My Ceo

My Ceo
Episode 55



Dhika beranjak membuka kain yang


menghalangi wajah pasien, sehingga Lita mampu melihat wajah polos Rahma yang


tengah memejamkan matanya, meskipun masih ada alat medis yang terpasang


dimulutnya. Lita melihat sebulir air mata keluar dari sudut mata gadis remaja itu.


Membuat Lita menatap kosong ke arah Rahma. "13 Agustus 2016. 22.30 PM.


Pasien meninggal karena gagal jantung" ujarDhika lirih.


"Selama operasi pengangkatan


tumor,"


tambah Dhika.


"NGGAK !!!" bentak Lita.


"Dia belum meninggal!!" ucap Lita sengit, hendak mengambil alat


defibrillator untuk kembali memancingkan detak jantung Rahma.


"Hentikan!" Dhika menarik lengan Lita.


"Apa


yang mau kamu lakukan, hah?"


"Lepaskan !!!" bentak Lita


menepis tangan Dhika.


"Hentikan !!!" bentak Dhika


kembali menarik lengan Lita. Membuat Lita terdiam menatap mata Dhika kosong.


"Lepaskan aku,, hikzz"


tangis Lita kembali pecah di hadapanDhika. Dan terus mencoba melepaskan


cengkraman Dhika dilengannya.


Tetapi karena tenaga Dhika


terlalu kuat, membuatnya kesuLitan untuk melepaskan cengkraman Dhika. "Hikz....hikzz....hikzz...."


Lita menundukkan kepalanya terisak.


Dhika yang tidak tega melihat Lita


yang semakin terluka, langsung menarik Litake dalam pelukannya. Didekapnya


dengan erat tubuh Lita dan mengelus punggung Lita dengan lembut.


"Selamatkan dia,, hikzz..." Lita memukul punggung Dhika,


tetapi bagi Dhika pukulan Lita tidak seberapa dengan rasa sakit saat melihat Lita


menangis seperti ini.


"Selamatkan dia,,,


selamatkan adik kecilku..." isak Lita terus memukuli punggung Dhika.


"Maaf,,, tapi dia sudah


pergi untuk selamanya. Maafkan aku,"


ucap Dhika mempererat pelukannya.


Lita sudah kelelahan dan


menghentikan pukulannya pada Dhika dan membalas pelukan Dhika dengan erat. Dhika


mengelus lembut punggung Lita, memberikan Lita kekuatan. Lita juga merasa


sangat nyaman dalam dekapan ini. Dekapan yang selalu keduanya rindukan, dekapan


yang sudah sangat lama menghilang. Dhika ingin waktu berhenti saat ini juga, Dhika


ingin terus dalam posisi seperti ini. Apalagi detak jantung keduanya terdengar


jelas, berdetak sangat cepat.


Isakan Lita mulai berhenti,


tetapi tangannya semakin erat memeluk tubuh Dhika yang sangat hangat. DokterClaudya


memasuki ruang operasi, berniat membantu Dhika menyelesaikan tugasnya. Tetapi


langkahnya terhenti dan mematung di tempatnya saat melihat Lita dan Dhika


berpelukan dengan sangat intim. Cukup lama Claudya menatap Dhika dan Lita


dengan tatapan terlukanya, Claudya segera memalingkan wajahnya ke arah lain.


Dan menghapus air matanya yang entah sejak kapan sudah luruh membasahi pipi.


Khem…. Deheman


Claudya membuat Lita dan Dhika tersadar. Dengan kesadaran penuh Lita mendorong


tubuh Dhika menjauhinya, membuat Dhika merasa sangat kehilangan. Lita menghapus


air matanya dan melirik Claudya yang tengah menatapnya tajam.


"Aku akan menemui wali


pasien,"


ujarLita berlalu pergi meninggalkan Dhika dan Claudya yang masih mematung.


"Sa-saya mau membantu membersihkan


jenazah,"


ujarClaudya, tetapi tidak dijawab oleh Dhika. Dhika langsung menyelesaikan


pekerjaannya dan membereskan semuanya.


Thalita keluar ruang operasi, di


sana terlihat ibu Sari dan bapak Ahmad tengah menunggunya penuh keresahan.


Melihat Lita yang


sudah keluar dari ruang operasi membuat keduanya menghampiri Lita.


“Bagaimana?"


tanya Ibu Sari dengan tatapan khawatir. Pak Ahmad terlihat merangkul istrinya.


"Maaf,"


ucap Lita lirih, air matanya kembali luruh. "Operasinya gagal, Rahma


mengalami pendarahan yang luar biasa." ujar Lita membuat Sari menangis


terisak di pelukan Bapak Ahmad yang terlihat menangis juga.


"Rahma.....hikzzzzz"


isak Ibu Sari, Lita tidak tega melihatnya.


"Maafkan


aku, aku memang tidak berguna," ucap Lita dengan lirih.


"Tidak


Lita, kamu sudah berusaha semaksimal mungkin. Semua Dokter yang menanganinya


juga sudah banyak yang menyerah, mungkin ini jalan yang terbaik untuk


Rahma," ujar Ahmad berusaha tegar.


"Iya Lita, Ibu dan Bapak


sudah sangat ikhlas. Mungkin ini yang terbaik dari Tuhan agar Rahma tidak


menderita lagi dan merasakan rasa sakit itu," isak Sari membuat Lita


terdiam. Walau begitu di lubuk hati Lita masih ada rasa kecewa karena kegagalan


dirinya menolong Rahma.


Tak lama Dhika keluar bersama Claudya


sambil mendorong blangkar yang Rahma tempati. Wajah dan tubuh Rahma sudah


ditutupi kain putih. Ibu Sari dan bapak Ahmad menghampirinya sambil menangis


terisak.


"Beristirahatlah dengan tenang Sayang,


berbahagialah di sana. Sekarang kamu tidak akan pernah merasakan sakit


lagi." ujarAhmad menangis dalam diam.


“Pergilah


dengan damai Sayang, Ibu


akan selalu mendoakanmu. Semoga kamu ditempatkan disurganya Allah." Sari mencium wajah Rahma.


Dhika menatap Lita yang menatap Rahma


dengan tatapan kosong sambil menangis.


Claudyakembali mendorong blangkar bersama Dhikadan membawanya pergi ke


kamar mayat.


Di dalam kamar jenazah, setelah


menyimpan blangkarRahma.Dhika beranjak keluar ruangan, tetapi Claudya


memanggilnya, membuat Dhika menghentikan langkahnya. Dhika membalikkan badannya


menghadap Claudya yang masih berdiri di belakangnya.


"Ada apa?" tanyaDhika.


"Dhik, aku Sering melihat


kamu dan DokterThalita berdua. Apa sebelumnya kalian pernah ada hubungan?


Kenapa kamu sbegitu


mudah akrab dengannya? Bahkan aku saja butuh waktu lama untuk bisa akrab dengan


kamu,"


ujarClaudya sangat penasaran.


"Maaf Claud, tapi ini bukan urusanmu," ujarDhika datar hendak beranjak


tetapi Claudya menahan tangan Dhika. Saat yang bersamaan Thalita masuk ke dalam


ruangan itu tetapi langkahnya terhenti di ambang pintu saat melihat Dhika dan Claudya.


"Dhik, aku mohon beritahu


aku ada hubungan apa kamu dengan DokterLita?" cicit Claudya menatap manik


mata Dhika.


Lita yang berdiri didepan pintu


hanya mematung mendengar dan melihat mereka berdua. Dadanya terasa nyeri dan


ngilu melihat tubuh Dhika disentuh oleh wanita lain.


"Claud, aku mohon jangan


seperti ini. Aku sedang tidak ingin membahas ini," ujarDhika melepaskan tangan Claudya.


Lita seakan bingung dan kaku,


kakinya seakan tidak mampu ia langkahkan, tubuhnya sangat lemas dan hatinya


sakit. Seperti peribahasa mengatakan sudah jatuh tertimpa tangga pula,


itulah yang Lita rasakan saat ini. Sakit hati karena kehilangan sosok adik


kecilnya dan disaat yangbersamaan Lita juga merasakan sakit mendengar wanita lain mengungkapkan


perasaannya ke Dhika.


Dhika melepas pegangan Claudya


dan beranjak keluar. Tetapi baru dua langkah, ia menghentikan langkahnya


saat melihat Lita berdiri diambang pintu. Pandangan mereka beradu, tetapi Lita


tanpa berkata apapun. Lita dan Claudya bertatapan dengan sengit, Claudya


langsung beranjak hendak keluar ruangan tetapi langkahnya terhenti saat


berdampingan dengan Lita.


"Jangan harap aku akan biarkan kamu


memiliki Dhika!"


ujarClaudya sengit dan berlalu pergi meninggalkan Lita sendiri.


Lita berusaha mengabaikan apa yang di katakan Claudya barusan


dan melanjutkan langkahnya mendekati blangkar Rahma.


***


Lita kembali ke rumah sakit,


setelah menghadiri pemakaman Rahma. Lita baru keluar dari lift dan berjalan


menuju ruangannya, tetapi saat melewat ruangan Rival tidak sengaja Thalita


mendengar pembicaraan mereka.


Dimana Dokter Rival tengah


kebingungan karena asisten utama tim operasinya mengalami kecelakaan dan cedera


cukup parah, membuatnya tidak akan bekerja sampai keadaannya stabil. Dokter


Rival akan melakukan operasi yang cukup Serius dan tidak mungkin melakukan


operasi tanpa asisten utama tim. Mendengar itu, entah dorongan dari mana Thalitabegitu saja masuk ke dalam ruangan Rival.


“Permisi,” Serunya mengetuk pintu ruangan yang terbuka membuat kedua orang


berjas Dokter itu menoleh ke arahnya.


"Dokter


Lita?" Rival dan seorang pria berjas Dokter juga, kaget melihat kedatangan


Lita.


"Maaf,


apa saya menganggu?" tanya Lita.


"Tidak,


Dokter Lita. Ada apa?" tanya Rival menatap Serius ke arah Lita.


"Tadi


saya tidak sengaja mendengar pembicaraan kalian. Apa yang terjadi dengan


asisten utama kalian?" tanya Lita.


"Dokter


Marisa mengalami kecelakaan saat perjalanan kemari. Lukanya cukup parah,


membuatnya tidak bisa bekerja untuk waktu yang cukup lama," ucap pria yang


berada di hadapan Rival.


"Kebetulan


aku masih baru menempati posisi ketua tim operasi. Aku belum bisa melakukan


operasi sendiri tanpa bantuan asisten utama," keluh Rival.


"Operasi


apa yang akan kalian lakukan nanti sore?" tanya Lita.


"Operasi


Tranplantasi Jantung," ujar pria di hadapan Rival.


"Baiklah,


saya akan bantu kalian. Saya akan menjadi asisten utama kalian selama asisten


utama kalian sakit," ujar Lita.


"Tapi


Dokter, apa Dokter Dhika tidak apa-apa?" tanya Dokter pria itu kaget


mendengar ucapan Lita.


"Saya


akan berbicara dengannya. Saya yakin Dokter Dhika sudah sangat handal dan tidak


akan masalah kalau tanpa ada asisten utama di timnya," ujar Lita dengan


santai.


"Kamu Serius?"


tanya Rival berbinar membuat Lita mengangguk pasti.


"Dokter


Lita menyelamatkan kita, Dokter Rival." ujar pria itu membuat Rival


mengangguk.


"Terima


kasih," ucap Rival membuat Lita tersenyum.


"Jam


berapa kira-kira operasinya berlangsung?" tanya Lita.


"Pukul 4


sore kita akan melakukan operasi," ujar Rival.


"Baiklah, kalau begitu saya


permisi." Lita berpamitan dan beranjak keluar ruangan.


Setelah pembicaraannya dengan Dokter


Rival, Thalita kembali berjalan dengan anggun dan angkuh menuju ruangannya,


tiba-tiba saja seseorang menabraknya dari belakang, membuat Thalita dan orang


itu terhuyung tetapi tak sampai jatuh.


“Maafkan saya,Dokter.” ucap seseorang itu meminta maaf


karena merasa bersalah. “Saya sangat terburu-buru


sampai tak melihat anda, maaf-“


Ucapan


seseorang berjas Dokter itu terhenti saat melihat wajah cantik Thalita. Bahkan Dokter


berambut pirang itu melotot sempurna saat melihat sosok Thalita.


"Li-Lita?" ucapnya tertahan dengan


ekspresi yang sangat syok, seperti baru saja melihat hantu.


Kedua matanya melotot sempurna,


bahkan tangannya terangkat menutup mulutnya sendiri. Ekspresi Thalitapun tak


kalah syoknya.


Keduanya saling berpandangan


tanpa berkata apapun, hingga akhirnya Lita memalingkan pandangannya.


"Ka- kamu be-neran Lita? Tha-Thalita Putri Casandra?"


"Iya, Clarisa Abshari Pratista," jawab Thalitadengan nada dingin.


"Ja-jadi kamu masih hidup?" ucapnya


masih tidak mempercayai penglihatannya.


"Kenapa? kamu mengharapkanku sudahmeninggal?" tanyaThalita


dengan angkuh.


"Nggak, bukan begitu. Aku-" ucap Clarisa tertahan, rasanya


sangat sulit mengeluarkan suaranya sendiri, air mata sudah memenuhi pelupuk matanya.


"Sudahlah," ucap Thalita malas.


"Saya permisi dulu Dokter Clarisa."


Thalita melirik ke arah jas Dokter


yang Clarisa pakai, nama Clarisa terpangpang jelas di sana dengan profesinya


sebagai Dokter kandungan.


Lita kembali melangkahkan kakinya


meninggalkan Clarissa yang masih mematung ditempatnya. Lita memasuki ruangannya


dan mengunci pintu ruangan dari dalam.


Ia


mampu bersikap angkuh di hadapan orang-orang di masalalunya, tetapi


kenyataannya rasa sakit itu masih ada dan terus menggerogoti hatinya.


'Kenapa harus bertemu dengannya?


Kenapa luka itu masih saja menyayat hatiku? Melihatnya kembali, membuat luka


yang aku kubur dalam-dalam kini kembali mencuat,' batinLita,


setetes air mata jatuh membasahi pipinya.


Flashback On


"Inget yah guys, apapun yang


terjadi persahabatan kita akan tetap abadi sampai kita tua,' ujar gadis yang berkulit


coklat.


"Iya, gue setuju. Persahabatan kita


tidak akan pernah berubah, akan tetap terjaga seperti ini," ujar gadis lain dengan


rambut hitam pekatnya.


"Dan inget yah guys dengan prinsip


kita, kalau persahabatan kita adalah number one. Dan gak akan pernah


terpisahkan oleh apapun sekalipun itu seorang lelaki. Pokoknya cinta dan Sayang


itu adalah sahabat...." ujar gadis berparas cantik keturunan Turki.


"Persahabatan kita akan


tetap utuh sampai kapanpun juga, dan tidak akan terpisahkan oleh apapun.


Jarakpun tidak akan merubah segalanya," ujarThalita saat masih


duduk dibangku Junior High School.


"Kita selamanyaaaa !!!"


Teriak keempat gadis berSeragam putih biru itu


sambil bertos ria. Dipergelangan tangan kanan mereka tersampir gelang yang


sama.


Flashback Off


Lita sudah duduk dikursi


kebesarannya, tatapannya kosong menatap keluar jendela. Ingatan 10 tahun yang


lalu kembali berputar dikepalanya seperti potongan film. Kejadian yang membuatnya harus


pergi sejauh mungkin.