My Ceo

My Ceo
Episode 18



Happy Reading


---------------------------------------------------------------------------


"Ini........" Felix terpaku di tempatnya dengan tubuh yang menegang. Keysa menatap Felix yang  terlihat matanya mulai berkaca-kaca. "Siapa yang masak sop ini, Key?" tanya Felix menatap Keysa dengan tatapan intimidasi membuat lidahnya kaku.


"Itu......" Keysa terdiam


"Jawab jujur Key, siapa yang masak ini?" tanya Felix penuh penekanan


"Itu...."Keysa terdiam. "Memangnya kenapa? Apa ada yang salah dengan sop itu? Ayo cepat habiskan, sebelum aku mengalahkanmu" ucap Keysa kembali menyuapkan makanan ke dalam mulutnya tanpa ingin melihat lagi ke arah Felix.


"Jawab pertanyaanku, Key" ucap Felix


"Habiskan dulu, nanti aku jawab" ucap Keysa tak mau kalah


"Tidak, aku tidak mau memakannya" Felix menyimpan kembali sendoknya


"Berarti kamu mengaku kalah?" ujar Keysa


"Ya nggak, ini tidak adil. Kenapa harus menghabiskan makanan ini" pekik Felix


"Memangnya kenapa sih?" Keysa menyendok kuah sop milik Felix dan mencicipinya. "Ini enak, memang apa yang salah?" tanya Keysa. "Kalau tidak sanggup ngalahin aku jujur saja, tidak usah alasan karena makanannya." cibir Keysa. "Lagian tidak aku kasih racun kok" tambahnya,  dan Felix hanya mendengus kesal.


"Dasar kau payah" cibir Keysa


"Aku tidak payah" protes Felix


"Lalu? Pria sejati itu akan selalu menepati janjinya" ucap Keysa


"Tidak ada hubungannya sama ini, aku tidak suka makanan ini" ucap Felix tetap pada pendiriannya.


"Berarti siap yah buat nurutin semua kemauan aku" goda Keysa tersenyum licik membuat Felix menimbang-nimbang.


"Kamu yang akan nurutin semua kemauan aku,, lihat saja" akhirnya Felix memakan sop itu dengan cepat, membuat Keysa tersenyum puas dan diam-diam merekam aktivitas Felix.


"Sudah" ucap Felix meletakkan mangkuk kosong.


"Wihh,, cepet banget" ucap Keysa salut


"Jadi siap menerima hukuman dari kekalahanmu, nona" Felix menyeringai devil


"Oke oke,,, aku kalah" ucap Keysa


***


Felix mengajak Keysa berjalan-jalan ke sebuah pusat perbelanjaan. Mereka berjalan berdampingan dan tanpa canggung Felix merangkul bahu Keysa, menariknya lebih dekat dengannya.


"Sekarang kan kita pacar" bisik Felix di telinga Keysa membuat Keysa merona.


"Kamu sudah menyiapkan kado apa untukku?" tanya Felix


"Memang kamu mau kado dari aku?" tanya Keysa menatap Felix


"Ck... Ya iyalah bodoh. Cepat mana kadonya?" tanya Felix menengadahkan telapak tangannya.


"Aku belum beli kado, kamu mau kado apa?" tanya Keysa


"Kamu tidak bisa di andalkan jadi pacar,,," cibir Felix


"Baru juga jadian, pacar macam apa kamu ini langsung banyak permintaan." dengus Keysa.


"Aku memang akan banyak permintaan padamu, khususnya hari ini" ucap Felix menampilkan senyuman menggodanya membuat Keysa menghentikan langkahnya dan menatap Felix dengan seksama. "Ada apa?"


"Per-permintaan apa saja?" cicit Keysa, Felix yang tau apa yang sedang di pikirkan Keysa tersenyum devil. Dan matanya menyusuri bibir, turun ke leher, dada Keysa dan yang paling bawah membuat Keysa membelalak lebar dan menelan salivanya sendiri.


Felix tertawa melihat ekspresi kaget Keysa. "Buang pikiran mesummu itu" Felix tertawa renyah sambil mencubit pipi Keysa. Keysa mampu bernafas lega, akhirnya pemikirannya itu salah.


Keysa tersenyum melihat tawa renyah Felix yang jarang sekali dia tunjukkan pada siapapun. Mereka memutuskan melanjutkan perjalanan mereka berdua.


"Kamu tau, ini ulangtahun terspesial untukku. Aku merasa benar-benar dilahirkan" kekeh Felix dan Keysa merasa sangat bahagia mendengarnya.


Saat Felix sedang membeli minuman, Keysa memasuki sebuah toko jam tangan, karena tadi dia tak sengaja melihat jam tangan berwarna hitam dan sangat elegant terpajang di salah satu etalase. ' Sepertinya ini cocok untuk Felix' batin Keysa. Dan tanpa pikir panjang, Keysa segera memesannya sebelum Felix kembali.


Setelah di bungkus dan dimasukan ke dalam tas, Keysa segera keluar toko dan benar saja di depan sana Felix sedang mencari keberadaannya. Keysa berlari menghampiri Felix.


"Kamu dari mana saja?" tanya Felix terlihat khawatir


"Aku tadi lihat aksesoris dulu, lucu-lucu" kekeh Keysa


"Oh begitu, ya sudah nih minuman kamu" Felix menyerahkan minuman dingin ke Keysa dan Keysa segera menerimanya, bahkan ia langsung meneguknya hingga tandas.


"Haus?" tanya Felix terheran-heran dan Keysa hanya menjawab dengan kekehannya.


"Daritadi kamu ngajakin aku jalan terus kan haus," ucap Keysa dengan polos membuat tangan Felix terangkat dan membelai rambut Keysa yang terlihat berantakan diiringi senyumannya. Dan perlakuan Felix itu membuat Keysa terpaku dan terbuai. Detak jantungnya 2 kali lebih kencang.


"Ayo lanjut lagi" Felix kembali merangkul bahu Keysa.


Felix dan Keysa menghabiskan waktu mereka berdua di penuhi dengan canda tawa. Keysa mampu membuat Felix selalu tersenyum dan kembali ke sosok dirinya.


Hingga malampun tiba, Keysa dan Felix kembali ke rumah milik Felix. Saat keduanya telah turun dari mobil audy milik Felix. Terlihat di depan pintu rumah, Hanin sedang berdiri.


Ekspresi Felix langsung berubah 180 derajat celcius dan perubahan itu tertangkap oleh pandangan Keysa. Felix berjalan ke arah pintu masuk di ikuti Keysa. Felix seakan tidak menganggap Hanin ada, dia dengan cueknya masuk ke dalam rumah.


"Mama ingin bicara, nak" suara Hanin mampu menghentikan langkah Felix.


"Felix, setidaknya dengarkan dulu penjelasan ibu kamu." ucap Keysa


"Ini bukan urusanmu, Key !!!" ucap Felix kembali dingin


"Nak, mama hanya ingin menjelaskan sesuatu. Setelah itu mama janji tidak akan pernah menemui kamu lagi." ucap Hanin


"Bicaralah, aku tidak punya banyak waktu" ucap Felix datar dan memasukan kedua tangannya ke dalam saku celana menghadap ke arah Hanin.


"Masuklah, bicara di dalam saja" ucap Keysa dengan sopan dan Haninpun masuk.


Felix masih berdiri dan memalingkan wajahnya saat Hanin saat melewatinya. Felix berjalan mengikuti mereka menuju ruangan lain.


"Baiklah, saya permisi ke kamar dulu" ucap Keysa dan berlalu pergi meninggalkan Hanin dan Felix berdua.


"Mama hanya mau menjelaskan semua yang terjadi. Ini semua tidak sama dengan yang kamu kira." Hanin terdiam sesaat sebelum melanjutkan ucapannya, ia menatap ekspresi Felix yang tidak terbaca.


"Dulu papamu adalah sahabatku, kami bersahabat dekat. Dulu aku punya kekasih, dan aku sangat mencintainya. Kami sudah lama berhubungan meskipun orangtua dia tidak merestui hubungan kami. Saat kami akan lulus kuliah, ternyata dia sudah di jodohkan dengan wanita pilihan keluarganya." Hanin terlihat menghela nafasnya dan menahan air matanya mengingat kejadian pahit itu.


"Dia meninggalkan mama begitu saja, dan saat itu mama..." air mata Hanin tidak terbendung lagi, kini luruh membasahi pipi. "Saat itu mama sedang mengandung kamu, usia kandungannya baru 4bulan."


Deg.... Mata Felix membelalak lebar mendengar penuturan Hanin. Berarti ini maksudnya, dia...


"Jadi..?? Ayah bukan papa biologis aku?" pekik Felix sedikit meninggikan suaranya.


"Iya, Saat itu mama di usir dari rumah karena mencoreng nama baik keluarga. Hidup mama tidak tentu arah dan luntang lantung. Mama berusaha bertahan semampu mama untuk melindungi kamu.  Mama ingin kamu sehat dan selamat hingga akhirnya mama bertemu dengan ayahmu. Saat itu mama sedang berjualan kue, ayahmu sudah bekerja di perusahaan milik orangtuanya. Dia yang menolong mama dengan menikahi mama, dia bahkan mau menerima kamu sebagai anaknya. Dia mau merawat dan menyayangi kamu sebagai anak kandungnya." ucap Hanin, Felix tak berkomentar. Dia terlihat sangat Syok


"Dia ternyata sangat mencintai mama dan menyayangi kamu. Tapi mama tidak bisa membalas itu semua, hati dan cinta mama hanya untuk ayah kandung kamu. Dan karena suatu alasan mama terpaksa meninggalkan kalian berdua, mama tidak mau terus menerus membebani ayahmu. Mama tidak mau terus menyakiti hatinya karena mama tidak bisa mencintainya. Jadi mama memutuskan meninggalkannya" ucap Hanin


"Kau egois !!" ucap Felix penuh penekanan. "Anda hanya memikirkan perasaan anda tanpa memikirkanku dan ayah saat itu" ucap Felix tajam, emosinya sudah memuncak.


"Ya kamu boleh marah sama mama, mama tau mama sangatlah egois" isak Hanin


"Dimana anda saat itu? Apa pernah anda memikirkan keadaan saya? Apa pernah anda mencoba untuk menemui saya sekali saja? APA PERNAH ADA SEDIKIT SAJA KEPERDULIAN ANDA UNTUK SAYA???" teriak Felix semakin emosi.


"Anda egois....!!!!" ucap Felix


"Mama tau, mama salah... Maafkan mama nak,, maafkan mama" isak Hanin


"Anda tau dimana pintu keluarnya kan" Felix beranjak pergi setelah mengucapkan kata-kata itu, meninggalkan Hanin sendiri di tengah isakannya.


"Maafkan mama, nak !!! Maafkan mama..." isak Hanin


Felix memasuki kamar Keysa.


Blum


Keysa terpekik kaget melihat Felix memasuki kamarnya saat dia tengah menyisir rambutnya yang basah. "Ada apa?" Keysa segera menghampiri Felix yang terlihat emosi dengan matanya yang merah.


Tanpa berkata apapun Felix langsung menarik bahu Keysa dan memeluknya dengan erat. Menelusupkan wajahnya ke leher Keysa, menghirup aroma lavender dan wangi stawberry di rambut Keysa.


Felix selalu merasa nyaman dalam pelukan Keysa, dengan aroma tubuh Keysa yang mampu menenangkannya. Keysa paham keadaan Felix sekarang, tangannya terulur membelai punggung Felix, mencoba menengkan dan itu membuat Felix semakin mempererat pelukannya.


"Jangan tinggalkan aku" ucap Felix lirih membuat tubuh Keysa menegang dan tak percaya mendengar ucapan Felix.


"Semua orang yang aku sayangi meninggalkanku, ku mohon untuk kali ini kamu jangan pernah meninggalkan aku seperti mereka" ucap Felix kini melepas pelukannya dan menatap Keysa dengan tatapan teduhnya.


Mata Felix mengunci mata Keysa sehingga keduanya tidak bisa berkutik dan fokus pada satu titik. Felix memegang pundak Keysa. "Please.... Jangan pernah pergi seperti mereka. Aku butuh kamu, Key" Felix terlihat sangat rapuh saat ini, Keysa bahkan tidak melihat sosok arogant, bossy dan dingin seperti biasanya. Kini Felix terlihat seperti seorang anak laki-laki yang membutuhkan pelukan dan perlindungan seseorang.


"A...aaaku..." lidah Keysa mendadak kelu, jantungnya berdebar kencang. Hatinya senang bercampur bingung


"Kamu tidak perlu menjawab apapun, Key. Kamu hanya perlu selalu di samping aku dan jangan pernah tinggalin aku... You are mine." ucap Felix  penuh penekanan membuat Keysa tersenyum


"Dan sepertinya aku akan memperpanjang status pacaran kita" tambah Felix diiringi senyumannya dan kembali menarik Keysa ke dalam pelukannya. Hanya ini yang Felix butuhkan saat ini, kehadiran Keysa mampu membuatnya tetap tegar.


Keysa merasa ada puluhan ribu kupu-kupu keluar dari dalam hatinya. 'Apa aku memang sudah jatuh cinta sama kamu, Felix?' batin Keysa


***


Keysa dan Felix kembali bekerja seperti biasanya, Felix sudah tidak menunjukkan wajah dingin dan datarnya lagi di hadapan Keysa. Hanya senyuman manis yang keluar dari bibir Felix.


Hingga siang hari, Keysa hanya bisa senyum-senyum sendiri memikirkan perlakuan lembut yang di tunjukan Felix padanya beberapa hari ini.


"Ekhem ekhem... sepertinya ada yang lagi kasmaran nih" goda Clara


"Eh.. Kasmaran? Ng..nggak kok, kasmaran sama siapa coba" jawab Keysa merona


"Aduhh itu mukanya berseri-seri banget. Gue curiga ada yang terjadi antara loe sama si bos. Barusan juga gue masuk ruangannya dia terlihat berbeda" ucap Clara menyipitkan matanya penuh kecurigaan.


"Gue gak kenapa-kenapa kok." ucap Keysa


"Yakin??? Apa kalian sudah jadian?" bisik Clara membuat Keysa terlonjak kaget.


"Jadian? Itu... aku gak tau" jawab Keysa terbata-bata.


"Kok loe bisa gak tau??? Gue makin penasaran saja sama kalian" Clara semakin menaruh kerucigaan.


"Ini waktunya kerja bukan menggosip" sahut seseorang dengan suara bassnya yang tak lain adalah Felix membuat Clara menampilkan cengirannya.


"Maaf bos, saya permisi" Clara beranjak tetapi sebelum itu dia menatap Keysa se akan berkata 'loe berhutang cerita sama gue' Keysa hanya bisa tersenyum kecil melihat Clara. Dan sekarang tatapan tajam milik Felix yang membuatnya kikuk dan meringis.


"Aku mau keluar bareng Devan dan Remon. Kamu istirahat bareng Clara dulu yah" ucap Felix


"Iya" sebelum pergi Felix membelai kepala Keysa sambil tersenyum dan beranjak pergi.


"Pak Felix" panggil Keysa saat Felix baru melangkah 3 langkah.


"Ya" Felix menengok  kembali ke arah Keysa.


"Hati-hati" ucap Keysa malu-malu membuat Felix tersenyum dan berlalu pergi.


***


Keysa Pov


Aku dan Clara sudah sampai di tempat makan pilihan Clara. Katanya di sini makanannya enak dan higienis. Aku dan Clara memilih tempat duduk di dekat kaca. Kami segera memesan makanan karena kebetulan perutku sudah sangat kelaparan.


"Jadi?" tanya Clara


"Emm..." ah... Pasti dia menagih penjelasanku.


"Malah senyum senyum gitu. Cepetan cerita,, jangan buat gue mati penasaran" ucap Clara tak sabar membuatku terkekeh melihatnya.


"Lebay banget sih," cibirku. "Jadi kemarin tuh Felix minta aku jadi pacarnya-"


"Whattt?? Are you kidding?" pekik Clara sangat heboh, membuat pengunjung melihat ke arah kami.


"Ssstttt... Kecilin suaranya. Banyak yang ngeliatin kita"


"Ooopzz,, sowri" Clara hanya menampilkan cengiran kudanya. "Trus trus??" Clara benar-benar tidak sabaran. Saat aku akan melanjutkan tiba-tiba pelayan datang dan mengantarkan pesanan kami.


Aku mencicipi makanan di hadapanku ini. Ummm... Ternyata enak sekali makanannya, semakin membuat nafsu makanku bertambah. Clara terus bertanya, tetapi tidak aku gubris. Aku lebih baik menikmati makanan lezat dihadapanku ini, apalagi cacing di dalam perutku sudah berkaraoke ria.


"kalau sudah makan, pasti tidak akan menjawab" cibir Clara


Dan akhirnya makanan dihadapan tandas. "Gimana enakkan?" tanya Clara dan aku menjawabnya dengan anggukan.


"Enak banget, loe memang masternya kuliner" ucapku dan dia hanya terkekeh


"So? Sekarang jelaskan semuanya nona Keysa. Jangan membuat kekepoan gue makin akut" ucapnya terlihat masih penasaran dan aku terkikik melihatnya.


"Oke oke" kekehku dan akupun menceritakan semuanya. Aku kembali tersenyum mengingat kejadian kemarin, Clara masih fokus mendengarkan.


"Serius Key? Dia bilang begitu?" tanyanya seperti tidak yakin


"yup,,, itu sudah lebih dari serius" jawabku


"gila loe, loe bener-bener bisa naklukin manusia dingin dan datar seperti Felix" ucapnya terkagum-kagum


"Namanya juga cinta" kekehku


"cieilah... Pake bilang kata-kata cinta segala. So puitis loe" ledeknya diiringi tawanya membuatku terkekeh ringan.


"Tetapi selamat deh, loe sekarang sudah tidak jomblo lagi. Dan lupakan tunangan penipu loe itu" ucapnya membuatku mengangguk antusias dan berharap Felix tak akan mengkhianatiku.


Aku sadar, Felix sudah berhasil memporak porandakan hati aku. "Ya sudah lebih baik kita balik ke kantor" ajakku


"yuuu" sahut Clara


Aku segera menuju kasir untuk membayar di ikuti Clara. Selesai membayar kami berjalan beriringan menuju pintu keluar.


"Gue ikut senang ngeliat loe kayak gini" ucapnya masih heboh dan aku hanya bisa menggelengkan kepalaku.


Hingga saat kami di depan pintu kami berpapasan dengan dua orang yang selalu aku hindari. Aku dan Clara mematung tidak berbeda jauh dengan mereka yang terlihat kaget melihatku.


Reno.....Sanas....


*****