
Thalita fokus membaca berkas
pasien yang terlihat masih belum stabil keadaannya. Hingga seseorang menabrak
tubuhnya dari belakang, membuat Thalita kehilangan keseimbangannya. Dan membuat
berkas yang dipegangnya terlempar ke udara. Tubuh Thalita hampir saja membentur
lantai, kalau tidak ada tangan kekar yang menahannya, dan membuat tubuh Thalita
tertarik ke dalam pelukannya. Thalita mencengkram erat lengan jas Dokter milik
sang penolong. Keduanya masih bertatapan dengan jarak yang cukup dekat, seakan
ingin mendalami mata keduanya. Dan dengan gerakan slow motion kertas yang masih
berterbangan di udara berjaTuhan ke lantai rumah sakit. Cukup lama mereka
saling memandang, mendalami mata masing-masing. Mencari sesuatu yang sempat
hilang beberapa tahun ini.
Dhika sadar dengan posisinya saat
ini dan dengan segera membantu Thalita berdiri tegak dan melepas pelukannya di
pinggang Thalita, tetapi Thalita masih mencengkram kuat lengan jas putihnya,
seakan tak ingin melepaskan. Pandangan Thalita juga masih menatap ke manik mata
coklat milik Dhika.
"Kamu baik-baik saja?" tanyaDhika
lembut, menyadarkan Thalita dari lamunannya, Thalita tersadar dengan posisinya
saat ini dan dengan segera Thalita melepas cengkramannya pada lengan jas DokterDhika.
"Aku baik-baik saja," jawab Thalita dengan singkat
dan segera memunguti semua kertas yang berSerakan di lantai. Dhika ikut
membantu memunguti kertas-kertas itu dan menyerahkannya ke Thalita setelah
keduanya sama-sama berdiri tegak.
Deg…Karena mengambilnya terburu-buru tanpa sadar tangan Thalita malah menyentuh
tangan Dhika. Membuat mereka kembali bertatapan dengan tatapan yang sulit
diartikan. Hingga akhirnya Thalita merebut kertas itu dan berlalu pergi
meninggalkan Dhika. Dhika hanya tersenyum melihat tingkah Thalita yang sangat
menggemaskan menurutnya. Tanpa mereka sadari, dr. Claudya melihat kejadian itu
dari lorong lain.
"Aku tidak bodoh untuk mengartikan semua
yang aku lihat,"
gumamClaudya dengan tatapan terlukanya.
***
Thalita baru saja keluar dari
ruangannya hendak pulang, hingga dia bertabrakan dengan seseorang. Yang
membuatnya terduduk dilantai karena terdorong.
"Maaf," ucap seseorang dengan suara
bassnya yang kini berdiri tegak di hadapanThalita.
Seorang laki-laki berbadan tegap
dan tinggi tengah tersenyum manis kepada Thalita dengan mengulurkan sebelah
tangannya untuk membantu Thalita.
"Maaf," ucapnya sekali lagi, membuat Thalita
menyambut uluran tangannya dan kembali berdiri tegak di hadapannya.
"Aku Rivaldo, panggil dr. Rival saja. dan
maaf tadi aku menabrakmu,"
ucapnya merasa bersalah.
"Tidak apa-apa dr. Rival, aku Thalita," ucap Thalita tersenyum Seraya
melepas jabatan tangannya.
"Kamu Dokter baru yang mengganti DokterChailly dari tim
1?" tanya Rival membuat Thalita mengangguk. "Kita baru bertemu sekarang, aku juga Dokter
bedah di tim operasi 2,"
Tambahnya dengan ramah.
"Saya juga baru melihat anda, mungkin
kemarin karena terlalu sibuk melakukan operasi jadi tidak sempat berkenalan
dengan Dokter yang lain,"
ucap Thalita.
"It's oke," jawabnya santai. "Jangan
panggil anda, panggil kamu saja. kesannya formal sekali," kekehnya membuat Thalita
mengangguk paham.
Tak jauh dari arah mereka
berdiri, Dhika yang masih memakai jas Dokternya keluar dari ruangan miliknya,
tetapi seketika langkahnya terhenti saat melihat Thalita dan Rival tengah
berbincang didekat pintu lift. Hatinya terasa terbakar api cemburu, Dhika tidak
suka melihat kedekatan Thalita dengan Rival. Apalagi Thalita terlihat tertawa
mendengar ocehan lelaki lain di hadapannya. Dhika segera melangkahkan kakinya
mendekati mereka berdua.
"Khem!" deheman Dhika membuat kedua orang
itu menatap ke arahnya.
"Eh DokterDhika, tidak pulang?" tanya
Rival dengan ramah.
"Saya jaga malam," jawab Dhika singkat.
"DokterLita, bisa ikut ke
ruangan saya? ada yang mau saya bicarakan,"
ucap Dhika.
"Tapi saya mau pulang,Dok. Bukankan kita tidak ada jadwal operasi
lagi,"
ucap Thalita.
"Sebentar saja, ada yang mau saya
bicarakan,"
ucap Dhika tajam membuat Thalita akhirnya menurut.
"Baiklah Dokter Rival, senang berkenalan
dengan kamu. saya permisi dulu,"
ucap Thalita dengan senyumannya membuat Dhika mengepalkan kedua tangannya.
Dokter Rival hanya menjawab
dengan anggukan dan tersenyum manis. Thalita berjalan mengikuti Dhika yang
sudah berjalan terlebih dulu menuju ruangan Dhika.
"Ada apa Dok?" tanyaThalita saat
sampai di dalam ruangan Dhika.
"Jangan terlalu dekat
dengannya,"
ucap Dhika tanpa basa basi membuat Thalita mengernyitkan dahinya.
"Maksud anda?" tanyaThalita
bingung.
"Kamu memanggilnya dengan aku kamu,
kenapa denganku masih bersikap formal?" tanyaDhika tak terima."Aku tidak mau lagi melihat kamu dekat
dengannya!”
"Bukan urusanmu!" ucap Thalita tak
kalah tajam. "Tidak ada hak anda melarang
saya, DokterDhika yang terhormat."
ucap Thalita menekankan kata nggak ada hak anda.
"Lita! aku tidak mau kamu
terlalu dekat dengannya, dia itu seorang playboy," ujarDhika mencoba
menyembunyikan rasa cemburunya.
Thalita terkekeh meremehkan
ucapan Dhika. "Lalu
apa urusannya dengan anda, Dokter?" tanyaThalita tersenyum mengejek.
Dhika mematung di tempatnya,
lidahnya seakan kelu untuk mengucapkan sebuah kata. Dhika bingung harus
menjawab bagaimana. Apalagi dengan tatapan sinis Thalita, membuatnya takut
untuk berkata kalau Thalita hanya miliknya. Dhika takut, Thalitanya akan pergi
lagi.
tolong jangan urusi lagi urusan saya, permisi." Thalita berlalu pergi setelah
mengucapkan itu, sedangkan Dhika masih berdiri mematung di tempatnya dengan
tatapannya yang masih menatap punggung Thalita yang semakin menjauh.
"Shitttt!!!" umpat Dhika
kesal
***
Thalita baru sampai di ruangannya
pagi itu, dan menyambar jas Dokternya untuk dia pakai. Tak lama handphonenya
berdering dan menampakkan satu nomor tanpa nama di layarnya. Thalita menatap nomor
yang muncul di layar handphonenya itu.
"Ternyata dia tidak mengganti nOmor
telponnya sama sekali,"
ujarThalita saat mengetahui kalau yang menghubunginya adalah Dhika.
Thalita segera mengangkat
teleponnya dan ternyata Dhika memintanya untuk datang ke ruangannya.
Setelah mengetuk pintu dan
dipersilahkan masuk oleh sang empu, Thalitapun masuk ke dalam ruangan, terlihat
Dhika tengah berdiri menatap keluar jendela yang langsung menampakan jalanan Ibu kota dengan sebelah tangannya yang
dimasukan ke dalam saku celananya.
"Ada apa Dokter memanggil saya?" tanyaThalita karena Dhika tak
kunjung berbalik badan.
Mendengar suara Thalita yang
seakan menyihirnya otaknya, membuat Dhika membalikan badannya dan tatapan
mereka langsung beradu. Dhika selalu terhipnotis oleh mata hitam bulat milik Thalita,
membuatnya sulit sekali untuk berpaling.
Tetapi dengan cepat Thalita
memalingkan pandangannya ke arah lain. "Ada apa?" tanyaThalita dingin.
Dhika merasa sakit melihat sikap
dingin Thalita, tetapi Dhika juga mencoba untuk memakluminya. ‘Ini semua karena kesalahanku juga,’.batinDhika.
Dhika berjalan ke arah meja
kerjanya dan mengambil berkas pasien di sana.
"Bagaimana kondisi ibu Atikah?" tanyaDhika
menanyakan pasien yang kemarin melakukan operasi paru-paru.
"Kondisinya masih belum ada perubahan,
sepertinya pasien nyaman dengan kondisi tertidurnya," jawab Thalita, membuat Dhika
mengangguk paham.
"Apa tidak ada walinya yang
datang?" tanyaDhika lagi mengalihkan pandangannya dari berkas ke arah Thalita
yang masih memasang ekspresi dingin dengan paras cantiknya.
Dhika selalu terpesona dengan
kecantikan Thalita, bagaimanapun penampilannya, dia selalu terlihat cantik
dimata Dhika. Bahkan hatinya selalu bergetar saat menatap Thalita.
"Belum ada." jawaban Thalita dingin, Dhika
tersenyum kecil melihat sikap dingin Thalita.
"Ini data pasien yang baru saja masuk
tadi malam. Remaja berumur 18 tahun, namanya Rahma. Dia mengidap kanker
paru-paru stadium akhir,"
ujarDhika. "Tolong
kamu perhatikan perkembangannya. Kemarin malam aku sudah menyuntikkan oxycodone padanya," ujarDhika menyodorkan berkas ke
arah Thalita.
"Kalau begitu saya permisi," ujarThalita, Dhika hanya
menjawabnya dengan anggukan.
Ingin sekali Dhika bertanya apa
dia sudah sarapan, dan berbicara se-akrab
mungkin tidak formal seperti ini. Tapi Dhika sadar, dia tidak mungkin melakukan
itu. Mendekati Thalita lagi harus butuh tahapan tidak bisa dengan mudah dan
cepat mendekatinya lagi.
Dhika memperhatikan Thalita yang
berjalan di luar ruangannya lewat kaca. Karena dinding ruangan disini semuanya
terbuat dari kaca. Dhika terus memperhatikan Thalita yang kini menghilang
dibalik pintu lift yang tertutup.
***
Thalita berjalan memasuki ruangan
bernomor 115. Thalita melotot sempurna saat menatap gadis remaja yang terbaring
lemah di atasblangkar.
"Dia.." gumamThalita kaget, sampai
menutup mulutnya tak percaya.
Thalita berjalan mendekati
pasien, dan mengelus kepala pasien dengan lembut. "Sepuluh tahun berlalu.
Tapi kamu tidak berubah,"
gumamThalita tersenyum dengan air mata yang mengalir membasahi pipinya.
Merasa ada yang mengusap
kepalanya gadis itupun membuka matanya perlahan dan langsung menatap wajah Thalita.
Gadis itu bahkan mengernyitkan dahinya merasa kaget dan tak percaya.
"Kak Lita?" gumam gadis itu lirih dan pelan
karena terhalang alat pernafasan yang menutupi hidung dan mulutnya.
"Hallo LittlePrincess," ujarThalita tersenyum.
"kak Lita masih ingat
aku?" tanya gadis yang diketahui bernama Rahma itu.
"Pasti Sayang, Kakak tidak akan pernah
lupa sama LittlePrincessnya Kakak,"
ujarThalita terus mengelus kepala Rahma dengan lembut.
"Kakak kemana saja? Tidak
pernah datang lagi menemuiku?" tanya Rahma membuatku tersenyum.
"Maaf Sayang, Kakak sangat sibuk dengan studyKakak dan Kakak baru kembali lagi
ke Indonesia beberapa minggu yang lalu. Kakak datang ke rumah kamu tetapi
ternyata kamu sudah tidak tinggal di sana lagi," ujarThalita.
"Iya kak. Aku, adik-adikku dan
orangtuaku pindah ke rumah yang lebih sederhana. Rumah itu dijual, karena Papa
kehabisan uang untuk pengobatanku,"
ujar Rahma dengan lemah.
"Sekarang dimana mereka?" tanyaThalita.
"Tadi disini, tapi sekarang aku tidak
tau. Mereka mungkin sedang keluar,"
jawab Rahma.
"LittlePrincessnya Kakak
sekarang sudah menjadi Princes yang sangat cantik," ucap Thalita menatap Rahma
penuh Sayang.
"Kakak juga semakin cantik,
apalagi sekarang sudah menjadi seorang Dokter," kekeh Rahma terllihat sedikit
menahan sakit didadanya.
"Jangan tertawa dulu," perintah Thalita dan Rahma
membalasnya dengan tersenyum kecil. "Istirahatlah cantik, Kakak akan memeriksa
kondisimu dulu."
Thalita mulai menempelkan
stethoscope di telinganya dan memeriksa kondisi Rahma. Thalita masih tak
beranjak sedikitpun dari samping Rahma yang kini sudah terlelap. Pandangannya
tak lepas menatap wajah pucat Rahma, hingga ingatannya kembali menerawang ke
sepuluh tahun yang lalu.