tangan Keysa. Ia menempelkan punggung tangan Keysa di bibirnya dan mengecupnya berkali-kali.
"Aku berharap hasilnya negative, entah kenapa aku bahagia. Maafkan aku Key, aku bahagia karena akhirnya kita bukan saudara. Karena sampai kapanpun juga aku tidak akan sanggup menjalani hidup berdampingan denganmu sebagai saudara." Gumam Felix.
Devan berdiri di luar ruang ICU, pandangannya menatap kearah Keysa dan Felix melalui jendela besar ruang ICU. Ia tetap tersenyum walau setetes air mata menetes membasahi pipi. Mungkin hanya ini yang mampu Devan lakukan sebagai pembuktian cintanya.
"Van," panggilan itu membuat Devan menengok, baru saja Clara dan Remon datang. Mereka menanyakan apa yang terjadi dan bagaimana keadaan Keysa.
"Sudah ada kalian disini, gue balik dulu. Temani Felix," ucap Devan seraya beranjak pergi meninggalkan mereka yang saling beradu pandang bingung melihat ekspresi Devan.
***
Malam menjelang, semuanya berkumpul di ruangan Dhika. Disana Daniel menjelaskan semuanya mengenai perusahaan Mahesya, disana juga ada sekretaris Mahesya yang sebenarnya tak tau apapun. Felix mengambil alih tugas Keysa, ia yang akan menggantikan Keysa untuk menyelamatkan perusahaan MH. Ia tidak ingin Keysa kembali ikut dalam masalah ini,
Setelah menjelaskan semuanya, kini hanya tinggal Felix dan Dhika. Dhika menyerahkan kertas ke Felix.
"Hasilnya negative," ucap Dhika membuat Felix tersenyum bahagia. "Ternyata Keysa bukanlah anak kandung pak Mahesya. Kenyataan yang menarik," gumam Dhika diiringi senyumannya.
"Aku sangat bahagia, akhirnya mimpi buruk itu berakhir." Felix tak mampu menyembunyikan kebahagiaannya. Ia juga mengucapkan terima kasih pada Dhika, ia berniat akan segera mengatakannya ke Keysa.
Dhika tersenyum menatap kepergian Felix, ada rasa bahagia di dalam hatinya melihat Felix dan Keysa. Keajaiban itu ada,
Bisakah keajaiban cinta itu berpihak padanya juga????
***
Felix masuk ke dalam ruang ICU, dan Keysa terlihat sudah siuman. "Hai," sapa Felix tersenyum manis membuat Keysa terpana melihatnya.
"H-hai," jawab Keysa sedikit salting, ia menyukai senyuman menawan Felix itu. Jantungnya langsung berdegup kencang saat melihat senyuman itu.
"Kamu mau minum atau butuh yang lain?"
"Tidak," jawabnya, "Emm,, bagaimana Papa?" Tanya Keysa parau.
"Keadaannya berangsur baik, kamu tidak perlu menghawatirkannya." Felix duduk tepat di sisi brangkar Keysa. Keduanya sama-sama diam seakan fokus dengan pikiran masing-masing.
'Benarkah hasil Dna itu? Kalau aku dan Felix-?'
"Key," Keysa tersentak dari lamunannya, ia menengok kearah Felix yang tengah menatapnya dengan teduh. Tak ada tatapan dingin, datar, dan sinis. Hanya tatapan teduh dan lembut.
Felix menarik tangan Keysa dan mengecupnya cukup lama, "aku sangatlah bahagia,"
"Ada apa?" cicit Keysa yang masih menatap Felix dengan seksama.
"Hasil Dna menjelaskan-"
"Kamu membacanya?" Keysa memotong ucapan Felix membuatnya menganggukan kepalanya. "Bagaimana kalau itu hanya tipu daya Reno?" kali ini Felix menggelengkan kepalanya dan menempelkan telapak tangan Keysa di pipinya.
"Lalu?" Keysa masih menatap Felix dengan seksama.
"Hasilnya negative. Emm, kamu dan pak Mahesya-"
"Aku bukan anaknya," ucap Keysa, matanya terlihat berkaca-kaca. "Ternyata selama ini aku sudah di tipu Papa. Aku bukanlah anaknya," air mata luruh membasahi pipi,
"Jangan bicara seperti itu, Key. Kamu belum tau kan apa alasan papamu."
"Dia bukan papaku," cicit Keysa, membuat Felix terdiam. "Entahlah, apa aku harus bahagia atau sedih mendengar kenyataan ini. Aku begitu menyayangi papa, dan aku kecewa ternyata papa bukan papa kandungku dan parahnya ia menyembunyikannya kepadaku selama ini."
"Kita tanyakan saja langsung ke pak Mahesya,"
"Apa kamu akan mengakuinya sebagai papa?" pertanyaan Keysa membuat Felix terdiam.
"Aku tidak tau,"
Hanya itu yang bisa Felix katakan. Ia bahkan tak ingin memanggil papa, atau mengakuinya sebagai papanya. Baginya papanya hanya Ayah Cris Blandino yang sudah memberinya nama belakangnya.
Keysa hanya menatap Felix dengan berbagai macam pikirannya.
***
Mahes membuka matanya dan langsung menangkap sosok Keysa yang berada tepat di kursi samping brangkar. Lalu pandangannya juga jatuh menatap ke arah Felix yang tengah bersandar di dinding di hadapannya dengan tangan yang di masukan ke dalam saku celananya. Tatapan Felix tidak mampu di artikan.
"Papa haus? Atau perlu sesuatu?" Tanya Keysa membuat Mahes mengalihkan pandangannya dari Felix ke arah Keysa dengan menggelengkan kepala. Mahes hendak bangun, dengan segera Keysa menekan tombol di bawah brangkar agar tegak dan membuat Mahes duduk.
"Kenapa kamu memakai pakaian pasien rumah sakit? Apa kamu sakit, Nak?" Tanya Mahes terdengar khawatir, Keysa segera menggelengkan kepalanya diiringi senyumannya.
"Papa, Keysa ingin menanyakan sesuatu."
"Katakanlah Nak? Dan apa yang terjadi denganmu sayang, wajahmu sangat pucat." Ucap Mahesya mengusap pipi Keysa.
"Papa, aku baru saja melakukan tes Dna denganmu,"
Deg
Mahesya tersentak kaget, ia menjauhkan tangannya dari pipi Keysa dengan perasaan tak karuan. "Dan hasilnya negative," Keysa menyimpan kertas itu ke tangan Mahesya. Mahesya masih diam kaku menatap nanar kertas di depannya.
"Dan Dna papa sama dengan Felix."
Seketika Mahesya mengangkat wajahnya menatap Keysa dengan tatapan syoknya. Lalu pandangannya mengarah ke arah Felix yang masih menatapnya dengan tenang dan datar. "Felix?" cicit Mahesya yang begitu syok.
"Aku tau ini sangat mendadak, aku juga sama syoknya dengan papa. Tapi aku ingin mendengar semuanya Pa? apa yang terjadi?" Tanya Keysa terlihat berkaca-kaca.
"Tapi Felix?"
"Aku putra dari Hanindya, wanita yang anda tinggalkan 28 tahun lalu, Sir." Mahesya semakin membelalak lebar mendengarnya. Pandangannya terpaut dengan mata dingin dan datar Felix.
Mata Mahesya terlihat nanar dan berkaca-kaca, ia ingin mendekati Felix dan memeluknya tetapi melihat tatapan Felix yang tak bersahabat membuatnya mengurungkan niatnya.
"Aku mohon katakanlah Pa, aku akan memaafkan papa kalau papa mau menjelaskan semuanya. Jangan sampai aku salah paham," ucap Keysa membuat Maheysa menunduk dan memijit pangkat hidungnya.
Ia menerawang ke luar jendela kamar inapnya menatap taman dan air mancur kecil yang ada diluar kamar. Ia merasa ini begitu mendadak, dan membuat dadanya terasa nyeri. Apalagi harus mengingat masalalunya, tetapi Mahesya juga tak ingin membuat dua anak ini terus bingung dan bertanya-tanya.
"28 tahun yang lalu, papa menjalin kasih dengan Hanindya. Kami sama-sama jatuh cinta dan saling mencintai, kami juga berencana akan segera menikah." Felix dan Keysa menatap dan mendengarkan Mahesya dengan seksama. Mahesya terlihat masih menerawang keluar jendela kamar. "Kami benar-benar saling mencintai hingga tak pernah memikirkan apapun lagi. Kami sudah di butakan oleh cinta. Malam sebelum pernikahan, kami melakukan hubungan yang tidak seharusnya di lakukan, dengan dasar cinta dan karena papa pikir satu minggu lagi kami akan menikah." ujar Mahes.
"Tetapi sesuatu terjadi, tiba-tiba saja perusahaan orangtua papa bangkrut karena di tipu oleh ayahnya Hanin. Ayah murka saat itu dan membatalkan pernikahan ini secara sepihak. Dia memutuskan segala akses komunikasi dengan keluarga Hanin. Berkali-kali Hanin menemui papa untuk menjelaskan kalau papanya tidak bersalah. Ayahnya di fitnah, tetapi papa tidak pernah percaya dan memutuskan hubungan dengan Hanin saat itu juga. Karena papa juga merasa sangat marah, tega sekali Hanin memanfaatkan cinta papa untuk merebut perusahaan orangtua papa. Papapun Memutus semua akses komunikasi papa dengannya." Ujar Mahes menghela nafasnya.
"Singkat cerita Papa menerima perjodohan dengan anak dari sahabat ayah, itu juga untuk membangun kembali perusahaan yang hampir final. Setelah 6 bulan berlalu semuanya terbongkar kalau ayah Hanin tidak bersalah. Disana Papa sangat menyesal dan terpukul karena tidak mempercayai Hanin dan tidak menurutinya untuk menyelidiki dulu semuanya, papa malah meninggalkannya begitu saja. Nasi sudah menjadi bubur dan hanya penyesalan yang tersisa. Papa memutuskan untuk mencari kembali keberadaan Hanin, berkali-kali papa datang ke rumahnya tapi pembantunya bilang kalau Hanin sudah tidak tinggal di sana lagi. Papa terus mencarinya ke seluruh kota Jakarta hingga papa bertemu dengannya." Mahes menatap nanar ke arah Felix yang masih memasang wajah datarnya.
"Keadaannya sangat mengkhawatirkan, dia menjadi gelandangan dan bekerja sebagai pemulung di tambah dia tengah mengandung." Felix terlihat membuang muka, bahkan rahangnya terlihat keras.
"Dia bilang kalau dia diusir dari rumah karena mengandung anak papa. Semua keluarganya menyuruh dia untuk menggugurkan kandungannya, tetapi Hanin terus mempertahankannya. Itu adalah buah cinta kami berdua, Hanin memilih pergi dari rumah untuk melindungi anaknya. Dia mencari sesuap nasi dengan mencari botol bekas untuk mempertahankan dan menjaga kandungannya." Ucapan Mahes mampu memohok hati Felix.
Selama ini Felix membenci sang ibu, padahal jelas-jelas perjuangan sang ibu sangat besar untuknya. Keysa melirik ke arah Felix yang terlihat menunduk, Keysa tau perasaan Felix saat ini pasti sangat terluka.
"Papa menawarkan rumah dan memintanya untuk menikah dengan papa. Tapi Hanin menolak, dia bilang sudah cukup dia membuat malu keluarganya. Dia tidak ingin menambah aib keluarganya lagi dengan menjadi istri kedua papa." Ujar Mahes sebutir air mata lolos dari matanya. "itu adalah pertemuan terakhir papa dengan Hanin hingga kemarin saat dia kritis kami kembali bertemu."
"Papa pergi bukan untuk urusan bisnis, papa menemuinya dan memintanya untuk melakukan pengobatan di Jerman, tetapi ia menolak dan memilih tetap disini untuk mendapatkan kata maaf dari putra kami." Mahes melirik Felix yang terlihat memalingkan wajahnya. Wajah Felix terliat kaku dan tegang.
"Papa berusaha menemaninya, tetapi saat dalam perjalanan pulang, beberapa mobil menghadang papa. Dan setelahnya papa tak mengingat apapun hingga papa sadar sudah ada disini."
"Papa," Mahes menatap kearah Keysa. "Mama Hanin sudah meninggal dunia."
Mahesya memejamkan matanya hingga seluruh air matanya luruh membasahi pipi. "Papa sudah mendengarnya beberapa hari yang lalu saat papa siuman. Papa meminta tolong dokter Dhika untuk mencari tau keberadaan Hanin, tetapi ternyata dia sudah meninggal di rumah sakit ini."
Terdengar helaan nafas dari Mahes, ia semakin menangis dalam diam. Mahes menghapus air matanya dan menarik nafasnya panjang untuk mengisi rongga dadanya yang terasa kosong. "kamu tau Key, setelah kepergian Hanin. Papa menghukum diri papa dengan menyibukkan diri untuk bekerja dan jarang tinggal di rumah. Papa juga terus mencoba mencari keberadaannya tapi tidak juga ketemu. Setelah 7 tahun berlalupun, papa masih mencari keberadaannya. Ditambah istri papa tidak bisa hamil, dia di nyatakan mandul oleh dokter." Ucap Mahes menatap Keysa dengan seksama.
"Hingga suatu hari ada sepasang suami istri dengan menggendong seorang bayi cantik berumur 2 tahun datang. Istrinya adalah salah satu karyawan di pabrik Papa. Dia cukup di kenal dengan keuletannya dalam bekerja. Tetapi juga pinjamannya yang begitu besar ke perusahaan."
"Dia datang untuk meminjam kembali uang sebesar 200 juta. Awalnya papa marah, hutangnya ke perusahaan saja belum lunas, dan dia hendak meminjam lagi yang jauh lebih besar. Bahkan gajinya seumur hiduppun tidak mampu menutupinya." Mahes menghela nafasnya seraya menatap Keysa yang melihatnya dengan nanar. "Dan entah ada dorongan dari mana, papa menawarkan kesepakatan dengan mereka. Papa akan memberi uang sebesar 200 juta dan melunasi semua hutangnya ke perusahaan asal anaknya sebagai jaminan." ujar Mahes membuat Keysa tersentak kaget begitu juga dengan Felix. Keysa menatap Mahes dengan tatapan sangat terlukanya.
200 juta???
Jadi dia anak dari hasil penjualan orangtuanya...
Mata Felix langsung menatap ke arah Keysa yang mematung kaku di tempatnya diiringi tangisannya yang terus luruh membasahi pipi. Felix yakin anak yang di maksud Mahes adalah Keysa.
"Pasangan suami istri itu murka dan marah pada papa awalnya dan menolak kesepakatan papa. Sudah seminggu mereka tidak datang lagi, hingga papa melakukan sesuatu yang licik. Dengan membuat pekerjaan perempuan itu kacau dan harus mengganti rugi ke perusahaan. Bukan hanya itu, papa juga membuat suaminya di keluarkan dari pekerjaannya sebagai satpam perusahaan, papa berbuat segala hal agar mereka menyetujui kesepakatan papa. Papa ingin kamu saat itu untuk menggantikan sosok anak kandung papa yang Hanin bawa pergi. Saat melihat wajahmu yang polos dan cantik, sungguh itu membuat Papa langsung menyukaimu dan begitu menginginkanmu." Mahes menatap Keysa yang sudah menundukkan kepalanya. "Hingga akhirnya mereka datang kembali dan dengan keterpaksaan menyerahkanmu pada papa."
"Kehadiranmu membuat hidup papa menjadi berwarna, kamu mampu mengalihkan dunia papa, dunia yang awalnya hampa dan kesepian, kini telah berubah. Meskipun istri papa tidak menerimamu tapi papa tidak perduli. Papa terhibur dengan segala tingkah lucumu. " ujar Mahes lirih. Mahes tau Keysa sangat terluka mendengar semua ini, tetapi ia harus mengatakan kenyataan ini.
"Apa orangtuaku pernah datang untuk menemuiku?" tanya Keysa memberanikan diri untuk bertanya walau ia tak menatap Mahes sama sekali.
"Orangtua kamu sering datang untuk menjengukmu, tetapi papa tidak membiarkan mereka bertemu denganmu. Papa melarang keras mereka mendekatimu. Papa menyiapkan bodyguard dimana-mana agar mereka tidak bisa menemuimu." Ujar Mahes menatap Keysa yang menangis.
"Maafkan papa nak, papa mengambil kamu dari kedua orangtua kamu untuk menggantikan Felix dan Hanin." ujar Mahes menatap bersalah ke Keysa yang menunduk.
"Apa wanita itu?"
"Iya, dialah ibumu." Keysa semakin menangis saat mengingat beberapa bulan lalu saat ia kembali dari Yogya, ia berpapasan dengan wanita paruh baya yang terlihat cantik.
"Lalu,, dimana sekarang orangtuaku?" Tanya Keysa lirih.
"Papa tidak tau, ibu mu tidak pernah datang berkunjung lagi saat terakhir papa bilang kalau kamu telah meninggal karena kecelakaan," ujar Mahes.
"APA?????" teriak Keysa menatap kesal kearah Mahes hingga ia berdiri tegak.
"Maafkan papa, papa memang egois tapi papa takut kehilangan kamu. Papa sangat menyayangi kamu. Papa tidak mau kamu meninggalkan Papa seperti Hanin dan putra Papa," ujar Mahes hendak menyentuh tangan Keysa tapi Keysa langsung mundur menjauh.
"Kenapa papa melakukan ini, setelah membohongiku? Papa juga membohongi orangtuaku." tangis Keysa pecah seketika. Dadanya kembali terasa sangat nyeri dan berdenyut. "Orangtua yang tidak pernah aku ketahui dan tidak pernah aku kenal selama ini." ujar Keysa dan berlari keluar kamar. Mahes hanya menatap punggung Keysa yang menghilang di balik pintu.
"Aku tidak percaya ibuku bisa mencintai orang seperti anda, sungguh egois !!" ujar Felix beranjak pergi meninggalkan Mahes yang termenung sendiri.
Keysa berlari hingga taman rumah sakit, ia menangis sejadi-jadinya dengan memukul dadanya yang terasa sesak dan sangat nyeri. Sangat nyeri,,
"Hikzzz....hikzz....hikzz...." ia tak menyangka hidupnya seperti ini, ia di kelilingi orang-orang yang berkhianat dan menipunya.
Kenapa????
"Hikzzz....hikzzz..." Sudah sakit karena dirinya anak yang di jual, sekarang semakin sakit lagi mengetahui kebenaran yang baru saja ia dengar.
Tubuh Keysa luruh ke tanah dan menangis sambil memukuli dadanya yang sangat sakit. Hingga pelukan hangat mampu membuatnya nyaman.
Felix memeluk tubuh Keysa dari samping dan membiarkan Keysa menangis di dadanya. "Aku bersamamu," bisik Felix mengecup kepala Keysa.
"Kenapa? hikzzz....hikzzz.." Keysa tak mampu membuka suaranya lagi, seakan ada sesuatu yang menganjal di dalam tenggorokannya. Dan rasanya sangat sakit,
Felix masih memeluk Keysa dengan sangat erat, dan berkali-kali ia mengecupi kepala Keysa untuk memberinya ketenangan. "aku akan mencari keberadaan orangtua kamu, aku janji" ujar Felix.
"Aku di jadikan jaminan senilai 200 juta dan aku baru mengetahuinya setelah 20 tahun berlalu," gumam Keysa, Felix tidak menjawab, ia semakin mempererat pelukannya di tubuh Keysa.
***