
Dhika beranjak membuka kain yang
menghalangi wajah pasien, sehingga Lita mampu melihat wajah polos Rahma yang
tengah memejamkan matanya, meskipun masih ada alat medis yang terpasang
dimulutnya. Lita melihat sebulir air mata keluar dari sudut mata gadis remaja itu.
Membuat Lita menatap kosong ke arah Rahma. "13 Agustus 2016. 22.30 PM.
Pasien meninggal karena gagal jantung" ujarDhika lirih.
"Selama operasi pengangkatan
tumor,"
tambah Dhika.
"NGGAK !!!" bentak Lita.
"Dia belum meninggal!!" ucap Lita sengit, hendak mengambil alat
defibrillator untuk kembali memancingkan detak jantung Rahma.
"Hentikan!" Dhika menarik lengan Lita.
"Apa
yang mau kamu lakukan, hah?"
"Lepaskan !!!" bentak Lita
menepis tangan Dhika.
"Hentikan !!!" bentak Dhika
kembali menarik lengan Lita. Membuat Lita terdiam menatap mata Dhika kosong.
"Lepaskan aku,, hikzz"
tangis Lita kembali pecah di hadapanDhika. Dan terus mencoba melepaskan
cengkraman Dhika dilengannya.
Tetapi karena tenaga Dhika
terlalu kuat, membuatnya kesuLitan untuk melepaskan cengkraman Dhika. "Hikz....hikzz....hikzz...."
Lita menundukkan kepalanya terisak.
Dhika yang tidak tega melihat Lita
yang semakin terluka, langsung menarik Litake dalam pelukannya. Didekapnya
dengan erat tubuh Lita dan mengelus punggung Lita dengan lembut.
"Selamatkan dia,, hikzz..." Lita memukul punggung Dhika,
tetapi bagi Dhika pukulan Lita tidak seberapa dengan rasa sakit saat melihat Lita
menangis seperti ini.
"Selamatkan dia,,,
selamatkan adik kecilku..." isak Lita terus memukuli punggung Dhika.
"Maaf,,, tapi dia sudah
pergi untuk selamanya. Maafkan aku,"
ucap Dhika mempererat pelukannya.
Lita sudah kelelahan dan
menghentikan pukulannya pada Dhika dan membalas pelukan Dhika dengan erat. Dhika
mengelus lembut punggung Lita, memberikan Lita kekuatan. Lita juga merasa
sangat nyaman dalam dekapan ini. Dekapan yang selalu keduanya rindukan, dekapan
yang sudah sangat lama menghilang. Dhika ingin waktu berhenti saat ini juga, Dhika
ingin terus dalam posisi seperti ini. Apalagi detak jantung keduanya terdengar
jelas, berdetak sangat cepat.
Isakan Lita mulai berhenti,
tetapi tangannya semakin erat memeluk tubuh Dhika yang sangat hangat. DokterClaudya
memasuki ruang operasi, berniat membantu Dhika menyelesaikan tugasnya. Tetapi
langkahnya terhenti dan mematung di tempatnya saat melihat Lita dan Dhika
berpelukan dengan sangat intim. Cukup lama Claudya menatap Dhika dan Lita
dengan tatapan terlukanya, Claudya segera memalingkan wajahnya ke arah lain.
Dan menghapus air matanya yang entah sejak kapan sudah luruh membasahi pipi.
Khem…. Deheman
Claudya membuat Lita dan Dhika tersadar. Dengan kesadaran penuh Lita mendorong
tubuh Dhika menjauhinya, membuat Dhika merasa sangat kehilangan. Lita menghapus
air matanya dan melirik Claudya yang tengah menatapnya tajam.
"Aku akan menemui wali
pasien,"
ujarLita berlalu pergi meninggalkan Dhika dan Claudya yang masih mematung.
"Sa-saya mau membantu membersihkan
jenazah,"
ujarClaudya, tetapi tidak dijawab oleh Dhika. Dhika langsung menyelesaikan
pekerjaannya dan membereskan semuanya.
Thalita keluar ruang operasi, di
sana terlihat ibu Sari dan bapak Ahmad tengah menunggunya penuh keresahan.
Melihat Lita yang
sudah keluar dari ruang operasi membuat keduanya menghampiri Lita.
“Bagaimana?"
tanya Ibu Sari dengan tatapan khawatir. Pak Ahmad terlihat merangkul istrinya.
"Maaf,"
ucap Lita lirih, air matanya kembali luruh. "Operasinya gagal, Rahma
mengalami pendarahan yang luar biasa." ujar Lita membuat Sari menangis
terisak di pelukan Bapak Ahmad yang terlihat menangis juga.
"Rahma.....hikzzzzz"
isak Ibu Sari, Lita tidak tega melihatnya.
"Maafkan
aku, aku memang tidak berguna," ucap Lita dengan lirih.
"Tidak
Lita, kamu sudah berusaha semaksimal mungkin. Semua Dokter yang menanganinya
juga sudah banyak yang menyerah, mungkin ini jalan yang terbaik untuk
Rahma," ujar Ahmad berusaha tegar.
"Iya Lita, Ibu dan Bapak
sudah sangat ikhlas. Mungkin ini yang terbaik dari Tuhan agar Rahma tidak
menderita lagi dan merasakan rasa sakit itu," isak Sari membuat Lita
terdiam. Walau begitu di lubuk hati Lita masih ada rasa kecewa karena kegagalan
dirinya menolong Rahma.
Tak lama Dhika keluar bersama Claudya
sambil mendorong blangkar yang Rahma tempati. Wajah dan tubuh Rahma sudah
ditutupi kain putih. Ibu Sari dan bapak Ahmad menghampirinya sambil menangis
terisak.
"Beristirahatlah dengan tenang Sayang,
berbahagialah di sana. Sekarang kamu tidak akan pernah merasakan sakit
lagi." ujarAhmad menangis dalam diam.
“Pergilah
dengan damai Sayang, Ibu
akan selalu mendoakanmu. Semoga kamu ditempatkan disurganya Allah." Sari mencium wajah Rahma.
Dhika menatap Lita yang menatap Rahma
dengan tatapan kosong sambil menangis.
Claudyakembali mendorong blangkar bersama Dhikadan membawanya pergi ke
kamar mayat.
Di dalam kamar jenazah, setelah
menyimpan blangkarRahma.Dhika beranjak keluar ruangan, tetapi Claudya
memanggilnya, membuat Dhika menghentikan langkahnya. Dhika membalikkan badannya
menghadap Claudya yang masih berdiri di belakangnya.
"Ada apa?" tanyaDhika.
"Dhik, aku Sering melihat
kamu dan DokterThalita berdua. Apa sebelumnya kalian pernah ada hubungan?
Kenapa kamu sbegitu
mudah akrab dengannya? Bahkan aku saja butuh waktu lama untuk bisa akrab dengan
kamu,"
ujarClaudya sangat penasaran.
"Maaf Claud, tapi ini bukan urusanmu," ujarDhika datar hendak beranjak
tetapi Claudya menahan tangan Dhika. Saat yang bersamaan Thalita masuk ke dalam
ruangan itu tetapi langkahnya terhenti di ambang pintu saat melihat Dhika dan Claudya.
"Dhik, aku mohon beritahu
aku ada hubungan apa kamu dengan DokterLita?" cicit Claudya menatap manik
mata Dhika.
Lita yang berdiri didepan pintu
hanya mematung mendengar dan melihat mereka berdua. Dadanya terasa nyeri dan
ngilu melihat tubuh Dhika disentuh oleh wanita lain.
"Claud, aku mohon jangan
seperti ini. Aku sedang tidak ingin membahas ini," ujarDhika melepaskan tangan Claudya.
Lita seakan bingung dan kaku,
kakinya seakan tidak mampu ia langkahkan, tubuhnya sangat lemas dan hatinya
sakit. Seperti peribahasa mengatakan sudah jatuh tertimpa tangga pula,
itulah yang Lita rasakan saat ini. Sakit hati karena kehilangan sosok adik
kecilnya dan disaat yangbersamaan Lita juga merasakan sakit mendengar wanita lain mengungkapkan
perasaannya ke Dhika.
Dhika melepas pegangan Claudya
dan beranjak keluar. Tetapi baru dua langkah, ia menghentikan langkahnya
saat melihat Lita berdiri diambang pintu. Pandangan mereka beradu, tetapi Lita
tanpa berkata apapun. Lita dan Claudya bertatapan dengan sengit, Claudya
langsung beranjak hendak keluar ruangan tetapi langkahnya terhenti saat
berdampingan dengan Lita.
"Jangan harap aku akan biarkan kamu
memiliki Dhika!"
ujarClaudya sengit dan berlalu pergi meninggalkan Lita sendiri.
Lita berusaha mengabaikan apa yang di katakan Claudya barusan
dan melanjutkan langkahnya mendekati blangkar Rahma.
***
Lita kembali ke rumah sakit,
setelah menghadiri pemakaman Rahma. Lita baru keluar dari lift dan berjalan
menuju ruangannya, tetapi saat melewat ruangan Rival tidak sengaja Thalita
mendengar pembicaraan mereka.
Dimana Dokter Rival tengah
kebingungan karena asisten utama tim operasinya mengalami kecelakaan dan cedera
cukup parah, membuatnya tidak akan bekerja sampai keadaannya stabil. Dokter
Rival akan melakukan operasi yang cukup Serius dan tidak mungkin melakukan
operasi tanpa asisten utama tim. Mendengar itu, entah dorongan dari mana Thalitabegitu saja masuk ke dalam ruangan Rival.
“Permisi,” Serunya mengetuk pintu ruangan yang terbuka membuat kedua orang
berjas Dokter itu menoleh ke arahnya.
"Dokter
Lita?" Rival dan seorang pria berjas Dokter juga, kaget melihat kedatangan
Lita.
"Maaf,
apa saya menganggu?" tanya Lita.
"Tidak,
Dokter Lita. Ada apa?" tanya Rival menatap Serius ke arah Lita.
"Tadi
saya tidak sengaja mendengar pembicaraan kalian. Apa yang terjadi dengan
asisten utama kalian?" tanya Lita.
"Dokter
Marisa mengalami kecelakaan saat perjalanan kemari. Lukanya cukup parah,
membuatnya tidak bisa bekerja untuk waktu yang cukup lama," ucap pria yang
berada di hadapan Rival.
"Kebetulan
aku masih baru menempati posisi ketua tim operasi. Aku belum bisa melakukan
operasi sendiri tanpa bantuan asisten utama," keluh Rival.
"Operasi
apa yang akan kalian lakukan nanti sore?" tanya Lita.
"Operasi
Tranplantasi Jantung," ujar pria di hadapan Rival.
"Baiklah,
saya akan bantu kalian. Saya akan menjadi asisten utama kalian selama asisten
utama kalian sakit," ujar Lita.
"Tapi
Dokter, apa Dokter Dhika tidak apa-apa?" tanya Dokter pria itu kaget
mendengar ucapan Lita.
"Saya
akan berbicara dengannya. Saya yakin Dokter Dhika sudah sangat handal dan tidak
akan masalah kalau tanpa ada asisten utama di timnya," ujar Lita dengan
santai.
"Kamu Serius?"
tanya Rival berbinar membuat Lita mengangguk pasti.
"Dokter
Lita menyelamatkan kita, Dokter Rival." ujar pria itu membuat Rival
mengangguk.
"Terima
kasih," ucap Rival membuat Lita tersenyum.
"Jam
berapa kira-kira operasinya berlangsung?" tanya Lita.
"Pukul 4
sore kita akan melakukan operasi," ujar Rival.
"Baiklah, kalau begitu saya
permisi." Lita berpamitan dan beranjak keluar ruangan.
Setelah pembicaraannya dengan Dokter
Rival, Thalita kembali berjalan dengan anggun dan angkuh menuju ruangannya,
tiba-tiba saja seseorang menabraknya dari belakang, membuat Thalita dan orang
itu terhuyung tetapi tak sampai jatuh.
“Maafkan saya,Dokter.” ucap seseorang itu meminta maaf
karena merasa bersalah. “Saya sangat terburu-buru
sampai tak melihat anda, maaf-“
Ucapan
seseorang berjas Dokter itu terhenti saat melihat wajah cantik Thalita. Bahkan Dokter
berambut pirang itu melotot sempurna saat melihat sosok Thalita.
"Li-Lita?" ucapnya tertahan dengan
ekspresi yang sangat syok, seperti baru saja melihat hantu.
Kedua matanya melotot sempurna,
bahkan tangannya terangkat menutup mulutnya sendiri. Ekspresi Thalitapun tak
kalah syoknya.
Keduanya saling berpandangan
tanpa berkata apapun, hingga akhirnya Lita memalingkan pandangannya.
"Ka- kamu be-neran Lita? Tha-Thalita Putri Casandra?"
"Iya, Clarisa Abshari Pratista," jawab Thalitadengan nada dingin.
"Ja-jadi kamu masih hidup?" ucapnya
masih tidak mempercayai penglihatannya.
"Kenapa? kamu mengharapkanku sudahmeninggal?" tanyaThalita
dengan angkuh.
"Nggak, bukan begitu. Aku-" ucap Clarisa tertahan, rasanya
sangat sulit mengeluarkan suaranya sendiri, air mata sudah memenuhi pelupuk matanya.
"Sudahlah," ucap Thalita malas.
"Saya permisi dulu Dokter Clarisa."
Thalita melirik ke arah jas Dokter
yang Clarisa pakai, nama Clarisa terpangpang jelas di sana dengan profesinya
sebagai Dokter kandungan.
Lita kembali melangkahkan kakinya
meninggalkan Clarissa yang masih mematung ditempatnya. Lita memasuki ruangannya
dan mengunci pintu ruangan dari dalam.
Ia
mampu bersikap angkuh di hadapan orang-orang di masalalunya, tetapi
kenyataannya rasa sakit itu masih ada dan terus menggerogoti hatinya.
'Kenapa harus bertemu dengannya?
Kenapa luka itu masih saja menyayat hatiku? Melihatnya kembali, membuat luka
yang aku kubur dalam-dalam kini kembali mencuat,' batinLita,
setetes air mata jatuh membasahi pipinya.
Flashback On
"Inget yah guys, apapun yang
terjadi persahabatan kita akan tetap abadi sampai kita tua,' ujar gadis yang berkulit
coklat.
"Iya, gue setuju. Persahabatan kita
tidak akan pernah berubah, akan tetap terjaga seperti ini," ujar gadis lain dengan
rambut hitam pekatnya.
"Dan inget yah guys dengan prinsip
kita, kalau persahabatan kita adalah number one. Dan gak akan pernah
terpisahkan oleh apapun sekalipun itu seorang lelaki. Pokoknya cinta dan Sayang
itu adalah sahabat...." ujar gadis berparas cantik keturunan Turki.
"Persahabatan kita akan
tetap utuh sampai kapanpun juga, dan tidak akan terpisahkan oleh apapun.
Jarakpun tidak akan merubah segalanya," ujarThalita saat masih
duduk dibangku Junior High School.
"Kita selamanyaaaa !!!"
Teriak keempat gadis berSeragam putih biru itu
sambil bertos ria. Dipergelangan tangan kanan mereka tersampir gelang yang
sama.
Flashback Off
Lita sudah duduk dikursi
kebesarannya, tatapannya kosong menatap keluar jendela. Ingatan 10 tahun yang
lalu kembali berputar dikepalanya seperti potongan film. Kejadian yang membuatnya harus
pergi sejauh mungkin.