My Ceo

My Ceo
Episode 51



Thalita fokus membaca berkas


pasien yang terlihat masih belum stabil keadaannya. Hingga seseorang menabrak


tubuhnya dari belakang, membuat Thalita kehilangan keseimbangannya. Dan membuat


berkas yang dipegangnya terlempar ke udara. Tubuh Thalita hampir saja membentur


lantai, kalau tidak ada tangan kekar yang menahannya, dan membuat tubuh Thalita


tertarik ke dalam pelukannya. Thalita mencengkram erat lengan jas Dokter milik


sang penolong. Keduanya masih bertatapan dengan jarak yang cukup dekat, seakan


ingin mendalami mata keduanya. Dan dengan gerakan slow motion kertas yang masih


berterbangan di udara berjaTuhan ke lantai rumah sakit. Cukup lama mereka


saling memandang, mendalami mata masing-masing. Mencari sesuatu yang sempat


hilang beberapa tahun ini.


Dhika sadar dengan posisinya saat


ini dan dengan segera membantu Thalita berdiri tegak dan melepas pelukannya di


pinggang Thalita, tetapi Thalita masih mencengkram kuat lengan jas putihnya,


seakan tak ingin melepaskan. Pandangan Thalita juga masih menatap ke manik mata


coklat milik Dhika.


"Kamu baik-baik saja?" tanyaDhika


lembut, menyadarkan Thalita dari lamunannya, Thalita tersadar dengan posisinya


saat ini dan dengan segera Thalita melepas cengkramannya pada lengan jas DokterDhika.


"Aku baik-baik saja," jawab Thalita dengan singkat


dan segera memunguti semua kertas yang berSerakan di lantai. Dhika ikut


membantu memunguti kertas-kertas itu dan menyerahkannya ke Thalita setelah


keduanya sama-sama berdiri tegak.


Deg…Karena mengambilnya terburu-buru tanpa sadar tangan Thalita malah menyentuh


tangan Dhika. Membuat mereka kembali bertatapan dengan tatapan yang sulit


diartikan. Hingga akhirnya Thalita merebut kertas itu dan berlalu pergi


meninggalkan Dhika. Dhika hanya tersenyum melihat tingkah Thalita yang sangat


menggemaskan menurutnya. Tanpa mereka sadari, dr. Claudya melihat kejadian itu


dari lorong lain.


"Aku tidak bodoh untuk mengartikan semua


yang aku lihat,"


gumamClaudya dengan tatapan terlukanya.


***


Thalita baru saja keluar dari


ruangannya hendak pulang, hingga dia bertabrakan dengan seseorang. Yang


membuatnya terduduk dilantai karena terdorong.


"Maaf," ucap seseorang dengan suara


bassnya yang kini berdiri tegak di hadapanThalita.


Seorang laki-laki berbadan tegap


dan tinggi tengah tersenyum manis kepada Thalita dengan mengulurkan sebelah


tangannya untuk membantu Thalita.


"Maaf," ucapnya sekali lagi, membuat Thalita


menyambut uluran tangannya dan kembali berdiri tegak di hadapannya.


"Aku Rivaldo, panggil dr. Rival saja. dan


maaf tadi aku menabrakmu,"


ucapnya merasa bersalah.


"Tidak apa-apa dr. Rival, aku Thalita," ucap Thalita tersenyum Seraya


melepas jabatan tangannya.


"Kamu Dokter baru  yang mengganti DokterChailly dari tim


1?" tanya Rival membuat Thalita mengangguk. "Kita baru bertemu sekarang, aku juga Dokter


bedah di tim operasi 2,"


Tambahnya dengan ramah.


"Saya juga baru melihat anda, mungkin


kemarin karena terlalu sibuk melakukan operasi jadi tidak sempat berkenalan


dengan Dokter yang lain,"


ucap Thalita.


"It's oke," jawabnya santai. "Jangan


panggil anda, panggil kamu saja. kesannya formal sekali," kekehnya membuat Thalita


mengangguk paham.


Tak jauh dari arah mereka


berdiri, Dhika yang masih memakai jas Dokternya keluar dari ruangan miliknya,


tetapi seketika langkahnya terhenti saat melihat Thalita dan Rival tengah


berbincang didekat pintu lift. Hatinya terasa terbakar api cemburu, Dhika tidak


suka melihat kedekatan Thalita dengan Rival. Apalagi Thalita terlihat tertawa


mendengar ocehan lelaki lain di hadapannya. Dhika segera melangkahkan kakinya


mendekati mereka berdua.


"Khem!" deheman Dhika membuat kedua orang


itu menatap ke arahnya.


"Eh DokterDhika, tidak pulang?" tanya


Rival dengan ramah.


"Saya jaga malam," jawab Dhika singkat.


"DokterLita, bisa ikut ke


ruangan saya? ada yang mau saya bicarakan,"


ucap Dhika.


"Tapi saya mau pulang,Dok. Bukankan kita tidak ada jadwal operasi


lagi,"


ucap Thalita.


"Sebentar saja, ada yang mau saya


bicarakan,"


ucap Dhika tajam membuat Thalita akhirnya menurut.


"Baiklah Dokter Rival, senang berkenalan


dengan kamu. saya permisi dulu,"


ucap Thalita dengan senyumannya membuat Dhika mengepalkan kedua tangannya.


Dokter Rival hanya menjawab


dengan anggukan dan tersenyum manis. Thalita berjalan mengikuti Dhika yang


sudah berjalan terlebih dulu menuju ruangan Dhika.


"Ada apa Dok?" tanyaThalita saat


sampai di dalam ruangan Dhika.


"Jangan terlalu dekat


dengannya,"


ucap Dhika tanpa basa basi membuat Thalita mengernyitkan dahinya.


"Maksud anda?" tanyaThalita


bingung.


"Kamu memanggilnya dengan aku kamu,


kenapa denganku masih bersikap formal?" tanyaDhika tak terima."Aku tidak mau lagi melihat kamu dekat


dengannya!”


"Bukan urusanmu!" ucap Thalita tak


kalah tajam. "Tidak ada hak anda melarang


saya, DokterDhika yang terhormat."


ucap Thalita menekankan kata nggak ada hak anda.


"Lita! aku tidak mau kamu


terlalu dekat dengannya, dia itu seorang playboy," ujarDhika mencoba


menyembunyikan rasa cemburunya.


Thalita terkekeh meremehkan


ucapan Dhika. "Lalu


apa urusannya dengan anda, Dokter?" tanyaThalita tersenyum mengejek.


Dhika mematung di tempatnya,


lidahnya seakan kelu untuk mengucapkan sebuah kata. Dhika bingung harus


menjawab bagaimana. Apalagi dengan tatapan sinis Thalita, membuatnya takut


untuk berkata kalau Thalita hanya miliknya. Dhika takut, Thalitanya akan pergi


lagi.


tolong jangan urusi lagi urusan saya, permisi." Thalita berlalu pergi setelah


mengucapkan itu, sedangkan Dhika masih berdiri mematung di tempatnya dengan


tatapannya yang masih menatap punggung Thalita yang semakin menjauh.


"Shitttt!!!" umpat Dhika


kesal


***


Thalita baru sampai di ruangannya


pagi itu, dan menyambar jas Dokternya untuk dia pakai. Tak lama handphonenya


berdering dan menampakkan satu nomor tanpa nama di layarnya. Thalita menatap nomor


yang muncul di layar handphonenya itu.


"Ternyata dia tidak mengganti nOmor


telponnya sama sekali,"


ujarThalita saat mengetahui kalau yang menghubunginya adalah Dhika.


Thalita segera mengangkat


teleponnya dan ternyata Dhika memintanya untuk datang ke ruangannya.


Setelah mengetuk pintu dan


dipersilahkan masuk oleh sang empu, Thalitapun masuk ke dalam ruangan, terlihat


Dhika tengah berdiri menatap keluar jendela yang langsung menampakan jalanan Ibu kota dengan sebelah tangannya yang


dimasukan ke dalam saku celananya.


"Ada apa Dokter memanggil saya?" tanyaThalita karena Dhika tak


kunjung berbalik badan.


Mendengar suara Thalita yang


seakan menyihirnya otaknya, membuat Dhika membalikan badannya dan tatapan


mereka langsung beradu. Dhika selalu terhipnotis oleh mata hitam bulat milik Thalita,


membuatnya sulit sekali untuk berpaling.


Tetapi dengan cepat Thalita


memalingkan pandangannya ke arah lain. "Ada apa?" tanyaThalita dingin.


Dhika merasa sakit melihat sikap


dingin Thalita, tetapi Dhika juga mencoba untuk memakluminya.  ‘Ini semua karena kesalahanku juga,’.batinDhika.


Dhika berjalan ke arah meja


kerjanya dan mengambil berkas pasien di sana.


"Bagaimana kondisi ibu Atikah?" tanyaDhika


menanyakan pasien yang kemarin melakukan operasi paru-paru.


"Kondisinya masih belum ada perubahan,


sepertinya pasien nyaman dengan kondisi tertidurnya," jawab Thalita, membuat Dhika


mengangguk paham.


"Apa tidak ada walinya yang


datang?" tanyaDhika lagi mengalihkan pandangannya dari berkas ke arah Thalita


yang masih memasang ekspresi dingin dengan paras cantiknya.


Dhika selalu terpesona dengan


kecantikan Thalita, bagaimanapun penampilannya, dia selalu terlihat cantik


dimata Dhika. Bahkan hatinya selalu bergetar saat menatap Thalita.


"Belum ada." jawaban Thalita dingin, Dhika


tersenyum kecil melihat sikap dingin Thalita.


"Ini data pasien yang baru saja masuk


tadi malam. Remaja berumur 18 tahun, namanya Rahma. Dia mengidap kanker


paru-paru stadium akhir,"


ujarDhika. "Tolong


kamu perhatikan perkembangannya. Kemarin malam aku sudah menyuntikkan oxycodone padanya," ujarDhika menyodorkan berkas ke


arah Thalita.


"Kalau begitu saya permisi," ujarThalita, Dhika hanya


menjawabnya dengan anggukan.


Ingin sekali Dhika bertanya apa


dia sudah sarapan, dan berbicara se-akrab


mungkin tidak formal seperti ini. Tapi Dhika sadar, dia tidak mungkin melakukan


itu. Mendekati Thalita lagi harus butuh tahapan tidak bisa dengan mudah dan


cepat mendekatinya lagi.


Dhika memperhatikan Thalita yang


berjalan di luar ruangannya lewat kaca. Karena dinding ruangan disini semuanya


terbuat dari kaca. Dhika terus memperhatikan Thalita yang kini menghilang


dibalik pintu lift yang tertutup.


***


Thalita berjalan memasuki ruangan


bernomor 115. Thalita melotot sempurna saat menatap gadis remaja yang terbaring


lemah di atasblangkar.


"Dia.." gumamThalita kaget, sampai


menutup mulutnya tak percaya.


Thalita berjalan mendekati


pasien, dan mengelus kepala pasien dengan lembut. "Sepuluh tahun berlalu.


Tapi kamu tidak berubah,"


gumamThalita tersenyum dengan air mata yang mengalir membasahi pipinya.


Merasa ada yang mengusap


kepalanya gadis itupun membuka matanya perlahan dan langsung menatap wajah Thalita.


Gadis itu bahkan mengernyitkan dahinya merasa kaget dan tak percaya.


"Kak Lita?" gumam gadis itu lirih dan pelan


karena terhalang alat pernafasan yang menutupi hidung dan mulutnya.


"Hallo LittlePrincess," ujarThalita tersenyum.


"kak Lita masih ingat


aku?" tanya gadis yang diketahui bernama Rahma itu.


"Pasti Sayang, Kakak tidak akan pernah


lupa sama LittlePrincessnya Kakak,"


ujarThalita terus mengelus kepala Rahma dengan lembut.


"Kakak kemana saja? Tidak


pernah datang lagi menemuiku?" tanya Rahma membuatku tersenyum.


"Maaf Sayang, Kakak sangat sibuk dengan studyKakak dan Kakak baru kembali lagi


ke Indonesia beberapa minggu yang lalu. Kakak datang ke rumah kamu tetapi


ternyata kamu sudah tidak tinggal di sana lagi," ujarThalita.


"Iya kak. Aku, adik-adikku dan


orangtuaku pindah ke rumah yang lebih sederhana. Rumah itu dijual, karena Papa


kehabisan uang untuk pengobatanku,"


ujar Rahma dengan lemah.


"Sekarang dimana mereka?" tanyaThalita.


"Tadi disini, tapi sekarang aku tidak


tau. Mereka mungkin sedang keluar,"


jawab Rahma.


"LittlePrincessnya Kakak


sekarang sudah menjadi Princes yang sangat cantik," ucap Thalita menatap Rahma


penuh Sayang.


"Kakak juga semakin cantik,


apalagi sekarang sudah menjadi seorang Dokter," kekeh Rahma terllihat sedikit


menahan sakit didadanya.


"Jangan tertawa dulu," perintah Thalita dan Rahma


membalasnya dengan tersenyum kecil. "Istirahatlah cantik, Kakak akan memeriksa


kondisimu dulu."


Thalita mulai menempelkan


stethoscope di telinganya dan memeriksa kondisi Rahma. Thalita masih tak


beranjak sedikitpun dari samping Rahma yang kini sudah terlelap. Pandangannya


tak lepas menatap wajah pucat Rahma, hingga ingatannya kembali menerawang ke


sepuluh tahun yang lalu.