My Ceo

My Ceo
Episode 22



Happy Reading


---------------------------------------------------------------


"Reno"


"Hai Key" sapa Reno dengan senyuman manisnya dan hanya dibalas dengan senyuman kecil oleh Keysa, "kamu mau berangkat kerja?"


"Iya,, aku sedang terburu-buru, aku duluan yah" Keysa hendak beranjak tetapi tangannya ditahan oleh Reno membuat Keysa mengernyitkan dahinya.


"Aku antarkan" ucap Reno


"Tidak perlu, lagipula arah kantor kita berbeda" ucap Keysa mencoba melepaskan pegangan tangan Reno


"Tidak, aku akan mengantarkanmu" ucap Reno penuh penekanan dan menarik tangan Keysa masuk ke dalam mobilnya.


Di dalam mobil, Keysa hanya diam tidak banyak bicara sambil menatap keluar jendela.


"Kamu masih marah sama aku?" tanya Reno memecah keheningan


"Tidak" jawab Keysa dengan singkat


"Key, aku tau kesalahanku sangat fatal. Aku sadar akan hal itu, tapi sungguh Key aku mencintai kamu. Aku menyadari Kalau aku mencintai kamu saat aku sudah kehilangan kamu" ucap Reno


"Apalagi yang sedang kamu rencanakan?" tanya Keysa penuh penekanan.


Reno meminggirkan mobilnya dan menatap ke arah Keysa, Reno memegang kedua pundak Keysa membuatnya mau tidak mau menghadap Reno. "Tidak ada rencana apa-apa Key, aku sungguh mencintai kamu.  Apa kamu masih tidak percaya? Akan aku buktikan perasaan cinta ini sama kamu" ucap Reno penuh keyakinan membuat Keysa menatap mata Reno dan tidak ada keraguan sama sekali


"Kalau begitu kenapa kamu lakuin ini sama aku dan papa? Apa salah kami sama kamu?" tanya Keysa berkaca-kaca


"Mungkin pa Mahes kurang beruntung, makanya jadi sasaranku untuk melakukan pembalasan dendamku" ucap Reno "Kamu tau Key, hidupku itu sangat sengsara. Aku selalu saja dicemooh orang-orang sekitar, seakan-akan aku ini adalah hama lingkungan yang perlu di singkirkan. Aku tidak pernah berbuat salah pada orang lain, tapi kenapa mereka selalu menghinaku dan merendahkanku.  Hati aku sakit Key,, aku melakukan ini hanya ingin memperlihatkan kepada orang-orang sombong itu kalau aku tidak sehina yang mereka kira, aku juga bisa sukses seperti mereka" ucap Reno penuh emosi dan kini sudah tidak memegang pundak Keysa, kini Reno memilih menatap ke depan setir.


"Tetapi cara kamu salah, apa kamu akan sangat puas membalaskan dendam dengan menyakiti orang yang tidak bersalah?" tanya Keysa


"Ya aku tau Key,, aku salah.  Tapi kalau sekarang kamu mau kembali sama aku, aku akan menghentikan semua ini dan aku akan keluar dari perusahaan pa Mahes. Kita pergi dari kota ini dan memulai lembaran baru, aku akan mencari pekerjaan yang lebih baik untuk menghidupi kamu" ucap Reno kembali menatap Keysa penuh harap,


"Aku-"


"Aku tidak meminta jawaban kamu sekarang, aku akan kasih kamu waktu untuk berpikir" ucap Reno membuat Keysa kembali terdiam. Reno kembali menjalankan mobilnya.


Reno dan Keysa tidak ada lagi yang mengeluarkan suara hingga sampai di depan kantor Keysa. "Makasih" ucap Keysa segera keluar dari mobil tapi Reno mengejarnya dan menahan tangan Keysa yang baru beberapa langkah.


"Key tunggu" ucap Reno membuat Keysa mengernyitkan dahinya. Tanpa disangka-sangka, Reno mencium kening Keysa membuat Keysa melotot kaget.


"Aku tunggu jawaban kamu, kamu pikirkan semuanya dengan baik" ucap Reno membelai kepala Keysa dan berlalu menaiki mobilnya, meninggalkan Keysa yang masih mematung.


Dan kejadian itu tak luput dari pandangan Felix yang kebetulan sedang berada di lobby kantor. Dengan perasaan kesal dia berjalan menuju lift.


***


Keysa berlari menuju mejanya, dia sudah terlambat 15 menit. Dan ketakutannya bertambah saat melihat Felix sedang berdiri di depan mejanya Keysa dengan aura dingin dan menyeramkan membuat Keysa takut untuk menatapnya.


"Jam berapa sekarang?" tanya Felix dingin mengalahkan dinginnya ac


"Maafkan saya, pak. Tadi-"


"Kamu telat karena asyik pacaran dulu diparkiran, iyakan?"bentak Felix membuat Keysa terlonjak kaget. Ini kedua kalinya dia membentak Keysa sekasar ini.


"Kamu pikir perusahaan ini milik orangtuamu, hah? Bisa seenaknya seperti itu, jangan mentang-mentang kamu anak dari seorang pengusaha kaya makanya berlaku seenaknya" bentak Felix membuat Keysa berkaca-kaca


"Maafkan saya pak, saya memang terlambat tapi saya tidak berlaku seenaknya" ucap Keysa. bibirnya sudah bergetar menahan tangisnya karena di bentak.


'Jangan memperlihatkan tatapan seperti itu, Key!!!  Please....' batin Felix


"Saya tadi hanya-"


"Saya tidak butuh penjelasanmu, sekarang kembali bekerja dan jangan di ulang lagi" ucap Felix dingin berlalu memasuki ruangannya.


Keysa segera menghapus air matanya dan segera duduk di meja kerjanya.


Didalam ruangan Felix masih berdiri di balik pintu. Sebelah tangannya dimasukkan ke dalam saku celana.


"Aarghhhhhhhh" Felix menjambak rambutnya frustasi.


***


Siang hari Tiba-Tiba seorang wanita cantik dengan anggun melangkah mendekati meja Keysa.


"Permisi mba" ucap wanita itu lembut membuat Keysa mengangkat kepalanya melihat wanita cantik dengan dress berwarna coklat terang di balut dengan blezer putih. Rambut panjangnya di gerai indah.


Wanita yang sempurna...  Pikir Keysa


"Maaf mba" ucap wanita itu lagi dengan lembut


"oh iya, ada yang bisa saya bantu?" tanya Keysa.


"Saya mau bertemu dengan pak Felix,, apa dia ada?" tanya wanita itu


"Maaf dengan nona siapa yah? Apa anda sudah membuat janji?" ada perasaan cemburu menyeruak dihati Keysa.


"Saya Bella,, Annabella Swift !!" ucap Bella. "Kebetulan saya belum membuat janji, tadi saya ada keperluan penting sama Felix. Tolonglah"


"Maaf mba, tapi tetap harus membuat janji dulu. Nanti saya akan menghubungi anda lagi kalau anda sudah membuat janji" jelas Keysa


"Tidak bisa,, saya harus bertemu sekarang. Bilang saja Bella Swift menunggunya diluar" ucap Bella ngotot


"Tapi-"


"Bella.."Felix berdiri di depan pintu ruangannya. Dia keluar ruangan saat mendengar keributan diluar.


"Felix.." mata Bella berbinar dan segera berlari memeluk tubuh Felix membuat Keysa berdiri dari duduknya.


Mata Felix dan Keysa bertemu, tatapan Keysa menyiratkan  kesakitan, sedangkan Felix terlihat datar. Bahkan Bella memeluknya, dia sama sekali tidak membalasnya.


"Aku sangat merindukanmu, Felix" ucap Bella manja


"Aku juga sangat merindukanmu" ucap Felix tapi tatapannya tak lepas dari Keysa. "Kita bicara di luar" Felix melepas pelukan Bella dan menarik tangannya.


Keysa melihat kepergian  mereka berdua. 'Gak Key,,, kamu gak bisa berdiam diri disini.  Aku harus mengikuti  mereka.  Harus...!!' batin Keysa


Keysa segera membereskan barangnya dan beranjak, dia tidak perduli meskipun masih pukul 3 sore. Keysa bergegas keluar kantor.


Saat melihat mobil Felix sudah melaju keluar halaman parkir kantor, dengan bergegas Keysa menghentikan taxi yang baru saja melewat di hadapannya. "Ikuti mobil putih itu pak" ucap Keysa dan taxipun melaju mengikuti mobil Felix.


Mobil Felix ternyata memasuki area parkir sebuah restaurant, Keysa menghentikan taxinya di pinggir jalan. Terlihat Felix dan Bella berjalan bersama, Keysa bersembunyi di sebelah mobil yang terparkir disana. Saat melihat Felix dan Bella memasuki restaurant Keysa segera mengikutinya ke dalam.


"Untuk berapa orang mbak?" tanya seorang waiters yang kebetulan berjaga di depan pintu.


"Mbak, kalau ke belakang itu tempat apa yah?" tanya Keysa karena melihat Felix dan Bella berjalan terus ke belakang.


"Itu VIP room mbak, mbak mau booking untuk VIP roomnya?" tanya waiters itu seramah mungkin


'Kenapa makan saja mesti pesan ruangan tertutup sih? Memangnya mereka mau pada ngapain? Ooh ini gila,, Gak akan gue biarkan wanita itu merebut Felix...


"mbak, gimana?" tanya waiters itu menyadarkan lamunan Keysa


"eh,, tidak mbak, saya tidak jadi makan disini. Permisi" Keysa berlari keluar restaurant membuat waiters itu terheran-heran


Keysa berjalan ke samping restaurant dan berkeliling mencari celah untuk melihat apa yg di lakukan Felix dan Bella.


Keysa yang berada di luar melihat ke jendela dan Terlihat  Bella dan Felix tengah duduk berhadapan. Keysa mencoba untuk mengintip, Tetapi jendelanya tinggi tidak sampai untuk tubuh kecil Keysa.


Keysa berpikir keras  bagaimana caranya agar bisa melihat ke dalam. Lalu Keysa melihat tempat sampah besar beroda yang tertutup. Dengan sigap Keysa mendorong tempat sampah itu ke dekat jendela. Dengan mengganjal setiap sisi rodanya dengan batu, Keysapun menaiki tong sampah itu dan terlihatlah Felix dan Bella.


'Mereka tidak makan ternyata, hanya ngopi saja. Apa yang sedang mereka bicarakan yah?' Batin Keysa sangat penasaran. Keysa mendekatkan telinganya ke jendela tetapi tidak terdengar.


"ah,, kok tidak kedengeran sih?" gumam Keysa kesal


Keysa terus mengintip mereka berdua. Hingga tak lama Bellapun berlalu pergi meninggalkan Felix. "Pergi jauh kau nenek lampir jangan datang lagi" ucap Keysa yang kesal.


"Anda sedang apa nona?"


Deg


Keysa terpaku,,


******!!!!


Karena grogi, Keysa kehilangan keseimbangan dan tempat sampah itu menggeser membuat tubuh Keysa terjatuh.


"Aaaaaaaa....." teriak Keysa


"Kenapa berhenti? Apa aku sudah jatuh? Tapi kenapa tidak terasa sakit? Apa aku sudah ada di alam lain?" gumam Keysa


Seseorang itu terkekeh kecil membuat Keysa mengernyitkan dahinya. 'Kenapa seperti ada yang mentertawakanku?' batin Keysa.


"Apa benar aku sudah mati? Tapi kan tidak mungkin mati kalau jatuh sedekat itu" tambah Keysa. Karena penasaran Keysa mengintip sedikit dan semakin lama semakin membuka matanya. Mata Keysa langsung terbuka semuanya saat melihat sosok tampan, bahkan sangat tampan di depannya. Seseorang itu tengah tersenyum manis di hadapannya.


"Maaf"cicit Keysa segera turun dari gendongan pria tampan itu.


"Kamu baik-baik saja kan, nona?"


"Yah, a-aku baik-baik saja" Keysa menampilkan cengirannya ke pria tampan itu. "A-aku permisi" Keysa segera berlari menghindari pria itu, karena dia ketahuan mengintip. Keysa sudah sangat malu di depan pria tampan tadi yang begitu ramah.


Dug


"Aduh" Keysa memegang keningnya saat membentur sesuatu.


"Key, kamu tidak apa-apa?" pertanyaan itu membuat Keysa melihat ke asal suara dan terlihat Devan berdiri di depannya.


"Tidak, hanya sakit saja" keluh Keysa


"Maafkan aku, sini mana ku lihat" Devan mengusap kening Keysa dengan lembut.


"Tapi ngomong-ngomong sedang apa kamu disini? dan kenapa datang dari arah belakang?" tanya Devan membuat Keysa semakin gugup.


"Itu...." ucapan Keysa tergantung, dan bingung harus jawab apa. "Aku habis dari toilet" kekehnya menghilangkan rasa groginya.


"Ka...kamu sendiri sedang apa disini?" tanya Keysa mencoba menghilangkan kegugupannya.


"Aku ada janji makan bersama Clara dan Remon. Ayo ikut bergabung dengan yang lain," ucap Devan menarik tangan Keysa.


Keysa dan Devanpun berjalan memasuki restaurant dan terlihat sudah ada Remon, Clara dan Felix. Tatapan Felix tak lepas dari Keysa dan Devan terutama pada pegangan tangan mereka.


"Sepertinya kalian berdua tidak sedang mau menyebrang jalan, kenapa mesti pegangan tangan?" ucapan Clara membuat Keysa melepas pegangan tangan Devan dan melirik ke arah Felix yang juga sedang menatapnya dengan tajam. Keysa duduk di samping Clara dan Devan disamping Felix.


"Kalian kenapa ada disini?" tanya Keysa


"Kita hanya mau makan, kebetulan restaurant ini dekat dengan apartement gue, jadi kita makan disini dan gak nyangka bakalan ketemu Felix dan loe,. Tapi ngomong-ngomong ngapain loe ada disini, Key? Ini kan jauh dari rumah Felix dan juga kantor?" tanya Clara berhasil membuat Keysa gelagapan.


"Aku hanya ingin mencari tempat makan yang baru saja, kebetulan tempat ini bagus dan aku penasaran sama makanannya" ucap Keysa terbata-bata menjawab ala kadarnya.


"Yakin, Key? Bukan karena membuntuti seseorang?" sindir Devan membuat Felix menatap tajam Keysa


"Ngebuntutin siapa memang?" tanya Remon penasaran


"Entahlah,," Devan mengedikkan kedua bahunya


"ah tidak,, aku tidak sedang membuntuti siapapun" Keysa menundukkan kepalanya tidak berani menatap Felix yang terus menatapnya tajam.


Pesananpun datang, mereka semua menikmati makanan mereka sambil mengobrol, hanya Keysa dan Felix yang terdiam.


"Dia datang" ucap Felix membuat semuanya terdiam dan menatap kearah Felix.


"Maksudnya siapa?" tanya Clara ke Remon


"Annabella Swift" ucap Remon


"Dia datang lagi? Mau apa dia?" tanya Clara sinis ada nada tidak suka


"loe yakin?" tanya Devan


"Barusan gue berbicara dengannya" ucap Felix datar


'Siapa sebenarnya wanita itu? Kenapa semuanya mengenal dia? Apa dia bagian dari masa lalu Felix?'  Keysa hanya terdiam dan memakan makanannya saja.


Selesai makan, mereka berlima keluar restaurant. "Gue duluan" Felix berlalu meninggalkan semuanya.


Tiba-Tiba saja Keysa berlari dan memeluk tubuh Felix dari belakang membuat Felix menghentikan langkahnya. Devan, Remon dan Clara hanya menatap mereka, mereka bertiga tau kalau hubungan Felix dan Keysa sedang tidak baik.


"Aku mencintai kamu,," gumam Keysa membuat Felix menegang. "Please,, jangan seperti ini.  Aku tidak mau kehilangan kamu" Felix hanya terdiam mematung. Keduanya sama-sama merasakan kesakitan.


Ini tidak bisa..!!! Ini tidak benar


Sambil memejamkan matanya Felix melepas pelukan Keysa dan berjalan meninggalkan Keysa yang berdiri mematung. Ketiga teman Felix kaget melihat Felix yang bersikap dingin seperti itu pada Keysa.


Keysa masih mematung ditempatnya hingga Devan menghampirinya. "Kamu butuh tumpangan?" tawar Devan menampilkan senyuman manisnya kepada Keysa.


Keysa menatap Devan dengan air mata yang sudah lolos dari kedua mata Keysa. "Ssssttt,,, jangan keluarkan cairan berharga ini" tangan Devan terulur menyentuh kedua pipi Keysa dan menghapus cairan bening itu dari pipi Keysa.


"Please, jangan menangis" ucap Devan menatap mata Keysa.


Hingga Clara dan Remon menghampiri. "Key" Keysa langsung memeluk Clara sambil menangis. "Sebenarnya apa yang terjadi? Bukannya kemarin kalian masih baik-baik saja?" tanya Clara


"gue gak tau, Kenapa Felix jadi seperti ini sama gue. Gue juga gak tau salah gue apa sama dia" ucap Keysa menangis di pelukan Clara.


"Loe harus sabar" ucap Clara mengelus rambut Keysa


"Sepertinya si Felix lagi ada masalah, makanya dia seperti itu" ucap Remon. "Kamu harus kuat ngadepin sikapnya yang labil, Key" ucap Remon lagi


"Loe nginep saja di apartement gue" ucap Clara dan Keysa mengangguk.


Setelah tenang, akhirnya Keysa beranjak menuju apartement Clara. Clara dengan Remon sudah pergi duluan dan Keysa ikut menaiki mobil Devan.


Didalam mobil suasana sangat hening, tidak ada yang mau memulai membuka suara sedikitpun hingga mobil Devan berhenti di depan lobby apartement yang Clara tempati. "Sudah sampai, ayo aku antar kamu ke kamar Clara" ucap Devan menyadarkan Keysa.


"Emmm... Van. Kamu mau gak nemenin aku jalan-jalan dulu ditaman samping apartement" tanya Keysa ragu-ragu


"Baiklah" Devan tersenyum manis. Lalu Devan turun dari mobil dan membukakan pintu penumpang untuk Keysa.


"Makasih"


Keysa berjalan menuju taman apartement, dan Devan hanya mengikutinya dari belakang. Keysa menghentikan langkahnya di dekat kolam kecil yang menghiasi taman itu.


"Sebenarnya aku danF elix sudah berpacaran. Tapi baru saja hubungan ini berjalan beberapa minggu bahkan belum genap satu bulan tapi dia sudah bersikap cuek bahkan menghindariku,, aku gak tau apa yang terjadi dengannya. Dan hari ini di depanku, dia berpelukan dengan wanita lain. Bahkan dia berkata kalau dia sangat merindukan wanita itu" ucap Keysa menatap lurus ke depan. "Siapa wanita itu, Van?" Keysa berbalik menghadap Devan yang berada disampingnya. Devan masih mematung tak tau harus menjawab apa.


"Van, please beritahu aku. Aku tau diantara kamu dan Felix tidak pernah ada rahasia,, siapa sebenarnya wanita itu?" tanya Keysa ngotot


"Dia...." Devan terdiam sejenak. Tubuhnya berbalik membelakangi Keysa dan memasukan kedua tangannya ke dalam saku celana satin hitam yang dia pakai. "Annabella Swift.... Dia adalah mantan kekasih Felix saat kuliah" ucap Devan membuat Keysa menarik nafasnya dalam-dalam, dadanya terasa sakit dan sesak. Sebenarnya Keysa sudah mengira saat melihat interaksi mereka tadi.


"Ceritakan semuanya, apa yang terjadi? Kenapa kelihatannya Felix kaget dan bisa bilang kata rindu, aku tau Felix bukan pria yang suka mengumbar perasaannya" ucap Keysa penuh selidik


"Aku gak berhak untuk menceritakannya, Key" Devan berbalik menghadap Keysa yang masih melihat ke arahnya.


"Please Van,, kamu gak mau kan ngeliat aku seperti ini terus. Terus bertanya-tanya yang tidak jelas, ditambah sikap Felix yang seperti itu" Devan menatap manik mata Keysa yang sendu mengisyaratkan please...


Devan menarik nafasnya dan menghembuskannya. "Baiklah,, tapi aku harap kamu juga bisa mempertimbangkan semuanya. Jangan berpikir negative." ucap Devan dan Keysa hanya terdiam.


"Annabella Swift adalah cinta pertama Felix sekaligus pacar pertamanya. Mereka berpacaran saat kuliah, dia mengambil jurusan hukum sedangkan Felix bisnis management. Mereka sangat serasi bahkan banyak yang iri dengan hubungan mereka. Saat itu Felix tidak sedingin sekarang, dia sangat ramah dan murah senyum bahkan terlihat bahagia dan mampu melupakan kesedihannya yang telah kehilangan ayahnya dan bundanya yang pergi begitu saja." ucap Devan mengalihkan pandangannya dari Keysa ke kolam kecil dihadapan mereka.


"Felix lulus terlebih dulu karena kecerdasannya, dia langsung bertanggung jawab mengurus perusahaan ayahnya yang mulai terbengkalai karena sebelumnya dipimpin oleh seseorang yang tidak bertanggungjawab. Felix bekerja keras demi menstabilkan lagi perusahaan keluarganya, dan itu membuat dia semakin menjauh dengan Bella." Devan melirik Keysa dari sudut matanya sebelum melanjutkan ceritanya dan Keysa masih serius mendengarkannya.


"Dan karena kesibukan Felix, Bella jadi bebas bersama pria lain. Aku, Remon dan Clara sering memergoki dia yang sedang jalan dengan seorang pria. Tapi setiap kali kita cerita ke Felix, dia selalu saja tidak mempercayainya. Hingga suatu hari Felix nekat datang ke kampus dan melamar Bella dihadapan semua mahasiswa kampus. Felix ingin segera menyatukan cintanya dengan janji suci di hadapan tuhan" ucap Devan kembali melirik Keysa yang hanya terdiam mematung.


"Jarak pertunangan hingga pernikahan mereka hanya berjarak satu bulan saja. Dan saat itu Felix tengah sibuk-sibuknya dengan pekerjaannya dan sering pergi keluar kota dan negri. Felix begitu bersemangat untuk mencapai kesuksesannya demi hidup dengan Bella. Dipikiran Felix hanya ada Bella tak ada yang lain, tapi lain halnya dengan Bella, dia masih saja jalan dengan pria lain, padahal statusnya akan menjadi istri Felix dalam waktu dekat. Dan tetap saja setiap kali aku atau Remon cerita, Felix selalu tidak percaya. Hingga saat sehari sebelum pernikahan, aku, Remon dan Felix yang tengah merayakan pesta lajang untuk Felix. Kami bertemu dengan Bella di club malam, saat itu Felix melihat sendiri Bella tengah berciuman dengan seorang pria, bahkan posisi mereka sangat memalukan. Bella yang tengah duduk di pangkuan pria itu. Penampilannya apalagi, seperti mereka tengah melakukan sex di depan umum" ucap Devan sambil menggertakan giginya menahan emosi karena mengingat masalalu itu. Sedangkan Keysa menutup mulutnya dengan kedua tangannya tak menyangka ternyata Felix juga pernah mengalami apa yang Keysa alami. Tetapi Keysa lebih pedih karena tunangannya berselingkuh dengan sahabatnya sendiri. Sahabat yang sangat ia sayangi dan cintai.


"Itulah alasan Felix sangat membenci wanita, bahkan dia selalu menganggap wanita hanyalah pemuas saja, tidak lebih. Bukan hanya karena pengkhianatan dari Bella tapi juga karena ibunya juga yang tega meninggalkan ayahnya hingga ayahnya meninggal. Itu yang membuat Felix menjadi sosok yang sangat dingin dan kelewat cuek, dia tidak pernah percaya akan cinta. Menurutnya cinta hanya membawa derita" ucap Devan membuat Keysa terdiam dan mencerna semua perkataan dari Devan.


'Apa jangan-jangan denganku juga Felix hanya main-main saja? Dan hanya menganggapku sebagai pemuasnya saja? Apa dia tidak benar-benar mencintaiku?' batin Keysa


"Aku tau apa yang kamu pikirkan" ucap Devan membuat Keysa tersadar dari lamunannya dan menatap Devan yang sudah ada dihadapannya.


"sebelumnya aku sempat mengira, denganmu dia akan berubah. Dia terlihat bahagia saat bersamamu, dia berubah dan aku yakin dia mencintai kamu. Tapi melihatnya tadi, sepertinya dia masih menganggap kamu seperti wanita-wanita lain yang pernah dekat dengannya" ucap Devan membuat Keysa tak mampu membendung air matanya lagi


"tapi kamu wanita kedua yang dia ajak menjadi pacarnya, kalau dengan wanita-wanita lain dia hanya deket dan sehari saja dia bisa langsung bosan dan meninggalkannya" ucap Devan lagi


"tapi kenapa harus aku? Aku sudah jatuh cinta padanya van" ucap keysa bergetar. Devan tak tega melihat keysa dan akhirnya dia membawa keysa ke dalam pelukannya.


"Menangislah, keluarkan semuanya Key" ucap Devan mengelus rambut Keysa. Dan tanpa mereka sadari sepasang mata yang sejak tadi memperhatikan mereka dari dalam mobil tak jauh dari taman. Mobil yang sejak dari restaurant mengikuti mobil Devan. Tangannya mencengkram setir mobil dengan kuat hingga buku tangannya memutih. Dan dengan perasaan kesal, mobil itupun berlalu.


Keysa melepas pelukannya dan tersenyum menatap Devan. "makasih yah kamu sudah nemenin aku disini dan mau menceritakan semuanya" ucap Keysa menghapus air matanya


"santai saja,, Klo kamu butuh teman atau pundak untuk bersandar hubungi saja aku" ucap Devan tersenyum manis. "Jangan menangis lagi,, Felix bodoh sudah menyakiti gadis semanis dan sebaik kamu" ucap Devan sambil merapihkan anak rambut yang menempel dipipi Keysa


"Sepertinya aku harus segera masuk, Van. Takut Clara khawatir" ucap Keysa menghindari Devan


"Baiklah,, ayo aku antar ke kamar Clara" ucap Devan menarik tangan Keysa.


***