My Ceo

My Ceo
Episode 16



Happy Reading


--------------------------------------------------------------------------


"Kamu...."


Keysa tersenyum kikuk kepada seseorang dihadapannya.


"Kebetulan sekali kita bertemu disini, apa bisa kita berbicara sebentar?" tanyanya.


"Baiklah, Sanas loe pulang duluan saja" ucap Keysa


"Loe yakin? Gak mau gue tunggu?" tanya Sanas


"Tidak perlu, lagian tempat tinggal gue gak jauh dari sini. Loe pulang saja" ucap Keysa


"Baiklah, tapi besok-besok kita ketemu lagi yah" ucap Sanas dan Keysa hanya menganggukan kepalanya. "Ya sudah gue balik yah, loe hati-hati pulangnya" ucap Sanas mencium pipi kiri dan kanan Keysa. "Permisi, tante " pamit Sanas dan berlalu pergi.


"Anda mau berbicara dimana?" tanya Keysa


"Kita ke restaurant di sana saja, sekalian minum teh" ucapnya


"Baiklah" ucap Keysa


***


Keysa duduk di hadapan wanita paruh baya ini. "Kita belum sempat berkenalan sebelumnya," ucap wanita paruh baya itu diiringi senyumannya. "Nama saya Hanin Dias Pratiwi."


"Saya Keysa Adeeva, tante" ucap Keysa tersenyum kecil


"Saya lihat kamu sangat dekat dengan Felix, apa kalian berpacaran?" tanya Hanin to the point membuat Keysa menjadi kikuk dibuatnya.


"Sa...saya !!!" ucap Keysa terbata-bata.


"Santai saja, jangan tegang. Saya tidak akan mengintrogasi kamu," kekehnya ringan membuat Keysa sedikit bernafas lega.


"Sebenarnya saya dan Felix tidak ada hubungan apa-apa, kami hanya sebatas atasan dan sekretaris. Kebetulan saya tinggal sendiri, karena ayah saya sedang ada dinas keluar negri, jadi untuk sementara waktu, Felix menawarkan saya untuk tinggal dirumahnya." jelas Keysa membuat Hanin tersenyum dan menyeduh teh dihadapannya.


"Kamu tau kalau saya adalah ibu kandungnya Felix?" tanya Hanin


"I...iya" ucap Keysa


"Kamu tau masalah saya dengan Felix?" tanya Hanin kembali dan Keysa hanya menjawab dengan menggelengkan kepalanya. Hanin terlihat menghela nafasnya.


"Ini terlalu rumit, aku sendiri bingung harus menjelaskan apa sama Felix kalau ini semua tidak seperti yang dia pikirkan" ucap Hanin terdengar sangat lirih dan menyedihkan


"15 tahun aku menunggu untuk bertemu dengan Felix dan bertahan dengan kesakitan ini. Sekarang saatnya dimana aku harus menjelaskan semuanya kepada Felix, tetapi aku tidak menyangka dia akan sangat membenciku" jelas Hanin berkaca-kaca


"Dia begitu benci bertemu denganku, aku semakin berdosa kepadanya. Tetapi sungguh aku sangat menyayanginya dan mencintainya melebihi diriku sendiri" tangis Hanin pecah dihadapan Keysa.


"Saya memang tidak tau perihal masalah anda dan Felix. Tetapi menurut saya, Felix masih sakit hati dan marah pada anda. Dia tidak mungkin membenci anda, setiap anak tidak akan mampu membenci ibunya sendiri" ucap Keysa memegang tangan Hanin mencoba menenangkannya.


"Saya yakin Felix juga sebenarnya menyayangi anda, hanya saja rasa kesal itu masih memenuhi hatinya" ucap Keysa membuat Hanin menatap Keysa dalam.


"Apa benar seperti itu?" tanya Hanin penuh harap


"Iya, saya dapat melihat kepedihan sekaligus kerinduan dimatanya" ucap Keysa mengingat Felix yang kemarin menangis.


"Apa aku bisa memeluknya dan mendengar dia memanggilku mama lagi?" tanya Hanin penuh harap


"Bisa, hanya perlu waktu untuk meluluhkan hatinya. Sekeras apapun hati manusia, lama-lama akan luluh juga" jelas Keysa.


"Tapi aku takut waktuku tidak akan lama lagi" gumam Hanin merenung


"Maksud anda?" tanya Keysa dengan kernyitan di dahinya.


"Ah, tidak apa-apa. Apa aku boleh minta tolong sama kamu?" tanya Hanin


"Apa yang bisa saya bantu?" tanya Keysa


"Lusa adalah hari ulang tahunnya Felix. Setiap dia ulang tahun dulu, saya selalu membuatkan sup rumput laut dengan campuran daging kerang hijau, dia sangat menyukainya." ujar Hanin


"Setiap dihari ulang tahunnya, aku selalu membuatkannya itu. Dengan menu seafood lainnya dan kami makan bersama. Dia bukan anak yang suka meminta ini itu, dia hanya ingin slalu disayangi dan tidak suka sendiri" ucap Hanin mengenang masa lalunya


"Tapi itu saat dia berumur 10 tahun, setelah aku berpisah dengan ayahnya. Aku tidak bisa membuatkannya sup rumput laut lagi" isak Hanin membuat Keysa berpindah duduk di samping Hanin dan mengelus pundaknya. "Aku mohon bantu aku memberikan sup rumput laut itu dihari ulang tahunnya, aku ingin dia merasakan kehangatan kasih sayang lagi"


"Saya akan membantu anda memberikannya" ucap Keysa


"Saya hanya ingin dia menghabiskannya" gumam Hanin


"Saya berjanji akan membuat Felix menghabiskannya, kalau perlu akan saya rekam videonya untuk anda" ucap Keysa bersemangat membuat Hanin tersenyum senang.


"Kamu anak yang baik, sayang. Terima kasih" Hanin memeluk Keysa penuh sayang. Keysa mampu merasakan lagi pelukan hangat dari seorang ibu setelah 15 tahun lamanya dia tidak merasakan pelukan hangat ini. Hanin juga mencium kening Keysa.


"Aku merestui hubungan kalian" ucap Hanin berhasil membuat Keysa merona


"Eh.... Tapi saya tidak ada-"


"Saya mampu melihatnya dimata Felix kalau dia mencintai kamu, meskipun sudah lama aku tidak bersama dia. Tapi aku mengenal putraku, dia mencintai kamu sayang" ucapan Hanin mampu meluluh lantahkan hati Keysa.


Hatinya seakan di tarik ulur, apalagi kata-kata Devan tadi mampu membuatnya ciut. "Sekarang pulanglah, sudah pukul 10 malam. Felix pasti mengkhawatirkanmu" ucap Hanin, "Terima kasih mau mendengarkan dan membantu saya."


"Sama-sama tante" ucap Keysa


"Mama.. Panggil aku mama" ucap Hanin


"Iya...emm mama" Keysa merasakan kehadiran sosok ibu.


***


Keysa memasuki rumah Felix dan bergegas menaiki tangga dan hendak masuk ke dalam kamarnya tetapi seketika itu juga Felix keluar dari kamarnya dengan menggunakan kaos polo berwarna abu dipadu dengan piyama panjangnya.


"Ini bukan hotel yang pulang dan pergi semaumu" ucap Felix terdengar sangat sinis


"Maaf Felix, tadi aku ada keperluan dulu" jawab Keysa menatap Felix yang sama sekali tak menatap ke arahnya.


"Keperluan dengan siapa? Dengan Mantan tunanganmu atau Devan? Atau laki-laki lain lagi?" tanya Felix sinis dan sedikit meninggikan suaranya.


"Maksud kamu?" Keysa mengernyitkan keningnya bingung. 'Felix kenapa sih?' batin Keysa


"Sudahlah, aku mau ambil minum tadi niatnya" ucap Felix datar dan beranjak pergi.


"Aku pergi dengan Sanas, bukan dengan pria lain" teriak Keysa mampu di dengar Felix. Felix tersenyum kecil dalam langkahnya tanpa menoleh ke arah Keysa yang masih mematung di depan pintu.


"Sudah jujur, masih saja tidak merespon" Keysa menghela nafasnya dan masuk ke dalam kamarnya untuk merebahkan tubuhnya di atas ranjang.


Keysa menatap langit-langit kamar dan memikirkan pembicaraannya tadi dengan Hanin. "Sebenarnya apa yang terjadi? Sampai-sampai Felix begitu membenci ibunya? Apalagi sifatnya langsung berubah drastis jadi tertutup seperti ini" gumam Keysa terus memikirkan ucapan Hanin, Devan dan sikap yang Felix tunjukkan.


***


Keysa turun ke bawah tetapi, belum ada Felix dimeja makan. Hanya pelayan yang masih menyiapkan makanan di atas meja makan. "Felix belum turun mbak?" tanya Keysa


"Belum non,,"


'Tumben sekali jam segini dia belum bangun' pikir Keysa, Keysa berlari menaiki tangga hingga sampai didepan pintu kamar Felix.


"Felix.... Kamu sudah bangun belum?" tanya Keysa tetapi tidak ada sahutan dari dalam. Keysa memegang knop pintu dan


Ceklek


'Pintunya tidak dikunci'  batin Keysa masuk ke dalam kamar Felix dan terlihat Felix masih bergelut dibalik selimut dengan posisi tengkurap. Keysa berjalan ke sisi ranjang dan duduk disana. Tangannya terulur memegang lengan Felix dan menggoyangkan lengannya.


"Felix bangun, nanti kita terlambat ke kantor" ucap Keysa membuat Felix mengigau tidak jelas dan kembali tertidur. "Felix...." sekali lagi Keysa menggoyangkan lengan Felix membuat Felix menarik tangan Keysa hingga tubuhnya tertarik dan kini Keysa  berada dibawah Felix. Felix memeluk erat tubuh Keysa membuatnya sulit untuk bergerak.


"Felix, Aku tidak bisa nafas" ucap Keysa membuat Felix mengerjapkan matanya dan sempat kaget melihat Keysa ada dalam kungkungan tangannya.


"Ngapain kamu disini?" tanya Felix dengan serak khas suara orang yang baru bangun tidur.


"Kamu yang narik aku sampai aku jatuh, aku cuma mau membangunkanmu. Kita sudah telat ke kantor" ucap Keysa dengan gugup


"Ohh, ya sudah nanti siang saja kita ke kantornya" ucap Felix dengan santai dan kembali tidur sambil memeluk pinggang Keysa dengan possesive.


"Aduhh Felix lepasin aku" gerutu Keysa mencoba melepaskan pelukannya tetapi hasilnya nihil, Felix tidak bergeming sama sekali.


"Biarkan seperti ini" bisik Felix tepat ditelinga Keysa dan menyelusupkan wajahnya ke lekukan leher Keysa.


'Felix, sebenarnya kamu anggap aku apa? Kenapa dengan mudahnya kamu menguasai aku dan hati ini? Tapi aku tidak tau sebenarnya bagaimana perasaan kamu !!! Aku takut pengkhianatan itu terulang lagi, aku takut kamu hanya mempermainkanku, perasaan ini sungguh tidak bisa aku tahan lagi. Semakin hari semakin bertambah' batin Keysa


"Kamu berkata sesuatu?" tanya Felix


"Eh... ti...tidak" ucap Keysa


"Jangan berpikir macem-macem,, aku nyaman seperti ini" gumam Felix membuat Keysa tertegun.


'Apa Felix bisa baca pikiran aku yah?' pikir Keysa


Cukup lama posisi seperti ini, akhirnya Felixpun terbangun dari tidurnya tetapi ia tak mengubah posisinya, ia masih menatap wajah Keysa yang terkunci oleh tatapan tajam miliknya.


Cup. Felix mencium bibir Keysa yang sudah menjadi candunya itu diiringi senyumannya. "Morking kiss" gumam Felix lalu beranjak masuk ke dalam kamar mandi.


Meninggalkan Keysa yang masih terpaku ditempatnya. Keysa tersadar saat mendengar percikan air dari dalam kamar mandi dan segera duduk merapihkan pakaiannya yang sedikit kusut. "Astaga lama-lama disini, aku bisa-bisa kehabisan oksigen" gumam Keysa mengipas-ngipas tangan kirinya di depan wajahnya yang memerah.


Saat sudah tidak ada lagi suara percikan air terdengar. Dengan langkah seribu, Keysa berlari keluar dari kamar Felix.


Setelah merapihkan rambutnya Keysa menarik nafas dalam-dalam lalu berjalan menuju meja makan.


Tak lama, Felix turun ke bawah menuju meja makan, dan terlihat disana sudah ada Keysa yang tengah memakan sarapannya.


"Pagi" sapa Felix tersenyum manis. 'Ada apa dengannya? Tumben sekali  mengumbar senyum' batin Keysa


Tiba-tiba sesuatu yang kenyal dan basah menyentuh dahi Keysa membuat Keysa membulatkan kedua matanya sempurna dan menatap ke arah sesuatu itu dan ternyata Felix mengecup keningnya. Felix dengan santainya beranjak dan duduk di kursi mengambil sarapannya, tanpa memperdulikan Keysa yang masih mematung dengan memegang keningnya.


"Pagi-pagi tidak baik melamun" ucapnya


"Kamu baik-baik saja kan?" tanya Keysa dengan polos


"Yah, kenapa memangnya?" tanya Felix


"Ah tidak apa-apa kok" Keysa kembali memakan sarapannya.


***


Devan datang saat Keysa hendak keluar kantor.


"Hai" sapa Devan


"Hai Van" ucap Keysa tersenyum


"Mau aku antar pulang?" tanya Devan


"Apa tidak merepotkan?" tanya Keysa


"Tidak,, ayo aku antar sekalian kita ngopi dulu" ajak Devan


"Baiklah" ucap Keysa bersemangat.


Keysa dan Devan menaiki mobil audy berwarna silver milik Devan. Tanpa mereka sadari di lobby kantor, Felix melihatnya. 'Kau mencoba bermain denganku, Devan' batin Felix


***


Keysa dan Devan memasuki sebuah cafe dan memilih duduk di dekat jendela. Tanpa mereka sadari, Felix menyuruh seseorang untuk membuntuti mereka berdua. Devan seperti biasa menarik kursi untuk Keysa duduk lalu dirinya menyusul duduk dihadapan Keysa. Tanpa mereka sadari seseorang terus mengambil gambar mereka dan mengirimkannya ke seseorang.


Felix yang tengah menyetir mobil, mendengar bunyi hpnya segera menepikan mobilnya dan melihat pesan gambar dari seseorang. Digambar itu terlihat saat Devan menarik kursi untuk Keysa duduk, lalu ada foto mereka tertawa bersama dan terakhir foto dimana Devan merapihkan anak rambut yang menempel dibibir Keysa.


Rahang Felix langsung mengeras, jari-jari tangannya mengepal kuat hingga terlihat memutih. Dengan kesal Felix meninju setir mobil di hadapannya.


"Aghhh.... Sialann !!" umpat Felix sangat emosi


***


"Key..." ucap Devan


"Ya,, kenapa?" tanya Keysa


"Apa kamu benar-benar menyukai Felix?" tanya Devan


"Itu....." Keysa terdiam, dia tidak tau harus menjawab apa pada Devan. Ia juga bingung sebenarnya apa yang dia rasakan pada Felix.


"Katakan saja, aku akan jaga rahasia kamu" ucap Devan


"Janji?" tanya Keysa membuat Devan menganggukkan kepalanya. "Sebenarnya memang akhir-akhir ini Felix sudah menguasai pikiran dan hati aku, tetapi aku takut mengakuinya. Aku takut sakit itu akan terulang lagi" ucap Keysa membuat Devan terdiam


"Aku juga tidak tau apa dia mempunyai perasaan yang sama padaku atau tidak" tambah Keysa


"Lelaki kaku itu ternyata berhasil mendapatkan cinta kamu" ucap Devan tersenyum miring


"Aku juga tidak tau, tetapi perasaan ini tiba-tiba saja muncul tanpa bisa aku cegah" ucap Keysa


"Ya aku tau, tetapi lelaki bodoh itu masih saja tidak mau mengakuinya" ucap Devan terkekeh kecil.


"Maksud kamu?" tanya Keysa


"Aku mengenalnya sudah sangat lama dan aku tau dia juga menyukai kamu tapi dia terlalu bodoh untuk menyadarinya" ucap Devan,"Kamu tau, dia memang sangat tertutup pada siapapun. Tapi aku bisa membaca gerak geriknya kalau dia juga menyukai kamu" ucap Devan membuat Keysa tersenyum merona, ia merasa ribuan kupu-kupu berterbangan dari dalam perutnya. Bahkan Keysa tak bisa menyembunyikan senyumannya.


'Aku senang kalau memang dia juga menyukaiku' batin Keysa


"Aku mau minta tolong sama kamu, kamu mau tidak menuhin keinginanku?" tanya Devan


"Apa itu?" tanya Keysa mengernyitkan dahinya.


"Bertahanlah disampingnya sampai dia menyadari perasaannya sendiri. Sebodoh-bodohnya dia, dia tetap sahabat yang aku sayangi. Selama ini hidupnya penuh beban. Sebenarnya dia sangat kesepian, dia menutup dirinya dan menyibukkan diri hanya untuk menutupi luka di dalam hatinya" ucap Devan


"Dia membutuhkan kamu, Key. Buatlah dia bahagia" ucap Devan membuat Keysa merenung


'Apa mungkin aku bisa?' batin Keysa


"Pikirkan hal itu baik-baik, Key. Kalau kamu tidak mampu maka tinggalkan dia, jangan membuatnya sakit hati" ucap Devan


'Sebenarnya sesakit apa luka dihati Felix sampai dia jadi seperti ini?' batin Keysa.